Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Special : Happy birthday, Hinata Hyuga! I always wish you all the best, and please be happy forever always with Naruto Uzumaki.
NHLs, HAPPY NARUHINA TRAGEDY DAY 4TH 2013!
I will survive again and the very next day~ dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Just for fun.
Warning: Alternate Universe, OOC (benar-benar OOC), alur mundur-maju-mundur lambat, POV berganti-ganti, cliché, typo(s), sisipan bahasa asing.
.
Sekali lagi, mohon dibaca karya ini dengan seksama. Selain alurnya mundur-maju-mundur, POV-nya dan adegannya juga berganti-ganti. Mohon dibaca perlahan-lahan.
.
Special backsound: SHE by Elvis Costello
Oh My Darling, Clementine: Percy Montrose/ Barker Bradford.
Go! : Flow
Kimi Sora Kiseki (Your Sky Miracle) : Egoist
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
He wish to the stardust studded sky
That he may reach her within his melody
Oh, the fallen angel
Can you hear his sorrow song?
.
#~**~#
Dedicated forNaruHina Tragedy Day 4th 2013
.
SHE
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Masih jernih dalam sungai memori Hinata Hyuuga, hari pertama bertemu dengannya. Di suatu waktu yang tak akan terulang namun kontinu terbayang.
Setelah bertemu dengan Naruto, ia sampai di ruang rapat—terlambat lima menit. Menemukan semua atensi terfokus padanya dan tatapan dingin dari sang Ayah—yang tak menolerir keterlambatan, agak terbata ketika ia memperkenalkan diri pada orang-orang berbusana formal dan rapi dan menguar parfum mahal menyebabkan kepalanya agak pening. Mungkin mual karena gugup—ini pertama kalinya.
Namun selebihnya ia dapat mempresentasikan materinya dengan baik. Sedikit respek terlintas di raut-raut serius itu yang tercurah padanya. Ia tidak bisa lebih bersyukur lagi, kecuali ketika selesai rapat dan hendak meraih ponselnya, baru disadarinya ponselnya lenyap.
Berkeliling seorang diri di tempat seluas gedung Byakugan Entertainment akhirnya ia melapor ke sekuriti atas saran dari resepsionis di lobby utama. Untungnya bagian informasi lantai empat melaporkan bahwa handphone-nya telah diketemukan oleh salah satu band yang rekaman pada hari itu.
Hinata mendapatkan kembali handphone-nya, namun tak bertemu dengan band yang—pasti tadi menolongnya—mengembalikan ponselnya. Tapi ia mendapatkan informasi bahwa band tersebut bernama Kyuubi, band line-leave yang debut sejak dua tahun lalu dan tengah naik daun. Lebih mengejutkannya lagi, mereka awalnya itu band indie dan street performer sebelum direkrut oleh Byakugan Entertainment.
Malam itu, Hinata yang penasaran memutuskan untuk mencari tahu—browsing di laptopnya tentang Kyuubi. Historinya, kronologi karir mereka, prestasi dan biodata rinci setiap personilnya.
Aneh, ketika ditatapnya sosok seorang terpampang di display laptopnya sambil nyengir nyeleneh, ia teringat pertemuan tadi—pemuda dengan tiga garis halus seperti cakaran di masing-masing pipi. Merasakan denyar tak nyaman merasuk palung hati, membuatnya menyesali harus bertemu dengan lelaki secerah musim panas itu dengan cara paling memalukan.
Namanya Naruto Uzumaki. Usianya tiga tahun lebih tua dari Hinata. Sangat menyukai ramen. Warna kesukaannya oranye. Musisi multi-talenta.
Sedepa jeda, putri sulung Hiashi Hyuuga tergugu bisu memandang gambar Naruto bersama anggota Kyuubi lainnya, hingga nada dering telpon masuk nyaring berdering.
Lamat-lamat Hinata meraih ponselnya dan membuka flipnya, membaca nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
Satu panggilan masuk: Naruto Uzumaki.
Pucuk di cinta ulam pun tiba.
Mungkin ini halusinasi. Atau ia tengah bermimpi. Tunggu, ia tidak jatuh tertidur. Refleksi harapan atas pemikiran mengenai seseorang menahta dalam benak nyaris meloloskan pekik kaget dari bibirnya.
Hinata mengangkat telpon dari Naruto. Hesitansi karena semua yang tidak masuk akal—hei ia sedang memikirkan pemuda yang tadi ditabraknya bahkan baru sekarang tahu namanya, lalu tiba-tiba ada telepon darinya. Bagaimana bisa dia nomor ponsel orang itu? Ini gila.
"Ha-halo?"
"Selamat malam!" sapa suara bariton riang di seberang telpon. "Apa aku mengganggumu?"
"Ti-tidak, sama se-sekali tidak!" –astaga ini betulan!
"Syukurlah. Oh, tadi aku menemukan ponselmu—" ada jeda dan kekeh—licik tapi tak disadari Hinata yang terhenyak tak mengerti, "—kuberikan ke bagian informasi lantai empat. Inginnya aku berikan langsung padamu, tapi namamu saja aku tak tahu. Aku juga tak tahu kau kerja di bagian apa. Tapi untung sampai kembali padamu, ya!"
Tutur ramahnya, aksen keceriaannya, bahkan suaranya merdu—bukan yang biasa menggema dalam ruang pendengaran Hinata sehari-hari. Tak penting meski asing namun selusur rasa hangat menjulur dari sebuah suara. Hanya suara.
"Wah, aku jadi bicara terus. Omong-omong, namaku Naruto Uzumaki—" informasi di website Kurama itu benar, "—orang yang akan membawa band Kyuubi menembus peringkat satu Konohaboard charts, dan menjadikan band Kyuubi offline-stars!"
Dia punya cita-cita, seorang pemimpi yang menantang berlaga dalam betapa mainstream liga dunia panggung hiburan. Menyampingkan biografi tentang Naruto yang sedang ia baca, sudut-sudut bibirnya terangkat melawan poros gravitasi.
"Omong-omong, siapa namamu?"
Sunyi terisi hesitansi. Lagi, ekshalasi—
"Hi … Hinata Hyuga."
—dan nama yang takkan terganti, terpatri mati di relung hati.
.
#~**~#
.
Aku tercenung mendengar kisahnya. Tak ada airmata menggenangi pelupuk mata sebiru latar di luar jendela. Nuansanya tidak seperti langit musim panas, mengindikasi cerah dan mengundang jangkrik menyanyikan ringkik ceria menimbulkan bising derik.
Benar, orang ini jatuh cinta. Dan dia tersakiti oleh yang dia cinta. Teman seperjalananku ini sudah mengorbankan segalanya hanya untuk yang tercinta, dan di titik kulminasi keyakinan bahwa dia dicintai balik justru pupus. Lantak dunia seperti ketika orang tercinta pergi tanpa jejak.
Aku merasa sangat bersimpati. Saat dia mencengkeram kursi penumpang di hadapannya, mungkin menahan deraan cambuk masa lalu dan sakit hati yang menggelora, maka aku hanya dapat menepuk-nepuk pelan punggungnya yang mengurva kaku.
Dia tidak punya siapa-siapa untuk dijadikan tempat bersandar. Sementara tempatnya berpulang hanya orang yang dia cintai—dan telah meninggalkannya dengan cara yang paling menyakitkan.
Sedikit banyak aku merasa beruntung. Aku punya kehidupan yang jika dikomparasi dengan dirinya, amat biasa saja. Namun aku memiliki keluarga yang kusayangi. Aku punya tempat dan teman-teman untuk pulang. Seperti sekarang, ketika dia hanya berakhir di kursi ini dan mengajakku berkonversasi hanya mengikuti hembus angin, aku dalam destinasiku untuk pulang. Ya, pada orang-orang yang menyayangiku dan menanti kepulanganku.
"Kau akan baik-baik saja." Ini terdengar seperti hiburan yang sangat payah, tapi aku tak tahu bagaimana cara menanggapi pengalaman kelamnya—seolah kinerja otakku terhambat. "Mungkin kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya."
Sedepa jeda.
"Tidak." Dia menggeleng perlahan. "Dia takkan terganti."
"Kalau begitu, kau tidak akan bisa melangkah maju melanjutkan kehidupanmu."
"Dia … sudah jadi bagian dari hidupku."
Aku menghela napas. Orang ini keras kepala. Tidakkah dia sadar mantan kekasihnya itu tidak pantas dan bukan untuknya? "Kalau begitu, kau tidak akan bisa melanjutkan hidupmu."
"…"
"Selama ini, sebelum bertemu dengannya, kau bisa hidup meski tanpa dia, bukan? Kalau begitu, lakukan saja seperti itu lagi."
"…"
"Please, just move on."
"…aku—" suaranya parau tersendat. Gelengan lebih keras, "—tidak bisa."
"…"
"…"
"Baiklah, terserah padamu."
Kusandarkan tubuh pada sandaran kursi. Tangan ini masih menepuk-nepuk punggungnya. Ekspresinya tidak terlihat karena ia membenamkan wajah pada sandaran kursi di hadapannya. Aku memutuskan untuk tidak memaksanya pindah, beralih ke lain hati. Membuka hati untuk persona lain. Itu keputusannya, dan aku tidak berhak untuk menggugatnya.
"Hei."
"Hm?" Aku menoleh, menemukan dia sedang melirikku.
"Terima kasih sudah menjadi teman berbagi cerita. Aku—" terdengar tegukan dalam saliva, "—tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi."
Lega, sudut-sudut bibirku terangkat dengan pandangan melunak. Sekali lagi tanganku mendarat menepuk-nepuk punggungnya.
"Tidak masalah."
Terdengar napas dihela panjang. Kemudian menegakkan punggung. Menatapku dengan pandangan yang ramah walau selintas sedih berkilat sekilas di matanya. "Kau bilang kau sangat menantikan bertemu orang-orang yang kau sayangi."
Aku mengangguk. Eksitasiku tersulut. "Ya, terutama dia yang tadi kuceritakan. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya."
"Kau pasti merindukannya."
"Sangat!" Aku mengangguk lagi, sekali lagi buncah antusiasme. Ah, membahas orang yang disayangi itu pasti tidak pernah ada habisnya. "Imaji dia itu … seperti bidadari jatuh. Ah, dia ceroboh. Dulu dia sering jatuh terpeleset. Lucu, kau tahu?"
Matanya melebar sesaat, lamat-lamat dia mengangguk menyetujui.
"Dia cengeng. Konyolnya, dia selalu tersenyum. Bilang lukanya tidak terasa sakit." Kali ini ganti terbayang sosok seseorang di ruang memoriku. "Dia pembohong yang payah.
"Karena itu, aku bertekad untuk selalu menemaninya. Bahkan dulu aku menyanyikan lagu gubahanku supaya dia tidak menangis karena kecerobohannya itu." Aku mengerling teman seperjalananku ini.
"Kau bisa bernyanyi?!"
"Oh, tidak." Tanganku mengibas, kupandang lawan bicaraku, penuh keyakinan dan kepastian. "Aku penyanyi yang amat payah."
Dia tampak kagum. "Tapi nyanyianmu pasti ajaib. Dia sampai tidak bersedih lagi, 'kan?"
"Entahlah. Dia memang aneh. Aku bernyanyi untuknya saja dia langsung tertidur. Tuh, kan, aku memang dilahirkan bukan untuk menjadi penyanyi."
Orang di sebelahku ini tertawa kecil. Sebelum mengatupkan kedua telapak tangannya. "Ajarilah aku lagumu itu! Siapa tahu nanti aku bisa mencobanya pada orang lain."
Aku memutar kedua bola mata, menggeleng tegas. "Tidak."
"Kumohoooon~! Ya, ya, ya?"
Inikah orang yang sebelumnya bercerita dinaungi suramnya desperasi dan hampir frustasi, memelas memohon padaku? Ah, konyol.
"Ayolaaah~"
Astaga.
"Baiklah, tapi jangan menyesal."
Beberapa saat aku mengajarinya lagu masa kecilku, sesekali dia tertawa tidak tahu diri. Dia memuji suaraku bagus—menurutku itu belas kasih dan sebatas sopan santun semata. Tidak makan waktu lama hingga ia menguasai lagu itu—sedikit membuatku agak kesal. Tertawa puas, dia menatapku lurus di mata. Bersungguh-sungguh.
"Dia beruntung memilikimu. Kau harus menjaganya."
"Tentu saja. Itu sudah jadi tugasku."
Tak ada lagi untai bahasa verbal di antara kami. Dia mengalihkan atensi ke luar jendela, menerawang jauh. Dan aku memilih untuk bersantai sejenak, membiarkan atmosfer sephia yang melingkupi kami dapat menguap barang sedikit saja. Tertidur menjadi opsi paling atraktif untuk saat ini.
Gerung gumam menginvasi ruang pendengaranku—
"…bidadari jatuh…"
—bukan. Dia bersenandung, merdu memikat sendu, mengangkasa asa bahwa lagu apa pun itu akan sampai pada yang dirindu selalu.
Aku jadi teringat sebuah lagu masa lalu.
'Hei, apa kau masih ingat lagu ini?'
Tiada firasat. Di luar prasangka, dunia jatuh luluh.
.
#~**~#
.
Tiga tahun kemudian.
Di sebuah studio musik di distrik elit Konoha, seorang pemuda baru saja selesai mengganti senar-senar gitarnya. Berikutnya ia menyetem gitarnya secara manual. Dia memutar penala di ujung gitar kemudian memetiknya beberapa kali, memutarnya lagi lalu melakukan hal yang sama berulang-ulang.
Gadis itu memandang seksama kesibukan vokalis utama dari Kyuubi band tersebut. Dia cukup awam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan musik, tapi ia tahu—dalam tiga tahun kebersamaan mereka apa yang sekarang sedang dikutati pemuda di hadapannya.
"Kau tak memakai gitar tuner, Naruto-kun?"
Naruto masih serius menyetem gitarnya, telinganya yang jeli bersinkronisasi dengan jemari terampilnya. "Tidak."
"Bagaimana kau tahu akurasi dari melodi gitarnya?"
"Firasat, Hinata. Kau sangat tahu itu." Kini mata birunya mengerling Hinata, jenaka. Dan ia memang sengaja mengundang Hinata agar tertawa geli—karena Naruto sangat menyukai messo sopran gadisnya itu yang tertawa dengan timbre jernih diminuendo.
Gadisnya. Sudah dua tahun mereka menaikkan status relasi mereka—backstreet tentu saja dan apa yang kauharapkan dari seorang pemuda catchy vokalis band terkenal?—lebih dari sekedar teman biasa. Butuh waktu satu tahun perjuangan bagi Naruto membuat Hinata jatuh cinta padanya dan meyakinkan gadis tersebut agar mereka bersama. Dalam kesibukan dan popularitas yang melonjak—melawan arus deras boyband, kegigihan mewujudkan cita-cita, kini ia berhasil menggapai cinta yang bagi idola sepertinya agak muskil.
Hanya personil Kyuubi band, manager—Sakura Haruno, dan salah seorang kawan Sakura yang mengetahui perihal relasi mereka tersebut. Berhubung Naruto dengan semena-mena menyeret mereka dalam aksi meyakinkan Hinata menjadi kekasihnya. Mereka pengertian, terkadang jika latihan sudah selesai—dengan sindir satir pada Naruto dan canda simpati pada Hinata—mereka akan mengungsi memberikan spasi supaya mereka bisa berdua. Seperti sekarang—karena tak mungkin keduanya kencan di tempat umum.
Hinata tahu dari Sakura—mereka jadi bersahabat dan Sakura sangat terbuka dengannya mengingat semua anggota Kyuubi lainnya lelaki—bahwa selain Sasuke, Naruto pun memiliki perfect pitch. Jadi, tak mengherankan dia dapat menyetem gitar tanpa gitar tuner.
Melihat Naruto menghembuskan napas panjang—tampak puas, Hinata tahu pemuda itu telah selesai melakukan tuning. Selanjutnya, suara petik gitar dan sesekali halusnya pena menari pada lembar partitur yang berserakan.
Hinata memejamkan mata, bibirnya terkatup, hanyut dalam senandung vibrato Naruto yang selalu berefek magis meresonansikan tremor mengendapi palung jiwa. Musiknya bukanlah orkestra simfoni megah seperti musik klasik yang dinikmati hingga menyebabkan sekujur tubuh merinding, melainkan kesederhanaan mengangkasa dalam muara musiknya—menenggelamkan pendengarnya pada resapan yang kaya akan makna-makna keindahan musik darinya.
Tatkala gitar berhenti dipetik, sepasang mata tanpa pupil mengangkat tirai kelopak matanya. Terlayang pinta estimasi atas lagu yang tadi dimainkan, dan Hinata menganggukkan kepala sembari menguntai senyum.
"Sangat indah, Naruto-kun," puji Hinata—selalu ada ketulusan berbinar di pelupuk mata yang dikagumi musisi itu.
"Kau harus memperbanyak kosakata pujianmu, Hinata. Aku sudah sering mendengar yang itu." Naruto terkekeh seraya mengibaskan sebelah tangannya.
"La-lain kali aku a-akan bawa kamus," kata Hinata salah tingkah, "ha-habis aku tak menemukan kata-kata yang lebih tepat lagi."
"Kau harus melakukannya, Hinata," tandas Naruto—pura-pura serius, "karena aku hanya mengharapkan pujian darimu."
Pipinya disapu roman senja seraya menganggukkan kepala, gadis penyuka cinnamon roll itu memainkan jemarinya dalam pangkuannya—kebiasaan yang tak berubah selalu berhasil membuat Naruto gemas. Jadi ia membelai lembut puncak kepala bermahkotakan surai indigo itu—tak menangkap kecewa berkilat dalam mata khas Hyuga tersebut.
Hinata hendak melontarkan tanya mengenai perasaan Naruto padanya. Akhir-akhir ini Naruto jarang punya waktu untuk bersamanya, bahkan ini pertemuan pertama mereka setelah empat bulan tak berjumpa—namun komunikasi jarak jauh tiada pernah terputus. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal perasaannya—intuisi wanita atau perasaan hanya galau meski rindu sekarang menguar entah kemana.
Naruto kembali fokus menggarap lagu instrumental yang akan dipersembahkan khusus sebagai kejutan pada Kurama—fans Kyuubi—dalam rangkaian tur konser dunia perdana yang pertama akan diselenggarakan di Konoha dalam kurun waktu dua minggu lagi.
"Naruto-kun."
"Hmm~?"
"Apa kau men—"
—tercekat, menyayangiku—
"—me-menyukai … -ku?"
Petikan gitar terhenti lagi. Kali ini Naruto menatap Hinata lekat-lekat, alisnya terangkat sebelah, dahinya berkerut dalam. Lalu ia mengerjap-ngerjapkan mata, meledak gelak tawa. Tangan berkulit tan itu menangkup pipi yang merona karena malu.
Mencelos, perasaan tidak nyaman itu menebal karena ragu menjalar dalam diri. Ternyata, Naruto hanya—
"Lebih … lebih dari yang kau tahu, Hinata," jawab Naruto, ambigu, setelah menyeka airmata di sudut-sudut mata paska euforia tawa yang kini iris langitnya menaungi Hinata dalam bentang kejujuran.
Dan dalam sekat pekat ragu, Hinata memercayai Naruto—dan Naruto tahu bahwa Hinata telah mengerti dari pudarnya redup dalam sepasang lanskap lavender pucat itu kini berpendar kasih hanya untuknya.
Ada sepasang mata saling memahami yang tak disangkal bahasa verbal.
Hinata menyayanginya. Lebih … lebih dari yang Naruto kira.
.
#~**~#
.
Kau memerhatikan dia. Rambutnya berkilau tersepuh sinar matahari, kulit pucatnya agak merona karena lepuh panas suhu, wangi khasnya tercium meski kau duduk agak jauh darinya, dan kulitnya—di kaki yang terendam dalam kolam ikan—mulus langsat terlihat amat halus.
Oh, percayalah sosoknya tampak sangat indah. Laksana bidadari jatuh di pinggir kolam ikan.
"Neji Niisan."
"Hmm?"
"Temani aku di sini."
Kau menghembuskan napas panjang. Andai saja gadis ini bisa mengerti peluh yang tengah membanjiri tubuhmu. Kipas anyaman di tanganmu tak membantu menyejukkan hawa di sekitarmu. "Tidak. Panas. Apa kau tidak kepanasan, Hinata-sama?"
Hari ini memang sangat panas. Mengingat sudah sekian hari dirinai hujan, maka terik seperti ini sungguh kontras.
"Ti-tidak. Airnya menyegarkan." Dia sedang duduk manis, sesekali sepasang kakinya dikecup oleh ikan-ikan hias aneka warna. Tiba-tiba saja kau teringat sebuah kisah opera romantis-komedi tentang Coppelia, boneka cantik bermata indah yang selalu di tepi jendela. Bukan, dia duduk di tepi kolam ikan hias.
Kemudian terdengar suara Tenten dari kejauhan memanggil mereka untuk makan siang bersama yang lainnya. Kau berdecak pelan. Sebelum akhirnya menghampiri objek atensinya sedari tadi itu.
"Tenten-san sudah memanggil. Kau harus mencuci kaki di kamar mandi dulu, Hinata-sama."
Tanganmu dan tangannya bertemu dalam genggaman. Kau luput merasakan tremor di jari-jemari lentik itu—
"Terima ka-kasih, Neji Nii-san."
"Oke."
Senyum sang bidadari jatuh perlahan surut.
.
#~**~#
.
Tepat seminggu setelah anniversary kelima band Kyuubi, band ternama yang telah menjadi offline stars itu menyelenggarakan konser pertama dari rangkaian tur dunia konser mereka di tanah air, Konoha. Preparasi untuk perfeksi dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum hari konser yang diselenggarakan dua hari berturut-turut. Tiket sudah terjual habis. Sejak pagi fans telah berbondong-bondong merongrong Konoha Great Hall supaya bisa lekas berjumpa panggung tempat Kyuubi akan beraksi—kendati baru dipersilakan tatkala sore menjelang.
Sakura Haruno memandang empat pemuda yang masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sai sedang tuning bass-nya, hair-style masih menata rambut merah Gaara, Sasuke dan Naruto berdebat—astaga di saat seperti ini selalu terjadi—tentang porsi pembagian lagu pembuka.
Teringat tentang sesuatu, sang manajer menghampiri vokalis utama mereka—menepuk bahunya untuk mendapatkan perhatian dari orangnya yang tengah mendelik sengit pada Sasuke. "Naruto, apa kau yakin?"
"Yakin apa—oh!" Rautnya berubah, matanya berpendar akan kepercayaan diri.
"Kau mempertaruhkan segalanya, Naruto," ucap Sakura serius—sampai-sampai yang lain terusik karena percakapan mereka.
Nyengir, Naruto meraih tangan Sakura dan meremasnya. "Mungkin juga tidak. Tapi—" determinasi meruncingkan keberanian berkilat di manik lazuardi, "—aku tak akan menarik kembali kata-kataku, karena itulah jalan hidupku."
Tak ayal semua menghela napas mendengar keteguhan Naruto. Namun senyum terulas di bibir masing-masing. Tetap mendukung si pirang idiot kesayangan mereka itu apa pun yang terjadi.
"Lima menit lagi! Siap di posisi masing-masing!" Suara Kakashi Hatake, stage manager, menjadi penanda konser akan segera dimulai.
"Semuanya sudah siap?" tanya Sakura lagi, melempar senyum lebar pada Naruto yang dibalas sama lebarnya. "Jangan sampai ada yang tertinggal."
"Siap! Jadi tidak sabar menunggu performa solo. Hehehe." Kekeh Naruto sembari menggeser propertinya dan memastikan benda penting itu aman di saku celananya.
Mereka bergegas naik ke panggung—termasuk Sakura—kemudian saling merangkul satu sama lain dan membentuk lingkaran. Gaara—sebagai ketua—memimpin doa untuk kesuksesan dan kelancaran konser pertama yang akan menjadi awal tur dunia Kyuubi.
Usai berdoa, Naruto mengulurkan tangannya yang disambut timpaan uluran tangan dari yang lainnya. Ditariknya napas dalam-dalam, berseru.
"KYUUBI … GANBATTE KUDASAI, DATTEBAYO!"
"OSU!"
.
#~**~#
.
"Wah, sudah mulai hitung mundur, Hinata!" pekik Ino antusias. Dia adalah sahabat Sakura yang juga berteman dengan Hinata. Ia mendapatkan tiket VIP gratis dari Sakura, sementara Hinata tentu saja dapat dari Naruto.
Hinata mengangguk sekilas, berusaha menahan antusiasme yang menggebu-gebu eksitasi diri. Dia menyalakan lightstick bertuliskan Kyuubi dengan logo rubah merah kecil berekor sembilan sewarna merah darah. Ikut menyumbang histeria alto dan mengayunkan lightstick tersebut bersama gegap-gempita histeria semua orang yang ada dalam Konoha Great Hall ini menyerukan Kyuubi dan segenap personilnya.
Sebuah proyektor menyala setelah lighting dan laser aneka warna mencemar radiasi pada kegelapan menuju pada secarik terpal lebar—menutupi panggung, tulisan apik nama band dengan tipe huruf chiller mengimpresi leleh likuid dan kapital berwarna merah darah ditampilkan diiringi musik elektro misterius yang kian menjajaki range nada tinggi. Lighting menyorot terpal memfokuskan cahaya pada siluet-siluet di balik tirai. Musik tiba—tiba berhenti, ada letusan.
Kembang api dan kepul asap. Tirai jatuh angun. Kemilau konfeti berguguran. Letup gemuruh rusuh tepuk tangan.
Dan seruan sang vokalis utama.
"LET'S GO, KURAMA!"
"KYAAAA! KYUUBI! NARUTO!"
Dan keempat pemuda yang telah berada dalam posisinya masing-masing, memainkan instrumen musik dalam harmonisasi yang mengundang jerit-pekik.
Padahal Konoha Great Hall adalah stadium indoor yang terkemuka karena kemegahan dan keluasannya, namun baru saja Kyuubi memulai konser, tempat yang kini menjadi samudera manusia dan gema teriak histeria itu seakan teramat sesak.
Sebuah lagu berjudul Go! yang menjadi andalan mereka sejak debut bergema bersisian dengan gaung gemuruh rusuh fans yang turut bernyanyi, jingkrak-jingkrak, dan melambaikan lightstick, mengangkat poster atau banner setinggi-tingginya. Eksitasi dialiri adrenalin. Ternyata berdampak banyak lagu rock dengan up-beat dipadu vocal kuat menghidupkan, benar-benar menghentak seseantero Konoha Great Hall.
"We are fighting the dreamers, aim for the top,
Fighting dreamers, don't worry about appearances,
Fighting dreamers, do what you believe in,
Oli oli oli oh-! Just go my way!"
Di antara ribuan pasang mata menghujam atensi padanya, cahaya pelbagai warna-warni berderai, Naruto Uzumaki pikir pertaruhannya takkan sia-sia—ketika menemukan gadisnya di deretan bangku VIP duduk mengangkat lightstick Kyuubi tinggi-tinggi dan segala dalam dirinya merefleksi afeksi.
.
#~**~#
.
The one and only
Who I will always remember
And yearn painfully
For the rest of my life
She oh she
.
Tsuzuku
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Setelah NHTD ke ultah Hinata itu … aduh. Saya minta maaf teramat-sangat karena ngaretnya update yang super kebangetan. Hontou ni gomenasaiii! *dogeza* dan terima kasih banyak untuk yang masih menanti fic ini. *peluk-cium satu-satu*
Sekedar konfirmasi. Sebenarnya fic ini tidak berelasi dengan fic "He". Kebetulan saja judul kedua fic She dan He menimbulkan penasaran. Saya tegaskan, tidak berhubungan. Kedua fic ini berdiri sendiri di atas plotnya masing-masing.
Terus mengenai lagu Go! di atas, saya masukkan versi terjemahan dan mencantumkan disclaimer. Jadi, err, mudah-mudahan nggak menyinggung rules tentang songfic.
(*guest) : maaf saya terpaksa balas review di sini, berhubung penting. Sayang Anda tidak login. Sebenarnya saya tidak mengerti maksud Anda. Kalau maksud Anda saya ini senpai (maaf lagi karena saya tidak suka dipanggil senpai. Siapalah saya?), sepuh NHL (bukan, saya hanya salah satu NHL), panitia NHTD tahun ini, berarti saya bisa bertingkah seenaknya memainkan rules tentang main pair, maaf saya tidak melakukannya. Main pair fic ini NaruHina, NejiHina itu oh—silakan baca ficnya lagi, pelan-pelan. Kan saya sudah beri warning di atas untuk membaca ficnya pelan-pelan, soal penempatan POV dan scene yang "berantakan" itu, memang sengaja disusun seperti itu. Tapi apa yakin benar tidak berkesinambungan?
Juga terima kasih atas kritik dan saran yang sudah diberikan pada saya. Saya cinta kalian, duhai concritter! *terharu*
.
WE ARE NHLs! WE ARE FAMILY! KEEP STAY COOL, FRIENDS!
.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan kehadirannya. ^_^
.
.
Sweet smile,
Light of Leviathan (LoL)
