Title : Mèmoire

Author : Lee Seoyeon

Main cast : EXO

Pair : All Official Couple in hereeeeee!

Genre : Friendship, Romance, Brothership, etc.

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : YAOI, OOC, Typo(s), cerita ngawur, bahasa tidak sesuai EYD

Disclaimer : EXO punya Tuhan dan orang tua mereka masing-masing. Jongin punya Kyungsoo, Kyungsoo punya Jongin. KaiSoo punya saya /plak/ Cerita ini murni punya saya. Dan saya murni miliknya Dyo ._.

Summary : [Chap 3 Up!] Kyungsoo kembali menarik tangannya. Tangannya terlihat bergetar setelah menyentuh benda berwarna hitam itu/"ANIYA! SUHO HYUNG TOLONG AKU!"/ "Aku harap orang yang menemukan kertas mu itu orang baik….."/CHANBAEK KAISOO HUNHAN KRISTAO CHENMIN SULAY

Kyungsoo keluar dari perpustakaan setelah ia yakin bahwa sekolah sudah mulai sepi. Ia tak suka jika ia harus kembali ke asrama pada saat sekolah masih ramai. Itu bisa membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Bukan tatapan kagum yang ia terima, tetapi tatapan jijik dan iba. Memang ada apa dengan seorang Do Kyungsoo? Salahkah jika orang kutu buku dan pendiam sepertinya masuk sekolah elite seperti ini? Tak ada yang salah dengan dirinya, yang salah hanyalah tanggapan mereka terhadap Kyungsoo. Mereka hanya memandang namja manis itu sebelah mata.

Kakinya melangkah minumbulkan drap langkahnya terdengar oleh dirinya sendiri. Suara drap langkah itu terhenti di depan ruang musik. Kyungsoo menatap ragu pintu besar berwarna coklat itu. Tangannya terulur untuk membuka pintu tersebut, tapi ia kembali menarik tangannya.

Satu menit namja bermata doe itu tetap bertahan pada posisinya. Dengan keraguan, ia mulai membuka pintu tersebut. Berbagai peralatan music tersusun rapi di dalam sana. Kyungsoo melangkah kecil menuju piano yang berada di pojok belakang ruangan. Ia tersenyum miris melihat piano tersebut. Tangannya menyentuh satu toots piano.

JRENG

Kyungsoo kembali menarik tangannya. Tangannya terlihat bergetar setelah menyentuh benda berwarna hitam itu. Ia mengalihkan pandangannya pada seluruh ruangan. Pandangannya terhenti melihat sebuah kertas tergeletak begitu saja di atas meja. Kyungsoo berjalan menghampiri meja tersebut, ia menelusuri setiap tulisan di dalam kertas itu. Ia tau itu sebuah lirik lagu yang belum terselesaikan. Banyak coretan di kertas tersebut. Menandakan bahwa sang penulis selalu memasukan yang nada yang kurang tepat dengan lirik yang ia buat.

Tangannya mengambil kertas tersebut. Dibacanya sebuah nama dengan tulisan rapi di pojok kanan kertas. Kyungsoo memasukan kertas itu ke dalam tasnya. Berniat untuk mengembalikan kertas tersebut pada seseorang bernama 'Kim Jongdae'.

EXO-Mèmoire-EXO

Semua murid Astre Art School terlihat sedang berkumpul di aula. Padahal waktu tengah menunjukan pukul 19.00 KST. Beberapa murid terlihat menguap akibat kelelahan dengan aktivitas mereka hari ini. Mereka ingin segera masuk ke dalam kamar dan tertidur pulas di bawah selimut tebal.

Asrama AAS terdiri dari 2 gedung, dengan masing-masing gedung memiliki 3 lantai. 1 lantai biasanya terdiri dari 20-10 kamar, dimana 1 kamar terdiri dari 3 orang. Malam ini semua murid AAS diberi pengumuman bahwa akan ada pergantian roommate karena datangnya murid-murid tingkat pertama dan keluarnya murid-murid tingkat 3 yang kemarin baru saja lulus.

"Perhatian semuanya!" Mereka semua terdiam mendengar seruan dari Lee seonsaenim. "Kalian telah mendapat satu buah kertas. Di dalam kertas itu akan ada nomor kamar yang nanti akan kalian tempati. Setelah kalian melihat isi kertas itu, saya minta kalian kembali ke kamar dan mulai membereskan barang-barang kalian lalu bawa ke kamar kalian yang baru. Arraseo?"

"Ne, arraseo seongsaenim."

"Kalau begitu buka kertas itu dan cepatlah menuju kamar kalian. Hari semakin larut, saya yakin kalian semua lelah. Terimakasih atas perhatiannya. Annyeonghaseyo."

Tepat saat Lee seongsaenim mengucapkan salam perpisahannya, semua murid mulai membuka isi kertas yang mereka dapat. Mereka juga mulai melangkah kembali ke kamar untuk siap-siap.

.

"Ah aku dapat kamar nomor 10. Kira-kira siapa orang beruntung yang bisa sekamar dengan ku itu? Ah aku harap dia orang yang menyenangkan dan gila seperti ku. Haha."

Chanyeol berjalan sambil terus tersenyum dan bergumam tidak jelas. Tangan kananya terlihat memegang sebuah kertas, dan tangan kirinya mendorong sebuah koper berukuran besar. Tak lupa, dipundaknya tersangkut tas gendong yang hanya ia pakai satu tali saja *ngerti kan maksudnya? Ya pokoknya gitu lah .-.*

Senyuman Chanyeol semakin lebar ketika dirinya telah sampai di tempat tujuan. "Tepat nomor 10," gumamnya tanpa menghilangkan senyuman lebarnya. Ia memasukan beberapa password untuk masuk ke dalam kamar barunya itu. Ya, setiap kamar di asrama ini dilindungi oleh password agar orang asing tak semudah itu mengambil barang berharga murid-murid AAS. Bagaimana bisa Chanyeol tau passwordnya? Bukankah itu kamar barunya? Di kertas tadi disediakan juga password kamar baru mereka, jadi tak heran jika Chanyeol bisa mengetahui itu.

Pintu terbuka memperlihatkan ruangan yang begitu besar. Tiga buah kasur berjejer rapi di dalamnya. Satu ruangan di depan terlihat seperti tempat belajar untuk para murid jika ingin mengerjakan tugas, dan 1 kamar mandi ada di sebelah kiri dekat pintu masuk.

Chanyeol memilih kasur yang berada di pojok kanan. Ternyata 2 roomate barunya belum datang ke sini. Selagi menunggu, Chanyeol memilih untuk memberesi barang-barangnya. Baru saja Chanyeol memasuki sebagian bajunya ke dalam lemari, pintu terbuka, membuat Chanyeol menoleh dan tersenyum melihat roommate barunya.

"Annyeonghaseyo, Suho-shii," sapa Chanyeol ramah. Ia sedikit membungkuk pada sang ketua OSIS – Suho -.

"Ah.. annyeonghaseyo hmm….."

"Park Chanyeol."

"Annyeonghaseyo Chanyeol-ah." Suho tersenyum. "Jangan panggil aku seformal itu. Bukankah kita akan menjadi roommate, eoh? Panggil saja aku Suho."

"Ah ne, kalau begitu aku akan memanggilmu Suho hyung saja, karena kau adalah sunbae ku," ucap Chanyeol memamerkan senyum konyolnya itu. Membuat Suho menggelengkan kepala dan tersenyum melihatnya. Dia ramah sekali, batinnya.

"Chanyeol-ah, apa teman roommate kita yang lain belum datang?" tanya Suho seraya mengeluarkan beberapa barangnya dari dalam koper. Ia memilih kasur di pojok kiri.

"Belum hyung, mungkin dia masih merapikan barang-barangnya di kamar yang lama."

"Oh begitu. Sebaiknya kita cepat memberesi semua ini. Aku sudah ingin cepat tidur," kata Suho mengucek kedua matanya lucu.

Chanyeol tertawa geli melihatnya. "Haha, ternyata sikap mu begitu menggemaskan, hyung. Berbeda jika aku melihat mu di sekolah.

Suho ikut tertawa. "Aku harus menjaga sikap ku di sekolah, agar aku bisa dihargai dan dihormati oleh yang lain."

"Ne, ne, kau benar. Haha. Tapi karena aku sudah tau sedikit tentang mu, aku tidak perlu menghormati mu kan hyung?"

BRUK

Sebuah bantal melayang tepat ke wajah Chanyeol. "Aku tetap hyung mu bodoh!"

Chanyeol baru saja akan kembali melempari Suho dengan bantal kalau saja pintu kamar mereka tak terbuka. Menampakan seorang namja tinggi dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Namja itu – Tao – tersenyum melihat kedua teman roomatenya. Ia membungkukkan badan, memberi salam.

"Woah jadi aku satu kamar dengan mu, Tao-ie? Aish bisa-bisa aku kena wushu dari mu," ucap Chanyeol heboh melihat Tao.

Tao memandang Chanyeol tajam. "Sudah ku bilang aku tak akan melakukan itu padamu, hyung. Tapi jika kau mau, aku bisa melakukannya sekarang juga."

Chanyeol membulatkan matanya. "ANIYA! SUHO HYUNG TOLONG AKU!" teriaknya berlari menghampiri Suho dan bersembunyi di balik punggung Suho yang jelas-jelas lebih pendek dari dirinya -_-.

Tao swetdrop melihatnya. Sedangkan Suho hanya memutar bola matanya malas. "Sudahlah Yeol, Tao tidak akan melakukan itu. Dan Tao berhentilah menatap hyungmu seperti itu."

"Baiklah, ge," ucap Tao berjalan menghampiri tempat tidurnya. Tentu saja tempat tidur Tao kasur yang di tengah, karena kasur-kasur yang berada di pojokan sudah diisi kedua hyungnya.

"Yeol, berhentilah memegang baju ku dan CEPAT KEMBALI BERESKAN BARANG-BARANG MU!" Suho berteriak kepada Chanyeol yang sedang menganga. Karena tak mau membuat si ketua OSIS murka, Chanyeol kembali berjalan menuju kasurnya dan kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Tao berusaha menahan tawanya melihat itu. Ia tersenyum melihat kedua roomatenya yang baru. Setidaknya Tao tidak perlu beradaptasi kembali dengan orang baru, karena Tao sudah kenal dengan kedua orang itu. Chanyeol yang merupakan teman sekelasnya ketika kelas satu, dan Suho – si ketua OSIS – yang merupakan anak dari guru wushunya ketika masih JHS.

EXO-Mèmoire-EXO

Di dalam kamar dengan nomor 40, terlihat tiga namja yang sedang merapikan barang-barang mereka. Satu namja bersurai coklat – pemilik suara emas di AAS – Kim Jongdae – terlihat sibuk mencari sesuatu. Ia mengeluarkan semua buku yang berada di dalam tasnya. Wajahnya menampilkan kekhawatiran. Bibirnya terlihat pucat. Jongdae terus mengobrak-abrik isi tasnya, membuat salah satu roomatenya mengerutkan kening – merasa bingung dan penasaran dengan tingkah laku Jongdae.

"Kim Jongdae, apa kau kehilangan sesuatu?"

Jongdae menghentikan aktivitasnya dan menatap namja yang tadi bertanya padany. "Ne, hyung. Aku kehilangan salah satu barang berharga ku.

Namja yang tadi bertanya – Lay – membulatkan matanya. "Apa kau kehilangan handphone mu? Atau kau kehilangan dompet mu? Sebaiknya ayo kita lapor kepada petugas, agar mereka cepat menemukan barangmu itu.

Jongdae menggeleng. "Ani, bukan barang seperti itu yang hilang. Aku… aku kehilangan kertas yang berisikan lirik lagu ciptaan ku."

"Mwo? Kenapa bisa? Kau harus cepat menemukannya, Jongdae-ah, jika tidak orang yang menemukan kertas mu itu akan mengaku-ngaku bahwa itu lagu buatan dirinya.

"Aku sudah memberi nama ku di kertas itu, jadi aku yakin mereka tidak akan melakukan perbuatan seperti itu.

"Tidak mungkin jika ada yang tidak melakukan hal seperti itu. Semua orang pasti ingin terkenal dengan hasil karya mereka sendiri, dan salah satunya hal mengkejikan seperti itu. Mereka akan mengaku bahwa lagu yang kau buat adalah lagu buatan mereka. Merasa tak peduli dengan nama mu yang jelas-jelas terpampang di dalamnya. Kemungkinan kertas itu kembali padamu hanya 10% aku kira."

Jongdae dan Lay terdiam mendengar ucapan Sehun – salah satu roommate mereka yang lain-. "Ya, itu benar Jongdae-ah. Apa yang Sehun katakan tadi benar, sudah tak ada lagi orang baik di dunia ini," ucap Lay.

"Aku harap orang yang menemukan kertas mu itu orang baik….." Sehun menggantungkan kalimatnya. "…. Hyung," lanjutnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

"Aku juga berharap seperti itu," gumam Jongdae. Ia kembali mengingat-ngingat terakhir kali ia memegang kertas itu. Dan ingatannya berhenti di ruang musi. Yap ruang music. Kertas itu pasti ada di sana. Dalam hati Jongdae berdoa semoga kertas itu tidak hilang atau berada pada orang yang tepat.

"Bersabarlah. Tuhan pasti mendengar doamu, Jongdae-ah," ucap Lay seakan tau apa yang sedang Jongdae lakukan.

Jongdae menatap Lay dan tersenyum. "Gomawo hyung. Dan ah.. Jangan panggil nama ku seperti itu. Panggil saja aku Chen."

"Chen? Seperti nama orang China."

"Itu benar. Eomma ku berasal dari China, jadi ia memberikan nama itu untuk nama panggilan ku," jawab Jongdae – Chen.

"Kalau begitu kau bisa bahasa China? Aku sudah lama tak berbicara menggunakan bahasa itu. Ah.. aku merindukan China." Lay mempoutkan bibirnya lucu, membuat Chen tertawa melihatnya.

"Haha, kalau begitu aku akan memanggil mu gege saja. Agar perasaan rindu mu pada China berkurang. Kkkk"

Lay tertawa mendengarnya. "Haha, kau ini! Oh ya, apa kau sepikiran dengan ku?"

"Sepikiran dengan mu? Soal?"

"Sehun."

"Sehun? Apa kau berpikir kalau Sehun tidak sedingin dari luar?"

Lay mengangguk. "Ne, saat aku mendengar ia berbicara sepert itu padamu, aku berpikir bahwa Sehun adalah orang yang baik. Mungkin dia bersikap dingin seperti saat pertama dia masuk kesini, karena dia belum terbiasa. Tapi aku yakin, dia tak sedingin yang kita lihat."

"Kau benar, hyung. Bahkan tadi dia sudah berani memanggil kita hyung. Semoga ini awal yang bagus untuknya."

Lay mengangguk. Kedua namja itu menoleh ke arah kamar mandi. Tersenyum kecil dengan pemikiran mereka tentang Oh Sehun. Bahkan Chen terlihat sudah tak sekhawatir tadi.

.

Di dalam kamar mandi, Sehun terdiam di balik pintu. Ia mendengar semua percakapan yang terjadi di luar. Percakapan antara Chen dan Lay. Ia menggenggam knop pintu erat. Terlukis senyum miris di wajah datarnya.

"Awal yang bagus untuk ku? Apa mungkin?" tanyanya seperti pada diri sendiri. Pandangannya ia alihkan menatap langit-langit kamar mandi.