Title : EXO's Love Story

Author : Lee Seoyeon

Main cast : EXO

Pair : All Official Couple in hereeeeee!

Genre : Friendship, Romance, Brothership, etc.

Rating : T

Length : Chaptered

Warning : YAOI, OOC, Typo(s), cerita ngawur, bahasa tidak sesuai EYD

Disclaimer : EXO punya Tuhan dan orang tua mereka masing-masing. Jongin punya Kyungsoo, Kyungsoo punya Jongin. KaiSoo punya saya /plak/ Cerita ini murni punya saya. Dan saya murni miliknya Dyo ._.

Summary : [Chap 7 Up!] "- Aku ingin menjadi teman mu."/ "Tanpa Jongin menyuruh ku menunggunya, aku akan tetap menunggumu Lay-ah."/"- Jika kau mendapat telpon dari nomer ku, kau harus cepat menjawabnya. –"/"- Baiklah Sehun-ah, kau tunggu di sini! Aku akan memesan."/YAOI/EXO Official Couple/RnR…

Kaki kanan Kyungsoo baru saja mencapai pintu kantin. Mendadak ia berhenti dan merasakan detakan di jantungnya yang tidak normal. Jantung itu berdetak begitu cepat. Tangannya terulur untuk memegangi dada kirinya. Kenapa dengan ku? Batinnya. Tapi ia segera menepis pikiran itu saat lagi-lagi Baekhyun menyerukan namanya begitu kencang. Mungkin hanya perasaan takut saja. Dan Kyungsoo kembali berjalan – menundukan kepalanya seperti biasa.

Di tempat Baekhyun sendiri, Chen dan juga Chanyeol terlihat mengerutkan keningnya. Mereka menatap Baekhyun seakan bertanya kau-benar-benar-memanggilnya? Tau akan hal itu, Baekhyun mengangguk mantap. Ia semakin tersenyum saat melihat Kyungsoo sudah ada di sampingnya.

"Kyungsoo hyung, duduk saja di sini," ucap Tao ramah seraya menggeser tempat duduknya. Kyungsoo mengangguk kecil, lalu mulai duduk di samping Tao. Ia masih belum berani mengadahkan kepalanya, Ia takut bertatapan dengan Chen – yang Kyungsoo tau – pasti sedang menatapnya.

"Apa yang kau lakukan di sana tadi? Kenapa tidak menghampiri kami?" tanya Baekhyun.

"Mi-mian, aku hanya ingin…. Sendiri," jawab Kyungsoo lirih.

Baekhyun menghela nafas sejenak. "Kyungsoo-ah, tinggalkan semua kebiasaan dirimu itu. Kau ingat kan yang kemarin malam aku dan Luhan hyung ucapkan padamu? Kita teman, mulailah berbaur dengan kita semua. Bukannya aku bermaksud memerintahmu, aku hanya ingin membantu mu. Aku ingin menjadi teman mu."

Kyungsoo terdiam mendengarnya. Ia mengadahkan kepalanya untuk menatap Baekhyun yang sekarang tengah tersenyum padanya. Kyungsoo tau Baekhyun tak berbohong. Baekhyun ingin berteman dengannya, dan seharusnya Kyungsoo bersyukur untuk hal itu. Tapi ia belum siap. Ia belum siap untuk memulai pertemanan. Ia takut kehilangan (lagi).

"Mianhae Kyungsoo hyung. Aku ikut bicara, tapi aku setuju dengan yang dikatakan Baekhyun hyung. Aku juga ingin menjadi teman mu. Begitu pun dengan Chanyeol hyung dan Chen hyung. Benarkan itu?" Tao menatap kedua hyungnya dengan mata pandannya yang berbinar.

Kedua namja yang namanya di sebut mengangguk kaku. "N-ne, itu benar, Kyungsoo!" seru Chanyeol dan mulai memamerkan senyuman lebarnya.

Kyungsoo menatap Chanyeol, Tao, Baekhyun dan terakhir Chen yang sedang tersenyum ke arahnya. Entahlah apa yang sekarang ia rasakan. Ia merasa sedikit lega melihat senyuman mereka. Tanpa disadari ujung bibir kissable itu terangkat. Membuat sebuah senyuman – walaupun kecil – yang manis.

.

Jongin terpaku di tempatnya. Setelah mendengar apa yang baru saja ia dengar, banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Apa yang dimaksud laki-laki bernama Baekhyun itu? Apa Kyungsoo-'nya' begitu pendiam sampai ia tak punya teman? Sebenarnya apa yang terjadi selama aku pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dipikiran Jongin. Ia sudah bertekad akan bertanya pada Suho pulang sekolah nanti.

"KIM JONGIN!"

Jongin mengerjapkan matanya mendapat teriakan dari Suho. Ia tersadar dari lamunannya tentang Kyungsoo. Dan saat itu ia baru sadar jika kantin sudah sepi. Hanya ada dirinya, Suho dan juga Lay.

"Wae hyung?"

"Apa kau tuli,eoh? Bel sudah berbunyi sejak tadi. Apa kau tak mau masuk kelas? Ini baru hari kedua mu bersekolah di sini, Kkamjong!"

"Mwo? Benarkah? Aish kenapa kau tak bilang sedari tadi. Hari ini aku ada pelajarang Sejarah, dan bukannya guru sejarah kita itu mengerikan? Aish bagaimana ini?!"

"Kim Jongin, jika kau terus mengoceh seperti itu kau tak akan sampai ke kelas dengan selamat. Bukankah seharusnya kau lari ke kelas sekarang dan segera duduk di tempat mu?"

Jongin menghentikan ocehannya mendengar ucapan Lay. Ia tersenyum lebar dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kau benar Lay hyung," ucapnya dan langsung berlari keluar kantin. Tapi ia langsung membalikan badannya lagi, menghampiri Suho dan Lay.

"Sepulang sekolah nanti ada yang ingin aku bicarakan pada mu. Jadi tunggu aku ya!"

Lagi. Jongin kembali berlari. Kali ini larinya lebih kencang dari yang tadi. Suho hanya mengerutkan alisnya mendengar ucapan Jongin itu. Apa yang ingin Jongin bicarakan padanya?

"Sepertinya hari ini kau juga harus menunggu ku lagi," ucap Lay membuat Suho mengalihkan pandangannya ke arahnya.

"Nde? Memangnya kenapa?"

"Kau lupa? Jongin ada club dance hari ini dan tadi Jongin menyuruh mu untuk menunggunya. Jadi otomatis, kau juga harus menunggu ku."

Suho tersenyum mendengarnya. "Tanpa Jongin menyuruh ku menunggunya, aku akan tetap menunggumu Lay-ah."

Rona merah terlukis jelas di wajah manis Lay.

Kris dan Chanyeol berjalan beriringan di koridor sekolah. Salah satu dari kedua namja tinggi itu terlihat sedang memainkan bola basket di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terlihat menenteng sebuah tas berwarna hitam di pundaknya. Namja lain yang sedikit lebih tinggi malah berjalan dengan angkuhnya. Membuat semua orang yang sedang berlalu-lalang di koridor menatap kagum ke arahnya.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi 5 menit yang lalu, jadi tak heran masih banyak murid-murid yang berkeliaran di area sekolah. Selain itu hari ini banyak beberapa club yang harus berlatih. Contohnya club basket. Namja yang tadi berjalan angkuh dengan name tag 'Wu Yi Fan' adalah ketua tim basket AAS. Permainannya dalam bidang olahraga ini sudah tak perlu diragukan lagi. Berkatnya AAS selalu menjadi juara di berbagai pertandingan.

Chanyeol – namja yang memainkan bola – juga tak kalah hebatnya dengan Kris – nama panggilan Wu Yi Fan -. Karena itu, Kris akan mewariskan posisi ketua tim basket kepada Chanyeol. Mengingat sebentar lagi Kris akan keluar dari sekolah ini, karena memang dirinya sudah masuk kelas 3. Itu artinya ia harus mempersiapkan diri untuk ujian nanti.

Langkah Kris terhenti saat matanya menatap sosok namja panda sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Seringaian kecil terlukis jelas di wajah tampan Kris.

Menyadari bahwa Kris tak ada di sampingnya, Chanyeol membalikan badannya dan menatap aneh pada Kris yang diam dengan seringaian – yang menurutnya Chanyeol – sangat menjijikan.

Namja panda yang sedang diperhatikan Kris semakin dekat dengannya. Tao – si namja panda itu- bahkan sudah melewati Chanyeol dan sedikit tersenyum ramah pada namja tiang itu. Saat ia berjalan melewati Kris, Kris langsung menghalanginya.

Tao menghentikan langkahnya dan menatap polos ke arah Kris. "Mianhae sunbae, aku ingin lewat. Bisakah kau begeser sedikit?"

Kris menggeleng. "Aku tak akan memberi mu jalan, sebelum kau memantuhi perintah ku," jawabnya dingin.

"Kenapa aku harus mematuhi perintah mu? Kau kan bukan ketua OSIS seperti Suho hyung."

"Apa kau tak mengenalku?"

Tao menggeleng dengan polosnya. Perlu kalian ketahui, walaupun Kris adalah ketua tim basket ia tak se-ter-ke-nal seperti yang kalian bayangkan. Memang banyak beberapa namja 'uke' yang memujanya, tapi ada juga beberapa diantara mereka yang bersikap acuh. Mereka merasa bahwa mereka lebih tampan dari Kris, jadi untuk apa mereka memujanya?

"Dengar ini manis…"

Tao membulatkan matanya. Apa yang namja ini bilang? Aku… Manis? Aku namja pabbo! Jika dia bukan sunbae ku, aku pasti sudah me-wushu-nya, batinnya mengerucutkan bibirnya imut. Membuat Kris harus menelan salivanya dengan susah payah. (ciee bang naga tergoda/?)

"Aku adalah orang yang tadi pagi kau tabrak. Dan aku meminta pertanggung jawaban dari mu."

Tao semakin membulatkan matanya. "Ja-jadi yang tadi aku tabrak itu kau? Mi-mianhae, aku tak tau. Tadi pagi aku sedang terburu-buru. Aku benar-benar minta maaf…" Tao terlihat membungkukan badannya berkali-kali. "Jadi apa yang harus aku lakukan agar sunbae memaafkan ku?"

"Siapa nama mu?" tanya Kris.

"Aku Huang Zi Tao."

"Kau orang China?" Kris mengerutkan keningnya. Tao mengangguk. "Panggil aku gege kalau begitu. Berikan handphone mu."

"Mwo? Handphone? Untuk apa?" tanya Tao lagi-lagi dengan sangat polos, membuat Kris harus menahan diri untuk tidak menculik Tao sekarang juga.

"Kau ingin aku memaafkan mu kan? Cepat berikan!" Kris mengulurkan tangannya.

Tao mengeluarkan handphone dengan gantungan panda itu dari saku celananya. Ia menaruh handphone itu di tangan Kris. Dengan cepat Kris mengetik sesuatu di sana. Tak butuh waktu lama, ia mengembalikan handphone itu pada pemiliknya.

"Itu nomer ku. Jika kau mendapat telpon dari nomer ku, kau harus cepat menjawabnya. Mengerti?"

Tao mengangguk membuat seringaian Kris kembali muncul. Ia berjalan melalui Tao yang masih diam di tempat. Dia memberi ku nomor handphonenya, tapi ia tak memberitahu ku siapa namanya. Dasar aneh.

.

"Apa yang kau lakukan pada Tao?"

Kris memalingkan wajahnya menatap Chanyeol. "Kau kenal dengannya?"

"Tentu saja. Ia teman ku saat kelas satu," jawab Chanyeol.

"Kenapa kau tak pernah bilang itu pada ku?"

"Untuk apa aku bilang pada mu?" Chanyeol balik bertanya.

"Sudahlah lupakan!"

Chanyeol menatap Kris aneh. Ia mengangkat bahunya, merasa tak peduli dengan apa yang tadi mereka bicarakan.

Luhan menatap sebuah kedai minuman dengan mata berbinar. Ia sudah lama tak merasakan minuman yang ia sukai di kedai itu. Mungkin sudah sekitar…. 4 hari yang lalu? Ya, memang 4 hari yang lalu – saat liburan masih berlangsung – ia sempat mampir ke kedai ini sendirian. Memesan 2 buah cup bubble tea jumbo untuk diminumnya sendiri. Dan sekarang ia ingin merasakan itu kembali. Ia benar-benar merindukan bubble tea.

Xiumin yang ada di sebelahnya memandang malas pada Luhan. "Sampai kapan kau akan melihat seperti itu? Kau tau, kau terlihat menjijikan saat mata mu berbinar seperti itu."

"Sampai aku bisa masuk ke sana, memesan bubble tea dan meminumnya."

"Kalau begitu cepat kau pergi ke sana!"

"Bagaimana dengan mu?" Luhan menatap Xiumin.

"Aku akan menunggu di sini."

Luhan terlihat berpikir. "Hmm.. Bagaimana jika kau pergi sendiri? Aku akan menunggu mu di sini. Rumah mu sudah dekat kan? Jadi boleh ya ya ya?"

Kali ini Luhan yang memamerkan puppy eyesnya, membuat Xiumin mengangguk pasrah. Dua sahabat ini memang akan selalu luluh jika salah satu dari mereka sudah mengeluarkan jurus puppy eyes. Tidak salah jika mereka seperti itu. Keduanya manis, jadi siapa pun yang melihat tatapan memelas dan memohon seperti itu pasti tidak akan tega melihatnya.

"Baiklah. Nanti aku akan menghubungi mu jika aku sudah selesai. Dan aku boleh kan menitip satu cup bubble tea?"

Luhan mengangguk dengan semangat. "Dan aku berjanji akan membelikan mu satu kantung Bakpau!"

Xiumin tersenyum senang mendengarnya. Ia segera berpamitan pada Luhan dan mulai berjalan ke arah rumahnya dengan hati riang. Dibelikan satu kantung bakpau adalah hal yang mengasyikan. Ia benar-benar menyayangi Luhan hari ini.

Setelah Luhan melihat Xiumin sudah hilang di belokan, ia segara masuk ke kedai bubble tea. Namun baru saja ia membuka pintu kedai…

BRUK

Luhan menabrak seseorang yang baru saja akan keluar dari kedai tersebut. Orang tersebut membawa satu cup bubble tea yang masih penuh, dan otomatis bubble tea itu tumpah. Tapi untung saja, bubble tea itu mengenai baju orang yang ditabrak Luhan atau pun Luhan sendiri.

Luhan membulatkan matanya. "Mianhae. Jeongmalmianhaeyo. Aku benar-benar minta maaf, aku tak melihatnya. Aku… Hei, kau murid AAS?" Luhan menghentikan acara ayo-kita-minta-maaf saat melihat seragam yang diapakai oleh namja yang baru saja ia tabrak.

Namja itu tak bergeming. Ia hanya menatap Luhan datar.

"Dilihat dari seragam mu, sepertinya kau masih tingkat pertama. Ah sebagai permintaan maaf mu, bagaimana jika aku mentraktir mu meminum bubble tea? Untung-untung menggantikan bubble tea yang tumpah. Bagaiman?" Luhan menatap namja itu dengan harap-harap cemas.

Namja itu memutar bola mata malas. "Tidak usah. Aku akan kembali ke asra -"

Belum sempat namja itu melanjutkan ucapannya, Luhan sudah berhasil menarik namja itu masuk kedai. Ia mendudukan namja itu di sebuah meja dekat dengan jendela. "Aku tak mau kau menolak. Aku benar-benar ingin berminta maaf padamu… Ngg… Oh Sehun? Baiklah Sehun-ah, kau tunggu di sini! Aku akan memesan."

Sehun menatap Luhan yang sudah meninggalkannya dengan datar. Dia sok akrab sekali dengan ku. Memangnya siapa dia? Memanggil ku seakan dia sudah mengenal ku dengan dekat. Oh Sehun, hari ini kau memang sedang sial!

.

.

.

TBC

Aku telat post lagi ne? Ampuni Bapau yang selalu telat ngepost. Kemarin itu aku sakit. Hampir 4 hari ga bisa ngapa-ngapain, dan parahnya aku sakit di saat sekolah lagi ulangan, Kebayangkan aku harus ikut susulan dan itu banyak banget. Pelajarannya eksak semua lagi -_- Bayangin aja 4 hari Bapau gamasuk, terus nanti susulan sendiri. Di ruang guru, ga bisa nyontek huaaaa T.T #jangantiruadeganini #kenapajadicurhat

Intinya aku minta maaf karena post telat. Gimana dengan chap ini? Ada apa dengan Kyungsoo dan Jongin? Chap depan bakal dijelasin sama ehem selingkuhannya saudara Bapau/? Ya pokoknya chap depan para KAISOO shipper ayo merapat!

Momentnya masih kurang? Sabar dong, mereka kan belum ada yang deket kecuali SULAY kali ya. Dan chap depan juga Bapau mau nemuin Chen sama Xiumin ah biar greget hehe jadi CHENMIN shipper merapat juga yookkkk!

Dari tadi aku manggil diri sendiri Bapau ya'-')? Itu memang nama panggilan aku di sekolah, jadi yang mau manggil Bapau dengan sebutan Bapau juga gapapa ko:D

Yang mau kenal Bapau lebih dekat juga boleh. Yok di follow fzhdryn #promosi

Makasih buat yang udah review, maaf gabisa bales karena kondisi aku yang masih butuh istirahat. POKOKNYA TERIMAKASIH BANYAK UNTUK KALIAN SEMUA. Yang UDAH REVIEW atau pun yang SIDERS :)

.

.

Mind to review again….