Title : EXO's Love Story
Author : Lee Seoyeon
Main cast : EXO
Pair : All Official Couple in hereeeeee!
Genre : Friendship, Romance, Brothership, etc.
Rating : T
Length : Chaptered
Warning : YAOI, OOC, Typo(s), cerita ngawur, bahasa tidak sesuai EYD
Disclaimer : EXO punya Tuhan dan orang tua mereka masing-masing. Jongin punya Kyungsoo, Kyungsoo punya Jongin. KaiSoo punya saya /plak/ Cerita ini murni punya saya. Dan saya murni miliknya Dyo ._.
Summary : "Hyung, katakan yang sejujurnya. Selama aku pergi, apa yang terjadi dengan Kyungsoo hyung?"/ "Karena Jongie sayang Kyungie hyung."/ "Kalau begitu kau menyukai ku?"/ "Dia Chen, kau tau? Suaranya sangat bagus karena dia ketua club vocal. Dan kau tau, Chen sangat menyukai Musik-musik jazz seperti kau. Jika kalian berbicara berdua pasti kalian akan cocok."/YAOI/All Official Couple/RnR?
NB : Tulisan bercetak tebal menandakan cerita flashback (cerita masa lalu)
Suho duduk di dalam studio tari. Iya tidak sendirian di sana, ada Lay dan juga Jongin serta beberapa murid club tari di sana. Berhubung Suho bukan salah satu anggota, ia memilih untuk duduk di kursi yang letaknya dekat dengan pintu masuk. Senyum terus terlukis di wajah angelicnya. Melihat begitu indahnya tubuhnya Lay yang sedang berlatih. Menurutnya Lay terlihat rrr.. Lebih seksi. Rona merah langsung merekah di kedua pipi namja angelic itu.
"Ya sepertinya latihan cukup sampai di sini. Terimakasih atas partisipasi kalian. Annyeong."
Lay menutup latihan dengan mengucapkan terimakasih kepada anggota yang lain. Lay adalah ketua dari club menari, jadi tak heran jika ia yang paling menonjol di sana.
Jongin berjalan ke arah Suho. Ia meraih air mineral yang diserahkan Suho padanya. Begitupun dengan Lay yang ada di belakangnya. Ternyata Suho sudah mempersiapkan minuman untuk adik dan juga 'calon' kekasihnya itu.
"Gomawo, hyung," ucap Lay memamerkan senyum manisnya. Memperlihatkan dimple manisnya yang membuat Suho salah tingkah.
"Ne, cheonmaneyo, Xingie." Suho ikut tersenyum. Dan kali ini, Lay lah yang terlihat salah tingkah. Bahkan kedua pipinya itu memerah. Membuat kesan manisnya bertambah – menurut Suho.
Jongin hanya memutar mata malas meihat adegan lovely dovey di depannya. Sampai ia teringat tujuannya untuk bertanya hal yang menurutnya penting pada Suho.
"Hyung, kau tak lupakan jika aku sangat membutuh kan mu sekarang?"
Pertanyaan Jongin berhasil membuat kedua namja di depannya sadar dari acara 'salah tingkah' mereka. Suho menganggukan kepalanya. "Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"
"Ini soal…" Jongin menjeda ucapannya. "Kyungsoo hyung."
Suho terdiam mendengar ucapan Jongin. Suho baru ingat sekarang, Jongin masuk sekolah ini karena Kyungsoo. Tentu saja Jongin akan menanyakan hal-hal seputar Kyungsoo'nya' itu.
Sedangkan Lay yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya tak mengerti. Tapi walau begitu ia tak mau pergi dari sana. Ia juga ingin tau siapa itu Kyungsoo?
"Sudah 2 hari aku sekolah di sini, tapi aku belum ah lebih tepatnya baru tadi aku melihatnya –"
"Kau? Melihat Kyungsoo? Kapan?" Suho memotong ucapan Jongin. Ia terlihat kaget, karena setaunya Jongin sedari pagi bersama dengan Suho, jadi kapan Jongin melihat Kyungsoo sedangkan dirinya tidak?
"Aku melihatnya saat di kantin tadi. Mungkin kau tak sadar, tapi aku tau itu Kyungsoo hyung. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia berubah?"
Suho diam. Sama sekali tak mengindahkan ucapan adik sepupunya itu. Bukan karena ia tak mau menjawab, tapi karena ia bingung harus menjawab apa?
"Hyung, katakan yang sejujurnya. Selama aku pergi, apa yang terjadi dengan Kyungsoo hyung?" Jongin bertanya dengan tak sabar. Ia penasaran dan juga khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Kyungsoo'nya' itu.
Suho menghela nafas berat. Ia memandang Jongin. "Jadi begini….
[Flashback]
Dua orang namja memakai seragam Sekolah Dasar terlihat berjalan bergandengan dengan senang. Mereka keluar dari area sekolah dengan senyum yang mengembang di wajah keduanya. Kedua namja tersebut memiliki umur yang berbeda. Namja mungil dengan mata doenya adalah namja tertua. Sedangkan namja mungil yang memiliki kulit tan itu 1 tahun lebih muda dari namja yang satunya.
Hari ini mereka berniat untuk pergi ke toko cokelat. Membeli banyak cokelat untuk mereka beri pada Suho – kakak sepupu si namja tan – yang sedang berulang tahun.
"Kyungie hyung mau beli berapa banyak cokelat?" tanya Jongin – namja tan – pada Kyungsoo – namja bermata doe – yang ada di sebelahnya.
"Kyungie mau beli banyak cokelat, biar Suho hyung jadi gemuk. Hehe. Kalau Jongie?"
"Jongie juga mau beli banyak cokelat. Karena Jongie sayang Suho hyung." Jongin tersenyum lebar. Ia memang sangat sayang pada kakak sepupunya itu. Jongin sudah menganggap suho sebagai kakak kandungnya.
"Kalau nanti Kyungie ulang tahun, apa Jongie mau membelikan banyak cokelat jug untuk Kyungie?" tanya Kyungsoo polos. Membuat Jongin di sebelahnya mencubit pipi chubby itu gemas. Walau umur Kyungsoo satu tahun lebih tua darinya, tapi sikapnya lebih menunjukan jika ia lebih muda daripada Jongin.
"Tentu saja! Jongie akan membeli banyaaaaak cokelat untuk Kyungie hyung," jawab Jongin semangat. Senyumnya melebar.
"Kenapa Jongie mau membelikan Kyungie cokelat?"
"Karena Jongie sayang Kyungie hyung."
Ujung bibir Kyungsoo terangkat. Ia ikut tersenyum lebar saat mendengar jawaban Jongin. Tak terasa keduanya sudah sampai di sebuah perempatan jalan. Mereka tinggal menyebrang, dan berjalan 2 bloks lagi maka mereka akan sampai.
"Kyungie hyung, lihatlah zebra cross ini terlihat seperti piano. Bagaimana jika kita main dulu sebentar?"
Kyungsoo menatap Jongin tak mengerti. "Main zebra cross? Bagaimana caranya? Mereka kan tidak mengeluarkan nada seperti piano."
"Kalau begitu kita saja yang membuat nadanya. Kyungie hyung lihat Jongie ya!"
Jongin mulai melangkah maju. Kaki kananya sudah menyentuh zebra cross berwarna hitam. Ia mengeluarkan suara 'DO' dari mulutnya. Ia kembali melangkah dan menyebutkan kata 'RE'. begitu seterusnya sampai ia sudah ada di garis terakhir. Ia membalikan badannya dan tersenyum ke arah Kyungsoo yang masih ada di seberang jalan.
"Nah Kyungie hyung sekarang giliran kau. Ayo!" teriak Jongin.
"Kyungie tak bisa Jongie. Nanti jika ada mobil yang lewat bagaimana?" Kyungsoo balas berteriak.
"Tidak aka nada mobil hyung. Di sini sangat sepi sekali. Sini biar aku tunjukan lagi." Jongin mulai melangkah dan meneriakan kata-kata seperti tadi. Saat ia masih berada di tengah, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya. Kyungsoo yang melihat mobil itu membulatkan matanya.
"JONGIE AWAS! ADA MOBIL!"
Jongin menoleh, dan ikut membulatkan matanya ketika mobil itu semakin dekat. Belum sempat ia beralri, mobil itu sudah menghempaskan tubuhnya ke pinggir jalan. Darah mengalir deras di kepala dan juga kakinya. Matanya melihat kea rah Kyungsoo yang sedang berlari menghampirinya. Dan suara yang terakhir kali ia dengan adalah suara isakan tangis Kyungsoo yang menyerukan namanya. Setelah itu gelap.
.
Kyungsoo mematung di tempatnya duduk. Sekarang ia berada di rumah sakit. Di sebelah kirinya ada eomma Jongin yang terus menangis – menyebut nama Jongin berkali-kali. Dan di sebelah kirinya, ada eommanya sendiri. Eommanya juga menangis. Tangannya tersu menggengam tangan Kyungsoo. Sealin itu ada juga Suho yang ikut menangis di pelukan eommanya. Kyungsoo tak menangis. Ia sudah lelah menangis. Ia tak mau Jongin sedih melihatnya menangis. Karena Jongin selalu bilang jika Kyungsoo terlihat jelek jika sedang menangis.
Sudah hampir 3 jam mereka semua menunggu di sana. Tak ada tanda-tanda jika Jongin sudah selesai diperiksa. Hal itu membuat semua yang di sana semakin khawatir. Jongin masih anak di bawah umur. Umurnya baru saja genap 7 tahun, jika terjadi apa-apa dengannya, pasti itu sangat menyakitkan untuk orang-orang tersayangnya.
"Kyungie, sebaiknya Kyungie pulang saja. Ini sudah hampir malam, besok Kyungie kan sekolah. Kyungie harus banyak istirahat. Jadi Kyungie pulang saja ne?" Eomma Jongin berkata dengan lembut pada Kyungsoo. Ia tau Kyungsoo pasti sangat sedih – sama seperti dirinya -. Apalagi Kyungsoo adalah saksi mata di kecelakaan tersebut.
Kyungsoo menggeleng. "Kyungie ingin bertemu dengan Jongin," jawabnya.
"Tapi Kyungie juga harus istirahat. Besok Kyungie boleh datang ke sini lagi sepulang sekolah. Sekarang Kyungie harus pulang."
Kyungsoo menatap eomma Jongin, lalu ia menatap ke arah eommanya. "Benarkah Kyungie boleh datang lagi ke sini besok?"
Eommanya dan juga eomma Jongin mengangguk bersamaan.
"Kalau begitu ayo kita pulang, eomma! Ahjumma tolong bilang pada Jongie kalau besok Kyungie akan datang lagi kemari. Suho hyung, berhentilah menangis. Jika Jongie liat hyung menangis, ia pasti akan menertawakan mu."
Suho menghentikan tangisnya dan menatap Kyungsoo yang tersenyum ke arahnya. Ia tau Kyungsoo sedang mencoba menghiburnya, padahal Kyungsoo terlihat begitu menyedihkan. Akhirnya Suho ikut tersenyum dan berjanji tak akan menangis lagi. Dan Kyungsoo pun pulang bersama dengan eommanya.
Sepulang sekolah Kyungsoo segera berlari keluar kelas. Ia ingin cepat sampai ke rumah sakit agar cepat bertemu dengan Jongin. Selama di sekolah, Kyungsoo hanya diam. Bahkan temannya bertanya pun tak ia hiraukan. Saat Kyungsoo sudah sampai di rumah sakit, ia melihat Jongin masih berbaring lemah di atas tempat tidurnya. Kyungsoo ingin menangis melihat teman kecilnya itu begitu terlihat kesakitan, tapi ia coba tahan.
Selama di rumah sakit itu Kyungsoo selalu mengajak Jongin berbicara, walau tak ada satupun kata yang dikeluarkan oleh Jongin. Karena dokter bilang Jongin dikatakan koma.
Setiapa hari sepulang sekolah Kyungsoo selalu datang ke rumah sakit. Menemani Jongin yang tak tau kapan bisa membuka matanya lagi. Tapi saat hari keenam, Kyungsoo sama sekali tak menemuka Jongin di kamar rawatnya. Kamar itu kosong tak berpenghuni. Kyungsoo bertanya pada salah satu suster yang memang kenal juga dengan Kyungsoo – karena Kyungsoo selalu memperhatikan suster itu ketika sedang memeriksa Jongin-.
Suster bilang, Jongin sudah di bawa pulang. Kyungsoo dengan tergesa-gesa langsung pergi ke rumah Jongin. Tentu saja ia tak sendiri, ia diantar oleh supir pribadinya. Dan naasnya, saat sampai di sana, Jongin tak ada. Rumahnya kosong. Tak ada seorang pun orang yang tinggal di sana.
Kyungsoo menangis. Kyungsoo merasa bahwa Jongin membencinya. Jongin benci Kyungsoo karena Kyungsoo yang membuat Jongin kecelakaan. Dan Jongin memilih pergi dan tak mau berteman dengan Kyungsoo lagi. Kyungsoo kecil menangis di depan sebuah rumah mewah tak berpenghuni itu.
Semenjak kejadin itu, Kyungsoo semakin menutup dirinya. Ia tak mau berteman lagi, ia takut jika orang-orang yang berteman dnegannya bernasih sama seperti Jongin. Kyungsoo tak mau kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Karena itu Kyungsoo memilih diam. Tak peduli pada lingkungan sekitarnya.
[Flashback End]
"Kenapa hyung tak pernah bercerita pada ku? Kenapa hyung menyembunyikan ini semua dari ku?" Jongin berkata dengan lirih setelah Suho selesai bercerita.
"Saat itu aku masih kecil, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Kau dipindahkan ke Jepang karena harus menerima perawatan yang lebih layak. Aku tak mengerti mengapa kau pindah tiba-tiba, tapi eomma bilang, ini demi kesehatan mu. Makanya aku diam. Dan aku juga tidak tau, jika ahjumma tak memberitau Kyungsoo. Karena eomma bilang padaku, ia sudah member tahu Do ahjumma. Mungkin, Do ahjumma tak menyampaikannya pada Kyungsoo."
"Tapi seharusnya hyung bilang jika Kyungsoo hyung seperti ini. Seharusnya hyung bilang saat kau sudah mulai mengerti!"
"Mianhae Jongin-ah, waktu itu aku tak mau membebani pikiran mu. Kau harus mengikuti terapi karena kaki mu yang patah, aku tak mau kau bolos terapi hanya karena memikirkan Kyungsoo."
Jongin menyeka wajahnya gusar. Ia merasa bersalah pada Kyungsoo. Seharusnya dulu ia bertanya pada eommanya agar ia bisa menghubungi Kyungsoo, tapi bodohnya Jongin, ia percaya saja saat eommanya berkata jika Kyungsoo sudah tau dan akan menunggu Jongin pulang ke Korea.
Suho yang melihat kegusaran di wajah Jongin juga merasa bersalah. Tapi mau bagiamana lagi? Ini sudah terjadi, dan ia tak bisa mengubahnya. Harapannya hanya satu, Jongin bisa kembali membawa keceriaan di hidup Kyungsoo.
Lay yang juga ikut mendengarkan merasa iba pada Jongin. Ia bisa merasakan apa yang namja tan itu rasakan, walau ia masih tidak tau siapa Kyungsoo. Sadar masih ada Lay di sana, Suho mangalihkan pandangannya pada Lay yang menatapnya seakan bertanya sebenarnya-ada-apa?
Suho tersenyum kecil. "Nanti akan aku jelaskan," bisiknya.
"Lalu kau pernah berbicara dengan Kyungsoo hyung setelah kejadian itu?"
Suho kembali menatap Jongin. "Pernah, saat ia ikut audisi di sini. Ia hanya menjawab dengan gelengan dan anggukan kepala. Lalu pamit pergi ke toilet."
"Setelah itu?"
"Ia menutup diri Jongin-ah. Ia selalu diam di perpustakaan, setiap aku ingin bertanya ia selalu pergi menghindar. Aku harap kau bisa membuatnya kembali seperti dulu. Aku merindukan keceriaan kalian berdua," ucap Suho lirih di kalimat terakhir. Ya, dia memang merindukan itu semua.
Jongin diam tak menanggapi. Huh.. Kyungie hyung, aku di sini. Semoga kau sadar akan kehadiran ku.
.
Di sebuah asrama, seorang namja memandang kosong ke arah luar melalui jendela di kamarnya. Entah karena apa, namja itu tiba-tiba teringat masa lalunya. Ia teringatnya 'Jongie'. Ia merindukan namja tan itu.
Baekhyun menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sedikit merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namja dengan eyeliner di matanya itu tersenyum puas saat mendapati dirinya – yang menurutnya – sudah sangat tampan itu.
Baekhyun membalikan badannya. Menatap kedua roomatenya yang masih sibuk dengan penampilan mereka. Ah aniya, sebenarnya hanya Luhan saja yang terlihat merapikan diri seperti yang Baekhyun lakukan. Sedangkan Kyungsoo sedang asyik membaca sebuah komik jepang di atas kasurnya.
"Hyung, apa kau sudah selesai? Sebaiknya kita cepat pergi ke bawah. Pasti di bawah sudah ramai, dan kita tidak akan mendapatkan jatah makan untuk malam ini."
Luhan yang merasa ditanya melirik sekilas ke arah Baekhyun. sebelum menjawab, ia sempat melihat penampilannya di cermin yang sedari tadi ia gunakan. Luhan tersenyum. "Ya, aku sudah siap. Ayo Kyung kita ke bawah! Aku sudah mulai lapar."
Kyungsoo menutup komiknya. Ia bangkit dan mulai mengikuti langkah Baekhyun dan Luhan yang sudah keluar kamar terlebih dahulu.
Mala mini mereka akan makan bersama dengan murid-muridnya di lantai bawah gedung asrama mereka. Sebenarnya acar seperti ini memang rutin diadakan setiap malam. Hanya acara makan malam bersama. Tapi ini merupakan malam pertama setelah liburan sekolah kemarin.
Baekhyun yang sudah sangat lapar segera menggandeng tangan Luhan dan Kyungsoo dengan kedua tangannya. Untuk lebih jelas, tangan kanan Baekhyun dengan nyamannya menggandeng tangan Kyungsoo dan tangan kirinya tentu saja untuk menggandeng tangan Luhan. Sedangkan para 'korban' hanya pasrah saja melihat kelakuan Baekhyun itu.
"Ah Luhan hyung, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Luhan mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun. "Tentu saja, apa itu?"
"Kau… ada hubungan apa dengan Minseok sunbae?"
Luhan diam mendengarnya. Sedetik kemudian tawanya meledak. "Haha kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau menyukainya?" tanya Luhan tanpa menggubris pertanyaan Baekhyun tadi.
"Tentu saja tidak!"
"Kalau begitu kau menyukai ku?"
"M-mwo? Ya itu tidak benar Luhan hyung!" Baekhyun mempoutkan bibirnya lucu.
"Haha baiklah. Aku dan dia hanya bersahabat. Kami sudah kenal semenjak masih SMP."
Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Memangnya ada apa kau bertanya seperti itu?"
Baekhyun tersenyum jail menanggapinya. "Nanti juga kau tau. Kajja kita masuk! Di dalam sudah sangat ramai ternyata," ucapnya dan semakin mempercepat langkahnya.
.
Suasana di sebuah aula besar itu memang sudah ramai oleh murid-murid AAS. Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia tersenyum saat melihat orang yang sedang ia cari sedang berdiri sendiri memainkan handphonenya.
"KIM JONGDAE!"
Teriakan Baekhyun itu berhasil membuat Chen dan beberapa murid lain menoleh ke arahnya. Melihat Baekhyun yang tersenyum dengan kedua tangannya yang menggandeng dua namja manis membuat Chen tersenyum geli. Mereka seperti gadis saja. Andai Xiumin hyung di sana, itu pasti surga dunia untuk ku, batinnya dan mulai melangkahkan kakinya itu.
Luhan mengeryitkan keningnya saat Baekhyun memanggil Chen. "Dia teman mu? Bukankah dia ketua club vocal itu?"
Baekhyun menganggukan kepalanya. "Ya, dia teman ku. Dan kau tau? Dia menyukai sahabat baozi mu itu. Makanya tadi aku bertanya-tanya tentang hubungan kalian. Karena ia mengira kalian berpacaran. Haha."
Luhan membulatkan matanya. "Benarkah?" Ia ikut tertawa. "Haha, ternya Xiumin memiliki fans. Aku harus bilang padanya."
"Ya hyung, kau tak boleh bilang pada Minseok sunbae. Sebaiknya hyung membantu aku mendekatkan keduanya saja. Bagiamana?"
Luhan terlihat berpiki. Tak lama ia menganggukan kepalanya dengan semangat.
Selagi Luhan dan Baekhyun asyik bergosip, Kyungsoo yang sedari diam semakin menundukan kepalanya saat sadar jika Chen sudah mulai dekat dengan mereka. Kyungsoo terus berdoa dalam hati. Keringat dingin bahkan sudah bercucuran di tengkuknya. Ia takut. Ia masih belum berani melihat ke arah Chen apalagi bertegur sapa padanya. Oke untuk yang terakhir mungkin tidak hanya berlaku untuk Chen, tapi untuk semua orang. Tapi ini berbeda.
Mau bagaimana pun Kyungsoo tak boleh takut. Jika ia terlihat ketakutan maka akan ada kecurigaan. Ia akan bersikap seperti biasa saja. Seakan-akan ia tak tau tentang kertas itu.
"Hey Baek, Kyung dan rrr…" Chen melirik ke arah Luhan. Bisa dilihat ada rasa tidak suka dalam lirikan itu. Chen masih cemburu, eoh?
Luhan tersenyum. "Xi Lu Han imnida. Panggil saja aku Luhan hyung."
"Ah ya, hey Luhan hyung," sapa Chen akhirnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Baekhyun terkikik geli melihatnya. "Kau sendiri saja Chen? Tak bersama dengan roommate mu?"
"Ani, kau tau sendiri jika Lay hyung selalu dengan Suho hyung. Dan Sehun… Dia aneh menurut ku, ya dia selalu menyendiri. Dia dingin sekali pada ku dan Lay hyung."
"Sehun? Kau satu kamar dengannya?" tanya Luhan.
"Ne, kau mengenalnya?"
"He'eh, tadi siang aku baru saja meminum bubble tea bersamanya. Dan ku kira dia orang yang– YA! XIUMIN KEMARILAH!"
Luhan memotong ucapannya. Dan melambai-lambai heboh pada sosok namja yang baru saja masuk ke aula tersebut. Namja itu- Xiumin – tak sendiri, karena ada namja tan di sampingnya.
Chen yang mendengar itu mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang di tatap Luhan. Jantungnya langsung berdetak kencang. Terlihat sekali namja dengan surai coklat itu salah tingkah. Dan tentu saja itu membuat Baekhyun yang memperhatikannya terkikik geli.
.
Xiumin balas melambai heboh pada Luhan yang memanggilnya. Ia menoleh pada namja tan yang ada di sampingnya. "Aku akan ke sana. Kau mau ikut?" tanyanya.
Namja tan itu – Jongin – yang juga sedang menatap Luhan.. Ah tidak tidak, lebih tepatnya namja di sebelah namja yang dekat dengan Luhan/? Mengangguk ragu. Ia mulai melangkah mengikuti Xiumin.
"Wah Xiumin, kau membawa siapa? Apa dia roommate mu?" Luhan langsung bertanya saat Xiumin sudah ada di depannya.
Xiumin mengangguk. "Ne, dan apa mereka juga roommate mu, Lu?"
"Tentu saja! Kenalkan ini Bakehyun. Dia lucu sekali kan? Kau jika sekamar dengannya pasti akan senang. Dia sedikit cerewet, tapi sangat setia kawan."
Baekhyun tersenyum lebar mendengar pujian dari Luhan itu. "Annyeong sunbae."
"Tak usah seformal itu padaku. Panggil aku hyung," ucap Xiumin tersenyum manis. Membuat Chen yang melihatnya memerah.
"Nah di sebelah Baekhyun itu Kyungsoo. Dia punya mata seperti burung hantu. Ya, Kyungsoo ayo angkat wajah mu. Teman ku ingin melihat mu."
Kyungsoo mengangkat wajahnya ragu. Ia menundukan kepalanya untuk tanda hormat. "Annyeong sun –"
"Cukup panggil hyung!"
"Ne, h-hyung."
Dan Kyungsoo kembali menundukan kepalanya. Bahkan ia sama sekali tak sadar jika di sebelah Xiumin masih ada namja lain yang sedari tadi terus menatapnya.
"Lalu siapa namja ini?" tanya Xiumin melirik Chen.
"Ah dia…" Luhan nampak berpikir. "Dia Chen, kau tau? Suaranya sangat bagus karena dia ketua club vocal. Dan kau tau, Chen sangat menyukai Musik-musik jazz seperti kau. Jika kalian berbicara berdua pasti kalian akan cocok."
"Wah benarkah itu? Bisakah nanti aku melihat koleksi Musik jazz mu?"
Chen menatap Luhan bingung. Masalahnya sejak kapan Chen menyukai Musik jazz? Mengerti itu, Luhan tersenyum penuh arti pada Chen. Ia mengedipkan sebelah matanya. Chen yang mengerti maksud Luhan, mengangguk mengerti. Dalam hati ia tersenyum dan sangat berterima kasih pada Luhan. Chen juga bersyukur kalau ia punya beberapa koleksi musik jazz di kamarnya.
"Ne, tentu saja aku akan memperlihatkannya padamu," jawab Chen tersenyum begitu tampannya.
"Aku kan sudah memperkenalkan teman-teman baru ku. Sekarang kau yang harus memperkenalkan teman mu itu," kata Luhan.
Xiumin melirik Jongin dan menyenggol lengan namja itu. Jongin tersadar dan menatap Xiumin 'ada apa?' yang dibalas dengan tatapan 'cepat kenalkan dirimu, hitam!'
Jongin mengangguk. "Annyeonghaseyo, nae Kim Jongin imnida. Aku masih di tingkat pertama. Semoga hyundeul mau berteman dengan ku," ucapnya tersenyum ramah dan membungkukan badannya.
Tanpa sadar Kyungsoo langsung mengangkat kepalanya. Matanya menatap Jongin yang sekarang tengah tersenyum padanya. Seakan memancarkan kerinduan yang selama ini Jongin pendam. Kyungsoo menggigit bibirnya. Rasanya ia ingin menangis sekarang.
"A-aku izin ke toilet dulu," ucap Kyungsoo dan mulai berlari keluar aula.
"Kyungsoo hyung!"
Jongin segera beralri mengikuti Kyungsoo. Tingkahnya membuat kerutan di dahi ke empat namja di sana berkerut. Terlebih lagi Baekhyun yang sepertinya tau sesuatu. Tapi Baekhyun tak mau ambil pusing. Ia tau kedua orang itu pasti perlu berbicara.
.
.
.
TBC
Nih buat yang bertanya-tanya sebenernya apa yang terjadi sama Kyungsoo. Kejawab juga kan? Haha maaf jika absurd dan aneh. ChenMin moment kurang ya? Chap depan aku tambahin. Pokoknya di chap depan khusus semua couple deh ada. Jadi review terus yaa. Dan oh ya, jangan panggil aku author ya? Itu gaenak. Panggil 'Bapau' atau 'Pau' aja biar lebih akrab:)
Follow dong fzhdryn XD
.
MAKASIH BUAT SEMUA YANG UDAH REVIEW! /BIGHUG/
.
Mind to review again?
