Author's Note:

Yay~! Akhirnya aku bisa update juga!

Sebelumnya Yuri bener-bener minta maaf karena baru bisa update dua bulan setelah chapter pertama di-publish...

Chapter pertama ini sebenarnya sudah mulai Yuri tulis tidak lama setelah chapter 0 dipublish. Namun, karena kesibukan Yuri bertambah dan ada satu hal yang terjadi dalam kehidupan Yuri, Yuri jadi bener-bener ga mood dan ga ada waktu untuk nulis.

Tapi berkat semangat dari Sakura dan para reader yang sudah bersedia membaca, me-review, memfavoritkan, serta mem-follow fic ini, akhirnya Yuri bisa bangkit dan mulai menulis lagi. Yuri sungguh berterima kasih pada kalian semua.*hug*

Hehehe... Yuri sengaja berusaha update tepat pada hari ini karena hari ini bertepatan dengan ulang tahunnya Athrun Zala. (Selamat ulang tahun, ya, Athrun... Yuri banyak memunculkanmu di chapter ini sebagai kado ulang tahunmu.)


Reply:

Nemui Neko-chan:

Re-really? Ah... Maybe you just mistaking us to be someone that you knew... *sweat dropped*

Makasih ya sudah membaca fic ini, Yuri masih harus banyak belajar dari Sakura tentang cara menulis yang baik. Chapter 0 bisa menjadi jauh lebih baik setelah diperbaiki oleh Sakura.

Hahaha... Romance-nya? AsuCaga dan ShinnStellar? Sippp... Yuri belum tahu sih, cerita ini ke depannya akan seperti apa, tapi Yuri akan tampung saran dari Nemui Neko-chan. Makasih banyak, ya...

Asuka Mayu:

Hehehe... Makasih, ya, sudah menyukai ide kami. Iya, kami akan berusaha meneruskan cerita ini hingga akhir!

Aeni hibiki:

Salam kenal juga. Hehehe, kami senang aeni-san menyukai fic pertama kami. Terima kasih ya atas semangatnya! Kami akan berusaha!

dhyetaX1999:

Hehehe... Iya, dhyetha-san benar. Kelemahan Yuri memang ada di sana. Tata bahasa Yuri terlalu kaku. Masih harus banyak belajar dari para senpai yang ada di sini. Dan kebetulan, Yuri merupakan salah satu fans fic Leggi Alba-nya Nemui Neko-chan. Iya... Untuk sementara ini Shinn dan Luna memang kelas 2; Athrun, Kira, Lacus, Dearka, dan Yzak kelas 3. Maaf jika Yuri kurang menjelaskannya di awal, mungkin di chapter-chapter berikutnya Yuri akan membahas dengan jelas mengenai hal ini. Terima kasih, ya, semangat dan sarannya!

Popcaga:

Terima kasih ya... Hahaha... Saingan Cagalli Lacus?

October Lynx:

Nice to meet you too, Toby-san! (Can I call you that?)

Thanks for loving our first fic!

Maaf ya Yuri lama sekali baru bisa update. Yuri akan berusaha untuk bisa update lebih cepat!


Saat itu pukul setengah empat pagi, langit terlihat cukup gelap dan matahari masih belum memulai rutinitas hariannya menyinari bumi.

Suasana hening masih menyelimuti seluruh kota Plant. Sebagian besar penduduk kota itu tengah sibuk di tempat tinggalnya masing-masing, bersiap-siap untuk melakukan segala aktivitas harian mereka.

"Beep... Beep... Beep..."

Sebuah ponsel pintar putih berbunyi berkali-kali, memecah keheningan pada salah satu rumah di pagi hari itu. Layar pada smart phone tersebut menyala, menunjukan adanya 5 pesan baru BlackBerry Messenger.

"Kring..."

Hanya berselang beberapa menit, ponsel tersebut kembali berbunyi. Kali ini ia berbunyi untuk membangunkan sosok remaja pria pemilik dirinya, memintanya agar segera terjaga dan mempersiapkan diri memulai segala aktivitas hariannya.

Mendengar bunyi beruntun yang cukup keras dari samping kiri bantalnya, sang pemilik smart phone tersebut mulai terjaga dari tidur lelapnya.

Dengan mata masih terpejam, ia menggerakan tangan kirinya untuk meraba-raba daerah sumber bunyi itu berasal. Setelah berhasil menggenggam benda yang menjadi sumber bunyi tersebut, ia mulai membuka kedua mata indahnya yang berwarna ungu dan segera mematikan bunyi alarm yang sejak tadi mengalun.

'Hari ini hari pertama MOS tahun ajaran baru. Selama seminggu ini aku harus berangkat lebih pagi ke sekolah untuk briefing singkat program acara dengan anggota lainnya.'

Remaja pria tersebut bangun dari posisi tidurnya, ia duduk bersila di atas kasur dengan ponsel berada dalam genggaman tangan kanannya.

'Lima BBM masuk? Sepagi ini? Siapa...?' tanya pemuda itu dalam hati.

Dengan cekatan ia membuka aplikasi BlackBerry Messenger yang ada pada ponselnya dan membaca lima pesan baru yang ternyata dikirim oleh satu orang yang sama - Red Beauty Princess.

Selamat pagi, Kira!

Apa kamu sudah bangun tidur, Sayang?

Hari ini aku akan memasak chicken cordon bleu dengan french fries kesukaanmu.

I will always love you, Honey...

Sampai bertemu di sekolah!

Setelah selesai membaca kelima pesan itu, Kira menghela napas panjang. Dengan ponsel masih berada dalam genggaman tangannya, ia berjalan ke arah jendela yang terletak di samping kiri tempat tidurnya. Sejuk dan dinginnya udara pagi dapat ia rasakan, segera setelah ia membuka jendela kamarnya.

'Fllay...'

Kira menyebut nama pengirim lima pesan itu di dalam hatinya, seraya kedua mata ungunya menikmati keindahan langit yang tersaji di depannya.

'Kenapa kamu tega membohongiku?'

'Kenapa kamu tega melakukan hal seperti itu padanya, dia yang sangat menyanyangimu. Bahkan mungkin... Jauh sebelum aku?'

Seluruh kenangan saat mereka bersama terlintas di dalam benaknya, segera setelah ia memejamkan kedua matanya dan menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.

'Andai saja ia bersikap jujur sejak awal padaku...'

"Though I cannot fly to the skies, I can give you my wings..." [1]

Lamunan Kira terhenti, saat ia mendengar ponselnya berbunyi. Dengan cepat ia menjawab panggilan tersebut, setelah ia membaca sebuah nama pada layar ponselnya.

"Halo. Pagi, Kira. Kamu sudah bangun?" tanya si penelepon pada Kira.

"Pagi, Athrun. Ya, aku sudah bangun. Ada apa? Ada hal yang perlu kau bicarakan di luar briefing jam enam nanti?" jawab Kira pada Athrun, nama yang tertera pada ponselnya tersebut.

"Tidak, aku hanya ingin mem-booking-mu saja sebelum keduluan orang lain. Hahahaha," Athrun tertawa lalu melanjutkan, "Nanti sore sepulang sekolah, kau ada waktu?"

"Hahaha... Athrun! Aku kira ada apa kau meneleponku sepagi ini. Hari ini aku senggang. Ada apa?"

"Komputerku sepertinya bermasalah lagi, Kira. Bisa kau memeriksanya? Kau tahu sendiri... Sejak aku tahu darimu kalau toko komputer itu menipuku, aku sudah tidak bisa percaya siapa-siapa lagi selain kau dalam urusan ini." Athrun tertawa kecil setelah ia menyelesaikan perkataannya.

"Sudah, jangan banyak alasan begitu! Bilang saja kau memintaku melakukannya karena kau tidak ingin keluar biaya sepeser pun," goda Kira, "Kalau begitu, aku juga minta bantuanmu, Athrun. Biasa, motorku-."

"Kalau soal itu tenang saja, Kira. Aku akan mengurusnya. Paling-paling hanya masalah klasik motor yang sudah berumur," potong Athrun cepat karena ia sudah mengerti apa yang hendak dikatakan sahabatnya itu, "Oke, biar kutebak... Kau pasti berencana pergi dan pulang sekolah dengan bis 'kan? Kau ini! Seperti dengan orang asing saja! Padahal kita sudah bersahabat sejak lama. Apa susahnya sih minta bantuanku? Itu gunanya sahabat 'kan?"

"Hahaha. You know me so well, Athrun. Ok. Thanks, Athrun. I really appreciated that," kata Kira dengan senyuman tipis mengembang dari bibirnya, "Ngomong-ngomong... Kurasa sebaiknya kita sudahi saja obrolan ini, sebelum kita berdua terlambat datang ke kegiatan yang kita buat sendiri..."

"Hahahaha... Kau benar, Kira. Tidak lucu juga kalau Ketua dan Wakil Ketua OSIS terlambat datang briefing karena ngobrol ria via telpon pagi-pagi begini. Oke, aku jemput kau jam setengah enam nanti. Sampai jumpa, Kira."

Setelah Athrun mengakhiri obrolan mereka, Kira bangun dari kasurnya, mengambil handuk dari jemuran handuk kecil yang ada di teras kamarnya, kemudian meletakan ponsel di atas meja belajarnya. Untuk sejenak ia memperhatikan salah satu foto yang dipajang di atas meja tersebut. Foto dua anak laki-laki berusia kira-kira tujuh tahun yang saling merangkul bahu satu sama lain. Salah satu anak pada foto tersebut berambut biru dan memakai topi berwarna hijau, sementara yang lainnya berambut cokelat dengan sebuah robot burung berwarna hijau berdiri pada tangan kirinya. Ya, itu adalah foto dirinya dan Athrun. Mereka sudah bersahabat lama sejak mereka masih kecil.

'Punya sahabat yang selalu ada di sampingku memang salah satu hal yang paling kusyukuri dalam hidupku. Tidak akan kubiarkan apa pun mengganggu persahabatan kita ini.'

Tidak lama kemudian terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi.


-The Twin's Love-


"Ini yang terakhir dan... Selesai!"

Seorang wanita berambut navy blue terlihat sedang sibuk menata kue nastar pada sebuah toples kecil. Di hadapannya terdapat sebuah meja dengan banyak toples serupa di atasnya, namun toples-toples tersebut sudah terisi penuh dan telah diperindah tampilannya dengan pita berwarna-warni. Setelah toples tersebut telah terisi penuh, ia menutup toples tersebut dan mulai menghias toples tersebut dengan pita berwarna merah.

Sebuah lagu barat klasik ia lantunkan, seraya ia melakukan kegiatannya tersebut.

Di ruang makan yang letaknya dekat dengan dapur, Athrun sedang menyantap sebuah sandwich sebagai sarapannya. Sebuah senyuman tipis mengembang pada bibirnya, saat ia mendengar sebuah lantunan lagu tersebut.

"Athrun..."

Pada saat ia meneguk susu coklat yang tersisa pada gelasnya, wanita yang berada di dapur itu memanggil namanya.

"Ya, Bu?"

Dengan sebuah piring beserta sebuah gelas kosong pada masing-masing tangannya, Athrun pergi menuju dapur dan menghampiri ibunya.

"Tolong berikan kue ini pada Kira," kata Ibunya sambil tersenyum.

"Baik, Bu," jawab Athrun sambil mencuci piring dan gelas yang ia gunakan pada saat sarapan, "Kebetulan pagi ini aku akan pergi ke rumahnya. Motor Kira sedang bermasalah, jadi aku akan menjemput dan mengantar Kira sekolah pulang pergi."

"Ibu senang melihat keakraban kalian. Tolong sampaikan salam dari ibu untuk Haruma dan Caridad ya!"

"Iya, aku akan menyampaikannya. Akan kukatakan kalau Bibi Caridad dan Paman Haruma mendapatkan salam dari Lenore Zala, isetri dari Patrick Zala dan ibu dari Athrun Zala," goda Athrun.

"Hei, hei...! Tidak perlu selengkap itu kan!" dengan gemas, Lenore mencubit pipi kiri putra satu-satunya itu, kemudian melanjutkan, "Dasar kau ini...! Ibumu sendiri kau goda, hah?!"

"Aduh...! Sakit, Bu! Aku 'kan hanya bercanda!" kata Athrun sambil mengusap-usap pipi kirinya, pura-pura kesakitan.

"Salahkan dirimu yang menggoda ibumu sendiri!" kata Lenore, pura-pura marah.

"Hahaha... Iya, maaf... Aku 'kan hanya bercanda, Bu..." Kata Athrun sambil tertawa.

"Dasar anak ini... Menurun dari siapa, sih? Ibu dan ayahmu tidak ada yang suka menggoda seperti itu." Lenore tersenyum sambil memegang kedua pipi putranya.

'Aku sangat senang melihat senyuman di wajahmu, Ibu.'

Sebuah senyuman turut mengembang pada bibir Athrun, saat ia melihat ibunya tersenyum.

"Ngomong-ngomong... Ayah masih belum pulang, Bu?" tanya Athrun cemas.

Senyuman di wajah Lenore menghilang, saat ia mendengar sebuah pertanyaan sederhana dari puteranya.

"Pekerjaan ayahmu masih belum selesai. Saat ini ia masih berada di ORB," jawab Lenore sambil berusaha mengembangkan senyumannya, "Kemarin ayahmu telepon, mungkin Sabtu ini ia bisa pulang kemari."

"Aku harap Ayah masih ingat kalau ia mempunyai seorang isteri dan seorang anak di sini," kata Athrun dingin.

"Athrun... Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Ayahmu hanya terpaksa melakukannya. Ayahmu bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita."

Lenore memegang kedua pundak Athrun, berusaha menenangkannya.

"Apa susahnya ayah coba mencari pekerjaan-."

"Athrun... Mencari pekerjaan yang cocok dan nyaman bagi kita itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan."

Lenore segera memotong pekartaan Athrun, berusaha menenangkannya, sebelum emosi putranya makin menjadi.

"Tapi Bu-."

"Athrun, sekarang sudah hampir jam lima. Hari ini kamu harus menjemput Kira. Selain itu, bukankah tadi kamu bilang ada briefing jam enam nanti?"

"Ibu..." Athrun menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir mengapa ibunya memilih untuk diam dan bertahan di saat ayahnya jarang berada di rumah, jarang mendampinginya.

"Baiklah, kalau begitu aku berangkat ya, Bu," kata Athrun sambil berjalan menuju ruang makan dan mengambil tas ranselnya yang terletak di salah satu kursi.

"Oke, selamat jalan, Athrun. Hati-hati di jalan."

Lenore mengantar puteranya berjalan menuju garasi rumahnya, tempat di mana sebuah motor Honda CBR merah berada.

"Oh ya, Bu... Jangan menerima pesanan kue terlalu bamyak. Jangan memaksakan diri."

Setelah mengatakan hal itu, Athrun mengenakan helm berwarna senada dengan motornya dan mengendarai motornya meninggalkan rumah kediaman Zala.

'Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menjadikan Athrun sebagai puteraku...' Kata Lenore dalam hati sambil memandang kepergian puteranya.


-By SakuraYuri87-


'Ayah, apa kau pernah memikirkan perasaanku dan ibu? Apa kami selalu ada dalam benakmu meski kau berada jauh dari kami?'

Athrun memacu laju kendaraannya dengan semakin kencang seraya ayahnya semakin berhasil memenuhi seluruh pikirannya.

'Mungkin ayah mampu memenuhi kebutuhan kami lebih dari cukup, tapi-.'

Lamunan Athrun terhenti saat tetesan air mulai jatuh dari langit dan membasahi dirinya.

'Gawat, hujan! Aku harap hujan ini segera berhenti atau tidak bertambah lebat. Setidaknya sampai aku sudah menjemput Kira dan tiba di sekolah.'

Ia segera menghentikan motornya di tepi jalan, membuka bagasi motornya, lalu mengambil jas hujan dan mengenakannya.

"Awas!"

Saat Athrun hendak kembali melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari perempatan jalan yang tidak jauh dari tempat ia berada. Didorong oleh rasa penasaran dan cemas akan apa yang terjadi di sana, Athrun bergegas menuju ke tempat di mana suara teriakan itu berasal.

Sesampainya di sana, ia melihat seorang gadis berambut pirang sebahu yang terbaring di sisi jalan. Di samping kirinya terlihat seorang pengendara sepeda motor yang turun dari kendaraannya dan menghampiri gadis itu.

'Tabrakan?!'

Dengan perasaan cemas Athrun menghentikan motornya di tepian, lalu berjalan menghampiri kedua orang itu.

"Gadis itu harus segera dibawa ke-."

"Miauw... Miauw..."

Saat Athrun hendak menawarkan bantuan kepada pengendara motor itu, terlihat ada sesuatu yang bergerak-gerak dalam pelukan gadis yang sedang terbaring di hadapannya.

'Suara... Kucing?'

"Bapak ini! Aku tahu sekarang sedang hujan, tapi itu bukan berarti Bapak boleh melaju seenaknya supaya tidak kebasahan!"

Tak disangka, gadis yang Athrun kira sebagai korban tabrakan motor itu dapat bangun dari posisinya. Dengan seekor anak kucing dalam pelukannya, gadis itu memarahi pemuda pengendara motor itu.

"Hampir saja anak kucing ini celaka karena kecerobohan Bapak. Bagaimana kalau kucing ini manusia? Bagaimana kalau aku tidak berhasil menyelamatkannya dan ikut tertabrak?"

"Ma-maafkan saya... Mari saya bawa Anda ke rumah sakit! Anda pasti terluka saat menyelamatkan anak kucing itu."

Dari raut wajah bapak itu, terlihat jelas kalau ia panik dan menyesali kesalahannya.

"Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang terluka karena kejadian ini dan Bapak sudah menyadari kesalahan Bapak."

Gadis itu tersenyum kepada pemuda itu sambil mengusap-usap bulu seekor anak kucing berbulu hitam putih yang berada dalam pelukannya.

Anak kucing tersebut terus bersuara "Miauw... miauw..." sambil menatap gadis yang memeluknya, seolah-olah hendak mengucapkan rasa terima kasih karena telah menolongnya.

"Sekali lagi, maafkan saya..."

Pengendara motor tersebut kembali meminta maaf sambil membungkukan badannya pada gadis itu.

"Sudah, sudah! Bapak tidak perlu terus minta maaf," kata gadis itu sambil terus mengusap-usap kepala anak kucing dalam pelukannya, "Hahaha.. Anak kucing ini lucu sekali. Mirip Tiggy!"

Anak kucing itu menjilati jari-jari tangan gadis yang memeluknya, berusaha menunjukan rasa terima kasihnya pada gadis itu.

"The further we are apart, the nearer I feel you are..." [2]

Terdengar lantunan sebuah lagu yang nampaknya merupakan nada dering dari ponsel gadis berambut pirang itu.

"Hm...? Stellar? Ada apa ya?"

Setelah mengambil sebuah ponsel layar sentuh putih dari saku celana training yang ia kenakan, ia menjawab panggilan tersebut.

"Halo? Stell, ada apa? Ah, iya, iya. Aku tidak apa-apa, kok, hanya hujan gerimis. Kamu jangan cemas, sebentar lagi aku sampai rumah, kok. Aku sedang berjalan ke sana."

Gadis itu segera memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celananya, kemudian menatap kedua pria di hadapannya.

"Maaf, aku permisi dulu. Aku harus segera pulang kalau tidak ingin terlambat masuk sekolah. Anak kucing ini mungkin akan kupelihara kalau ayah dan adikku mengizinkan. Aku harap dengan kejadian ini, Bapak lebih berhati-hati dalam berkendara," katanya pada bapak pengendara motor itu sambil terus mengusap-usap kepala anak kucing dalam pelukannya.

"Iya, saya akan lebih berhati-hati lagi, Dik. Sekali lagi, maafkan saya..."

Bapak itu berbicara sambil menunduk, menunjukan penyesalan atas ketidakhati-hatiannya.

"Dan, Kau, Tuan berambut biru!" gadis itu menghadapkan pandangannya pada Athrun sambil tersenyum, "Terima kasih karena sudah peduli dan berniat membantu kami."

"Ah, tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukan apa-apa," kata Athrun sambil tersenyum.

"Dengan kau sudah mau peduli saja, aku sudah merasa terbantu. Baiklah, sampai jumpa lagi!"

Setelah berkata demikian, dengan seekor anak kucing dalam pelukannya, ia berlari dengan cepat menerjang dinginnya hujan yang turun di pagi itu.

"Terima kasih banyak ya, Dik, karena sudah ingin membantu saya."

Bapak itu menepuk pundak Athrun sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa, Pak. Bukan hal besar. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku pergi dulu ya, Pak." Kata Athrun santun.

"Baiklah, saya juga harus lekas berangkat. Saya harus segera tiba di bandara untuk menjemput isteri saya yang baru pulang dari Orb."

Setelah keduanya berpamitan satu sama lain, mereka masing-masing kembali mengendarai kendaraan mereka meninggalkan tempat itu.

'Baik hati, berani, tegas, kuat, tapi... Manis - terutama ketika sedang tersenyum. Menarik.'

Selama perjalanan menuju rumah Kira, seluruh pikiran Athrun dipenuhi oleh gadis yang baru saja ia temui secara tidak sengaja itu.

'Entah kenapa aku punyai firasat kalau aku akan bertemu dengannya lagi. Yeah... Who knows? Destiny and fate is something that God arranges.'


-The Twin's Love-


"Aku pulang..."

Cagalli membuka sepatu lari beserta kaos kakinya yang basah karena hujan gerimis pagi itu, sebelum masuk ke dalam tempat tinggalnya. Seekor anak kucing terduduk diam di belakangnya sambil menatap punggungnya.

"Semoga saja siang dan sore nanti cuacanya cerah, jadi sepatuku ini bisa cepat kering."

Seperti hari-hari biasanya, Cagalli selalu berolah raga di pagi hari. Ia berlari mengelilingi blok perumahan tempat tinggalnya selama setengah jam, kemudian pulang ke rumah untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.

"Neechan! Neechan tidak apa-apa?"

Tidak lama kemudian, Stellar menghampirinya dan memberikan sebuah handuk besar. Ia cemas melihat kakaknya basah kuyup diguyur hujan yang turun di pagi itu.

"Neechan biasanya tepat waktu, aku cemas sekali saat tiba-tiba turun hujan dan-."

"Miauw... Miauw..."

Perkataan Stellar terhenti saat ia mendengar suara kucing dan ternyata kucing itu berjalan mendekatinya.

"Neechan! Anak kucing ini lucu sekali! Di mana menemukannya?"

Stellar mengusap-usap kepala anak kucing itu lembut.

"Iya, dia lucu sepertimu, Tiggy," Cagalli mulai menggoda adiknya sambil mengeringkan rambutnya, "Maaf aku pulang sedikit terlambat dan membuatmu cemas, tadi aku menyelamatkan anak kucing ini saat ia hampir tertabrak motor..."

"Neechan!Masa aku disamakan dengan kucing?!" tidak terima dengan pernyataan kakaknya, dengan gemas Stellar mencubit pipi kiri kakaknya.

"Aduh! Hentikan itu, sakit, Stell! Bisa tembem mukaku kalau pipiku sering kau cubit!" Cagalli melepaskan tangan Stellar yang mencubit pipinya, kemudian mengusap-usap pipi kirinya dengan lembut, "Ukh... Padahal kakakmu ini baru saja hampir tertabrak motor. Bukannya dirawat, malah dicubit!"

Cagalli membalas perbuatan adiknya itu dengan perbuatan serupa, ia mencubit pipi kiri adiknya.

"Habisnya, Neechan! Ada-ada saja menyamakanku dengan anak kucing! Lagipula aku lihat Neechan baik-baik saja," kata Stellar sebal, setelah menepis tangan Cagalli yang mencubit pipinya, "Ngomong-ngomong... Neechan membawa kucing ini pulang, berarti..."

"Yap, sama seperti yang kau pikirkan. Aku bermaksud memeliharanya." Kata Cagalli sambil tersenyum lebar.

"Tapi, ayah-."

Perkataan Stellar terhenti saat tiba-tiba terdengar suara sebuah pintu terbuka dari arah belakangnya.

"Ah, Cagalli... Syukurlah kamu sudah pulang. Ayah cemas saat hujan mulai turun dan kamu belum sampai di rumah Ah, itu..."

Uzumi menatap lekat-lekat seekor anak kucing yang terduduk di lantai. Tidak lama kemudian anak kucing itu mengeringkan tubuhnya sehingga air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya bercipratan ke mana-mana, mengenai tiga orang yang mengelilinginya.

"Um... Ayah... Itu-."

"Ayah, tadi pagi saat aku berolah raga seperti biasanya, aku kebetulan melihat anak kucing ini hampir tertabrak motor. Spontan, aku lompat dan menyelamatkannya. Lalu-."

Stellar memecah keheningan yang terjadi dengan berusaha menjelaskan apa yang terjadi, namun ia dipotong oleh kakaknya yang segera menjelaskan pengalamannya secara detail.

"Ya ampun, Cagalli...! Kamu tidak apa-apa?!"

Dengan panik Uzumi memegang kedua bahu Cagalli, memotong perkataannya. Kemudian ia memeriksa setiap bagian dari Cagalli, berusaha memastikan bahwa puteri sulungnya itu baik-baik saja.

"Ayah tidak perlu cemas. Aku tidak apa-apa, kok, sungguh..."

Cagalli menepuk-nepuk punggung Ayahnya, berusaha menenangkannya, sementara Stellar berjalan masuk ke dalam kamarnya.

"Kaki Neechan terluka. Sini, biar aku bersihkan dulu dengan antiseptik..."

Stellar kembali ke tempat ayah dan kakaknya berada dengan membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat, handuk, kapas, serta sebotol kecil cairan antiseptik.

"Ehhhh...?! Tidak! Aku tidak mau, Stell! Aku tidak suka!"

Cagalli berlari menghidari Stellar. Entah mengapa ia memiliki prinsip bahwa luka luar ringan akan lebih cepat sembuh apabila dibiarkan begitu saja, tidak perlu diobati.

"Neechan! Ayolah! Neechan bukan anak kecil lagi! Masa Neechan lari hanya karena tidak ingin diobati dengan antiseptik?" kata Stellar gemas.

"Pokoknya aku tidak mau, Stell! Terserah kau mau bilang apa!"

"Neechan!"

"Ehem..."

Uzumi berdeham sekali, menghentikan perdebatan mereka sebelum menjadi semakin panas.

"Biar ayah tebak. Kamu membawa anak kucing yang kamu selamatkan kemari dengan tujuan ingin memeliharanya 'kan?" tanya Uzumi sambil menatap puteri sulungnya.

"Um... Iya sih, Ayah..." Jawab Cagalli dengan cemas, takut Ayahnya tidak memberikan izin untuk melakukan hal itu.

"Baiklah. Ayah mengizinkanmu memelihara anak kucing itu, asalkan kamu mau diobati," kata Uzumi tegas.

Uzumi mengedipkan matanya pada Stellar yang langsung dibalas dengan sebuah tawa kecil olehnya.

"Sini Kak... Biar kuobati..." Dengan senyuman licik pada wajahnya, Stellar kian berjalan mendekati kakaknya.

"Ukh... Oke, oke! Hanya untuk kali ini saja ya!" dengan pasrah Cagalli menyerah dan menyerahkan kakinya pada Stellar untuk diobati.

Stellar membersihkan luka pada kaki kakaknya dengan handuk basah, kemudian ia mulai mengobatinya dengan kapas yang telah dibasahi cairan antiseptik sebelumnya.

"A-aduh... Pelan-pelan, Stell..." Protes Cagalli, saat kapas tersebut mulai menyentuh lukanya.

"Iya Neechan... Tenang, hanya perih sedikit, kok... Nah, sudah selesai," kata Stellar lembut, setelah ia selesai mengobati luka kakaknya.

"Neechan sebaiknya sekarang cepat mandi dan ganti baju. Neechan bisa masuk angin kalau terus pakai baju basah itu. Aku sudah menyiapkan air hangat untuk Neechan," kata Stellar sambil tersenyum.

"Oke, Tiggy! Makasih, ya!"

Setelah mengambil pakaian ganti dan handuk dari kamar tidur, Cagalli bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya.

"Hahaha... Dasar Neechan..."

Stellar tersenyum mengamati gerak-gerik Cagalli sambil mengusap-usap kepala anak kucing yang ada di dalam pelukannya.

"Kamu pasti lapar 'kan, Kitty? Aku punya sedikit ikan untukmu!"

Dengan riang Stellar membawa anak kucing itu ke halaman belakang rumah, setelah mengambil sepotong daging ikan dari kulkas. Karena halaman tersebut beratapkan fiberglass, kucing tersebut dapat makan dan bermain dengan bebas tanpa diganggu turunnya hujan yang kian deras.

"Kamu manis sekali, Kitty..."

Dengan riang Stellar mengusap-usap kepala anak kucing yang sedang menyantap sepotong daging ikan.

'Dapatkah kamu melihatnya dari atas sana? Puterimu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang manis dan baik hati seperti dirimu.'

Dengan sebuah senyuman di wajahnya, Uzumi memperhatikan Stellar sambil tersenyum lembut.


-Chapter 1-


"Terima kasih banyak, Stell. Sayur bayam masakanmu ini enak sekali!" kata Cagalli senang setelah ia menghabiskan sarapan paginya.

"Iya, Cagalli benar. Ayah suka sekali," Uzumi menambahkan.

"Syukurlah kalau Neechan dan Ayah suka," kata Stellar malu-malu, "Ah, aku cuci piring dulu ya, Neechan. Setelah itu, baru kita berangkat sekolah."

Cagalli membersihkan dan merapikan meja makan, sementara Stellar membawa semua peralatan makan kotor ke dapur dan mencucinya.

"Cagalli..."

"Ya, Ayah...?"

Setelah menghabiskan secangkir kopi susu yang menemani hidangan sarapan paginya, Uzumi memanggil puteri sulungnya. Cagalli segera menghentikan aktivitasnya saat itu dan duduk pada kursi kosong di sebelah kanan ayahnya. Dari nada bicara ayahnya, Cagalli menilai ayahnya ingin membicarakan suatu hal serius dengannya.

"Cagalli, tolong jaga adikmu..." Kata Uzumi sambil memegang kedua pundak puteri sulungnya.

"Ayah..." Cagalli menatap mata ayahnya lekat-lekat, kemudian menjawab, "Tentu, Ayah! Aku akan menjaga Stellar! Dia adikku yang manis. Lagipula... Aku sudah berjanji pada Ibu..."

"Terima kasih, Cagalli..."

Uzumi tersenyum sambil membelai lembut rambut puteri sulungnya itu.

"Ayah, aku siap-siap berangkat sekolah dulu ya..."

Cagalli masuk ke dalam kamar tidurnya. Setelah mengambil tas sekolah, ia memperhatikan rupa dirinya yang terpantul pada cermin meja rias yang berada di kamarnya. Pada meja rias tersebut terdapat foto seorang wanita sedang memeluk dua anak perempuan yang kira-kira berusia lima tahun. Foto tersebut merupakan foto dirinya, Stellar, serta ibunya saat berkebun di halaman belakang rumahnya. Mereka semua tertawa meski tanah liat mengotori tangan, kaki, bahkan pipi mereka.

Cagalli mengambil foto itu dan memperhatikannya.

"Ibu... Aku akan menepati janjiku. Aku akan menjaga Stellar. Aku juga akan berusaha menjadi anak yang bisa ayah dan ibu banggakan..."

Untuk beberapa saat Cagalli memeluk foto itu. Matanya terpejam, sebuah senyuman menghiasi bibirnya, saat ia membayangkan saat-saat mereka bersama. Saat ibunya masih berada di antara mereka, menyayangi dan memanjakan dia juga adiknya.

"Neechan...? Apa Neechan sudah siap?"

"Aku sudah siap, Stell! Ayo kita berangkat!"

Bunyi ketukan pada pintu kamarnya menyadarkan lamunan Cagalli. Setelah meletakan foto tersebut pada tempat semula, ia menggendong tas ranselnya dan kemudian bergegas meninggalkan kamar.

'Ya... Aku pasti bisa menepati janjiku padamu, Ibu...'


-Destiny?-


Saat itu pukul enam lebih sepuluh, hujan telah berhenti. Terlihat banyak genangan air di sepanjang jalan kota Plant, matahari mulai menampakan dirinya dari balik awan-awan.

"Sepinya...!"

Miri menghentikan langkahnya tepat di depan pintu gerbang SMA Minerva.

Pintu gerbang sekolah memang sudah terbuka, namun suasana sekolah tersebut masih sepi. Beberapa petugas sekolah sedang membersihkan halaman sekolah.

"Yah, salahku sendiri yang terlalu bersemangat menyambut hari pertamaku di SMA sampai-sampai bangun lebih pagi dari biasanya."

Saat Miri tertegun sendirian di depan pintu gerbang sekolah, bapak penjaga sekolah menghampirinya.

"Kamu salah satu murid baru tahun ajaran ini ya?" tanya pria paruh baya itu pada Miri.

"Ah, iya, Pak," jawab Miri yang baru saja tersadar dari lamunannya.

"Kamu rajin sekali, Nak. Upacara penerimaan siswa baru 'kan dimulai jam tujuh."

"Iya, Pak. Saya terlalu bersemangat sampai datang terlalu pagi. Mumpung hujan sudah berhenti juga."

"Hahaha. Bapak senang melihatmu bersemangat bersekolah di sini," Bapak itu tersenyum senang mendengar jawaban Miri, "Sebaiknya kamu masuk saja ke dalam. Di taman ada beberapa kursi, kamu bisa duduk di sana dan menikmati keindahan aneka macam bunga yang di tanam di sana. Daripada kamu berdiri sendirian di sini, bisa pegal dan jemu!"

"Hahaha. Bapak benar. Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu ya, Pak..."

Miri mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam halaman sekolah. Dengan banyaknya aneka ragam bunga yang tertata rapi, halaman sekolah itu memang terlihat indah. Kombinasi antara indahnya taman tersebut dengan sejuknya udara pagi saat itu membuat perasaan Miri nyaman dan tenang.

Miri membuka tas sekolahnya dan mengambil kartu pelajarnya. Ia memandangi kartu itu sambil tersenyum.

"Sebentar lagi aku akan mulai belajar di sekolah terbaik di kota Plant ini. Pasti-, ah...!"

Saat ia melangkahkan kakinya, hendak duduk di salah satu kursi taman yang ada di sana, ia merasakan ada seseorang yang menabraknya dari belakang.

Baik ia mau pun orang yang menabraknya sama-sama terjatuh di sana.

"K-kau tidak apa-apa...?"

Miri bangkit dari posisinya, kemudian mengulurkan tangan pada sosok seorang pemuda berkulit gelap dan berambut pirang yang menabraknya.

Pemuda yang menabraknya itu meraih tangan Miri, kemudian bangkit dari posisinya.

"Ah, maaf... Aku sedang terburu-buru. Terima kasih, ya."

Setelah berkata demikian, ia membalikan badannya, hendak bergegas meninggalkan tempat itu. Namun langkah pemuda itu terhenti saat Miri memegang lengannya, mencegah pemuda tersebut pergi meninggalkannya. Sikap pemuda tersebut yang terkesan tak acuh membuat Miri naik darah.

"Hei! Dasar ceroboh! Lain kali kalau sedang berjalan, hati-hati ya! Bisa membahayakan orang lain!"

Dengan nada tinggi dan setengah berteriak, Miri memarahi pemuda tersebut.

Pemuda itu tidak mendengarkannya, ia malah tersenyum dan berlari semakin cepat meninggalkan Miri menuju ruangan OSIS.

"Dearka, sudah kukatakan berkali-kali 'kan. Tolong datang tepat waktu! Dari semua anggota OSIS di sini, rumahmulah yang paling dekat dengan sekolah!"

Saat pemuda itu masuk ke dalam ruangan OSIS dengan terengah-engah, pemuda berambut perak menyambutnya dengan nada tinggi.

"Hahaha... Maaf, aku tadi datang tepat waktu... Dari rumah."

'Miriallia Haww... Dia manis.'

Sambil menggenggam kartu pelajar milik Miri, ia duduk di kursi kosong bersama Yzak dan mereka mulai mengikuti briefing yang saat itu sedang berjalan.


-Cagalli&Stellar-


"Tidak! Aku tidak setuju kalau anak kucing itu diberi nama Tiggy! Aku tidak mau disamakan dengan kucing!"

"Terserah aku mau memberi nama kucing itu apa. Toh, aku yang menemukannya! Bukan kamu!"

Setelah memarkir motor di tempat parkir SMA Minerva, Stellar dan Cagalli berjalan memasuki halaman sekolah yang mulai ramai. Di sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah hingga saat ini, mereka tidak berhenti memperdebatkan nama anak kucing yang baru saja menjadi penghuni baru kediaman mereka.

Stellar ingin anak kucing itu diberi nama Kitty, sementara Cagalli menginginkan anak kucing itu diberi nama Tiggy - karena menurutnya kucing itu mirip adiknya.

"Um... Cagalli dan Stellar, 'kan?"

Miri yang sedari tadi duduk di kursi halaman sekolah, berjalan menghampiri kedua gadis kembar itu.

"Ah, hai, Miri! Senangnya, kita bisa bertemu lagi!" Cagalli balas menyapa Miri dengan riang, "Kamu sudah datang dari tadi?"

"Hahaha... Iya. Karena terlalu bersemangat, jadinya aku bangun terlalu pagi hari ini. Kalian baru datang?"

"Iya, kami agak telat hari ini, tadi berangkat agak siang dari rumah."

"Kalian naik motor? Rambut kalian agak berantakan..." Miri mengatakan hal tersebut sambil tertawa kecil.

"Ah, i-iya ya? Terima kasih, Miri..."

Stellar dan Cagalli tersipu malu sambil berusaha merapikan rambut mereka dengan jari-jari tangan mereka.

"Kita ke kamar mandi dulu saja untuk merapikan diri kalian. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum upacara dimulai."

Setelah merapikan penampilan, mereka bergegas menuju taman sekolah, duduk pada salah satu kursi yang ada di sana dan menunggu upacara dimulai.

"Entah kenapa aku merasa masa sekolah kita di SMA Minerva ini akan menyenangkan," kata Stellar sambil tersenyum.

"Ya, semuanya dimulai dari bertemu denganmu, Miri, sebagai teman baru kami," tambah Cagalli.

"Hahaha... Termyata bukan aku saja ya, yang merasa demikian. Oh, ya kalian-."

"Cagalli, Stellar! Kenapa kalian meninggalkanku? Bukankah kita biasanya berangkat sekolah bersama?"

Seorang pria berambut biru muda datang menghampiri mereka bertiga, memotong perkataan Miri.

"Ah, maaf, Auel... Tadi kami panik karena kami berdua kesiangan. Kami jadi melupakanmu..." Jawab Stellar sedih.

"Hahaha. Maaf ya, Auel! Tapi tidak apa-apa 'kan? Kamu 'kan bukan anak kecil yang harus kami dampingi ke seklolah lagi," kata Cagalli usil.

"Iya, sih.. Tapi... Ah, sudahlah! Ngomong-ngomong... Ini...?"

"Ah, kenalkan, aku Miriallia Haww. Panggil saja aku Miri. Aku siswa baru di sini, sama seperti kalian," kata Miri sambil mengulurkan tangannya pada Auel.

"Auel Nieder. Panggil saja aku Auel. Aku sahabat Stellar dan Cagalli dari SMP. Salam kenal."

Tidak lama setelah Auel dan Miri berjabat tangan, terdengar bunyi bel sekolah berbunyi. Mereka berempat segera pergi menuju lapangan sekolah untuk mengikuti upacara.

Tanpa mereka sadari, seorang pemuda berambut biru langit malam memperhatikan mereka dari kejauhan sejak tadi. Mata emrald green-nya terfokus pada salah satu gadis berambut pirang yang sedang berlari menuju lapangan upacara.

'Is this what everyone called as... Destiny?'

-To Be Continued-


Note:

[1] Lirik lagu Wings of Words by Chemistry yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris

[2] Lirik lagu Reason by Nami Tamaki yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris

Bagaimana menurut kalian tentang chapter 1 ini...?

Maaf ya, di chapter ini masih belum ada adegan romantisnya sama sekali.

Kami sangat berminat akan opini maupun saran para readers mengenai fic ini; oleh karena itu, kami akan merasa senang jika para readers tidak sungkan untuk menuangkannya pada kotak review di bawah ini.

Terima kasih sudah membaca fic kami ini.

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

29/10/13

-SakuraYuri-87-