Halo, selamat berjumpa lagi semuanya!
SakuraYuri kembali membawa kelanjutan cerita ini...
Kami benar-benar minta maaf baru bisa update cerita ini... (sampai terlambat dua bulan:( )
Yuri benar-benar sibuk di RL Yuri, belum lagi ditambah kondisi fisik Yuri yang sedang kurang fit akibat banyaknya aktivitas dan cuaca akhir-akhir ini yang kurang bersahabat.
Tapi, berkat dukungan dari para readers sekalian, juga Sakura, tentunya, sebagai patner menulis Yuri yang benar-benar baik hati, Yuri akhirnya berhasil menyelesaikan chapter ini dengan baik (setelah berbagai revisi oleh Sakura tentunya ^_^)!
Special Thanks:
popcaga:
Terima kasih banyak atas kiriman semangatnya, popcaga-san! Kami akan berusaha tetap semangat menyelesaikan fic ini hingga tamat!:D Dukung dan ikuti terus cerita kami, ya!:D
aeni hibiki:
Terima kasih banyak ya, sudah dengan sabar dan setia mengikuti cerita ini… (Kami sadar, kami update-nya lama sekali, jadi kami terharu sekali saat ada yang dengan sabar dan setia mengikuti cerita ini…:'( )
Pada chapter kali ini, kami hadirkan sedikit adegan romance… Semoga berkenan dan bisa menghibur aeni-san, ya!:D
Terima kasih banyak kiriman semangatnya! Kami akan berusaha tetap semangat dalam menyelesaikan fic ini hingga ending -nya!:D
Nemui Neko-chan:
Eh? Benarkah? Sakura-san tidak sengaja mengakuinya?^^;
Iya… Di chapter kemarin kami sengaja banyak membuat scene tentang Athrun, mempertemukan dia dengan Cagalli sebagai kado dari kami di hari ulang tahunnya!:D
Hehehe… Di chapter ini kami menghadirkan ShinnStellar scene! Semoga Neko-chan menyukainya!:D
Terima kasih atas dukunganya!:D
Alyazala:
Maaf banget, ya… Kami baru bisa update setelah tiga bulan lamanya…
Semoga chapter kali ini bisa memuaskan alyazala-san…
Selamat membaca!
Terima kasih banyak telah mendukung kami!:D
Mrs. Zala:
Terima kasih banyak karena sudah mendukung karya ini!:D
Kami senang jika karya ini mampu mengibur Mrs. Zala-san!:D
Hm…?
Hahaha… Bukan. Kami tidak kembar. Kami hanyalah dua orang sahabat yang memiliki banyak kemiripan, baik sifat maupun selera. Dan entah kebetulan atau bukan, banyak kejadian serupa yang kami alami, meski kami tinggal berjauhan dan hanya dapat berkomunikasi melalui media social maupun telepon.^^;
Maaf kami baru bisa update sekarang…
Semoga chapter kali ini dapat memuaskan dan manghibur Mrs. Zala-san!:D
Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada para readers yang sudah memfavoritkan dan mem-follow cerita ini:
Ema Namikaze, October Lynx, Mrs. Zala, moury4869, dan Lenora Jime.:D
Dan terima kasih juga kepada silent readers (jika ada)… Kami akan merasa senang jika kalian memberikan saran, pendapat, maupun request kepada kami…:D
Oke, sekian kata-kata pembuka dari kami...
Selamat membaca!:D
Disclaimer:
Gundam Seed/Destiny sepenuhnya bukan milik author.
"Ah...! Akhirnya upacaranya selesai juga!"
Cagalli merenggangkan badannya sambil berjalan menuju aula sekolah. Setelah upacara bendera selesai, semua siswa baru dihimbau menuju aula sekolah untuk mengikuti kegiatan MOS, sementara siswa-siswi kelas dua dan tiga yang bukan merupakan anggota OSIS masuk ke kelas baru mereka masing-masing untuk mengikuti pelajaran harian biasanya.
"Kamu tahu? Aku sangat senang saat Pak Durandall mengucapkan kalimat penutup pidatonya," kata Miri sambil mengipasi diri sendiri dengan telapak tangannya. "Pegal sekali kakiku berdiri terus sampai satu jam lebih, apalagi kita dijemur di bawah terik matahari seperti ini!"
"Fiuh... Berarti apa yang dikatakan kakak benar, 'Jangan harap upacara bendera di awal tahun ajaran baru itu akan berakhir dengan cepat.'" Kata Auel sambil menyilangkan tangan di belakang kepalanya.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal kalau Kak Sting sudah memperingatkanmu?!" Protes Cagalli.
Auel memiliki seorang kakak laki-laki yang lebih tua tiga tahun darinya yang bernama Sting, ia menempuh pendidikan tinggi di luar kota setelah menamatkan pendidikannya di SMA Minerva.
Selama perjalanan dari lapangan menuju aula sekolah, Auel menjabarkan apa yang diceritakan kakaknya mengenai upacara bendera di SMA Minerva.
Upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan sekolah tersebut biasanya hanya berlangsung kurang lebih selama empat puluh lima menit, namun lain halnya apabila pembina pada upacara tersebut adalah bapak kepala sekolah SMA Minerva, Pak Gilbert Durandal. Lama jalannya upacara bendera dapat berlangsung lebih lama dari biasanya, dikarenakan kebiasaan buruk sang kepala sekolah yang senang memberikan pidato panjang di setiap kesempatan.
'Kepalaku... Kenapa...? Kenapa aku berbeda?!'
Selama ketiga remaja tersebut asyik membicarakan betapa piawainya Pak Gilbert dalam membawakan pidato, Stellar tertinggal cukup jauh di belakang mereka. Dengan lunglai, dia tetap berusaha melangkahkan kakinya perlahan-lahan sambil menahan rasa pening yang kian terasa pada kepalanya.
'Sudah kuduga... Aku seharusnya menuruti nasihat ayah dan Nee-.'
Buk!
Sensasi dingin dari air soda dapat Stellar rasakan pada wajah, badan, beserta kakinya saat ia secara tidak sengaja menabrak kakak kelas yang hendak meminum sebotol minuman tersebut terlepas dari genggamannya, isi botol tersebut berhamburan keluar, membasahi setiap objek terdekat dari posisinya.
Roti isi kelapa yang berada di genggaman tangannya yang lain pun ikut terlepas dari genggamannya tanpa sempat dicicipi sama sekali oleh pemiliknya.
Pemuda pemilik minuman soda itu pun tak luput dari tumpahan cairan tersebut. Pada kemeja beserta celana seragamnya, minuman soda tersebut meninggalkan bercak noda coklat yang cukup besar. Untungnya sepatu pemuda tersebut berwarna hitam, sehingga noda cairan tersebut tidak terlihat di sana.
"Shinn, kau tak apa-apa?!"
Pemuda berambut pirang sebahu yang berada tidak jauh dari sana berlari menghampiri pemuda pemilik botol minuman soda tersebut.
"Aku tidak apa-apa, Rey. Hanya saja..."
Shinn mengalihkan pandangannya pada Stellar. Mata ruby-nya memancarkan besar dan kuatnya emosi yang hendak ia luapkan sebentar lagi.
"Hei, apa kau tidak punya mata?! Kalau jalan lihat-lihat dong!"
"Ma-maaf..."
Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Stellar saat Shinn memarahinya dengan setengah memaki. Stellar berusaha mengmbil tisu dari dalam tas ranselnya. Seraya berusaha membersihkan rambut, wajah, serta lengan Shinn dengan tisu; ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga meski sudah tak tertahan lagi.
"Iya, kudengar Pak Gilbert juga ikut mengajar pelajaran ekonomi. Tapi karena kesibukannya sebagai kepala sekolah, akan ada saat-saat di mana dia tidak bisa mengajar dan hanya memberikan tugas."
Sementara itu, Auel masih sibuk membagikan informasi mengenai guru-guru SMA Minerva pada Cagalli dan Miri. Mereka terlalu asyik sehingga mereka tidak sadar akan absennya Stellar di antara mereka.
"Ah, banyak jam kosong dong? Asyik!" Kata Cagalli sambil tersenyum jahil.
"Ya... Begitulah. Tapi, meski jam kosong, kita tetap tidak boleh seenaknya. Kalau kelas kita berisik dan saat jam pelajaran berakhir tugas yang diberikan tidak selesai, bisa-bisa satu kelas akan mendapat nilai pas-pasan di rapor kita," jelas Auel.
"Wah... Kejamnya!" Ujar Miri, "Kalau tidak salah dengar, dia itu suami Bu Talia Gladys ya?"
"Ya, itu benar. Ia mengajar mata pelajaran Bahasa Jepang di sini," kata Auel membenarkan, "Selain terkenal karena prestasi di bidang atletik dan basket, sekolah ini juga terkenal prestasinya di bidang bahasa. Sekolah ini memenangkan berbagai perlombaan bahasa Inggris dan Jepang."
"Kamu dengar 'kan, Stell? Aku yakin kamu pasti bisa mengikuti bahkan memenangkan-."
Cagalli terkejut saat ia mendapati adiknya tidak berada di dekatnya.
"Hei, Auel, Miri! Apakah kalian melihat Stellar?!"
"Eh?! Kau benar!" Kata Auel panik, "Kalau dia terus mengikuti kita, tidak mungkin kita terpisah dengannya."
"Ukh! Dasar bodoh! Karena keasyikan ngobrol dengan kalian, aku jadi melupakan adikku sendiri!"
"Sudah-sudah... Cagalli, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri seperti itu. Auel dan aku pun tidak menyadarinya." Miri menepuk-nepuk bahu Cagalli untuk menenangkannya. "Yang terpenting sekarang kita harus tenang dan mencarinya. Seharusnya dia masih ada di sekolah. Mungkin dia pergi ke WC?"
"Bukan begitu... Stellar itu... Dia..."
"Hei... Kamu lihat tadi? Kasihan sekali ya anak itu."
"Iya... Dia tidak sengaja menabrak Kak Shinn sampai minumannya tumpah semua dan membasahi mereka berdua."
"Kudengar dari kakakku yang sekelas dengannya, Kak Shinn itu punya watak yang keras. Gadis berambut pirang itu pasti habis dimaki-maki oleh Kak Shinn."
'Gadis berambut pirang...? Mungkinkah itu... Stellar?'
"Hei, katakan! Di mana kalian melihat gadis berambut pirang itu?! Apa dia mirip denganku?" Tanya Cagalli pada kedua siswa baru pria yang sedang berbincang-bincang di dekatnya sambil berjalan menuju aula sekolah.
"E-eh?! Ah, iya! Dia mirip denganmu!" Kata salah seorang siswa itu, ia cukup terkejut karena ditanya dadakan seperti itu oleh Cagalli, "Dia di dekat lapangan sekolah."
"Oke, makasih, ya!"
"Aku ikut!" Seru Auel
"Jangan! Biar aku saja! Kau dan Miri pergi duluan saja!" Seru Cagalli sambil berlari menuju lapangan sekolah secepat mungkin.
'Stellar... Kuharap kau baik-baik saja...'
-The Twin's Love-
'Maaf... Maafkan aku, Ayah... Aku ceroboh...'
Cagalli terus menyalahkan dirinya sendiri selama ia berlari menuju lapangan sekolah.
'Tolong jaga adikmu, Cagalli...'
Kata-kata ayahnya terus tergiang pada pikiran Cagalli.
'Stellar... Maafkan aku...'
Sesampainya di dekat lapangan sekolah, ia memicingkan matanya, berusaha menangkap sosok dua remaja pria dan wanita saling berhadapan di lapangan sekolah.
Samar-samar terdengar suara pria dengan nada tinggi dari arah sana. Rasa cemas kian dirasakan Cagalli, ia segera mempercepat langkahnya menuju arah suara itu.
"Kalau begini, bagaimana aku bisa mengikuti kegiatan MOS?! Dasar cewek sia-."
"Stellar?! Kamu tidak apa-apa?!"
Cagalli memotong perkataan Shinn saat ia menemukan adiknya dalam keadaan basah dengan air soda.
"Ne-neechan... A-aku... Maaf..."
Stellar hanya dapat menatap mata kakaknya sedih, rasa cemas akan dirinya tampak jelas pada wajah Cagalli.
'Lagi-lagi aku hanya menjadi beban untuk Neechan, merepotkan dia saja...'
Air mata mulai mengalir pada pipi Stellar. Ia sudah tidak bisa menahannya, meski ia berusaha mencegahnya mengalir lebih banyak lagi.
"Stellar..." Melihat Stellar menangis, Cagalli menghapus air mata Stellar dan mengusap-usap kepalanya, berusaha menenangkannya. "Sudah, sudah... Tidak apa-apa..."
"Hei, tidak apa-apa dari mana?!" Kata Shinn menghampiri mereka berdua, "Kamu tahu? Thanks to her, seragam beserta sepatuku jadi kotor seperti ini! Kalau begini, bagaimana aku bisa-."
"Hei, Stellar 'kan sudah minta maaf! Selain itu, dia juga tidak sengaja melakukannya!" Bela Cagalli.
"Dia itu bagaimana sih? Punya mata tidak digunakan! Untung saja dia tidak menabrakku saat aku sedang minum!"
"Hei, sudah kubilang 'kan dia itu tidak sengaja! Mana ada orang normal yang sengaja menabrakan dirinya pada orang lain!"
Cagalli dan Shinn terus beradu mulut. Rey berusaha menenangkan Shinn, namun gagal. Begitu pula halnya dengan Stellar, ia tidak berhasil meredam emosi kakaknya yang terlanjur memuncak.
"Ne-neechan... Sudahlah... Ini memang salahku. Aku yang tidak hati-hati berjalan sampai menabrak Kakak ini..." Stellar mengusap-usap punggung kakaknya, berharap itu dapat menenangkannya. Ia berusaha menahan rasa pening yang semakin terasa di kepalanya.
Namun karena pada dasarnya Cagalli merupakan seorang bertemperamen pendek, segala usaha yang dilakukan Stellar itu sia-sia. Apalagi jika ada orang yang mengusik keluarga dan temannya, Cagalli benar-benar tidak dapat dihentikan.
"Aku tidak peduli dia itu senior, anggota OSIS, atau siapa pun itu! Aku tidak terima dia memaki-makimu seperti itu!"
"Kau dan dia sama saja! Dasar cewek sialan!"
"Apa kau bilang?!" Emosi Cagalli benar-benar memuncak saat ia mendengar perkataan Shinn yang terakhir. Ia menggerakan tangan kanannya untuk melayangkan sebuah tamparan pada pipi kiri Shinn.
"Neechan!"
"Hentikan!"
Seorang remaja pria berambut navy blue memegang tangan Cagalli, menghentikan tindakan yang hendak dilakukannya.
'Sudah kuduga, dia memang gadis yang kuat dan berani. Berbeda dengan gadis lainnya,' Kata Athrun dalam hati.
"Kau 'kan... Yang tadi pagi..." Kata Cagalli terkejut
"Salam kenal, namaku Athrun Zala, wakil ketua OSIS SMA Minerva tahun ajaran ini," kata Athrun sambil tersenyum dan mengulurkan tangan pada Cagalli.
"Ah... Sa-salam kenal. Aku Cagalli, Cagalli Yula Attha..." Cagalli menyambut uluran tangan Athrun. Sikapnya kikuk dan pipinya sedikit memerah, ia masih terkejut karena ia bertemu kembali dengan 'Tuan Berambut Biru' yang baru saja ia temui pagi ini.
"Kak Athrun..."
Shinn terkejut melihat kedatangan Athrun. Rey dan Stellar merasa sangat senang dan lega saat Athrun berhasil menghentikan tindakan Cagalli, mereka berdua berharap perdebatan di antara Shinn dan Cagalli segera berakhir dan tidak berkembang menjadi pertikaian fisik.
"Shinn, hentikan!" Kata Athrun tegas, "Berhentilah bersikap implusif seperti itu! Lebih baik sekarang kau pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu!"
"Cih, sial!" Kata Shinn tidak terima, "Kenapa harus aku yang disalahkan?! Sejak awal ini salah gadis itu! Dia jalan tanpa menggunakan mata sampai menabrakku!"
"Hei, sudah kubilang berkali-kali kalau Stellar itu tidak sengaja melakukannya!"
Cagalli kembali emosi dan hendak menampar Shinn.
"Neechan! Jangan..."
Stellar berusaha mencegah tindakan kakaknya dengan cara memeluknya dari belakang, ia berusaha mencegah kakaknya mendekati Shinn.
'Aduh... Ke-keadaan sekelilingku mulai terlihat berputar... Kumohon... Jangan sekarang... Kepalaku...'
Bruk!
"Stellar!"
Stellar terjatuh tak sadarkan diri, wajahnya terlihat pucat. Cagalli segera duduk dan memangkunya.
"Hei, cepat panggil Bu Erika!" Seru Athrun kepada Rey.
"Bu Erika hari ini tidak masuk karena sakit, Kak Athrun," kata Rey cemas, "Tidak ada yang menjaga ruang UKS."
"Apa dia tidak apa-apa? Apa harus kita bawa ke rumah sakit?" Tanya Athrun cemas.
"Tidak, tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan karena upacara tadi. Kondisi fisiknya memang lemah," jawab Cagalli sedih. "Seharusnya aku tidak membiarkannya ikut upacara, meski pun dia keras kepala seperti besi..."
"Maaf, aku bukan kakak yang baik untukmu." Cagalli membelai rambut adiknya lembut. "Aku harus membawanya ke UKS!"
'Dia benar-benar sosok perempuan yang kuat,' Athrun kembali memuji Cagalli dalam hatinya, dia merasa kagum akan keberanian serta kemandirian Cagalli.
"Hei, jangan!" Athrun menghentikan Cagalli yang nekad hendak membopong Stellar seorang diri menuju UKS. "Biar aku saja yang-."
"Biar Shinn saja yang melakukannya, Athrun."
"Kira..."
Seorang remaja pria berambut coklat datang menghampiri mereka, memotong perkataan Athrun yang hendak membopong Stellar.
"Apa?! Kenapa harus aku yang melakukannya?!" Protes Shinn, "Aku-."
"Acara pengenalan klub ekstrakulikuler akan dimulai sebentar lagi, semua siswa diwajibkan untuk mengenakan seragam sekolah saat mempromosikan klubnya. Bisa kupastikan kalau kau tidak membawa pakaian seragam ganti," Jawab Kira tenang.
"Tapi aku ketua klub basket! Aku harus hadir untuk mempromosikan klubku!"
"Biar Rey selaku wakil ketua yang melakukannya. Sebaiknya kau segera pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Kaulah yang harus membawa gadis ini ke UKS, sikapmu padanya tadi sudah kelewatan," Kata Kira tegas.
"Apa? Aku bersikap seperti itu karena kesal padanya yang sudah menumpahkan soda di seragamku dan-."
"Meski begitu, kau sebagai laki-laki tidak seharusnya bersikap kasar pada perempuan," potong Kira. "Apa kau bawa pakaian olah raga?"
"Sial..." Kata Shinn menyerah. "Baiklah, Kak Ketua! Aku akan melakukannya. Dan... Ya, aku membawanya."
"Bagus. Berikan pakaian olah ragamu pada gadis itu. Kau bisa mengenakan pakaian olah ragaku," kata Kira sambil memberikan pakaian olah raga dari dalam tasnya. "Biarkan dia mengganti pakaian adiknya."
"A-apa? Kenapa aku harus-."
"Shinn, kumohon hentikan sikap keras kepalamu, setidaknya untuk saat ini," kata Kira tegas. "Ini bukan masalah besar, tapi kalau kau bersikap seperti ini, kau membuat masalah ini menjadi semakin besar dan sulit diselesaikan."
"Cih, baiklah, baiklah, Kakak Ketua..." Kata Shinn sambil mengambil pakaian olah raga dari tangan Kira.
Setelah hanya terdiam sambil memperhatikan Kira dan Shinn, akhirnya Cagalli kembali membuka mulutnya. "Um... Kakak Ketua OSIS, ya...? Aku Cagalli Yula Attha, murid baru di sini. Dan gadis yang tidak sadarkan diri itu adalah adikku, Stellar Loussier Attha. Tadi kudengar penjaga UKS tidak masuk karena sakit, bolehkah aku meminta izin untuk tidak mengikuti kegiatan MOS hari ini? Aku ingin menjaga adikku." Tanya Cagalli pada Kira.
"Salam kenal, aku Kira Yamato, ketua OSIS SMA Minerva tahun ajaran ini," jawab Kira sambil tersenyum dan menjabat tangan Cagalli. Kemudian ia memberi jawaban tegas atas permintaan Cagalli: "Tidak bisa. Sama seperti siswa baru lainnya, kau wajib ikut kegiatan MOS. Setelah kau mengganti pakaian adikmu, kau harus segera ke aula sekolah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan adikmu, Shinn akan menjaganya."
"A-apa?! Aku juga harus menjaga gadis itu seharian di UKS? Hanya berdua?" Tanya Shinn kaget.
"A-aku tidak akan tenang jika adikku dijaga oleh cowok berandalan seperti dia ini!" Protes Cagalli. "Ukh, biar aku saja yang membopong Stellar ke ruang UKS, daripada membiarkan cowok kasar sepertimu yang melakukannya!"
"Cih, siapa juga yang sudi melakukannya kalau bukan karena perintah Kak Ketua!"
"Sebaiknya kalian segera melakukan saranku. Kasihan Stellar." Kata Kira melerai Cagalli dan Shinn sebelum perdebatan mereka menjadi panjang lagi. "Jangan khawatir, Cagalli. Aku akan minta tolong pada Bu Murrue untuk segera pergi ke UKS setelah ia selesai memperkenalkan diri pada acara MOS."
"Ah...Syukurlah kalau begitu. Aku tidak perlu khawatir kalau ada guru yang mendampingi berandalan ini," kata Cagalli sambil tersenyum sinis pada Shinn. "Terima kasih banyak ya, Kak Kira."
Cagalli tersenyum, lalu membungkukan badannya setelah berterima kasih pada Kira.
Athrun dan Rey yang sempat saling berpandangan dan tersenyum melihat perubahan sikap
Shinn. Mereka bersyukur Kira mampu menangani kekeraskepalaan Shinn dan menyelesaikan masalah ini dengan baik.
"Ah, tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa membantumu," jawab Kira lembut. "Jangan memaksakan diri. Aku tahu kamu mandiri, tapi manusia adalah makhluk sosial. Mau bagaimana pun juga, kau tak bisa melakukan semuanya sendiri."
"Sial, aku tidak bisa ikut kegiatan MOS pertamaku sebagai OSIS hanya gara-gara bajuku basah!" Gerutu Shinn sambil mulai membopong Stellar.
"Hei, kau tak dengar kata ketuamu tadi ya? 'Hentikan kekeraskepalaanmu'!" Timpal Cagalli sambil mengikutinya berjalan menuju UKS.
Shinn tidak membalas perkataan Cagalli, ia sudah malas berdebat dengan perempuan yang satu ini. Rasanya ingin sekali ia berkelahi dengannya jika Cagalli itu laki-laki, bukan perang mulut layaknya perempuan!
'Ah, sudahlah. Anggap saja aku sedang sial hari ini! Lagipula MOS masih akan berlangsung sampai hari Sabtu nanti.'
-By:SakuraYuri78-
"Oke, aku sudah selesai. Kau boleh masuk," kata Cagalli pada Shinn setelah selesai membersihkan badan serta mengganti pakaian Stellar di ruang UKS. "Kalau dia sudah bangun, tolong beri dia obat ini."
Cagalli mengambil sebuah tas kecil berisi obat-obatan dari tas Stellar dan memberikannya kepada Shinn.
"Hei, apa benar tidak apa-apa dia tidak dibawa ke rumah sakit? Bukankah akan lebih baik kalau dia ditangani tenaga medis?" Tanya Shinn cemas.
"Stellar tidak suka rumah sakit, dia punya semacam trauma di tempat itu," jawab Cagalli sambil menundukan kepalanya. Hal itu mengingatkannya akan kejadian pada saat Ibunya meninggal dunia. Ya, kejadian tersebut membuat Stellar selalu merasa takut untuk memasuki gedung rumah sakit.
"Sejak kecil dia menderita anemia hemolitik," kata Cagalli sambil membelai lembut rambut adiknya. "Kalau saja aku bisa membantunya menanggung beban ini... Eh? Kenapa aku cerita panjang lebar begini padamu? Aku sama sekali tak bermaksud meminta simpati padamu! Sudah, lupakan saja!"
Cagalli melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan itu.
"Jangan macam-macam pada adikku! Jaga dia baik-baik!" Pesan Cagalli sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.
"Siapa juga yang mau macam-macam?!" Balas Shinn.
Kini hanya ada dirinya dan Stellar di ruangan itu, dipandanginya wajah Stellar yang sedang terlelap.
"Maaf.. Tidak seharusnya aku bersikap kasar seperti tadi padamu..." Kata Shinn menyesal. "Aku tidak tahu kalau kamu mengemban beban seberat itu sejak lahir. Aku tidak tahu bagaimana rasanya kalau aku menjadi dirimu. Tidak bisa aktif melakukan berbagai kegiatan yang kusuka karena dibatasi oleh suatu keterbatasan fisik..."
Tanpa ia ketahui, ada seseorang yang memperhatikannya lewat celah kecil pada pintu UKS yang tidak tertutup rapat.
'Syukurlah, kejadian ini bisa membuatnya jadi lebih dewasa.'
Seorang wanita paruh baya berambut cokelat menutup rapat pintu ruang UKS sambil tersenyum kemudian beranjak pergi dari sana.
-Chapter 2 -
'Jangan memaksakan diri. Aku tahu kamu mandiri, tapi manusia adalah makhluk sosial. Mau bagaimana pun juga, kau tak bisa melakukan semuanya sendiri.'
Selama perjalanan menuju aula sekolah, Cagalli terus memikirkan kata-kata yang Kira katakan padanya.
'Ketua OSIS itu... Dia ada benarnya juga, aku tidak bisa selalu melakukan semuanya sendiri.' Kata Cagalli dalam hati. 'Ah, gara-gara cowok berandalan itu, seharusnya tadi aku bisa lebih tenang dan memikirkan kondisi Stellar... Untung saja ketua OSIS yang tegas tadi datang dan bisa menyelesaikan masalah dengan tenang...'
Sebuah senyuman terus terbentuk pada bibir merahnya seraya ia berlari menuju aula sekolah.
Sesampainya di aula, Cagalli melihat seluruh siswa duduk bersila di lantai aula. Ia segera mencari sosok Auel dan Miri. Ia segera bergegas menuju bagian tengah aula, ketika ia melihat sosok kedua temannya itu duduk bersebelahan.
"Hei, di mana Stellar?" Tanya Auel berbisik pada Cagalli.
Miri duduk di samping kiri Auel, sementara Cagalli duduk di samping kanannya.
"Apa Stellar tidak apa-apa?" Tanya Miri cemas.
"Dia tidak apa-apa, dia hanya kelelahan karena upacara tadi. Penyakitnya kambuh, kepalanya pusing sampai dia tidak sengaja menabrak seorang senior," Kata Cagalli sedih. "Semestinya aku bersikeras melarangnya ikut upacara..."
Cagalli memutar kembali kejadian pagi tadi, pada saat ia dan Stellar berdebat selama perjalanan menuju sekolah.
'Stellar, nanti saat upacara berlangsung, kau duduk saja di pinggir lapangan. Biar nanti aku yang akan memintakan izin untukmu.'
'Eh...? Tidak perlu, Neechan! Aku tidak apa-apa, kok! Kemarin Neechan dengar 'kan? Kata dokter sumsum tulang belakangku sudah bisa memproduksi lebih banyak sel darah merah!'
'Tapi tetap saja kau itu sama sekali tidak boleh kelelahan, Stell! Tidak, pokoknya aku akan tetap memintakan izin untukmu!'
'Neechan... Aku mohon. Sekali ini saja. Aku janji, aku tidak akan mengikuti upacara-upacara berikutnya...'
'Sekali tidak tetap tidak!'
'Neechan... Aku ingin sekali saja merasakan menjadi siswa pada umumnya. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Menurut novel yang kubaca, rasanya berdebar-debar ya, Neechan? Teman baru, guru baru, lingkungan baru. Rasanya tidak sabar untuk mengenal semuanya!'
'Stell...'
'Boleh ya, Neechan? Ya? Ya?'
Cagalli menghela nafas panjang ketika ia mengingat kembali saat di mana ia dengan bodohnya menyetujui keinginan Stellar.
"Ah, penyakit itu ya... Sudahlah, ini bukan salahmu, Cagalli... Aku mengerti perasaan Stellar. Dia ingin sama seperti kita, melakukan berbagai aktivitas tanpa harus dibatasi oleh apa pun," kata Auel sedih, "Lagipula, kau tahu 'kan. Stellar itu memang kepala besi!"
"Um... Maaf, kalau boleh tahu, Stellar sebenarnya sakit apa?" Tanya Miri sungkan.
"Anemia hemolitik... Umur sel darah merahnya lebih pendek daripada umumnya. Sumsum tulang belakang tidak mampu memproduksi cukup sel darah merah untuk menggantikannya," jelas Cagalli. "Karena itu, sejak kecil dia tidak pernah mengikuti pelajaran olah raga dan upacara bendera."
"Oh... Begitu, ya..." Kata Miri sedih.
"Iya... Tapi tidak perlu cemas. Stellar tidak apa-apa, kok. Tadi empat orang anggota OSIS - termasuk orang yang ditabrak Stellar - membantu," kata Cagalli ceria. "Hei, aku sudah ketinggalan apa saja?"
Melihat Miri dan Auel yang menjadi muram karena mencemaskan Stellar, Cagalli berusaha mengubah topik pembicaraan. Ia berusaha membuat suasana kembali ceria, sama seperti sebelumnya.
Auel menceritakan secara jelas acara kegiatan OSIS yang telah berlangsung selama Cagalli tidak ada di sana. Acara dimulai dari perkenalan staf guru dan tata usaha SMA Minerva. Kemudian acara dilanjutkan dengan acara perkenalan anggota OSIS SMA Minerva. Kira Yamato sebagai Ketua, Athrun Zala sebagai wakil ketua, Rey Za Burrel dan Lacus Clyne sebagai sekretaris, Yzak Joule dan Dearka Elsman sebagai Bendahara, dan Shinn Asuka, Lunamaria Hawke, serta ketujuh belas siswa lainnya sebagai anggota. Seluruh anggota OSIS merupakan siswa kelas tiga, kecuali Shinn, Rey, dan Lunamaria. Cagalli mengangguk-anggukan kepalanya seraya Auel bercerita dengan volume suara rendah.
"Adik-adik semuanya, salam kenal, kami dari klub atletik."
Kata 'atletik' yang terdengar dari pengeras suara ruangan itu berhasil mengalihkan perhatian Cagalli ke arah panggung. Ia ingin tahu lebih banyak tentang klub tempat ia akan bergabung nanti.
"Saya sebagai ketua mewakili semua anggota mengundang adik-adik semua yang berminat dalam bidang atletik untuk bergabung dengan kami."
'Eh? Jadi Tuan Berambut Biru itu – siapa tadi namanya? Oh ya, Athrun! Dia ketua klub atletik? Sudah jadi wakil ketua OSIS, dia juga menjabat sebagai ketua klub atletik? Hebat... Mungkin ada baiknya kalau nanti aku coba ngobrol dengannya, cari tahu lebih banyak tentang klub atletik.'
Tatapan gadis berambut pirang itu kosong, meski ia mengarahkan pandanganya ke atas panggung, berfokus kepada pria berambut navy blue yang sedang menyampaikan pidato sambutan dari sana.
"Cagalli? Hei, Cagalli?"
Auel menepuk-nepuk pundak Cagalli, berusaha menghentikan lamunannya.
"Ah, iya! Ada apa, Auel?" Tanya Cagalli panik.
"Tidak, aku hanya mengingatkan saja. Sebentar lagi giliran klub bahasa. Kita harus memperhatikannya dengan saksama supaya kita bisa memberikan informasi sejelas mungkin pada Stellar," kata Auel serius.
"Hahaha. Iya, kau benar. Terima kasih sudah mengingatkanku, Auel," kata Cagalli sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kau melamun ya? Memikirkan apa? Hahaha... Terpesona pada Kak Athrun, ya?" Goda Auel. "Kudengar dari kakakku, selama dua tahun sejak Kak Kira dan Kak Athrun ada di klub atletik, banyak siswi bergabung di sana."
"Eh? Jadi Kak Kira juga ikut klub atletik?" Kata Cagalli. Ia sempat agak terkejut. "Hahaha. Kau tahu aku 'kan? Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku ingin bergabung dengan klub atletik karena aku memang menyukainya sejak kecil!"
"Hahaha. Iya, iya, aku tahu. Aku 'kan hanya bercanda," jawab Auel sambil tertawa usil. "Tapi mau bagaimana pun juga kau ini perempuan! Dan kuakui Kak Kira dan Kak Athrun itu memang hebat. Bisa saja 'kan-."
"Sudah, cukup! Hentikan dugaanmu yang asal itu!" Potong Cagalli.
'Kenapa aku jadi memikirkan hal-hal aneh semacam ini? Apa mungkin...? Ah, mustahil...'
-Could It Be… You?-
"Neechan..."
Stellar berusaha membuka kedua matanya. Ia memperhatikan keadaan sekelilingnya, berusaha mencari tahu tempat di mana ia berada sekarang.
'Kakak...'
Ia terkejut saat sepasang mata violet-nya menangkap sosok remaja pria yang tertidur di samping kirinya.
'Meski aku sudah membuatnya marah, kesal, dan repot, ia tetap menjagaku. Meski mungkin ia kasar, ternyata ia baik hati. Terima kasih...'
Sebuah senyuman terlihat pada wajah Stellar seraya ia memperhatikan sosok remaja pria berambut raven yang sedang tertidur lelap di samping kirinya. 'Seragam olah raga yang kukenakan ini... Pasti seragam miliknya yang ia pinjamkan padaku,'
'Aku sudah banyak merpotkannya... Ia pasti lelah... Andai saja tadi aku mengikuti nasihat Neechan...' Kata Stellar dalam hati, menyesali sikap keras kepala yang telah ia lakukan tadi pagi. 'Ah, ya! Obatku! Aku harus cepat meminumnya agar kondisiku ini tidak bertambah parah dan membuat Neechan semakin repot dan cemas karenaku...'
Stellar segera bangkit dari posisinya, berusaha mengambil tas ransel miliknya yang berada di atas meja kecil sebelah kanan kasur tempat ia berbaring. Tanpa ia sadari, tindakan tersebut sedikit mengusik tidur lelap remaja pria yang berada di samping kirinya.
"Ka-kamu sudah sadar?" Shinn terkejut ketika ia mendapati gadis yang berada di sisinya telah terjaga. "Ah, baguslah." Ucapnya sambil mengusap matanya. "Oh ya, ini! Cepat minum obat ini! Cewek pirang yang beringas tadi menyuruhku untuk segera memintamu meminum obat ini begitu kau sadar!"
Shinn segera menyerahkan sebuah kotak obat berwarna biru muda yang berada di saku celananya kepada Stellar. Tidak lupa ia juga memberikan sebotol air mineral padanya, setelah ia membukakan segel dan tutup botol tersebut.
"Ah, te-terima kasih, Kakak..." Kata Stellar sungkan sambil mengambil kotak tersebut. Ia mengambil satu buah tablet berwarna merah dan meminumnya.
Suasana menjadi sangat hening setelahnya. Keduanya terdiam satu sama lain. Dengan tampang kesal, Shinn memindahkan kursinya ke dekat jendela ruangan tersebut. Pandangannya terarah pada lapangan basket yang tengah kosong. Sementara itu, Stellar hanya bisa diam dan menunduk, masih menyesali tindakan nekadnya tadi pagi. Ia merasa sangat bersalah pada Neechan dan kakak seniornya yang berambut raven itu.
"Um... Kakak... Sekali lagi aku mohon maaf atas kecerobohanku tadi. Aku..." Stellar berusaha memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. Ia benar-benar merasa bersalah dan menyesal karena tidak mengindahkan nasihat ayah dan kakaknya.
"Permintaan maafmu tidak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi," kata Shinn dingin. "Kalau sejak awal kamu tahu, kamu tidak mampu melakukannya, mengapa kamu masih saja nekad melakukannya? Dasar bodoh!"
"I-Iya, Kakak benar... Maaf..." Stellar hanya dapat menunduk, menyembunyikan air matanya, saat ia mendapat respon kasar dari Shinn.
'Wajar saja kalau kakak senior ini sangat marah dan tidak memaafkanku... Aku sungguh merepotkannya...'
"Sudah, jangan minta maaf terus! Kalau seperti itu, jujur, kamu itu semakin menyebalkan!" Kata Shinn dengan nada tinggi. "Daripada begitu, akan lebih baik kamu-."
Perkataan Shinn terhenti saat tiba-tiba ia mendengar ada suara aneh terdengar dari perutnya. Kontan wajahnya langsung bersemu merah, saat ia menyadari bahwa suara tersebut merupakan sebuah tanda dari perutnya yang meminta untuk segera diisi karena kosong sejak pagi.
"Um... Kakak... Lapar?" Tanya Stellar takut-takut, ia takut salah bicara dan membuat Shinn bertambah kesal padanya.
"Ti-tidak! Aku tidak lapar! Itu sama sekali bukan suara perutku! Itu suara kursiku yang agak bergeser!" Jelas Shin panik dengan wajah bersemu merah pada kedua pipinya. "Daripada memikirkan hal itu, sebaiknya kamu-."
Sekali lagi, terdengar sebuah suara dari perut remaja pria itu. Wajah Shinn menjadi semakin memerah dibuatnya. "A-anu... Itu..."
"Um... Kakak lapar ya? Maaf... Karena aku..." Kata Stellar sedih.
"Hei, sudah kubilang 'kan, kata maafmu itu membuatku semakin kesal!" Kata Shinn dengan nada tinggi, berusaha menyembunyikan perasaan malu yang kini ia rasakan. "Soal aku lapar atau tidak, itu urusanku! Bukan urusanmu!"
'Apa yang bisa kulakukan untuknya setelah aku merepotkan dan membuatnya kesal seperti ini...?' Tanya Stellar dalam hati.
"Oh iya!" Kata Stellar sambil mengambil tas ranselnya. "Aku membuat dua bekal makan siang pagi ini!"
Dengan riang Stellar mengambil dua tempat makan dari tasnya, yang satu berwarna biru dan yang lainnya berwarna merah. Stellar menyerahkan tempat makan yang berwarna merah kepada Shinn.
"Silahkan...!" Kata Stellar senang.
"E-eh...? Ini..." Kata Shinn terkejut, tidak menyangka gadis itu membawa dua bekal makan siang.
"Silahkan dimakan!" Kata Stellar sambil membuka tutup tempat makanannya. Saat melihat isi dari bekal makananannya, ia teringat akan suatu hal yang penting. "Eh, tunggu! Bekal itu-."
"Ada apa?" Kata Shinn sambil membuka tutup bekal makanannya. "Setelah kau memberikannya padaku, kau ingin memin-," Mata Shinn sedikit membulat. "I-ini... Ku-kucing?"
Shinn terkejut saat ia melihat isi dari bekal makanan yang diberikan Stellar kepadanya. Bentuk makanan pada bekal tersebut membuatnya berbeda dengan bekal yang selama ini Shinn ketahui. Nasi pada bekal makanan itu dibentuk dan dihias sedemikian rupa dengan berbagai sayuran dan lauk pauk sehingga berbentuk menyerupai sebuah kepala boneka kucing.
'Gadis ini... Benar-benar lugu dan polos. Berbeda sekali dengan kakaknya yang beringas itu, padahal mereka kakak beradik. Bekal makanan seperti ini... Biasanya dibuatkan oleh ibu-ibu untuk anaknya yang masih kecil supaya mereka nafsu makan 'kan? Bahkan Luna tidak pernah membuatkan bekal makanan seperti ini untukku,' kata Shinn dalam hati.
"Ma-maaf…" Kata Stellar malu-malu. "Aku sengaja membuat bekal makanan ekstra untuk teman pertamaku di sini. Karena aku merasa teman pertamaku itu pasti perempuan, jadi…"
Shinn hanya memandangi bekal makanan tersebut dengan tatapan aneh dan tidak percaya. Ia sangat lapar, ingin sekali ia segera memakan bekal tersebut. Tapi, ia ragu; apakah bekal makanan tersebut bisa dimakan atau tidak. Apakah rasa bekal makanan tersebut akan memuaskan perutnya, atau mencabik lidahnya bagaikan cakaran anak kucing?
"Um... Nasi, sayuran, dan daging di bekal itu sudah kumasak sampai matang, Kak..." Jelas Stellar takut-takut. "Semuanya aman dan bisa dimakan kok..."
"I-iya! Sudah! Kau tidak perlu menjelaskannya sedetail itu! Aku akan memakannya! Selamat makan!" Dengan mata terpejam, Shinn memasukan sesendok nasi beserta beberapa sayuran ke dalam mulutnya.
"Enak!" Kata Shinn spontan dengan wajah senang saat ia telah selesai mengunyah dan menelan habis makanan tadi. "A-anu... Itu... Yah, kuakui masakanmu memang enak. Kau cukup terampil dalam hal memasak, ya? Yah, kalau kamu sih, masuk akal kalau bisa memasak... Tapi, aku tidak bisa membayangkan kalau yang memasak bekal ini adalah cewek beringas itu."
Shinn menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya bersemu merah karena malu. Terlihat jelas ia salah tingkah, berusaha menyembunyikan rasa kagumnya pada Stellar.
"Um... Terima kasih ya..." Kata Shinn malu-malu.
Stellar hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Shinn padanya. Dengan kepala tertunduk, ia mulai menyantap bekal makan siangnya dengan cukup lahap.
Sebuah senyuman terlihat pada wajahnya yang kini bersemu merah.
'Apakah ini merupakan jawaban atas permohonanku pada bintang jatuh kemarin?'
-To Be Continued-
Hehehe...
Bagaimana pendapat kalian mengenai chapter dua ini?
Hahaha... Sakura menyisipkan sebagian humor di dalamnya...
Yuri ga pandai buat cerita humor!
Kami ingin sekali mendengar pendapat, masukan, mau pun opini dari para readers mengenai chapter dari karya kami ini...
Jangan pernah merasa sungkan untuk mengemukakan pendapat kalian pada kotak review dibawah ini, ya!:D
Segala saran, pendapat, serta masukan dari kalian akan kami jadikan pemebelajaran agar dapat menulis lebih baik di chapter berikutnya.
Terima kasih sudah membaca fic kami!
Sampai jumpa di chapter berikutnya!:D
12-01-14
-SakuraYuri87-
