"Levi-kun, ada apa? Wajahmu pucat!"
"tidak apa apa sasha. Aku baik baik saja."
Levi menghindari kerumunan gadis gadis yang merupakan para pemujanya. Wajahnya pucat dan tampak tak bersemangat. Melihat hal itu, para pemuja illevinati merasa turut bersedih atas kesedihan yang dialami 'dewa' mereka. Levi berjalan menuju bangkunya dan duduk disana. Levi menempelkan keningnya pada permukaan meja dengan tatapan kosong.
SREEKK
Mikasa membuka pintu kelasnya dan berjalan menuju bangkunya. Sebelum dia benar benar duduk, dia sedikit dikejutkan oleh perkataan orang yang dicurigai merupakan hasil dari pembonsaian.
"Sepertinya kau sangat menyukainya, Mikasa."
Mikasa menoleh kebelakang dan melihat seekor manusia berwajah squid dengan ekspresi 'kantung mataku punya kantung mata'.
"Menyukai ap-
Levi langsung bangkit dan pergi meninggalkan Mikasa yang belum menyelesaikan kalimatnya. Poor Mikasa.
Setelah kejadian itu, banyak perubahan yang terjadi di kelas. Levi tidak lagi menggubris para gadis gadis genit yang ingin dimanja dan dicayank. Levi menjadi lebih pemurung dan tertutup. Sementara Mikasa yang semakin hari semakin dekat dengan Eren, Levi dan Mikasa malah semakin menjauh.
Levi POV~
Sudah sebulan aku dan Mikasa tidak berkomunikasi. Aku hanya bisa memperhatikannya saja setiap kali dia pergi bersama jeager si ubi kayu.
"Mikasa, bisa kemari sebentar? A-aku ada perlu."
Yak, Eren lagi lagi datang ke kelasku hanya untuk memanggil Mikasa. Wajahnya juga memerah. Aku yakin dia pasti ingin menyatakan perasaannya pada Mikasa. Terserah~ itu bukan urusanku.
TAP TAP TAP
Baiklah, aku memang tidak peduli. Aku hanya penasaran dengan apa yang terjadi pada jeager dan ackerman.
Aku sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka. Aku mengambil setumpuk sampah yang ada dibawah laci sasha dan hendak membuangnya ke kotak sampah yang ada di dekat Mikasa dan Eren. Sebenarnya hal itu hanya alasan agar aku bisa 'sedikit' mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Aku membuka pintu dan mulai berjalan sembari menggenggam 400 gram sampah. Aku memperlambat langkahku agar aku tidak melewatkan sepatah katapun dari mereka.
"A-ano, Mikasa, aku- sebenarnya.."
"Kenapa Eren?"
"Se-sebenarnya, aku- aku sudah lama menyukaimu Mikasa! Tolong-tolong jadilah pacarku"
"eh? Aku- aku juga menyukaimu Eren"
Sudah selesai perjuanganku, Mikasa...
Normal POV~
Levi kembali duduk dibangkunya dengan tubuh terkulai lemas. Tak lama kemudian, Mikasa juga kembali ke bangkunya dengan wajah berseri.
"Selamat yah, Mikasa"
Mikasa menoleh kebelakang. Sosok Levi yang lembut, lemas dan lemah membuatnya sedikit berbeda dari yang biasanya. Mikasa hanya terdiam mengingat capan yang keluar dari mulut si pendek yang sekarang sudah loyo seperti agar agar.
"aku ingin bertanya. Apa yang membuatmu menyukai Eren huh?"
GLEKK
Mikasa terdiam dengan rona merah yang menyebar di wajahnya. Dia tak menyangka bahwa Levi tahu jika Mikasa menyukai Eren.
"e-ehh?"
"tak usah berlagak bodoh Mikasa."
Mikasa sedikit menunduk. Dia menggeret kursinya ke sebelah Levi untuk mempermudahnya berbicara dalam volume kecil.
"se-sebenarnya, dulu saat kelas 2 smp, aku dikepung oleh dua penjahat. Mereka berusaha menculikku. Mereka menangkapku dan membawaku ke mobil. Karena takut, aku terus meronta dan menggigit mereka.."
"lalu?"
"salah satu dari penjahat itu memukul kepalaku di bagian belakang. Tak lama kemudian, aku melihat seorang laki laki memukuli penjahat itu dengan kayu yang cukup besar. Dia memukuli penjahat itu dengan susah payah sampai salah satu dari penjahat itu terjatuh dan pingsan. Tapi-"
"hmm?"
"penjahat yang satunya mengambil pisau kecil yang ada di sakunya. Penjahat itu menusuk lengan kiri laki laki yang menolongku. Darah segar mulai menetes di pergelangan tangannya. Setelah itu, sepertinya aku pingsan. Saat terbangun, aku sdah berada di rumah sakit bersama ibu dan ayahku. Aku-aku tidak ingat wajah dan ciri cirinya tapi-"
Levi terdiam sejenak. Ia menatap dalam mata Mikasa yang nampak sedih.
"Lalu, apa hubungannya dengan Eren?"
"dialah yang menolongku."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"karena sehari setelah kejadian itu, dia sekolah dengan perban melilit di lengan kirinya."
SREEKKK
Pintu kelas terbuka. Satu detik kemudian, keith shadis yang merupakan guru sejarah masuk dengan gagah dan mata berapi api.
"SEMUANYA! BUKA HALAMAN 32. BACA DAN PAHAMILAH. SETELAH INI KITA ULANGAN!"
Mendengar kalimat sakral tersebut,semua murid langsung duduk di bangkunya masing masing dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Disela sela atmosfir ketegangan tersebut, sesosok laki laki pendek berambut hitam menggulung lengan baju kirinya yang panjang sampai ke siku. Dia memperhatikan kemudian mengelus pelan sebuah bekas luka dengan ukuran cukup besar yang ada di sekitar lengan kirinya.
"Sepertinya itu bukan jeager, Mikasa..."
TBC
