Title : Trust Me It Will All be Good
Author : Feodora Lee
Genre : Drama, romance
Rating : T
Summary : Kau yeoja murahan yang tidak ada bedanya dengan pelacur jalanan./Kyumin/GS/RnR please
Disclaimer : Cerita ini adalah semata-mata untuk menghibur dengan ide yang pas-pasan dan cerita yang biasa, dikupas secara tidak rinci tetapi mempunyai kesenangan sendiri baik penulis maupun yang membaca #disclaimer apa ini. Ok Kyuhyun dan Sungmin milik Tuhan YME begitu juga dengan author dan readers. Jadi berbahagialah kita sama-sama dimiliki Tuhan. ok
Warning : ini fanfic GS. Karena untuk kebutuhan alur cerita. Jadi jika kalian yang tidak suka dengan ff GS langsung aja tinggalkan ff ini. Bukan bermaksud untuk mengusir tapi untuk menghindari adanya bash or flame. Romance, angst, typo
Don't like, don't read n don't copas
Sebelumnya maaf banget atas hiatus yang tidak memberitahukan kepada readers sekalian. Kesibukan saya nyusun proposal mengharuskan lebih fokus untuk mencari data tentang skripsi. Sekarang feo lagi penelitian jadi bisa curi waktu untuk nulis fanfic.
Jika kalian lupa sama ceritanya silakan baca dari awal.
.
.
Happy reading
.
.
Pagi ini adalah hari pertama sidang perceraian Sungmin dan Kyuhyun. Setelah mengucapkan kata pisah seminggu yang lalu Kyuhyun menjalankan niatnya untuk secepatnya menyelesaikan persoalan rumah tangganya. Tak ada lagi niatan untuk berbaikkan. Ini adalah keputusan yang terbaik bagi Kyuhyun dan harus secepatnya terselesaikan. Tepat jam 09.00 KST akan di mulainya persidangan. Semua orang telah hadir memposisikan tempat yang di mana masing-masing orang memposisikan dirinya kecuali Sungmin yang sedari tadi tidak kunjung muncul. Kyuhyun yang sudah berada di posisinya dengan semangat dan antusias menghadiri ruang persidangan yang akan berlangsung sebentar lagi.
Sudah 15 menit Sungmin tak kunjung datang dan hal ini membuat Kyuhyun cemas dan gelisah hingga di akhir penantian dimana hakim akan menunda persidangan ini Sungmin muncul dengan tergesa-gesa, wajah yang pucat dan napas yang tak beraturan menandakan dia seperti habis lari marathon.
"Maaf, saya terlambat", ucap Sungmin sambil menunduk 90 derajat sebagai permintaan maaf dan memberi hormat terhadap semua yang berada di ruangan. Setelah yang ditunggu akhirnya datang tidak ada lagi yang harus di tunda dan dimulailah sidang pertama perceraian Kyuhyun dan Sungmin.
.
.
.
BRAKK
Pintu rumah terbuka dengan tidak elitnya. Si pelaku yang membuka yang terlihat lebih kearah pembantingan pintu utama rumah sangat tidak berkeinginan untuk memperhalus perlakuannya. Kyuhyun si pelaku pembantingan pintu terlihat emosi dan kecewa terhadap hasil dari keputusan siding yang berlangsung 2 jam yang lalu. Kyuhyun masih tidak habis fikir atas keputusan sepihak dari hakim yang bersangkutan karena semua keputusan yang telah diambil di persidangan tersebut memberatkan Kyuhyun dan merasa tidak terima atas hasil yang diperoleh. Lagi asik melamun Kyuhyun dikejutkan oleh kehadiran istrinya.
"Kyu" Sungmin datang dengan kepala menunduk.
"Apa kau senang sekarang?" tanya Kyuhyun dengan kata yang penuh penekanan. Marah lebih tepatnya.
"Tidak Kyu, bukan seperti itu"
"Apanya bukan seperti itu? ini yang kau inginkan bukan? Kau bermaksud untuk menggagalkan perceraikan kita. Bahkan hasil sidang menyatakan kita harus memilih kembali rujuk dengan percobaan selama 1 bulan, Tinggal satu atap dan mencoba memperbaiki. Apa yang harus di perbaiki? Kenapa posisi yang baik ada di pihakmu? Sementara aku diposisi yang dirugikan di sini", ucap Kyuyun mengeluarkan isi pemikirannya yang sedari tadi ada di benaknya. Sungmin yang semula takut akan sikap Kyuhyun yang sejak pulang menahan amarah cukup kecewa dengan perkataan Kyuhyun barusan.
"Apa yang membuatmu rugi?"
"Jelas aku merasa dirugikan. Disini aku yang korban. Jelas-jelas kau yang berselingkuh dan aku menggugat cerai karena telah di selingkuhi, sekarang hasilnya malah seperti ini. Untuk apa membuang-buang waktu jika diantara kita tidak ingin bersama. Apa yang membuat mereka memilih jalan ini? Cih aku kecewa dengan hasilnya".
"Kyu, apa yang membuatmu seperti ini? Sebegitu besarkah keinginanmu untuk pisah? Aku tidak mengerti, tapi aku mohon kepadamu kembalilah Kyu, kita perbaiki semuanya", ucap Sungmin penuh dengan kepedihan atas perkataan Kyuhyun yang semakin menyakiti hatinya.
"Aku yang disakiti di sini min. jangan gunakan air matamu untuk dikasihani. Bukankah hal ini sudah kita bicarakan? Dan kau telah setuju, tapi kenapa kau diam saat ditanya bersedia untuk pisah? Jika kau bilang kau bersedia untuk kita berpisah maka semuanya selesai, tapi sekarang malah jalannya seperti ini. Apa yang harus di tunggu lagi?"
"Lalu bagaimana dengan Minhyun anak kita? Kau tega membuat dia kehilangan salah satu orangtuanya? Dialah yang menjadi korban keegoisanmu jika pisah". Sungmin menatap wajah Kyuhyun dengan keraguan memohon untuk Kyuhyun merubah kembali keputusannya.
"Kau tak perlu kawatir. Minyhun akan bersamaku dan aku akan mencarikan eomma yang lebih baik untuknya sehingga dia tetap memiliki orangtua yang lengkap dan bahagia".
"Maksudmu Minhyun bersamamu dan aku berpisah dengannya? Mencarikan eomma? Minhyun anakku dan kau tidak berhak memisahkanku dengan darah dagingku. Kau egois". Sungmin sekarang bercucuran air mata. Tak pernah sekalipun dia berfikir untuk pisah dari anaknya. Sudah cukup pikirannya dipenuhi oleh Kyuhyun dengan kasus perceraiannya sekarang dia harus berpisah dengan anak yang dikandung dan diurusnya selama ini.
"Kaulah yang egois min. Sadarlah, sejak kau berselingkuh kau telah melepasku dan Minhyun. Kau memilih namja yang kau katakan sebagai sahabatmu itu. Kau tak lagi berhak atas Minhyun. Bukankah ini yang kau inginkan? Setelah kita bercerai kau bebas bersama selingkuhanmu".
"Tidak Kyu, sudah ku katakan aku tidak berselingkuh. Kau salah paham. Aku mencintaimu dan Minhyun. Tolong mengertilah"
"Semuanya telah selesai dan kau permudahkanlah langkahku karena aku tidak akan mengganggu dan menjadi penghalang hubungan gelap kalian lagi". Setelah mengucapkan itu Kyuhyun melangkah masuk rumahnya meninggalkan Sungmin yang masih mematung di depan pintu rumah mereka.
.
.
0o0o0o0o0o0o0o0o0
.
.
Setelah kejadian seminggu lalu antara Kyuhyun dan Sungmin tidak lagi ada komunikasi. Kyuhyun sibuk dengan pekerjaannya dan seslalu pulang tengah malam sedangkan Sungmin yang hanya sebagai ibu rumah tangga hanya sibuk mengurus Minhyun si buah hati dan rumahnya.
"Eomma", ucap Minhyun memanggil Sungmin dan menghampiri eommanya ke dapur yang lagi sibuk memasak untuk makan siang mereka.
"Ne baby?"
"Es clim, hyunnie mau es clim", pinta Minhyun sambil menarik ujung baju Sungmin,
"Minhyunnie mau ice cream?"
"Em", Minhyun menggangguk dengan cepat dan menunjukkan senyum yang merekah ke eommanya.
"Kalau begitu kita makan di luar aja sambil jalan-jalan ke taman. Baby mau?"
"Ne eomma, hyunnie mau"
"Kajja, kita siap-siap lalu berangkat". Sungmin mengendong anaknya dan membawanya ke kamar.
.
.
"Minhyunnie makannya pelan-pelan, belepotankan ice creamnya", ucap Sungmin sambil membersihkan babynya yang sangat berantakan
"Eum"
"Baby, lihat-lihat jalan dong, nanti kamu jatuh". Sungmin mensejajarkan langkahnya dengan Minhyun karena Minhyun yang sedari tadi berjalan dengan cepat sambil memakan ice cream yang tinggal sedikit di genggaman tangannya.
"Eomma hyunnie mau cepat-cepat ke taman". Sekarang Minhyun berlari melihat taman yang sudah ada di depan matanya.
Melihat anaknya yang antusias Sungmin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah anaknya yang semakin lincah.
"Eomma cepat cini". Minhyun memanggil eommanya yang masih jauh dari tempatnya berada.
"Ughh, eomma lambat"
"Siapa yang Minhyun bilang lambat?"
"Eh, eomma cudah dicini? Wow.. eomma hyunnie mau main."
"Bermainlah, tapi jangan jauh dari sini ya baby. Eomma menunggumu di bangku taman sana", ucap Sungmin sambil menunjukkan bangku taman yang terdekat.
"Ne eomma". Setelah mengucapkannya Minhyun langsung berlari meuju anak-anak yang sedang bermain dengan alat permaianan yang ada di sana.
Sambil memantau anaknya dari tempatnya beristirahat Sungmin mengedarkan pandangannya melihat orang-orang yang sedang menikmati sore hari di taman dengan keluarga atau teman-temannya. Ternyata di sore hari banyak anak remaja yang berkunjung di taman ini dengan pasangan mereka. Sungmin tersenyum sendiri melihat tingkah anak remaja yang malu-malu bersama kekasihnya, sungmin juga terkejut melihat tingkah anak remaja yang sudah berani berbuat jauh dengan kekasihnya. Sungmin beralih melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman tak jauh dari sepasang remaja tadi yang juga melakukan ciuman tapi sepasang kekasih ini tidaklah anak remaja tetapi sepasang orang dewasa yang telihat lagi memadu kasih dengan berciuman mesra yang semakin lama semakin intens Sungmin yakin mereka melakukan Making out, semakin lama Sungmin memerhatikan sepasang kekasih itu semakin tajam cara pandang Sungmin melihatnya, ada keragu-raguan di hati Sungmin tetapi Sungmin tidak yakin atas dugaannya. Sungmin sudah memalingkan wajahnya dari sepasang kekasih tersebut dan kembali memperhatikan anaknya, namun pikirannya selalu tertuju kearah sepasang kekasih yang dilihatnya tadi.
'Apakah itu, ahhh tidak' batin Sungmin. Namun rasa penasaran yang semain kuat Sungmin ingin sekali memastikan sepasang kekasih yang mungkin dikenalnya sehingga Sungmin kembali mengarah kepada mereka yang masih saja berciuman di taman tersebut seakan tidak ada habis-habisnya. Ketika sepasang kekasih itu merubah posisinya nampaklah pasangan prianya yang berhadapan kearah Sungmin. Sungmin terbelalak melihat satu orang yang merupakan pasangan kekasih tersebut adalah orang yang di kenalnya bukan hanya kenal bahkan sangat dikenalnya yang merupakan suaminya atau dikatakan sebagai calon mantan suami.
Tak dapat menahat sakit yang dirasakannya saat ini. Sungmin berdiri dan langsung menghampiri anaknya.
"Ayo Minhyunnie kita pulang", dengan suara parau sambil menahan tangis di depan anaknya.
"Andwae eomma. Hyunnie macih mau main" tolak Minhyun
"Ini sudah sore baby, nanti kita kemalaman pulangnya. Minhyun menggelengkan kepalanya tanda tidak mau meningglkan tempat ini.
"Shireo eomma". Karena si kecil Minhyun selalu menolak Sungmin terpaksa menggendong anaknya lalu meninggalkan taman.
.
.
Sepulang dari taman Minhyun memasang muka murung, kesal terhadap eommanya yang memaksanya pulang mau tak mau Minhyun sampai di rumah dengan keadaan tidak menyenangkan. Sedari tadi Sungmin mencoba menyuapi Minhyun makan namun tak ada hasil.
"Mianhae ya baby. Lain kali kita ke taman lagi. Sekarang baby makan ne..". Sungmin membujuk anaknya
"..." tak ada tanggapan apapun dari Minhyun. Tampang kesal yang dia buat susah payah hasilnya akan membuat eommanya tertawa. Sungmin yang melihat anaknya melipatkan tangan, mulut di bungkam dan memajukan bibirnya yang dikerucutkan serta pipinya yang di buatnya sesekali mengembung membuat Sungmin tertawa lepas.
"Eomma", Minhyun menegur Sungmin yang dari tadi tertawa.
"Arra..arra, baby lucu jika merajuk. Maaf ne, bagaimana jika eomma memberikan sebatang permen lolipop sebagai permintaan eomma. Emm? Baby maukan?". Minhyun berfikir atas tawaran eommanya yang sangat mengiurkan.
"Cepuluh pelmen eomma". Minhyun menunjukkan semua jari tangannya, sebenarnya dia ingin juga mengikutsertakan kedua kakinya juga agar lebih banyak tapi dia tahu pasti eommanya menolak. Minhyun membanyangkan betapa banyak nanti permen yang di terimanya dari eommanya juka eommanya memberikan permen yang disukainya.
"Haaa, shireo. Dua permen". Sungmin kaget melihat anaknya yang sekarang sudah mulai cerdas memanfaatkan situasi.
"Lima pelmen". Sekarang Minhyun menunjukkan delapan dan menambahkan satu jari lagi menjadi sembilan jari di hadapan Sungmin.
"Shireo baby, lagian lima itu seperti ini". Sungmin memperbaiki jari yang ditunjukkan anaknya menjadi lima jari.
"Andwae eomma, enam ne". Minhyun menunjukkan tujuh jarinya
"Enam seperti ini baby. Baiklah tiga untuk baby eomma dan tidak ada lagi tawar-menawar arra?". Sungmin memperbaiki jari tangan anaknya lagi. Minhyun yang melihat jari tangannya jadi sedit menjadi diam lalu mengangguk pelan karena eommanya telah memberikan keputusan yang tidak boleh di ganggu gugat lagi.
Sungmin berfikir sebentar lalu berkata kepada anaknya, "Jika Minhyunnie sudah bisa berhitung sampai benar eomma akan memberikan permen yang banyak asal makannya jangan banyak-banyak Minhyun harus menyimpannya dan kita akan memakan permen Minhyun sama-sama ne?"
"Ne eomma, es clim banyak yah?" Minhyun juga menginginkan ice cream. Minhyun membanyangkan jika dia mempunyai permen yang banyak juga dengan ice cream yang berbagai rasa dan dia akan memakannya dengan eommanya, pasti sangat menyenangkan.
"Baiklah jagoan eomma"
"yeay". Minhyun bersorak gembira
"Kalau gitu baby makan dulu ne, nanti kalau tidak makan baby akan sakit. Kalau sakit baby nggak bisa makan permen dan ice cream lagi", bujuk Sungmin
"Ne eomma". Akhirnya Minhyun memakan habis makanannya yang disuapkan oleh Sungmin. Sungmin masih saja berfikir tentang Kyuhyun yang tadi di taman dengan seorang yeoja yang Sungmin sendiri tidak tahu yeoja itu siapa, tapi Sungmin tidak ingin anaknya mengetahui ia bersedih. Beruntunglah Sungmin ada Minhyun yang di sampingnya sehingga Sungmin sedikit terhibur oleh tingkah menggemaskan anaknya.
.
0o0o0o0o0o0o0o0
.
Malam semakin larut namun Kyuhyun tak juga kunjung datang. Ini sudah minggu ke dua Kyuhyun sepertiitu. Pulang ketika penghuni rumah sudah tertidur dan pergi sebelum penghuni rumah bangun. Hal inilah yang sangat di khawatirkan ole Sungmin. Sudah sering kali Sungmin menunggu Kyuhyun pulang tapi karena tak kuat menahan kantuk akhirnya Sungmin menyerah. Sesekali Sungmin tertidur di sofa ruang tamu. Sungmin tidak lagi memberitahu Eunhyuk sejak pertengkaran mereka yang terakhir sampai adanya kata pisah dari pihak Kyuhyun. Mungkin Sungmin harus lebih bersabar dengan keadaan yang menimpanya.
Mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk Sungmin agar mempertahankan pernikahannya. Tiga tahun menjalin biduk rumah tangga dan empat tahun pacaran tidak membuat Kyuhyun mengurungkan niatnya berpisah dengan Sungmin. Kyuhyun membuktikan perkataannya dengan membuat surat cerai. Tidak bisa jalur hukum yang memang tidak berpihak kepadanya, Kyuhyun mengambil jaur lain yang memang di sah kan oleh hukum. Malam itu untuk pertama kalinya Kyuhyun pulang cepat ke rumah yang selama ini mereka huni dengan sukacita membawa berkas yang ingin di tunjukkannya kepada Sungmin yang masih menjadi istrinya.
"Sudah pulang?", tanya Sungmin dengan nada datar tak menghiraukan Kyuhyun yang kini berada di hadapannya.
"Ne, aku ingin bicara". Kyuhyun masih berdiri di hadapan Sungmin sementara Sungmin masih duduk di meja malam masih memakan makanannya.
"Kau lihat aku sedang apakan? Jadi bersabarlah", ucap Sungmin dingin.
"Tidak bisa. Aku ingin sekarang"
"Kalau begitu aku juga tidak bisa. Minhyun masih disini aku tidak mau anakku mendengarkan perdebatan orangtuanya"
"Eomma", ucap Minhyun yang langsung menghampiri Sungmin
"Sudah selesai baby?", tanya Sungmin
"Eum"
"Baiklah, sekarang baby harus cuci muka, cuci kaki lalu tidur ne". Minhyun menggannguk pelan dan Sungmin lagsung membawa anaknya ke kamar mandi. Selesai membersihkan anaknya Sungmin membuat susu lalu mengantarkan anaknya masuk ke kamar mereka.
"Appa", tegur Minhyun menghampiri sang appa yang masih berada di ruang makan.
"Ne baby, waeyo?". Kyuhyun membawa anaknya di pangkuannya.
"Appa jalang ada di lumah". Minhyun mempoutkan bibirnya
"Maafkan appa ne, nanti kalau urusan appa selesai kita akan sering menghabiskan waktu bersama"
"janji yah". Minhyun menatap appanya
"Ne appa berjanji". Kyuhyun mengacak rambut appanya.
"Baby, ayo"., ucap Sungmin yang menyudahi perbincangan sang anak dengan appanya. Minhyun langsung turun dari pangkuan appanya menuju sang ibu yang sudah mengarah di kamarnya.
Setelah Sungmin menidurkan Minhyun, kini Sungmin berada di ruang tamu. Kyuhyunpun menghampiri Sungmin duduk berhadapan dan memberikan berkas yang dari tadi di pegangnya. Beberapa detik tak ada yang berbicara. Sungmin hanya menatap map yang di letakkan Kyuhyun di meja.
"Apa itu?", tanya Sungmin
"Bukalah". Awalnya Sungmin melihat wajah Kyuhyun lalu beralih ke map yang tak tahu isinya apa. Cemas sudah menghampiri Sungmin. Perasaan was-was muncul seketika sejak memandang map yang di berikan Kyuhyun. Dengan perlahan Sungmin mengambil map itu dan membuka isinya.
Bebrapa menit tak ada pembicaraan. Sungmin diam dengan tatapan kosong. Setelah Sungmin membuka map itu yang isinya adalah surat lebih tepatnya surat perceraian yang di urus oleh Kyuhyun seakan menghentikan denyut jantungnya. Sungmin bagaikan patung yang tak bergerak masih memegang surat yang dilayangkan Kyuhyun. 'Inikah akhir", batin Sungmin.
Sepuluh menit dengan kesunyian mengharuskan Kyuhyun bertindak cepat.
"Kau telah membacanya bukan? Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Di surat itu telah menjelaskan semuanya dan ku harap secepatnya tanda tangani surat itu karena aku telah menandatanganinya". Sungmin memandang lagi surat perceraian itu dan benar saja tandatangan Kyuhyun sudah tertera di surat yang di pegang Sungmin.
"...".Tak ada kata yang terucap oleh Sungmin. Seakan Sungmin tiba-tiba bisu. Air matapun tak mampu lagi menetes di saat-saat seperti ini. Air mata Sungmin seakan habis. Dengan tegas di surat itu menjelaskan bahwa Kyuhyun menggugat cerai Sungmin dengan hak asuh Minhyun berada di tangan Kyuhyun.
"Kau tak bisa melakukan ini". Untuk beberapa menit setelah Kyuhyun mengucapkan perkataannya Sungmin mengeluarkan kalimat pertamanya.
"Aku tak ingin lagi berdebat. Kita selesaikan baik-baik", jawab Kyuhyun
"Kau memisahkanku dengan anakku sendiri. Kau egois. KAU TIDAK BERHAK MEMISAHKAN KAMI". Diakhir kalimat sungmin meninggikan intonasi suaranya.
"Aku berhak karena dia anakku. Aku yang akan membesarkan Minhyun karena aku yang mampu membiayai kebutuhannya sampai dia besar". Sungmin terdiam. Untuk saat ini dia merutuki keadaanya, dia menyesal karena selama ini menjadi ibu rumah tangga tapi Kyuhyunlah yang dulunya memaksa Sungmin agar tetap di rumah. Kyuhyun tidak mau Sungminnya bekerja cukup hanya dia. Kyuhyun menyuruh Sungmin agar tetap di rumah menantikan dan menyambut ke datangannya sepulang dari kantor, menjadi keluarga yang bahagia dengan kedatangan buah hati yang mereka nantikan. Tetapi kebahagiann mereka hanya sampai di tiga tahun usia rumah tangga mereka. Tak ada lagi kebahagiaan. Sekarang apa yang harus Sungmin lakukan. Kenyataan yang nanti dihadapinya dia akan menjadi pengangguran setelah bercerai dengan Kyuhyun dan jika nanti Minhyun bersamanya bagaimana kelangsungan hidup mereka? Dengan apa sungmin membesarkan Minhyun dan membiayai pendidikan dan kebutuhan anaknya?. Saat ini Sungmin membendung tangisannya, tapi Sungmin selalu menahannya agar tidak tumpah. Tubuh Sungmin serasa membeku bagaikan patung Sungmin mencerna perkataan Kyuhyun dan berfikir ketas untuk melangsungan hidupnya ke depan.
"Mungkin kau perlu waktu untuk berfikir, tapi ku harap cepat selesaikan ini". Kyuhyun berdiri lalu meninggalkan Sungmin yang masih mematung di tempatnya.
.
.
.
Trimakasih sudah membaca dan terimakasih juga sudah meripiu, chapter berikutnya akan di update lusa. Janji deh...
