Halo! Shiro di sini! maaf telah menunggu lama, dan banyak typo di chapter sebelumnya. Aku akan berusaha menghilangkan kebiasaanku yang males menekan tombol shift saat menulis. Maaf sudah menunggu lama, akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusan sekolah dan acara keluarga. Baik, sekarang silakan menikmati 'A trip to Belitung' chapter 2. :D
Disclaimer: I do not own vocaloid nor any other fandom mentioned below
Ch. 2: Pulau Laskar Pelangi
"PANAASSSS." Seru Len sambil mengibas-ngibaskan tangaanya demi mencari angin segera setelah turun dari pesawat. Maklum, ini pulau kecil dengan bandara kecil. Jangan harap akan disambut dengan belalai yang menghubungkan pesawat dan bandara di sini. Adanya kita yang harus turun dan masuk sendiri.
"Salah sendiri pakainya baju lengan panjang" Kata Rin sambil turun dari tangga dengan tank top warna kuning dan celana jeans pendek.
"Gue pikir kita bakal sampe sini kira-kira jam sebelas-an. Mana gue tahu gara-gara delay pesawat kita bisa sampe sini jam dua." Len tetap mengibas-ngibaskan tangannya sampai ia masuk ke dalam bandara yang di luarnya ada spanduk bertuliskan: Pulau Laskar Pelangi (ya, Belitung adalah tenpat syuting film Laskar Pelangi). Len berharap akan disambut setidaknya AC di dalam, tapi ternya-
"CUMA ADA KIPAS ANGIN?!"
-...Woi, Len, gue belom selesai ngomong!
...Oke, kelihatannya aku gak akan dipedulikan, jadi mari lanjutkan...
Di dalam bandara, tepatnya di tempat pengambilan bagasi, hanya ada satu kipas angin padahal ada banyak sekali orang yang berebut tempat di situ.
Jangankan Soekarno-Hatta, bandara Husein saja jauh lebih besar daripada ini. Batin Miku berpikir.
Baru saja 5 menit di sana, tiba-tiba Miku sadar bahwa rambutnya, IA dan Luka sudah lepek dan basah karena keringat masing-masing. Tapi yang kelihatan paling sengsara adalah IA. Bagaimana tidak? Rambut sepanjang kaki dan tebalnya bukan main dimasukan ke ruangan kecil bermodal 1 kipas angin di daerah pantai. Pemiliknya saja sampai stress dan tidak berpikir untuk mengambil ikat rambut saking konsentrasinya pada hawa panas disini.
"IA, rambutmu kok basah sih?" Kata Rin yang sepertinya baik-baik saja.
"Sekarang gue nyesel punya rambut panjang." Jawab IA dengan nada setengah kesal setengah sedih.
"Udah, udah... Sini, gue iketin rambutmu." Kata Rin sambil melepaskan pita yang ada di kepalanya. Lalu mengikatnya seperti bandana pada rambut IA. Memang, pita seperti itu susah jadi ikat rambut, maka dijadikan bandana saja. Asal kulit leher bisa sedikit bernapas. Rin pun tidak lupa membentuk pita bandana itu seperti pitanya sendiri. lalu setelah selesai tiba tiba dia menarik pita warna hitam dari belakang rambutnya.
"Lu penyihir atau apa sih?"
"Sedia pita sebelum kehilangan."
"Pepatah apaan tuh? Emang ada orang di dunia ini selain sedang cosplay memakai pita seperti kamu? Kayak kelinci gitu."
"Kelinci berdada rata, itu dia" ups, Piko menyebutkan kata-kata 'Haram' di depan Rin. Dan entah kenapa, IA dan Miku ikut tersinggung juga. Mereka pun segera menendang Piko di perut sampai lantai bandara pun penuh dengan warna merah.
"Eh? Tapi seingetku Rin waktu main lagu Daughter of Evil gak se-rata itu kok." Kaito memang rasanya pernah menonton salah satu PV Aku no Musume.
"Ooh, itu karena dia memakai pad da- BUOGH?!"Ups, sang 'Aku no Musume' baru saja membunuh adik sekaligus servant kembarnya.
"Saa, hizamazuki nasai!" Rin tersenyum ala daughter of evil.
"Kimi wa oujo boku wa meshitsukai..." Jawab Piko dan Len yang arwahnya sudah keluar dari mulut mereka.
Setelah berhasil berdempet-dempet mencari koper masing-masing, semua akhirnya keluar dari kerumunan itu dan ke luar bandara, di mana mobil dan... Sebutlah, sopir merangkap tour guide, sudah menunggu.
"Miku, kita jadi hari ini kemana aja?"
"Ng... Pertama, kita ke hotel dulu, taruh barang-barang, lalu kita akan makan mie belitung dan ke pantai batu tempat syuting Laskar Pelangi."
Di jalan, hampir tidak ada mobil, paling cuma satu-dua yang lewat. Lampu merah juga tidak banyak. Dan motor? SAMA SEKALI tidak ada. Polisi, orang berjalan, pedagang asongan, tidak ada satupun yang terlihat. Mungkin itulah alasan mengapa jalan di sini mulus banget kayak jalan tol.
~Hotel entahapanamanya~ (?)
"Akhirnyaaaa AC!" Len berputar-putar di lobby yang dingin itu dan diikuti Piko. IA juga sebetulnya pengen ikutan tapi jaga gengsi.
"Ooh! Liat, Len! Ada sofa di deket TV di situ!" Kata Piko yang berlari ke arah sofa tersebut yang ternyata di TV-nya sedang menyiarkan:
...Tom and Jerry.
"... Shota-shota di sini pada MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia) semua..." Meiko sedikit melirik pacarnya berharap dia tidak ketularan MKKB mereka juga sementara yang lain facepalm sampai mereka juga pingsan sendiri.
"Hei! Liat! Ada wi-fi!" Seru Miku yang ternyata dari tadi sedang mengecek wi-fi di hotel itu. Dia kepingin membuka blog negilovers-nya.
"... Eh ga bisa nyambung tuh..." Sahut Neru yang juga mengecek karena ingin menonton shingeki no kyojin yang sudah ia lewatkan 2 episode kemarin.
"Ano... Miku-nee, coba lihat sinyal di sini lewat HP deh..." Rin berkata dengan nada agak pesimis sambil melihat layar HP-nya.
Miku dan Neru mengecek sinyal yang ada dengan dan Nokia mereka.
No Signal.
Dua orang langsung pundung di pojok ruangan. Udah susah-susah gak ada wi-fi, eh, malah gak bisa connect gara-gara gak ada sinyal. Keren banget.
Mereka pun check-in di hotel. Kamar mereka ada di lantai satu alias dekat lobby. Jika menelusuri selasar di dekat tangga, akan ada semacam 'pertigaan' dimana terdapat 3 kamar. Kaito, Meiko dan Luka sekamar, neru, Gumi dan IA sekamar. Sementara Miku, Rin dan Len di kamar satu lagi.
Setelah menaruh (baca: melempar asal-asalan) koper dan barang di kamar, mereka langsung cepat-cepat kembali ke mobil. Sudah gak sabar ingin ke pantai. Dasar anak-anak #plak
Yah, pokoknya sekarang semua sudah duduk manis menikmati perjalanan yang cukup panjang ke pantai dengan tena-
"RIN, BALIKIN IKET RAMBUT GUE!"
"Ga mauu~ kamu lebih pantas jadi cewek, kayak di servant of evil. Emang kamu pikir kenapa orang-orang bisa ga tahu ratu itu kamu, shota?" Rin memutar-mutar ikat rambut Len di jarinya. Dia mengambil ikat rambut Len dan menjaganya dalam genggaman supaya tidak bisa diambil. Di sini mereka pakai 2 mobil; mobil satu diisi oleh Gumi, Neru, Luka, Meiko, dan Kaito sementara mobil satu lagi diisi Miku, Rin, Len, Piko, dan IA. Miku dan IA duduk di tengah sedangkan Piko duduk di depan. Maka Rin dan Len duduk di belakang. Miku asyik memotret Len yang rambutnya dilepas jadi mirip Rin.
"ORANG-ORANG GAK SADAR KARENA KITA KEMBAR! LAGIAN DARI AWAL LU JUGA MIRIP COWOK! TERUTAMA DA- ADUH!" Len terserang pistol karet rambut tepat di kepala sembari disambut death glare dari kakak kembarnya.
"Woooii jangan teriak-teriak di mobil dooong..." Miku menutup telinganya setelah mendengar teriakan super keras Len. "Barang gue sampai ada yang copot tahu... Suara kalian kan bergetar..." Miku pun mengambil gantungan hand gel berbentuk beruang-nya yang jatuh tadi. Rin dan Len memperhatikan gantungan itu dengan seksama lalu bertatap mata satu sama lain yang membuat Miku tambah bingung. Tiba-tiba mereka mulai adu mulut lagi seperti mereka baru saja membaca pikiran satu sama lain. Jadi kembar enak ya.
"ITU TADI RILLAKUMA!"
"NGGAK! PEDOEAR!"
"RILLAKUMA!"
"PEDOBEAR!"
"EMANG PEDOBEAR BISA YA IMUT KAYAK STIKER LINE?!"
"NYAMAR WE!"
Akhirnya Miku menyerah mengasitau kedua sahabatnya itu setelah mereka berantem gara-gara hal konyol banget. Saat Miku menoleh ke samping, dilihatnya IA sudah tertidur pulas. Gila! Kok bisa tidur di tengah-tengah kedua kembar yang berantem ini?! Batin Miku Bertanya. Ketika ia melihat ke depan, ternyata Piko juga sudah tertidur pulas. Tetapi saat diperhatikan baik-baik, ternyata Piko memakai headphone sambil menyetel lagu sementara IA menyumbat telinganya pakai ikat rambut. Ah, pintar. Miku pun mengambil kedua ikat rambut dari twin-tail nya lalu menyumbat telinga. Hmm... Nyamannya, tidak ada suara keras lagi, tidak ada suara mobil ataupun motor, apalagi klakson. Ditambah jalanan mulus Belitung yang serasa kita sedang terbang membuat Miku langsung mengantuk dan akhirnya tertidur pulas sementara Rin dan Len membuat topik baru untuk di pertengkaran
"...ngun..." Ng? Siapa tadi?
"...bangun..."
"BANGUN WOI MIKU-NEE!" Teriakan Rin membuat Miku terbangun dari tidur pulasnya dan mendapati ia sedang ada di depan banyak batu besar sekali. Sedikit di depannya ada tulisan: "tempat syuting laskar pelangi". Ah, ia pasti sudah sampai di pantai.
"Miku? Udah bangun? Ayo, yang lain sudah ke pantai. Lewat belakang batu situ." Kaito tiba-tiba nongol menawarkan minuman ke adiknya yang masih, bisa dibilang, loading setelah bangun.
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Windows Crash (?)
Akhirnya Miku pun turun dari mobil dan mengikuti Rin dan Kaito ke belakang batu itu. Di belakang sana ada pantai, tetapi di sebelah kanan dan kiri ada batu sangat besar. Ke sebelah kanan ada rangkaian batu-batu raksasa membentuk sebuah jalan menanjak ke arah tengah laut. Di situlah adanya syuting Laskar Pelangi.
Di situ, di depan matahari merah bermandikan langit sore berdirilah IA, Len, Piko, Luka, Rin, Kaito, Meiko, Gumi, dan Neru. Miku pun ikutan dan mereka semua menodongkan tinju ke langit dan berteriak;
"LASKAR DELAY KELINCI!"
Dan disitulah berdiri, laskar delay kelinci, dengan heroiknya di depan langit sore nan megah...
Kesanaaa kemariii ga bawa alamat *jeng jeng*
"Ups hape-ku bunyi."
Oke! Bagaimana dengan chapter 2 ini?
semoga anda menyukainya. :D
Seperti yang saya sudah bilang, saya ini masih pemula, jadi semua saran dan review akan sangat berarti buat saya. Terimakasih sudah membaca dan tahan dengan saya yang nulisnya memamg tidak terlalu bagus...
Terakhir...
Review? :3
