Paris, You, and Me

Vocaloid©Yamaha Corp.

Paris, You, and Me©Arisa Kaminaga

Summary: Rin berlibur ke Paris! Yey! Tapi, dia bertemu seseorang yang membuatnya mengalami banyak hal.

Genre: Romance

Rated: T

Warning: GaJe, typo, OOC, garing, bahasa campur aduk, dan berbagai warning-warning lainnya!

Story 3. The Dream Will Come True

"Sugoi...," Len meletakkan foto 'itu' di sebuah bingkai dan diletakkannya di meja dekat kasur.

"Hueee... aku tidak punya foto Eiffel pas malam hari. Padahal ingin aku tunjukkin ke Kaito-kun," keluh Rin sambil merebahkan diri di atas kasur.

"Foto ini kan pas malam hari. Tunjukkan saja pada Si Kaito itu," celetuk Len.

Rin langsung terbangun. "Enak saja! Kalau aku putus dengannya, bagaimana? Itu kan fotoku yang kau peluk! Nanti dia mikir yang nggak-nggak!" bantah Rin.

"Oi, woles kali. Kan cuma bercanda," Len duduk di sebelah Rin. "Wah, sudah malam. Aku tidur di situ lagi, ya?" Len menunjuk ke arah kasur.

"Silahkan," kata Rin enteng. "Kalau kamu mau dapat tinju dariku lagi, aku membebaskanmu tidur di situ," lanjut Rin sambil men-deathglare Len.

"Huee... aku ingin tidur bersamamu," Len memeluk Rin dari samping.

"Jangan macam-macam!" Rin menendang Len hingga terlempar sejauh 2 meter (kamar Len lumayan luas.)

'Padahal ini apartemen milikku, tapi kenapa seolah-olah aku yang menumpang di sini?' batin Len.

"Ya sudah deh, terserah kau. Besok pagi, aku ingin mencari Micchan," kata Rin. "Aku tak ingin terus bergantung padamu."

Len menunduk. "Itu artinya, kita nggak ketemu lagi, dong?"

"Mau gimana lagi," jawab Rin. "Aku dari Sapporo. Pasti kamu dari kota lain, kan?"

"Aku dari Kyoto," jawab Len. Nadanya bicara sangat lesu. "Jangan pergi dulu."

"Ha?" Rin naik ke atas kasur. "Maksudmu apa?"

"Kita baru bertemu kemarin. Masa langsung pisah gitu aja?" tanya Len.

"Entahlah. Aku nggak ngerti," ujar Rin. "Tapi, besok akan kubuatkan sesuatu yang enak sebagai salam perpisahan kita, bagaimana?" Rin berniat menghibur Len.

"Aku nggak mau kamu pergi," pinta Len. "Menetaplah di sini, ya?" Len naik ke atas kasur juga, duduk di sebelah Rin.

"Aku nggak bisa, tapi.. aku juga nggak tega sama kamu yang bakal sendirian tanpaku," jawab Rin. "Hoahmm.. aku ngantuk. Oyasumi, Len," Rin tidur membelakangi Len. Len juga memilih tidur, ia membelakangi Rin.

Rin sangat gelisah. Di satu sisi, ia ingin cepat-cepat mencari Miku. Tapi di sisi lain, ia tak tega pada Len. Haduh... otak Rin nggak bisa mikir. Rin segera memejamkan matanya untuk melenyapkan perasaan itu.

xXx

Rin berjalan menuju kantin.

"Miku, aku menyukaimu."

Rin mendengar suara yang sangat dikenalnya dari perpustakaan. Ia pun mengintip dari jendela perpustakaan.

"Aku juga, Kaito-kun. Tapi, kamu udah punya Rin."

'Heee...itu... Kaito-kun dan Micchan, kan?!' batin Rin.

"Lupakan saja bocah itu. Jadilah pacarku," suara Kaito terdengar samar-samar dari luar, namun Rin masih mampu mendengarnya.

'What the- Kaito-kun selingkuh?!' pekik Rin dalam hati.

"Hayooo... ngeliatin apa tuh?" seseorang menepuk bahu Rin.

"Hush! Diamlah, Len!" bisik Rin.

Len ikut mengintip. "Hoho... pacarmu selingkuh ya?"

"Ah, lu bikin gue pingin nangis aja!" bahasa Rin mulai kasar. Air matanya mulai menetes.

"Hoi, kenapa menangisi cowok macam dia?" Len mengusap air mata Rin.

"Dia kan pacar aku, bodoh! Dan, Micchan juga sahabatku!" seru Rin.

Len memeluk Rin tiba-tiba. "Kalau begitu, putusi saja dia, lalu pacaran denganku," kata Len dengan entengnya.

xXx

"Gyaaaaaaaaa!" Rin terbangun dari tidurnya.

Len ikut terbangun. "Ada apa Rin? Masih jam 3 lho," Len menggosok matanya.

"Hueee... mimpi apaan itu!" Rin menendang-nendang selimutnya.

"He? Mimpi apa? Tentang aku ya?" tanya Len kepedean.

"Jangan sampai!" Rin terus teriak-teriak gaje.

"Jangan teriak-teriak dong! Kalau tetangga kedengaran kan jadi curiga!" Len memperingati Rin.

"Huee...Len...," Rin menangis di dada Len. Piyama Len jadi sedikit basah oleh air mata Rin.

"Ada apa sih?" tanya Len. "Mimpi apa emangnya?"

"Buruk! Sangat buruk!" seru Rin. "Kaito selingkuh...terus...terus..."

"Terus apa?"

"Kaito selingkuh dengan Micchan dan kamu tiba-tiba nembak aku! Itu... itu aneh tau!"

Len tersenyum tipis. Ia memeluk Rin yang menangis di dadanya. "Wah... aku sudah masuk mimpimu nih," goda Len.

Rin mendorong Len. "Ah, itu kan cuma mimpi," Rin menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia kembali merebahkan diri.

"Mimpi bisa jadi kenyataan lho," celetuk Len dan kembali tidur.

"He?" Rin menoleh ke arah Len yang membelakanginya. "Maksudnya apa?"

xXx

Rin memakai syal orange miliknya dan memakai tas selempang kecil berwarna kuning.

"Ayo, Len," ajak Rin.

Len mengikuti Rin dengan lesu. Di dalam hati, ia menangis meraung-raung.

'HUAAA! RIN! JANGAN TINGGALIN GUEEEE!' teriak Len dalam hati. Ia tidak mau menangis di hadapan Rin karena gengsinya yang superr...tinggi.

"Kita naik...hei, kamu kenapa?" Rin mengangkat kepala Len yang dari tadi menunduk.

"Hihi... seorang Len yang hentai menangis," ledek Rin. "Dasar shota hentai."

Kata-kata terakhir Rin sangat 'jleb' di hati Len. Cowok setampan monyet seperti dia dibilang shota hentai? Oke, kata hentai mungkin cocok untuknya. Tapi kata shota, itu sangat dibencinya.

"AKU NGGAK SHOTA RINNNN!" teriak Len.

"Hei, hei, tenang," Rin mengibaskan kedua tangannya ke depan. "Dan...kenapa kau berteriak sepertiku?"

"Huee...Rin!" Len memeluk Rin dan menangis layaknya seorang bayi. "Jangan pergi!"

"Aku..."

PIIP...PIIP...

Kata-kata Rin terpotong oleh suara yang berasal dari ponselnya. Ia membuka flip ppnselnya.

"Whoaa...Kaito-kun telepon!" pekik Rin. Ia mengangkat teleponnya. "Moshi-moshi, Kaito-kun!"

Len menghapus air matanya.

"Apa? Kau di sini?! Whoaa...di mana sekarang? Baiklah, aku ke sana!"

Rin menutup teleponnya. "Len, kita ke kedai es krim yang kemarin ya! Kaito-kun menungguku di sana! Nanti, akan kuperkenalkan kau padanya, oke?" seru Rin antusias.

"Terserah," jawab Len malas.

Mereka berdua pun menaiki taksi dan berangkat ke kedai es krim.

Skiptime...

"Kaito-kun!" Rin berlari ke arah seorang lelaki serba biru yang duduk di pojok. Len hanya mengikutinya.

"Hai Rin! Eh, siapa dia?" lelaki bernama Kaito itu menunjuk Len.

"Ah, dia kenalanku di sini! Len, kenalkan dirimu!" perintah Rin.

Len mengulurkan tangannya. "Kagamine Len."

Kaito membalas uluran tangan Len. "Shion Kaito," Kaito menjawab sambil tersenyum.

"Kaito-kun, kenapa nggak bilang-bilang kalau ke sini?" tanya Rin.

"Kejutan dong, seminggu lagi kau kan ulang tahun. Nah, otou-san dan chichi sudah mengizinkan aku dan kamu di sini selama sebulan," jelas Kaito.

"Wah... Kaito-kun! Itu...so sweet...," Rin memeluk lengan Kaito.

'Ugh...Rin...,' batin Len. "Rin, aku jalan-jalan dulu, ya. Aku nggak mau mengganggu momen kalian," kata Len sambil berjalan keluar.

"Kagamine-san nggak mau ngobrol dulu?" tanya Kaito dengan senyum tipis.

"Nggak usah," jawab Len tanpa menoleh.

'He? Len beda banget?' batin Rin.

"Kau bilang dia kenalanmu, tapi kenapa manggilnya pake nama depan?" tanya Kaito.

"Itu... agar terkesan akrab!" seru Rin. Dalam hati, ia khawatir dengan Len. Ia juga khawatir kalau mimpinya semalam benar-benar terjadi. Ia benar-benar takut.

xXx

"Len, aku akan menginap di apartemen Kaito-kun. Sampai jumpa," Rin menarik kopernya. "Len?"

Len masih berdiri menghadap jendela, tak memedulikan ucapan Rin.

"Len, kau dengar tidak?" tanya Rin yang sudah berada di ambang pintu.

"Aku dengat kok. Pergi saja, sana."

'Kenapa dia menjawab dengan nada yang sangat dingin?' batin Rin. "Ah, ya sudah. Sayounara."

BLAM!

Pintu tertutup dengan keras. Rin berjalan menghampiri Kaito yang sudah menunggu di depan.

Sementara itu, mari kita lihat keadaan Len...

"HUAAAA! RINNNNN!" Len meraung-raung gaje. Lalu, ia berjalan ke dapur.

"Fuhh... mana buktinya? Katanya mau membuatkan aku makan yang enak?" Len terlihat marah. Ia benar-benar marah.

xXx

"Ini apartemenmu, Kaito-kun?" tanya Rin sambil memasuki apartemen bernuansa biru.

"Yapp," jawab Kaito mantap. "Kamarmu yang berpintu orange itu. Dan kamarku yang berwarna biru itu," kata Kaito sambil menunjuk dua kamar yang bersebelahan.

'Ini lebib baik daripada saat di apartemen Len,' batin Rin. "Aku istirahat dulu ya."

"Oke," Kaito mencium dahi Rin. Rin berjalan ke kamar yang ditunjuk Kaito. Ia meletakkan kopernya dan merebahkan diri ke atas kasur. Ia memejamkan matanya untuk mengenyahkan semua pikiran jahat yang menyelimuti otaknya.

xXx

"Ohayou, Kaito-kun," Rin keluar dari kamar dan menyapa Kaito yang duduk di sofa depan televisi.

"Ohayou Rin," sapa Kaito dengan senyum hangatnya. "Oh ya, Rin. Ayahmu menitipkan sejumlah uang padaku untukmu. Ambil saja di kamarku."

"Oke," Rin berjalan memasuki kamar Kaito.

'Eh, sebentar...,' Kaito berpikir. 'Di kamar itu ada...'

Rin mencari uang titipan untuknya di laci Kaito. Tapi, bukannya menemukan uang, ia justru menemukan selembar foto yang langsung membuat dadanya sakit.

'Foto ini...'

TBC

Yow! Updet ini apakah terlalu cepat? Aku updet cepet karena lagi numpuk tuh ide! Hehe...

Hayoo...apa ada yang bisa nebak, foto apa yang ditemukan Rin? O.o

Oiya...denger-denger, FFn bakal ditutup, wah...hati Arisa ketusuk-tusuk nih... :( #alay. Wajar aja dong...FFn itu bagaikan belahan jiwa Arisa...#ceilah

Oke, oke, daripada bersedih terus, aku mau bales review dulu!^^

Kiriko Alicia :

"Iya Kiriko-chan...ini updet cepet kok..^^"

Kei-T Masoharu :

"Tentu saja Rin punya Len! #fangirling mode

Wah iya, Arisa lupa! Accueil itu artinya selamat datang, kalo merci itu terima kasih.."

Rena Hinamori :

"Iya, ini udah lanjut..."

Kurotori Rei :

"Hihi... Len lagi hentai mode tuh, makanya otaknya encer...#dilemparpisang

Kalo Len bukan suka lagi, tapi udah cinta pada pandang pertama...haha... #ketawagaje

Eee...iya...Rin kena virusnya Kaito gara-gara pacaran sama dia, jadi dia kuat makan es krim pas musim dingin... #dilindes

Hehe...Leon usil yah, momen romantis gini diganggu -3-

Mikan ChanX3 :

"Iya... Len langsung lesu tuh... sini Len...#pelukLen #ditinjuRin

Maksudnya Miku keliatan di chap. 2, apa ya? Arisa bingung... o.O"

Nah, segini dulu... Arisa juga mau ngingetin para reader sekalian nih, AYO BUNUH SOPA! #apaitu #abaikan

Pokoknya, FFn gak boleh hilang dari dunia ini!

And last word...

.

.

.

Review please~ :3