Paris, You, and Me

Vocaloid©Yamaha Corp.

Paris, You, and Me©Arisa Kaminaga

Summary: Rin berlibur ke Paris! Yey! Tapi, dia bertemu seseorang yang membuatnya mengalami banyak hal.

Genre: Romance

Rated: T

Warning: GaJe, typo, OOC, garing, bahasa campur aduk, dan berbagai warning-warning lainnya!

Story 4. Sayounara, Kaito

Rin meletakkan foto menyedihkan itu di sakunya.

"Rin, sudah ketemu uangnya?" tanya Kaito sambil memasuki kamarnya.

"Sudah," Rin menunjukkan amplop berwarna coklat. "Kita jadi ke butik kan? Aku ganti baju dulu."

Rin keluar dari kamar Kaito. Kaito segera membuka lacinya, dan mencari barang penting miliknya.

'Ke mana foto itu? Kok nggak ada? Jangan-jangan...'

BRAK!

Rin menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia bersandar pada pintu. Air matanya mengalir.

"Mimpi itu... benar terjadi... Len..."

xXx

"Kaito-kun, setelah ini, kita mampir ke apartemen Len dulu ya?" pinta Rin.

"Eh? Kenapa?" tanya Kaito yang semula curiga.

"Beberapa barangku ada yang tertinggal. Aku juga ingin berbicara sedikit. Aku nggak lama kok, ya?" pinta Rin.

Kaito mengangguk. "Aku menunggu di butik pria dekat situ, ya," ujar Kaito. Mereka pun berjalan ke apartemen Len yang tak jauh dari sana.

Kaito masuk ke dalam butik pria sedangkan Rin berjalan ke apartemen Len. Ia menaiki lift ke lantai 2 dan mencari ruangan Len.

'Hmm... nomor 127, ini dia!' batin Rin.

Teng...tong...

Rin memencet bel di sebelah pintu.

"Iya, sebentar!" terdengar suara Len dari dalam. Pintu pun terbuka.

"Ada ap..."

"Len!" Rin memeluk erat. "Mimpinya!"

Len tersenyum kecil. "Ada apa Rin? Sebaiknya kita bicara di dalam saja," Len mempersilahkan Rin masuk. Rin melepas pelukannya dan berjalan masuk ke apartemen Len. Ia duduk di sofa, begitu juga dengan Len.

"Jadi...?" Len memulai pembicaraan.

"Ini," Rin menyodorkan selembar foto pada Len.

"Ini foto apa?" tanya Len. "Siapa gadis yang memeluk...," Len memfokuskan pandangannya. "Kaito?"

"Itu Micchan. Ini... rasanya seperti mimpiku," kata Rin.

"Hhmm.." Len terlihat berpikir. "Micchan-mu cantik juga. Siapa nama lengkapnya?"

"Hoii!" seru Rin. "Ini bukan waktunya untuk itu!"

"Eh, kamu cemburu ya?" goda Len.

"ENAK SAJA!" pekik Rin sambil menjitak Len.

"Ah, aku bercanda tau! Kamu lebih manis daripada dia!" semburat merah tipis nampak di pipi Len.

Wajah Rin ikut memerah. "J-jadi… bagaimana ini?"

"Hmm... berarti adil dong! Aku punya kok, fotomu yang kupeluk! Jauh lebih bagus dari foto ini. Dan..." Len menyeringai. "Kamu juga menyimpan fotoku yang mencium pipimu, hehe..."

"Tapi, ini jelas beda!" bantah Rin. "Aku dan kamu itu bukan apa-apa. Tapi kalau Kaito-kun dan Micchan, mereka udah jadian!"

"He? Darimana kamu tahu?" tanya Len bingung. "Apa benar tebakanku dulu kalau kamu itu paranormal?"

"Liat saja di balik foto itu," kata Rin datar. Len membalik fotonya. Tertera tulisan 'With My Lovely Miku.'

"Hmm..." Len berpikir sejenak. "Aha! Putus aja!"

"He? Putus? Tapi aku..."

Len memegang tangab Rin. "Daripada kamu disakiti terus, hayo? Mendingan putus aja kan? Aku juga nggak mau kamu disakiti Si Maniak Es Krim itu."

Run terus berpikir.

.

.

.

5 menit...

.

.

.

10 menit...

.

.

.

20 menit...

.

.

.

30 menit...

.

.

.

"Oke! Aku akan putus dengan Kaito-kun, lalu pergi dari apartemennya! Tapi.. aku tinggal di mana? Jadi gelandangan, gitu?" Rin berpikir lagi.

Mata Len langsung berbinar-binar. "Rin! Balik ke apartemenku yukkk?"

"What the-" Rin ngeblush. "OGAHH!"

"Ayolah...," Len berpuppy eyes ria.

"NOOO! LEN NO BAKAAAA!"

xXx

Rin berjalan menemui Kaito.

"Moshi-moshi," Kaito menelepon seseorang di depan sebuah butik. Rin mengintip dari gang kecil di sebelah butik.

"Iya, Miku. Aku akan membereskannya. Yang kusuka itu hanya kamu," kata Kaito sambil tersenyum. "Iya, nggak bohong."

"Kaito-kun," tersenyum simpul. "Telepon dari Micchan, ya?"

"Eh?" Kaito menutup teleponnya. "Sudah selesai Rin?" Kaito bertanya sambil tersenyum simpul.

"Fufu...," Rin berjalan mendekat. "Nggak perlu menyembunyikan apa-apa dari aku, Kaito-kun."

"Aku nggak menyembunyikan apa-apa Rin," Kaito sedikit gugup.

Rin menarik kerah baju Kaito. Rin menatap mata Kaito tajam. "Kaito, aku tahu semuanya."

"R-Rin... ini...," Kaito ketakutan melihat tatapan Rin.

"Kita putus!"

"A-Apa?" Kaito pura-pura nggak dengar.

"Gue bilang... LO, GUE, END!" Rin berteriak di telinga Kaito menggunakan toa-yang-entah-darimana-asalnya.

"Ee... tunggu Rin!" seru Kaito.

"Dasar BaKaito!" Rin berlari menuju apartemen Kaito yang jauhnya 5 km.

'Dasar BaKaito nyebelin! Nyebelin!' Rin berteriak dalam hati sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Ia mengambil foto menyedihkan-yang-author-pun-tak-ingin-menyebutnya dari sakunya dan meletakkannya di atas kasur. Ia menulis sebuah note.

'BaKaito, aku tau ini berharga untukmu. Jadi, aku mengembalikannya. Tidak ada yang rusak kan? Aku merawatnya lho.. LOL

Kagamine Rin'

Rin keluar apartemen dan melihat sekitar.

"Pertanyaannya, aku akan tinggal di mana? Masa mau di-"

PIIPP... PIIIPPP...

Belum menemukan jawaban, ponsel Rin langsung berbunyi. Rin mengangkat telepon tanpa melihat nama penelepon.

"Moshi-moshi?"

[Kamu di mana, Rin?]

"Oh, kamu Len. Aku di depan apartemen Kaito. Niatnya sih, mau cari apartemen buat aku sendiri."

[Jangan!] Len terdengar khawatir. [Di sini aja.]

"Nggak. Aku nggak mau ngerepotin kamu," Rin menolak.

[N-Nggak kok,] Len terdengar gugup. [Aku malah senang kamu di sini.]

Entah mengapa wajah Rin langsung nge-blush. "Gomen ne Len.."

[Ayolah Rin!] Len memohon. [Aku ingin di sampingmu.]

Jantung Rin berdegup kencang, lebih kencang daripada saat bersama Kaito. Wajahnya juga memerah. Lebih merah daripada saat Kaito menembaknya untuk dijadikan pacar.

'Aku sakit ya? Tapi nggak panas nih,' Rin menyentuh dahinya. "B-baiklah, Len..."

'Eh?! Apa yang barusan kukatakan?!' batin Rin. "Ngg.. maksudku..."

[Aa, arigatou Rin! Kutunggu!]

"Le..."

TIITTT...TIIITTTT...

Telepon terputus.

"Ugh, oke. Tinggal. Sama. Shota. Hentai. Menyebalkan!" keluh Rin. Ia mencari taksi dan melesat ke apartemen Len.

xXx

Rin menekan bel di sebelah pintu.

Pintu terbuka. "Okaeri Rinnnn!" Len memeluk Rin dengan erat. Rin langsung sweatdrop.

"Shota, aku kembali," Rin tersenyum paksa.

Len melepas pelukannya. "Ayo ma-" Len mencerna ucapan Rin. "AKU NGGAK SHOTAAAAA!"

"Yah terserah. Aku capek, ingin istirahat," kata Rin datar.

"Ngg.. oiya, gimana dengan Si Kaito?" tanya Len.

"Heh, masa bodoh dengan BaKaito. Mau dia ngejar-ngejar aku kek, mau pacaran sama Micchan kek, pacaran sama aisu kek, atau pacaran sama kamu kek, mana peduli," balas Rin.

"He? Kamu bilang aku pacaran dengannya? Aku normal Rin!" bantah Len.

"Terserah. Aku mau istirahat," Rin masuk ke dalam kamar.

Len mematung sambil garuk-garuk kepalanya yang penuh ketombe, kutu, dan uban. (Len: HOIII! Author: hehe... #evilsmirk #dilindes.)

"Rin kenapa yak?"

xXx

"Len, kita makan apa?" tanya Rin.

"Ini coq au vin buatanku," Len meletakkan dua piring coq au vin ke meja makan.

"Wah, keliatannya enak," Rin menarik kursi lalu duduk. Ia mengambil sepiring coq au vin. Len melakukan hal yang sama.

"Itadakimasu!" ia melahap makanan di hadapannya.

"Bagaimana? Enak nggak?" tanya Len.

"Hmm.. OISHIII!" pekik Rin. "Ini sih, lebih enak daru yang kumakan saat di restoran bintang lima! Whoaa... ajari aku dong!"

"Oke, kapan-kapan. Sekarang habiskan makananmu. Malam ini kita akan ke taman hiburan," kata Len sambil menghabiskan makannya.

"Whoaa... benarkah?! Fuuhh... BaKaito nggak pernah ngajak ke tempat seperti itu," dengus Rin.

"Yaelah, lu malah mikirin dia. Cepet habisin, lalu kita berangkat," perintah Len.

"Eee...iya!"

xXx

"Sugoi...," Rin memandang sekitarnya. Berbagai hiburan di malam hari. Lampu hias di mana-mana. Menara Eiffel pun masih nampak dengan jelas dibalik taman itu karena jaraknya yang dekat.

"Len, darimana kamu tau tempat ini? Kayaknya ini tersembunyi ya? Kok cuma ada kita berdua?" Rin terlihat bingung.

"Hmm. Taman ini mau digusur oleh perusahaan chichi. Tapi, aku punya kuncinya. Jadi anggap saja taman ini milik kita berdua," jelas Len.

"Whoooaaaa... aku mau naik itu!" Rin menunjuk merry-go-around.

"Ya sudah, kamu main saja sepuasmu. Aku duduk di sana dulu, ya," Len berjalan ke arah bangku taman. Ia duduk dan memperhatikan Rin yang tersenyum riang.

Tanpa mereka sadari, seseorang mengintip mereka dari semak-semak.

"Khukhukhu... dia..."

TBC

Yoww! Arisa balik lagii! Ada yang nungguin aku?

Len dan Rin: NGGAK ADAA!

Ah, ya sudah. Oiya, aku seneng banget lho, FFn gak jadi ditutup. Hehe..

Sekarang, waktunya balas review!

Kiriko Alicia:

"Yapp! Ini udah lanjut... XD"

Shinichi Rukia:

"Itu masih belum ketauan... kan masih mimpi...

Fotonya... benar! Itu foto MiKai! #Tebarbungabangkai

Anda benar lagi, Rin kembali ke apartemen Len!

Ini udah lanjut.."

KagamineRirika02:

"Hwaa...arigatou! #Bungkuk

Benar! Itu foto MiKai! XD Ini sudah lanjut kok, maaf kalo lama X3"

Guest:

"Yupp, ini lanjut!

Iya, aku juga seneng banget SOPA nggak jadi nutup FFn X3"

Rositarinjani:

"Ini udah lanjut..."

Kurotori Rei:

"Ya, Len cemburu...#pelukLen

Ngg... atau lebih tepatnya menjemput Miku tercinta? O.o Miku juga ke Paris lho...Iya, itu foto MiKai XD

Ini udah lanjut..."

Tsubatsa Akane:

"WHAT?! Don't call me Ari-san! DX

Iyaaa... ini lanjutt... "

Fortun-chan:

"Yaapp! Ini lanjut :)"

Whoaaa... aku nggak nyangka story 3 bakalan banyak yang review. Domo arigatou, minna... :3

Yaakkk... kata terakhir aku...

Review please... X3