MY GIRL

Cast :

Oh Sehun (girl)

Kim Jongin

Xi Luhan (girl)

And other cast

Genre: Highschool lives, drama, romance

Rated : T

Author : Ohorat

.

.

.

Chapter 2

.

Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Sehun selalu menghindari tatapan Jongin. Mereka memang tidak dekat, tapi namja berkulit tan itu sudah melihat betapa memalukannya dirinya. Meskipun Jongin sendiri terlihat tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi, namun tetap saja itu adalah satu hal yang paling memalukan yang pernah ia alami.

Sehun berjalan gontai menyusuri koridor sekolah yang cukup ramai. Tubuhnya terasa lemas karena belum ada makanan sedikitpun masuk ke dalam perutnya. Sekarang masih jam istirahat, tapi ia tak berniat untuk pergi ke kantin hanya untuk mengisi perut. Lagipula ia harus berhemat untuk ongkos pulang nanti.

Langkahnya terhenti ketika matanya menatap sosok yang sangat dikenalnya tengah dikerumuni banyak siswa-siswi. Ia seperti seorang idola yang sedang dikerumuni oleh para fansnya.

Gadis itu bernama Xi Luhan, siswi populer karena kecantikannya dan kecerdasan otaknya. Tidak banyak yang tahu kalau Luhan adalah kakak tiri Sehun. Terkadang, Sehun selalu merasa sedikit iri dengan kakaknya itu. Ia begitu cantik, pintar dan pandai bergaul, sehingga banyak orang yang menyukainya. Berbeda sekali dengan Sehun. Hanya gadis biasa dengan IQ rendah. Teman pun ia tak punya, karena tak ada waktu untuk sekedar bersenang-senang seperti remaja lainnya.

.

Sehun kembali melangkahkan kakinya sebelum ia bertatapan dengan Luhan. Ia sedikit gugup setiap melihat manik mata itu. Yang ditatap, langsung mengalihkan pandangannya tanpa tersenyum sedikitpun.

.

.

Siswi bermarga Oh itu menginjakan kakinya di atap sekolah. Ia selalu suka tempat ini. Begitu tenang, pikirnya. Ia pun bisa melihat kota Seoul dari atas. Itu bisa jadi hiburan tersendiri untuknya.

Sehun menaiki pagar pembatas atap sekolah saat matanya menangkap seekor anjing yang tengah menyebrang sendirian di bawah sana. Kendaraan yang berlalu lalang membuatnya khawatir pada anjing kecil yang tengah kebingungan itu membuatnya ingin sekali melompat dan menahannya.

Dirinya semakin panik saat kaki kecil itu melangkah mendekati jalan. Dengan refleks, kaki kiri Sehun tergelincir dan tubuhnya hampir saja terjungkal jika saja tidak ada yang menahan pinggang ramping itu dari belakang. Jantungnya berdegup sangat kencang seolah akan keluar dari tubuhnya saat melihat betapa seramnya jika ia terjatuh ke bawah sana.

"Jika kau ingin mengakhiri hidupmu jangan disini." Ujar seorang siswa yang baru saja menyelamatkan nyawanya sembari menarik tubuh Sehun menjauh dari pembatas atap. Sehun terkejut dengan ucapan siswa ber-name tag Kim Jongin itu. Bahkan dia tidak berniat sedikitpun untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Terlalu konyol untuk didengar.

"Jangan sok tahu! Lagipula siapa yang mau bunuh diri?!" protes Sehun tak terima.

"Cih, sudah ketahuan malah mengelak. Dasar pengecut!" namja itu tersenyum meremehkan. Sehun mulai naik darah, ia benar-benar tidak terima dengan ucapan namja sok tahu itu.

JEK!

"YA! Kenapa kau menginjak kakiku?!" geram Jongin setelah mendapat denyut di kaki kanannya.

"Itu balasan untuk mulutmu yang tidak tahu sopan santun!" dengan begitu, Sehun melenggang pergi meninggalkan namja berkulit tan itu yang masih meringis kesakitan.

"Bahkan dia tidak berterima kasih padaku. Aish, sakit sekali!"

.

.

.

"Aku pulang!" Sehun melepas sepatunya sebelum kemudian berjalan memasuki rumahnya yang tampak sepi. Ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah melempar tasnya ke atas ranjang, matanya menangkap sebuah benda di atas meja belajarnya. Ia menghampiri benda itu yang ternyata komik yang ia pinjam dari Luhan seminggu yang lalu. Ya, Sehun lebih suka membaca komik daripada buku pelajaran yang bisa membuat otaknya berasap.

"Aish, aku lupa mengembalikannya."

.

.

Dengan gugup, Sehun berjalan menuju kamar Luhan disamping kamarnya.

Setelah mengetuk 3kali, ia membuka pintu kamar Luhan, hanya sedikit untuk menyembulkan kepalanya. Ia menangkap sosok Luhan yang tengah sibuk menatap layar laptopnya. Perlahan namun pasti, ia memasuki kamar kakak tirinya.

"Um… aku ingin mengembalikan ini." Ucap Sehun sembari meletakan komik tadi diatas meja belajar Luhan.

"Sudah kubilang, aku tidak suka jika barangku dipinjam lebih dari 3 hari." Ujar Luhan begitu dingin. Matanya pun masih terfokus pada gadget dihadapannya. Sehun tahu kalau Luhan sedang marah. Ia tak mau melawan dan hendak beranjak pergi.

Sehun memegang knop pintu kamar Luhan, hendak menutupnya kembali. Tapi suara Luhan kembali menghentikan geraknya, "Jangan masuk kamarku jika tak ada ijin dariku meski kau sudah mengetuk pintu." Sehun hanya diam lalu mengangguk tanda mengerti.

.

.

Ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang single bed-nya. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali teringat dengan ucapan Luhan. Tidak, bukan ucapannya. Tapi sikapnya yang begitu dingin. Seolah Sehun adalah orang yang paling ia benci di dunia ini.

Dulu mereka sangat akrab, bahkan Luhan selalu membantu Sehun mengerjakan PR-nya dengan senang hati. Namun sikap dingin itu muncul sejak ayah tiri Sehun-ayah kandung Luhan- meninggal karena kecelakaan.

Dan setiap mengingat semua itu, membuat sebulir air mata keluar dari ekor mata sipitnya, "Mianhae."

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Satu jam lagi café akan tutup. Tapi Sehun masih setia melayani para pelanggan. Sebenarnya tubuhnya sudah lelah, karena beberapa hari ini selalu sibuk dengan kerja part time-nya. Ya, dia bukan remaja kaya yang bisa bersenang-senang seperti yang Ibunya yang hanya seorang pedagang ikan di pasar, tidak akan cukup membiayai kebutuhan hidupnya juga sekolahnya dan Luhan. Maka dengan senang hati, ia rela menghabiskan waktunya dengan bekerja di café.

"Aku pesan satu cup coffee latte." Ucap si pelanggan. Tanpa babibu, Sehun segera membuat minuman yang baru saja dipesan.

"Satu cup Coffe latte, 2000 won." Sehun terkejut saat melihat siapa yang tadi memesan minuman itu. Poker face-nya kembali muncul ketika bertatapan dengan namja berkulit tan dihadapannya.

"Jadi kau bekerja disini?" tanya namja itu yang lebih terdengar seperti sindiran.

"Ya dan cepatlah pergi." Bukannya pergi, namja yang baru-baru ini diketahui bernama Jongin itu malah duduk di salahsatu kursi di café itu. Ia menyesap coffee-nya dengan santai. Sesekali ia memperhatikan Sehun yang tengah sibuk membersihkan meja-meja café.

Jongin melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Setengah 11. Lalu kembali mendapati Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapannya membuatnya sedikit terlonjak kaget.

"Kenapa masih disini? Cepat pulang, café akan tutup." Perintah Sehun terdengar datar.

"Kau sendiri kenapa masih disini?" Jongin menjawab dengan pertanyaan yang membuat Sehun mendengus kesal. Gadis itu merapatkan jaket tebalnya dan beranjak pergi dari café yang sudah sepi itu. Jongin pun mengikuti Sehun dengan santainya.

"Berhenti mengikutiku!" lagi-lagi perintahnya terdengar datar. Seperti ekspresi khasnya.

Namja itu segera menyamakan langkahnya dengan Sehun. Dan sekarang mereka berjalan beriringan.

"Sekarang aku tidak mengikutimu." Ujarnya santai membuat Sehun menggeram frustasi dan menghentikan langkahnya.

"Apa maumu?!" kini oktaf suara Sehun meninggi. Namja itu benar-benar membuatnya kesal.

"Mauku? Aku mau pulang."

"Lalu kenapa dari tadi kau mengikutiku?!"

"Karena arah jalan pulang kita sama."

Sehun terdiam.

"Kau tidak mau pulang? Yasudah, aku duluan. " Jongin beranjak pergi sebelum ia memperingatkan sesuatu pada gadis yang masih terdiam menahan kesal, "Hati-hati, di jam-jam begini para vampire sedang mencari mangsa."

"YA! Jangan membodohiku!" dan Sehun pun berlari mengejar namja menyebalkan itu yang tengah menahan tawanya.

.

.

"Cepatlah sedikit, kau ini lamban sekali!" protes Jongin pada Sehun yang berusaha mempercepat langkahnya. Mereka masih berjalan sepulang dari café.

"Berisik!" geram Sehun.

Hening pun mendera keduanya untuk beberapa saat.

"Kenapa kau bekerja paruh waktu? Bukankah kau bosan dengan hidupmu?" Sehun tertegun mendengar pertanyaan Jongin. Ia kembali teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu di atap sekolah. Namja itu benar-benar sudah salah paham.

"YA! Sudah kubilang aku tidak sedang ingin bunuh diri waktu itu!" semprot Sehun membuat Jongin menutup kedua telinganya.

"Lalu apa? Melompat bebas?"

"Aish, kau ini! Jika tidak tau apa-apa jangan-" ucapan Sehun terpotong ketika matanya menangkap sosok Luhan tengah berdiri di hadapan mereka. Tanpa sadar, ternyata mereka sudah sampai di depan rumah Sehun.

Luhan dan Sehun bertatapan sebelum kakak tirinya itu melangkahkan kakinya memasuki rumah. Jongin terheran melihat keduanya. Ia sempat melihat tatapan Luhan pada Sehun tadi. Sangat dingin. Seperti tatapan kebencian.

Sehun pun masih terdiam menatap punggung Luhan yang menghilang dibalik pintu.

"Aku… masuk dulu. Sampai besok." Sehun tersenyum ragu pada namja disampingnya sebelum kemudian masuk ke dalam rumah.

Jongin masih berdiri disana, menatap pintu yang baru saja dimasuki 2 gadis berbeda, "Mereka… satu rumah?"

.

.

.

Gimana nih? Lanjut ga?

Review 50 ke atas aku lanjut deh wkwk ^^