Sebelumnya makasih buat yang udah review di chapter 1&2, meskipun agak kecewa karena reviewnya baru dikit(?)

Ada yang bilang kalo ff ini diganti jadi YAOI pasti bakal seru. Jadi, saya cuma mau nanya aja pendapat temen2 yang lain.

Apa sebaiknya Sehun sama Luhan disini tetep GS atau namja?

Saya tunggu sarannya. Terima kasih.^^

MY GIRL

Cast :

Oh Sehun (girl)

Kim Jongin

Xi Luhan (girl)

And other cast

Genre :

Highschool lives, Drama, Romance

Rated : T

Author : Ohorat

.

.

.

Sehun terduduk di atap sekolah. Ia menyenderkan tubuhnya pada dinding yang terbuat dari beton di belakangnya, seolah tempat bersandarnya itu bisa memijat punggungnya yang terasa pegal. Bekerja paruh waktu sampai malam hari membuat tubuhnya serasa remuk, apalagi ia harus bangun sebelum matahari terbit agar tidak ketinggalan bus lagi. Meskipun siswi berambut brunette itu kurang menonjol dalam bidang akademis, setidaknya ia bisa jadi murid teladan. Pikirnya.

KRIUKK~

Sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari perutnya itu membuyarkan baru sadar, ia hanya makan selembar roti tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Ia tak mungkin membeli makanan di kantin yang serba mahal itu. Mungkin lebih baik ia menahannya.

KRIUKK~

"Aish, kenapa kau terus berbunyi?! Aku akan mengisimu di rumah nanti." Sehun mengajak bicara perutnya seolah anggota tubuhnya itu akan mengerti.

"Makanlah!" ucap seseorang yang tiba-tiba duduk disamping Sehun dan menyodorkan sebuah kotak makan berwarna biru tua kehadapannya.

"Kau lagi." Sehun mendengus kesal.

"Hey, aku sudah berbaik hati padamu. Kenapa kau masih seperti itu? Bahkan aku sudah menyelamatkan nyawamu waktu itu." Sehun refleks membulatkan mata sipitnya setelah mendengar perkataan namja disampingnya.

"YA! Sudah kubilang itu bukan-"

"Iya iya, aku mengerti. Cepat makan atau perutmu akan bunyi lagi." Lagi-lagi Sehun terkejut mendengarnya. Wajahnya memerah menahan malu.

.

.

"Gomawo." Ucap Sehun namun tak ada jawaban dari namja yang kini tengah sibuk dengan pandangan kosongnya. Sehun pun membuka kotak makan itu dan matanya seketika berbinar saat melihat beberapa potong sushi disana.

"Kau yang membuat ini?" tanya gadis itu sembari melahap satu potong sushi.

Namja tan itu menatap Sehun lalu menggeleng, "Itu dari fansku."

Sehun tersedak mendengarnya.

"Kenapa? Kau tidak percaya?" protes Kai.

"Apa katamu? Fans?" dan tawa Sehun pun menggelegar di atap sekolah.

Kini namja itu yang mendegus kesal.

"Ahaha... kau membuat perutku sakit." Sehun berusaha menghentikan tawanya sembari memegangi perutnya. Sementara lelaki disampingnya, wajahnya semakin masam saja.

"Sudah diam!"

"Baik, baiklah. Maaf." Ia menelan sushi-nya susah payah.

"Cepat habiskan!"

Mendengar perintah itu, Sehun menatap kotak makan dihadapannya. Masih tersisa banyak sushi disana, tidak mungkin ia menghabiskannya sendiri.

"Kim Jongin, bantu aku menghabiskan ini!" Jongin menatap kotak makannya lalu menggeleng.

"Ayolah! Ini enak, kok!" Sehun menyodorkan satu potong sushi dengan sumpitnya kehadapan mulut namja itu, "Cobalah."

Dan hap! Sushi itu pun tenggelam ke dalam mulut namja bermarga Kim itu.

"Lumayan." Ucapnya.

"Lagi?" Jongin hanya mengangguk.

Dan waktu makan siang pun mereka habiskan dengan menikmati sushi buatan 'fans Jongin'di atap sekolah.

.

.

"Oya, Sehun-ah. Kau tidak sakit parah, kan?" Jongin bertanya membuat Sehun mengernyitkan dahinya bingung.

"Sakit? Aku tidak sakit."

"Bukankah waktu itu pantatmu berdarah? Apa kau ambeien?"

Dan satu pukulan mendarat manis di kepala Jongin.

.

.

.

Sehun dan Jongin berjalan melewati koridor sekolah. Siswi bermarga Oh itu melangkah dengan diam dibelakang Jongin. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Setelah turun dari atap, keduanya bermaksud untuk segera naik kelas.

"Jongin!" sebuah suara menghentikan keduanya. Sehun yang tadi berjalan tepat dibelakang Jongin sempat menubruk punggung namja itu karena tidak sadar Jongin tiba-tiba berhenti.

Sehun melihat sosok gadis mungil dengan mata yang begitu hitam berdiri di depan Jongin. Ia tidak tahu siapa siswi itu, tapi yang pasti dia adalah kakak kelas mereka, sama seperti Luhan.

"Bagaimana sushi buatanku? Kuharap kau menyukainya." Ujar gadis itu dengan senyum yang begitu manis. Sehun tertegun begitu mendengar kata 'sushi' ditelinganya, ia berpikir apa mungkin dia yang dimaksud dengan 'fans' oleh Jongin?

Jongin mengangguk. Lalu dengan kilatnya, tangan-tangan itu menarik bahu Sehun yang sedari tadi berdiri dibelakangnya. Kini ia merangkul bahu Sehun membuat gadis didepannya terkejut, termasuk Sehun.

"Sushi buatanmu enak, kami menyukainya. Gomawo." Ucap Jongin sembari tersenyum-dipaksakan- dan memberikan kotak makan yang sudah kosong itu pada gadis bermata bulat yang masih terdiam membeku setelah mereka meninggalkannya.

.

.

.

Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Sehun berjalan menuju gerbang sekolahnya. Pikirannya masih melayang-layang pada kejadian tadi siang saat dirinya dan Jongin berhadapan dengan salah satu kakak kelasnya yang bermata bulat itu.

Apakah dia yang dimaksud 'fans' oleh Jongin?

Tapi sepertinya dia bukan hanya sekedar fans.

Lalu kenapa gadis itu hanya diam saja?

Apa mereka berdua pernah menjalin sebuah hubungan?

"Aish, untuk apa aku memikirkan itu semua?!" gerutu Sehun setelah sadar dari lamunannya.

Langkahnya terhenti saat matanya bertatapan dengan mata bulat yang baru saja ditemuinya tadi siang. Tiba-tiba ia merasa gugup menatap mata itu. Entah kenapa rasanya sorot mata itu seperti saat Luhan menatapnya. Penuh kebencian.

Siswi bermata bulat itu pun berjalan menghampirinya. Sehun membungkuk hormat saat gadis itu semakin mendekat. Tanpa senyum sedikitpun, gadis itu berjalan melewati Sehun yang kini tengah menegakkan badannya kembali.

Apa dia membencinya?

.

.

.

Jongin merapatkan jaketnya saat udara malam semakin terasa menusuk tulangnya. Entah sudah berapa jam dia terduduk diluar cafe tempat Sehun bekerja. Ia tak memesan apapun, hanya menghabiskan waktunya untuk duduk. Sesekali ia melihat Sehun yang sedari tadi sibuk di dalam cafe. Dan Sehun tidak menyadari ada seseorang menunggunya diluar.

Pintu terbuka saat seorang gadis yang sangat dikenal Jongin itu keluar dari cafe. Dan mata sipit itu membulat ketika mendapati seseorang tengah tersenyum padanya sembari duduk santai.

"Sedang apa kau disini? Cafe sudah tutup, pulanglah!" perintah Sehun datar seperti biasa. Lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Jongin yang segera beranjak dari duduknya. Bokongnya terasa kaku sekarang.

"Seharusnya aku datang jam 10 saja. Menunggu selama 4 jam diluar seperti tadi membuat hidungku membeku." Sehun tertegun mendengar penuturan Jongin lalu menatap namja yang kini tengah berjalan disampingnya.

"Kau... menungguku? Untuk apa?"

"Hanya memastikan kau pulang dengan selamat."

Sehun tertegun untuk kesekian kalinya, "Maksudmu?

"Kau selalu membuatku ingin melindungimu." Kini manik mata keduanya saling bertemu. Sehun menatap Jongin, berusaha mencari arti dari kata-katanya barusan.

"Aku menyukaimu."

.

.

.

Gimana? Lanjut gak?

REVIEW REVIEW REVIEW ^^