MY GIRL
Cast :
Oh Sehun (girl)
Kim Jongin (Kai)
Xi Luhan (girl)
And other cast
Genre :
Highschool lives, Drama, Romance
Rated : T
Author : Ohorat
.
.
.
Play : EXO-K – Baby Don't Cry
07.15 p.m. Sehun turun dari bus. Ia berjalan gontai menuju rumahnya dengan tatapan kosong. Tubuhnya masih terbalut seragam SMA-nya. Kejadian tadi sore masih setia berputar dikepalanya. Seolah seperti potongan film drama yang menyedihkan. Sangat menyedihkan menjadi dirinya waktu itu. Namun ia sudah kehabisan air mata untuk sekedar menangisinya.
"Darimana saja kau?" sebuah suara menyadarkan lamunannya. Ia mendongak menatap seseorang yang tengah berdiri menatapnya datar.
Sehun terdiam. Tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan kakak tirinya itu.
"Sampai kapan kau akan membuat masalah?" Luhan berbalik, hendak masuk ke dalam rumah. Namun suara Sehun menghentikan langkahnya.
"Sampai kapan kau akan membenciku?"
Luhan tertegun mendengar pertanyaan Sehun. Sekarang ia yang terdiam tak tahu harus menjawab apa.
"Apa alasanmu membenciku?"
Luhan melangkahkan kembali kakinya. Tak berniat untuk menjawab pertanyaan Sehun. Namun sikapnya itu membuat adik tirinya kesal. Sehun menarik tangan Luhan membuat gadis bermarga Xiao itu berbalik dan menatap Sehun.
"Katakan yang sebenarnya kenapa kau begitu membenciku?!" lagi-lagi hanya tatapan datar yang ia dapat. Luhan melepaskan genggaman tangan Sehun dilengannya sebelum ia memasuki rumah meninggalkan Sehun yang masih terdiam menahan amarah.
.
.
.
Mengingat kejadian kemarin yang membuatnya menjadi gadis cengeng, Sehun sedikit merasa malas untuk pergi ke sekolah. Bukan sekolah yang membuatnya malas, tapi namja yang akhir-akhir ini berhasil menjungkir-balikkan perasaannya, Kim Jongin.
Tapi setelah dipikir-pikir bukankah ini berlebihan? Sehun sendiri belum menjawab atas ungkapan perasaan Jongin. Seharusnya ia tidak tersinggung dengan perkataan yeoja kemarin, karena Sehun memang bukan pacar Jongin. Mereka hanya dekat dan itu hanya sebatas teman.
"Bodoh!" Sehun menjedukkan kepala yang tertutupi rambut brunette itu ke meja belajarnya. Ia baru tersadar bahwa yang ia lakukan kemarin itu salah. Tidak seharusnya ia pergi dari tempat iitu. Bukankah dengan melakukan itu, ia sudah menunjukan perasaannya?
"Kau memang bodoh." Sehun tertegun mendengar suara yang sangat dikenalnya. Tapi ia tak berniat untuk mengangkat kepalanya. Ia tak mau melihat namja yang menurutnya menyebalkan itu.
"Ya! Kemarin kenapa kau pergi begitu saja?" tanya Jongin namun tak ada jawaban dari Sehun.
"YA!" Jongin menendang meja disampingnya membuat sang empu menggeram kesal dan mendongakkan kepalanya.
"Tidak bisakah kau diam? Tidak bisakah sehari saja kau tidak menggangguku?!" bentak Sehun sampai ia harus mengatur nafasnya karena terlalu emosi.
Mendengar itu, Jongin hanya terdiam lalu menatap Sehun, "Apapun yang mereka katakan tentangku, kumohon jangan percaya. Kecuali jika itu kebaikan."
Sehun mendengus kesal mendengar kalimat terakhir Jongin dan menatapnya tajam.
"Aku serius!" ucap Jongin meyakinkan.
Gadis berkulit putih pucat itu menghela napasnya, "Aku tidak peduli. Apapun yang mereka katakan, aku tidak peduli."
Jongin terdiam. Sungguh, perkataan yang keluar dari bibir gadis disampingnya itu benar-benar membuat dadanya sesak.
"Gara-gara kau mengajakku ke tempat itu, aku jadi bolos kerja!" Sehun memicingkan matanya ke arah Jongin.
"Hanya satu hari, kan?"
"Ya dan gajiku akan dipotong," Jawab Sehun dengan nada menyedihkan lalu kembali menjedukkan kepalanya ke meja, "Kau tidak tahu betapa sulitnya mencari pekerjaan."
Jongin kembali menatap Sehun dalam diam. Ia tahu gadis disampingnya itu bukanlah remaja beruntung seperti dirinya yang bisa hidup tanpa memikirkan uang. Ia semakin merasa bersalah dengan mengajak Sehun seenaknya seperti kemarin.
Saat memperhatikan Sehun dengan posisi kening-mendarat-di-meja, matanya menangkap sesuatu yang membuat tangan kirinya bergerak melepas ikatan rambut Sehun. Gadis itu kembali mendongakkan kepalanya, wajahnya terlihat begitu kesal dengan kelakuan Jongin yang sangat mengganggu itu.
"Ya! Kembalikan!"
"Tidak akan." Jongin memasukan ikatan rambut itu kedalam kantong celananya.
"Apa-apaan kau ini?! Cepat kembalikan!"
"Aku tidak suka kau memamerkan tengkukmu. Jadi, jangan biarkan orang-orang melihatnya." Ujar Jongin sambil mengacak rambut Sehun sebelum melenggang pergi meninggalkan gadis itu yang masih terdiam tak mengerti.
.
.
.
Sebuah motor sport putih berhenti tepat didepan Sehun, ia menghentikan langkahnya dan menatap kesal pada sang pengendara motor besar itu. Mungkin harinya akan selalu terganggu selama ia sekolah disini.
Namja itu membuka kaca helmnya lalu melempar helm lain ke arah Sehun yang refleks segera menangkapnya.
"Ayo naik!"
"Kali ini kau akan menculikku kemana lagi?" Sehun menatap namja didepannya datar. Poker face-nya selalu muncul jika mulai malas dengan kelakuan orang itu.
"Rahasia. Aku sudah bawa 2 helm, jadi kau harus ikut."
Sehun mendengus kesal sebelum kemudian memakai helm yang tadi Jongin lempar.
"Jangan membawaku ke tempat aneh lagi!" Sehun mempererat pegangannya pada jaket Jongin sebelum motor sport itu melaju kencang menembus jalanan.
.
.
Play : EXO-K – Lucky
Jongin menghentikan motornya tepat didepan rumah yang Sehun datangi kemarin. Gadis dibelakangnya turun perlahan lalu menatap Jongin tak yakin. Ia takut kejadian kemarin terulang lagi. Meskipun ia cukup mandiri, tapi jika urusan hati, Sehun memang lemah.
Jongin melepas helmnya sebelum turun dari motor sport miliknya. Ia menatap Sehun seolah tahu akan ketakutan gadis didepannya, "Hari ini mereka tidak datang. Jangan khawatir."
Sehun menghela nafasnya lalu melepas helm yang sedari tadi menempel dikepalanya.
"Aku ingin kau membantuku."
Yeoja berkulit pucat itu mengernyitkan dahinya tak mengerti, "Membantu apa?"
Bukannya menjawab atas kebingungan Sehun, Jongin melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Karena penasaran, Sehun pun mengikuti namja didepannya sampai ruang tamu yang terlihat sangat berantakan kali ini. Jongin benar, ia tidak menemukan dua orang aneh itu lagi disana.
"Kita akan membuat tempat ini menjadi lebih nyaman." Ujar Jongin sembari tersenyum pada Sehun yang menatapnya terkejut seolah mengatakan, 'Yang benar saja?!'
.
Jongin pun mulai mengangkat barang-barang yang sepertinya tidak diperlukan dari tempat itu. Sedangkan Sehun, ia mulai mengatur tata letak sofa dan meja agar terlihat nyaman dari sebelumnya. Terkadang ia bersin karena debu dan sampah yang bertebaran dimana-mana. Sehun heran, apa nyaman dua orang kemarin berpacaran ditempat yang jauh dari kata bersih seperti ini? Apa mereka juga selalu bersin-bersin seperti dirinya? Jika tidak sama sekali, Sehun benar-benar akan memberikan empat jempol untuk mereka.
Setelah selesai dengan sofa dan barang-barang lainnya, Sehun membersihkan lantai marmer itu dengan mengepelnya sampai benar-benar mengkilap. Tak beda dengan Jongin, namja itu mengurus jendela-jendela yang terlihat kusam sampai bersih dan enak untuk dipandang. Ia lupa, kapan terakhir kali membersihkan jendela itu.
Sehun tersenyum melihat hasil kerjanya telah selesai. Ia menghela nafasnya sebelum menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, "Benar-benar melelahkan."
Dan dengkuran halus pun terdengar Jongin ketika ia memasuki ruangan itu sambil membawa minuman dan beberapa cemilan. Sebuah senyuman tercetak diwajah tampannya saat melihat Sehun yang tengah tertidur. Ia mendudukan dirinya setelah meletakkan beberapa cemilan itu diatas meja.
Jongin mendekatkan wajahnya sehingga kedua hidung mereka hampir saja bersentuhan. Ia menatap Sehun intens lalu berbisik, "Gomawo."
.
.
.
"Hoam..." Sehun menguap sembari merentangkan kedua tangannya. Kedua manik matanya terbuka menatap langit-langit yang sangat asing. Tubuhnya refleks menegak saat tersadar ia sedang tidak berada dikamarnya. Ia menyibakkan selimut yang entah sejak kapan menutupi tubuhnya saat tertidur tadi.
Ia melirik jam dinding di ruangan itu, "Jam 9?"
Sehun mendecak kesal karena sudah tertidur selama itu. Bahkan Jongin tidak membangunkannya.
Tunggu, Jongin? Dimana dia?
"Sepertinya tidurmu sangat nyenyak." Sehun menatap seseorang tengah berdiri diambang pintu dengan santai. Ia menggeram kesal sembari melempar bantal sofa ke arah namja itu.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?!"
"Aku tidak tega melakukannya apalagi kau sangat kelelahan tadi." Jawabnya sembari melangkah mendekati Sehun lalu duduk disampingnya.
Gadis itu bangkit dari duduknya sebelum meraih tas dan jas almamaternya, "Antarkan aku pulang!"
"Ini sudah malam, besok pagi aku akan mengantarmu." Jongin menyandarkan punggungnya ke sofa dengan nyaman sambil memejamkan kedua matanya.
"Besok pagi aku harus sekolah!"
Jongin mendecak setelah membuka matanya dan menatap Sehun, "IQ mu benar-benar rendah ya? Bahkan kau tidak bisa mengingat hari."
Sehun menggeram kesal karena baru saja ia mendapat hinaan secara tidak langsung dari namja dihadapannya. Memangnya besok hari apa?
"Besok adalah hari Minggu dan biasanya semua siswa tidak masuk sekolah. Aku tidak tahu kalau kau selalu masuk di hari libur."
Gadis berkulit putih itu memejamkan kedua matanya menahan malu. Kenapa ia sampai bisa lupa. Seharian bersama namja itu benar-benar membuat otaknya mengalami kerusakan.
Sehun kembali mendudukkan dirinya di sofa. Ia tak mungkin pulang sekarang. Jongin juga terlihat masih lelah. Ia tak mau mengalami hal yang tidak-tidak jika Jongin mengendarai motornya dengan keadaan seperti ini.
"Tidurlah lagi." Ucap Jongin tanpa menatap Sehun disampingnya.
Sehun melihat dirinya yang masih terbalut seragam sekolah. Tubuhnya terasa lengket setelah seharian membersihkan tempat itu. Ia tak bisa tidur lagi jika sudah seperti ini.
"Um... Jongin, bolehkah aku menggunakan kamar mandi disini?" Sehun bertanya dengan hati-hati. Mau tak mau ia harus membersihkan dirinya juga.
"Kau ingin mandi?" bukannya menjawab, Jongin malah bertanya balik lalu beranjak pergi menuju sebuah ruangan.
Kebingungan Sehun pun terjawab saat namja itu menghampiri Sehun sembari melempar sebuah handuk padanya, "Aku akan mempersiapkan baju ganti untukmu."
Sehun hanya mengangguk lalu pergi menuju kamar mandi yang terbilang cukup besar itu.
Tubuh ramping itu terendam dalam bath tub yang terisi penuh dengan buih yang ia tuangkan dari sabun cair disana. Rasanya semua lelah yang ia rasakan hilang saat menghirup aroma lilin terapi disampingnya. Matanya terpejam mengingat semua kejadian yang akhir-akhir ini muncul dalam hidupnya. Mulai dari Jongin yang tiba-tiba dekat dengannya, Do Kyungsoo si kakak kelas yang menurutnya menakutkan, dan dua orang aneh yang ia temui kemarin di rumah ini.
'Kau pacarnya Kai?'
'Maksudku Kim Jongin.'
Sehun tersadar dari lamunannya. Ia baru ingat bahwa begitu banyak pertanyaan dibenaknya yang ingin ia tanyakan pada namja yang mereka sebut Kai.
.
.
Setelah selesai dengan kegiatan 'membersihkan diri' Sehun segera memakai baju yang sudah Jongin sediakan diatas ranjang. Sedikit aneh memang saat ia mengenakan baju namja. Sangat kebesaran ditubuh rampingnya.
Ia menatap ke setiap sudur ruangan itu, mungkin itu kamar yang biasa digunakan Jongin, karena hanya ada satu kamar disana.
Matanya menangkap selembar kertas saat Sehun bercermin. Ia mencabut kertas yang tengah menempel itu lalu membacanya.
'Tidur saja dikamarku. Aku tidur duluan.
Selamat malam.'
Hanya kalimat biasa namun bisa membuat Sehun tersenyum.
Gadis itu pun melangkahkan kakinya berniat untuk melihat si penulis memo singkat itu. Senyumnya kembali muncul saat melihat Jongin tengah tertidur pulas diatas sofa. Jantungnya kembali berdegup tak biasa. Entah kenapa detakan itu selalu muncul setiap menatapnya seperti ini. Tapi Sehun belum yakin bahwa ini adalah perasaan special meskipun Jongin sudah lebih dulu menyatakan perasaannya.
.
.
.
Motor sport itu melaju kencang di jalanan Seoul yang masih terlihat lengang. Jam masih menunjukan pukul 7 pagi. Udara dingin pun terasa begitu menusuk sampai ke tulang Sehun yang mau tak mau harus mempererat pelukannya pada namja yang tengah mengendarai motor itu dengan kecepatan diatas rata-rata. Sehun sudah kewalahan dengan memperingati Jongin untuk tidak mengebut di jalanan.
"Setelah sampai nanti, akan kubunuh kau!" teriak Sehun dibalik helmnya. Jongin hanya tersenyum lalu menaikan kecepatan motornya.
.
.
TAK!
Sebuah pukulan mendarat di kepala Jongin yang sudah terlepas dari helmnya. Namja itu hanya meringis sambil mengelus kepalanya setelah mendapat kekerasan dari gadis yang sudah turun dari motornya.
Sehun melemparkan helm yang baru saja dilepasnya ke pangkuan Jongin, "Lain kali aku akan benar-benar membunuhmu!"
"Pulanglah!" perintah Sehun dan hanya mendapat senyuman dari Jongin.
Sehun berbalik setelah mengucapkan terimakasih. Ia berjalan menuju rumahnya meninggalkan Jongin yang masih setia menatap punggungnya yang mulai menjauh.
"Kukira kau tidak akan pulang." Sebuah suara membuat Sehun menatap seseorang yang tengah berdiri dihadapannya. Sehun tergagap saat melihat kakak tirinya. Ia lupa menghubungi orang rumah karena tidak pulang tadi malam.
PLAK!
Sebuah tamparan telak di pipi kanan Sehun. Gadis berambut brunette itu menatap tak percaya pada Luhan yang tengah menatapnya tajam.
Di tempat yang tak jauh dari mereka, Jongin terkejut dengan apa yang baru saja Luhan lakukan pada Sehun.
.
.
.
.
REVIEW DULU YUK! ^^
