Big thanks buat yang udah baca, review, ngefav ataupun ngefollow muehehe(?)
MY GIRL
Cast :
Oh Sehun (girl)
Kim Jongin
Xi Luhan (girl)
Do Kyungsoo (girl)
And other cast
Genre :
Highschool lives, Drama, Romance
Rated : T
Author : Ohorat
.
.
.
"Kau..." Sehun bergetar menatap Luhan. Matanya memanas menahan sesuatu yang sudah bergumul dikelopak matanya, "Kenapa kau menamparku?"
"Apa ibumu selalu mengajarkanmu untuk bermalam diluar? bersama laki-laki, huh?" bentak Luhan dengan mata memerah.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Aku tak mengira kau sejalang itu-"
PLAK!
Kini pipi Luhan yang memerah karena tamparan Sehun.
"Dengar kau! Apa pedulimu aku bermalam diluar? Bukankah kau selalu mementingkan dirimu sendiri?!"
Luhan terdiam, tangannya bergetar memegangi pipinya.
"Dan jangan pernah bawa-bawa ibuku dalam masalah kita!" satu bulir air mata menetes dari ekor mata sipitnya begitu ia melangkah memasuki rumah.
Luhan masih tak bergerak dari tempatnya. Air matanya ikut menetes setelah Sehun meninggalkannya. Dan kemudian gaung mesin motor berhenti tepat disampingnya.
Turun seorang namja setelah melepas helm berwarna hitam itu. Ia menatap Luhan dengan datar, "Tadi malam aku yang memintanya tinggal. Maaf sudah membuatmu khawatir."
Namja itu kembali memakai helm sebelum kemudian menaiki motor sport putih miliknya, "Dia gadis yang baik. Kuharap kau tidak salah paham."
Luhan tetap tak bergeming sampai namja itu pergi menembus jalanan yang begitu dingin.
.
.
.
Angin semilir di pagi menjelang siang itu menerpa helaian rambut Sehun. Ia terduduk dengan memeluk kedua lututnya di atap sekolah. Wajah cantiknya pun tersembunyi diatas kedua lututnya. Sejak kejadian Minggu pagi di depan rumahnya, Sehun lebih suka berdiam diri. Bukan soal Luhan yang menamparnya atau kesalah pahaman yang membuat kakak tirinya menyebutnya jalang. Tapi sesuatu yang membuat Luhan begitu marah padanya. Sesuatu yang belum Sehun tahu. Sesuatu yang menyebabkan Luhan begitu membencinya.
"Bel masuk sudah berbunyi, kau tidak masuk?" tanya seseorang yang tengah berdiri dihadapannya. Sehun tak bergeming, tetap dalam posisinya-menunduk-.
Kesal karena tak mendapat jawaban, namja itu menyeruput minuman yang tengah digenggamnya, "Apa kau tidur?"
"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu." Jawab Sehun datar.
Namja itu terkekeh, "Lalu barusan itu apa kalau bukan bicara?"
Sehun mendecak kesal karena kebodohannya. Kenapa otaknya semakin buruk saja?
Play : EXO-K - The First Snow
"Aku tidak tahu kalau bubble tea begitu enak." Jongin menatap minuman yang tinggal setengahnya itu. Sehun mendongak setelah mendengar kata 'bubble tea' ditelinganya. Ia menatap minuman yang tengah digenggam namja yang entah sejak kapan duduk disampingnya.
Gadis itu menelan salivanya ketika Jongin kembali meminum bubble tea-nya.
"Kau mau?"
Sehun mengangguk lalu merebut minuman bernama bubble tea itu sebelum kemudian meminumnya dengan cepat.
Jongin terkekeh melihat Sehun, "Sepertinya kau haus sekali."
Sehun tak menghiraukan namja disampingnya, ia terlalu sibuk dengan minuman favoritnya.
"Ah, aku lupa! Jika kau menggunakan sedotan bekas mulutku, bukankah itu artinya kita berciuman secara tidak langsung?"
BYURRR!
Sehun kembali memuntahkan minuman yang tadi tengah bersarang dimulutnya. Ia menatap horror pada cup bubble tea yang sudah kosong itu. Sedangkan Jongin, ia hanya melongo seperti orang bodoh saat melihat Sehun.
"Kenapa... kau tidak bilang dari awal?" tanya Sehun pelan namun menakutkan. Ia meremukkan cup itu dengan tangan kanannya lalu menatap Jongin tajam. Seperti vampire yang tengah menemukan mangsanya.
Dan si mangsa mulai gugup karena ketakutan, "Ta-tapi kau tadi merebutnya!"
Sehun melepas cup yang sudah remuk itu. Ia meraba bibirnya dengan bergetar, "Bibirku... KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB KIM JONGIN!"
Suara petir tiba-tiba menggelegar begitu Sehun bangkit dan menerjang Jongin yang tak bisa bergerak karena Sehun tengah menduduki perutnya.
Keduanya saling bertatapan. Jongin menatap takut. Sehun menatap tajam seolah ingin memakan namja dibawahnya.
"SEDANG APA KALIAN BERDUA?!" sebuah suara lantang menyadarkan keduanya. Suara itu lebih menyeramkan dari petir tadi.
Sehun dan Jongin bangkit setelah melihat siapa yang tengah berdiri dihadapan mereka sambil berkacak pinggang. Aura seram keluar dari namja paruh baya berkacamata itu. Sepertinya ia adalah salahsatu guru killer di sekolah ini.
"CEPAT KEMBALI KE KELAS!"
.
.
.
Play : EXO-K - Heart Attack
"Oh Sehun!" Jongin dan Sehun menghentikan langkahnya ketika sebuah suara menginterupsi mereka. Keduanya menatap aneh pada siswi yang tengah tersenyum ramah.
"Boleh aku berbicara dengan Sehun sebentar?" siswi ber-name tag DO KYUNGSOO itu menatap Jongin, meminta izin.
Tak ada jawaban, Jongin malah menggenggam tangan Sehun semakin erat. Kyungsoo melihat tautan tangan mereka dengan senyuman yang tak lepas dari bibir tebalnya.
Sehun melepas tangan Jongin, "Kau pulang saja."
Gadis bermata bulat itu pun merangkul bahu Sehun dan meninggalkan Jongin yang hanya menatap datar keduanya.
.
.
"Aku minta maaf soal waktu itu. Aku tidak bermaksud untuk menakutimu." Kyungsoo menggenggam tangan Sehun saat sampai didalam kelas yang terlihat sepi. Mungkin itu kelasnya.
Sehun tak menjawab, hanya menatap Kyungsoo datar.
"Mungkin kau belum bisa memaafkanku. Tapi, aku harap kau datang." Gadis bermata bulat itu menyodorkan sebuah kartu undangan.
Sehun mengernyitkan dahinya bingung, "Apa ini?"
"Malam ini aku akan merayakan pesta ulang tahunku. Dan ini, aku ingin kau memakainya nanti." Kyungsoo mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kado yang terbungkus cantik dengan pita berwarna biru dipermukaannya.
"Tapi-"
"Aku tidak ingin mendengar penolakan. Aku sangat merasa bersalah jika tidak mengundangmu. Kalau kau tidak ikut, berarti kau tidak mau memaafkanku. Hm?"
Sehun terdiam sejenak, menatap Kyungsoo yang tengah memasang ekspresi memohon.
"Baiklah." Jawabnya sambil tersenyum kaku.
Senyuman mengembang di bibir Kyungsoo ketika mendengar jawaban sang adik kelas. Ia langsung memeluk Sehun, seolah mereka sudah sangat akrab.
"Ah~ aku sangat senang mendengarnya! Tapi, kau jangan memberitahu Jongin. Biar ini menjadi kejutan untuknya. Aku yakin, dia akan senang saat melihatmu nanti malam."
"Benarkah?"
Kyungsoo mengangguk antusias, "Dandanlah yang cantik!"
Sehun pun hanya bisa tersenyum membayangkan dirinya adalah tamu paling cantik di pesta ulang tahun Kyungsoo. Dan Jongin akan datang menawarinya berdansa bersama. Ah~ jantungnya berdegup kencang lagi sekarang.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Kyungsoo menepuk bahu Sehun sebelum pergi meninggalkannya, "Ingat ya, jam 8 tepat!"
Sehun mengangguk lalu menatap kado dari Kyungsoo beberapa menit yang lalu. Senyumnya tak lepas sejak mendengar bahwa Jongin akan menyukainya. Meskipun Jongin memang sudah menyukainya.
.
.
"Lama sekali." Jongin menghentikan Sehun saat gadis itu keluar dari gedung sekolah.
"Bukankah sudah kubilang kau pulang saja?" poker face-nya kembali muncul. Padahal sebelumnya, terus tersenyum tidak jelas. Sehun pun kembali melangkahkan kakinya dengan diikuti Jongin.
"Apa yang dia katakan?" tanya Jongin membuat Sehun teringat dengan kado yang sudah ia simpan di tasnya.
"Hanya meminta maaf."
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu?" Jongin menatap Sehun cemas. Sedangkan yang ditatap, masih setia dengan poker face-nya.
"Tidak ada."
"Lalu kenapa minta maaf?"
Sehun menghentikan langkahnya lalu menatap malas Jongin, "Kau ini cerewet sekali! Cepat ambil motormu!"
Setelah mendecak kesal, Jongin pun menurut saja. Ia berjalan menuju area parkir sekolah untuk mengambil motor sport-nya yang terparkir sejak pagi.
"Tidak mungkin hanya meminta maaf." Gumamnya.
.
.
.
.
Play : 2NE1 - I'm The Best
Dentuman musik terdengar sangat keras. Lampu disco pun menghiasi gelapnya ruangan itu. Orang-orang tak hentinya meliukkan tubuh mereka mengikuti irama lagu yang memang sangat mengundang untuk tidak diam saja. Adapula yang hanya duduk santai sembari menikmati lagu dengan menggoyangkan kepalanya.
Semua orang yang datang tentunya untuk bersenang-senang. Bukan hanya sekedar untuk minum, mereka menggunakan tempat gemerlap ini untuk bermain cinta. Terbukti di setiap sudut ruangan ada saja yang memanfaatkan kegelapan malam dengan bercumbu. Tak ada rasa malu ataupun takut. Ya, mereka sudah terbiasa.
"Beri aku vodka!" perintah seorang namja pada seorang bartender didepannya. Dan sang bartender yang tak lepas dari senyumannya itu segera memulai aksinya menuangkan minuman beralkohol sebelum memberikannya pada namja tampan yang setengah mabuk itu.
"Kemana pacarmu?" tanya si bartender. Yang ditanya hanya menunjukan jari telunjuknya ke arah sofa yang tak jauh dari mereka.
Bartender itu tersenyum saat melihat subyek yang dimaksud tengah berciuman panas dengan namja lain, "Aku meragukan hubungan kalian. Kau selalu membiarkannya seperti itu."
"Dia pun tak keberatan jika aku bermain dengan yang lain," namja itu kembali menenggak vodka-nya, "Kami tidak akan keberatan dengan apa yang kami nikmati."
Bartender itu lagi-lagi tersenyum. Ia sudah biasa dengan orang-orang seperti itu.
"Kris!" sebuah tepukan mendarat dipunggung namja yang hendak meminum vodka-nya lagi. Ia menoleh lalu tersenyum pada gadis dibelakangnya.
"Mana temanmu?" namja bernama Kris itu bertanya saat gadis tadi kini duduk disampingnya.
"Dia belum datang. Mungkin sebentar lagi." Jawab gadis itu sebelum kemudian menatap sang bartender, "Chanyeol, aku ingin minuman yang biasa."
Sang bartender pun kembali memulai aksinya dengan beberapa botol ditangannya.
"Gomawo." Ucap si gadis bermata bulat itu setelah menerima minuman dari Chanyeol, si bartender.
"Apa yang sedang kalian rencanakan kali ini?" tanya Chanyeol membuat keduanya tersenyum menyeringai.
.
.
.
"Kau yakin akan pergi sendiri?" tanya seorang wanita paruh baya pada Sehun yang sedang memakaikan high heels di kakinya.
Sehun mengangguk sambil tersenyum, "Ibu jangan khawatir. Aku hanya pergi sebentar."
"Kau bilang kakak kelasmu yang berulang tahun, lalu kenapa Luhan tidak diundang?"
Sehun menatap kakak tirinya itu yang tengah menatapnya datar dari sofa, "Mungkin dia tidak mengenalnya."
"Baiklah, selamat bersenang-senang. Jika ada apa-apa segera hubungi ibu." Gadis berkulit pucat itu memeluk ibunya lalu pergi.
.
Sehun segera menaiki taksi yang baru saja berhenti didepannya. Sebenarnya ia lebih suka naik bus karena harga transportasinya sangat jauh berbeda dengan taksi. Tapi tidak mungkin juga ia menaiki bus dengan menggunakan gaun dan high heels. Beberapa jam yang lalu gadis itu membuka kado dari Kyungsoo, dan ternyata itu adalah sebuah gaun. Ia sangat senang karena ternyata Kyungsoo begitu baik dan tak seburuk yang ia kira.
Hatinya terus berdebar sepanjang jalan. Tak sabar bagaimana reaksi Jongin saat melihatnya dibalut dengan gaun yang sangat indah. Matanya kembali membentuk bulan sabit saat tersenyum. Ia berharap malam ini akan jadi malam yang indah untuknya.
.
.
"Dia sudah datang." Bisik seorang yeoja pada Kris lalu pergi meninggalkan namja itu yang masih duduk di depan bartender.
Kris tersenyum menyeringai melihat sosok gadis cantik yang baru saja memasuki club. Ia terlihat kebingungan. Tapi bukan itu yang menarik menurut Kris, namja itu sangat suka dengan hadiah Kyungsoo yang tengah dikenakan gadis itu. Gaun berwarna merah menyala yang membiarkan punggung putihnya terekspos. Benar-benar sangat kontras di kulit putih pucat itu. Apalagi rambut brunnete yang biasa terikat itu kini tergerai dengan indahnya.
"Aku tak mengira gadis pendiam seperti dia ternyata sangat cantik. Kau beruntung sekali, Kai." Gumam Kris lalu berjalan menghampiri gadis bergaun merah yang tengah kebingungan itu.
"Oh Sehun?" namja bertubuh jangkung itu memanggil Sehun setengah berteriak, karena musik didalam club benar-benar berisik.
"Ya?"
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."
Sehun mengernyitkan dahinya, ia tak bisa melihat dengan jelas namja dihadapannya. Ya, salahkan saja lampu disco yang gemerlap itu.
"Aku Kris, temannya Kai." Namja itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Namun Sehun diam saja, tak berniat menjabat tangannya.
Ia terlihat ketakutan setelah mengingat siapa namja yang baru saja mengenalkan diri padanya.
Kris pun kembali menarik tangannya, "Um... maaf soal kejadian itu. Tao tak bermaksud menyakiti perasaanmu."
Sehun berusaha mencerna perkataan Kris. Jadi, yeoja yang waktu itu bersamanya adalah Tao.
Kris menggaruk kepalanya yang tak gatal karena Sehun hanya diam saja dari tadi, "Kau pasti mencari Kyungsoo?"
Sehun mengangguk, "Dia kemana? Dari tadi aku tidak melihatnya."
"Dia bilang ingin ke toilet sebentar. Kau tak datang dengan Kai?"
"Tidak. Aku kira dia sudah datang."
"Mungkin sedang dalam perjalanan. Bagaimana kalau kita duduk dulu, disini sangat berisik." Kris menatap Sehun, berharap gadis itu menyetujui tawarannya.
"Baiklah."
Seringai dari bibirnya itu muncul sembari membawa Sehun ke dalam sebuah ruangan. Gadis itu duduk di sofa hitam dengan tak nyaman. Sesekali ia menggosokan telapak tangan ke bahu telanjangnya. Gaun itu mulai tak nyaman ditubuhnya. Apalagi Kris sedari tadi menatapnya sambil menuangkan minuman yang mungkin berkadar alkohol tinggi.
"Apa Kyungsoo masih lama?" tanya Sehun sambil meremas tas kecilnya.
"Aku tidak tahu." Namja itu menenggak minuman digenggamannya. Matanya tak lepas dari Sehun yang sekarang mulai gelisah.
Ia membuka tasnya, mencari ponsel untuk menghubungi Jongin. Tapi, tak ada benda yang dimaksud disana. Ia pasti lupa membawanya karena terlalu semangat.
"Kau mencari apa?"
Sehun mendongak menatap Kris yang tengah berdiri di depan pintu lalu menguncinya.
"Apa yang kau lakukan?" mata sipit itu membulat.
"Hanya memastikan tak akan ada yang menggangu kita malam ini." Kris menyeringai sambil menghampiri Sehun yang mulai ketakutan.
.
.
.
