MY GIRL
Cast :
Oh Sehun (girl)
Kim Jongin (Kai)
Kris
Tao (girl)
Genre :
Highschool lives, Drama, Romance
Rated : T
Author : Ohorat
.
.
.
Play : SJ - It's You
"Sehuna, kumohon angkat!"
"ARRGGHH!" Jongin menggenggam erat ponselnya. Ia benar-benar cemas setelah Sehun tak mengangkat telponnya sejak beberapa menit yang lalu. Berbagai macam pikiran tentang keadaan Sehun, hinggap dikepalanya. Ia semakin khawatir setelah mengingat bahwa Kyungsoo menemui Sehun tadi siang.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, ia pun segera pergi menuju rumah Sehun. Memastikan apa Sehun baik-baik saja, dan ia harap dugaanya benar.
.
.
Namja berkulit tan itu mengetuk pintu rumah Sehun. Ia terlihat sangat panik sampai seseorang membuka pintu itu.
"Siapa?" sosok wanita paruh baya keluar dari rumah. Ia memandang Jongin bingung.
"A-aku teman Sehun. Apa dia ada dirumah?"
"Sehun? Dia baru saja pergi ke acara ulang tahun kakak kelasnya."
DEG!
"Ulang tahun? siapa?"
"Ah, aku lupa. Sebentar, aku ambilkan dulu undangannya."
Jongin semakin panik saat wanita itu kembali masuk ke dalam rumah. Ia harap dugaannya tentang Kyungsoo salah. Ia harap Sehun tak bersama gadis itu.
"Ini," wanita paruh baya itu kembali menemui Jongin sambil menyodorkan sebuah kartu undangan, "Namanya Do Kyungsoo. Apa kau mengenalnya?"
Jongin terkejut setelah membaca lokasi acara ulang tahun Kyungsoo. Lalu meremas kartu ditangannya.
"Aku akan kembali!"
Wanita yang sekilas mirip Sehun itu hanya menatap bingung pada Jongin yang baru saja pergi dengan motornya. Dan dari dalam rumah, Luhan terlihat cemas dengan apa yang baru saja ia lihat.
.
.
Motor sport itu melaju kencang, sekencang debaran jantung Jongin setelah mengetahui bahwa Sehun sedang dalam bahaya. Gadis itu menjebak Sehun. Jongin tahu bahwa Kyungsoo tidak sedang berulang tahun.
Bunyi beberapa klakson, lampu merah, apapun ia abaikan. Yang ia pikirkan sekarang ini hanya Sehun. Gadis yang telah mampu merubah hidupnya, gadis yang telah mencuri perhatiannya, gadis yang telah membuatnya menyatakan perasaannya.
"Aku harap kau baik-baik saja."
.
.
.
"Kumohon jangan lakukan itu!" Sehun terisak. Ia terus saja melempar apapun didekatnya pada namja yang tengah melepas belt hitam dipinggangnya.
"Tenanglah manis, aku tidak akan melukaimu." Kris menyeringai sambil mendekati Sehun yang sudah terduduk diatas lantai.
Namja itu menundukan tubuhnya sejajar dengan Sehun. Ia mengelus rambut Sehun sampai lengan putihnya, "Kau cantik sekali. Bagaimana kalau kau jadi pacarku saja?"
Sehun bergetar ketakutan, ia menepis tangan kasar Kris di lengannya, "K-kau sudah punya Tao..."
Kris tertawa, "Tao? Ya, dia memang pacarku. Dan dia tidak akan keberatan jika aku memiliki pacar lagi."
Sehun menunduk menyembunyikan tangisnya.
Kesal dengan sikap Sehun, Kris pun menahan lengan gadis itu dan mencoba mencium Sehun yang refleks memalingkan wajahnya.
"Kumohon Kris... jangan lakukan ini..."
Seolah permohonan itu hanya angin lewat, Kris tak mempedulikannya. Ia terus saja mendekatkan wajahnya sampai mencoba merobek gaun yang dikenakan Sehun.
Tangisan gadis itu semakin menjadi. Tubuhnya bergetar hebat saat Kris berhasil merobek satu lapis gaun-nya.
BRAK!
Kris menoleh saat pintu terbuka. Ia begitu terkejut mendapati seseorang yang sangat dikenalnya berdiri diambang pintu. Ia terheran, bukankah pintu itu sudah terkunci?
"BRENGSEK KAU!"
Satu pukulan telak di pipi kanan Kris. Namja blasteran Canada itu terjungkal ke lantai. Ia memegangi ujung bibirnya yang sedikit berdarah.
"Sehuna!" namja yang baru saja menghajar Kris itu segera menghampiri Sehun. Hatinya begitu sakit saat melihat gadis itu. Tubuh yang bergetar ketakutan, gaun yang sudah tak seindah saat pertama ia mengenakannya. Tangannya pun menolak saat namja itu berusaha memeluknya.
"Tenanglah Sehuna, ini aku. Ini aku Jongin." Namja itu memeluk Sehun, berusaha menenangkannya.
"Ibu... aku takut..." Sehun terisak dipelukan Jongin.
Namja bermarga Kim itu melirik ke arah Kris yang tengah berdiri dihadapan mereka, "Kau lihat apa yang sudah kau lakukan?!"
Belum sempat Kris menjawab, Jongin semakin panik saat gadis dipelukannya tak bergetar lagi seperti tadi. Sehun pingsan.
"Sehuna! Sehuna, bangunlah! Sehuna!" teriaknya sebelum kemudian mengangkat tubuh ringkih itu ke luar ruangan.
Kris masih terdiam ditempatnya, menatap punggung Jongin yang menghilang di balik pintu. Jauh didalam hatinya, ia sangat merasa bersalah.
.
.
.
Sebuah ranjang beroda terus berjalan memasuki ruangan yang bertuliskan UGD di pintunya. Namja yang baru saja ditolak untuk memasuki ruangan itu mengacak rambutnya frustasi. Dirinya semakin panik sekarang. Sampai sebuah suara langkah kaki mengalihkan pandangannya.
"Dimana Sehun?" seorang wanita yang sempat ia temui tadi duduk disampingnya. Wajahnya terlihat sangat panik, begitu juga gadis yang mengikutinya dari belakang.
"Dia masuk UGD." Jawabnya setenang mungkin.
"Apa yang terjadi, Jongin?" kini gadis kurus itu bertanya padanya.
"Sesuatu terjadi padanya lalu pingsan. Maaf tak bisa menjaganya dengan baik." Jongin menunduk. Ia sangat merasa bersalah.
"Tidak, aku yang tak bisa menjaganya dengan baik." Wanita itu menitikan air matanya, ia mengingat sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya.
"Sesuatu menimpanya saat sebelum ayahmu meninggal." Kini wanita itu menatap gadis yang sedari tadi berdiri dengan raut bingung.
"Ayahku? Memangnya apa yang terjadi?"
"Saat itu mereka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Ayahmu bilang kalau ia hanya ingin membawa Sehun jalan-jalan," satu tetes air mata mengalir dari pipinya, ia terisak, "Entah apa yang dipikirkan ayahmu, ia hampir memperkosa Sehun didalam mobil. Sehun berontak dan kecelakaan itu terjadi."
Gadis kurus itu menatap ibunya tak percaya, "Tidak mungkin ayah seperti itu! Sehun lah yang membunuh ayahku!"
"Kau mau percaya atau tidak, itu terserah padamu."
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?!"
"Karena Sehun melarangku! Dia tidak mau kau tahu soal keburukan ayahmu, dia tidak mau kau semakin sedih setelah ayahmu meninggal... tapi kau malah menjauhi anakku..."
Tubuh gadis itu melemas bersamaan dengan air mata yang mengalir dipipinya, ia terduduk diatas lantai sambil memeluk kaki sang ibu tiri, "Maafkan aku... maafkan aku..."
Jongin hanya diam setelah mendengar semuanya. Tangannya mengepal erat saat ingat apa yang telah dilakukan Kris beberapa jam yang lalu.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Sehun."
.
.
.
"Ayah, kita akan kemana?" seorang gadis SMA itu bertanya sambil melempar pandangannya ke jalanan.
"Nanti kau akan tahu sendiri, Sehunnie." Pria paruh baya disampingnya fokus menyetir sesekali melihat ke arah putri disampingnya.
"Ayah, apa yang kau lakukan!" gadis bernama Sehun itu menepis tangan sang ayah yang sempat mendarat dipahanya.
"Diamlah!"
Pria itu melepas seat belt-nyalalu mencengkram kedua pipi Sehun, memaksa untuk menciumnya. Sedangkan sang putri, hanya berusaha berontak karena perlakuan tak senonoh dari ayahnya.
"Jangan ayah! To... tolong!"
"DIAMLAH!"
Beberapa kancing seragamnya terlepas, Sehun menangis didalam mobil yang mulai oleng itu.
"AYAH KENDALIKAN MOBILNYA! AYAH..."
"AAAAAA!"
.
.
.
"Sehunnie, kau sudah sadar 'nak?" suara wanita yang sangat Sehun kenal itu membangunkannya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali berusaha memperjelas penglihatannya yang sedikit buram. Sudah berapa lama ia tertidur?
"Ibu..."
"Iya, ini ibu..."
Sehun memeluk lengan ibunya erat, "Ibu... aku takut..."
"Ibu bersamamu sekarang, tenanglah..." wanita paruh baya itu mengelus lembut surai putrinya yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Aku takut..." gadis itu bergetar ketakutan. Matanya memerah, membuat orang-orang yang sedari tadi menunggunya sadar hanya bisa menatap nanar.
Sang Ibu menangis sembari menenangkan Sehun dipelukannya, "Ssh, tidak apa. Ibu disini."
"S-Sehuna..." seorang gadis bertubuh kurus menghampiri ranjang Sehun, ia hendak menggenggam tangan sang adik sebelum kemudian ditepisnya.
"Sehunnie, dia kakakmu. Luhan."
Sehun melirik gadis kurus itu, "Luhan? Luhan?"
Yang ditatap hanya mengangguk sembari menitikkan air matanya, "Iya, aku kakakmu..."
"Luhan?"
Gadis bernama Luhan itu segera menarik Sehun ke dalam pelukannya, "Maafkan aku Sehuna... maafkan aku..."
"Luhan... aku takut..." Sehun menangis sejadi-jadinya dipelukan sang kakak tiri.
Jongin tengah berdiri diambang pintu, ia menatap nanar gadis brunnette didepannya. Tangannya mengepal erat setelah melihat gadis itu sangat ketakutan. Marah, ia sangat marah. Gadis itu mengalami trauma berat dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan mungkin, sekarang Sehun tak mengenalinya.
Knop pintu ruangan itu terbuka, Jongin memutuskan untuk keluar dari sana. Hatinya semakin sakit melihat Sehun sekarang ini. Ia takut Sehun tak mau lagi mengenalnya, ia takut Sehun akan melupakannya.
Sebuah lengan menyapa kulit tangannya tiba-tiba, Jongin mendongak mendapati Ibu Sehun tengah berdiri dihadapannya sambil tersenyum, "Aku sangat berterima kasih padamu."
"Tidak, aku tak berbuat apa-apa. Aku membuatnya ketakutan." Jongin menunduk, merasa bersalah.
"Aku tahu kau namja yang baik," wanita itu mengelus bahu Jongin, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada anakku jika kau tak menyusulnya tadi. Aku sangat berterima kasih."
Jongin tertegun mendengar suara tangis dari wanita dihadapannya.
"Dokter bilang, Sehun akan mengalami traumatis dalam jangka waktu yang lama. Aku hanya berharap dia akan kembali seperti dulu," Ia menyeka air matanya, "Kau harus istirahat, pulanglah!"
.
.
.
BUGH!
Seorang namja terpental setelah mendapat pukulan untuk kesekian kali dipipinya. Barang-barang disekitarnya rusak karena hantaman tubuhnya. Sudut bibirnya yang sedikit robek itu mengeluarkan darah. Namja didepannya tak henti memukulnya sampai sebuah suara menghentikannya.
"YA! HENTIKAN KAI!" seorang yeoja berambut blonde menghampiri namja yang tengah terkulai lemas diatas lantai, "Kau tidak apa-apa, Kris? Kai, Kenapa kau menghajarnya?!"
"Tao, untuk apa kau datang kesini?" namja yang terlihat babak belur itu menepis tangan sang yeoja.
"Keluar dari rumahku!" perintah namja bernama Kai itu datar.
Kedua orang itu terkejut menatap namja dihadapannya.
"Kai, apa masalahmu?!"
"KUBILANG KELUAR DARI RUMAHKU!"
"Apa ini karena gadis itu?"
Jongin terdiam, rahangnya menajam menahan amarah.
Yeoja itu mendecih, "Bahkan kau lupa dengan dirimu saat dulu, Kai. Kau lebih bejat dari Kris!"
Jongin masih terdiam, perkataan yeoja itu seperti bumerang untuknya. Ia lupa dengan itu semua. Masa lalu yang telah menghancurkan hidupnya, masa lalu yang sudah lama ia lupakan sejak bertemu Sehun.
Tangannya mengepal erat, "Jangan pernah muncul lagi dihadapanku!"
.
.
.
BUAHAHA PENDEK YA? OTAK SAYA LAGI PADET(?)
MAAF DI PART KEMARIN GA ADA SALAM PENUTUPNYA(?) AUTHOR EMANG AGAK CEROBOH, ENTAH EMANG SELALU CEROBOH(?)
MAKASIH BUAT YANG UDAH REVIEW+NUNGGU LANJUTANNYA ^^
KALO MAU LANJUT, REVIEW YANG BANYAK YA MUEHEHE(?)
