Minna-san, akhirnya Nade meng-update chapter ke-2 dari 'Heaven Knows'. Nade senang minna-san semua mau me-review fanfic ini. Dan, Nade juga berterima kasih atas saran yang minna-san berikan. Yah, mungkin ada beberapa yang tidak bisa Nade penuhi, tapi Nade hargai kesediaan minna-san untuk memberikan saran. Maklum, Nade masih pemula, dan Nade juga manusia. Pasti ada salahnya. Juga, sekolah tempat para tokoh Hetalia ini adalah sekolah asrama. Lalu, untuk beberapa review, Nade berikan balasan sekarang sekalian. XD

Black Sakura : Setelah Nade membaca review dari anda, Nade jadi penasaran fanfic apa yang anda maksud. Jadi, Nade mencari – cari di seluruh Fandom Hetalia yang Bahasa Inggris, dan Nade akhirnya ketemu. Fanfic-nya kalo nggak salah judulnya 'And All That Jazz', ya ? Tenang aja, Nade nggak plagiat, kok. Fanfic ini murni berdasarkan ide sendiri. Yah, kalo anda tanya kenapa, maka Nade jawab 'Heaven Knows', hehehe… XD terima kasih atas review-nya, ya.

Aiko-chan Lummiera : Oh, tenang saja, ada chapter yang ber-lemon ria, kok. #Duagh. Insya Allah, chapter ini ada lemon-nya, walaupun nggak terlalu berat. Cuma lemon ringan aja. Maaf, ya.

Zunyahaha : Untuk soal sifat dan penampilan, Nade sebenarnya cuma sekedar iseng aja. Nade ingin tahu, kalau karakternya agak diberi kelebihan dan kekurangan, responnya pembaca seperti apa. Soalnya, kita nggak bisa selamanya memberikan kesempurnaan kepada Arthur, sementara Alfred dibiarkan seperti orang bodoh. Makanya, Nade membuat Arthur tidak bisa matematika, sehingga ia memerlukan Alfred untuk mengajarinya. Oh ya, untuk masalah spasi, Nade mohon maaf, kemungkinan Nade tidak bisa mengikuti saran anda, karena gaya tulisan seperti itu sudah menjadi kebiasaan Nade dalam menulis fanfic. Nade minta maaf yang sebesar – besarnya, ya.

Asia RyuuBirthday : Nih, sudah Nade update. Katanya Nade bakal dapat liburan bersama France ? Mana ? Nade kepingin nih, jalan – jalan sama France. XD

Zomfg drama males login : Untuk yang spasi sebelum tanda baca, itu Nade mohon maaf Nade nggak bisa ngikutin saran anda, karena itu sudah jadi kebiasaan, jadi kalau mengetik sudah refleks seperti itu. Tapi mungkin untuk yang penggunaan huruf besar bisa Nade ikuti. Terima kasih atas sarannya. Dan untuk kemiripan, jujur Nade nggak tahu kalau ada fic yang mirip dengan fic milik Nade.

Pandawolf : Kalau saya mau jujur, saya baru tahu ada Fanfic judulnya 'And All That Jazz' baru setelah Black Sakura bilang ada fic lain yang mirip dnegan fic Nade. Nade mau konfirmasi bahwa Nade sama sekali tidak plagiat. Jujur, Nade tidak pernah membuka fandom Hetalia yang bahasa Inggris. Jadi, setelah Black Sakura bilang ada yang mirip dengan fic Nade, Nade langsung buka fandom-nya Hetalia yang bahasa Inggris untuk pertama kalinya terus mencari – cari fic yang Black Sakura bilang. Tapi, nggak apa – apa, terima kasih atas sarannya. Ini bisa jadi masukan buat Nade bahwa kalau Nade mau buat fic, harus hati – hati karena ada kemungkinan fic yang mirip dengan fic orang lain.

Apple-Mint Inversion : Hola. Yah, USUK memang pair OTP Nade, walaupun Nade kadang – kadang juga suka Crack Pair. Mungkin memang cerita Nade memiliki kesamaan dengan 'And All That Jazz', tapi jujur, Nade nggak plagiat karena Nade baru tahu kalau ada Fic yang seperti itu baru sekarang setelah banyak yang bilang kalo cerita Nade mirip dengan Fic di Fandom Hetalia yang bahasa Inggris. Tapi tenang saja, Chapter ke-2 dan seterusnya bakal beda, karena memang Nade tidak plagiat. Terima kasih atas review-nya, ya.

Untuk yang belum sempat Nade tulis namanya, Nade juga ucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya atas kesediaan minna-san untuk me-review.

Disclaimer : Hetalia Axis Power punya Hidekaz Himaruya-san

Warning : Arthur's Wetdream, bahasa Vulgar, OOC, OC, miss typo, humor garing, dll.

Keterangan : Paragraf/kata yang dimiringkan = Mimpi/Dalam hati/masa lalu

Selamat membaca ! ^_^

-OooOooO-

Awalnya, aku berpikir bahwa dia itu menyebalkan…

Awalnya, aku berpikir kalau dia itu merepotkan…

Tapi,

Sejak hari itu…

Aku tak bisa berhenti memikirkannya…

Jantungku berdebar – debar ketika aku mendengar namanya…

Darahku berdesir ketika ia menyentuhku…

Dan aku merasakan…

Ada kehangatan dari semua kegiatan yang ia lakukan…

Dan aku tahu, bahwa aku sudah kecanduan akan kehangatan itu…

-OooOooO-

Heaven Knows

By :

NadeshikoLachrymose

-OooOooO-

Baru sehari sejak Kiku tidak bisa mengajariku. Baru sehari sejak aku bertemu dengan Alfred. Baru sehari sejak aku melakukan perjanjian dengan pemuda urakan itu. Baru sehari sejak aku pertama kali belajar dan dekat dengannya. Dan…baru sehari sejak dia mencium pipiku. Aku tidak salah bicara ataupun melihat. Dan aku dapat meyakinkan bahwa otakku masih 100% sehat tanpa cuci otak. Dia benar – benar menicum pipiku.

Alfred mencium pipiku.

Dan sejak saat itu, aku hampir tidak bisa melakukan kegiatan apapun dengan sempurna. Mengapa ? Tentu saja karena di otakku masih terbayang – bayang adegan ketika dia menciumku di ruang ketua OSIS. Setiap kali aku menandatangani dokumen, atau mengerjakan PR, atau belajar, atau apalah, ketika ada jeda satu detik saja untuk beristirahat, maka pikiranku akan langsung melayang ketika Alfred menciumku di pipi. Dan bayangan itu mampu membuat pipiku memerah seperti tomat yang sangat disukai Antonio.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas bibir Alfred yang lembut dan hangat yang menempel di pipiku, senyumannya yang cerah ceria, genggaman tangannya yang erat dan bersahabat, kulitnya yang berwarna cokelat muda dan lembut, membuatku serasa ingin menyentuh kulit itu terus menerus.

Tunggu, tunggu. Kenapa aku malah memikirkan hal yang tak penting seperti itu ? Bukankah seharusnya aku mengerjakan tugas – tugas yang harus kukerjakan sebagai ketua OSIS. Kenapa malah memikirkan Alfred ?

Tapi, aku benar – benar tak dapat menghapus bayangannya dari otakku, bahkan saat aku menutup kedua mataku. Di telingaku sering terdengar suaranya yang ceria itu memanggil – manggil namaku, membuat jantungku berdegup begitu keras.

Uh, oh. Sepertinya pikiranku ini mulai melayang terlalu jauh.

Pikiranku terpecah ketika aku mendengar ketukan di pintu kamar asrama-ku. Aku segera bangun dan berjalan menuju pintu, kemudian membukanya.

"Maaf mengganggu, Arturo." dan aku bertatapan muka dengan seorang gadis cantik asal Venezuela yang berambut cokelat kehitaman yang panjang dan mata hijau Emerald. Di sebelahnya ada seorang pemuda berkebangsaan Argentina dengan rambut pirang gelap dan mata cokelat. Ya, aku mengenal kedua orang itu. Aria Xaviera Soleda dan Leonardo Valerian. Mereka berdua adalah anggota pengurus OSIS. Aria adalah Wakil Ketua OSIS sekaligus bagian pembelian, sementara Leon adalah Bendahara. Kedua anggota ini kabarnya sedang dalam masa…er…pacaran.

"Oh, tidak apa – apa. Ada apa, Aria ?" tanyaku sambil berusaha tersenyum. Aria mengangkat sebelah tangannya dan menunjukkan sebuah bungkusan plastik. "Apa itu ?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.

Aria hanya menatapku dengan datar seperti biasanya. "Aku tidak melihatmu pada saat makan malam bersama, jadi kupikir kubawakan saja kau makanan. Mungkin kau terlalu sibuk untuk makan malam. Nih," katanya sambil menyerahkan bungkusan itu padaku. Oh, aku akhirnya ingat bahwa aku sama sekali tak makan malam karena terlalu banyak perkerjaan. Dengan senang hati, kuterima bungkusan itu.

"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu, ya." kata Aria. Penasaran, aku bertanya. "Kau mau pergi kemana dengan Leon ?" tanyaku. Ia menjawab dengan datar. "Kami mau pergi sebentar untuk membeli beberapa peralatan untuk acara Bazaar. Kita masih kekurangan beberapa hiasan."

Leon, pemuda di sebelahnya itu cemberut. "Aria, kamu dingin sekali. Kita kan sambil kencan juga. Kan sudah lama kita tak jalan – jalan…" keluh Leon sambil memasang muka memelas.

DUAGH.

Terdengar suara cukup keras dan aku berjengit mendengarnya. Setelah itu, kulihat Aria melipat kedua tangannya di dada dan Leon mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya yang menjadi tempat bersarang bogem mentah dari Aria yang jago berkelahi itu.

"Kuperingatkan, kita pergi hanya dalam rangka untuk berbelanja. Bukan untuk berjalan – jalan atau berkencan seperti yang kau katakan sebelumnya, Tuan Valerian." ujar Aria sinis dan dingin. Aku hanya bisa sweatdrop melihat kejadian ini. Kemudian Aria berbalik kearahku.

"Baiklah, Arturo, kami permisi dulu. Maaf kalau sudah mengganggu," katanya sambil membungkuk sedikit kemudian menyeret Leon yang masih dalam pose kesakitan. Aku melambaikan tanganku pada mereka sebelum menutup pintu dan kembali ke meja tulis.

Kuletakkan makanan pemberian Aria diatas meja, kemudian mengambil gelas dari dapur kemudian mengisinya dengan susu dingin yang ada di kulkas. Sambil meneguk susu tersebut, aku membuka bungkusan makanan malamku, dan tersenyum kecil melihat apa yang aku dapat untuk makan malam. Sup krim keju, minced beef dengan kentang, Fettuccini, dan beberapa buah bagel serta roti manis. Diam – diam aku terkikik sendiri ketika melihat makanan itu. Aku tahu, Aria tidak mengambilkan makanan itu melainkan memasaknya sendiri. Terkadang, aku jadi salut akan perhatian yang ia berikan pada semua orang dibalik wajah datarnya itu.

Kemudian aku mulai mengambil sendok, dan memakan sup krim keju terlebih dahulu. Rasanya yang gurih bercampur dengan rasa manis yang lembut membuat nafsu makanku bangkit. Aku baru sadar kalau sebenarnya aku sangat lapar. Tapi, entah kenapa aku tak sadar bahwa aku lapar. Mungkin, karena terlalu banyak pekerjaan yang menantiku diatas meja. Mungkin juga…

karena aku terlalu banyak memikirkan Alfred.

DEG.

Oke, apa yang baru saja aku katakan ? Aku…terlalu…banyak…memikirkan…Alfred ? Ya. Itu yang aku katakan tadi.

Kuacak – acak rambutku dengan frustasi, kesal akan diriku sendiri yang tak mampu melupakan pemuda urakan berambut dirty-blond dan bermata biru yang maniak Hamburger itu.

Karena kesal, aku jadi memakan semua makan malam yang diberikan Aria tanpa pikir panjang. Aku tak peduli apabila besok pagi aku merasa tidak enak badan gara – gara kebanyakan makan atau jika berat badanku naik, ataupun juga apabila besok aku terpaksa harus terkapar di tempat tidur.

Setelah kuhabiskan semua makanan yang ada di hadapanku, aku langsung membereskan semua dokumen – dokumen penting milikku, buku – buku pelajaranku, dan piring bekas makan malam sebelum menuju kamar mandi untuk mengganti bajuku dengan piyama dan menggosok gigi. Aku memutuskan untuk tidur cepat malam ini, daripada aku kepikiran soal Alfred terus – terusan. Rasanya lama – lama aku bisa gila.

Yang lebih mengesalkan lagi adalah, ketika aku sudah sampai di tempat tidur pun aku tetap tak bisa melupakan bayang – bayangnya dari kepalaku. Dengan kesal dan mood yang jelek, aku berguling – guling di kasurku tanpa menyadari kapasitas kasurku yang hanya bisa untuk satu orang, yang berarti kasurku itu berukuran cukup kecil. Aku terus berguling – guling dengan kesal hingga…

GEDUBRAK.

Ya, tubuhku jatuh dari tempat tidur. Jatuh dari tempat tidur dan mendarat di lantai dengan wajah terlebih dahulu. Aku mengerang kesakitan (sekaligus kesal) dan bangun sambil mengelus – elus kepalaku yang terantuk lantai ketika aku menyadari ada sesuatu yang basah di tanganku.

Dan, apa kalian bisa tebak apa yang basah di tanganku, itu ? Cairan kental berwarna merah yang mengalir keluar dari dalam tubuhku.

Darah.

Dahiku yang terantuk lantai itu berdarah. Cepat – cepat aku berlari ke kamar mandi dan menemukan sebuah luka lecet di dahiku yang mengeluarkan darah. Kuambil kotak P3K-ku kemudian membersihkan luka tersebut menggunakan air dan kapas sebelum melekatkan sebuah plester di luka lecet itu.

Aku kembali ke kasur dengan mood yang semakin parah. Lama – lama, aku bisa tak tidur semalaman kalau seperti ini. Aku mencoba memikirkan hal – hal yang indah dan bisa membuatku merasa mengantuk kemudian tertidur.

Yang sialnya tetap saja tidak bisa.

Putus asa, aku 'mengubur' tubuhku hidup – hidup dibalik tumpukan bantal dan selimut.

Kemudian aku tak ingat apa – apa lagi….

-OooOooO-

Di atas tempat tidur, tampak sesosok pemuda berambut pirang keemasan berbaring. Pipinya memerah, bajunya acak – acakan, dan nafasnya tersengal – sengal. Kedua tangannya menggenggam erat helaian rambut dirty-blond dari seorang pemuda lain di atasnya. Pemuda itu menciumi lehernya dengan penuh nafsu sambil sesekali menggigit dan menghisap bekas gigitan itu dengan kuat sehingga meninggalkan bekas kemerahan yang tampak jelas, juga menghasilkan rangkaian erangan – erangan penuh kenikmatan yang keluar dari bibir Arthur.

Alfred, pemuda yang berbaring diatas tubuh Arthur itu sudah meninggalkan banyak bekas merah di dada dan leher Arthur. Kemudian, ia melepaskan bibirnya dari leher Arthur, membuat pemuda itu mengerang karena kehilangan kontak. Alfred tersenyum, kemudian ia mencium bibir Arthur penuh nafsu.

Bibir mereka bersentuhan dan bergerak dengan mesra seperti potongan puzzle. Alfred menjilat bibir bawah Arthur, dan ketika pemuda itu membuka mulutnya, dengan segera ia memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Arthur, mengeksplorasi dan mencicipi setiap inci dari mulut pemuda di bawahnya itu. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari – cari posisi yang nyaman bagi mereka berdua untuk berciuman.

Sesaat mereka terhanyut dalam ciuman itu, merasakan bibir mereka menyatu, merasakan satu sama lain, sebelum Alfred mengakhiri ciuman panas mereka dengan sebuah kecupan singkat.

Arthur yang masih terpesona oleh keahlian mencium Alfred, tidak menyadari bahwa tangan pemuda itu menarik garis transparan dari dagu Arthur, kemudian turun ke dadanya, menuju ke samping, kearah puting kanan Arthur dan meremasnya dengan erotis, sembari mengisap puting kiri Arthur, memaksa keluar desahan – desahan penuh nikmat dari pemuda British itu. Setelah puas mengisap dan menekan puting Arthur, tangan Alfred semakin turun lagi ke perutnya, sebelum akhirnya sampai di celana Arthur.

Celana Arthur sudah membentuk sebuah tenda sebagai hasil dari foreplay yang tadi mereka lakukan. Alfred meremas ereksi Arthur yang masih tertutupi celana itu, menimbulkan sebuah erangan dari tenggorokan pemuda itu.

"N-ngh…ah…" mendengar erangan Arthur yang sangat seksi dan menggoda itu, Alfred semakin bersemangat untuk menyentuh dan meraba ereksi pemuda berambut pirang itu.

"Kau tahu, Arthur…" katanya dengan suara yang berat dan dalam. "Aku sangat menyukai suara indah yang kau keluarkan dari kedua belah bibirmu itu. Oleh karena itu, aku akan melakukan apapun untuk mendengar suara itu lagi." tambahnya dengan seulas seringai di wajah tampannya itu.

Tepat setelah mengatakan hal tersebut, Alfred membuka ritsluiting celana Arthur, kemudian menurunkannya bersama boxer hijau bermotif unicorn miliknya. Alfred terkikik sedikit melihat boxer bergambar unicorn itu.

"Tak kusangka kau yang selalu serius, disiplin, dan galak ini ternyata memakai boxer yang bergambar motif anak kecil." katanya sambil tertawa kecil, membuat pipi Arthur yang sudah merah karena gairah kini semakin memerah karena malu. "D-diam, git !" Gerutunya sambil cemberut.

Arthur baru saja akan melontarkan omelan kepada pemuda America diatasnya, ketika jari – jemari Alfred menyentuh ereksinya yang sekarang sudah terekspos itu, memaksa sebuah erangan dalam penuh kenikmatan untuk keluar dari mulut pemuda British itu.

"A-aahhh…" Arthur mengerang keras sambil mengangkat pinggulnya sedikit. Alfred menyeringai melihat respon Arthur saat ia menyentuh ujung ereksi Arthur yang sudah menegang dan mengeluarkan butiran sperma berwarna putih.

"Ah, ya, begitu sayang. Buat suara – suara itu lagi untukku~" ujar Alfred. Kemudian ia menemukan genggaman yang nyaman di batang penis Arthur, kemudian mulai menggerakkan tangannya itu naik turun, memijat ereksi Arthur.

"A-a-ahhh…Alfred…ngghh…" erangan yang Arthur hasilkan semakin lama semakin keras dan bergairah, menunjukkan bahwa ia sangat menikmati servis yang Alfred berikan. Melihat hal ini, Alfred memijat ereksi Arthur semakin cepat dan keras, membuat pinggul Arthur terangkat, berusaha membuat agar tangan Alfred yang hangat itu terus berada di batang penisnya, menservisnya dengan handal, membuatnya terbang kelangit ketujuh.

Semakin lama, gerakan tangan Alfred yang handal itu semakin cepat, membuat Arthur semakin dekat dan semakin dekat dengan orgasme. Mengetahui hal ini, Alfred melepaskan tangannya, dan menurunkan dirinya hingga wajahnya sejajar dengan ereksi milik Arthur. "Aku akan membuatmu melayang, sayangku." Katanya pelan sambil menjilat bagian bawah ereksi Arthur, membuat tubuh Arthur gemetar oleh nikmat.

"Uggh…" kemudian Alfred memasukkan ereksi itu kedalam mulutnya yang panas, basah, dan hangat. Ia mengisap, menjilat, dan mengeluar-masukkan ereksi itu.

Kali ini, Arthur benar – benar terbang kelangit yang kesepuluh. Tubuhnya gemetaran setiap kali ereksinya itu dimainkan oleh Alfred menggunakan mulutnya. Entah siapa yang mengajari pemuda America itu untuk melakukan blowjob. Apa mungkin ia sering melakukan blowjob kepada orang lain ?

Ketika Alfred memasukkan ereksi Arthur hingga ujungnya menyentuh pangkal kerongkongan Alfred, ia mengeluarkan erangan yang sangat keras, hingga hampir terdengar seperti teriakan penuh nikmat.

"A-AAHH ! Agghhnnn…ohhh…Alfred…Alfred…" nama 'Alfred' diucapkan berkali – kali oleh Arthur seperti mantra setiap kali Alfred melakukan sesuatu yang menurutnya luar biasa kepada penisnya itu.

Setiap isapan, jilatan, dan servis yang Alfred berikan membuat pemuda British itu merasakan perasaan aneh di perutnya. Perasaan aneh itu semakin lama semakin mengumpul di perutnya, bersamaan dengan kenikmatan yang semakin lama semakin menumpuk, membawanya semakin dekat dengan orgasme.

"Ahhh…ahhh…aku…aku mau…" Arthur hampir sama sekali tak bisa memikirkan apapun saat itu. Pikirannya berkabut oleh kenikmatan. "A-AHHHH !"

Dengan satu isapan kuat, Arthur orgasme di dalam mulut Alfred, menumpahkan semua cairan sperma miliknya kedalam mulut Alfred yang dengan senang hati menelan semua cairan itu.

Arthur terengah – engah. Perasaan lega dan nyaman serta sedikit hangat menyelimuti tubuhnya, membuatnya malas untuk bergerak. Tapi, ia tetap merespon sebuah ciuman panas yang Alfred berikan kepadanya, mengajak lidahnya berdansa dalam Waltz yang samar.

Alfred berdiri, kemudian menyeringai kepada Arthur sambil membuka ritsluiting celana jeans-nya dan menurunkannya perlahan. Mata Arthur terbuka lebar melihat sedikit 'pertunjukan' yang Alfred beri kepadanya. Ia bahkan mampu melihat ereksi milik Alfred yang menonjol dari boxer bermotif alien-nya.

'Wow…' pikir Arthur.

Selanjutnya, pemuda America itu duduk kembali, kemudian menurunkan boxer-nya itu perlahan – lahan ketika…

semuanya menjadi gelap.

-OooOooO-

Kubuka kedua mataku dengan kaget. Nafasku terengah – engah, dan butiran keringat bertumpuk di dahiku. Kemudian mimpi yang tadi ada di kepalaku berputar kembali, membuatku shock.

Ah, apa yang aku mimpikan saat tidur tadi ? Kenapa…kenapa aku bisa bermimpi, dan ada Alfred di mimpiku itu ? Dan parahnya lagi, kenapa aku bisa bermimpi berhubungan seksual dengan Alfred, yang baru kurang lebih 2 hari kukenal. Yah, sebenarnya belum bisa dikatakan berhubungan seksual karena ia hanya memberiku blowjob dan handjob yang…

luar biasa.

Oke, mungkin acara jatuh dari tempat tidur semalam sudah membuat salah satu sirkuit otakku bermasalah dan mungkin perlu diperbaiki oleh Psikolog.

Kemudian aku merasakan ada sesuatu yang basah dan hangat di celanaku. Kusibakkan selimutku, dan kedua mataku membelalak ketika melihat bahwa yang basah itu adalah celana piyamaku. Dan yang mejadi sumber basahnya ialah celana boxer-ku. 1 detik berikutnya aku sadar bahwa tanpa kuketahui dan kusadari, aku sudah orgasme dalam tidurku. 2 detik berikutnya aku sadar bahwa aku sudah mimpi basah. 3 detik berikutnya aku sadar kalau yang menjadi objek mimpi basahku itu adalah Alfred !

Kurasakan pipiku memanas ketika aku mengingat – ingat hal itu. Sungguh memalukan.

Sedetik kemudian jam wekerku berdering keras, dan aku menjulur kearah meja untuk mematikannya. Sekarang sudah pukul 6.30 am. Waktunya untuk segera mandi dan bersiap – siap ke sekolah. Normlanya sekolah masuk pada pukul 9.00 am, namun, aku adalah seorang ketua OSIS, maka aku harus datang lebih pagi daripada murid – murid yang lain. Aku juga harus membereskan ruanganku yang berantakan karena aku tak sempat membereskannya kemarin gara – gara Alfred mencium pipiku. Maka, aku segera bangun, berjalan menuju kamar mandi dan menanggalkan piyamaku. Kulirik sedikit celanaku yang basah oleh spermaku, dan memutuskan untuk mencucinya seusai sekolah.

Rupanya, air hangat dapat membuatku rileks dan untuk sejenak aku dapat melupakan apa yang terjadi hari ini, kemarin, dan tadi malam. Namun, aku sadar bahwa aku tak bisa berlama – lama berendam di bathub. Aku sudah berendam selama 10 menit, dan menurutku itu cukup lama. Seusai berendam, kukeringkan badanku menggunakan handuk dan segera mengambil seragamku dan berpakaian. Luka di dahiku belum sembuh, jadi kuputuskan untuk masih memakai plester itu.

Aku merasa tak perlu untuk makan sarapan, karena aku sangat buru – buru hari ini. Aku hanya meneguk segelas susu dingin yang ada di kulkas. Selesai minum aku segera mengambil tasku, menyelempangkannya di bahu, kemudian membuka pintu kamar asramaku. Lorong asrama terasa begitu sunyi dan sepi. Yah, ini karena memang bukan jamnya untuk berangkat kesekolah.

Sambil setengah berlari aku bergegas menuju ruangan OSIS yang terletak cukup jauh dari kamar asramaku. Ketika kubuka pintu geser yang ada di ruangan itu, aku melihat Aria sedang menyapu lantai sambil membereskan buku – buku dan lembaran kertas yang berantakan. Mataku melebar ketika melihat sosoknya. Padahal dia seharusnya pulang lebih malam daripada aku, tapi dia sudah hadir di ruangan ini lebih dulu.

Aria menoleh. "Hola, Arturo. Buenos dias." sapanya pelan. Aku mengangguk. "Selamat pagi juga, Aria." balasku. "Hmm..kamu datang pagi sekali hari ini. Padahal semalam bukannya kamu berbelanja dengan Leon ? Tapi kenapa bisa datang sepagi ini, ya ?" gumamku sambil menggaruk tengkukku yang tak gatal.

Ia tetap melanjutkan kegiatan bersih – bersihnya tanpa menoleh kepadaku. "Karena aku mau." Jawabnya singkat sebelum membuang sampah dan meletakkan kembali sapu yang tadi ia gunakan. Kemudian ia berjalan kearahku dan memperhatikanku dari atas sampai bawah. Alisnya berkerut sedikit.

"Arturo, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan kepadamu." ia berkata dengan serius sambil berkacak pinggang. "Pertama, ada apa dengan dahimu ?" tanyanya sambil menunjuk kearah dahiku. Kuraba plester yang ada di dahiku sebelum menjawab. "Oh, tidak apa – apa, kok. Ini hanya jatuh dari tempat tidur." jawabku jujur. "Yang kedua," lanjutnya. "Kamu ini hari ini kesiangan atau apa, sih ? Kok sampai lupa bercukur ?" alisnya yang berwarna cokelat itu semakin berkerut.

Pertanyaan Aria yang kedua ini membuatku mengerutkan dahi. Bercukur ? Kemudian kuraba daerah sekitar mulut dan daguku, dan aku kaget setengah mati ketika sadar bahwa aku sama sekali belum bercukur dari kemarin.

Aria hanya menghela nafas melihat reaksiku. Ia berjalan kearah tasnya, membuka kemudian mengacak – acak isi tas itu sebentar sebelum menyerahkan sebuah tasa kecil kepadaku. Aku menatapnya heran. "Bercukur dulu di toilet sana. Biar aku yang membereskan ruanganmu." katanya datar.

Seketika kuambil tas kecil itu, dan berlari menuju toilet sambil menggumamkan 'terima kasih' kepada Wakil Ketua OSIS-ku itu.

Bahkan ketika aku sudah keluar dari ruangan OSIS pun, aku dapat mendengar suara tawa tertahan dari Aria.

-OooOooO-

Ketika aku kembali dari toilet, pemandangan di ruang OSIS masih sama dengan saat aku meninggalkan ruangan, hanya saja Aria tak ada dan digantikan oleh Roderich, Ludwig, dan Leon yang sedang asyik bercakap – cakap.

Kubuka pintu geser ruang tersebut, dan ketiga anggota OSIS yang ada di dalam langsung melihat kearahku, kemudian memasang ekspresi mereka yang biasanya mereka pasang. Roderich si Sekretaris dengan ekspresi kalemnya, Leon dengan ekspresi cerianya, dan Ludwig, bagian Kesiswaan dengan ekspresinya yang datar dan serius. Ludwig menyapaku sambil tersenyum tipis.

"Selamat pagi, Arthur. Kau dari mana saja ? Aku melihat tas-mu tergeletak di sini, tapi aku tak menemukanmu. Kau ketinggalan sesuatu di kamar ?" aku menggeleng. Sebenarnya, aku ingin menjawab kalau aku lupa bercukur, tapi aku terlalu malu untuk mengakuinya. Jadi, sedikit merekonstruksi kejadian tak masalah, kan ?

"Oh, aku habis dari toilet." jawabku. "Kalian sendiri sedang apa ? Aria mana ?"

Leon tersenyum ceria kepadaku. "Kami hanya sedang berkumpul di sini, kemudian mengobrol, itu saja. Soal Aria, si seksi itu sedang mengambil beberapa barang di gudang." ia menjawab. Alis mataku terangkat sebelah mendengar panggilan yang diberikan Leon untuk Aria. "Si seksi ?"

Kali ini Roderich yang menjawab. "Apa kau tidak tahu bahwa ukuran dada Aria yang sebenarnya itu mengalahkan ukuran dada Yekaterina Katyusha, saudara Ivan ?" ia balas bertanya sambil menaikkan kacamatanya dengan telunjuk. Aku hanya bisa melongo mendengar penjelasan Roderich yang (sama sekali) tak sesuai dengan penampilannya yang bak aristokrat sejati itu.

Aku berusaha mengalihkan suasana. "Er…baiklah. Sekarang, bagaimana dengan persiapan untuk bazaar kita ?" tanyaku.

Pemuda berambut pirang asal German itu, Ludwig Beillschimdt mengeluarkan sebuah notes dari dalam tas-nya. "Hmm…dari semua yang sudah dikerjakan oleh para anggota OSIS, peralatan untuk bazaar yang kurang sudah dibeli oleh Leon dan Aria, perlengkapan makanan dan minuman sudah beres oleh Kiku. Jadi, dari semua ini yang kurang hanyalah penataan stand dan pendataan tentang daftar penjualan masing – masing, serta persiapan lokasi untuk lomba dan panggung, itu saja." katanya sambil menutup notes tersebut.

"Kalau soal pendataan stand dan penataan stand aku bisa menanganinya." ujarku sambil berpikir. "Tapi, aku tak yakin untuk yang lainnya. Tapi aku tak yakin aku bisa mengerjakan persiapan lokasi lomba dan panggung. Apa kalian sudah menyewa panggung ?" aku bertanya pada Ludwig. Pemuda itu membuka notesnya sekali lagi. "Persewaan panggung sudah diurus oleh Antonio. Katanya panggungnya akan datang dan dipersiapkan 1 hari sebelum acara bazaar dimulai. Jadi, yang belum tinggal persiapan lokasi lomba, itu saja."

Leon menepuk bahu Ludwig. "Memang lomba – lombanya apa saja, sih ? Aku belum dengar soalnya." aku, Ludwig, dan Roderich langsung sweatdrop mendengar pertanyaan Leon yang polos dan lugu itu.

"Lombanya antara lain pertandingan basket antar kelas yang akan dilaksanakan di ruang olahraga, kemudian lomba berenang 200 m di kolam renang sekolah, lomba menghias kue Ulang Tahun, lomba membuat Pastry, dan lomba Cosplay. Apa sudah jelas untukmu, Leon ?" Jawab sebuah suara dari belakang kami semua, suara yang tak asing lagi bagi kami. Suara yang mirip suara Aria, hanya saja lebih berat, dengan gaya bicara yang hampir sama.

Kami menoleh, dan menemukan seorang pemuda dengan wajah yang bak pinang dibelah dua dengan Aria, Alonzo Zaviera Sigfriedo, kakak kembar Aria, anggota OSIS bagian Kewiraswastaan. Ia yang bertugas mengurusi lomba – lomba yang akan diselenggarakan dalam bazaar itu. Memang, Alonzo adalah kakak kembar Aria, namun bukan berarti sifat mereka juga sama. Berkebalikan dengan Ariaa yang cuek, jutek, dingin, dan pendiam itu, Alonzo memiliki sifat yang ceria, terbuka, namun kalem dan tidak berlebihan. Tapi, dibalik sifat manisnya, Alonzo sangat over-protektif pada Aria. Aku ingat, Leon hampir saja dihajar olehnya hingga mati gara – gara ia memeluk Aria.

"Iya, iya, Alonzo. Sudah jelas, kok." jawab Leon sambil tersenyum lebar. Alonzo mengangkat bahu sambil menghela nafas, kemudian berjalan memasuki ruangan OSIS.

Beberapa detik setelah Alonzo datang ke Sekertariat OSIS, Aria berjalan masuk. Ia membawa sebuah kardus yang sangat besar. Lalu, bagaimana caranya membuka pintu ? Bukan Aria kalau tidak bisa membuka pintu hanya karena kedua tangannya direpotkan oleh barang bawaan. Ditendang, tentu saja.

"Aku sudah ketemu apa yang kita butuhkan." Katanya sambil meletakkan kardus besar di lantai itu. Kemudian mata Emeraldnya melihat kearahku. "Oh, Arturo." sapanya. Ketika ia akan membuka mulutnya kembali untuk berbicara, aku merasakan sebuah firasat buruk. Dan sepertinya aku tahu apa yang akan ia ucapkan setelah ini. "Kau sudah selesai ber―" belum selesai ia berbicara, aku sudah membekap mulutnya duluan, kemudian berbisik di telinganya.

"Aria. Jangan bicara soal itu di depan yang lain…" bisikku panik. Ia kemudian mengangguk tanda paham sebelum aku melepaskan bekapan-ku dari mulutnya.

"Ber, apa ?" tanya Roderich. Aria buru – buru menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa – apa." ia menjawab sambil mmebuka kardus yang tadi ia bawa.

Aku menghela nafas lega.

-OooOooO-

Saat ini pukul 10.00 am. Aku sedang berjalan – jalan di sepanjang koridor untuk mencari udara segar. Lama – lama rasanya pusing kalau terus – terusan berdiam di ruangan OSIS dengan setumpuk dokumen yang belum selesai tadi malam. Kemudian, ketika aku melihat bunga – bunga Mawar beraneka warna yang ditanam oleh OSIS sebagai penghias sekolah sudah mulai mekar. Berhubung aku sangat menyukai bunga Mawar, maka kuselakan sebagian waktuku untuk bersandar di jendela koridor dan menikmati bunga – bunga Mawar tersebut. Ditemani dengan sinar matahari yang terasa hangat dan angin yang berhembus sejuk membelai-ku, aku merasakan kedamaian yang luar biasa saat itu. Kedamaian yang tak setiap hari bisa aku dapatkan dimanapun.

Hingga sepasang tangan melingkar di pinggangku kemudian menarik tubuhku hingga punggungku membentur dada seseorang, dan sebuah suara berbisik di telingaku dengan nada yang… sensual.

"Hello, Artie~" Suara itu berbisik di telingaku, membuatku merinding. Sementara siapapun yang ada di belakangku itu semakin mengeratkan tangannya di pinggangku.

Kaget, aku menoleh dan menemukan Alfred, orang yang mengajariku Matematika itu memelukku sambil tersenyum. Namun anehnya, sorot matanya yang biru itu tidak seperti dulu. Tidak polos dan ceria seperti dulu, melainkan terdapat keposesifan dan gairah yang dalam. Dan senyumnya juga tidak seperti dulu yang polos dan lugu. Senyuman yang saat ini lebih terlihat seperti seringai daripada senyuman.

Persis seperti senyuman seorang seme.

Aku menelan ludah.

To Be Continued…

-OooOooO-

Fyuuhh~ Akhirnya selesai juga. Nade nggak tahu apakah Nade terlalu cepat update atau malah kelamaan. Oh ya, sekali lagi, Nade ingin konfirmasi bahwa Nade sama sekali tidak plagiat karena ini pertama kalinya Nade buka fandom-nya Hetalia yang bahasa Inggris. Lagipula, crita Nade yang mulai Chapter ke-2 ini kan beda. Yah, nggak apa – apa lah.

Apakah Minna-san puas dengan Wetdream-nya Arthur ? Lalu, apakah Minna-san sudah bisa menebak Chapter ke-3 ? Tapi hati – hati lho, Nade bisa mengubah jalan cerita sesuka hati Nade. XD. Apakah Minna-san mengharapkan adegan lemon yang benar – benar sour ?

Seperti biasa, Nade tidak menerima Flame, tapi Nade menerima kritik dan saran. Juga apabila ada yang memberikan ide, Insya Allah akan Nade terima.

Akhir kata, Nade nggak bisa ngucapin apa – apa lagi kecuali…

R&R Please !