Ketemu lagi dengan Nade di 'Heaven Knows' Chapter 3 ! XD Maaf ya, minna-san, Nade terlambat meng-update, dan Nade malah dengan bodohnya menulis fic 'For your birthday I'll be your uke !', yang berpairing UKUS dimana England menjadi Seme sebagai Birthday Fic. Oh ya, Nade senang sekali, minna-san semua mau me-review fic milik Nade ini. Review yang Nade terima sampai saat ini benar – benar ngebuat Nade lompat – lompat sambil teriak – teriak kesenangan. Ok, nggak buang – buang waktu, Nade ingin ucapkan terima kasih yang sebenar – benarnya atas kesediaan anda semua untuk membaca dan bahkan merievew fic ini. Balasan untuk review ada setelah cerita selesai.
Disclaimer : Hetalia Axis Power punya Hidekaz Himaruya-san
Warning : Sho-ai, lime, bahasa Vulgar, OOC, OC, miss typo, humor garing, dll.
Keterangan : Paragraf/kata yang dimiringkan = Mimpi/Dalam hati/masa lalu
Selamat membaca ! ^_^
-OooOooO-
Ketika ia menyentuhku…
Aku merasakan ada perasaan aneh,
Yang terus menerus menggangguku,
Sekaligus membuatku ingin terus disentuh olehnya…
Kemudian aku sadar,
Bahwa aku sudah terjebak dalam pesona-nya…
Dan yang aku tahu…
Aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya…
-OooOooO-
Heaven Knows
By :
NadeshikoLachrymose
-OooOooO-
"Hello, Artie~" Suara itu berbisik di telingaku, membuatku merinding. Sementara siapapun yang ada di belakangku itu semakin mengeratkan tangannya di pinggangku.
Kaget, aku menoleh dan menemukan Alfred, orang yang mengajariku Matematika itu memelukku sambil tersenyum. Namun anehnya, sorot matanya yang biru itu tidak seperti dulu. Tidak polos dan ceria seperti dulu, melainkan terdapat keposesifan dan gairah yang dalam. Dan senyumnya juga tidak seperti dulu yang polos dan lugu. Senyuman yang saat ini lebih terlihat seperti seringai daripada senyuman.
Persis seperti senyuman seorang seme.
Aku menelan ludah.
"A-ada apa Alfred ?" tanyaku, berusaha tak terdengar panik.
Ia mengeratkan tangannya, menarikku lebih dekat ke dadanya, dan ia menempelkan bibirnya ke daun telingaku, menggerakkan bibirnya itu naik dan turun, membuat perasaan aneh berkumpul di sekitar perutku. Aku mati – matian berusaha menahan erangan yang memberontak untuk keluar dari mulutku. Aku takut apabila nanti aku mengeluarkan erangan itu, ia akan semakin bernafsu untuk melakukan apa-yang-akan-ia-lakukan itu.
Aku dapat merasakan seringainya di telingaku. "Menurutmu…apa, hm ?" ia bertanya, masih dengan suara rendah dan sensual diiringi dengan hembusan nafas hangat yang menggelitik telingaku.
"A-aku t-tidak tahu…" kataku pelan. Aku dapat merasakan pipiku mulai memerah akibat kegiatan yang ia lakukan itu.
Alfred menyeringai. Salah satu tangannya ia lepas, kemudian meraba – raba paha dan pinggulku, sebelum menyelip masuk kedalam kemeja sekolah yang aku gunakan. Aku dapat merasakan tangannya yang hangat itu membelai perutku dengan gerakan yang pelan, namun menggoda, dan sensual. Membuatku merinding karena sensasi nikmat yang mulai mengumpul di bagian bawah, membuat tubuhku terasa panas.
"Ah, masa ?" tangannya semakin naik, dan naik, dan aku mengerang pelan ketika ia menyentuh puting-ku dan menekannya menggunakan dua jari. "A-ahh…" aku sendiri sampai kaget ketika erangan itu keluar dari mulutku.
Seringai di bibir Alfred semakin lebar daripada sebelumnya. Ia menjadi semakin semangat untuk menekan puting-ku. "Aku suka suaramu itu…" ia mendesah pelan di telingaku sebelum menyapukan bibirnya pelan di sekitar wajahku, tapi menghindari sentuhan sekecil apapun pada bibirku. Entah apa yang ia maksud. Apa ia cuma bermaksud menggoda-ku ? Dan sekarang, dapat kurasakan tangan yang sebelumnya merangkul pinggangku kini mulai membelai dan menyentuh daerah pahaku sambil sesekali diremas.
Oh, aku dapat merasakan darah mengalir dengan deras menuju kearah penis-ku, membuatnya ereksi seketika. Aku juga dapat merasakan bahwa akal sehatku mulai berputar balik. Sekarang aku malah menginginkan sentuhan – sentuhan Alfred di sekujur tubuhku. Kugerakkan kepalaku ke belakang, berusaha menyatukan bibirku dengan bibirnya. Tapi, Alfred malah menjauhkan wajahnya dari depan wajahku, sehingga aku tak bisa meraih bibirnya itu.
"No kissing, baby~" ia nyengir kearahku. Aku berusaha bertanya diantara sensasi kesenangan yang ia berikan kepadaku. "K-kenapa ? Ahh…"
Kemudian, kudengar sebuah jawaban yang tak asing di telingaku.
"Heaven Knows~" ia desahnya dengan nada rendah. Tangannya yang sedari tadi meremas dan membelai pahaku, kini naik perlahan – lahan keraha sebuah tenda kecil yang terbentuk akibat rangasangan yang sedari tadi ia berikan. Ya, kelihatannya penis-ku sudah ereksi seutuhnya. Aku sama sekali tak menyangka bahwa aku bisa se-sensitif ini.
"Oh, apa ini ?" tanyanya sembari meremas ereksiku dari luar celana. "Apa permainan-ku tadi sudah membuatmu terangsang, hm ?" tambahnya. Aku tak bisa menjawab maupun berpikir ketika tangan itu meremas ereksi-ku dengan sebuah remasan kencang. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menengadahkan kepala-ku sambil mengerang keras penuh kenikmatan.
"Nnggghhh…" memori akan mimpi basah yang aku alami semalam sekarangan terbuka lebar. Apa yang Alfred lakukan mirip dengan mimpi basah-ku. Apakah mimpi yang kualami semalam merupakan pertanda bahwa aku tertarik pada pemuda ini ?
"Arthur, aku suka suaramu itu…" Alfred menurunkan wajahnya, kemudian mulai menggigit dan menghisap leherku, meninggalkan bekas kemerah – merahan yang terlihat jelas. Aku menutup kedua mataku, membiarkan mulut dan bibir Alfred menjelajahi leherku, menandaiku, dan men-servis-ku seperti ini. Walaupun awalnya terasa jijik dan tidak nyaman saat aku pertama kali disentuh seperti ini oleh Alfred, namun entah kenapa aku lama – lama menyukainya, dan menginginkan lebih dari semua sentuhan – sentuhan sensual itu.
Kemudian kutahan dagu Alfred agar kepalanya tidak bergerak, lalu kugerakkan kepalaku menghadap wajahnya dan menyatukan bibir kami berdua, dan aku melumat bibir yang sedari tadi berada di leherku itu dengan penuh nafsu. Awalnya, ia tampak kaget dan terkejut, tidak menyangkan bahwa aku akan merespon tindakannya dengan ciuman itu, namun perlahan – lahan ia mulai menciumku balik, tanpa menghentikan servis-nya terhadap penis dan puting-ku, membuat rasa nikmat dari ciuman itu menambah kepuasanku.
Bibirku dan bibirnya menyatu dengan sempurna, seperti kepingan – kepingan puzzle jigsaw. Ia menjilat bibirku, meminta izin untuk memasukkan lidahnya kedalam mulutku agar ia dapat mengeksplorasi rongga mulutku lebih dalam. Dan dengan senang hati aku mematuhi permintaannya. Kubuka mulutku, dan seketika lidahnya yang panas dan basah itu langsung menyerbu masuk, menari – nari didalam rongga mulutku, sembari menjilat dan mencicipi setiap inci mulutku.
"N-nggh…" aku mengerang pelan ketika ciumannya yang panas itu semakin membara. Lidahku bersentuhan dengan lidahnya, menimbulkan percikan listrik tak terlihat di otakku. Ciuman Alfred terasa begitu…berpengalaman. Seolah – olah ia sudah terbiasa mencium orang. Harus kuakui bahwa Alfred adalah pencium yang baik. Entah karena itu adalah pengalaman, atau memang dari asalnya ia sudah seperti itu.
Sebuah pijatan keras di ereksi-ku membuatku mengerang keras dan tak sengaja melepaskan bibir kami berdua, dengan segaris liur yang masih menghubungkan bibir kami.
"Aaahhh…."
Alfred nyengir lebar. Ia kemudian menyatukan bibir kami lagi, tapi tetap melanjutkan ministrasi-nya pada ereksi-ku. Satu lagi hal yang harus kuakui dari Alfred. Ia pandai sekali melakukan banyak pekerjaan dalam wajtu yang bersamaan atau Multitasking.
Aku yang sudah terlanjur kecanduan akan bibir lembutnya dan ciumannya itu, tak keberatan untuk melanjutkan ciuman yang tadi sempat tertunda. Sekali lagi, ia membinta jalan masuk dariku. Tapi, kali ini ia takkan kuberi izin semudah itu. Aku-lah yang sekarang akan mendominasi ciuman ini. Kugigit bibir bawahnya lembut, membuatnya mengerang kecil dan tak sengaja membuka mulutnya. Pada kesempatan itulah, kumasukkan lidahku kedalam mulutnya, mencicipi mulutnya yang berasa seperti Cappuccino itu.
Ia sedikit terkejut, tak menyangka bahwa ia telah didominasi olehku. Namun ia tak melawan, malah membiarkanku mengeksplorasi mulutnya, memaksa sebuah erangan kecil keluar dari dasar tenggorokannya.
"Hngg…"
Mungkin, kami akan terus berciuman seperti ini jika bunyi sebuah barang jatuh tidak muncul.
Aku dan Alfred sama – sama kaget. Kami buru – buru melepaskan bibir kami dengan pipi memerah karena malu. Alfred segera menyingkirkan kedua tangannya dari penis dan puting-ku, sebelum sedikit menjauh dari Arthur.
Di depan kami, seorang pemuda berambut pirang jabrik dengan pipi yang sudah sangat memerah memandangi kami. Ia adalah Stark Van de Lars, pemuda asal Netherland. Buku – buku yang ia bawa berjatuhan di lantai. Ia berdehem sedikit sebelum mengambil buku – bukunya yang berantakan di lantai, kemudian memandang kami dengan wajah yang masih merah.
"Maaf sudah mengganggu kalian berdua. Lanjutkan saja." katanya gugup sambil berlari menjauhi kami.
Setelah melihat sosok Stark yang berlari menjauhi mereka dengan gugup, Alfred tertawa kecil, menganggapnya lucu. Sementara muka Arthur yang awalnya memerah karena sentuhan Alfred sekarang menjadi semerah tomat karena malu sudah tertangkap basah oleh Stark sedang berciuman dengan Alfred. Atau, tadi itu sudah lebih dari ciuman, ya ?
"Hahaha~ dia lucu, ya ?" Alfred tertawa sambil sedikit nyengir kearahku. Aku sedikit gusar karena sikapnya yang tetap santai meski sudah ketahuan oleh orang lain sedang Making Out dengan Alfred. Itu bisa menghancurkan reputasiku !
Dengan gusar aku bertanya. "Kenapa kau bisa begitu santainya ? Apa kau tidak berpikir kalau ini akan mempermalukan kita ? Selain itu…" aku melihat kebawah dan melihat ereksi-ku masih tetap tegak seperti sebelumnya. "…kau membuatku memiliki masalah di bawah sana…" tambahku malu sambil melihat kearah ereksi-ku yang masih membentuk sebuah tenda.
Alfred melihat kearah yang kumaksudkan, kemudian ia tertawa lagi. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Setelah memastikan bahwa sekelilingnya kosong, ia mendekat kearahku, dan mendorongku hingga punggungku menyentuh bingkai jendela. Lalu ia tersenyum. Seringai yang tadi ia berikan saat pertama kali menemuiku muncul lagi di wajahnya. Kemudian tangannya mengelus ereksi-ku dengan lembut, dan aku terpaksa menahan erangan yang seharusnya keluar.
"Apa…" ia berbisik pelan. "…kau mau aku membereskan 'masalah'-mu itu, hm ?" tambahnya, masih tetap dengan seringai ala seme itu di wajahnya.
Kuanggukkan kepalaku dengan malu. Oh ya, aku sangat ingin agar 'masalah'-ku ini segera ia bereskan. Bagaimanapun juga, yang membuatku ereksi seperti ini adalah dia, kan ? Jadi dia yang mau tidak mau harus menyelesaikannya. Tapi, itu tidak seperti ia keberatam untuk menyelesaikan 'masalah'-ku ini.
Kemudian aku merasakan tanganku tertarik. Lalu kulihat Alfred menarik tanganku, dan membawaku ke sebuah tempat. Aku tidak menolak dan menurut saja ketika ia membawaku entah kemana. Yang penting ereksi-ku bisa segera terselesaikan.
Alfred membuka pintu toilet pria, kemudian mengajakku masuk. Ia memilih bilik yang paling ujung, dan mendorongku masuk sebelum mengunci pintunya agar tidak ada yang mengganggu kegiatan kami seperti yang Stark lakukan. Pemuda bermata biru itu kemudian mendorong tubuhku untuk duduk, sebelum ia berjongkok diantara kedua kakiku dan membuka ritsluiting celanaku dan mendorong turun celanaku beserta boxer yang kukenakan hingga di sekitar mata kaki dan ia memandangi ereksi-ku yang sudah tegak dan menegang. Ia nyengir lebar.
"Wow, luar biasa, Artie. Kamu snagat sensitif rupanya~" godanya sambil memandangku yang sudah mendidih karena malu luar biasa. Aku juga dapat merasakan pipiku terasa panas. Alfred memiringkan kepalanya sedikit dan bertanya kepadaku dengan wajah polos.
"Pipimu merah sekali, Artie. Sekarang sudah benar – benar mirip seperti tomat milik Antonio !" Hell, wajah polosnya yang barusan serta perkataan yang baru saja ia katakan rasanya membuat pipi dan tubuhku semakin panas. "…sebaiknya segera kubereskan saja masalah yang ada di hadapanku ini~" ia kemudian menjilat ereksi-ku perlahan – lahan dari bagian bawah hingga keatas, menghasilkan sebuah erangan yang meluncur begitu saja dari dalam mulutku.
"Nnggh….Alfred...ahh…" Alfred melihat kearahku sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sambil mendesis pelan, mengisyaratkanku untuk diam. "Kau tak mau orang mendengar kita berdua, kan ?" bisiknya pelan dengan seulas senyum yang tak bisa dijelaskan terpasang sempurna di wajahnya. Karena tak ingin didengar oleh siapapun yang masuk kedalam toilet ini, maka aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.
Maka, ministrasi Alfred pun ia mulai kembali. Dijilatnya ereksiku itu perlahan, membuatku gemetaran karena rasa nikmat yang dihasilkan oleh sentuhan pada ereksi-ku yang sangat sensitif itu. Semua erangan yang keluar dari mulutku teredam oleh kedua tanganku. Kugerakkan pinggulku maju agar ereksi-ku itu bisa cepat – cepat dimasukkan kedalam mulut pemuda berambut pirang gelap itu.
"H-hngghh…mmhh…" kali ini Alfred memegang batang ereksi-ku, dan matanya memandangku dengan tatapan sensual sembar memberikan sentuhan – sentuhan kecil menggunakan lidahnya, dan kubuka kedua mataku untuk memandang sepasang mata berwarna biru yang ada di hadapanku.
"Kau mau…" jilat. "…agar aku…" gesekan gigi perlahan. "…memasukkan…" jilat lagi. "…benda ini…" hisapan pelan. "…kedalam mulutku, Artie ?" ia kemudian mengisap ujung penis-ku, menelan semua cairan yang keluar dari dalam sana.
Pandanganku sudah buram, dan aku hanya bisa mengangguk lemah sambil sesekali mengerang. Karena tak kuat, aku melepaskan salah satu tanganku yang menutupi mulut kemudian kugunakan untuk mencengkram rambut Alfred dengan keras, hingga pemuda itu mengerang kesakitan kemudian menjauh dari wajahku sambil cemberut dan memegangi kepalanya.
"Hei ! Itu sakit !" ia cemberut. Namun, aku sudah tak tahan lagi. Maka dengan cepat kugunakan kedua tanganku dan kutarik kepalanya hingga mulutnya menyentuh ujung penisku. Kutatap dia dengan mata tajam. "Hisap." Kataku dengan nada memerintah, seperti yang biasa kulakukan ketika aku sedang menyuruh anggota OSIS yang lain untuk melakukan sesuatu. Alfred kemudian menatapku dengan mata yang tajam namun sensual dan seulas seringai di wajahnya.
"Aye, aye, Captain~" ia bersenandung riang sebelum benar – benar memasukkan seluruh ereksi-ku kedalam mulutnya yang panas dan basah itu. Dengan segera kututup kedua mulutku menggunakan tangan untuk mencegah suara yang 'mengundang'.
Lidahnya membuat gerakan memutar di ujung ereksi-ku, sementara dinding – dinding mulutnya menyentuh bagian batangnya. Dengan ahli ia membasahi ereksi-ku yang sudah basah dengan air liurnya. Ia kemudian menggerakkan kepalanya naik turun, mem-blowjob diriku dengan sangat sempurna, hingga membuatku hampir saja menjerit dan mengerang keras – keras jika aku tak menggigit telapak tanganku. Keringat mulai membasahi tubuhku karena kenikmatan yang sedari tadi aku terima. Rasanya tubuhku sangat panas, seperti terbakar. Tapi aku juga menikmati rasa panas itu.
"Nnngghhh….hhgghhh….mmmhhh…." desahan – desahan penuh nikmat keluar dari dalam mulutku. Alfred tambah bersemangat untuk menservis-ku.
Setiap isapan membawaku semakin dekat dengan orgasme. Alfred juga sepertinya sadar akan hal ini, sebab ia semakin cepat menggerakkan kepalanya naik dan turun, juga memainkan batang ereksi-ku dengan menggunakan lidahnya yang amat sangat terampil itu. Dari mana ia belajar untuk melakukan hal ini ?
"Alf..hngghh..m-mau…nggghhh…" aku berusaha memberitahunya bahwa aku sudah hampir orgasme, namun tenggorokanku tak mau membentuk kata demi kata yang akan aku keluarkan. Tapi, kelihatannya pemuda urakan di hadapanku ini sudah paham.
"N-NGHHHH ! Ahhh…"
Dengan satu isapan kuat pada ujung ereksi-ku, aku pun orgasme kedalam mulutnya. Dengan senang hati Alfred menelan semua cairan sperma yang keluar dari dalam penis-ku. Ia kemudian mengeluarkan penis-ku yang sudah lemas dari dalam mulutnya, sementara aku bersandar dengan lemas karena kelelahan. Alfred mengelap sisa sperma-ku yang tak bisa ia telan menggunakan tisu, ia juga membersihkan penis-ku dari bekas – bekas sperma.
"Arthur…" panggilnya dengan suara pelan. Kubuka kedua mataku, dan kulihat Alfred memandangiku dengan seulas senyum lembut yang penuh kasih sayang. Ia mengelus pipiku, kemudian mengecup dahiku dengan lembut sebelum membelai rambutku.
Entah kenapa, aku merasakn sebuah keinginan dari dalam hatiku untuk mencium bibirnya. Maka kupegang kedua sisi wajahnya, dan kutarik hingga bibir-ku dan bibir-nya bersentuhan dengan mesra. Kali ini aku akan mendominasi-nya. Kujilat bibir bawahnya pelan, dan dia dengan senang hati membuka mulutnya, segera lidahku masuk dan menjelajahi seluruh rongga mulutnya. Ia memegang belakang kepalaku, memperdalam ciuman panas kami.
"Mmhhh…" kudengar ia mendesah pelan.
Ketika kebutuhan akan oksigen sudah sangat mendesak, aku dan dia melepaskan ciuman tersebut, menyisakan seutas air liur yang menghubungkan bibir kami berdua. Ia menatapku, dan aku menatapnya balik. Pancaran yang dikeluarkan mata birunya tidak seperti dulu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Pancaran matanya penuh dengan sesuatu yang sangat tidak bisa kubayangkan.
Itu adalah cinta.
Pandangan matanya menunjukkan cinta yang amat sangat dalam. Ia memandangiku dengan tatapan penuh cinta.
"Arthur, aku…" ia tampak ragu – ragu untuk melanjutkan kata – katanya. Namun, tampaknya aku sudah paham tentang apa yang akan dia katakan setelah ini. Aku tersenyum kecil. Tampaknya, pemuda urakan, ceria, dan periang ini akan melewati salah satu masa dalam hidupnya dimana ia harus mengatakan apa yang ia rasakan yang harus mengorbankan harga diri dan memerlukan keberanian. Kemudian kubelai rambutnya lembut, dan ia memandangku dengan muka memerah dan ekspresi yang gugup. Kupandang mata birunya dengan tatapan lembut.
"Tak apa – apa, sayang, katakan saja. Aku takkan marah." Bisikku pelan masih tetap membelai rambut pirangnya. Entah kenapa, kalau ia bersikap manis seperti ini setiap hari, ia akan terlihat sangat imut. Dan mungkin saja aku tak perlu marah – marah kepadanya setiap hari.
Ia kemudian menundukkan kepalanya hingga helaian rambutnya menutupi mata baby blue miliknya. Ia menarik nafas perlahan, kemudian membuangnya dengan sedikit gemetaran, seolah – olah ia sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki saat itu. Lalu ia mengangkat kepalanya, wajahnya yang tadi sudah merah kini semakin memerah. Ia menggenggam kedua tanganku dan menempelkannya di dadanya. Kemudian ia ucapkan kata – kata itu.
"Arthur…aku mencintaimu. M-maukah kau…menjadi kekasihku ?" tanyanya dengan wajah memohon, dan kata – kata yang tepat seperti yang aku duga sebelumnya.
Well, tapi sekarang aku harus memikirkan soal hal ini. Apakah aku mau atau tidak menjadi kekasih Alfred. Kemudian aku teringat dengan mimpi basah-ku yang kualami tadi malam, atau aku yang tidak bisa berhenti memikirkannya. Saat itu juga aku sadar, bahwa bahkan sebelum aku dan Alfred cukup dekat, ternyata aku cukup perhatian padanya. Yah, walaupun melalui omelan – omelan yang terus menerus kulontarkan kepadanya, ternyata itu semua adalah bentuk perhatian yang kuberikan kepadanya. Hell, kenapa aku tidak bisa menyadari hal sepele seperti itu dengan mudah, sih ?
Dan, saat itu juga aku menyadari bahwa tanpa sadar tubuhku sudah menginginkan pemuda yang ada di hadapanku ini. Walaupun hatiku terlambat untuk menyadari bahwa aku sangat menginginkannya, namun detak jantungku yang tanpa kusadari berdetak lebih cepat ketika aku memandangnya, serta perasaan aneh yang selalu bergelombang dan bergemuruh di dalam dadaku sejak ia menyentuhku, sudah cukup menjadi sebuah bukti bahwa aku sangat menginginkan Alfred. Menginginkan tubuhnya, menginginkan jiwanya, menginginkan hatinya, menginginkan setiap inci dari tubuhnya, dari atas hingga bawah, bahkan hingga setiap helai rambutnya. Aku menginginkan detak jantungnya untuk selalu berdebar setiap kali aku dan dia bertemu, bertatapan mata, dan aku juga menginginkan cintanya. Aku ingin hatinya hanyalah milikku seorang, dan hatiku hanyalah miliknya. Dan semua keinginan itu baru saja kusadari saat oni, di dalam salah satu bilik di toilet ini.
Kemudian aku menarik kedua tanganku dari dadanya, dan mata Alfred menunjukkan sedikit rasa takut, takut apabila aku menolaknya. Namun, pancaran rasa takut itu berubah menjadi takjub dan perlahan – lahan menjadi sebuah rasa bahagia ketika aku mengambil kedua tangannya, mendekatkannya ke bibirku, sebelum mengecupnya lembut.
Dengan seulas senyum, aku menjawabnya. "Tentu saja aku mau…" jawabku tenang. Kemudian kurasakan gemuruh yang selalu melanda hatiku perlahan – lahan mencair dan berubah menjadi rasa hangat dan bahagia yang menyelimuti seluruh tubuhku.
Alfred berdiri dan mengangkat tubuhku juga. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, di wajahnya tersungging sebuah senyum bahagia. Mata kami berdua bertemu, dan kami saling memandang satu sama lain dengan tatapan hangat. Kemudian ia bersandar kepadaku, dan menempelkan dahi kami berdua. Ia juga merengkuh tubuhku kedalam tubuhnya, dank au merasa hangat.
"Aku mencintaimu, Arthur Kirkland…" bisiknya lembut.
Saat ini aku sama sekali tak memikirkan soal reputasi-ku. Yang ada dalam pikiranku kini hanyalah aku dan Alfred. Hanya kami berdua, tak ada yang lain.
"Aku juga mencintaimu, Alfred F. Jones…"
-OooOooO-
Setelah membereskan penampilan-ku yang amat sangat berantakan, aku dan Alfred kemudian keluar dari toilet, dan aku merasa sangat lega karena tidak ada yang tiba – tiba menginterupsi kegiatan kami tadi. Meskipun begitu, aku merasa sedikit lelah. Rupanya blowjob yang Alfred berikan tadi cukup menguras tenaga. Maka aku berjalan agak lebih lambat daripada sebelumnya. Alfred nampaknya menyadari hal ini. Ia kemudian melingkarkan tangan kanannya di pinggangku, dan menarikku lebih dekat dengan tubuhnya sebelum bertanya dnegan suara yang terdengar khawatir.
"Artie, kamu tidak apa – apa ?" tanyanya khawatir. "Kamu terlihat sedikit lemas," aku menoleh kearahnya dan tersenyum lelah sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak apa – apa, kok. Hanya merasa sedikit lelah." jawabku. Walaupun aku sudah menjawab seperti itu, tetap saja raut kekhawatiran itu tak lepas dari wajah Alfred.
Lalu sebuah lampu menyala di atas kepalanya.
Ia berhenti berjalan dan memegang kedua bahuku. "Artie, bagaimana menurutmu jika kita membolos hari ini, kemudian berjalan – jalan dan makan di luar ? Anggap saja ini sebagai kencan." Katanya dengan wajah ceria. Aku mengangkat sebelah alis-ku.
"Membolos ?" ia mengangguk. "…kemudian berjalan – jalan dan makan di luar ?" lanjutku. "Iya ! Bukankah kedengarannya menyenangkan ?" pikiranku melayang. Jika aku berkata 'tidak', maka pada akhirnya aku haru menghadapi setumpuk pekerjaan yang belum selesai di mejaku. Tapi, jika aku berkata 'ya', maka aku dapat beristirahat, menikmati pemandangan di luar sekolah, makan di luar, dan juga dapat menghabiskan banyak waktu dengan pemuda di sampingku ini. Bukan pilihan yang sulit.
Aku tersenyum. "Kelihatannya bagus. Aku setuju saja. Tapi kamu yang bayar, karena kamu yang mengajakku, dan ini adalah kencan, kan ?" Alfred melompat senang sambil mengepalkan sebelah tangannya keatas, kemudian mengedipkan sebelah matanya kepadaku, dan aku dapat merasakan rona merah mulai naik ke wajahku. "Tenang saja, sayang. Hero ini akan membayar semuanya !" dan aku merasa sedikit geli melihat ke-hyper-an kekasihku ini.
"Tapi…aku harus menelpon Aria dulu, untuk memberitahu bahwa aku mungkin tak bisa mengerjakan tugasku." Kataku padanya. Ia tersenyum. "Tak apa telpon saja. Kau ingin menelpon si dada besar itu ?" pertanyaan terakhirnya membuatku menelan ludah. Sampai mana orang – orang tahu soal dada Aria ?
Kuambil handphone-ku, kemudian menekan nomor Aria.
"Halo ?"
"Aria ? Ini Arthur."
"Oh, ada apa, Arturo ? Kamu dimana ? Tugasmu belum dikerjakan. Dan aku juga masih repot untuk mengerjakannya."
"Umm…Aria, maaf, aku mungkin tak bisa mengerjakannya. Aku harus pergi, sekarang."
"Eh ?" aku dapat merasakan gadis itu mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa ?"
"Aku…ada kencan dengan Alfred…" jawabku malu – malu. Lalu, setelah itu kudengar sebuah suara di seberang sana.
"Mon Cher Aria, dadamu besar sekali~ izinkan Abang menyentuhmu~" dan suara yang kudengar itu adalah suara Francis. Aku hampir saja Facepalm mendengarnya.
DUAKK
"Jangan sentuh aku, bodoh !" suara teriakan Aria itu membuatku menjauhkan handphone dari telingaku. Alfred memandangku dengan tatapan bertanya dan aku mengangkat bahu.
"Aria ?" kemudian terdengar suara seperti orang yang jatuh.
"Ah, maaf, ya. Tadi ada sedikit gangguan. Saat ini kamu dimana ?"
"Aku habis dari toilet. Kamu sendiri sedang di mana ? Aku barusan mendengar suara seperti suara air," kataku.
"Oh, aku sedang di kolam renang. Aku sedang tidak ada kerjaan, jadi tadi aku memutuskan untuk berenang saja berhubung nanti pada saat Bazaar aku harus ikut lomba renang. Baiklah, kencan sepuasmu sana. Aku tidak ada masalah. Nanti biar aku yang selesaikan pekerjaanmu. Selamat jalan – jalan !"
Aku merasa sedikit lega mendengar perkataan Aria itu. Ah, dia benar – benar baik hati. Walaupun kelihatannya ia cuek dan dingin, ternyata dia punya sisi manis juga. "Ah, terima kasih ya, Aria. Tapia pa benar – benar tidak apa – apa ? Nanti kalau Leon mengajakmu jalan – jalan juga begaimana ? Bukannya kencanmu dengan Leon jadi berantakan ?"
Ia menghela nafas sejenak. "Arturo, aku saat ini sedang benar – benar tidak ada pekerjaan. Daripada aku diam saja dan mati bosan, lebih baik aku menolongmu mengerjakan tugas – tugasmu, kan ? Dan, kalaupun Leon menggangguku, aku tinggal menendangnya keluar jendela." Jawabnya santai.
"Terima kasih, Aria. Bye." Ucapku sebelum menutup handphone-ku, kemudian memandang Alfred yang berdiri dengan tatapan polos bak anak kecil dengan mata lebar, seolah – olah menanyakan sesuatu. Aku tertawa kecil kemudian mengelus pipinya, dan ia memejamkan matanya, kelihatan menikmati belaianku. Hahaha~ dia seperti anak kucing.
"Tenang saja, aku sudah mendapat izin dari Aria. Kita bisa berjalan – jalan sekarang," kataku menenangkan, kemudian menggandeng tangannya dan menggenggamnya erat sambil tersenyum.
Alfred menarik tanganku, dan aku mengikutinya keluar dari sekolah. Membolos selama sehari dengan kekasihmu bukanlah hal yang buruk, kan ? Sambil berjalan, aku menatap langit yang berwarna biru cerah sambil tersenyum diam – diam tanpa Alfred ketahui. Oh ya, hari ini akan menjadi hari yang sangat indah.
To Be Continued
-OooOooO-
Next Chapter : Date with Alfred and Swan Lake
Now Playing : Nana Mizuki-Last Scene
Akhirnya Chapter 3 selesai ! XD Maaf ya kalau Chapter ini lebih sedikit daripada Chapter yang sebelumnya. Dan maaf juga untuk jadwal peng-update-an yang sangat telat, melewati deadline. Nade lagi repot sama latihan Drumband, tugas sekolah, les, dll. Bayangkan saja, mendekati kejuaraan, Nade harus latihan Drumband setiap hari dari sore sampai malam sampai tepar ! Tapi, Nade akan berusaha menyediakan waktu untuk menulis Chapter – chapter yang berikutnya. Oh ya, buat minna-san yang ingin mencari FanPage-nya Venezuela di Facebook, cari saja menggunakan nama : Aria Xaviera Soleda. Pasti ketemu. Nah, untuk balasan dari review – review yang Nade terima, minna-san bisa baca dibawah ini ^_^
Aiko-chan Lummierra : Hee, benarkah ? Buat Nade lime seperti ini masih biasa, karena Nade bisa saja menulis Lemon yang amat sangat Hot. XD Umm…maaf kalo Chapter ini masih Lime, karena Nade pikir kalau Alfred langsung nge-rape Arthur nanti malah Arthur-nya jadi benci sama Alfred, lalu juga alur-nya jadi terlalu cepat. Masa' Chapter ke-3 sudah ada Lemon dan Rape ? Arthur mimpi basah karena dia dari pertama kalinya sebenarnya sudah menyukai Alfred, tapi dia sendiri nggak sadar akan hal itu. Nah, ketika Alfred mulai dekat dengannya, dia perlahan – lahan sadar bahwa ia ternyata sudah menyukai Alfred. Terima kasih atas review-nya, ya !
Black Sakura : Hola ! Sekali lagi, maaf untuk tidak memberikan lemon di Chapter ini. Lalu, kalau mimpi basah Arthur dilanjutin nanti nggak seru, karena nggak bikin minna-san penasaran #dihajar. Arti dari 'Heaven Knows' itu 'Surga yang tahu' atau lebih jelasnya 'Hanya Tuhan yang tahu'. Nade ingin membuat Arthur penasaran dengan semua rahasia yang Alfred punya.
Icha Desu : Hola, Icha ! Salam kenal ! Hehehe, pas bagian itu yang Nade pikir Cuma tentang bagaimana Alfred terlihat saat ia hampir nge-rape Arthur. XD
HirumaManda : Benarkah ? Wah, Nade senang dibilang seperti itu. Rupanya julukan 'Master of Yaoi' yang anak – anak sekelas Nade berikan. Soal a.n, ini sudah Nade laksanakan. XD
BlackFrederic Bonnefoy : Oh, menurut anda begitu rupanya. Yah, Nade ngasih rate M karena takut ada anak kecil nyasar yang tau – tau baca chapter itu trus ntar tanya yang aneh – aneh sama ortu-nya. Nanti Nade dihajar. Nade ngasih rate M karena menurut Nade mimpi basah memang sudha wajar, tapi seperti detail ciuman, kemudian blowjob itubelum pantas untuk anak – anak. Apalagi ini yaoi. Yah, makasih atas review-nya, ya !
Asia RyuuBirthday : Hahaha~ kalau paragraf itu dimiringkan, artinya itu mimpi, dalam hati, atau masa lalu. Dan dengan sangat menyesal Nade belum bisa memberikan Lemon di Chapter ini. Ahh~ Nade keduluan sama Spain, deh. Nggak apa – apa, lah. Akhir – akhir ini Nade lagi demen sama Kirkland Family versi Pirate. Untuk soal ukuran dada Aria, kalau misalnya ukuran dada Ukraine itu ber-cup D, maka dada Aria ber-cup E (memang ada ?). Makasih atas review-nya !
Pandawolf : Nggak papa, kok. Berhubung Nade masih baru, jadi Nade nggak begitu paham kalau di banyak Fic hasil Plagiarisme. Apa anda berkenan ngasih Nade contoh soal Fanfic yang hasil Plagiarisme ? Kalau nggak juga nggak apa – apa, kok.
Oh ya, kalau ada minna-san yang mau memberikan ide – ide buat kelanjutan fic ini, maka Nade dnegan senang hati akan menerima-nya. Dan juga, Nade minta maaf apabila saat Nade meng-update kadang terlalu lama atau sangat terlambat. Selama bulan Mei mungkin Nade akan sangat sibuk karena selain ada Parade Bunga tanggal 8 Mei, lalu tanggal 22 Mei ada Lomba Piala Walikota Drumband, terus akhir Mei ada UAS, jadi Nade bakal sibuk buat belajar. Tapi Insya Allah, selepas bulan Mei dan pertengahan bulan Juni Nade nggak begitu repot karena UAS sudah selesai dan tinggal menunggu pembagian rapot. Pada saat liburan, Nade akan meng-update Chapter – chapter berikutnya dengan cepat. Ah, satu lagi… Nade ingin membuat Fic Straight ber-pairing GermanyXVenezuela dan sebuah Fic Venezuela's Revolutionary War. Apa minna-san setuju dengan ide Nade ini ? Silahkan jawab di review.
Akhir kata, Nade nggak punya apa – apa untuk diucapin kecuali :
R&R please !
