Hola, Nade kembali dalam Chapter 4 ! Kepada semuanya, terima kasih sudah mau me-review Fanfic Nade ini. 0w0 Dan, maaf apabila Nade meng-update Chapter ini melewati Deadline. Menurut Nade, deadline peng-update-an itu seminggu setelah Chapter yang sebelumnya di update. Tolong minna-san maklumi, Nade benar – benar sangat sibuk, seperti yang Nade sudah katakan di Chapter yang sebelumnya. Oh ya, apakah minna-san suka dnegan Chapter yang sebelumnya ? Maafkan kalau Nade tidak bisa memberikan Lemon dan malah hanya memberikan Lime yang nggak begitu 'panas'. Nah, dengan Chapter ini, moga – moga minna-san bisa memaafkan atas keterlambatan dalam peng-update-an ataupun karena tidak memasang lemon. Seperti biasa, balasan untuk review dari minna-san ada setelah cerita selesai.
Disclaimer : Hetalia Axis Power punya Hidekaz Himaruya-san
Warning : Sho-ai, OOC, OC, miss typo, dll.
Keterangan : Paragraf/kata yang dimiringkan = Mimpi/Dalam hati/masa lalu
Selamat membaca ! ^_^
-OooOooO-
Sekarang, hatiku sudah terikat dengannya…
Sekarang, hatinya hanya milikku seorang…
Entah kenapa, aku merasa bahagia…
Namun juga khawatir…
Bagaimana bila akhirnya takdir memisahkan kita ?
Tapi, senyumanmu itu…
Berhasil menghapus ketakutanku…
Dan apa yang kita lakukan hari ini…
Membuatku yakin…
Bahwa kau akan selalu bersama di sampingku…
Sampai kapanpun…
-OooOooO-
Heaven Knows
By :
NadeshikoLachrymose
-OooOooO-
Alfred menarik tanganku, dan aku mengikutinya keluar dari sekolah. Membolos selama sehari dengan kekasihmu bukanlah hal yang buruk, kan ? Sambil berjalan, aku menatap langit yang berwarna biru cerah sambil tersenyum diam – diam tanpa Alfred ketahui. Oh ya, hari ini akan menjadi hari yang sangat indah.
"Nah, sebaiknya kita kemana ?" tanyanya ceria sambil memandangku.
Aku terdiam sejenak. Saat ini yang kuinginkan hanyalah makan pagi. Wajar, tadi pagi aku tidak sarapan dan hanya minum segelas susu dingin—yang mana sangat kusesali keputusanku untuk tidak sarapan karena sekarangan rasanya perutku sama sekali tidak nyaman. Agak perih. Setelah itu, yang kupikirkan adalah jalan – jalan ke taman yang sejuk dan sepi, sehingga aku tak perlu malu ketika aku ingin bermesraan dengan Alfred. Sepertinya itu ide yang sangat bagus.
Aku melihat kearah Alfred sambil tersenyum. Namun, baru saja aku baru akan berbicara, Alfred sudah menyela duluan. "Kita akan…"
"Pergi sarapan karena kau belum sarapan, kemudian jalan – jalan ke taman yang sepi sehingga kita bisa bermesraan tanpa diketahui oleh orang lain, kan ?" katanya lancar dan semangat. Aku melongo. Bagaimana bisa dia tahu ?
"E-eh ? K-k-kok tahu ?" pekikku kaget. Alfred hanya tertawa renyah sebagai balasannya. "Kau tidak sadar kalau kau mengucapkan semua yang kau inginkan, hm ?" ia merendahkan kepalanya sehingga wajahnya sejajar dengan wajahku, dan sangat dekat. Aku merasakan pipiku memerah karena kedekatan antara kami berdua, sehingga aku dapat merasakan hembusan hangat nafas Alfred tepat di bibirku.
"Kamu manis sekali," katanya sebelum mengecup bibirku lembut. Sekarang rasanya aku sudah mendidih lebih dari semangkuk sup.
Aku memalingkan wajahku agar mukaku yang seperti tomat itu tidak ditertawakan lagi olehnya. Ia tersenyum, kemudian berdiri normal sambil mengacak – acak rambutku dan tertawa lepas.
"Sudahlah, hal seperti itu tidak perlu dipikirkan ! Lebih baik, sekarang kita berangkat~ !" ia merangkul bahuku, dan mulai berjalan – jalan. Kusandarkan kepalaku ke bahunya, menikmati kehangatan tubuhnya yang ia salurkan kepadaku.
Matahari bersinar terang, dan langit biru memayungiku. Ah, benar – benar hari yang sangat indah. Aku membayangkan bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangaaat indah. Apalagi dengan kehadiran Alfred di sampingku. Membuatku semakin bersemangat.
Kemudian, pikiranku mulai melayang kemana – mana. Apa yang sebenarnya membuat Alfred jatuh cinta kepadaku ? Apa juga yang membuatku jatuh cinta (secara tidak sadar) kepada Alfred ? Pesona apa yang ia miliki hingga ia mampu menarik perhatianku ? Dan setan apa juga yang membuat hatiku terebut dengan begitu mudahnya oleh pemuda urakan (namun mempesona) itu ? Lalu, kenapa setiap kali aku bertanya kepadanya, jawabannya hanya dua buah kata singkat, yaitu 'Heaven Knows' ? Oke, aku tahu 'Heaven Knows' berarti 'Hanya Tuhan yang tahu', tapi itu berarti ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku, kan ? Apa itu ?
Arrghh ! Semua ini malah membuatku pusing !
"Eh, mau makan di situ ?" panggilannya membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, dan menemukan restoran Deli tak jauh dari kami. "Deli ?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku. Pemuda berambut cokelat itu mengangguk. Melihat wajahnya yang polos, aku tak mampu menolak permintaannya. Maka aku tersenyum dan mengangguk.
"Tak masalah buatku." Jawabku santai. Alfred langsung bersorak riang bak anak kecil. Lagi – lagi aku hanya bisa geli sendiri melihat tingkahnya yang amat sangat childish itu. Walaupun terkadang ia bisa jadi seorang seme yang ganas.
Saat masuk, kami disambut oleh seorang waitress berambut kemerahan yang diikat pony-tail. Ia tersenyum manis menyambut kami berdua. Di tangannya terdapat sebuah menu.
"Selamat pagi !" sambutnya ceria. "Kursi untuk 2 orang ?" tanyanya. "Ya. Oh, dan tolong berikan tempat yang agak sepi namun tetap nyaman." Pinta Alfred. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku memiringkan kepalaku. "Kenapa harus tempat yang sepi ?"
Ia tidak menjawab sampai ketika waitress tadi mengantarkan kami ke meja.
"Kau mau, kita berpacaran berdua, menggunakan seragam sekolah, dan dilihat orang banyak ?" tanyanya sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja kayu berlapis kain putih berenda. Mata birunya menatapku dengan pandangan jujur. Lagi – lagi, kurasakan pipiku mulai panas. Kupalingkan wajahku agar tidak dilihat olehnya.
"T-tentu saja tidak." Jawabku malu – malu. Ia terkekeh. "Kalau begitu, tempat ini pilihan yang bagus, kan ?" ia melihat sekelilingnya. "Sepi, tak banyak orang, hanya kamu dan aku. Kita berdua yang ada di sini."
Entah kenapa, saat ini Alfred terlihat sangat…indah. Ia memandang keluar melalui jendela, dan sinar – sinar matahari pagi yang hangat menyinari wajahnya, membuatnya terlihat seperti malaikat pagi. Sementara angin lembut membelai wajahnya, menyapu beberapa helai rambut dari wajahnya yang berkilauan oleh timpaan sinar matahari.
Ah, dia benar – benar mempesona.
Mungkin, aku benar – benar beruntung untuk memiliki kekasih seperti dia. Walaupun dia terkadang menyebalkan, namun dalam beberapa saat tertentu ia bisa menjadi seperti malaikat yang turun dari surga. Tampan, indah, mempesona, manis, dan tenang. Coba saja kalau setiap hari dia bersikap tenang seperti ini di depan yang lain, mungkin saja dia akan cukup populer di sekolah.
Eh, tapi, meskipun dia bersikap agak over-pun di sudah populer di sekolah.
"Kau mau makan apa, Arthur ?" panggil Alfred, menggerakkan menu di depan mataku. Aku kaget, dan mengerjapkan mataku berkali – kali sebelum mengambil menu itu dari tangan Alfred dan mulai memilih.
Untuk sekarang, aku tak menginginkan sesuatu yang berat, namun cukup untuk memberi energi untuk menghadapi setumpuk dokumen yang menantiku di ruang Ketua OSIS dan tugas – tugas lainnya. Kecuali kalau Aria sudah mengerjakan sebagian dari tugas – tugasku itu. Setidaknya aku punya tenaga untuk menghabiskan hari ini.
Setelah memilih, Alfred memanggil kembali waitress yang tadi menyambut kami di pintu depan. Wanita itu berjalan ke meja kami, tersenyum manis, kemudian mengambil sebuah buku catatan dan sebuah pulpen dari dalam saku kemeja-nya.
"Apa yang anda pesan ?" ia bertanya dengan sopan.
"Um…Beef Mozarella Steak, dan Earl Grey Tea." Kataku sambil tersenyum. Ia mengangguk, dan menulis di buku catatannya. Sementara Alfred menatapku dengan pandangan heran. "Earl Grey Tea ? Kau suka minuman yang tak ada rasanya dan pahit begitu ?" ia bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Aku kemudian menatapnya dengan pandangan tajam. "Apa salahnya kalau aku menyukai Earl Grey Tea ? Apa karena hal itu kau jadi membenciku ?" mendengar ucapanku yang (sangat) tajam itu, Alfred buru – buru mengangkat kedua tangannya dengan panik.
"A-aku tidak bermaksud begitu ! Aku hanya heran saja. S-sebab jarang ada orang yang suka pada Earl Grey Tea. J-jadi jangan marah, ya, Arthur ? Please ?" pintanya dengan muka memelas bak anak anjing yang baru saja dibuang di tengah hari berhujan. Aku menghela nafas kemudian melihat kembali menu yang ada depanku. "Tenang saja. Aku hanya bercanda." aku memandangnya lagi. "Sekarang, kau mau pesan apa ?"
Ia kemudian memandangi waitress tadi. "Aku mau pesan Double Cheese-burger 5 porsi dan Coca Cola ukuran Large !" sekarang giliran aku yang memandanginya dengan heran. "Kenapa Arthur ? Kamu melongo seperti buaya yang sedang berjemur." Ia bertanya polos.
"T-tidak." Kataku sambil menutup kembali mulutku. "Hanya heran saja kenapa kamu bisa makan sebanyak itu." Alfred tertawa. "Aku belum sarapan, dan sekarang perutku ini mengerang minta diberi makanan." ia mengelus – elus perutnya. Aku facepalm.
"Baiklah, silahkan tunggu." Waitress tadi membungkukkan badannya sedikit, mengambil menu, lalu pergi sambil setengah berlari menuju dapur. Setelah waitress tadi benar – benar pergi, aku memandangan Alfred, tak tahu apa yang harus kami bicarakan berdua. Ini…bisa dibilang adalah kencan yang pertama kali kami lakukan tepat setelah Alfred menembak-ku.
Meskipun begitu, aku akan mencoba untuk mencairkan suasana yang lama – kelamaan mulai membeku ini.
"Alfred,"
"Arthur,"
Kami berpandangan ketika kami bersama – sama mengucapkan nama satu sama lain. Aku memandangi mata biru langitnya dalam – dalam, dan ia juga memandangku. Rasanya lama – lama aku merasa ditelanjangi oleh pandangan mata yang begitu dalam itu. Pipiku perlahan – lahan mulai terasa panas. Ya, reaksi normal yang ditimbulkan apabila kekasihmu menatapmu dengan pandangan yang begitu…intense.
"Kau duluan," kataku sambil memalingkan wajahku, malu.
"Tidak, kau duluan." Balas Alfred balik.
"Kau dulu." Balasku lagi.
"Tidak, kau dulu."
"Tidak mau, kau yang duluan."
"Tidak~ kau yang duluan."
"Kau duluan, Alfred."
"Tidak, kau yang duluan bicara, Arthur."
"Alfred, for the sake of God―"
"Arthur-ku tersayang, aku ingin kau yang duluan bicara, my dearest one," kata – katanya membuatku bungkam seketika.
Aku menghela nafas. Baiklah, aku yang akan mengalah. Aku akan bicara duluan. Kalau perdebatan ini dilanjutkan, bisa – bisa sampai pulang pun kami masih akan terus berdebat. Nasib memiliki pacar yang kepala batu (padahal sendirinya juga kepala batu).
"Baiklah." Aku menghela nafas sekali lagi, lalu memandangnya dengan serius sambil menggerakkan tanganku di pipinya dalam gerakan memutar. "Aku mencintaimu, dan aku harap kau akan selalu mencintaiku juga, sampai kapanpun." Kemudian kutarik tanganku kembali. Alfred diam sesaat, sebelum ia mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapanku.
"Janji." Ia memasang senyuman termanisnya. Aku membalas senyumannya dan kemudian mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya. "Aku juga berjanji, bahwa aku akan terus mencintaimu, sampai kapanpun." Pipinya sedikit memerah, dan harus kuakui ia benar – benar sangat mempesona jika pipinya memerah seperti itu.
Setelah itu kulepaskan jari kelingkingnya, dan bersandar di sandaran kursi sambil menutup mata dengan perasaan damai dan tenteram. Angin yang berhembus lembut rasanya sangat nyaman, hampir membuatku merasa mengantuk.
Tapi tiba – tiba, muncul suatu firasat buruk di kepalaku. Bagaimana…bagaimana bila nanti, entah kapan, Alfred melupakan janji yang ia ucapkan hari ini, kemudian mengingkarinya, lalu pada akhirnya Alfred akan meninggalkanku begitu saja ? Oh, aku sangat tidak ingin hal itu terjadi. Dalam mimpi pun aku tidak mau. Tapi jika melihat sifat Alfred yang kelewat berlebihan dan terbuka dengan siapa saja, rasanya hal yang seperti tadi itu mungkin saja terjadi.
Dan…bagaimana jika hal itu benar – benar terjadi ? Apa yang harus aku lakukan ? Apakah aku harus merelakan pemuda yang kucintai itu menjauh dariku, memutuskan ikatan cinta denganku, kemudian melepaskannya ke pelukan seseorang lain yang belum dapat dipastikan seperti apa cintanya kepada Alfred ? Apa yang harus aku lakukan ? Ataukah…aku harus berjuang mati – matian untuk mendapatkan cinta Alfred kembali kepadaku ? Tapi, bagaimana pula jika setelah semua perjuangan yang sangat berat itu, cinta Alfred tetap saja tidak mau kembali ? Apa yang akan aku lakukan ?
Pertanyaan – pertanyaan yang sedari tadi muncul secara terus menerus di kepalaku rasanya membuat kepalaku pusing. Aku mengerutkan dahiku, dan memijat pelan dahiku yang terasa berdenyut – denyut seperti baru saja dipukul oleh palu sambil mendesah pelan.
"Arthur ?" suara Alfred memanggilku, dan aku mendengar sedikit kekhawatiran di nada suaranya.
Kubuka kedua mataku, dan tersenyum lemah. "Ya, Alfred ?"
Alfred menundukkan kepalanya sedikit dan senyum di bibirnya memudar. Kedua alisnya bertautan, dan terlihat secercah kesedihan di mata biru langit itu. Aku merasa agak heran sedikit.
"Kau…masih belum bisa mempercayaiku sepenuhnya, ya ?" ia mengangkat kepalanya, dan tersenyum lemah sekaligus sedih kearahku. Jantungku serasa berdetak lebih cepat. Bagaimana bisa…dia tahu pikiranku ? Atau mungkin, ia mampu membaca ekspresi wajahku, ataukah itu hanya sekedar insting yang ia miliki ?
Ia kemudian menunduk lagi. "Tidak apa – apa, kok." Helaan nafas pelan. "Kalaupun kau masih belum bisa mempercayaiku sepenuhnya, tidak apa – apa. Aku akan terus menunggu sampai pada hari dimana kau bisa mempercayaiku sepenuhnya. Dan, sambil menunggu hari itu, aku akan terus membuktikannya kepadamu, bahwa aku pantas untuk kau percayai.." Alfred meraih kedua tanganku, kemudian mengecup punggung tangan-ku lembut. "Kau bisa pegang kata – kataku."
Aku terhenyak. Tak kusangka, Alfred ternyata sampai memikirkan sampai sejauh itu. Benar – benar tak kusangka. Saat ini, aku hanya bisa menatap matanya yang memandangku dengan tulus dan jujur, suatu pandangan yang amat jarang terlihat apabila sedang di sekolah.
"Silahkan, pesanan anda," waitress yang tadi mendorong sebuah kereta makanan, kemudian meletakkan pesanan kami di meja. Diantara kami berdua, yang menghabiskan banyak tempat untuk makanan pesanan ialah Alfred. Bagaimana tidak ? Double-Cheeseburger sebanyak 5 porsi dan segelas Coca-Cola ukuran Large dia makan sendiri. Dasar.
"Ayo makan !" dengan semangat―dan seolah melupakan topik yang tadi baru saja aku dan dia bicarakan, Alfred mulai membuka bungkusan Double-Cheeseburger yang pertama, dan memakannya dengan lahap seolah – olah ia belum makan selama seminggu. Aku hanya memutar kedua bola mataku kemudian mulai memakan Beef Mozarella Steak yang tadi kupesan. Ah, akhirnya aku bisa makan juga. Lapar sekali rasanya.
Ketika potongan daging berisi lelehan keju Mozarella itu masuk kedalam mulutku dan meluncur kedalam kerongkonganku, aku mendesah pelan karena rasa awesome yang berputar – putar di rongga mulutku, membuatku ingin untuk memakan lebih banyak lagi. Maka segera kupotong beberapa potongan Steak lagi, dan memakannya satu demi satu. Kemudian, kurasakan sebuah pandangan geli dari pemuda di hadapanku.
Alfred memandangiku.
Aku menaikkan sebelah alisku (yang tebal). "Kenapa, Alfred ?" ia menggelengkan kepalanya, tersenyum manis. "Tidak apa – apa, kok. Hanya senang saja melihatmu begitu menikmati makanan itu." Aku tersenyum kecil membalas dan kemudian memakan potongan daging yang berikutnya. Saat kugigit, ada seutas lelehan Mozarella diantara mulutku dan garpu.
"Kau terlihat seksi saat makan Steak itu."
Perkataan yang barusan Alfred ucapkan hampir saja membuatku antara ingin menyemburkan apa yang ada di dalam mulutku ataupun tersedak.
Kutelan daging yang ada di mulutku dengan susah payah. "Apa kau bilang tadi ?"
Alfred memutar bola matanya, kemudian membuka bungkusan Double-Cheeseburger yang ketiga.
"Kau dengar aku. Kau. Terlihat. Seksi. Saat. Makan. Steak. Itu." Ia mengulangi perkataannya, memberikan penekanan pada setiap kata, kemudian memakan Double-Cheeseburger-nya. Aku berdehem pelan untuk menyembunyikan rona merah yang mulai merayap ke pipiku, lalu melanjutkan menghabiskan Beef Mozarella Steak-ku.
Setelah habis, kuambil Earl Grey Tea, dan menyeruputnya pelan, menikmati aroma yang khas dan rasa yang nikmat dari teh itu. Alfred juga melakukan hal yang sama, hanya saja ia mengambil sedotan, dan mulai meneguk Coca-Cola ukuran large yang ia pesan.
"Setelah ini kau mau ke mana ?" tanya Alfred. Aku berpikir sejenak. Yang ada di bayanganku saat ini adalah sebuah taman sepi dan sejuk yang penuh dengan bunga – bunga berwarna – warni yang indah. Dengan tempat seperti itu, aku rasa aku mampu untuk menikmati semuanya.
Alfred menatapku dengan pandangan 'aku-menunggu-jawabanmu'. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. "Aku ingin pergi ke sebuah taman yang sepi, dimana tidak ada orang lain selain kita berdua."
"Kalau itu yang kau mau…" Alfred bangun, kemudian membayar semua yang kami makan di kasir. Lalu, ia menghampiriku dan menarik tanganku dengan lembut keluar dari restoran itu. Dengan senang hati aku mengikutinya.
-OooOooO-
"Aria…" panggil sebuah suara. Gadis berambut cokelat tua yang sedang asyik membaca buku itu menoleh, dan mendapati Elizaveta, seorang gadis asal Hungaria berdiri di belakangnya sambil membawa setumpuk dokumen dan sebuah DVD berlabelkan 'SL' di atasnya.
Aria menutup bukunya. "Apa itu yang aku minta, Eli ?" Elizaveta tersenyum, lalu menyerahkan dokumen itu kepadanya. "Iya. Tapi, sebenarnya untuk apa kau meminta semua ini ?" Aria memandangi dokumen itu, lalu menggeleng.
"Tidak apa – apa. Terima kasih, Eli." Gadis Hungaria itu menggeleng sambil berkata, "Tidak masalah." Ia kemudian meninggalkan perpustakaan, meninggalkan Wakil ketua OSIS itu sendirian sambil masih memandangi dokumen itu dengan sebuah pandangan yang sulit dijelaskan.
"Bukan 'Tidak apa – apa', sebenarnya." Seulas senyum (yang mana sangat jarang untuk dilihat) muncul. Ia lalu berdiri, dan melihat kearah jendela, dimana langit yang biru masih terlihat sangat indah.
"…aku hanya ingin mengajari sebuah pasangan baru tentang arti daripada cinta sejati dan kesetiaan…"
-OooOooO-
Aku memandangi sekelilingku. Kumpulan semak – semak berwarna hijau segar, pepohonan yang rimbun, bunga – bunga indah yang beraneka warna, dan tentu saja, kehadiran orang yang sangat aku sayangi di sampingku. Alfred F. Jones. Padahal, belum sampai sehari aku resmi menjadi kekasihnya, tapi dia sudah memperlakukanku seolah – olah aku dan dia sudah menjalin hubungan selama bertahun – tahun. Ia memperlakukanku begitu hangat, begitu peduli. Dan kenyataan itu mmebuatku merasa senang dan lega.
Aku menarik nafas dalam – dalam, menikmati udara sejuk dan nyaman yang begitu jarang kudapatkan di sekolah. Apalagi dengan tumpukan kertas yang menunggu di meja kerjaku. Rasanya ingin bunuh diri kalau teringat betapa banyaknya pekerjaan yang belum sempat kuselesaikan. Tapi, sebaiknya aku nikmati saja dulu suasana seperti ini.
Sebuah lengan merangkul bahuku, menarikku lembut mendekati tubuh pemuda di sampingku. Aku bersandar padanya secara refleks, dan memejamkan mataku ketika sebuah tangan yang hangat membelai rambutku. Kemudian aku bergerak lebih dekat sehingga aku sekarang duduk di pangkuannya. Alfred meletakkan dagunya di atas kepalaku, masih sambil membelai rambutku
"Kau suka ?" ia membenamkan wajahnya di rambutku, menghirup nafas pelan. "Mhm.." gumamku sambil memeluk dadanya. Ia tertawa renyah, kemudian melepaskan wajahnya dari rambutku, lalu mengecup pipiku mesra. "Kamu wangi seperti Vanilla." Godanya. Pipiku memerah. "Kutebak kau suka memakai shampoo beraroma Vanilla." Tambahnya.
Alfred menyentuh ujung hidungku menggunaka ujung jarinya. "Kalau kau diam, itu artinya benar." Tebaknya. Aku sedikit merengut karena kesal. Ia tertawa lepas, lalu mencubit pipiku geli. "Artie benar – benar terlihat imut kalau sedang merengut seperti itu. Rasanya seperti melihat seekor anak kucing yang berusaha untuk menggeram, tapi gagal dan akhirnya malah merengut kesal." Aku semakin merengut.
"Cerewet." Gerutuku setengah bercanda. "Aku cuma bercanda, Artie-ku sayang. Jangan marah, dong~" aku menghela nafas. Dasar, dia ini selalu begitu.
Lalu, seekor kupu – kupu terbang melayang – layang dekat kami. Kupu – kupu itu berwarna hijau seperti batu Emerald, dengan sedikit corak – corak hitam di sayapnya yang bergerak dengan gemulai. Kupandangi kupu – kupu itu dengan seksama. Ia menari, terbang, dan menghinggapi bunga – bunga yang ada di dekat tempatku dan Alfred duduk. Dapat kurasakan kalau Alfred juga memandangi kupu – kupu itu.
"Dia begitu cantik, ya ?" katanya pelan. "Gemulai, indah, terbang menari – nari diantara bunga – bunga yang sedang bermekaran." Aku mengangguk, lalu kujulurkan tanganku maju, ingin untuk menyentuh sang kupu – kupu.
Kupu – kupu itu seolah menangkanp sinyalku. Ia bergerak dari sekuntum bunga Mawar merah, dan terbang mendekati-ku. Ia lalu hingga di jari telunjukku, dan kugerakkan jariku mendekat untuk mengamatinya lebih dekat. Kupu – kupu itu sepertinya tidak takut denganku, karena ia sama sekali tidak terbang atau menghidar ketika aku membela sayap Emerald-nya lembut.
Alfred, yang sedari tadi juga ikut memandangi kupu – kupu itu lalu berkata. "Warna sayapnya mengingatkan-ku pada mata seseorang." Bisiknya.
Aku berbalik dan menatap matanya—sambil masih tetap membawa kupu – kupu itu. "Siapa ?" lalu, terlintas di bayanganku seseorang yang memiliki mata seindah batu Emerald. "Aria ?" Alfred menggeleng. "Salah."
Kunaikkan sebelah alis mataku. "Kenapa tidak ? Ia punya mata yang berkilauan dan indah. Kenapa tidak ?" tanyaku heran.
"Karena…" ia mengelus wajahku. "…di duniaku, yang memiliki mata yang terindah adalah dirimu. Mungkin di seluruh dunia yang memiliki mata terindah ialah Aria, tapi tidak di duniaku. Di duniaku, kaulah pemilik mata terindah itu." Lanjutnya, membuat pipiku rasanya seperti terbakar karena malu.
"Terima kasih." Kataku pelan sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rona merah yang semakin menjalar di seluruh wajahku. Alfred lalu menarik daguku, dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku, lalu menyatukan bibir kami berdua dalam sebuah ciuman yang hangat dan penuh cinta.
Kupu – kupu tadi terbang, lalu menghilang dari hadapan kami. Sampai terakhir, aku masih dapat melihatnya terbang menuju langit biru.
Langit yang seindah dengan mata pemuda di hadapanku.
Kemudian, aku teringat akan sesuatu hal.
"Hei, Alfred." Panggilku. "Ya ?" jawabnya lembut.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu…"
To Be Continued
-OooOooO-
Next Chapter : Reason and Curse
Now Playing : Nana Mizuki-Etsuraku Camellia
Akhirnya selesai juga… *Lega* Eh, sepertinya Chapter ini agak lebih pendek, ya ? Maaf ! UAS-nya menggila ! Nade bahkan hampir nggak punya waktu untuk nulis gara – gara sibuk harus belajar. Minna-san doakan semoga Nade bisa naik ke kelas 9 QAQ. Belum lagi buat ngurus pameran kelas 8. Repot banget. Sekali lagi, maafkan kalau Nade terlambat untuk meng-Update. Oke, waktunya untuk membalas review ! XD
Aiko-chan Lummiera : Hehehe…dasar Alfred. Sebenarnya alasan Alfred untuk melakukan Forplay dengan Arthur itu karena dia ingin membuktikan, apakah Arthur mencintai dirinya juga. Jika Arthur menolak, maka Alfred nggak bakal 'confess' sama Arthur, tapi kalau Arthur nggak menolak, maka dia bakal menyatakan cintanya. Rahasia Alfred ? Heaven Knows, hehehe… XD
A-s-i-a (Ini Asia RyuuBirthday, bukan ?) : Iya, iya. X3 Nade ngerti. Tenang aja, fic – fic Nade yang lain bukan rate M, kok. Nether cuma numpang lewat, tapi disuguhi sarapan(?) pagi sama Alfred dan Arthur. Bra-nya Aria itu nggak beli, tapi jahit sendiri. Mana ada Bra ukuran cup E ? Btw, thanks for reviewing !
Fujoshi desu : waduh ? perlu donor darah, nggak tuh ? Udah ke doketar ? O.o Thanks atas review-nya, ya !
Bonnefoy Clementie : Maaf ya, soalnya kalo keburu – buru hubungan, nanti nggak seru lagi. Jadi, Insya Allah Nade secepatnya meng-Update Chapter ber-lemon. Ya sudah, terima kasih sudah me-review !
Fairy Law : Geh ? Kok Nade yang tanggung jawab, sih ? O.o Um…memang nggak apa – apa, ya, buka fic Yaoi pas pelajaran ? Nade sih nggak berani. Itunya ? Itu kan cuma Lime, belum ke lemon, jadi anda nggak perlu histeris, ne ? Thanks for reviewing !
Icha desu : Hola Icha ! Alfred sebenarnya udah suka ma Arthur dari lamaaaa sekali. Tapi dia nggak berani untuk 'confess' sama Arthur. Jadi, selama ini dia bertingkah aneh biar diperhatikan sama Arthur, gitu. Makasih sudah review !
Black Sakura : Iya, nggak apa – apa, kok. Eh ? Tapi masak mau hubungan di kamar mandi sekolah ? kan nggak seru. Lebih seru di kamar. Iya, akan segera Nade buat yang Lemon. Terima kasih sudah review, ya !
SugarSweetLove : Sugaaar ! *Hugs* ternyata kita di Facebook itu saling kenal ! Nggak nyangka, ya ! X3 Sugar ngabisin tissue lagi, ya ? Nanti si Alfred-mu nggak kebagian lho, musim flu kayak gini. Tapi Sugar tahu satu hal, kan ? Nade ini bukan seme, melainkan Uke. Sampai – sampai kemarin Nade rp-an sama Bella-san ScotWales. Eh, tunggu ! Kok malah jadi bahas topic itu, sih ? Oke, intinya, terima kasih sudah me-review, Sugar !
Emely F. Jones : Hola, Emely ! Sudah berapa lama, nih, nggak buka FFn ? 0w0. Iya, menurut Nade biasa aja, karena Nade udah sering nulis yang lebih parah. Tapi anehnya, Nade ini nggak bisa jadi Seme kalau lagi rp. Oke, akan segera Nade buat yang ber-Lemon. Sabar, ya ! Terima kasih sudah review !
Jyasumi-sama : Eh~ masa benar – benar sama ? Padahal nade baru tahu kalau ada Fanfic 'And All That Jazz' pas Nade selesai mem-publish Chapter 1. Gomen, kalau memang sama. Nade nggak bermaksud plagiat. *Panik* Maaf ! Kalau uke, sebutannya apa ? Makasih udah review, ne ! X3
Oke, sekali lagi, kalau ada dari minna-san yang mau menambahkan ide – ide, langsung katakan saja di review. Dan juga, Nade nggak menerima Flame, gomen.
Akhir kata, nade nggak bisa mengucapkan apa – apa kecuali…
R&R Please ! XD
