Akhirnya Chapter 5 di-update ! XD terima kasih kepada Minna-san yang sudah mau me-review fanfic milik Nade ini. Nade senang sekali. Umm.. Nade minta maaf karena tetap tidak bisa meng-update Heaven Knows Chapter 5 secepatnya, karena Nade sendiri banyak kerjaan, baik di urmah atau sekolah, bahkan sejak kelas 9 ini Nade les terus setiap hari, jadi Nade hampir nggak punya waktu untuk menulis Chapter 5. Nade minta maaf, ya, Minna-san ! Dan, semoga Minna-san suka dengan romansa yang Nade munculkan di Chapter sebelumnya. Mungkin agak terlalu 'dramatis', ya, kencan-nya Arthur dengan Alfred ? Hehehe…soalnya Nade suka hal – hal romantis, jadi maaf kalo romansa-nya terlalu berlebihan. Nah, seperti biasa, balasan dari review ada setelah cerita selesai.

Disclaimer : Hetalia Axis Power punya Hidekaz Himaruya-san

Warning : Sho-ai, OOC, OC, miss typo, dll.

Keterangan : Paragraf/kata yang dimiringkan = Mimpi/Dalam hati/masa lalu

Selamt membaca ! X3

-OooOooO-

Aku mendengarnya dari dia…

Dari seekor kupu – kupu yang tersesat…

Tentang sebuah cerita…

Dimana kutukan menjadi awal sekaligus akhir dari sebuah kisah cinta…

Ah…apakah hal itu juga berpengaruh padaku ? Aku tidak tahu…

Apakah kisah cinta yang kumiliki juga berakhir dengan kutukan ? Aku tidak tahu…

Tapi, satu hal yang diajarkan oleh kupu – kupu itu…

Hanya cinta sejati yang dapat mengalahkan segalanya…

-OooOooO-

Heaven Knows

By :

NadeshikoLachrymose

-OooOooO-

"Karena…" ia mengelus wajahku. "…di duniaku, yang memiliki mata yang terindah adalah dirimu. Mungkin di seluruh dunia yang memiliki mata terindah ialah Aria, tapi tidak di duniaku. Di duniaku, kaulah pemilik mata terindah itu." Lanjutnya, membuat pipiku rasanya seperti terbakar karena malu.

"Terima kasih." Kataku pelan sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rona merah yang semakin menjalar di seluruh wajahku. Alfred lalu menarik daguku, dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku, lalu menyatukan bibir kami berdua dalam sebuah ciuman yang hangat dan penuh cinta.

Kupu – kupu tadi terbang, lalu menghilang dari hadapan kami. Sampai terakhir, aku masih dapat melihatnya terbang menuju langit biru.

Langit yang seindah dengan mata pemuda di hadapanku.

Kemudian, aku teringat akan sesuatu hal.

"Hei, Alfred." Panggilku. "Ya ?" jawabnya lembut.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu…"

Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Apa yang ingin kau tanyakan. Artie ?" awalnya terlihat dari pancaran matanya bahwa ia hanya menanggapiku tak serius. Tapi, ketika aku mengisyaratkan kepadanya bahwa aku akan membicarakan sebuah hal yang serius, maka ia segera mengubah raut wajahnya menjadi serius juga.

Kutundukkan kepalaku. Rasanya, entah kenapa, aku ragu – ragu untuk menanyakannya. Tapi, ya sudahlah. Aku akan tetap menanyakannya kepadanya.

"Alfred…kenapa kau…mencintaiku ?" tanyaku pelan. Ia sedikit tersentak, namun tetap berusaha mempertahankan sikap tenangnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Arthur ? Tentu saja aku mencintaimu."

Aku menyilangkan kedua tanganku di dada. "Alfred, yang kutanya itu MENGAPA kau mencintaiku, bukan APAKAH kamu mencintaiku," aku menggerutu kesal. "Apa kau sebegitu bodohnya-kah hingga tidak bisa membedakan antara kata tanya MENGAPA dan APAKAH ?" sindirku sinis. "Katanya kau sangat pandai dalam Matematika, tapi kenapa tidak bisa—ummph.." sebelum aku sempat menyelesaikan kata – kata-ku, Alfred sudah membungkam mulutku dengan bibirnya yang hangat dan basah itu.

Ia mengecupku pelan, lalu segera melepaskannya sambil mengelap bibirnya dengan lengan baju. "Kau bicara terlalu banyak, Artie." Katanya singkat. Aku semakin kesal. "Namaku Arthur, bukan Artie ! Dan aku tidak bicara terlalu banyak. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk bisa belajar membaca kalimat tanya ! Lalu-" jari telunjuk Alfred menempel di bibirku dan ia tersenyum penuh kemenangan setengah menuduh kepadaku.

"Tuh, kan, diulangi lagi. Sudah kubilang, kau bicara terlalu banyak, Arthur." Grrrr…rasanya ia sudah membuat darahku naik ke kepala dengan kecepatan cahaya.

Aku baru saja membuka mulutku untuk melontarkan aneka omelan, Alfred sudah menatapku tajam lebih dulu. "Mengomel ataupun menggerutu seperti tadi lagi, akan kucium dirimu hingga kehabisan nafas." Ancamnya. Atau, tadi itu bukan ancaman, ya ?

Kumajukan kedua bibirku tanda kesal sambil memalingkan wajahku darinya. Tapi tampaknya dia tetap pada 'mode tenang'-nya. Kutarik nafas dalam – dalam, mendinginkan kepalaku sehingga pada saat aku berbalik, aku tidak menyemburkan segudang omelan tepat di depan wajahnya.

"Jadi, Alfred, kenapa kau mencintaiku ?" ia menggigit bibirnya pelan, lalu mendesah halus.

"…kenapa, ya ? Aku juga tidak tahu. Yang kurasakan hanyalah perasaan sayang dan suka yang mendalam sejak pertama kali aku melihatmu. Rasanya...rasanya semua tentang dirimu yang aku tahu itu…begitu indah. Aku tidak tahu kenapa…" Alfred tersenyum sambil menundukkan kepalanya, seakan – akan itu adalah beban baginya.

Kupegang bahunya lembut, dan ia melihatku. "Kalau kau mencintaiku, kenapa kau terus – terusan membuatku marah dan kesal dengan semua tingkah absurd yang kau lakukan ? Bukannya itu akan membuatku membencimu ?"

"Aku…sebenarnya tak bermaksud untuk membuatmu membenciku. Aku hanya ingin menarik perhatianmu." Angin berhembus pelan, menyapu wajahku. Kutahan rambutku agar tidak berantakan. "Kalau aku tak bersikap seperti seorang Yankee atau berandalan, aku yakin, kamu takkan sedetik pun melirikkan matamu padaku. Yang kuinginkan sebenarnya hanyalah perhatian darimu. Itu saja, kok. Tak ada yang lain." hari ini, kulihat sisi lain dari dirinya. Sisi lain yang tak pernah ia perlihatkan pada orang lain.

"Walaupun, dari luar aku terlihat senang bergurau, humoris, ceria, dan populer, aku sebenarnya sangat kesepian. Aku tak bisa memenuhi sesuatu yang dari dulu selalu bergejolak dalam hatiku. Aku tak tahu, meskipun aku sudah berteman dengan seribu orang, gejolak asing itu tetap saja tak mau hilang. Menyebalkan sekali." Ia menggerutu pelan—mungkin bukan menggerutu, mungkin hanya sekedar mengeluh pelan dengan nada rendah.

Satu hal lagi yang aku sadari hari ini dari Alfred, ia kesepian, dan ia sangat butuh perhatian. Bahkan, perhatian yang diberikan oleh hampir seluruh teman – teman sekelasnya tidak cukup, karena ia masih terus bertingkah absurd. Aku juga pernah merasa seperti itu, kesepian dan sendiri. Tapi, aku sama sekali tak pernah bertingkah gila untuk merebut perhatian orang lain. Aku hanya berusaha menunjukkan kelebihanku di depan orang lain. Pola pikir Alferd berbeda dnenganku. Aku tak bisa menyalahkannya, karena usia kami memang berbeda.

Ternyata dia memang masih bocah.

Aku tertawa lantang, dan ia mengerjapkan kedua mata birunya itu dalam kekagetan sekaligus heran. Mungkin dia heran karena aku yang biasanya jaim, kini tertawa lantang seperti ini.

Kuacak – acak rambut pirangnya, dan ia cemberut, pura – pura kesal. Segera ia rapikan lagi rambutnya yang berantakan. Setelah mampu menguasai diri, aku memandangnya dengan sabar. Pemuda yang ada di depanku ini memang masih bocah. Bersikap absurd untuk menarik perhatian orang. Hanya anak kecil yang bersikap seperti itu. Seseorang yang sudah dewasa takkan bersikap seperti itu, aku tahu.

"Kau memang masih bocah, ya." Komentarku. Dan ia semakin merengut. "Aku bukan bocah, Artie~~ Umurku sudah 17 tahun, bukan anak kecil lagi. Geez, kau menyebalkan sekali.." gerutunya.

Diam – diam aku tertawa dalam hati. Heh, bisa – bisanya ia berkata kalau ia bukan bocah. Dari sifatnya saja sudah ketahuan kalau ia sama sekali belum dewasa.

"Oke, kuakui kalau dalam umur kau sudah cukup dewasa, tapi," kuacungkan jari telunjukku diantara kedua matanya. "Dalam sifat, kau sama sekali belum dewasa. Mana ada orang dewasa yang bertingkah konyol untuk mencari perhatian ? Yang ada itu, orang dewasa selalu melakukan hal yang terbaik yang ia bisa untuk menarik perhatian seseorang." Jelasku padanya. Alfred cuma mengerjapkan kedua mata birunya berkali – kali. Entah, dia mengerti perkataanku atau tidak. Kupenjamkan mataku sambil menyilangkan tangan di dada. Heh, tepat sasaran.

Aku menunggu jawaban dan protes darinya, tetapi ia sama sekali tidak menyahut. Heran, biasanya pemuda America di depanku ini selalu memprotes ataupun memberikan alasan yang terkadang (tidak) masuk akal untuk membantah semua pernyataanku. Tapi herannya sekarang, mengapa ia tidak bereaksi ? Apakah perkataanku tadi terlalu menusuk, ya ? Ah, tidak mungkin. Dia yang biasanya sangat kuat dalam menghadapi sesuatu, mana mungkin dapat menjadi terpuruk dalam waktu yang singkat hanya gara – gara sebuah pernyataan. Tidak lucu sekali.

Karena penasaran, maka aku membuka mataku dan mengembalikan posisiku (yang awalnya berkesan sangat arogan) ke posisi awal. "Alfred ? Apa kau tidak—eh…" kulihat Alfred sedang menatapku dengan pandangan…err…ala seme yang waktu itu ia tunjukkan padaku (lihat Chapter 2 dan 3).

"E-eh, Alfred. K-kenapa kau menatapku seperti itu…" aku mundur perlahan sambil menelan ludah. Tatapannya yang bagaikan mata serigala itu terasa seperti membakarku, dan aku dapat merasakan ada tanda bahaya (bagi seorang uke) dari tatapan mata itu.

Ia menyeringai, lebar dan mengerikan. "Well, kalau begitu, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk membuktikan padamu kalau aku sama sekali bukan anak kecil. Ya kan, Arthur ?" ia bergerak mendekati diriku, dan aku mundur secara otomatis karena ngeri melihatnya yang seperti hewan buas mengincar buruannya.

Alfred memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya kepadaku. Uh-oh, sepertinya aku sudah tahu kemana ini akan berlanjut. Maka, sebelum dia benar – benar akan menciumku, kuambil benda terdekat yang ada—yang mana adalah sebuah batu—lalu kulempar.

DUAK.

Batu itu membentur dahi Alfred, membuatnya terjatuh dari atas kursi taman dengan posisi yang sama sekali tidak elit. Ia mengerang, lalu bengun kembali sambil mengelus – elus dahinya yang memar gara – gara lemparan batuku tadi dengan muka kesal sekaligus kesakitan. Aku tersenyum puas. Ha, rasakan ! Salah siapa mengambil keuntungan dariku.

"Artie~" gerutunya sambil duduk kembali. "Kau kejam sekali. Masa aku dilempar batu ?"

Sekarang giliranku untuk balas menyeringai kepadanya. Salah dia sendiri mengapa bertingkah seperti itu. "Salahmu." Balasku singkat, sama sekali tak mempedulikan memar di dahinya. Ia masih cemberut, ngambek. Aku menghela nafas geli.

"Makanya," katanya sarkastik sambil menekan memar di dahinya itu berkali – kali menggunakan unjung jari telunjukku, membuatnya mengerang karena sakit. "Jadi orang jangan nakal. Jadinya memar, tuh," seringaiku bertambah lebar. Rasanya menyenangkan sekali melihat Alfred yang biasanya penuh percaya diri, kini menjerit kesakitan karena aku. Heh, mungkin aku ini sadistik juga. "Arthur ! Hentikan ! Sakit, nih ! Hey, Arthur !" aku tetap tidak berhenti menekan memarnya.

Alfred kesal, lalu ditariknya jariku kemudian digigitnya dengan keras. Sontak, aku kaget kemudian menarik jariku yang tadi terjepit diantara giginya.

"Hey ! Sakit ! Jangan main gigit sembarangan, dong !" ujarku kesal sambil melihat jariku yang memerah. Dan sialnya, kenapa sampai bekas giginya juga tercap dengan baik ? Setajam apa sih, giginya ?

Ia menjulurkan lidahnya padaku dengan pose mengejek. Ugh, darahku rasanya sudah mulai naik ke kepala, kesal sekali. Seenaknya saja dia menggigit jariku. Oi, aku ini bukan makan siangnya.

"Apa – apaan sih, kamu ? Main gigit aja !" ia mengacungkan 2 jari. "Pembalasan buat Artie-ku tercinta yang tadi sudah menekan memar gara – gara kau lempar batu saat aku mau menciummu tadi~"

Aku sudah bersiap-siap untuk meninju wajah tersenyum menyebalkan Alfred ketika tiba – tiba kurasakan handphone-ku bergetar. Kuambil hp-ku dari saku kemeja yang kukenakan, lalu menemukan sebuah pesan tak terbaca. Kulihat, dan ternyata pesan tersebut berasal dari Aria. Heh, ada apa gadis itu sampai harus mengirimkan pesan padaku segala ?

From : Aria XS

Arturo, bisa ke sekolah segera ? Ada yang mau kutunjukkan padamu. Kalau bisa, ajak Alfred juga, ya. Kutunggu di ruangan Wakil Ketua OSIS.

Aria

P.S : Jangan kaget, aku tahu kalau kau dan Alfred sedang butuh sedikit 'konseling' dalam soal cinta

Anak itu kenapa, sih ? Tahu – tahu mengajakku dan Alfred menuju ke ruangannya untuk sebuah hal yang tidak kuketahui. Dan, bagaimana pula ia bisa tahu kalau aku butuh konseling soal asmara ? Dasar, intuisinya bagus sekali, sih.

"Siapa yang mengirim pesan, Artie ?" kumasukkan kembali hp-ku kedalam saku, lalu berdiri dan merapikan pakaianku yang berantakan. "Aria. Dia meminta agar kita segera kembali ke sekolah, lalu bertemu dengannya di ruangan Wakil Ketua OSIS," Alfred berdiri juga, namun dengan wajah heran. "Memangnya ada apa ?"

Aku mendengus. "Kalau aku tahu, aku juga bakal memberitahumu, bodoh. Ayo, kalau tidak kita bia ketinggalan bus menuju sekolah, dan aku sama sekali tidak merasa ingin untuk berjalan kaki ke sekolah."

Alfred memberi hormat ala militer. "Siap !" aku menghela nafas, dan mulai berjalan menuju halte bus sementara ia mengikutiku dari belakang. Kalau saja ia tidak lebih tinggi daripada aku dan berjalan dengan 4 kaki, mungkin orang – orang akan menganggap dia sebagai anak anjing polos yang berjalan mengikuti tuannya. Eh, kata – kataku yang barusan sepertinya terlalu merendahkan dirinya, ya. Ah, sudahlah.

-OooOooO-

Aku mengetuk ruangan Wakil Ketua OSIS, dan terdengar sebuah balasan lembut 'masuk saja'. Maka, aku pun masuk kedalam, dan kulihat Aria sedang duduk di kursinya. TV di ruangannya menyala, dan tangan kanannya memegang remote DVD Player. Matanya yang berwarna hijau indah itu agak berkilauan. Setelah itu, ia memandang kami sesaat, sebelum pandanganannya kembali terfokus kepada TV yang ada di depannya.

"Duduklah, kalian berdua." Perintahnya tenang dan datar, seperti biasanya. Maka, aku dan Alfred segera mengambil posisi masing – masing di salah satu sisi Aria diatas kursi yang sudah ia sediakan, lalu melihat kearah layar TV.

Aria menekan tombol remote-nya, lalu sebuah film pun dimulai. Pada awalnya, yang terlihat di layar hanyalah tulisan 'Swan Lake' saja. Namun, perlahan – lahan, alunan musik klasik yang halus dan lembut menggema di udara, membuatku rileks seketika. Ah, aku tahu musik klasik ini. 'Swan Lake', karya Tchaikovsky. Tunggu, jangan – jangan film yang Aria putar adalah…Swan Lake ?

"Benar…" jawab Aria bak hantu tak diundang. Wajahnya dekat sekali denganku, dan ia memasang ekspresi horor yang datar.

Aku langsung mundur beberapa langkah karena kaget melihatnya. Ia berdehem pelan, lalu matanya kembali melihat layar TV. Alfred memandang aku dan Aria dengan pandangan aneh bercampur heran.

"Yang kau jawab itu benar, Arturo. Apa kau tahu tentang cerita Swan Lake ?" ia bertanya, menunjukkan seulas senyuman yang jarang dilihat oleh orang lain.

Kuanggukkan kepalaku. Tentu saja aku tahu. Berkat adiknya Ivan yang bernama Natalia itu menarikan 'Swan Lake' (meskipun pembaca semua bisa memperkirakan bagaimana hasilnya), aku jadi penasaran dan akhirnya melakukan pencarian tentang Balet Swan Lake tersebut.

"Cerita seorang gadis yang dikutuk menjadi angsa ?" jawab Alfred. Ah, tak kusangka orang seperti dia bisa mengerti tentang cerita balet klasik begitu. "Dan, apakah kalian tahu, apa satu – satunya yang bisa menyembuhkan kutukan itu ?" tambahnya lagi.

"Cinta sejati." Jawabku tegas. Senyum Aria mengembang. "Si. Tapi naasnya, karena sang pangeran ditipu oleh kembaran White Swan, Black Swan, cinta sejati yang sudah dibangun oleh White Swan dan sang pangeran hancur begitu saja. Dalam keputus asaannya, White Swan memutuskan untuk bunuh diri dengan cara melompat dari atas tebing, dan saat itulah, ia menemukan kebebasan…" jelas Aria, sementara mataku dan mata Alfred masih tertuju pada layar yang menampilkan aneka gerakan Balet yang indah sekaligus membius.

Tiba – tiba film berhenti. Tepat ketika adegan Black Swan merayu sang Pangeran. Mataku terpaku pada sosok Black Swan. Ia tidak jauh berbeda penampilannya dari White Swan, hanya saja gaun Black Swan berwarna hitam dan matanya merah membara.

"Apa kalian mengerti…" gadis Venezuela itu angkat bicara. "…apa tujuanku mempertontonkan kalian Opera Swan Lake di Paris ini ?" tanyanya.

Aku terdiam. Tak mampu menjawab bukan karena tak mengerti apa yang harus kujawab, melainkan aku tak mampu menggerakkan kedua bibirku untuk berkata. Hal yang sama terjadi pada pemuda Amerika bermata biru yang duduk di sebelah Aria.

"Tujuanku adalah, untuk memberitahu kalian berdua—berhubung kalian adalah sepasang kekasih—bahwa membangun cinta yang sejati itu sangat sulit, tetapi ada banyak cara yang dapat digunakan untuk menghancurkan cinta sejati itu. Hanya itu saja." Katanya pelan. "Yak, waktu istirahat sudah habis." Lanjutnya. "Kembalilah pada pekerjaan kalian masing – masing. Alfred, kau kembali ke kelas, sekarang." Tak seperti biasanya, Alfred mengangguk patuh dan keluar dari ruangan.

Aria menatapku. "Dan untukmu, Arturo…" ia melemparkan setumpuk berkas dalam map ke tanganku. "Kerjakan semua ini. Mungkin, ini bukan hak-ku untuk memberitahumu berhubung aku hanyalah Wakil dan kau Ketuanya. Tapi, dalam beberapa situasi, ada saatnya bagiku untuk menasihatimu, Arturo. Kau mengerti ?" nada suaranya tegas dan tatapan mata Emerald-nya itu tajam. Maka, aku tak bisa menolak. Dia serius mengatakan hal itu.

Denngan berat hati—dan berat di tangan juga—kuambil tumpukan map tersebut dan berjalan keluar ruangan. Kutatap sekilas langit biru yang kini mulai mendung.

Sepertinya akan jadi hari yang membosankan setelah ini.

To Be Continued

-OooOooO-

Next Chapter : "Tch… What a boring day…"

Dengan semua perjuangan, akhirnya chapter ke-5 selesai juga. Maaf, atas ketidakmampuan Nade untuk meng-update dalam waktu 1 minggu. Sudah kelas 9, hampir nggak ada waktu kosong lagi untuk menulis 'Heaven Knows' #nangis darah. Oke, sekarang selamat membaca balasan review yang Nade terima !

Aiko-chan Lummierra : Terima kasih sudah mau menunggu kelambanan Nade dalam menulis fanfic ini *bow*. Yah, untuk sementara Nade ingin membuat Chapter yang ringan. Tapi, kelihatannya Chapter 6 bakal ada Lime yang…yah, gitu lah. Seperti yang Nade buat di Chapter sebelumnya. Umm…request akan dipertimbangkan nanti, berhubung harus menyesuaikan dengan alur ceritanya. Kalau Oneshot, Nade masih nggak punya ide. Maaf, ya. Okay, terima kasih sudah me-review !

Fujoshi desu : Eehh…gomen, rasanya kalau ngasih Lemon terus – terusan nggak seru. Ntar nggak kebagian deh, tempat buat Drama-nya. Yah, tapi Nade usahakan memasukkan adegan Lemon secepatnya. Ja, terima kasih !

Emely F. Jones : Sudah terjawab, kan ? Insya Allah, Nade berusaha akan secepat mungkin memuculkan Chapter ber-Lemon. Terima kasih sudah review, ya. ^^

Yukaeri : Umm…Makasih atas pujiannya. Nggak papa, kok, memang Nade akui, Nade mengurangi ke-Tsundere-an Arthur sih, tapi cuma untuk sementara aja, kok. Ntar Nade balikin lagi Tsundere-nya Arthur. Nade juga akan berusaha secepat mungkin untuk memunculkan Lemon. Makasih atas review-nya, ya.

Soeara Asia : Yah, memang rada fluff sih. Itu sih bukan si Alfred yang bisa baca pikirannya Arthur, tapi Arthur-nya yang nggak sengaja kelepasan ngomong apa yang ada di pikirannya. Iya, Bra-nya Aria jahit sendiri. Yang ngukurin ya, siapa lagi kalau bukan Alonzo sebagai kakaknya. Makasih sudah review !

Tsukuyomi Hime : Iya, iya, Nade ngerti kok. Si Lappy juga sering ngambek nih. Nah, kalau Nade langsung masukin Lemon, bukannya terlalu to-the-point, ya ? Nade kan, suka bikin orang penasaran #dipenggal. Mm, kalau soal spasi, itu udah nggak bisa diubah lagi karena memang kebiasaannya Nade seperti itu. Tangan sudah refleks. Terima kasih atas review dan fave-nya.

America 50states Hero : Of course I know~ Nggak kok, lemonnya bentar lagi. Nade usahakan Chapter 7, atau 8, atau 9, atau seterusnya #digampar. Dan nih fanfic Happy Ending, kok, kecuali kalau ada yang minta Sad Ending. XP Makasih atas reviewnya.

HirumaManda : beneran ? Padahal Nade sama sekali belum pernah kencan. Menurut Nade, lebih baik untuk sementara Arthur nggak begitu Tsundere karena nggak begitu banyak orang yang lihat, gitu. Terima kasih, ya.

Aruichii : Selamat~ *tepuk bahu*. Alfred nggombal ? XDDD Dia niatnya cuma muji Arthur, tapi kayaknya bahasanya terlalu over kali ya ? Soalnya waktu itu Alfred habis beli buku 'Cara Menaklukan Hati Pacar Yang Tsundere' #dilempar Hamburger. Oh, terima kasih atas saran dan review-nya. ^^

Minna-san, terima kasih atas kesediannya untuk membaca dan mereview fanfic gaje dan abal kepunyaan Nade ini. Akhir kata, taka da yang bisa Nade sampaikan selain…

R&R Please ! X3