Hallo Hallo semua. Saya kembali lagi dengan chapter 3. Maaf ya kalau di chapter 2 kemarin banyak kesalahan. Dan mungkin untuk chapter ini juga ada kesalahan. Ya sudah balas review dulu.

KENzeira : Arigatou.. hehehe diusahain dah biar gak terlalu lama. Thanks revieewnya. :D

celanadalammulepas: hehehe maaf-maaf. Menurut saya disini naruto itu mendapatkan kebahagiaannya melalui proses yang cukup berat. Tapi tenang aja pasti berakhir NaruSaku kok. :D Thanks

OhhunnyEKA : heheheh.. Ini lanjutannya :D

Ammai Hardinata : ehehheh buan setahun senpai. Tapi bertahun-tahun :D thanks reviewnya. Hehehe maaf-maaf grammar saya masih belum sempurna :D Ini lanjutannya.

: pasti. Naruto gak akan mnyerah. Thanks reviewnya :D

Lily Purple Lily : wah jangan jengkel donk nanti gak seru ceritanya.. -_- udah update :D

Oke dah. Sekali lagi saya mau tegasin ya ini fic HAPPY ENDING bukan SAD ENDING heheh. Oke langsung ke cerita aja dah.


Chapter sebelumnya :

"Aku mencintaimu Sakura. Maukah kau jadi pacarku?"

"A-aku juga m-mencaimu S-Sasuke-kun. Y-ya a-aku mau"

Tanpa mereka sadari sepasang mata saphire menatap kedua sejoli itu dengan tatapan sedih.

"Kenapa?"

Hanya Kau Yang Kucinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku

Rate : T

Genre : Hurt/Comfort & Romance

Summary : Naruto dan Sakura adalah sahabat sejak kecil. Suatu ketika Sakura menjauhi Naruto. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sakura menyadari betapa dia sangat membutuhkan Naruto dan meyesali keputusannya.

WARNING : AU, OOC(maybe), gaje, abal, pemilihan kata yang kurang tepat dan typo(s)

Song : Sammy Simorangkir-Kesedihanku

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

THIS IS IT

Chapter 3 :

Sepasang mata ssphire itu memandang kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu dengan tatapan sedih. Pemilik mata saphire itu tak lain dan tak bukan adalah Naruto. Sedangkan dua orang yang sedang dilihatnya adalah Sasuke dan Sakura yang telah resmi menjadi sepasang kekasih.

Ya, Sakura. Gadis yang akan ditembak Naruto telah menjadi milik orang lain. Naruto bertanya dalam hati. Kenapa?

Disaat dia akan menyatakan apa yang selama bertahun-tahun dia pendam, dia malah melihat sesuatu yang membuat hatinya bagai disambar petir, dilindas truk, di bom atom, dan sejenisnya yang membuat hatinya hancur.

Dia langsung pergi meninggalkan dua orang itu. Pemuda pirang itu tidak mau lebih sakit dari ini. Dia berjalan gontai menuju gerbang. Tatapannya begitu kosong seolah-olah dia sudah tak punya harapan hidup.

Ketika di gerbang, dia menghampiri seorang gadis pirang yang sangat identik dengannya yang tak lain adalah Naruko. Naruko tersentak ketika melihat adik kembarnya itu berjalan gontai ke arahnya. Dia lebih terkejut lagi ketika Naruto mengangkat kepalanya dan menunjukkan saphirenya yang hampir hilang cahayanya.

Bagaimana dia tidak terkejut, baru beberapa saat yang lalu dia melihat Naruto bgitu ceria tapi tiba-tiba berubah dengan begitu cepat seperti ini.

'Pasti terjadi sesuatu tadi' Naruko membatin. Naruto lalu berjalan pulang meninggalkan Naruko yang masih sibuk menerka-nerka apa yang membuat pemuda pirang itu berubah. Naruto tersadar dari pikirannya ketika Naruto memanggilnya.

"Hei, Naruko. Kau mau pulang atau bengong seharian?" tidak ada sedikitpun nada ceria seperti biasa dari kata-kata Naruto. Yang ada hanya kesedihan. Naruko tentu saja menyadari itu. Tapi dia lebih memilih untuk bertanya di rumah dan berjalan menyusul pemuda pirang itu.


"Tadaima.."

"Okaeri. Eh Naruto, Naruko lama sekali pulangnya ada apa?" tanya Kushina. Naruto hanya diam lalu berjalan melewati wanita bersurai merah itu dan menaiki tangga menuju kamarnya. Kushina heran melihat kelakuan putra satu-satunya itu yang biasanya ceria menjadi pemurung seperti itu.

"Ada apa dengannya?" tanya Kushina kepada Naruko. Yang ditanya hanya mengangkat bahu pertanda tidak mengerti lalu mengikuti Naruto menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar pemuda berkulit tan itu. Kushina hanya menghela nafas lalu kembali ke dapur melanjutkan acara masak makan malamnya.


"Aku selesai" ucap Naruto lalu berjalan mmenuju kamarnya. Dia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Semua anggota keluarga Namikaze dibuat heran oleh tingkah pemuda jabrik itu.

"Hei, Naruko. Kenapa dengan dia?" tanya Minato penasaran. Yang ditanya lagi-lagi hanya mengangkat bahu.

"Aku tidak tahu tou-san. Semenjak pulang sekolah tadi dia terus seperti itu" jawab Naruko apa adanya. Dia lalu kembali menyantap makan malamnya yang sempat tertunda karena pertanyaan ayahnya itu.

"Biar kaa-san lihat" sahut Kushina seraya berdiri dari kursi. Tapi sebelum dia melangkah, kata-kata Karin menghentikannya dan membuatnya duduk kembali.

"Biar aku saja kaa-san. Sepertinya aku mengerti apa yang terjadi dengan bocah itu" ucap Karin lalu beranjak dari kursi dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Naruto.


Naruto terus memandangi foto Sakura di handphonenya yang diambilnya secara diam-diam beberapa hari yang lalu. Foto Sakura saat tersenyum. Dia memandang foto itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Antara sedih, kesal, putus asa dan lain-lain. Dia lalu meletakkan handphone itu di meja dekat tempat tidurnya. Pemuda yang memiliki tanda lahir berupa 3 coretan menyerupai kumis kucing itu merebahkan tubuh di kasur empuknya.

Cklekk

Naruto menoleh dan mendapati Karin yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Hei, Naruto. Ada apa denganmu? Kenapa murung begitu?" tanya Karin lembut. Dia lalu duduk di tepi kasur Naruto. Entah kenapa Karin hanya lembut disaat-saat Naruto ada masalah. Mungkin karena sifat ke'kakak'annya yang ingin mendengarkan keluh kesah adik kesayangannya itu.

Naruto lalu bangun dan menatap kakaknya itu. "Aku tidak apa-apa nee-san" bohong Naruto. Dia memang pintar menutupi kesedihannya dengan cengiran rubahnya. Tapi tidak untuk keluarganya. Sehebat apapun Naruto bersandiwara, jika yang melihat adalah Naruko, Karin, Kushina, maupun Minato dapat dipastikan sandiwara itu akan gagal.

"Jangan bohong denganku Naruto. Aku kakakmu. Aku tahu Kau tidak 'tidak apa-apa'. Kalau kau punya masalah ceritakanlah padaku. Siapa tahu itu akan membuat masalahmu sedikit berkurang" ucapa Karin panjang lebar tapi lembut sambil mengelus rambut pirang jabrik adik kesayangannya itu.

Naruto memang selalu bersifat seolah dia itu tidak lemah. Tapi sekali lagi tidak untuk keluarganya. Terutama Karin. Disaat ada masalah pasti Karinlah tempat Naruto mencurahkan masalahnya, walaupun kadang-kadang kepada Naruko juga. Karin memang agak kasar terhadapnya. Tapi dia tahu, dibalik semua itu gadis bersurai merah itu sangat menyanginya.

"Sakura…" Naruto mulai membuka mulut. "Sakura sudah jadian dengan laki-laki lain" lanjut Naruto lesu. Karin sudah menduga sebelumnya pasti ini masalah perempuan yang dicintai adiknya itu sehingga membuat dia menjadi murung. Dia lalu memegang pundak Naruto dan menatap mata saphire pemuda itu. Dia kaget ketika mendapati cahaya saphire itu meredup. Tapi dia segera kembali menguasai dirinya.

"Hei. Kau tahu Naruto. Cinta tidak harus memiliki. Kau juga harus bahagia jika Sakura bahagia. Aku yakin dia akan sedih jika melihat kondisimu seperti ini. Bukankah kau sendiri pernah bilang kepada nee-san kalau senyum Sakura adalah nafasmu? Kalau dia melihatmu seperti ini dia pasti ikut sedih. Jadi, kau harus tersenyum dan tetap membuatnya tersenyum walaupun hanya sebagai sahabatnya" tutur Karin panjang lebar.

Naruto mematung. Dia terhenyak mendengar penuturan gadis bersurai merah yang saat ini menatapnya lembut. Dia berpikir kalau apa yang dikatakan Karin ada benarnya. Dia lalu membalas senyuman itu walaupun tidak seceria dulu. "Ya, akan kucoba" ucap Naruto.

Karin senang ketika mendapati cahaya saphire itu kembali hidup walau tidak sepenuhnya. Dia lalu melepaskan pegangannya pada bahu Naruto lalu mengecup kening adiknya itu. Naruto yang diperlakukan seperti itu tersipu malu. "Aahhh Karin-nee" gerutu Naruto. Karin hanya terkikik geli lalu berjalan menuju pintu kamar Naruto. Dia menoleh sesaat ke arah Naruto.

"Oyasuminasai Naruto" ucap Karin

"Oyasuminasai Karin-nee" jawab Naruto. Pintu lalu tertutup. Naruto kembali merebahakan tubuhnya.

'Benar juga apa yang diucapkan Karin-nee' batin Naruto. Tak lama kemudian kantuk pun menerpa dan Naruto akhirnya terlelap untuk mengucapkan 'selamat datang' pada alam mimpi.


Hari ke hari, bulan ke bulan terus berlalu. Sekarang Naruto sudah menginjak jenjang kelas 3 SMA. Lagi-lagi dia sekelas dengan Naruko di kelas XII-1. Sedangkan Sakura lagi-lagi berbeda kelas dengan mereka. Tapi kali ini Sasuke juga berbeda kelas dengan gadis pink itu.

Hubungan Sakura dan Sasuke? Perasaan Naruto?

Ya, awalnya memang semenjak kejadian pernyataan cinta Sasuke kepada Sakura di taman belakang sekolah yang dilihat langsung oleh Naruto diam-diam membuat hati sang pemuda pirang itu hancur. Tapi setelah mendengar nasehat dari Karin, dia akhirnya mencoba untuk merelakan Sakura untuk Sasuke. Awalnya, ketika Sakura menyampaikan berita pernyataan cinta sang pemuda berambut raven itu, Naruko kaget dan sudah menduga kemurungan Naruto ada hubungannya dengan Sakura. Sedangkan Naruto hanya murung. Tapi keterpurukan pemuda kulit tan itu tidak berlangsung lama. Dia sudah kembali ceria sekarang walau tidak seperti dulu.

"Huh, dasar Anko-sensei. Aku kan hanya tidur sebentar tapi malah dihukum begini" gerutu Naruto. Pemuda pirang itu kini sedang berjalan menuju perpustakaan. Dia harus kena hukuman membawa beberapa kamus bahasa Inggris yang tebalnya minta ampun. Itu dikarenakan dia dihukum oleh Anko-sensei karena tidur di kelas. Alhasil, dia harus mendapat ganjaran dari guru bahasa Inggrisnya itu.

"Hei apa kau tahu?" Naruto mendengar suara seorang siswi yang sepertinya sedang mengobrol dengan temannya. Awalnya dia lebih memilih melewati mereka daripada harus mendengar gosip tidak jelas. Tapi dia langsung mengurungkan niatnya ketika mendengar nama Sasuke dan Sakura disebut-sebut. Dia lalu bersembunyi dibalik tembok dan mnguping.

"Tahu apa?" jawab sekaligus pertanyaan dari seorang siswi lainnya.

"Aku melihat kemarin Sasuke-senpai sedang jalan dengan wanita lain. Padahal bukankah dia sudah pacaran dengan Sakura-senpai?" tutur siswi itu. Naruto semakin menyimak kata-kata mereka.

"Ya, benar. Ah tidak mungkin. Aku yakin orang seperti Sasuke-senpai itu tidak mungkin berselingkuh" jawab siswi lain.

"Iya juga sih, mungkin aku salah lihat saja" ucapan siswi itu enteng. Lalu mereka melanjutkan mengobrol hal-hal yang tidak penting.

Naruto sweatdrop mendengar pembicaraan mereka. Naruto pikir obrolan mereka hanya gosip belaka jadi dia melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Dia lalu keluar dari perpustakaan dengan berbagai macam gerutuan yang keluar dari mulutnya karena berat buku itu. Dia lalu teringat akan obrolah siswi tadi lalu pemuda pirang itu bergumam pelan.

"Hahh, dasar tukang gosip" gumamnya.

Tapi sepertinya kau salah perkiraan Naruto.


"Huhh, kenapa hanya aku sendiri sih yang piket. Naruko juga malah pergi dengan teman-temannya" gerutu Naruto. Pemuda blonde itu sedang melaksanakan piket kelas sendirian karena teman-temannya sudah piket tadi pagi hanya dia yang belum. Sebagai gantinya dia harus piket sendiri di kelas pulang sekolah.

Pekerjaan Naruto terhenti ketika dia memendang keluar jendela yang langsung berhubungan dengan taman belakang sekolah. Pemuda dengan 3 coretan menyerupai kumis kucing itu melihat siluet dua orang yang berbeda gender. Dia lalu menghentian pekerjaannya lalu melihat keluar jendela tepatnya ke bawah jendela.

Saphirenya membulat, mulutnya menganga dan emosinya memuncak. Bagaimana tidak? Yang dilihatnya sekarang adalah sosok seorang pemuda berambut raven yang dikenalnya sebagai Sasuke dan kekasih Sakura sedang berciuman dengan seorang gadis pirang yang tidak pernah dilihatnya.

Tanpa aba-aba dia langsung menyambar tasnya dan melesat keluar kelas lalu berlari menuju taman belakang sekolah. Tapi sayang, dia terlambat karena sekarang yang dilihatnya hanya taman kosong. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Dia sangat marah karena melihat kejadian itu. Dia yakin itu bukan hanya khayalan belaka. Karena ketika dia melihat ke gerbang belakang yang dekat dengan taman, terlihat Sasuke yang sedang memacu motornya dan membonceng seorang gadis.

Dia belum kehabisan akal. Pemuda itu langsung berlari mencari Sakura yang menurutnya belum selesai mengikuti kegiatan ekskul karatenya. Dia berlari sekencang-kencangnya menuju ruang ekskul karate. Tapi sayang yang dia dapat hanya ruangan yang kosong.

"Arghhhh, KUSO!" geram Naruto. Tembok menjadi sasaran kemarahannya. Dia lalu berlari ke arah parkiran sekolah dan langsung menaiki motornya kemudian memacu motornya dalam keadaan emosi yang tinggi.


"Tadaima…" ucap Naruto.

"Okaeri…" jawab seseorang dari dalam rumah yaitu Naruko yang kebetulan sedang menonton televisi. Dia terheran ketika melihat Naruto berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dengan keadaan tangan yang membiru. Sebelum Naruko sempat bertanya, pemuda blonde itu sudah menutup kamarnya dengan keras dan menghasilkan bunyi yang cukup membuat saudara kembarnya kaget.


"SASUKE!"

Merasa namanya dipanggil, Sasuke menoleh dan mendapati sahabat pirang kekasihnya sedang berjalan ke arahnya, Belum sempat dia berkata-kata, dia sudah dihadiahi Naruto dengan satu pukulan yang menghantam pipi pemuda berambut raven itu.

BUAGHH

Sasuke terpental ke samping karena kerasnya pukulan Naruto yang sedang dikendalikan oleh emosi yang cukup tinggi.

"Ukh. Apa-apaan kau?" ucap Sasuke dingin. Tangannya menyeka darah yang merembes keluar dari sudut bibirnya.

Bukannya menjawab Naruto malah berlari ke arah Sasuke dan sudah bersiap akan menghajar pemuda itu lagi. Tapi sayangnya Sasuke sudah mendahuluinya dan memukul perut Naruto hingga pemuda blonde itu jatuh tersungkur.

Naruto tidak mau kalah dia berdiri walaupun masih meringis kesakitan akibat pukulan Sasuke dan dia bersiap kembali untuk menghajar pemuda itu. Pertarungan pun tak dapat dielakkan lagi.

Tak pelak itu semua menjadi bahan tontonan para murid. Ino yang kebetulan melihat itu langsung berlari mencari Naruko dan Sakura.


"SAKURA, NARUKO-CHAN!" teriak Ino kalap begitu melihat dua sahabatnya yang sedang asik berbincang.

Sakura dan Naruko menatap Ino heran seloh-oleh mereka bertanya 'ada-apa-sampai-kau-sepanik-itu'. Ino sepertinya menyadari tatapan heran gadis blonde dan pinky itu.

"Naruto dan Sasuke," Ino mengambil nafas sejenak kemudian melanjutkan kata-katanya. "mereka adu jotos di tengah lapangan basket". Mata Sakura dan Naruko melebar.

Tanpa aba-aba mereka langsung berlari ke arah lapangan basket bersama dengan Ino yang lebih memilih berjalan.

Alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati Naruto dan Sasuke sudah babak belur dan sekarang naruto sedang mencengkram kerah baju Sasuke.

"HENTIKANN!" teriak Naruko dan Sakura bersamaan. Naruko langsung berlari ke arah Naruto lalu menariknya. Sedangkan Sakura berlari ke arah Sasuke dan membantunya berdiri. Setelah Sasuke berdiri tegap, Sakura langsung menatap sinis Naruto. Dia lalu berjalan ke arah sahabatnya itu dengan tangan terkepal.

PLAKKK

Mata Naruko membulat ketika Sakura menampar saudara kembarnya itu. Sakura lalu menatap Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah, kesal, kecewa, semuanya bercampur.

"APA YANG KAU LAKUKAN NARUTO?" teriak Sakura garang. Naruto tersentak karena baru kali ini Sakura berteriak seperi itu kepadanya. Dia langsung memegang bahu Sakura lalu menatapnya dalam-dalam. Sedangkan Sakura sepetinya sedang mencoba menahan amarahnya dan membiarkan Naruto menjelaskan semuanya.

"Aku… Aku tidak mau kau terluka Sakura-chan," ucap Naruto. Raut muka Sakura sedikit berubah menjadi bingung. "aku melihatnya berciuman dengan wanita lain, dia berselingkuh" lanjut Naruto. Raut muka Sakura kembali sangar setelah mendengar lanjutan kalimat Naruto.

PLAKK

Sakura menepis kasar tangan pemuda pirang itu lalu menatapnya marah. "JANGAN PERNAH KAU TUDUH SASUKE-KUN YANG TIDAK-TIDAK" teriaknya garang. Naruto langsung terdiam lalu menunduk dalam-dalam. Sedangkan Sakura langsung berjalan ke arah Sasuke dan membantu kekasihnya itu berjalan menuju UKS.

"HEI, ADA APA INI RIBUT-RIBUT" teriak seorang wanita dari arah kerumunan murid. Para murid langsung menyingkir dan membiarkan Tsunade, sang kepala sekolah dan juga yang berteriak tadi.

Tsunade melihat Naruto yang sudah luka-luka dan Naruko yang tampaknya sedang mencoba menenangkannya. Wanita usia kepala lima yang masih terlihat muda itu menghela nafas berat.

"NARUTO, IKUT AKU KE RUANG KEPALA SEKOLAH SEKARANG" teriak Tsunade dan lagi-lagi membuat para murid bergidik ngeri. Wanita itu kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang kepala sekolah diikuti Naruto dari belakang.


"Hahh, jadi hanya karena masalah seperti itu kau jadi seperti ini, Naruto?" tanya Tsunade heran.

Naruto yang tadi menunduk lalu mengangkat kepalanya. "Maafkan aku ba-san" sesal Naruto.

Ba-san? Ya. Tsunade adalah bibi Naruto dan saudara jauh Kushina.

Wanita itu hanya menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak tahu apa reaksi Minato mendengar semua ini" ucap wanita itu. Naruto tetap menunduk. Pemuda pirang itu tahu, Tsunade pasti memberitahu hal ini kepada ayahnya.

"Baiklah sekarang kau boleh kembali ke kelas" ucap Tsunade. Lalu Naruto pun keluar dari ruangan itu dengan kepala yang masih tertunduk.


Sejak kejadian itu berhari-hari bahkan berminggu-minggu Naruto berusaha meminta maaf kepada Sakura tapi gadis pink itu terus menghindar darinya. Hingga suatu ketika pulang sekolah Naruto secara tidak sengaja bertemu Sakura. Awalnya Sakura akan pergi, tapi dengan sigap tangan kekar Naruto menahan tangannya.

"Mau apalagi Naruto?" tanya Sakura sinis tanpa menoleh ke arah Naruto.

Naruto tersentak ketika mendengar nada sinis Sakura tapi dia langsung kembali ke tujuan awalnya.

"Aku minta maaf Sakura. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku…" Naruto menghela nafas sejenak, "aku mencintaimu Sakura".

Sakura tersentak mendengar pernyataan Naruto. Dia yakin Naruto serius dengan kata-katanya barusan karena pemuda itu bahkan menghilangkan sufix 'chan' yang biasa digunakannya ketika mengobrol dengan Sakura. Tapi dia tidak menggubrisnya sama sekali malah menjawab dengan nada sinis.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan Naruto. Sekarang jangan dekati aku lagi. Maaf, tapi aku mencintai Sasuke-kun".

DEG

Hati Naruto langsung pecah berkeping-keping. Dia mematung dan melepaskan tangan Sakura. Sedangkan Sakura langsung berlari meninggalkan Naruto.

SAKURA POV

Ukh perasaan apa ini. Kenapa rasanya sakit ketika aku berkata seperti itu. Lebih sakit dibandingkan ketika aku melihat Sasuke terluka. Oh, Tuhan. Ada apa dengan hatiku ini?

Tes

Tes

"Eh?"

Aku tersentak. Kenapa air mataku jatuh tanpa kuperintah. Ada apa ini, kenapa hatiku sesakit ini? Perasaan apa ini?

NORMAL POV

Naruto masih mematung sampai rintik-rintik air hujan menyadarkannya. Kemudian rintik-rintik itu berubah menjadi hujan yang cukup lebat mengguyur kota. Naruto tidak peduli, Dia malah tersenyum kecut lalu berjalan gontai keluar dari area sekolah.

Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani
Sunyi ku rasa dalam hidupku
Tak mampu ku tuk melangkah

Hari-hari Naruto pasti akan terasa sepi. Tanpa ada Sakura yang selalu di dekatnya. Dia terus melangkah menerobos hujan walaupun sepertinya kakinya sudah lelah.

Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini

Naruto tidak mempedulikan air hujan yang terus mengguyur tubuhnya. Yang ada di pikirannya hanya senyum Sakura. Tapi dia sadar, dialah yang membuat Sakura tidak mau tersyum untuknya lagi. Tak terasa air mata Naruto menetes bercampur air hujan.

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Sakura selalu jadi yang terindah untuk Naruto. Dia bertanya-tanya kenapa kisahnya harus berakhir seperti ini. Kakinya sudah tidak kuat melangkah. Dia lalu jatuh terduduk dengan lutut menopang tubuhnya. Bibirnya membiru karena hawa dingin.

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Yang seperti ini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Hampa kini yang ku rasa
Menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku

Pandangannya akhirnya mengabur. Tubuhnya benar-benar sudah tidak kuat menopang berat badannya. Dia akhirnya jatuh membentur aspal.

"NARUTO!"

TBC


Huweeeee maaf-maaf. Ceritanya jelek ya. -_- Makulum masih firsfic.

Disni gak ada bashing chara ya. Sakura sebenarnya gak maksud kayak gitu tapi emosinya yang bikin dia kayak gitu. Terima kasih kepada yang udah review baik yang login atau tidak dan juga buat silent reader (kalau ada) jangan lama-lama ya jadi silent readernya hehehe. :D

Mohon maaf kalau banyak kesalahan di chapter ini.

Kritik dengan alasan yang jelas, saran, tanggapan diterima.

See you next chap minna.. :)

RnR?