Chapter sebelumnya :

"Aku minta maaf Sakura. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku…" Naruto menghela nafas sejenak, "aku mencintaimu Sakura".

Sakura tersentak mendengar pernyataan yakin Naruto serius dengan kata-katanya barusan karena pemuda itu bahkan menghilangkan sufix 'chan' yang biasa digunakannya ketika mengobrol dengan Sakura. Tapi dia tidak menggubrisnya sama sekali malah menjawab dengan nada sinis.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan Naruto. Sekarang jangan dekati aku lagi. Maaf, tapi aku mencintai Sasuke-kun".

DEG

Pandangannya akhirnya mengabur. Tubuhnya benar-benar sudah tidak kuat menopang berat badannya. Dia akhirnya jatuh membentur aspal.

"NARUTO!"

Hanya Kau Yang Kucinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku

Rate : T

Genre : Hurt/Comfort & Romance

Summary : Naruto dan Sakura adalah sahabat sejak kecil. Suatu ketika Sakura menjauhi Naruto. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sakura menyadari betapa dia sangat membutuhkan Naruto dan meyesali keputusannya.

WARNING : AU, OOC(maybe), gaje, abal, pemilihan kata yang kurang tepat dan typo(s)

Song by Sammy Simorangkir - Kesedihanku

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

THIS IS IT

Chapter 4 :

FLASHBACK ON

"Untung kau datang Sui-kun. Kalau tidak aku pasti masih di kampus menunggu hujan reda." ucap seorang gadis bersurai merah yang tak lain adalah Karin. Dia saat ini sedang berada di dalam mobil kekasihnya, Suigetsu.

"Hei, sebagai kekasih sudah pasti aku tidak mau membuatmu kedinginan di kampus. Jadi kuantar saja." jawab Suigetsu tanpa menoleh karena matanya fokus untuk menyetir.

Konsentrasi Suigetsu pecah ketika dia melihat sesosok pemuda berambut pirang cerah yang berjalan gontai di tengah guyuran hujan. Dia lalu menepikan mobilnya.

"Hei, Karin. Apa kau kenal dia? Sepertinya aku merasa familiar dengan rambut itu." ucapnya seraya menunjuk ke arah pemuda itu. Karin yang tadi sedang berkutat dengan handphonenya, kini memandang ke arah yang ditunjuk Suigetsu.

"Ya. Aku juga merasa familiar dengan rambut itu." balasnya sembari mencoba mengingat siapa yang memiliki rambut seperti itu. Kulitnya tan dan itu tetap terlihat walaupun dalam keadaan diguyur hujan.

"Rambut jabrik, pirang cerah," selidik Karin, "kulit tan, seragam KHS, dia… eh?" Karin tersentak dia baru sadar kalau itu adalah Naruto. "Itu Naruto!" ucapnya panik. Kepanikannya semakin parah ketika melihat adiknya itu tumbang dan menghantam aspal.

Tanpa aba-aba dia langsung membuka pintu mobil dan membentangkan payung lalu berlari ke arah Naruto. Suigetsu pun ikut turun dengan payung yang entah sejak kapan ada ditangannya(?).

"NARUTO!"

FLASHBACK OFF

Karin terus berteriak di tengah langkah cepatnya (baca : lari). Tapi sayang hingga dia sampai di dekat pemuda pirang itu, dia tidak mendapat jawaban sama sekali. Gadis bersurai merah itu lalu berjongkok dan berusaha menegakkan tubuh adiknya itu.

Suigetsu pun tidak tinggal diam. Sesampainya di tempat Naruto, dia langsung membopong pemuda itu dan berjalan di tengah hujan menuju mobilnya. Sedangkan Karin hanya memayungi mereka berdua dalam keadaan cemas dan panik bukan main.

Suigetsu langsung membuka pintu mobil dan menidurkan naruto di jok belakang. Karin juga ikut duduk di belakang untuk menemani dan menjaga adik laki-lakinya itu.

Setelah semua telah naik, Suigetsu langsung melesat menuju ke arah kediaman Namikaze.

"Naruto, ada apa denganmu?" tanya Karin cemas terhadap Naruto. Tapi sayang pemuda itu belum siuman. Mereka masih dalam perjalanan menuju kediaman Namikaze.

CKITT

Mobil Suigetsu berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah yang pada plang di depan pagarnya ada tulisan 'Namikaze'. Dia lalu turun dan membopong Naruto lagi keluar dari mobil.

Dengan langkah tergesa-gesa, pemuda yang memiliki gigi bak gigi hiu itu membawa masuk Naruto ke dalam rumahnya. Karin pun ikut mengambil langkah cepat agar bisa memencet bel rumah karena sepertinya rumah dikunci.

Ting Tong Ting Tong

"Yaa. Sebentar!" terdengar suara dari dalam rumah. Lalu kemudian derap langkah menuju arah pintu pun semakin mendekat.

CKLEKK

Alangkah terkejutnya Naruko yang hanya di rumah sendirian ketika mendapati adik kembarnya tak sadarkan diri dan dibopong oleh Suigetsu.

"A-ada a-apa ini?" tanya Naruko terbata-bata. Tapi sebelum mendapat jawaban, ternyata Suigetsu sudah melengos pergi ke arah tangga menuju kamar Naruto.

"Naruto tadi pingsan." jawab Karin.

"Haa? Bagaimana bisa?" ucap gadis pirang itu kaget. Bagaimana dia tidak kaget jika adik kembarnya yang selalu percaya diri itu tiba-tiba pingsan dan terkulai lemas seperti itu.

"Nee-san juga tidak tau. Ketika Nee-san melihatnya, aku juga kaget tiba-tiba Naruto pingsan" ucap Karin. Naruko dapat menangkap nada kecemasan dari kakaknya itu.


"Dia hanya demam. Mungkin karena hujan-hujanan" ucap Suigetsu santai. Dia baru saja mengecek dan mengompres Naruto. Sedangkan Karin dan naruko hanya membuatkan makanan dan teh hangat untuk Naruto ketika dia sudah siuman.

"Ah. Arigatou Sui-kun." ucap Karin.

"Hehehe tidak usah sungkan. Lagipula dia kan calon adik iparku" jawab Suigetsu sambil menyeringai jahil ke arah Karin. Karin hanya tersipu ketika mendengar kata'calon adik ipar'. "Ya sudah aku pulang dulu. Titip salam untuk Naruto jika dia sudah sadar" lanjut Suigetsu seraya berdiri dari sofa lalu berjalan ke arah pintu.

"Ya. Pasti kusampaikan." balas Karin kepada Suigetsu disertai senyuman manis. Suigetsu yang sempat melihat sekilas hanya membalasnya juga dengan senyum lalu sosoknya pun menghilang di balik pintu.

"Nah Naruko. Ayo sekarang kita lihat kondisi anak itu." ajak Karin sembari berjalan menaiki tangga menuju kamar Naruto. Yang diajak hanya mengangguk lalu mengekor di belakang Karin.


NARUTO POV

"Nghhh"

Aku mengerang pelan lalu membuka mataku. Dimana ini? Kenapa aku disini? Dan siapa yang membawa ku ke sini?

Ahh. Aku baru sadar ini adalah kamarku. Tapi kenapa aku bisa disini? Dan siapa yang membawaku kesini?

Ahh. Aku juga baru ingat tadi aku hujan-hujanan lalu pingsan. Aku sempat mendengar suara sayup-sayup seseorang memanggil namaku. Seperi suara Karin-neesan. Apa mungkin dia yang membawaku ke sini?

CKLEKK

Aku reflek menoleh ke arah pintu kamarku ketika mendengar benda yang terbuat dari kayu itu terbuka. Disana aku melihat Karin-nee dan naruko yang sedang berjalan ke arahku. Karin-nee mengambil tempat di sisi tempat tidurku.

"Sudah baikan?" tanyanya kepadaku sembari mengelus rambut pirangku lembut.

"Ya. Sedikit." ucapku sekenanya. Pikiranku kembali ke peristiwa yang baru saja terjadi sehingga membuatku pingsan.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan Naruto. Sekarang jangan dekati aku lagi. Maaf, tapi aku mencintai Sasuke-kun".

Ahh. Kata-kata itu. Kata-kata yang terlontar dari bibir sahabatku. Orang yang aku cintai. Sebegitu kesalnya kah dia kepadaku sehingga mengucapkan hal itu?.

"Naruto-kun. Sebenarnya kenapa kau bisa pingsan?" kali ini aku mendengar suara Naruko yang bertanya.

"Nanti akan aku ceritakan. Sekarang boleh tinggalkan aku sendiri? Aku ingin istirahat." pintaku kepada mereka. Mereka hanya tersenyum. Karin-nee lalu mengelus rambutku pelan kemudian beranjak menuju pintu kamarku diikuti Naruko yang sempat memberikan senyum manisnya kepadaku.

"Oyasuminasai Naruto." ucap Karin-nee sebelum sosoknya menghilang di balik pintu.

"Oyasuminasai." balasku walaupun sepertinya tidak akan terdengar oleh mereka. Aku lalu berusaha memejamkan mataku dan berusaha merilekskan tubuhku. Lebih baik aku tidur dan mudah-mudahan ini adalah mimpi buruk dan besok aku akan terbangun dari mimpi ini.

NORMAL POV

Kantuk pun melanda. Tak lama kemudian Naruto pun tertidur. Dia berharap ini semua adalah mimpi walaupun sebenarnya dia tau bahwa ini adalah kenyataan pahit yang harus dihadapinya.


Matahari pagi telah datang menggantikan tugas sang dewi bulan. Tampak seorang pemuda yang masih tertidur pulas di kamarnya.

"Nghhh" pemuda yang tak lain adalah naruto itu mengerang pelan karena cahaya matahari yang menyusup ke kamarnya melalui jendela. Perlahan di kelopak matanya terbuka dan menampakkan iris saphire indah yang telah redup cahayanya. Dia lalu bangkit dan duduk di kasur. Sepertinya kepalanya masih pusing.

"Ukh. Kepalaku masih pusing lebih baik aku tidur lagi. Aku akan bilang ke kaa-san." ucap Naruto entah kepada siapa. Ketika hendak kembali merebahkan diri, pintu kamarnya terbuka.

CKLEK

Terlihat di sana dua orang perempuan bersurai merah yang mulai berjalan mendekati Naruto.

"Kau sudah baikan nak?" tanya Kushina seraya duduk di pinggir ranjang anaknya.

"Ya. Aku sudah baikan kaa-san. Tapi kepalaku masih berat." balas Naruto.

"Lebih baik kau jangan sekolah dulu Naruto. Istirahatlah" sahut Karin. Naruto hanya mengangguk pelan lalu merebahkan dirinya lagi.

"Ya sudah. Kaa-san akan telpon sekolah memberitahu kau tidak bisa hadir. Beristirahatlah. Kami akan menyiapkan sarapan untukmu." ucap Kushina lembut sembari mengelus rambut pirang cerah anak laki-lakinya itu. Lagi-lagi Naruto hanya mengangguk pelan.

Setelah mendapat balasan dari naruto berupa anggukan, Kushina dan karin beranjak menuju pintu. Tak lupa mereka berdua memberikan senyuman lembut sebelum menutup pintu.

Sepeninggalan ibu dan kakaknya, Naruto malah bangun dan berjalan gontai ke arah jendela. Pemuda pirang itu kemudian duduk di bingkai jendela rumahnya itu. Kenangan pahit yang kemarin dialaminya kembali berputar di otaknya.

Karena terlalu takut kembali membayangkan hal itu, dia pun kembali ke kasur dan menjatuhkan dirinya di kasur empuk itu. Tak lama kemudian pemuda ber'kumis' itu pun kembali terlelap.


Sakura berjalan ke sekolah dengan gontai dan menunduk. Ketika dia sedikit mengangkat wajah, bisa terlihat matanya yang sembab dan lingkaran hitam di bawah matanya. Ketika melewati pertigaan tempat biasa dia bertemu Naruto dan Naruko, dia berhenti. Entah apa yang ada di benaknya sehingga dia berhenti.

Tapi itu tak berlangsung lama. Dia kembali berjalan menuju sekolahnya masih dengan perasaan kecewa, kesal, marah, dan sejenisnya bercampur jadi satu. Ketika sampai di gerbang sekolah, dia bertemu Ino.

"Pagi, Forehead" sapa Ino.

Sakura mengangkat kepalanya dan berusaha tersenyum. "Pagi, Ino" jawabnya.

Ino tersentak ketika melihat mata Sakura yang sembab dan lingkaran hitam di bawah matanya. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kelas mereka berdua. Mereka berjalan diselimuti keheningan. Ino yang rasa penasarannya sudah kelewat batas akhirnya bertanya kepada sahabatnya itu.

"Kau kenapa, Sakura? Matamu sembab dan sepertinya kau kurang tidur" tanya Ino cemas. Tapi yang ditanya hanya menggeleng pelan lalu mengangkat kepalanya yang tadi masih menunduk.

"Aku tidak apa-apa" jawabnya singkat lalu memandang ke depan.

"Jangan berbohong Sakura. Kau tidak 'tidak apa-apa'. Ceritalah kalau kau punya masalah" tukas Ino. Sakura hanya tersenyum kecut lalu menggeleng pelan.

"Sudahlah. Tidak ada yang mau aku ceritakan saat ini" jawab Sakura. Ino hanya mendengus pelan. Dia tau jika sudah seperi ini, berarti memang sahabat pinknya itu sedang tidak mood.

Tanpa merasa mereka sudah sampai di kelas lalu langsung memasukinya. Tak lama kemudian bel masuk pun berbunti pertanda pelajaran pertama akan dimulai.


'Naruto kemana ya?' Sakura membatin. Dia sekarang sedang berada di kantin dan menyantap makan siangnya pelan sendirian. Dia lalu menggeleng pelan.

"Apa yang kupikirkan? Kenapa tiba-tiba aku kepikiran Naruto" gumamnya. Tapi dia sadar ada yang aneh dengan hatinya. Seharian ini dia belum melihat pemuda pirang itu di sekolah dan entah kenapa hatinya perih bak disayat pisau tajam. Dia pun bingung dengan perasaan apa yang saat ini dirasakannya.

Karena terlalu sibuk dengan makanan dan pikirannya, dia tidak sadar dua sahabat pirangnya sudah duduk di hadapannya.

"Kau kenapa Sakura-chan?" tanya Naruko heran. Sakura yang mendengar suara Naruko reflek manghentikan makannya dan entah dorongan apa dia tiba-tiba menanyakan Naruto.

"Kau tau kemana Naruto, Naruko-chan?" ucapnya entah sadar atau tidak.

"Naruto-kun sakit demam dan sepertinya tidak sekolah hingga besok" ucap Naruko dan mulai menyantap makan siangnya.

'Apa gara-gara kemarin ya?' batin Sakura bertanya. Dia pun hanya bisa melanjutkan aktivitasnya kembali. Sedangkan Ino tidak ikut berbicara sama sekali karena sedang asyik menyantap makn siangnya.

Setelah ketiga gadis itu selesai makan, bersamaan dengan itu bel pertanda jam istirahat selesai pun berbunyi. Mereka lalu berjalan beriringan menuju kelasnya.

Ketika pelajaran sudah dimulai, Sakura tidak memperhatikan sama sekali. Pikirannya masih sibuk dengan Naruto. Entah kenapa dia jadi gelisah sendiri.

'Perasaan apa ini?'


"Nghh" Naruto menggeliat sedikit lalu membuka kelopak matanya. Dia merasa sudah baikan dan mulai bangkit dari kasurnya menuju ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan air putih.

GLUKK GLUKK GLUKK

"Hahh. Segar rasanya" ucap pemuda pirang itu. Dia kemudian berjalan kembali menuju kamarnya.

Ketika akan kembali ke kamarnya, Naruto melewati ruang tamu dan melihat ayahnya sedang menonton televisi. Dia pun berjalan menghampiri Minato dan mendudukkan dirinya di sebelah ayahnya itu.

Minato yang merasa dia tidak sendiri kemudian menoleh dan mendapati duplikat dirinya sedang memandang layar televisi.

"Kau sudah bangun Naruto?" tanya Minato. Merasa dipanggil pemuda 17 tahun itu menoleh ke arah ayahnya dan tersenyum.

"Ya. Tou-san tidak ke kantor?" tanya Naruto balik.

"Ahh. Aku sengaja mangambil cuti satu hari untuk menjaga jagoan kecilku ini" jawab Minato sambil mengacak-acak rambut anaknya yang memang sudah acak-acakan.

Naruto hanya mengerucutkan bibirnya kesal dibilang 'jagoan kecil'.

"Aku sudah 17 tahun tou-san. Jadi bukan jagoan kecil lagi" gerutu pemuda itu. Ayahnya hanya tersenyum.

"Ya, ya ,ya. Bagi ayah kau tetap jagoan kecilku" balasnya.

"Huh. Terserah".

"Ada yang tou-san ingin bicarakan" kali ini nada bicara Minato berubah serius.

"Apa?"

"Tou-san ingin kau kuliah di Suna nanti agar bisa menjadi penerus perusahaan kita" tukas Minato. Naruto sempat terkejut lalu kembali tenang.

"Memangnya di Konoha tidak bisa?".

"Tidak bisa Naruto. Jika kau kuliah di sana, ayah yakin kau pasti bisa jadi penerusku" jawab Minato, "lagipula di sana ada keluarga Sabaku, sahabat ayah. Mereka pasti akan membantumu" lanjutnya.

Naruto tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk yakin.

"Baiklah. Aku bersedia".


Setelah dua hari tidak sekolah, akhirnya dia kembali ke sekolah. Teman-temannya langsung saja menghujamnya dengan pertanyaan 'kau sudah baikan'. Pemuda pirang itu hanya tersenyum sebagai balasan dan mulai berjalan ke tempat duduknya diikuti Naruko dari belakang.

Ketika pelajaran dimulai, Naruko sedikit heran ketika melihat ekspresi serius adik kembarnya yang tampak sangat serius. Tapi dia malas bertanya dan kembali menyimak materi yang diajarkan.


Dua bulan menuju Ujian Negara, Naruto tampak sibuk sekali berkutat dengan bukunya. Dan tentu saja kakak kembarnya yang melihat itu menjadi heran sendiri melihat kelakuan Naruto.

"Naruto-kun. Kau sibuk sekali belajar tidak seperti biasanya" tanya Naruko. Akhirnya pertanyaan yang selama berbulan-bulan ditahannya itu dikeluarkannya juga.

"Aku ingin menjadi penerus ayah dan kuliah di Suna" jawabnya santai.

Berbeda dengan Naruto, gadis pirang itu malah menampakkan ekspresi terkejut.

"Nani? Kau yakin? Memang tidak bisa di Konoha saja?" tanya Naruko bertubi-tubi.

"Tou-san bilang aku lebih baik kuliah di Suna".

"Hhh. Jika itu keputusanmu. Sepertinya aku akan sangat merindukanmu." ucap naruko sedih.

Naruto yang tak mau melihat kakak kembarnya itu sedih langsung berusaha menenangkannya.

"Hei. Aku juga pasti merindukanmu. Tapi aku pasti sering mengabarimu" tutur Naruto seraya tersenyum. Naruko yang melihat senyum itu hanya ikut memberikan senyumnya.

"Aku juga ingin melupakan perasaan ini" senyumnya menghilang digantikan ekspresi sedih. Kali ini Naruko yang justru mencoba menenangkannya.

"Yang sabar ya Naruto-kun." ucap Naruko. Hanya itu yang bisa diucapkannya. Dia sudah mendengar semua cerita tentang pertengkaran gadis pink sahabatnya dengan Naruto.

Pemuda pirang itu hanya mengangguk lemah lalu kembali melanjutkan belajarnya.

3 Month Later

Ujian negara telah dilewati dan sekarang saatnya pengumuman kelulusan dan peringkat kelulusan. Naruto sudah sampai di sekolah untuk melihat hasil elajarnya selama ini. Dia tersenyum puas ketika mendapati dirinya lulus dengan nilai tertinggi kedua dibawah Shikamaru.

Dia lalu berjalan menuju gerbang sekolah untuk kembali ke rumahnya dan memulai mengemas keperluannya untuk kuliah di Suna. Minato sudah mendaftarkannya untuk kuliah di sana.

Setelah Naruto pergi, giliran Naruko, Sakura, dan Ino yang melihat papan pengumuman. Sakura tersenyum ketika mendapati namanya di posisi 9 diikuti Naruko di posisi 10. Sedangkan Ino hanya mendengus sebal karena dia hanya berada di posisi 12.

"Mungkin bukan saatnya Pig" ucap Sakura tersenyum mengejek.

"Huh. Terserah." ucap Ino kesal. Tapi kekesalannya berubah menjadi keterkejutan ketika dia kembali melihat-lihat papan pengumuman kelulusan. Untungnya sekolah masih belum terlalu ramai sehingga mereka bisa leluasa melihat-lihat.

"Hahh. Naruto peringkat 2?" tanyanya heran. Pertanyaannya itu sontak membuat Sakura dan Naruko menghentikan obrolan mereka dan kembali melihat papan pengumuman.

"Hahh. Bagaimana bisa?" kali ini Sakura yang terkejut. Tapi tidak berlangsung lama ketika kembali meliaht nama Naruto. Perasaan aneh yang dirasakannya selama ini muncul lagi.

"Heh. Ternyata bocah blonde itu lebih pintar darimu Forehead" ucap Ino meremehkan. Tapi sayang Sakura tidak merespon. Ino yang mengerti semua yang terjadi ikut diam.

Sedangkan naruko tersenyum miris. 'Ternyata usahamu tidak sia-sia' batin Naruko.

"Selamat tinggal Naruto-kun." gumamnya pelan sehingga tidak terdengar oleh kedua sahabatnya.


"Jaga dirimu Naruto" ucap Kushina dengan air mata yang masih mengalir melepas kepergian anak laki-laki satu-satunya.

"Ya Kaa-san. Aku pergi dulu ya." Naruto melmbaikan tangan ke arah keluarganya yang masih meneteskan air mata melepas keprgiannya. Dia kemudian masuk ke dalam mobil Minato.

"Kau sudah siap Naruto?"

"Ya. Tou-san". Minato kemudian langsung memacu mobilnya menuju bandara.

'Selamat tinggal Sakura-chan' batin Naruto.


"Acaranya meriah ya" ucap Sakura kepada dua sahabat pirangnya.

"Ya. Sangat seru" Naruko tersenyum kecut, 'jika Naruto-kun ada di sini' lanjutnya dalam hati. Sedangkan Ino hanya mengangguk setuju.

Perhatian Sakura yang tadinya terarah ke panggung kini beralih ke arah kekasihnya yang tampak akan berjalan ke arah taman belakang. Dia lalu ikut berjalan mengikuti Sasuke setelah pamit ke dua gadis lainnya.

Sakura masih mencoba menerka-nerka sedang apa kekasihnya berjalan sendiri menuju taman belakang.

Ketika sesampainya di taman, dia terkejut bukan main mendapati Sasuke sedang berpelukan dengan gadis lain.

"Sasuke-kun.." panggilnya lirih dan pelan. Tapi tak cukup pelan untuk membuat Sasuke tidak mendengar panggilannya.

"Sa-sakura?" Sasuke ikut terkejut dan melepaskan pelukannya. Dia lalu berjalan ke arah Sakura dan memegang tangannya. Sakura tidak merespon sama sekali.

"Maafkan aku Sakura. Sebenarnya dia adalah Shion, kekasihku yang pergi entah kemana. Aku mencintaimu Sakura. Tapi aku lebih mencintai Shion. Dan sekarang dia sudah kembali, jadi maafkan aku…"

Belum sempat Sasuke melanjutkan. Sakura sudah melepaskan pegangan Sasuke. Dia lalu tersenyum dengan air mata yang menetes perlahan.

"Aku mengerti Sasuke-kun. Kembalilah padanya, pada kebahagiaanmu." Sakura langsung berlari meninggalkan Sasuke yang sudah jadi mantan kekasihnya.

Sepanjang kakinya berlari dia tidak berhenti menangis. Bukan karena Sasuke tapi karena Naruto. Dia sudah membentak pemuda itu. Menganggap semua yang dituduhkannya kepada Sasuke adalah kebohongan padahal itu dilakukannya agar Sakura tidak terluka.

"Naru..hiks..to..hiks..maaf..hiks..kan..aku..hiks" ucapnya disela-sela tangisan. Ketika dia sudah melewati koridor, dan melihat dua sahabatnya masih mengobrol dia langsung menghampiri Naruko.

Naruko tersentak ketika dia melihat Sakura mengangis.

"Ada apa Sakura-chan?" tanyanya cemas.

"Naru..hiks..to..di..hiks..mana?" tanya Sakura disela-sela tangisannya.

"Tenangkan dulu dirimu Sakura!" sahut Ino.

Sakura kemudian menghapus air matanya dan berusaha untuk tenang.

"Dimana Naruto?" tanyanya lagi dengan suara bergetar. Naruko menunduk dalam-dalam tidak sanggup untuk mengatakan bahwa adik kembarnya sudah pergi. Karena tidak mendapat jawaban, Sakura mulai tidak bisa mengendalikan emosi dan menguncang bahu naruko meminta jawaban.

"Naruto…hiks…dia dimana?" isakannya terdengar lagi. Naruko akhirnya mengangkat kepalanya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kata-kata yang membuat Sakura dan Ino kaget bukan main.

"Dia sudah pergi ke Suna tadi pagi".

Dunia Sakura terasa berputar. Kakinya lemas. Air mata terus mengalir dari permata emeraldnya. Kepalanya berat dan perlahan pandangannya mengabur.

"Naruto… maafkan aku." ucapnya pelan. Tak lama kemudian tubuhnya pun ambruk. Tapi sebelum membentur tanah, dua sahabatnya langsung menangkapnya.

"SAKURAAAA!" teriak keduanya bersamaan.

Di detik itu ,Sakura baru sadar kalau dia telah menyakiti hati Naruto. Membentaknya. Bahkan membuat dia sakit selama 2 hari.

Dan di detik itu juga dia sadar bahwa dia sangat membutuhkan Naruto dan dia juga…

…mencintai Naruto.

Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani
Sunyi ku rasa dalam hidupku
Tak mampu ku tuk melangkah

Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Yang seperti ini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Hampa kini yang ku rasa
Menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku

TBC


Huaaa gomen gomen. Baru bisa update sekarang. Saya banya tugas -_-

Chapter 3 alurnya kecepetan tapi saya mencoba memperbaikinya di chapter 4. Gak tau udah bagus atau belum. Saya masih pemula dan masih butuh bimbingan jadi mohon dimaklumi ya minna *puppy eyes*

Saatnya balas-balas review.

celanadalammulepas : heheh gomen. Ini udah diupdate. :D

Namikaze Haruno : heheh iya. Arigatou

abi. putraramadhan : ikutin aja ya :D arigatou reviewnya

Ammai Hardinata : hehehhe. Arigatou. Udah update :D

magenta-alleth : hehhe arigatou :D

OhhunnyEKA : gomen. Saya juga baru sadar. Saya udah usahain kok di chapter 4 ini. Semoga memuaskan ya. Maaf kalau masih jelek. Makasih sarannya

KENzeira : ckckckkck.. ini udah update :D arigatou

nona fergie : halloo salam kenal juga. Hheheh Sasuke gak dibikin jahat kok. Cuma sedikit playboy. Aduh gomen. Gak maksud jelek-jelekkin kok. Saya suka semua chara Naruto. Ya sudah Arigatou reviewnya :D

Anfour : Arigatou reviewnya

DarkZekai : Arigatou :D

Zee : Hehehehe susah kayaknya. Tapi arigatou reviewnya ya : D

Oke deh. Big thanks buat para reader yang mau review dan juga silent reader (kalau ada) :D

Maaf kalau masih banyak kesalahan. Saya hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan. Dan saya hanya author pemula yang masih butuh bimbingan.

Sekali lagi Arigatou gozaimasu

See you next chap minna

Kritik mengenai alur diterima dengan alasan yang jelas.

RnR?