Chapter sebelumnya ;

"Jaga dirimu Naruto"

"Ya Kaa-san. Aku pergi dulu ya"

"Kau sudah siap Naruto?"

"Ya. Tou-san".

'Selamat tinggal Sakura-chan'

….

"Naruto…hiks…dia dimana?"

"Dia sudah pergi ke Suna tadi pagi".

"Naruto… maafkan aku"

"SAKURAAAA"

Dan di detik itu juga dia sadar bahwa dia sangat membutuhkan Naruto dan dia juga…

…mencintai Naruto

Hanya Kau Yang Kucinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku

Rate : T

Genre : Hurt/Comfort & Romance

Summary : Naruto dan Sakura adalah sahabat sejak kecil. Suatu ketika Sakura menjauhi Naruto. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sakura menyadari betapa dia sangat membutuhkan Naruto dan meyesali keputusannya.

WARNING : AU, OOC(maybe), gaje, abal, pemilihan kata yang kurang tepat dan typo(s)

"blablabla" : percakapan biasa

"blablabla" : percakapan telpon

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

THIS IS IT

Chapter 5

"Ayo Naruko kita bawa Sakura ke UKS!" seru Ino panik ketika melihat Sakura pingsan. Naruko mengangguk cepat dan langsung membopong Sakura bersama Ino.

Sedangkan teman-temannya yang lain sepertinya tidak menyadari ada teman mereka yang pingsan karena tempat Sakura, Ino dan Naruko mengobrol tadi agak jauh dari keramaian. Tapi tidak bagi Kiba dan Shikamaru yang secara tidak sengaja melihat Ino dan Naruko membopong Sakura. Tanpa aba-aba merekapun berlari kecil ke sana.

Shikamaru dan Kiba langsung mengambil alih dan membopong Sakura karena melihat kedua gadis pirang itu tampak panik dan kelelahan.

"Ada apa sebenarnya Ino?" tanya Shikamaru.

"Aku juga tidak mengerti Shika. Tadi dia menghampiri kami sambil menangis lalu bertanya dimana Naruto. Setelah itu dia langsung ambruk." jawab Ino.

Setelah berjalan agak cepat akhirnya mereka sampai di ruang UKS. Tanpa ba bi bu lagi kedua pemuda itu meletakkan tubuh Sakura di atas tempat tidur UKS.

"Memang kemana sebenarnya Naruto?. Aku juga tidak melihatnya daritadi." tanya Kiba sekaligus mewakili Shikamaru yang juga tampak bingung dimana sahabat pirangnya itu.

"Dia sudah pergi ke Suna tadi pagi." jawab Naruko.

"HEEEEEE!?"

DUAKKK

"It-ittai. Apaan sih?" tanya Kiba kesal kepada pelaku yang memukulnya tadi.

"Kecilkan suaramu baka. Kau tidak lihat Sakura sedang pingsan." jawab Ino yang tak lain adalah pelakunya dengan muka garang sehingga membuat Kiba tak berkutik dengan keringat dingin mengucur di dahinya.

"I-iya maaf maaf." ucap Kiba. Ino hanya mendengus kesal lalu mengarahkan pandangan ke arah sahabat pinknya yang belum siuman. Air mukanya langsung berubah menjadi cemas.

"Kuharap Sakura cepat siuman." ucap Ino lirih. Sedangkan 3 orang lainnya hanya mengangguk dengan harapan yang sama seperti Ino.


"Baiklah Tou-san aku pergi dulu ya." Naruto lalu memeluk Minato.

"Jaga dirimu baik-baik ya nak. Titip salam kepada keluarga Sabaku ya. Dan jangan merepotkan mereka." jawab Minato di sela-sela pelukan ayah-anak tersebut. Naruto hanya mengangguk mengerti.

Ya, Keluarga Sabaku dan Namikaze memang akrab dikarenakan kepala keluarga keduanya adalah sahabat akrab bahkan mereka sudah seperti saudara. Jadi ketika mereka berlibur ke Suna pasti akan menginap di kediaman Sabaku yang lumayan besar dan memiliki banyak kamar kosong.

Maka tak heran Minato menitipkan anaknya kepada keluarga Sabaku karena Naruto tidak begitu hafal daerah Suna. Sedangkan keluarga Sabaku sendiri sudah pasti tidak keberatan karena itu berarti rumah mereka akan semakin ramai dengan adanya Naruto.

Sebenarnya Minato menitipkan anaknya dengan maksud meminta bantuan Sabaku Akira, kepala keluarga Sabaku untuk mencarikan anaknya apartemen. Tetapi beliau malah meminta Naruto tinggal di rumahnya saja. Minato sebenarnya takut merepotkan Akira. Tapi dia juga tidak enak menolak tawaran itu. Jadi setuju saja.

Tak lama kemudian Narutopun melepaskan pelukannya dan mulai berjalan ke pintu masuk lobi keberangkatan pesawat ke Suna.

Sebelum masuk dia melambaikan tangannya sesaat ke arah Minato. Lelaki dewasa itupun membalas lambaian tangan duplikat dirinya.

Setelah memastikan Naruto sudah masuk, Minatopun melangkah menuju tempat mobilnya terparkir. 'kuharap kau cepat kembali ke Konoha Naruto' Minato membatin. Dia lalu masuk ke dalam mobilnya dan melesat meninggalkan bandara.


Naruto saat ini sedang berada di ruang tunggu. Menunggu pesawat yang akan membawanya pergi ke Suna. Dia memejamkan mata dan tiba-tiba kenangannya bersama Sakura berputar kembali.

Kenangan ketika mereka pertama kali bertemu saat Naruto masih TK.

Kenangan ketika mereka sering bermain bersama ketika sekolah dasar.

Kenangan ketika mereka belajar bersama saat SMP walaupun sebenarnya yang benar-benar belajar hanya Sakura dan Naruko sedangkan dia hanya membaca komik.

Kenangan ketika Sakura membentak dan membencinya. Dan kenangan yang terakhir ini membuat dada Naruto sesak. Diapun lalu membuka matanya karena tidak kuat jika harus mengenang hal itu lagi dan membuat dia semakin sulit melupakan perasaannya terhadap gadis pink itu.

"PERHATIAN PERHATIAN. PENUMPANG PESAWAT KEBERANGKATAN MENUJU SUNA DIHARAPKAN SEGERA MEMASUKI PESAWAT MELALUI JALUR YANG SUDAH DISEDIAKAN. TERIMA KASIH"

Setelah mendengar pengumuman itu, dia berdiri dan mulai berjalan menuju jalur yang ditentukan untuk memasuki pesawat.

Naruto sudah msuk ke dalam pesawat dan hanya tinggal menunggu pesawat take off kurang dari 40 menit lagi. Sejenak dia memandang keluar pesawat dan dia tersenyum getir.

"Aku akan mencoba melupakan perasaan ini Sakura-chan. Tapi kau akan selalu jadi sahabat terbaikku." gumamnya.

Tak lama kemudian pesawat pun take off dan meninggalkan Konoha menuju Suna.


Suna Airport, bandara satu-satunya yang berada di kota Suna. Disana tampak dua sosok manusia yang tampaknya sedag menunggu seseorang.

"Hei, Gaara. Apakah sudah ada kabar dari Naruto?" tanya sosok seorang gadis berambut pirang yang dikuncir empat kepada sosok pemuda dengan rambut berwarna merah dengan tato 'Ai' di dahinya.

"Belum Temari-nee. Kurasa dia msih di dalam pesawat." jawab pemuda berambut merah yang tak lain adalah Sabaku Gaara kepada kakaknya Sabaku Temari, gadis berambut pirang tadi.

Temari hanya mengangguk pertanda mengerti. Tak lama kemudian tampaklah sesosok pemuda yang ditunggu-tunggu oleh mereka keluar dari pintu lobi kedatangan pesawat dari Konoha.

"NARUTO!" teriak Temari sembari melambaikan tangan ke arah Naruto. Sedangkan Gaara hanya tersenyum kecil ketika melihat sahabatnya sudah tiba.

Merasa namanya dipanggil pemuda pirang itupun menoleh ke asal sumber suara dan mendapati seseorang yang dikenalnya melambaikan tangan ke arahnya. Senyum tipis terukir di wajah tan miliknya. Dia pun membalas lamabaian tangan Temari dan berlari kecil ke sana.

"Wah. Apa kabar kalian?" tanya Naruto.

"Kami baik-baik saja. Kau sendiri?" jawab Temari mewakili adiknya itu sekaligus bertanya balik.

"Tentu saja aku baik. Kankurou-nii kemana?" tanya Naruto heran tidak melihat satu orang lagi Sabaku diantara mereka berdua.

"Tadi kami sudah mengajaknya. Tetapi dia ada kuliah hari ini." jawab Gaara datar. Naruto hanya ber'oh' ria.

"Kurasa kau lelah Naruto, lebih baik kita pergi sekarang." ucap Temari seraya mulai berjalan ke arah mobilnya diparkir. Naruto hanya mengangguk dan mengekori Temari dari belakang bersama Gaara.

Setelah ketiga orang itu masuk mobil, kendaraan roda 4 itupun langsung melesat meninggalkan bandara. Sebenarya Gaara ingin menyetir tapi dilarang keras oleh orangtuanya sebelum mendapatkan SIM.


"Nghh" Sakura menggeliat. Ino yang kebetulan ada di dekatnya tersentak.

"Kau sudah sadar Sakura?" tanya Ino. Perlahan-lahan kelopak mata Sakura terbuka dan memperlihatkan manik emereldnya yang tampak sudah kehilangan cahaya. Ketika Sakura akan mulai membuka mulut, Ino sudah berdiri dan berusaha membangunkan Naruko yang tampaknya tertidur lelap.

"Ada apa Ino-chan?" tanya Naruko dalam keadaaan mata yang masih belum terbuka sempurna.

"Sakura sudah sadar!" ucap Ino tidak sabaran. Detik itu pula mata Naruko terbuka sepenuhnya dan mengarahkan pandangannya ke arah Sakura dan benar saja sahabat pinknya itu sudah siuman.

Dia pun langsung berjalan ke arah Sakura diikuti Ino.

"Kau sudah sadar, Sakura-chan?" tanya Naruko khawatir begitu pula dengan Ino yang menunjukkan raut wajah cemas.

"Aku dimana?" alih-alih menjawab pertanyaan Naruko, gadis pink itu malah bertanya balik. Naruko dan Ino hanya bisa menghela nafas.

"Kau ada di UKS, Sakura. Apa kau tidak ingat kejadian tadi?" tanya Ino. Sakura mencoba mengingat apa yang menyebabkan dia ada di UKS. Sedikit demi sedikit memorinya mulai membentuk rentetan kejadian beberapa waktu yang lalu. Ketika dia menangis menanyakan Naruto yang ternyata sudah pergi ke Suna dan langsung tak sadarkan diri.

Tak pelak ingatan itu kembali membuat liquid bening keluar dari manik kehijauannya. Dia menangis karena dia merasa banyak salah kepada pemuda yang menjadi sahabatnya itu sekaligus orang yang mencintainya dan dicintainya walaupun dia terlambat bahkan sangat terlambat menyadarinya.

Sakura termenung. Gadis pink itu lalu mendapat sebuah ide. Dia akan menyusul Naruto ke Suna. Dia harus mengejar pemuda pirang itu.

"Ino, Naruko-chan. Nanti temani aku ya." ucap Sakura yang langsung membuat kedua sahabat pirangnya tersadar karena ikut terhanyut dalam kesedihan Sakura. Mereka langsung saja mengangguk.

Sakura tersenyum samar. Ya, masih ada harapan. Dia harus mencoba izin kepada orangtuanya agar diizinkan pergi ke Suna.


"Ta-tapi tou-san, kaa-san. Aku ingin ke Suna bertemu Naruto." Sakura menangis lagi. Dia baru saja mengatakan keinginannya kepada kedua orangtuanya. Tapi sayangnya ayah dan ibunya tidak mengizinkan karena letak kota itu yang sangat jauh.

"Maaf Saku-chan. Kami tidak bisa mengizinkanmu. Kau sudah terlanjur menjadi murid Konoha University. Dan lagipula Suna terlalu jauh, nak." ucap Mebuki, ibu Sakura menyesal. Sedangkan Sakura sendiri semakin menyesali keputusannya ketika meminta Naruto menjauhinya dan sekarang malah terjadi.

Mebuki sendiri yang melihat air mata terus mengalir dari emerald Sakura, mendekap anak sematawayangnya itu agar semakin tenang. Sedangkan ayah Sakura sendiri, Haruno Kizashi hanya bisa diam dengan raut wajah sedih. Begitu pula dengan 2 orang gadis pirang sahabat Sakura yang tak lain adalah Naruko dan Ino yang hanya bisa prihatin.

Kedua orangtuanya tidak bisa mengizinkan Sakura karena takut terjadi apa-apa di Suna nanti. Sakura adalah anak sematawayang jadi wajar saja orangtuanya khawatir. Walaupun Naruko mengatakan dia akan ikut tapi tetap saja Kizashi dan Mebuki tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya.

"Yang sabar ya sayang. Kalau memang Naruto jodohmu dia pasti akan kembali secepatnya" ucap Mebuki lembut disela-sela pelukannya. Sakura hanya mengangguk. Dia tidak mau membantah perkataan orangtuanya jadi mau tidak mau dia hanya akan menunggu kepulangan Naruto ke Konoha.

Tak lama kemudian Sakura pun tertidur di pelukan ibunya. Kizashi yang melihat Sakura tampak terlelap di pelukan istrinya langsung mengambil alih dan menggendong Sakura ke kamarnya.

"Kami permisi ba-san. Titip salam untuk Sakura." ucap Ino. Mebuki hanya mengangguk dan tersnyum.

"Hati-hati di jalan ya. Ini sudah malam." balasnya.

Tak lama kemudian dua gadis pirang itupun beranjak dari kediaman Haruno menuju rumah masing-masing.

"Kuharap Sakura baik-baik saja." ucap Ino khawatir.

"Ya. Dan aku juga berharap semoga Naruto-kun cepat pulang agar Sakura-chan tidak seperti ini lagi." balas Naruko. Ino hanya tersenyum getir. Dan heningpun menyelimuti perjalanan mereka.


"Tadaima."

"Okaeri. Wah Gaara, Temari. Kalian sudah pulang. Mana Naruto?" tanya nyonya Sabaku, Sabaku Karura dan juga ibu dari Gaara, Temari dan Kankurou.

"Hallo Karura-basan. Apa kabar?" ucap Naruto dari belakang sebelum pertanyaan Karura dijawab oleh dua Sabaku.

"Hai Naruto. Wah kau sudah besar ya. Padahal seingatku dulu kau terkahir kesini ketika kelas 3 SMP." ujar Karura.

"Heheheh. Begitulah ba-san. Akira-jisan mana?" tanya Naruto sembari celingukan mencari kepala keluarga Sabaku itu.

"Mencariku Naruto?" tanya Akira yang ternyata sudah ada di belakang Karura.

"Hai ji-san. Apa kabar?" tanya Naruto.

"Baik. Kau sendiri?" tanya Akira datar. Ya, sifat dingin Gaara diturunkan dari ayahnya.

"Tentu aku baik ji-san. Tadi tou-san titip salam." ucap Naruto sembari menunjukkan cengirannya.

"Hn. Sepertinya kau lelah. Gaara antar Naruto ke kamar tamu ya." perintah Akira datar. Gaara hanya mengangguk. Dia memang pendiam dan dingin, tapi Naruto sudah terbiasa dengan itu. Dibalik sifat Gaara sebenarnya dia adalah orang yang baik dan setia kawan.

"Ayo Naruto kuantar ke kamarmu." ucap Gaara diiringi senyum samar yang terpatri di wajahnya.

"Ya." jawab Naruto singkat. Dia pun berjalan membawa koper-kopernya mengikuti Gaara dari belakang.

"Nah ini kamarmu Naruto." ucap Gaara ketika sudah sampai di kamar yang akan ditempati oleh Naruto.

"Ya. Terima kasih Gaara." jawab Naruto singkat disertai cengiran khasnya.

"Hn. Jika butuh bantuan jangan sungkan-sungkan. Kamarku ada di depan kamarmu." Balas Gaara disertai senyum tipis sebelum dia msuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Naruto, dia juga masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Selesai membereskan barang-barangnya, dia langsung mandi untuk menyegarkan tubuhya yang keletihan.

Tak lama kemudian dia sudah kelua dari kamar mandi dengan kaus oblong berwarna hitam dan celana pendek. Dia pun merebahkan diri di kasur dan mengambil fotonya bersama sahabat-sahabatnya ketika SMP yang baru dikeluarkannya tadi dari koper.

Pandangan matanya langsung tertuju ke arah gadis dengan rambut berwarna soft pink yang sedang tersenyum ke arah kamera.

"Mudah-mudahan ketika aku pulang nanti kau sudah bahagia Sakura-chan. Oyasuminasai Sakura-chan." gumamnya. Tak lama kemudian dia pun terlelap dan mulai memasuki DreamLand.

Tapi sayang. Harapanmu tampaknya tak akan terwujud Naruto.


5 YEARS LATER

"Nghh"

Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar seorang pemuda sehingga membuat dia menggeliat pelan. Tak lama kemudian kelopak matanya pun terbuka dan memperlihatkan manik secerah langit biru. Pemuda pirang yang diketahui bernama Naruto itu bangun dan mengusap-usap matanya.

"Hoahhhmm. Hari ini ya. Aku harus bersiap-siap." Naruto bangun dan langsung menyambar handuk kemudian melesat masuk ke kamar mandi.

Hari ini adalah hari dia pulang ke Konoha karena kuliahnya di Suna sudah selesai dan dia ingin menggantikan ayahnya mengurus perusahaan keluarga Namikaze. Dia baru saja di wisuda kemarin.

Tak butuh waktu lama Naruto mandi dan berbenah diri. Yakin akan penampulannya, pemuda pirang itu pun berjalan keluar kamarnya dengan koper yang sudah dipersiapkannya. Dia sudah tidak sabar bertemu keluarganya. Dia terakhir pulang ke Konoha 2 tahun yang lalu itupun hanya 1 bulan.

Setelah keluar kamar, Naruto langsung mengetuk pintu kamar Gaara yang ada di depan kamarnya.

TOK TOK TOK

Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Gaara yang fisiknya telah berubah dibandingkan ketika masih 17 tahun dulu. Yang sama hanya rambut merah, lingkaran hitam pada matanya, dan tato 'Ai' yang msih setia nangkring di dahinya. Sedangkan Naruto sendiri, wajahnya sudah hampir menyerupai Minato dengan rambut pirangnya yang sudah memanjang. Yang membedakan hanya 3 goretan menyerupai kumis yang masih ada walaupun mulai menipis.

"Kau sudah siap Gaara?" tanya Naruto.

"Hn. Ayo." Gaara mulai berjalan mendahului Naruto tak lupa dia mengunci pintu kamar. Dia juga membawa koper sama seperti Naruto.

"Wah. Kalian sudah mau berangkat ya?" tanya Karura ketika malihat Gaara dan Naruto berjalan menghampirinya.

"Ya ba-san. Lagipula aku sudah rindu dengan keluarga di Konoha." jawab Naruto dengan senyumannya. Cengirannya sudah jarang terlihat.

"Temari-nee dan Kankurou-nii kemana kaa-san?" tanya Gaara yang memang tidak melihat 2 sosok kakaknya di meja makan. Yang ada hanya Karura, sedangkan Akira sudah berangkat ke kantor karena ada urusan meeting dan Gaara tahu itu.

"Oh. Mereka sedang keluar. Kaa-san juga tidak tahu kemana." jawab Karura sekenanya. Gaara hanya mengangguk mengerti. Dia lalu duduk di meja makan diikuti Naruto yang duduk di sampingnya. Mereka pun makan dalam diam.


Di tempat lain, di Konoha, terlihat seorang gadis cantik berambut merah muda yang sedang duduk di bangku Konoha Park. Ya, siapa lagi kalau bukan Sakura. Rambut pinknya sudah tumbuh hingga sepinggang dan fisiknya sudah berubah. Dia sebenarnya tidak sendiri, dua sahabat pirangnya, Ino dan Naruko sedang membeli makanan untuk mereka.

Dia tetap Sakura yang dulu. Yang membedakan hanya cahaya emeraldnya yang tidak terlalu terang semenjak Naruto pergi 5 tahun lalu. Ternyata dia masih menyimpan perasaannya.

"SAKURA-CHAN!" teriak Naruko dari jauh. Sakura tersenyum ketika melihat Ino dan Naruko berjalan mendekatinya dan menempati tempat duduk kosong disampingnya. Ino lalu menyerahkan sebotol doft drink kepada gadis pink itu.

"Arigatou Ino."

"Doo-itashimashite Sakura" balas Ino, "kau masih mengharapkannya forehead?" lanjut Ino.

Sakura tersenyum kecut, "ya Ino. Belum ada yang berhasil menggantikan posisinya di hatiku. Aku akan menunggunya" ucap Sakura. Ino tersenyum miris melihat kegigihan Sakura. Dia sangat menyayangkan, kenapa Sakura baru menyadari perasaannya terhadap pemuda pirang itu setelah dia pergi.

Tapi mau diapakan. Toh, nasi sudah menjadi bubur. Yang Ino bisa lakukan hanya berharap suatu saat nanti Naruto akan kembali.

Naruko yang mendengar percakapan dua sahabatnya itu juga tersenyum miris. Dia tetap menjadi sahabat Sakura walaupun gadis itu telah menyakiti perasaan Naruto yang berarti menyakiti perasaannya juga. Tapi dia tidak peduli. Itu bukan kesalahan Sakura. Karena memang Narutopun terlambat mengungkapkan perasaannya. Lagipula Naruto tidak membenci Sakura jadi kenapa dia harus membencinya.

'Cepatlah pulang Naruto-kun' Naruko membatin.


"Kami berangkat dulu kaa-san." pamit Gaara.

"Jangan merepotkan Kushina dan Minato disana ya." balas Karura. Untuk kali ini memang giliran Minato yang meminta Gaara agar tinggal di rumahnya.

"Ya kaa-san." Gaara melambaikan tangannya sesaat begitu pula dengan Naruto yang berdiri di sampingnya. Karura membalas lambaian tangan putranya itu.

Lalu 2 sosok pemuda itupun masuk ke dalam taksi dan melesat meninggalkan Karura yang menangis terharu. Dia sebenarnya tidak mau Gaara pergi. Tapi mau diapakan, ini memang keinginan Gaara mengurus cabang perusaahaan Sabaku di Konoha. Yang dia bisa lakukan hanya mendukung keputusan anaknya itu.


Dua sosok pemuda itu kini sudah sampai di bandara dan mulai memasuki lobi keberangkatan menuju Konoha.

"Aku tidak sabar bertemu keluargaku." ucap Naruto girang. Gaara hanya tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya itu. Gaara tahu walaupun cengiran Naruto sudah jarang terlihat tapi dia tetap Naruto yang periang dan pantang menyerah. Dan dia juga sudah tahu sejak dua tahun yang lalu ketika dia menanyakannya kepada Naruko melalui telepon. Akhir-akhir ini mereka begitu sering telpon menelpon. Naruto jadi bingung sendiri sebenarnya ada hubungan apa kakak kembarnya dengan Gaara?

Tak lama kemudian panggilan untuk memasuki pesawatpun bergema. Naruto dan Gaara langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pesawat.

'Kita akan bertemu lagi Sakura-chan'


Di Konoha airport terlihat dua sosok berbeda gender sedang menunggu seseorang. Karin dan Suigetsu. Mereka menunggu kedatangan Naruto.

"Lama sekali." Karin menggerutu.

"Sabarlah sedikit. Sebentar lagi juga sampai." sahut Suigetsu yang kesal melihat Karin mengeluh terus. Pasangan ini masih awet hingga sekarang bahkan mereka sudah tunangan.

Tak lama kemudia sosok yang ditunggunya datang bersama Gaara. Naruto langsung berjalan ke arah Karin diikuti Gaara dibelakangnya.

"Halo Karin-…

BLETAKK

"…nee. Ittai. Itu untuk apa heh?" tanya Naruto kesal. Baru bertemu sudah dihadiahi jitakan.

"Lama sekali kau baka otouto." balas Karin kesal. Tapi dia langsung menghambur dan memeluk Naruto seolah sudah tidak pernah bertemu belasan tahun.

"Kau tahu. Aku sangat kangen. Kau bahkan tidak hadir di acara pertunanganku." ucap Karin di sela-sela pelukannya.

"Hehehe. Maaf Karin-nee. Aku sibuk dengan kuliahku." pemuda pirang itu lalu langsung membalas pelukan kakaknya. Gaara dan Suigetsu yang melihat adegan kangen-kengenan kakak beradik itu hanya tersenyum.

"Baiklah kurasa saatnya kita pergi. Naruto dan Gaara nampaknya kelelahan." sahut Suigetsu. Karin dan Naruto pun melepaskan pelukannya.

Mereka berempat lalu berjalan menuju mobil Suigetsu dan langsung melesat meninggalkan bandara.


"Hei Sakura-chan." panggil Naruko. Mereka bertiga bersama Ino sekarang sedang berjalan-jalan santai menuju pusat perbelanjaan di kota Konoha.

"Ya Naruko-chan?" jawab Sakura.

"Naruto-kun akan pulang hari ini." Sakura membeku mendengar perkataan sahabat pirangnya itu. Sesaat kemudia senyumnya mengembang, emeraldnya bercahaya.

"Benarkah itu?" tanyanya antusias. Naruko dan Ino tersenyum melihat Sakura yang kembali ceria.

"Ya. Dan kurasa dia sudah di rumah sekarang." Sakura langsung saja menarik tangan Naruko dan Ino menuju arah jalan raya.

"TAXI!" taksipun berhenti.

"Ayo Naruko-chan, pig." dua sahabatnya itu hanya melongo tidak percaya melihat perubahan sifat Sakura yang 180 derajat.

Mereka langsung mengangguk saja dan masuk ke dalam taksi.


PLUK

Naruto baru saja turun dari mobil tapi dia langsung mendapat kejutan ketika seseorang memeluknya dari belakang.

Kaget? Sudah pasti. Naruto langsung memutar badannya untuk melihat siapa gerangan yang memeluknya dari belakang. Alangkah terkejutnya dia. Manik sapphirenya menangkap rambut pink. Dan sudah dipastikan itu adalah Sakura, gadis yang hingga kini belum mau bergeser dari hatinya.

"Naru..hiks..to. Maafkan..hiks…aku" ucap Sakura sesenggukan. Karin yang melihat itu segera memberi kode pada orang-orang yang melihatnya. Dia langsung mengajak Gaara, Suigetsu, dan Naruko masuk ke dalam rumah sedangkan Ino sudah pamit pulang karena kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari kediaman Namikaze.

Naruto lalu melepaskan pelukan Sakura lalu memegang kedua bahu mungilnya. Sapphire bertemu emerald. Birunya langit bertemu hijaunya hutan.

"Minta maaf untuk apa Sakura-chan?" tanya Naruto lembut.

Sakura mengatur nafasnya dulu yang tersengal-sengal karena menangis.

"A-aku te-telah menyakitimu Na-naruto." ucapnya terbata-bata.

Naruto yang baru mengerti arah pembicaraan Sakura lagi lagi tersenyum lembut.

"Sudahlah Sakura-chan itu hanya masa lalu kok. Aku sudah memaafkanmu." balas Naruto tulus. Sakura terkejut. Alangkah besarnya hati pemuda pirang ini. Walaupun telah disakiti dia tidak menyimpan dendam pada Sakura dia justru tersenyum lembut kepadanya. Dan itu membuat Sakura semakin terisak dan memeluk Naruto. Mendekapnya erat seolah tidak mau kehilangan pemuda pirang itu lagi.

Naruto tersenyum dia lalu membalas pelukan Sakura.

"Maaf Sakura-chan. Aku masih mencintaimu hingga sekarang. Belum ada yang berhasil menggeser posisimu di hatiku." ucap Naruto.

Sakura lalu melepaskan pelukannya dan memukul Naruto pelan. Pemuda 22 tahun itu terkekeh melihat tingkah Sakura.

"Untuk apa minta maaf baka. Aku juga mencintaimu." suara Sakura parau karena habis menangis. Tapi itu tetap terdengar oleh Naruto. Pemuda jabrik itu tersentak. Kemudian dia tersenyum lembut dan mendekap Sakura.

Gadis pink itupun tersenyum di dalam dekapan Naruto.

"Arigatou Sakura-chan." Sakura mengangguk dalam pelukan Naruto. Pemuda ber'kumis' itu lalu melepaskan pelukannya. Tapi tidak melepas pegangan lengannya pada pinggang ramping Sakura.

Perlahan Naruto memiringkan sedikit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Deru nafas Naruto menerpa kulit wajah putih nan halus milik gadis pink itu dan membuatnya merona. Seolah terhipnotis Sakura memejamkan mata. Naruto yang melihat Sakura memejamkan mata, seakan Sakura telah memberi kode diapun ikut memejamkan matanya.

Bibir mereka berdua bertemu. Memberikan kehangatan bagi mereka berdua. Bukan ciuman penuh nafsu, yang ada hanya ciuman penuh kasih sayang dan kerinduan. Naruto memperdalam ciumannya dan itu membuat Sakura meletakkan lengannya di leher Naruto.

Karena mereka berdua hanya manusia biasa dan memerlukan oksigen, akhirnya ciuman mereka pun selesai membuat beberapa orang mendesah kecewa.

Beberapa orang? Ya sudah pasti itu adalah Naruko, Karin, Gaara, dan Suigetsu, ditambah dengan Kushina yang diajak Karin.

Sebenarnya yang mendesah kecewa hanya para perempuan yang wajahnya tampak merona. Sedangkan 2 pemuda lainnya hanya tersenyum tipis.

"Sepertinya sebentar lagi akan ada yang menyusul kita Suigetsu-kun."ucap Karin disertai tertawa kecil. Sedangkan Suigetsu hanya tersenyum hampir menyeringai.

"Kaa-san senang jika Naruto mendapatkan kebahagiannya." sahut Kushina tersenyum. Tentu saja dia bahagia. 2 tahun lalu ketika Naruto pulang dia melihat cahaya manik sewarna langit biru milik anaknya masih belum menampakkan seluruh cahayanya. Dan sekarang cahaya itu sudah kembali dan terlihat di mata Naruto.

Kita kembali ke dua sejoli yang tampaknya masih mengatur nafas dengan keadaan muka memerah. Setelah nafas mereka teratur kembali, Naruto langsung menarik Sakura ke dekapannya. Mendekapnya erat, begitu pula dengan gadis pink itu. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Naruto.

Well, sepertinya kau sudah menemukan kebahagiaanmu Naruto.


"Jadi?" tanya Naruto. Mereka sekarang sedang duduk berdua di taman dekan rumah Naruto.

"Jadi apa?" heran Sakura. Naruto menyeringai jahil. Dan itu berhasil membuat Sakura merona.

"Kita sekarang pacaran?" tanya Naruto masih menyeringai. Sakura langsung memukul pelan bahu Naruto.

"Tentu saja baka. Kau tidak usah bertanya lagi." belum sempat Naruto menjawab, lagi-lagi Sakura memeluknya dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah mengingat kejadian tadi di dada bidang Naruto. Pemuda jabrik itu tersenyum dan membalas pelukan kekasih barunya.

"Hehehe baiklah. Sepertinya sudah mau malam lebih baik kau kuantar pulang." Sakura mengangguk dan melepaskan pelukannya seraya mengikuti Naruto beranjak dari bangku taman itu.

"Kita ke rumahku dulu. Aku akan mengantarmu naik motor." ucap Naruto.

"Heh? Sejak kapan kau bisa naik motor Naruto?" heran Sakura. Seingatnya Naruto dari dulu belum bisa menaiki kendaraan beroda 2 itu.

"Heheheh. Aku di Suna juga belajar menaiki motor dan mobil Sakura-chan." jawab Naruto dengan cengiran khasnya. Sakura terkekeh melihat cengiran Naruto yang belum berubah padahal sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.


"Terima kasih Naruto." Sakura sekarang sudah sampai rumahnya setelah diantar Naruto.

"Ya Sakura-chan. Lagipula aku ini kan pacarmu. Jadi jangan sungkan-sungkan. Hehehe." ucap Naruto cengengesan. Sakura merona dan memukul bahu Naruto.

"Baka." gumamnya dengan senyuman manis yang dapat membuat para laki-laki jatuh bangun *eh maaf* ehm, maksudnya jatuh hati.

"Ya sudah. Aku pamit dulu ya."

"Eh. Tidak mampir dulu Naruto?" tanya Sakura heran

"Besok saja. Pasti kaa-san sedang menungguku dirumah." Sakura hanya mengangguk memaklumi. Naruto berjalan mendekati Sakura dan…

CUP

…mencium bibirnya sekilas.

Sakura bengong. Lalu mulai wajahnya berubah merah. Ketika dia melihat ke arah sepeda motor Naruto, ternyata sudah lenyap bersama dengan sang empunya. Gadis pink itupun hanya tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya dengan keadaaan wajah yang memerah.


Naruto mengendarai sepeda motornya dengan perasaan senang yang luar biasa. Senyuma. masih terpatri di wajah kulit tannya. Terkadang dia merona jika mengingat kejadian ciuman tadi. Sesaat kemudian senyumannya itu lenyap digantikan perasaan was-was.

Sebuah mobil sedan melaju ugal-ugalan ke arahnya. Padahal sudah ada jalur untuk mobil atau motor yang berlawanan arah dengannya. Tapi tampaknya sang pengemudi sedang mabuk sehingga tidak sadar bahwa mobilnya sudah keluar jalur. Ketika mobil itu makin mendekat Naruto berusaha untuk menghindar agar tidak tertabrak. Tapi sayang, tampaknya nasib sial akan dialaminya

CKITT BRAKKK

Kedua kendaraan itu bertabrakan. Lebih tepatnya mobil itulah yang menabrak motor Naruto yang sudah berusaha untuk menghindar dan membunyikan klakson motornya. Naruto dan motornya terpental. Sedangkan mobil itu menabrak pohon. Para warga yang melihat langsung berlarian ke arah Naruto untuk melihat kondisinya.

Dan disana nampak terlihat mobil Minato yang tidak bisa lewat karena dihalangi orang-orang. Dia lalu membuka sedikit kaca mobilnya.

"Ada apa ya, Pak?" tanyanya kepada salah seorang warga yang lewat.

"Ada kecelakaan tadi. Ada mobil yang menabrak motor seorang pemuda." jawab bapak tadi.

Minato hanya mengangguk kemudia mengucapkan terima kasih. Firasatnya tidak enak. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah dan mendapati sebuah sepeda motor yang sangat dikenalinya sebagai miliknya yang sudah alam tidak dipakai. Perasaannya makin bertambah buruk. Lelaki itu langsung turun dan mendekati TKP.

Sekilas di balik kerumunan orang dia melihat rambut yang mirip dengan miliknya. Dia langsung saja menerobos kerumunan tanpa memperdulikan orang-orang.

"NARUTOO!" Minato berteriak histeris melihat anak laki-lakinya tergeletak dengan darah yang mengucur dari berbagai macam anggota tubuhnya terutama kepalanya.

"Hai. Apa yang kalian tunggu bantu orang ini membanya ke rumah sakit. Aku sudah memanggil ambulance." teriak salah seorang warga. Beberapa orangpun termasuk Minato langsung mengangkat tubuh Naruto dan memasukkannya ke dalam ambulance. Minato ikut masuk dan tanpa memperdulikan mobilnya yang ditinggal karena yang sekarang memenuhi pikirannya hanya Naruto.

Ambulance itupun melesat meninggalkan kerumunan orang-orang.


PRANGG

"Auw." rintih Sakura. Tangannya terkena pecahan gelas yang jatuh.

"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak." gumamnya pada dirinya sendiri.

KRINGG KRINGG

Telpon rumahnya berbunyi. Sakura yang kebetulan sedang berdiri di dekat telpon itu langsung mengangkatnya.

"Halo. Dengan kediaman Haruno disini."

"Hikss… Sakura-chan"

"Loh, Naruko-chan ada apa? Kenapa menangis?"

"Na-na-naruto-kun. Di-dia…"

Mendengar nama Naruto, firasat Sakura semakin memburuk.

"Kenapa dengan Naruto?" tanyanya cemas.

"Naruto-kun ke-kecelakaan" ucap Naruko parau.

JDERRRR

Sakura merasakan seolah ada petir yang menyambar hatinya. Dia mematung. Air mata setetes demi setetes dan akhirnya mengalir deras dari manik emeraldnya.

"Ha-halo Sa-sakura-chan?"

Sakura tersadar. Sekarang dia haru melihat kondisi Naruto, kekasihnya.

"A-aku akan ke-kesana." telpon ditutup sepihak oleh Sakura. Dengan keadaaan menangis dia mengambil jaketnya dan berlari keluar rumah tanpa memperdulikan orangtuanya yang memandangnya heran. Di luar rumah dia langsung memanggil taksi dan menuju ke rumah sakit yang kebetulan sempat ditanyakannya melalui e-mail kepada Naruko di sela-sela langkahnya.


DRAP DRAP DRAP

Langkah Sakura bergema di rumah sakit Konoha. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya jengkel karena berisik. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Naruto. Ketika sampai di depan kamar Naruto, dia melihat anggota keluarga Namikaze dan juga sahabat-sahabat Naruto sedang menunggu di luar.

Ada Kiba, Shikamaru, Gaara, Suigetsu, Karin, Minato, Kushina, dan Ino yang kebetulan telah menjadi kekasih Shikamaru. Tadi Naruko memang sengaja menelpon sahabat-sahabat baik Naruto.

CKLEKK

Pandangan semua orang disana terarah ke dokter yang baru saja membuak pintu.

"Dia mengalami pendarahan di kepalanya. Sekarang dia sudah melewati masa kritis dan sepertinya sebentar lagi akan siuman." ucap dokter berambut putih dan berkacamata dengan nametag 'Kabuto' itu.

Setelah mendengar penuturan dari dokter itu, merekapun masuk satu-persatu ke dalam kamr Naruto. Hanya Minato dan Kushina yang berjalan menuju ke ruang dokter atas permintaan dokter itu. Gaara juga pergi ke toilet karena mendadak perutnya sakit.

Sakura melihat Naruto terbaring lemah. Naruko dan Karin berjalan mendekati adik tersayang mereka. Air mata sudah itdak dapat terbendung lagi dan mengalir dari manik kedua kgadis itu.

"Na-naruto-kun.. hiks" suara Naruko parau begitu pula Karin yang memanggil nama adiknya itu.

Naruto dan Karin memegang lengan kekar Naruto yang tidak dipasangi Infus. Lalu mereka dikagetkan dengan pergerakan jari tangan Naruto. Kemudian perlahan kelopak matanya terbuka.

"Na-naruko, Ka-karin-nee" suaranya hampir tidak terdengar. Tapi kedua kakaknya itu tentu saja masih bisa mendengarnya. Karin langsung memeluk Naruto. Dia khawatir, sangat khawatir malah jika Naruto tidak tertolong.

Setelah Karin melepas pelukannya kini giliran Naruko yang memeluknya erat. Sedangkan naruto sendiri hanya bisa tersenyum tanpa membalas pelukan kedua kakaknya karena tangannya masih kaku.

Setelah melepas pelukannya, Naruko memberi isyarat kepada teman-teman Naruto terutama Sakura untuk mendekat. Sakura menangis melihat keadaan kekasihnya yang baru tadi siang membuatnya bahagia sekarang terbaring lemah.

Ketik teman-temannya mendekat, Naruto tampak mengerenyitkan dahinya. Tampak berpikir

"Kalian, siapa?" tanyanya dengan suara yang kecil tapi tetap terdengar oleh teman-temannya. Semua yang disana tersentak kaget. Terutama teman-teman Naruto. Sakura dengan keadaan mata sembab karena menangis berjalan mendekat ke arah Naruto untuk menanyakan apa maksud kekasihnya itu. Tapi justru kata-kata Naruto selanjutnya membuat hatinya seakan disambar petir berkekuatan sangat tinggi.

"Kau…"

"…siapa?"

DEG

TBC


Hallo minna-sa.. hehehhe maaf ya saya hiatus selama satu bulan lebih karena persiapan ikut OSN tingkat kabupaten .Sebenarnya seminggu lalu udah mau di update tapi karena tugas yang benar-benar menumpuk membuat semuanya tertnunda. Sekali lagi gomenasai minna-san.

Disini saya bingung nama ayahnya Gaara siapa. nama Akira terlintas begitu di kepala saya. Saya bikin aja namanya jadi Akira. Hehehehe

Ya sudah sekarang saatnya balas-balas review

celanadalammulepas : hehehe maaf. sekarang udah diperbaiki.. Arigatou reviewnya.

Ade L Kazt : ini kelanjutannya maaf kelamaan. Arigatou reviewnya.

Namikaze Haruno : wah emang segitu sedihnya ya ini fic? :D Arigatou reviewnya

nona fergie : Hehehe tebakannya salah, Saku nya gak diizinin sama orangtuanya.. hehe. Arigatou

magenta-alleth : hehehe ini udah dilanjut. Maaf kelamaan.. Arigatou

Mizuka Shikitei : Makasih sarannya Mizuki-san. saya udah perbaiki kok. heheh Arigatou :D

Ammai Hardinata : hehheeh fungsi flashbacknya udah dikasih tau lewat PM ya. Ini udah update. Atigatou reviewnya :D

Gulliet : Kira kira 6 atau 7 mungkin tapi kalau lebih gak tau juga.. Soalnya gak tentu juga updatenya.. Arigatou.. :D

Zee : Udah update.. Arigatou reviewnya :D

Deidei Rinnepero13 : hehehhe yap ini udah update. Arigatou :D

rikka misaki : yoo ini udah lanjut maaf kelamaan :D

Lily Purple Lily : Hehhehe makasih reviewnya. :D jangan lama-lama kesel sama saku nya

.indohackz : Arigatou reviewnya

SakuraBloodLine : hehhee iya entar diusahain.. :D Arigatou reviewnya :)

Silent Reader : arigatou .iya bakal diusahain :D

ok deh udah selesai. Sekali lagi makasih banyak buat yang udah review baik yang login maupun gak. Makasih juga buat guest yang review.. hehhe :D

Makasih juga buat para silent reader (kalau ada) yang udah baca cerita gaje ini.

Well, sekali lagi gomen atas keterlambatan updatenya ya..

Maaf jika masih banyak kesalahan pada chapter ini. Saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Kritik dan saran diterima. Kritik alur juga diterima dengan alasan yang jelas.

See you next chap minna :)

RnR?