Terima kasih kepada kalian yang telah me-review, mem-follow, juga mem-favorite cerita ini. Saya senang atas respon positif dari kalian. Sekali lagi, terima kasih karena telah mau menunggu cerita ini untuk update.

.

.

Naruto and all characters belongs to Masashi Kishimoto

.

.

This story belongs to me, Ezra Malik

.

.

Editor, Meguharu Yuka

.

.

Chapter 2

.

.

Enjoy! :3

.

.

Hari yang selama ini tak kutunggu-tunggu tiba. Suara nyaring alarm membangunkanku dari dunia fantasiku yang indah. Entah mengapa, aku merasa akan lebih baik jika kuhabiskan waktuku seharian bersama tempat tidurku yang nyaman.

Pukul tujuh tepat.

Selama setengah jam lebih aku hanya mengulat dan berbaring malas di kasur. Berkali-kali pula aku mengubah gaya posisi tidurku padahal sepuluh menit lagi aku harus berangkat kuliah. Sasuke juga mungkin akan datang menjemput sebentar lagi. Tetapi.. biarlah. Dia datang untuk menjemput Ino, bukan aku.

Aku dan Ino memang tinggal bersama dalam satu apartemen. Aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Saudara yang tak pernah kupunya karena aku adalah seorang anak tunggal.

Kami berdua berasal dari kota yang berbeda. Aku bertemu dengannya ketika reunian bersama teman-teman akrabku ketika SMA dulu. Kebetulan pada saat itu seorang temanku mengajak Ino untuk berkumpul bersama kami. Semenjak saat itu kami berdua menjadi dekat. Terlebih ketika kami tau bahwa kami menuntut ilmu di universitas yang sama.

Ia menjadi sosok yang slalu mendukungku kala aku kehilangan semangat. Begitu pula sebaliknya. Saling melengkapi kekurangan yang kami miliki. Bagiku, Ino merupakan sahabat terbaik yang pernah ada. Maka dari itu, sebisa mungkin kubuat ia bahagia. Walauun akhirnya aku yang harus berkorban.

Semalam aku mengubungi Sasuke, memintanya untuk mulai mendekati Ino hari ini dengan mengantarnya ke kampus. Aku menghela nafas. Tengah terbayang-bayang di benakku bagaimana nanti Sasuke dan Ino bermesraan selama perjalanan dan keberadaanku pastinya tidak akan berguna. Hanya akan mengganggu proses pendekatan mereka berdua.

Mengingat itu membuatku semakin malas untuk pergi ke kampus. Memeluk bantalku erat-erat kemudian menenggelamkan wajahku disana. Rasanya hatiku sakit sekali.

"Forehead," tiba-tiba terdengar suara Ino di luar kamar.

"Masuk saja, pig. Tidak dikunci, kok." Jawabku lalu bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.

"Sasuke sudah datang, ayo cepat!" Melihatku yang masih menatapnya dengan setengah sadar, ia berkacak pinggang berdiri di samping ranjangku. "Kau bahkan belum mandi! Cepat!" Ino menarik pergelangan tanganku agar bangkit.

Aku hanya menguap tanpa berniat untuk menutupnya dengan menggunakan tangan. Lihatlah, tiba-tiba saja ia berhenti menarikku. Yamanaka Ino malah memegangi wajahnya—yang harus kuakui memang cantik. Rona kemerahan menghiasi wajahnya. "Aku tak menyangka Sasuke akan datang untuk menjemput kita hari ini. Sebenarnya aku bingung, tapi tak apalah." Ucapnya sementara ia sudah duduk di tepi ranjang.

Aku tersenyum melihatnya. "Kau semangat sekali, pig." Ia hanya tersenyum dengan rona merah yang masih menghiasi wajahnhya. "Aku tidak masuk hari ini, badanku rasanya tidak enak. Kau pergi saja sendiri." Aku kembali berbaring. Kutarik selimut hingga sebatas leher untuk menghangatkanku. Kulirik Ino yang semula bersemangat berubah menjadi muram.

Maafkan aku, Ino..

Ino menghela nafas. Ia mengelus pundakku lalu beranjak berdiri. "Baiklah. Kau istirahat saja yang banyak, forehead!" ujarnya sembari berjalan kearah pintu. "Aku sudah memasak spaghetti, makanlah sebelum dingin. Jaa~" lanjutnya. Kepalanya muncul di sela-sela daun pintu yang terbuka.

"Itterasshai.." suaraku mulai serak. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan gejolak di hatiku.

.

Pagi yang sunyi dan sepi. Setengah jam berlalu setelah Ino pergi. Kurasa saat ini ia sudah sampai di kampus. Aku mendengus. Tentu saja sudah sampai, mengingat jarak dari apartemen ke kampus tidaklah begitu jauh.

Sedari tadi yang kulakukan hanyalah berbaring dan menerawang ke langit-langit kamar. Banyak hal yang kupikirkan sekarang. Setelah beberapa saat, aku mulai bosan. Aku membetulkan posisi bantal kepalaku lalu memeluk guling kesayanganku erat-erat. Kupejamkan mataku, bersiap untuk kembali tidur. Namun suara decitan pintu terbua membuatku—terpaksa—kembali membuka mata.

"Sakura, kau sakit?" Suara itu.. Rupanya Uchiha Sasuke yang datang.

Aku bernafas lega. Sasuke beranjak mendekatiku setelah sebelumnya menutup pintu. Ia duduk di sebelah kiriku yang kosong, kemudian menempelkan tangannya di keningku. "Sepertinya kau tidak sakit." Ujarnya cuek.

Aku kembali mengubah posisi tidurku menjadi berbaring membelakanginya. "Sedang apa kau disini?" tanyaku dingin.

"Kau ini kenapa?"

"Harusnya kau pergi ke kantor, bukannya datang ke sini. Kau lihat? Sekarang sudah jam sembilan."

Sasuke menarik tubuhku sehingga kini aku berbaring terlentang. Ia menatapku tajam. "Kenapa sikapmu seperti ini?"

Aku terdiam. Bibirku membisu, tak bisa berkata apa-apa. Rasa pedih itu kembali menerpaku.

"Hm.." Sasuke bergumam pelan, namun masih dapat terdengar olehku mengingat apartemen ini hanya ada kami berdua. Terlebih dia duduk di dekatku. Aku menoleh kearahnya. Seketika, Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku.

Aku yang terkejut hanya bisa diam saat ia melumat bagian bawah bibirku. Tak berlarut-larut dalam keterkejutan, aku membalas ciumannya. Saling mengulum bibir satu sama lain dengan penuh cinta. Sampai akhirnya ciuman tersebut harus berhenti karena aku kehabisan oksigen.

Dengan wajah yang masih terpaut lima sentimeter dari wajahku, ia menyeringai. "Jika kau bersikap seperti ini karena Ino, maka aku akan berhenti mendekatinya." Ucapnya dengan nada mengancam.

Aku terdiam. Bibirku membentuk sebuah senyuman miris. Sudah sampai sini, tak akan kubiarkan rencana ini gagal.

Jemariku yang sedari tadi kaku bergerak memeluk Sasuke. Aku membenamkan wajahku di dada bidangnya. "Maaf.. tolong jangan jauhi Ino.." bisikku pelan.

Sasuke membalas pelukanku. Ini bukan lagi pagi yang sunyi dan sepi. Kehadiran Sasuke mengisi kehampaan jiwaku. Mengubah suasana hening pagi ini menjadi lebih berarti.

Aku mencintaimu, Sasuke..

.

.

Waktu berlalu. Kini matahari telah bertukar posisi dengan bulan. Suasana sudah jauh lebih menyenangkan dan hangat ketimbang pagi tadi. Saat ini, aku dan Ino sedang memasak makan malam sambil berbincang kecil. Sesekali ucapan kami menghasilkan gelak tawa. Namun, rasa pedih kembali memggerayangiku kala Ino membicarakan tentang Sasuke. Wajahnya tampak begitu bahagia dan terkadang bersemu merah. Dengan nada bicaranya yang seperti gadis sedang dimabuk cinta, Ino menceritakan kebersamaannya dengan Sasuke hari ini.

Selain pagi dimana Sasuke mengantar Ino, mereka juga bertemu saat sorenya. Sesuai permintaanku, Sasuke datang untuk menjemputnya selepas pulang kuliah. Tak hanya sekedar diantar pulang karena Ino pulang lebih larut dibandingkan biasanya. Bisa kutebak sebelumnya mereka pergi ke suatu tempat.

Aku hanya tersenyum. Kuakui aku memang lemah. Baru mendengar cerita seperti ini saja rasanya sudah mau menangis. Tetapi, rasa sakit tersebut datang bersamaan dengan rasa senang yang datang saat aku melihat wajah bahagia Ino. Membuat hatiku sedikitnya merasa sejuk karena usahaku tidak sia-sia.

Aku harus bertahan demi Ino.. Harus!

.

.

.

.

Hari demi hari berlalu. Waktu mengubah setiap perisitwa menjadi kenangan. Sudah lewat satu bulan semenjak aku meminta Sasuke mendekati Ino. Dan sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar. Sangat lancar malah. Tiga hari yang lalu, mereka akhirnya resi menjadi sepasang kekasih.

Aku.. juga sudah mulai terbiasa. Melihat mereka tertawa bersama, bergandengan tangan, berpelukan juga kemesraan-kemesraan lainnya yang biasa kulakukan bersama dengan Sasuke. Tetapi, meskipun begitu hubunganku dengan Sasuke juga semakin membaik. Sasuke yang dulu seirngkali sibuk dengan pekerjaan kantornya kini menjadi lebih sering mengjabiskan waktunya bersama aku dan Ino. Yeah, walaupun pastinya ia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ino, tetapi.. sungguh, itu bukanlah masalah bagiku. Aku akan terus bertahan sampai akhir.

Sebentar lagi.. Sebentar lagi masa-masa pahit ini akan berakhir..

Sebenarnya aku juga merasa bersalah karena telah mempermainkan perasaan Ino. Memberikannya kebahagiaan padahal sebenarnya itu hanyalah sebuah sandiwara. Terkadang kekhawatiran menggunggah hatiku kalau-kalau rencanaku dengan Sasuke terbongkar. Pasalnya, Sasuke kerap kali lupa dan bersikap layaknya seorang kekasih di depan Ino. Namun, tak ada yang bisa kulakukan. Sebisa mungkin aku akan menjaga rapat-rapat rahasia ini.

Kegelapan kembali menyapu langit biru cerah. Gemerlapan bintang mulai bermunculan. Udara yang semula berhembus sejuk perlahan berubah menjadi dingin. Malam ini, aku dan Ino akan menonton film horror bersama. Dan, tentu saja Sasuke juga ikut.

Sebelumnya kami sudah menyiapkan snack-snack dan memadamkan semua lampu. Setelahnya, kami duduk bertiga di sofa. Seperti yang bisa kalian tebak, Ino duduk di antara aku dan Sasuke.

Tak lama kemudian, film pun dimulai. Wajah kami yang semula tenang berubah tegang—Tunggu. Tidak, tidak. Hanya Ino dan Sasuke saja yang tegang. Sedangkan aku, aku benar-benar tidak menemukan dimana seramnya film ini. Lebih tepatnya, aku tidak begitu peduli dengan film yang sedang diputar.

Hal yang menarik perhatianku—bukan hanya perhatian, melainkan seluruh jiwaku adalah jeritan-jeritan Ino juga sikapnya yang sedari tadi terus memeluk Sasuke. Ia menjerit di setiap adegan. Aku benci sikap Ino yang satu ini.

Malam ini benar-benar telah menjadi malam yang amat sangat menegangkan. Lampu-lampu yang padam sehingga setiap ruangan apartemen hanya menampakkan warna hitam pekat ditambah dengan jeritan Ino membuatku seolah-olah sedang menonton film 3D. Bahkan terkadang aku merasa bahwa hantu yang seharusnya hanya ada di balik layar kaca telah berpindah tempat dan duduk tepat di sebelahku. Untuk pertama kalinya aku merasa jengkel. Tetapi aku juga merasa sakit hati. Luapan emosiku lebih kentara ketimbang rasa sakit hati.

Aku menyesal telah menyetujui usul Ino untuk menonton film horror atau film yang lebih pantas disebut film full of modus. Ino masih terus menjerit dan itu membuatku ingin menjerit juga karena tingkah lakunya. Telingaku sudah benar-benar panas sekarang.

Aku mencoba untuk meredam emosiku sebisa mungkin. Bagaimana pun juga Ino adalah kekasih Sasuke. Tetapi, aku kan juga kekasihnya Sasuke.. Seharusnya Sasuke duduk di tengah tadi. Tapi, aku juga yang telah membuat semua ini terjadi.

Menghela nafas berat, aku menoleh kearah mereka berdua yang sedang berpelukan. Lebih tepatnya Ino yang membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke dan Sasuke yang mengusap lembut punggung Ino. "Aku lelah.. Kalian nonton berdua saja. Oyasumi.."

Beranjak dari sofa yang kududuki dan melangkah ke kamar. Suasana gelap membuatku sulit berjalan. Bahkan, aku sempat salah masuk ruangan. Oh, ini memalukan. Salah masuk ruangan di apartemen yang telah kutinggali selama dua tahun hanya karena lampunya tidak dinyalakan.

Akhirnya setelah melewati banyak rintangan—kalau bisa dibilang begitu, aku pun sampai di kamar. Baru saja merebahkan diri ke ranjang selama kurang lebih sepuluh detik, tiba-tiba saja aku ingin ke toilet.

Menyebalkan.

Dengan malas aku bangkit berdiri dan berjalan keluar menuju toilet. Namun, niatku terhalang di tengah jalan. Ketika aku sampai di ruang tamu—tempat kami menonton tadi—hatiku serasa dihujam pulusan pisau yang amat tajam.

Wajah mereka berdua yang diterangi cahaya televise membuatku bisa melihat aktivitas mereka. Mereka, Sasuke dan Ino, tengah berciuman dengan mesra. Ciuman yang sama dengan yang Sasuke berikan denganku. Aku membelalakkan mata, Tak percaya dengan apa yang kulihat. Rasanya aku ingin mendamprat Ino habis-habisan, tetapi aku tau itu tak mungkin.

Butiran bening itu kembali mengalir. Kini timbul sedikit rasa penyesalan karena telah meminta Sasuke melakukan hal ini. Sejujurnya, aku tak pernah rela membagi Sasuke dengan perempuan manapun.

Aku terduduk lemas di balik dinding. Pedih dan emosi menguasaiku. Aku mencoba mengatur nafas dengan perlahan-lahan agar tidak disadari keberadaannya oleh kedua manusia berbeda jenis kelamin yang masih terus melanjutkan aktivitasnya. Dan akhirnya aku berhasil mencapai titik tenang, meskipun belum sepenuhnya.

Ino adalah kekasih Sasuke. Ingat itu, Sakura! Ingat!

Dengan mengerahkan seluruh sisa kekuatanku, aku berjalan kembali ke kamar. Kuhempaskan diriku ke ranjang. Kupejamkan kedua mataku. Dapat kurasakan cairan bening tersebut kembali mengalir. Membentuk parit kecil di kedua pipiku yang memerah.

Bertahanlah. Bertahanlah, hatiku.. Semua ini, sebentar lagi akan selesai..

.

.


To Be Continue


Author's note:

Chapter ini sudah lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Gimana? Lebih bagus ga? ;;) /ditendang

Maaf kalau typo nya banyak banget. Tangan editor sering kepeleset :'

.

Balesan review untuk chapter kemarin. Yang log-in bisa liat di PM ya :D

Razettesan: makasih atas review juga pemberitahuannya.. oke, typo akan sebisa mungkin dikurangi..

Sari ssl: ini sasusaku, cuma terakhirnya sasuino.. maaf kalo mengecewakan :(

Ai: ini ga akan panjang-panjang kok :D rencananya nanti akan ada Itachi. Sebenernya ada hal yang Sakura sembunyiin dan baru akan diungkap di chapter terakhir nanti. Tapi, makasih buat sarannya..

Sasveria: ahh maaf :3 ini kesalahan di summary nya. Summary nya kurang jelas. Sebenernya ceritanya bukan kayak gitu..

savers: sayang :( di chapter ini ada adegan kiss sasuino..

.

Special Thanks

Razettesan, Meguharu Yuka, sari ssl, Hanna Hoshiko, Ai, Sasveria, zanah pinkyblue, Febri Feven, Yui Scarlet, savers

.

Saya akan menerima dengan senang hati review dari kalian, para readers. Baik itu merupakan saran, kritik ataupun flame. Sependek atau sepanjang apapun review kalian pasti akan saya baca.

Mind to review? :3