Yay! Chapter 2 akhirnya selesai!
Disclaimer : Yamaha Corp and Crypton Future Media
Warning : Typo(s), pairing IOxIA, slight YuumaxYukari, aneh, pendek, dsb.
RnR minna?
Hope you like it!
Meet You
Chapter 2
IO's POV
Hari ini, aku ingin menemuinya.
"Aku ingin kau mencari rumah Yuzuki Yukari!"ya, itulah yang dikatakan Yuuma-nii kepadaku. Agak merepotkan tapi, tentu tak boleh kubantah. Kuakui, Yuuma-nii sangat berjasa. Tentu saja sangat berjasa! Dia menyelamatkanku dari kejamnya dunia ini. Aku kembali duduk di taman itu. Menunggu kedatangan gadis yang kutunggu. Oh, bukan itu saja alasanku ada disini. Aku juga masih ingin menemuinya. Salahkan perasaan aneh yang membuatku ingin bertemu dengannya lagi. Aku menghela nafas. Masih beberapa jam sebelum IA datang, mungkin…
"Sumimasen… Apa kau IO?"tanya seorang gadis berambut ungu dan bermata biru keunguan kepadaku.
"Itu benar."jawabku singkat.
"Adik Yuuma?"aku hendak menjawab, namun tiba-tiba aku tercengang.
"Tunggu, apakah kau Yuzuki Yukari?"aku reflek bertanya seperti itu, ia tersenyum kepadaku.
"Ya, itu benar. IA menceritakan apa yang kau tanyakan kemarin."katanya.
"Yuuma… Sudah lama aku tak mendengar nama itu. VY2 Yuuma…"aku menoleh ke arah Yukari.
"Err, boleh aku meminta alamat rumahmu?"tanyaku. Yukari mengangguk dan memberikanku secarik kertas yang berisi alamatnya.
"Kau ingin mengunjungi IA?"aku langsung malu mendengarnya. Bu-bukan maksudku meminta alamat untuk mengunjungi IA, hanya saja aku ingin menjalankan perintah Yuuma-nii.
"Kenapa dia kembali ke Tokyo?"ia duduk disampingku.
"Itu karena… Yuuma-nii ingin melamarmu."aku tak sengaja melontarkan ucapan itu. Mata biru keunguan wanita muda itu melebar, ada semburat merah di pipinya.
"A-aku harus pergi."perempuan bernama Yuzuki Yukari itu langsung pergi. Aku menggaruk kepalaku bingung. Yang terpenting aku mendapat alamatnya. Aku melihat langit biru yang begitu luas. Mata ungu keabuanku menyaksikan awan-awan putih yang melintas dengan kecepatan lambat. Aku ingat saat IA dan aku menebak bentuk-bentuk awan. Membuatku tersenyum.
"IO!"
"Haa!"aku kaget dan jatuh dari kursi. Seseorang mengagetkanku dari belakang. Kulihat seorang pemuda berambut peach dengan topi hitamnya tertawa geli.
"Asik bernostalgia?"Yuuma-nii duduk di kursi.
"I-iya…"jawabku gagap. Masih ingin mengatur perasaanku yang kacau balau karena kakakku yang satu ini.
"Jadi, kau ingin mendapat alamatnya?"tanya Yuuma-nii tak sabar,
"Ya, aku dapat."baru saja aku mengeluarkan kertas itu, Yuuma-nii langsung menyambarnya.
"Ahaha! Arigatou!"Yuuma-nii mengacak rambutku gemas.
"Kau mau bersekolah?"aku tertegun mendengar tawarannya.
"Sekolah?"kataku, ia mengangguk.
"Ya, Vocaloid Senior High School. Sekolah elit di Tokyo."katanya lagi. Aku langsung mengangguk cepat.
"Oke, bisa kau pulang? Aku tidak mengunci rumah tadi. Aku pergi dulu, ja…"Yuuma-nii langsung pergi, menghilang dari pandanganku.
"Huft…"aku menggerutu, dan mau tak mau kembali pulang untuk mengunci pintu. Hanya untuk mengunci pintu!
Normal POV
Gadis itu tengah duduk di bangkunya. Senyuman terukir di wajahnya tatkala melihat cincin bermata teal terpasang di jari lentiknya.
"IO…"katanya penuh perasaan. Memikirkan wajah pemuda yang namanya ia katakan tadi, membuat hatinya bergemuruh. Apalagi memikirkan peristiwa saat IO mencium punggung tangannya.
"A-apa yang kupikirkan?!"katanya tiba-tiba. IA menenggelamkan kepalanya di meja. Menyembunyikan rona yang ada di pipi mulusnya.
"Kenapa perasaanku begini?"
Seperti biasa, IA mengunjungi taman dimana IO biasa berada. Anehnya, gadis itu tak dapat menemukan pemuda berambut cream itu. Ayolah, dia sedang tak ingin bermain petak umpet.
"Mencariku?"gadis itu menoleh cepat kearah sumber suara.
"Itu benar."IA tersenyum manis. Angin hangat berhembus, menggerakkan anak rambut mereka. Mereka berdua duduk di bangku taman. Menikmati sore yang indah. Saling mengobrol dan tertawa satu sama lain. Tawa yang bebas. Sampai kepolosan itu berubah. Mereka tidaklah polos seperti dulu. Rasa itu berubah pada sekarang ini. Seiring waktu berlalu, benih cinta mulai tumbuh diantara mereka berdua. Namun, belum ada yang menyatakannya. Masih ingin merasakan masa pertemanan yang mengasikkan sebelum waktunya. Sebelum waktunya mereka bertemu lagi dan menyatakan hal itu.
"Sudah gelap, aku pulang ya…"menyadari langit yang sudah mulai menggelap, IA beranjak dari bangku.
"Uh, iya… Jane, IA…"kata IO sambil tersenyum lebar.
"Hm… Aku harus pulang juga."pemuda bermata ungu keabuan dan bersurai cream itu berjalan pulang ke rumahnya.
IO's POV
Aku membuka pintu rumah yang ternyata tak dikunci. Mungkin, Yuuma-nii sudah pulang. Itulah firasatku.
"Tadaima."kataku sebelum menginjakkan kaki di lantai kayu rumah ini.
"Okaeri, IO!"Yuuma-nii datang dan tersenyum senang.
"Ada apa, Yuuma-nii?"tanyaku heran, wajah pemuda itu terlihat begitu berseri-seri. Tidak seperti biasanya.
"Yukari…"katanya, aku menaikkan sebelah alisku. Masih tidak mengerti apa yang dipikirkannya.
"Dia menerima lamaranku!"kata Yuuma-nii sambil merangkulku.
"Ahaha! Itu kabar yang bagus!"ucapku, jika Yuuma-nii senang, maka aku juga harus turut senang.
"Sebagai gantinya, kau akan bersekolah di Vocaloid High School, IO!"Yuuma-nii mengacak rambutku gemas.
"Arigatou, Yuuma-nii!"seruku.
"Saat kau melamarnya, bagaimana reaksinya? Ayo ceritakan?!"tanyaku penasaran, kulihat wajah Yuuma-nii langsung bersemburat merah. Ia memalingkan wajahnya.
"Aaa… Anak kecil tidak boleh mengetahuinya. Yang jelas, ia juga sangat senang."jawabnyanya, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Mungkin perasaan abstrak bernama cinta itu dapat membuat seseorang senang atau sedih ya?
"Tapi, kau harus lulus tes untuk masuk ke sekolah elit itu. Aku tak begitu khawatir, karena aku yakin. Kau pintar untuk masuk kesana."kata Yuuma-nii dengan tatapan yakin. Aku menelan ludahku susah payah. Membuat pemuda berambut peach dihadapanku menepuk punggungku dan pergi.
"Ai, deshou?"gumamku sedikit terkekeh.
IA's POV
Aku keheranan melihat Yukari-nee yang terlihat aneh hari ini semenjak aku pulang ke rumah. Dari gerak-geriknya, wajahnya yang merona, juga ucapannya yang sedikit gagap. Bahkan tadi Yukari-nee hampir jatuh saat menaiki tangga. Untunglah tangannya segera menggapai pegangan kayu. Benar-benar membuat jantungku hampir copot. Aku ingin tahu kenapa sebegitunya Yukari-nee hari ini. Aku pun mendekatinya yang sedang tersenyum-senyum sendiri di ranjangnya.
"Yukari-nee?"aku memanggilnya,
"Ha?! E-eh ada apa IA?"katanya, aku bertambah heran.
"Apa Yukari-nee sakit? Kenapa pipi Yukari-nee merah? Juga Yukari-nee agak aneh tadi."tanyaku kepada wanita atau mungkin lebih enak disebut gadis yang berambut ungu lavender di sampingku.
"Aaa.. Ano… Aku tidak sakit, hanya saja…"uh, wajahnya sangat imut karena semburat merah yang menghiasi pipi sampai telinganya.
"Ada apa, Yukari-nee? Ceritakan saja kepadaku."aku berusaha mendapatkan jawaban kenapa Yukari-nee terlihat aneh hari ini.
"Yuuma…"katanya. Aku tak begitu mengerti, tapi sepertinya ini ada hubungannya dengan kakak IO yang bernama VY2 Yuuma itu.
"Yuuma, tadi melamarku."aku kaget mendengarnya, disela-sela kaget aku juga senang mendengarnya.
"Dan apakah Yukari-nee menerimanya?"tanyaku antusias. Seorang pemuda yang melamar gadis adalah hal yang manis dan cukup romantis bagiku. Aku harap suatu hari itu bisa terjadi dengan pemuda yang kucintai nanti.
"Aku menerimanya. D-dan… Dia memelukku erat. Dan…"Yukari-nee benar-benar gugup sekarang.
"Yuuma menciumku."mataku terbuka dengan lebar mendengar pernyataan itu. Pantas saja Yukari-nee sangat gugup. Sepertinya Yukari-nee agak lemah terhadap hal yang beromansa kuat.
"Aku sangat bahagia, IA…"aku tersenyum mendengarnya.
"Omedeto, Yukari-nee!"
Normal POV
Pemuda berambut cream dengan mata ungu keabuan itu duduk di bangkunya. Dihadapannya sudah tersedia kertas berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus ia jawab dengan benar dan tepat.
"Baiklah. Jangan gugup. Kerjakan saja dengan tenang."kata seorang pria berambut coklat gelap nyaris hitam dengan mata yang senada dengan rambutnya.
"Ha'i."kataku kepada seorang guru Vocaloid High School yang bernama Hiyama Kiyoteru itu.
"Mulai!"
Bagaimana ficnya? Aneh ya? Gomenasai!
Terima kasih sudah membaca!
Review kalian adalah harapan saya untuk terus menulis!
Saran dan kritik diterima, tapi jangan flame ya...
