Osh! Chapter 3!
Disclaimer : Yamaha Corp and Crypton Future Media
Warning : Typo(s), pairing IAxIO, slight YuumaxYukari, aneh, pendek, dsb
RnR, minna?
Hope you like it!
Meet You
Chapter 3
Sang kepala sekolah terlihat puas dengan jawaban seorang mantan murid sekolah elit itu. Hiyama Kiyoteru mengangguk senang akan hal ini. Sedangkan pemuda berambut cream di hadapannya tengah berharap bahwa ia akan lulus tes.
"Kau lulus…"dua kata yang berhasil membuat pemuda bermata ungu keabuan bernama IO itu kaget sekaligus senang.
"Arigatou!"ucap IO, ia sangat berterima kasih.
"Hampir semua jawabanmu benar, IO. Omedeto gozaimasu… Nah, silahkan bersekolah besok."kata pria berkacamata itu.
"Hontou ni arigatou, Kiyoteru-sensei!"IO membungkukkan badannya,
"Douitashimashite…"
Gadis itu menunggu seseorang di taman seperti biasa. Sudah jadi kebiasaannya untuk menunggu teman kecilnya di tempat itu.
"Ahh, seperti biasanya, IA."seseorang yang ia tunggu telah datang.
"Akhirnya kau datang!"kata IA,
"Apa kau tak lelah menungguku disini?"tanya IO, IA tertawa.
"Aku tak akan lelah kalau pada akhirnya aku bertemu denganmu."ucap gadis berambut cream panjang itu.
"Ahaha! Arigatou, IA!"IO mengacak rambut IA agak kasar, membuat gadis itu agak kesal sekaligus malu.
"Aku senang kau masih memakainya."IO duduk bersama IA dan tersenyum hangat.
"Ah, ini?"IA mengangkat tangan kanannya yang terpasang sesuatu.
"IA, maaf besok aku tak ada di taman ini."ucapan itu membuat raut wajah IA jadi kecewa.
"K-kau mau kemana?"tanya IA gagap,
"Tenang, kita besok bertemu lagi."IO menepuk punggung IA.
"Janji?"tanya gadis itu,
"Yakusoku, da yo…"
Pagi itu begitu dingin. Membuat pemuda bermata ungu keabuan itu menggigil kedinginan. Baru saja bangun, dan turun dari ranjang tingkat duanya. Ia tak melihat Yuuma.
"He?"IO bingung kemana perginya pemuda berambut peach itu.
"Ohaiyou."kata seseorang yang membawa katana.
"Whoa!"IO kaget sekaligus terheran-heran.
"I-itu katana? Untuk apa, Yuuma-nii?"tanya IO,
"Hm? Hanya ingin membersihkannya. Sudah lama tidak menyentuh benda ini. Hm, ini hari pertamamu sekolah. Cepat sana mandi!"seru Yuuma kepada adik angkatnya itu.
"Ha'i!"IO cepat-cepat berlari ke kamar mandi.
"Hari pertamaku sekolah di Vocaloid High School!"serunya.
Anak manusia itu menghela nafas. Berusaha menghilangkan segala kegugupan yang ada di hatinya. Mencari-cari ruang kepala sekolah untuk mengetahui kelasnya. Tentu saja ia tahu dimana letaknya, karena sebelumnya ia sudah mengelilingi sekolah ini untuk mengetahui berbagai tempat walaupun ada yang belum ia ketahui sebagian.
"Sumimasen."IO membuka pintu, menemukan Kiyoteru bersama dengan seorang gadis kecil.
"Ohayou, IO!"sapa Kiyoteru,
"Ohayou, nii-san!"sapa gadis berambut coklat dengan mata yang senada dengan rambutnya dengan suara yang cadel. Ah, manis dan lucu juga pikir IO.
"Ohayou…"sapa IO kepada dua orang itu.
"Ada apa, IO?"tanya Kiyoteru kepada murid baru di VHS itu.
"Ano, Kiyoteru-sensei. Saya ingin tahu dimana kelas saya."kata IO dengan sopan,
"Hm… Oh ya! Kelas 11-2!"jawab Kiyoteru.
"Arigatou, sensei…"baru saja IO hendak melangkah, gadis kecil itu menarik celananya.
"Nii-san disini saja!"kata anak itu,
"Jangan Yuki-chan. IO mau belajar."kata Kiyoteru kepada anaknya yang bernama Yuki itu.
"Tapi, Yuki mau nii-san disini!"rengek Yuki.
"Kapan-kapan kita main ya, Yuki-chan…"IO mengelus kepala Yuki dengan lembut dan tersenyum.
"He? Tapi…"anak berumur 6 tahun itu ingin merengek lagi,
"Iya, Yuki-chan. Nii-san mau belajar dulu."ujar Kiyoteru, berharap bahwa anaknya mengerti. Denagn terpaksa, Yuki pun melepas tangannya yang menarik celana biru tua milik IO. Pemuda itu tersenyum dan pergi.
"Hm, kelas 11-2…"ia mencari kelas ini.
"Ini dia."ia menemukannya dan membuka pintu kelas itu.
"Srekk!"baru saja IO membuka pintu, ia sudah melihat pemandangan kelas yang sedikit sesak. Bahkan ada yang mengobrol sangat keras. Namun yang menarik perhatiannya adalah seorang gadis berambut cream yang sedang memandang langit. Wajah putihnya terlihat begitu cantik dipengelihatannya.
'Kirei…'batin IO, pipinya pun tak luput dari warna kemerahan.
"Hei!"sapa pemuda yang lebih mirip perempuan berambut putih. IO menoleh menatap pemuda dihadapannya. Sedikit canggung.
"Apa kau tersesat?"tanya pemuda itu curiga,
"T-tidak. Aku murid baru."jawab IO sedikit gagap.
"Namaku Utatane Piko. Panggil saja aku Piko."kata Piko.
"Um, ya…"balas pemuda itu,
"Siapa namamu?"tanya Piko penasaran.
"Kau akan terkejut mendengarnya, Piko…"lirih IO sambil mencari tempat duduk yang kosong,
"Hei, tak apa! Tak ada yang perlu dikhawatirkan!"protes Piko.
"Kau bisa bertanya pada gadis yang ada disebelah sana."IO tersenyum dan melihat kearah IA yang masih belum menyadari kehadirannya di ruangan ini.
"Tapi, aku hampir tak pernah berbicara dengannya. Dia sangat pendiam. Tapi, ya… Kau tahu, dia sangat cantik dan tak begitu buruk."gumam Piko, IO hampir tertawa mendengarnya.
"Ya, kau bisa bertanya kepadanya. Karena dia yang memberiku nama."Piko kaget dan tak percaya. Tapi melihat raut yang meyakinkan itu, Piko menghampiri IA.
"IA…"sapa Piko, sedikit grogi.
"Hm? Ada apa Piko?"IA hanya melirik dengan tampang datar.
"Apa kau tahu nama pemuda itu?"Piko menunjuk IO yang berada dibelakang pemuda shota itu. Gadis itu sontak mengedipkan matanya, berharap itu bukan ilusi semata.
"IO?"
"Ha?"Piko tak salah mendengarnya.
"Yo, IA!"sapa IO, ia hendak menghampiri IA yang tercengang.
"Ha?"Piko masih ingin mengetes telinganya,
"Iya, namaku IO."pemuda berambut putih pendek itu shock. Ia tak menduga ada seseorang dengan nama yang singkat seperti IA.
"A-apa a-a-aku tak s-salah de-dengar?"
"Tidak!"
Ia tersenyum. Membuat manusia remaja di sampingnya ikut tersenyum.
"Ini tempat favoritmu? Dan kau sering menyendiri?"tanya pemuda berambut cream itu, IA mengangguk.
"Iya."balasnya.
"Tunggu… Kenapa kau menyendiri? Bukankah banyak teman yang bisa bersamamu?"kata IO, gadis itu menunduk.
"Entahlah… Aku seperti merasa sangat rendah. Bagaimana menjelaskannya? Sangat sulit…"IA melipat kakinya. Sebuah tangan menepuk kepalanya.
"Sudah kubilang. Kau tak seharusnya berpikir bahwa kau sendirian. Disekitarmu banyak sekali orang ya-"
"Tapi tak ada yang sama denganmu!"kata IA dengan nada yang tinggi.
"Tidak ada yang sama denganmu, IO…"lirihnya, membuat perasaan IO menjadi lunak.
"Hm"IO tak bisa berkata-kata lagi. Membuat atmosfer disekitar mereka menjadi canggung.
'Tidak ada yang sama, hm?'batinnya. Tak ada yang berbicara, bahkan IA pun tetap menunduk dan tidak bergeming. Membuat IO merasa tak nyaman.
"Maaf karena memaksamu."IO membuka percakapan,
"Um, tak apa apa mungkin aku yang terlalu…"IA memijat dahinya, bingung ingin berkata apa lagi.
"A-aku ah… Aku sangat tertutup."gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ingin terisak, tapi ia tidak ingin. Tidak ingin menangis. Ia ingin berhenti menangisi semuanya.
"Cengeng."gerutu IO, membuat IA semakin sedih. Tangan IO menarik tangan kanan IA dan mengenggamnya.
"Ha'i ha'i…"IO mencubit pipi IA kuat-kuat, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Ittai! Ittai! Ahha!"
"Berhenti menangis, IA!"pemuda berambut cream itu malah mencubit lebih keras.
"Sakit!"IA juga mencubit kedua pipi IO. Sampai berguling-guling.
"Berhenti! Aww!"teriak gadis itu.
"Aku tak akan berhenti sebelum kau berhenti menangis!"IO makin menjadi-jadi.
"Yamete!"IA tak tahan karena cubitan itu dan terbaring dengan IO yang ada di atasnya. Pipi IA merah, begitu pula dengan IO. Entah karena cubitan atau karena posisi mereka yang agak berbahaya. IA ingin bangun, tapi tak bisa. IO sudah mengunci pergerakannya.
"Lepaskan aku!"IA memberontak, namun tak ada hasil. Pikirannya pun sempat melayang kemana-mana. Satu detik bagaikan berjam-jam bagi mereka. IO tetap tak bergeming memandang wajah cantik dihadapannya.
Apa yang akan dilakukan IO selanjutnya? Kalian pasti tahu.
Bagaimana? Aneh? Gomenasai!
Ehehe... Arigatou karena sudah membaca!
Review kalian adalah harapan saya untuk terus menulis!
Saran dan kritik diterima. Tapi jangan flame ya!
