Akhirnya, chapter 4 di publish juga! Maaf Agdis telat.

Untuk yang telah mereview, arigatou!

Oke, langsung saja!

Disclaimer : Yamaha Corp and Crypton Future Media

Warning : Typo(s), pair IOxIA, aneh, pendek, alur cepat, dsb.

RnR, minna?

Hope you like it!


Meet You

Chapter 4


IO's POV

Aku tak ingin bergerak. Tubuhku kaku. Aku masih ingin melihatnya. Apa yang kurasakan? Dadaku bergemuruh. Pipiku terasa panas. Bukannya malah membiarkan gadis dihadapanku pergi, aku malah menahannya seperti ini. Apa yang terjadi denganku? Sepertinya IA merasakan hal yang sama denganku. Wajahnya sangat cantik, aku ingin merengkuhnya. IA temanku, teman kecilku… Aku takut melukai hati lemahnya. Dan aku takut kita berdua seperti dulu. Aku tak ingin mendengar tangisan itu lagi. Aku takut membuatnya menangis.

"Aku takut perasaan ini muncul lagi, IA. Aku merasa tidak bisa dikendalikan."lirihku. IA hanya mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang kukatakan barusan.

"Perasaan apa IO?"tanya IA polos. Tanpa aba-aba, jarak yang tadinya tercipta diantara aku dan IA menghilang. IA hanya dapat terdiam dan membulatkan matanya tak percaya.

'Kami-sama…'batinku. Aku harap IA tidak marah karena ia melakukan hal yang err… Ya kau tahu. Setelah beberapa menit aku melepasnya dan berdiri. Sedangkan IA masih berbaring disana. Menghela nafasnya yang memburu. Aku menutup mulutku, tak percaya dengan apa yang telah kulakukan.

"IA… Aku tak bermaksud… Aku…"aku menyesal dengan apa yang telah kulakukan. Aku terduduk. Kulihat gadis itu terdiam. Memandang langit dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, aku menyesal.

"Gomen ne, IA…"kataku cepat saat ia mulai bangkit dan duduk membelakangiku. Kuharap dia tak menangis karena aku.

"IA…"aku memeluknya dari belakang.

"Gomenasai ne…"kulihat wajahnya, ia tak menangis, hanya saja wajahnya semerah tomat.

"IO merenggut kepolosanku…"katanya pelan, membuatku tertawa.

"Jangan tertawa! Kau juga merenggut ciu-"aku membungkam mulutnya dengan tanganku.

"Aku harap kau tidak marah, IA…"kataku dengan suara yang kecil di telinganya.

"Ahaha!"IA tertawa geli.

"Baiklah, apa kau masih ingin disini? Aku akan kembali ke kelas."aku melepas pelukanku dan pergi meninggakan IA. Ia butuh waktu sendiri karena ulahku.


IA's POV

Pemuda yang warna mata dan rambutnya sama denganku itu sudah pergi dibalik pintu. Aku masih membelakangi pintu dan melihat ke arah langit biru. Aku masih ingin disini, meredakan dada dan nafasku yang entah kenapa. Perasaan aneh dan rasa malu muncul. Mungkin aku sedang blushing sekarang. Oh, aku ingin meredakannya dulu. Aku ingin melupakan hal tadi. Ya, mungkin aku juga tak kuat dengan hal yang beromansa kuat seperti tadi. Uh, sama seperti Yukari-nee.

"Teet! Teet! Teet!"bel berbunyi. Maka aku harus masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Uh, aku harus cepat-cepat melupakan hal itu. Aku menuruni tangga dengan agak terburu-buru. Segera berjalan dengan cepat ke kelas.


"Sreek!"kubuka pintu kelasku dengan pelan. Hanya pemandangan biasa. Kelas masih ribut seperti biasa. Mataku melihat kea rah seorang pemuda berambut cream yang tersenyum ke arahku. Sontak aku langsung duduk di bangkuku, enggan menoleh ke arah IO. Jantungku berdetak dengan cepat, memompa darahku. Rasa itu kembali lagi. Rasa aneh yang membuat hatiku tak menentu, mungkin lebih menjurus ke rasa menyenangkan sedikit memalukan? Entahlah, aku tak bisa menggambarkannya dengan jelas.

"Ada apa, IA?"aku menoleh ke arah asal suara.

"He?!"aku sangat terkejut, saat menoleh kebelakang tiba-tiba saja wajah IO sangat dekat denganku.

"Hhh… Hhh…"aku mengelus dadaku.

"Ada apa, IA?"tanyanya polos, seolah tak terjadi apa-apa. Berpura-pura tidak tahu.

"Jangan berpura-pura tidak tahu, IO…"kataku dengan tatapan tajam.

"Tentang itu tadi?"IO berbisik di telingaku, hembusan nafasnya nyaris membuatku salah tingkah. Aku mendorong dadanya yang bidang. Membuatnya mundur beberapa langkah. Aku tak pernah mengetahui kalau IO bisa bersikap seperti ini.

"Jangan berpura-pura!"aku blushing dan berbalik. Untunglah, Gakupo-sensei langsung masuk.

'Ada apa denganku dan IO?'batinku, menutup mataku sebentar dan kembali memperhatikan pria berambut ungu seperti terong di depan kelas.


Waktu sekolah berakhir. Aku masih berada di kelas, merapikan buku dan alat tulisku yang masih ada di meja. Tinggal beberapa murid disini. Termasuk aku dan uh… IO. Aku tak ingin menoleh arahnya, rasanya malu sekali. Aku menghela nafas panjang dan mulai bersenandung.

Shiranai shiranai boku wa nani mo shiranai

(Aku tidak tahu, aku tidak tahu apapun)

Kimi wa mou kodomo ja nai koto mo

(Fakta bahwa kau bukan anak kecil lagi)

Narenai hito no te no nukumori wa

(Atau kehangatan tangan orang lain)

Tada hontou ni hontou ni hontou ni hontou no koto nanda

(Tapi itu benar benar benar kenyataan)

Tak kuasadari IO mendengarkanku bernyayi.

"Hei, suaramu bagus juga…"pujinya,

"Un, arigatou!"balasku tanpa menoleh.

"Mungkin kau bisa jadi penyanyi suatu hari nanti, IA!"ujar gadis berambut hijau kebiruan yang kukenal sebagai Hatsune Miku.

"Ah, aku tak ingin menjadi penyanyi."kataku. Aku hanya bersenandung. Itu saja tak lebih, aku pun tak menghayatinya. Tapi, lagu itu terdengar sedih seperti nasibku. Membuatku ingin menyanyikannya.

"Ahaha!"IO menepuk punggungku dengan keras. Membuatku ingin terbatuk.

"Kalian cocok sekali, hehe…"Miku terkekeh, membuat pipiku memanas mendengarnya.

"Aha! Arigatou!"balas IO tiba-tiba. Aku dan Miku blushing mendengarnya.

"Um, ehe… Ja~"Miku mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kami berdua. Aku juga harus pulang 'kan? Aku berdiri, acara berkemasku sudah selesai. Waktunya pulang. Aku tersenyum kepada IO dan menarik tangannya keluar dari kelas ini.


Normal POV

Flashback : On

Dua anak sedang duduk di atas kardus. Disela-sela gedung yang begitu gelap. Suara hiruk pikuk perkotaan mungkin tak terdengar asing bagi mereka. Gadis kecil berambut cream panjang itu melipat kakinya, wajahnya menyiratkan rasa sedih dan bosan. Sedangkan pemuda cilik disampingnya juga tengah dilanda kebosanan juga. Ingin sekali bermain. Petak umpet mungkin menyenangkan, tapi tidak untuk di perkotaan yang besar ini.

"Uh?"pemuda cilik bermata ungu keabuan itu merasakan tubuhnya diterpa kehangatan, matanya pun silau saat melihatnya.

"Whoa?!"ia melihat cahaya oranye kemerahan yang begitu indah.

"Hei! Hei! Coba kau lihat cahaya itu!"anak laki-laki itu menggoyangkan bahu anak disampingnya.

"Huh?"gadis cilik berambut panjang itu menoleh.

"Wah… Warnanya cantik sekali!"mata gadis yang warnanya sama dengan anak disampingnya itu berbinar-binar.

"Ne, rasanya hangat ya?"anak laki-laki itu menggenggam tangan temannya. Teman satu-satunya.

"Aha! Iya!"ujar anak perempuan itu. Keduanya tersenyum polos. Cahaya yang menerpa mereka dan sela-sela gedung itu membuat mereka seakan tenggelam di dalamnya. Tenggelam dalam sinar hangat matahari yang terbenam.

Flashback : Off


Pemuda itu duduk di sana. Di taman yang ia biasa kunjungi ketika ingin menemui gadis itu. Namun sekarang tak perlu menunggu. Sekarang tak hanya sendirian, ditemani dengan seorang teman kecilnya. Seperti biasa memandang indahnya pemandangan sore. Membuat mereka terbuai dalam kehangatan itu. Mengenang masa kecil mereka. Menggenggam tangan satu sama lain dan tersenyum.

"Ne, kau tahu. Aku sangat senang kita bertemu lagi. Kuharap kita dapat bertemu setiap hari."kata IO tiba-tiba.

"Iya..."balas IA, tak tahu harus berkata apa lagi.

"Aku tahu cara terbaik agar kita bisa bertemu lagi setiap hari!"ucap pemuda berambut cream itu. IA hanya meniringkan kepalanya. Menginginkan jawabannya.

"Kita menikah!"

"Apa?!"

Owari


Maafkan saya karena akhirnya yang aneh dan tidak memuaskan. Chapter ini sepertinya sangat pendek.

Terima kasih untuk yang sudah membaca atau bahkan mereview fic ini!

Review kalian adalah harapan saya untuk terus menulis!

Saran dan kritik diterima, tapi jangan flame ya...