[Chaptered]
Title : Sasu Loves You!
Chapter : 02/03
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Sai.
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Oh Won Bin - I Love You and I Love You


Niat awal ini twoshot, tapi karena salah prediksi n rada ngegantung kalau sampai di sini aja, jadi saya bikin sampai 3 chapter, semoga tidak ada penambahan lagi.

Gomen untuk slow update ^^v


Suasana jam istirahat yang membosankan. Entah mengapa bento buatan Hinata-chan kali ini terasa sangat hambar di lidahku.

"A, apa o, omelettenya tidak enak?", tanya Hinata-chan.

Aku menggeleng.
"Aku tidak enak badan. Aku akan beristirahat di UKS", kataku sedikit menyesal pada Hinata-chan.
"Gochishou-sama deshita!", aku mengatupkan kedua tanganku di atas makanan.

Setelah berpamitan dengan Hinata-chan, aku langsung menuju UKS. Ah~ rasanya penat sekali.


Di UKS aku bertemu dengan Sasuke. Dia sedang duduk di sofa sambil mengobati luka di lutut kanannya.

"Naru-senpai!", sapa Sasuke terlalu bersemangat.
"Yo!", sahutku.

Aku mendekatinya. Kulihat lukanya cukup parah.

"Kau kenapa?", tanyaku.
"Terjatuh",
"Mereka membullymu lagi?",
"Menurutmu?",
"Siapa orang yang telah melukaimu seperti ini?",
"Ini hanya luka biasa, tidak perlu dipermasalahkan. Aku juga tidak mengadu padamu", Sasuke selesai mengobati lukanya. Dia berjalan sambil menyeret kaki kanannya.
"Kau bisa cerita padaku!", bujukku.

Mengapa aku jadi KEPO seperti ini ya?

"Tidak sekarang, Senpai!", Sasuke tersenyum sebelum meninggalkan UKS.


Damn! Setan apa yang merasukiku?
Mengapa aku selalu memikirkan Sasuke?
Come on, Naru! Pikirkan Hinata-chan!
Dia calon istrimu!

"Kau melamun?", tanya Sai tersenyum seperti biasa.
"Menjauh dariku!", ketusku.
"Kau takut padaku?", bisik Sai.
"Kau!", aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

Aku tidak bisa menatap monster di hadapanku ini. Dia tampak menakutkan, meskipun dia tetap tersenyum seperti biasa. Dia bukan Sai, soulmateku yang dulu!

"Nanti malam aku ingin bermain dengan anak haram itu, apa kau mau ikut?", tanya Sai.

Aku menatap tajam Sai.
"Dia adikmu! Mengapa kau tidak bisa menyayanginya sedikitpun!", makiku.

Sontak semua penghuni kelas menoleh ke arahku. Aku tidak peduli dengan pandangan orang. Aku benar-benar marah pada Sai.

Sai hanya tersenyum polos.
"Kau bicara apa, Naru? Aku tidak mengerti", tanya Sai berpura-pura bingung.
"Jangan sakiti Sasuke lagi!", ketusku.
"Oow, kau suka pada adikku?", tanya Sai.
"Kau!", perkataanku terhenti ketika merasakan tatapan aneh orang-orang sekitar memandangku.
"Adikku itu memang manis, jadi wajar kok kalau kau tertarik padanya", Sai tersenyum padaku.
"Naruto, kau naksir Sasuke?", tanya Kiba menimbrung pembicaraan kami.
"Ki, Kiba, kau salah paham", jelasku.

Aku mendengar bisik-bisikan dari orang sekitar. Mereka pasti berpikiran bahwa aku menyimpang. Damn!


Malam harinya aku memutuskan untuk ke apartment Sai. Sai hanya berseringai melihat kedatanganku.

"Malam ini kita main sepuasnya. Jangan khawatir, ini adalah rahasia kita bertiga, tidak ada yang mengetahuinya. Kau bisa pegang janjiku", jelas Sai sambil meremas kuat pundakku.
"Kupegang janjimu!", tegasku.
"Kita akan bermain 2 atau 3 ronde",
"Maksudmu?",

Sai hanya tersenyum. Dia membimbingku ke kamar Sasuke. Tanpa mengetuk, Sai langsung membuka pintu kamar Sasuke.
Kamarnya tampak gelap, hanya ada cahaya bulan yang masuk dari luar jendela.

"Jam segini dia sudah tidur?", Sai menekan saklar sehingga ruangan menjadi terang.

Cat dinding kamar berwarna biru laut, funiture-funiture yang mahal dan berkelas, tapi sayang tidak terisi dengan banyak barang. Di atas ranjang berukuran king, terbaringlah si pemilik kamar yang sedang tertidur di balik selimut, kepala pantat ayamnya menyembul keluar.

"Bangun, sayang! Ayo kita bermain!", Sai menarik selimut yang menutupi tubuh Sasuke.

Sasuke masih enggan untuk bangun.
"Sebaiknya jangan membangunkannya, biarkan dia tidur", bujukku.

Sai dengan kasar menjambak rambut Sasuke dan menyeretnya hingga terjatuh dari ranjang. Sasuke langsung tersadar penuh dari tidurnya.

"Kita bermain bertiga.. lagi..", seringai Sai.
"Tadi pagi kita sudah.. Akh!", Sasuke menjerit ketika Sai menjambaknya sekali lagi.
"Sai, jangan terlalu kasar!", protesku.
"Dia pantas untuk dikasari", jelas Sai.
"Kau dulu? Atau aku?", tanya Sai.
"Ka, kau dulu!", jawabku gugup.
"Baiklah!", Sai tersenyum senang.
"A, aku tunggu di luar!", aku berusaha bernafas dengan tenang, mengapa jantungku jadi berdebar tidak karuan?
"Kau tidak ingin melihatnya?", tanya Sai.
"Selesaikan dengan cepat!", ketusku.

Aku langsung meninggalkan kamar Sasuke. Aku menyandarkan punggungku di depan pintu.

Mengapa aku di sini? Mengapa aku tidak menolong Sasuke? Mengapa aku membiarkan Sai menyakitinya lagi? Mengapa jantungku terus berdetak kencang? Mengapa mereka terlalu lama di dalam? Mengapa aku ingin sekali menyentuh dan menyicipi Sasuke? Apa yang terjadi padaku?

"Damn!", aku membenturkan keningku ke dinding.

Aku mulai gila!


Setelah menunggu 1 jam lewat, akhirnya Sai keluar dari kamar.

"Aaah~", desah Sai, "Giliranmu!"

Aku langsung masuk ke kamar, milikku sudah mengeras.

BLaaaaM
Aku menutup pintu dan menguncinya.

Kulihat Sasuke sedang terkapar di lantai. Punggungnya basah dan penuh bercak merah. Bagian bawahnya tertutup badcover putih dengan noda darah.

"Sasu?", panggilku.

Sasuke menaikkan kepalanya untuk menatapku.
"Berikutnya... giliranmu... senpai...", lirih Sasuke tersenyum.
"Mengapa kau tersenyum?", tanyaku miris melihat keadaanya, pelipis dan bibirnya berdarah.

Sasuke menyeret tubuhnya perlahan ke arahku. Dia tampak kesulitan bergerak.
"Jangan memaksakan diri", aku memeluk tubuhnya yang penuh dengan keringat bercampur lendir.
"Senpai... Mulailah...", pinta Sasuke dengan nafas berat.

Sasuke meraba-raba miliku. Aku tidak bisa menahan hasratku lebih lama lagi. Kuraup bibirnya yang sobek, rasa besi terasa di lidahku, tidak peduli rasa jijik dengan bekas air liur Sai di mulut Sasuke. Aku menyukainya, dia milikku!

Ciumanku beralih ke lehernya, memberi beberapa tanda merah di atas tanda merah lainnya. Aku menyukai desahannya, dia sangat menggoda.

Kuplintir dan kucium tonjolan di dadanya, sesekali menggigitnya dengan gemas. Aku suka melihatnya menggeliat erotis seperti ini.

Kukocok miliknya yang telah berlendir, semakin kuat kocokanku, semakin seksi desahannya. Kurasa dia menikmatinya. Tentu saja! Aku memperlakukannya dengan baik.

Kuberikan kedua jariku untuk di kulumnya, setelah cukup basah, aku memasukkan kedua jariku ke dalam lubangnya.

"Ahk~ nnnn~", desahnya tertahan.

Apakah dia kesakitan? Atau menikmatinya? Aku tidak tahu.

"Apakah aku menyakitimu?", tanyaku.

Sasuke hanya menggeleng.

Aku menggerak-gerakkan jariku di dalam lubangnya.

"Na, Naruuh-senphai~", desahnya.

Setelah merasa cukup longgar, aku menarik jariku dari lubangnya. Ada darah menempel di jariku, Sai terlalu kasar menyodoknya.

Aku membuka seluruh pakaianku, yang mengekspos milikku yang sudah menegang dan basah.

"Aku masuk ya?", izinku sebelum menerobos lubang Sasuke.

Sasuke mengangguk pelan.

"Zzzz", desis Sasuke kesakitan.
"Maafkan aku!", aku mencium bibirnya agar dia bisa melupakan rasa sakit di lubangnya ini.

Sekali hentakan, milikku berhasil tertanam di lubangnya. Sasuke tanpa sadar menggigit bibirku.

"Keluarkan~ sakhit~", lirih Sasuke menepuk lenganku yang mencengkram pinggulnya.
"Aku akan melakukannya dengan cepat!", aku berusaha menenangkannya.
"Ukh!", lubangnya menghimpit milikku.

Aku merasa kesulitan untuk memaju-mundurkan pinggulku.

"Sassuu~ khau... menjepitku... Ukh! terlalu kuat..", desahku.
"Sssenphai~ su, sudhah~ aaah~ sakhiiit~ nnnn~", desah Sasuke.

Aku memegang pinggulnya, memaju-mundurkan milikku di lubangnya dengan cepat. Tangan kananku mengocok miliknya yang sudah menyemburkan cairan putihnya.

"Akh! Hen...tiikan.. Aaaah~", pinta Sasuke mendesah, kepalanya menggeliat tidak tenang, seolah minta untuk dilepaskan.
"Sebentar lagi, Sasu~", bisikku sambil menjilat telinganya yang basah karena keringat.

Aku terus menyodok lubangnya sambil mendesah dengan nikmat. Sudah lama aku tidak bercinta dengan lelaki. Lubang sempit Sasuke memang benar-benar nikmat!

Tak lama kemudian, milikku mengeluarkan cairan putih di dalam lubang Sasuke.

"Aaaaaaaaa~", desah panjangku.

Aku menghimpit dan memeluk tubuh polos Sasuke dengan milikku yang masih tertanam di lubangnya. Tubuh Sasuke terasa hangat, apa dia demam?

Aku menatap Sasuke, kedua matanya terpejam, tubuhnya lemas tidak bergerak, dadanya naik-turun dengan cepat.
"I love you, Sasu~", desahku.

Entah apa yang membuatku berkata seperti itu? Damn! Kurasa aku jatuh cinta padanya.

"Maaf kalau permainanku ini menyakitimu", bisikku sambil mengusap air di sudut matanya.
"Ronde... 2, sen..pai?", tanya Sasuke kelelahan.

Sasuke memaksakan diri, dia meraba-raba dada bidangku.
"Istirahatlah", aku menjauhkan tangannya dari dadaku.
"Maafkan aku~", lirih Sasuke tersenyum.
"Mengapa kau meminta maaf padaku?", tanyaku. Tapi Sasuke tidak merespon, dia sudah melebihi batas kemampuannya.

Aku mengistirahatkan tubuhku sejenak tanpa menjauhkan tubuhku darinya, seolah besok aku tidak bisa bersamanya lagi.

Serius, aku mencintainya!


Jam istirahat, aku menolak ajakan makan siang bersama Hinata-chan. Aku lebih memilih untuk merokok sembunyi-sembunyi di atap.

Sudah 3 batang rokok kuhisap, entah apa yang membuatku tidak bisa melupakan kejadian semalam. Bercinta dengan Sasuke, menikmati lekuk tubuhnya yang indah itu.

Pikiranku mereka ulang kejadian semalam. Desahan, geliatan, dan lubang Sasuke, membuat milikku berdenyut. Damn! Mengapa aku malah terangsang?

"Oho! Kau di sini rupanya!", Sai merangkulku tiba-tiba.

Aku menyingkirkan lengan Sai yang menggantung di pundakku. Mengapa dia ada di sini?

"Kau pasti bosan!", tebak Sai.
"Huh!", dengusku.
"Bermainlah sebentar dengannya", bisik Sai sambil menunjuk ke arah gudang tempat Sai bermain dengan Sasuke dulu.

Apa dia barusan bermain dengan Sasuke? Dia gila! Padahal semalam kami sudah bermain dengan Sasuke! Apa dia tidak kasihan dengan lubang Sasuke yang lecet dan berdarah itu!

"Kali ini kubiarkan kau bermain duluan", bisik Sai lagi, kemudian dia berjalan pergi meninggalkan atap.

Setelah memastikan Sai telah pergi dan tidak akan datang kembali, aku langsung berlari menuju tempat yang ditunjuk Sai.

Ceklek
Aku membuka pintu gudang yang tidak terkunci.

Kulihat Sasuke sedang memungut bekal yang berserak di lantai. Dia menoleh ketika menyadari kedatanganku.

"Naru-senpai?", Sasuke terkejut, tidak menyangka bahwa aku ada di sini.
"Sedang apa kau di sini?", tanyaku menghampirinya.
"Tidak seharusnya kau berada di sini", Sasuke kembali memunguti nasi-nasi yang tercerer. Aku juga ikut membantunya memungut.

"Pergilah~", lirih Sasuke.
"Jangan mengusirku!", tegasku.

Aku memungut beberapa nasi yang menempel di rambutnya, menyeka rambutnya yang lepek dan bau saus tomat dengan sapu tanganku. Seragamnya juga kotor. Sai pasti melempar kotak bekal di kepala Sasuke.

"Sai yang melakukannya?", tanyaku memastikan lagi.

Sasuke menggeleng kuat.
"Sai-nii tidak suka tomat", jawabnya yang terdengar ngawur di telingaku.
"Masih sakit?", aku menyentuh luka sobek di bibirnya.
"Seharusnya kau lawan, kalau seperti ini kau akan selamanya ditindas olehnya", aku menyeka sisa saus tomat di pipinya.
"Aku tidak mungkin melawannya", Sasuke tersenyum kecil.
"Jangan bodoh! Dia sudah melukaimu! Kau harus melawan!", tegasku.

Sasuke menggeleng lagi.
"Aku tidak bisa melawannya karena aku mencintainya, apa itu salah?", tanya Sasuke dengan pandangan sendu.

Mengapa kau harus mencintai orang jahat seperti Sai? Mengapa bukan aku saja orang yang kau cintai?

"Kau salah kalau kau mencintai orang seperti dia", aku memeluk Sasuke, tidak peduli dengan seragam Sasuke yang kotor mengenaiku.
"Aku menyayanginya dan dia juga menyayangiku",
"Dia menyiksamu! Apa itu cara dia menyayangimu?",
"Apapun perlakuannya, aku tetap menyayanginya. Apapun akan kulakukan asalkan dia terus bersamaku", Sasuke mengencangkan pelukannya.
"Apa kau tidak lelah diperlakukan seperti itu terus?",
"Aku lelah, tapi aku tidak bisa berhenti",
"Bisa-bisa kau malah mati di tangannya",
"Aku akan mati, jika Sai-nii mencampakkanku. Selama Sai-nii peduli padaku, aku akan bertahan", kata Sasuke dengan mantap.

Sebesar itukah rasa cintamu pada Sai?

Hey, Sai! Do U know? Sasu loves U.


Selepas pulang sekolah, aku mengajak Sai untuk berbicara sebentar di belakang sekolah yang tampak sepi.

"Berikan Sasu padaku!", tegasku.
"Oow!", Sai tersenyum sambil berpura-pura terkejut.
"Kau tidak membutuhkannya. Jadi, berikan dia padaku!", tegasku sekali lagi.
"Ternyata kau jatuh cinta pada anak haram itu", seringai Sai.
"Dia bukan anak haram!",
"Kau benar. Dia pelacur murahan, seperti mamanya.. Hahahaa...", tawa Sai mengejek.

Aku marah dan mencengkram kerah seragam Sai.
"Sasu mencintaimu, mengapa kau tidak mencintainya juga?",
"Aku tahu, makanya itu kutegaskan bahwa dia sangat menjijikkan dan murahan. Sangat mudah baginya mengatakan cinta, karena dia sudah banyak dijamah banyak orang, termasuk papaku sendiri!", desis Sai sambil melepaskan cengkramanku di kerahnya.

Tidak mungkin! Papa Sai, yang seorang Uchiha itu, tega berbuat seperti itu pada Sasuke, anak kandungnya sendiri! Sai pasti berbohong!

"Papaku, Orochimaru-sensei, Hatake-sensei, Juugo, kau dan juga aku, pernah menikmatinya. Dia menerimanya dan tidak pernah menolak", jelas Sai.

Aku tidak menyangka bahwa kedua sensei dan juga teman sekelasku pernah menjamah Sasuke.

"Kau bohong! Sasu tidak pernah menikmatinya! Itu pasti kau yang mengancamnya!", bantahku.

Ya, aku tahu Sasuke tidak mungkin melakukan itu kalau tidak diancam.
"Kau bukan dia!", tegas Sai.

Iya, Sai benar. Aku bukan Sasuke dan aku juga tidak mengenal Sasuke. Kami baru saja bertemu beberapa hari yang lalu.
Meskipun aku tidak mengenalnya, tapi hatiku merasa sakit saat melihatnya terluka.
Aku ingin melindunginya dan menjadikan dia milikku.

Aku berlutut di hadapan Sai.
"Kau kenapa?", tanya Sai keheranan.
"Kumohon, berikan dia padaku. Bukankah kau membencinya?", pintaku memelas.

Ini pertama kalinya aku memohon dan merendahkan diri seperti ini.

Sai tertawa pelan.
"Kau ketagihan pada lubang adikku? Kau ingin bermain lagi dengannya lagi?", ejek Sai.
"Aku ingin melindunginya dari orang sialan sepertimu!", makiku.

Sai tertawa mengejek lagi.
"Asal kau tahu saja, anak haram itu sumber keuanganku. Jadi, kalau kau menginginkannya, maka kau harus membelinya. Meskipun dia banyak yang pakai, nilai jualnya sangat mahal lho!", jelas Sai, dia seperti seorang germo yang menawarkan barang bagus.

Damn! Selama ini dia memanfaatkan tubuh Sasuke! Aku tidak akan membuat Sasuke dijamah orang lain lagi!

"Aku akan membelinya! Semahal apapun itu!", tegasku.

Sai berjongkok di hadapanku, menyamakan posisiku yang masih berlutut.
"Oho! Tidak kusangka kau tertarik pada barang bekas dan usang itu", seringai Sai lagi.
"Dia bukan barang!", teriakku marah.
"Calm down! Mari kita berbisnis", Sai mencoba menenangkanku.
"Berapa yang kau tawarkan?", tanya Sai.
"Berapa yang kau minta?", tanyaku balik.

Sai menepuk pundakku.
"Aku menunggu penawaran tertinggi, karena yang menginginkan adikku itu cukup banyak", Sai tersenyum.

BuuuuGH
Aku meninju bibir Sai hingga dia tersungkur.
"Kau orang yang paling sialan di muka bumi ini!", umpatku sambil menendang-nendang tubuhnya.

Sai hanya tertawa pelan menerima tendanganku.

Damn! Mengapa ada orang selicik dia? Mengapa Sasuke harus mencintai orang sialan seperti Sai?


Keesokan pagi harinya di sekolah.
Saat aku memasuki gerbang sekolah, aku merasa ada yang aneh. Orang-orang sekitar melirikku, kadang juga mereka tertawa dan berbisik, cara mereka menatapku membuatku risih, mereka menatapku seolah-olah aku ini makhluk teraneh di sekolah.

"Yo, Kiba!", sapaku ketika melihat Kiba di depanku.

Kiba langsung menoleh ke arahku, dia menarikku ke pinggir.
"Apa benar kau bercinta dengan Sasuke, adik Sai itu?", bisik Kiba.
"Haaah!", kagetku, bagaimana Kiba bisa tahu?

Kiba mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menunjukkan sebuah video dari ponselnya.

Mataku terbelalak ketika melihat video tersebut. Video tentang aku dan Sasuke yang sedang bermain di rumah Sai beberapa hari yang lalu.

"Darimana kau mendapatkan video ini?", desisku.
"Tidak tahu. Ini dikirim oleh nomor yang tidak kukenal", jawab Kiba.
"Damn!", umpatku.

Ini pasti ulah Sai!


Suasana kelas yang ribut tiba-tiba menjadi tenang ketika kedatanganku. Teman-teman sekelas menatapku dengan pandangan jijik. Aku hanya bisa mendengus cuek dan berjalan menuju bangkuku.

Di mejaku berserakan foto-toto. Ada foto ketika aku mengutil buku di toko buku. Foto aku mencoret-coret dinding dan memecahkan kaca jendela sekolah. Foto aku yang sedang memasukkan milikku ke lubang Gaara. Ada juga foto Sasuke yang sedang mengoral milikku di gudang dulu. Dan terakhir foto saat aku bercinta bersama Sasuke.
Semua aib-aibku terfoto di sini.

"Brengsek!", makiku sambil meremas semua foto tersebut.
"Ternyata Ketua OSIS kita ini sangat menjijikkan", ejek Suigetsu.
"Dia suka yang batangan... Fufufu..",
"Berpura-pura menjadi siswa teladan, padahal aslinya perusak moral dan seorang gay yang gemar berpesta sex",
"Ckckck!",

Banyak sindiran menghujatiku.
"Diam!", ketusku.

Tapi mereka tetap saja mengejek dan menyorakiku.

Pandanganku menghitam. Tanpa perintah, aku mengangkat bangku dan melemparnya secara acak.

"KYaaaaa!", teriak mereka histeris.

Aku terus melempar bangku ke arah mereka. Mereka marah dan mengeroyokku beramai-ramai.

"DAAAMN!", teriakku kesal sambil memukul secara brutal kepada orang-orang yang mengeroyokku.


Karena insiden aku mengamuk di kelas tadi pagi, pihak sekolah langsung memanggil kedua orang tuaku. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan mereka.

"Tamatlah riwayatku~", aku tersenyum miris.

Aku melangkahkan kakiku menuju atap, tempat kesukaanku, tempat dimana aku menyendiri dari keramaian.

Aku mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan pemantik yang kucuri di ruang guru.
"Huuf~",

BRaaaaK
Terdengar sesuatu yang jatuh dari arah sebuah gudang kecil, tempat Sai bermain dengan Sasuke dulu.

Firasatku mengatakan bahwa Sasuke sedang dibully di sana.

Aku menginjak batang rokok dan langsung berlari ke sumber suara.

Ceklek Ceklek..
Pintu gudang terkunci dari dalam.

DoooK DoooK
"Sasu? Apa kau di dalam?", panggilku sambil menggedor-gedor pintu.

Kudekatkan telingaku di dekat pintu, samar-samar kudengar suara parau seseorang yang menyuruhku untuk pergi dari sini.

Itu pasti suara Sasuke. Aku mengambil ancang-ancang dan mendobrak pintu tersebut.

Berkali-kali mendobrak, akhirnya pintu itupun terbuka. Bahuku jadi sakit.

"Sasu!", panggilku.
"Pergi!", teriak Sasuke.

Sasuke tidak mengenakan baju seragamnya, sehingga bahu putihnya yang berhiaskan bercak merah terekspos dengan sempurna. Dia terduduk memeluk seseorang yang terbaring di pangkuannya.

"Aku...telah membunuhnya...", lirih Sasuke gemetaran.

Aku mencoba untuk tenang dan memastikan siapa yang sedang dipeluknya itu. Tapi tidak terlihat jelas, karena Sasuke memelukknya sangat erat.
"Aku...telah membunuh Sai-nii!", teriak Sasuke ketakutan. Air matanya mengalir dari kedua matanya yang sembab, ada noda darah di pipi kanannya.

Pandanganku beralih ke sosok yang dipeluk Sasuke. Itu benar-benar sai. Sebuah dasi melilit di lehernya, ada darah yang mengering di dahi bagian kirinya, bibirnya juga sangat pucat.

Tidak mungkin! Sai tidak mungkin mati!

Aku menarik Sasuke agar menjauh dari tubuh Sai. Kulepaskan blazerku dan kekenakan pada Sasuke.

"Sai-nii terus memaksa... A, aku lelah...", Sasuke mencoba menjelaskan.

Aku memeluk Sasuke, berharap dia dapat menghilangkan rasa takutnya ini. Sasukepun kembali terisak.

"Aku...lelah, Naru-senpai...",
"Aku akan melindungimu", aku mengencangkan pelukanya.

Setelah memastikan Sasuke sudah tenang, barulah aku melepaskan pelukanku.
"Aku akan mengecek keadaan Sai", kataku meyakinkan Sasuke.
"Hentikan!", cegah Sasuke menarik pergelangan tanganku.
"Sudah cukup, senpai! Aku akan mengakhirinya", Sasuke tersenyum padaku.

Kemudian dia berlari keluar. Aku mengejar Sasuke karena merasa ganjil dengan perkataanya barusan.

Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Sasuke sudah berdiri di atas tembok pembatas.
"Jangan lakukan itu, Sasu!", teriakku mencegahnya untuk melompat.
"Aku lelah~ Aku ingin bebas~",
"Bukan seperti ini caranya!",
"Aku akan menyusul Sai-nii", Sasuke membentangkan kedua tangannya.
"Bagaimana denganku? Kau ingin meninggalkanku?", tanyaku.
"Maafkan aku, senpai~ Aku lelah~",

Aku memanjat tembok pembatas dan berdiri di sebelah kiri Sasuke. Sasuke mengernyitkan dahinya.

"Sekarang aku dalam masalah besar, semua memandang jijik padaku. Aku tidak bisa mundur lagi. Aku ingin pergi, pergi sejauh mungkin hingga tidak ada yang mengenalku. Aku ingin membawamu juga, tapi kau malah memutuskan untuk menyusul kakak sialanmu itu! Kalau seperti ini...",
"Jangan menghina Sai-nii!", marah Sasuke.

Aku tersenyum lebar padanya.
"I love you, Sasu~",

"Aku tahu kau mencintai dia", aku mencoba tersenyum tanpa beban.
"Hn! Aku sangat mencintainya", Sasuke tersenyum bangga.
"Ayo, kita pergi sama-sama!", aku menjulurkan tangan kananku.

Sasuke membelalakkan matanya, dia terkejut mendengar perkataanku bahwa aku akan melompat bersamanya.

Setelah bergulat dengan pikirannya, akhirnya Sasuke menyambut tanganku.
"Dobe!", Sasuke tertawa pelan.

Ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa, dia sangat manis.

"E? Aku bukan Dobe!", protesku.
"Hn! Kita sama-sama pergi!", kata Sasuke dengan mantap.

Tekatku sudah bulat. Aku harus pergi meninggalkan dunia yang penat ini, meninggalkan orang-orang yang kusayangi. Tidak masalah, selama bisa pergi bersama dengan Sasuke itu sudah cukup. Semoga di kehidupan kelak, aku bisa berjodoh dengan Sasuke.

Aku memejamkan kedua mataku, mencondongkan tubuhku ke depan dengan perlahan, angin sepoi-sepoi menerpa wajahku. Dalam hitungan detik, aku akan pergi dari duniaku.

"Maafkan aku. Aku ingin bersama Sai-nii", terdengar suara Sasuke seketika itu pula genggaman tanganku terlepas darinya, dan pijakanku tidak lagi berada di tembok pembatas.

Kubuka kedua mataku, kulihat Sasuke menatapku datar dari atas, di belakangnya ada Sai yang sedang memeluk pinggang Sasuke agar tidak terjatuh. Sai berseringai padaku. Apa-apan ini? Sai masih hidup?

BuuuGH
Tubuhku terjun bebas membentur jalan setapak. Terdengar suara teriakan di sekitarku.

"Maafkan aku", suara Sasuke yang meminta maaf padaku terus mengiang-ngiang di telingaku, hingga semuanya menjadi sunyi dan gelap.

Aku tidak mengerti. Mengapa Sasuke terus meminta maaf padaku? Sebenarnya permainan apa yang sedang kalian mainkan ini, hey duo Uchiha!


Terputus


Naruto udah dead, berikutnya giliran siapa? #plak
Next chapter Sai PoV #ayey!

Gomen kalo ceritanya ngebingungin n masih misteri, biarlah semuanya menjadi misteri #jeder

Review please ^^v