"Kyuhyun saja yang di usir. Bukannya itu tempatnya Seunghyun. Kalau tiba-tiba Seunghyun masuk, otte?"
Sungmin sontak terbelalak.
"Ah... ne! Omo! Kenapa aku bisa lupa dengan Seunghyun. Dia terlalu lama tidak masuk, entah kakinya sudah sembuh atau belum, kudengar kakinya di pasang pen. Tapi, Hyukkie... masalahnya, bicara ke Kyuhyun-nya itu yang mengerikan."
"Pelan-pelan. Pokoknya jangan kelihatan kalau kau sudah tidak tahan duduk dengan dia."
Sungmin tersenyum dengan lebar, kemudian memeluk Eunhyuk dengan erat.
"Gomawo Hyukkie."
.
.
Pair : KyuMin
Cast : Kyuhyun, Sungmin and Other Cast
Rate : T
Genre : Romance, Comedy
Length : Chaptered
Warning : Ini ff Remake dari novel lama karya Esti Kinasih dengan judul 'Fairish', karena bahasa novel itu terlalu 'gaul', maka saya sedikit merubahnya menjadi bahasa saya agar chingudeul nyaman untuk membacanya. Saya juuga menambah dan mengurangi beberapa bagian dari tulisan itu. Mengingat ini novel straight dan saya mengubahnya menjadi BL, maka mohon di maklumi jika menjadi sedikit aneh ^^. BXB, typo (s).
Summary : Lekat ditatapnya namja manis yang tenggelam dalam buku sambil sibuk mengunyah itu. Mengamati sifatnya, dan mendadak, sebuah rencana gila muncul di kepala Kyuhyun.
Disclaimer : Cerita ini milik Esti Kinasih. Tapi, seluruh tulisan ini milik saya. Saya hanya meminjam nama-nama orang yang saya cintai ini semata-mata demi kelangsungan cerita.
DLDR
enJOY
.
.
Itu memang jalan keluar yang paling baik. Tanpa terkesan bahwa sebenarnya Sungmin ingin menghindar, Kyuhyun harus tahu bahwa bangku yang sekarang dia tempati itu ada penghuninya. Seunghyun, yang sekarang sedang di opname. Memang masih lama dia akan kembali masuk, tapi 'kan tetap saja bangku itu ada yang punya.
Sugmin harus bilang seperti itu, agar mau tidak mau Kyuhyun pindah tempat. Mencari bangku lain. Dan itu berarti, Sungmin akan terbebas dari si tampan nan misterius yang membuatnya takut itu. Akhirnya, pada suatu siang, setelah berhari-hari mundur-maju, Sungmin memberanikan diri untuk berbicara dengan Kyuhyun mengenai masalah itu.
"Eng... begini, Kyuhyun-ssi. Aku ingin membicarakan sesuatu. Tapi..."
"Penting?" potong Kyuhyun dengan nada dingin.
"Penting! Penting!" jawab Sungmin dengan terburu-buru. Kyuhyun menatapnya, menunggu. Meskipun niatnya mau serius nekat, tetap saja Sungmin langsung panik begitu sepasang mata dingin itu menatapnya lurus.
"Hmm... tapi... kau jangan marah, ya?"
"Tergantung omonganmu"
Heol~ Sungmin langsung menyesal sudah berani nekat seperti itu.
"Begini..." katanya terbata.
"Eng... bangku yang sekarang kau tempati itu... sebenarnya ada orangnya... mmm... dia memang tidak akan masuk dalam jangka waktu yang lama. Tapi kan... tetap saja bangku itu ada penghuni aslinya."
"Oh ya?" Kyuhyun kaget.
"Nugu?"
"Hmm... Seunghyun," jawab Sungmin semakin waswas, takut Kyuhyun meledak.
"Mian, Kyuhyun-ssi. Sebenarnya saat itu aku ingin memberitahukan ini padamu, hanya saja..."
"Gwaenchana. Sekarang Seunghyun kemana?"
"Diopname. Kecelakaan."
"Odi?"
"Seoul Hospital"
Kyuhyun terdiam. Tiba-tiba dia pergi. Begitu saja. Sungmin terperangah. Dengan terburu-buru dia mengejar namja itu.
"Kyuhyun-ssi! Chankamman! Kau jangan marah seperti itu! Kalau begitu aku yang akan pindah. Kau di bangku itu saja tidak apa-apa. Nanti aku yang akan bilang pada Seunghyun!"
"Kapan kau bilang ke Seunghyun?" mendadak Kyuhyun menghentikan langkah. Sungmin seketika mengerem larinya, hampir menabrak tubuh jangkung Kyuhyun.
"Yaah..." Sungmin bingung. Tidak menyangka reaksi Kyuhyun kan seperti ini. Besok ada ulangan, gumamnya dalam hati. Lusa juga ada.
"Dua hari lagi mungkin."
"Jadi, Kamis?"
"Ne."
"Oke!" Kyuhyun mengangguk. Dan lagi-lagi, dia pergi begitu saja.
Sungmin mendesis kesal. Benar-benar tidak punya perasaan! Mentang-mentang keren!
Dan kini, Sungmin menyadari akibat omongannya tadi. Bukannya Kyuhyun yang pergi, tapi malah dia yang sekarang harus mencari tempat duduk baru. Sedih! Bangku kosong yang tersisa tidak ada yang layak untuk di tempati.
Jokwoon, lebih berisik daripada burung beo tetangganya. Simon D, calon rapper yang tak akan berhenti berlatih dimanapun dan kapanpun, tak peduli jika ada orang yang terganggu dengan sederet kalimat panjangnya yang tak putus-putus. T.O.P, wajah dinginnya sudah membuat Sungmin bergidik ngeri bahkan hanya membayangkannya saja, apalagi suaranya yang hampir menyerupai bentakan jika berkata biasa. Lee Joon, hah... sudah jadi rahasia umum kalau dia itu playboy kelas kakap, tak peduli namja atau yeoja, bisa habis Sungmin di godanya, apalagi Sungmin imut dan manisnya tak ketulungan seperti itu.
Mana yang harus dipilih? Tidak ada pilihan, tapi tetap harus memilih salah satu. Tidak mungkin 'kan Sungmin menggelar tikar lalu duduk di lantai?.
.
.
Sore itu tiba-tiba saja Kyuhyun muncul di halaman rumah Sungmin. Ternyata namja itu datang membawa mobil Jeep.
"Jadi, mau menjenguk Seunghyun?" tanyanya langsung. Masih dengan gaya khasnya. Dingin. Tanpa "Annyeong" atau sapaan basa-basi lainnya. Sungmin yang sempat terkesima dengan kedatangan Kyuhyun yang mendadak itu, langsung tersinggung.
"Mollon! Ini mau ganti baju. Tapi... bagaimana kau bisa tahu alamat rumahku?"
"Memangnya aku tidak memiliki informan yang bisa ku tanyai?" jawab Kyuhyun.
Sungmin hanya terdiam.
Kemudian Kyuhyun berkata.
"Aku ikut, ya. Kau keberatan?"
Sungmin menatap heran dan semakin tersinggung lagi.
"Aku pasti akan bilang ke Seunghyun kalau bangkunya sekarang di tempati anak baru, Kyuhyun-ssi. Kokjongma."
"Bukan begitu," Kyuhyun menggeleng.
"Hanya dia satu-satunya teman satu kelas yang belum ku kenal."
Sungmin menggigit bibirnya, menimbang-nimbang. Sebenarnya dia tidak ingin pergi berdua dengan Kyuhyun. Cukup di kelas dia ketakutan setiap hari. Tapi dia bingung bagaimana cara untuk menolaknya. Akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Sungmin mengangguk juga. Terpaksa, apa boleh buat. Lalu mau bagaimana lagi?.
Dan sepanjang perjalanan, lagi-lagi Kyuhyun tidak bersuara sama sekali. Blas! Hening! Sunyi senyap!.
Sungmin terpaksa harus menahan sabar, menahan kesal, menahan marah, menahan kaki yang rasanya ingin meloncat saja keluar. Dan dia bertekad, dari rumah sakit nanti, dia mau pulang sendiri naik bus!.
"Gang depan belok kanan, Kyuhyun-ssi."
"Aku sudah dari sana. Dan sudah berbicara lama juga dengan Seunghyun."
"Mwo?" Sungmin terlonjak kaget.
"Mian," Kyuhyun menoleh sekilas.
"Aku tanya Shindong."
"Kenapa tidak bilang sejak tadi? Lalu, kenapa kau mengajakku keluar?"
"Jadi, kau tidak mau pergi denganku? Mau pulang sekarang?"
Sungmin diam. Bingung. Aneh sekali Kyuhyun ini.
"Mussun iriya?"
Kyuhyun tidak menjawab. Sepasang matanya menatap lurus ke ruas jalan.
"Kyuhyun-ssi?" ulang Sungmin mulai jengkel. Ketika Kyuhyun tidak juga beraksi, Sungmin mengeluarkan ancaman.
"Kalau kau tidak mau berbicara, aku akan turun di lampu merah depan!"
Barulah Kyuhyun bereaksi. Dia menarik nafas panjang-panjang, lalu membelokkan mobil ke jalan kecil yang di hiasi rimbun pepohonan di sisi kiri dan kanan, dan berhenti di satu sisinya. Tapi kemudian lagi-lagi dia hanya diam. Menatap ke depan begitu lama padahal tidak ada apa-apa di sana. Hanya gelap dan bayangan pepohonan.
Tapi Sungmin sudah tidak mau bertanya lagi. Dia sudah terlalu kesal, dia kini pasrah. Sehari-hari di kelas saja Kyuhyun sudah lebih bisu dari orang bisu.
Akhirnya Kyuhun bicara. Mungkin akhirnya dia sadar bahwa dia yang punya kepentingan, jadi dialah yang harus bicara.
"Aku... pernah punya yeojachingu, Sungmin-ssi. Dia... dia suka kebun teh."
Dahi Sungmin mengernyit seketika. Tercengang sekaligus tidak mengerti mengapa Kyuhyun tiba-tiba bercerita.
"Dan aku... aku suka... kebut-kebutan."
Kyuhyun terdiam kembali setelah mengucapkan satu kalimat terputus-putus itu. Kening Sungmin semakin keriting. Dia benar-benar tidak tahu hubungan antara yeojachingu, kebun teh, dan kebut-kebutan.
"Te... rus? Tanya Sungmin, pelan dan hati-hati.
"Yah, karena dia suka kebun teh... maka aku mengajaknya ke kebun teh."
"Oh!" Sungmin hanya bisa mengucapkan kata itu, meskipun sebetulnya tidak mengerti maksud Kyuhyun. Ya jelas saja! Kalau orang suka kebun teh, pasti di ajak ke kebun teh. Masa' ke kebun pisang. Kyuhyun ini benar-benar aneh! Tapi kemudian Sungmin melanjutkan.
"Dia pasti suka?"
"Mollasso."
"Ne?"
"Karena... karena...," Kyuhyun menelan ludah.
"Dia sudah tidak bisa ku tanya lagi."
"Wae? Putus?"
"Bukan," Kyuhyun berkata dengan sangat lirih.
"Bukan putus. Dia... dia meninggal."
Sungmin terperangah.
"Maksudmu?"
Kyuhyun tidak menjawab, tapi malah memalingkan wajah ke arah lain dan menatap kegelapan di sana. Ketika berbicara lagi, suaranya benar-benar bergetar hebat.
"Ke kebun teh. Di daerah Boseong. Kami naik motor. Waktu itu aku ngebut. Aku suka kebut-kebutan dan Hyunmin tahu itu. 'ayo kita lawan angin!' begitu yang dia katakan saat itu. Dan itu membuatku lupa diri. Motor ku gas dengan gila-gilaan. Yang ada di pikiranku saat itu, apa lagi yang harus di pikirkan jika yeoja yang kubawa tidak ketakutan?. Kami tertawa dengan keras. Kami kibarkan slayer tinggi-tinggi. Tapi... aku lengah. Aku..." suara Kyuhyun semakin serak.
"Kami menerjang pagar pengaman. Dia terlempar, Sungmin-ssi... hampir seratus meter. Hyunmin tergeletak di antara pohon-pohon teh, jauh di bawah. Dan dia... dia..." kepala Kyuhyun terkulai di atas kemudi.
"Dia koma... dan meninggal. Aku membunuhnya... dia tempat yang paling dia sukai!"
Sungmin terperangah tak percaya. Apalagi saat di lihatnya airmata Kyuhyun yang mengalir. Tidak ada isak yang keluar, tapi tangis seorang namja, makhluk yang pantang megeluarkan air mata, itu menandakan beban yang dia tanggung benar-benar berat. Beban perasaan bersalah yang pasti akan membuatnya membenci diri sendiri. Dan itu tidak bisa di hindari dengan cara apapun.
Kecuali berdamai dengan perasaan bersalah itu. Mencoba melupakan, atau membiarkannya saja dan menerima kenyataan bahwa memang itulah yang sudah terjadi.
Ragu, Sungmin menyentuh bahu namja di sampingnya.
"Kyuhyun-ssi," bisiknya pelan.
"Itu sudah terjadi. Aku tidak menyuruhmu untuk melupakannya. Tapi... itulah kenyataannya. Takdir. Kau hanya perantara."
"Tapi kalau saja hari itu aku tak mengajaknya pergi, apa dia tetap akan meninggal? Tidak 'kan, Sungmin-ssi? Biarpun kami pergi, kalau saja aku tidak ngebut, apa dia juga tetap akan mati? Tidak, 'kan? Iya, 'kan? Tidak! Bukan takdir yang salah! Aku yang salah!"
Sungmin bingung sekaligus ketakutan. Mendadak Kyuhyun mirip orang kesurupan. Dia membentak-bentak Sungmin yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Kyuhyun-ssi, dengarkan aku," kata Sungmin dengan sabar, harus sabar. Kalau Sungmin emosi juga, ikut berteriak-teriak juga, bisa-bisa dia dapat tinju gratis. Soalnya, Kyuhyun benar-benar tidak sadar kalau yang dia hujani bentakan tadi adalah orang yang seratus persen tidak ikut andil dalam peristiwa itu.
"Bukan kau yang salah. Itu sudah..."
"Bukan bagaimana!?" bentak Kyuhyun seketika.
""Aku yang salah! Aku!"
"Ne! Ne! Kau yang salah!" jawab Sungmin akhirnya. Dalam hati dia ingin protes keras, kenapa dirinya yang terkena omelan.
"Waktu itu hujan. Jalan licin. Semua sudah melarang kami pergi. Apalagi ke gunung. Tapi aku nekat!"
"Betul! Kau yang salah!" tandas Sungmin dengan suara tinggi.
"Sudah jelas-jelas hujan, kenapa kau memaksa pergi juga? Betul itu. Kau memang salah! Tidak bertanggungjawab!" sambungnya bertubi-tubi. Mendingan ikut menyalahkan saja. Daripada tidak selamat, batinnya.
Mendengar itu, seketika tubuh Kyuhyun terhempas. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Nafasnya memburu, turun-naik dengan cepat. Irish melunakkan suaranya. Dia berbicara dengan pelan dan takut-takut.
"Kyuhyun-ssi, umur Hyunmin memang hanya sampai hari itu. Jalan dia meninggal memang sudah di tentukan seperti itu. Lewatmu. Berapa kali-pun kau protes, kejadian itu sudah terjadi, 'kan? Kau memohon berjuta kali-pun, dia tidak akan hidup lagi."
"Tapi..."
Sungmin terburu-buru memotong kalimat Kyuhyun.
"Kyuhyun-ssi, kalau kau mengamuk seperti ini, nanti lama-lama aku juga bisa mati."
Seketika Kyuhyun tersadar. Sungmin benar-benar ketakutan dan sudah terdesak sampai di celah antara jok dan pintu.
"Mianhe, Sungmin-ssi... mianhe!" Kyuhyun meraih namja mungil itu dan memeluknya kuat-kuat. Sungmin tersentak. Kyuhyun benar-benar namja yang aneh. Bentak-bentak orang sembarangan. Peluk-peluk orang juga sembarangan.
"Oh, tenang saja. Gwaenchana. Belum pernah ada cerita orang bisa mati hanya gara-gara di bentak," Sungmin bergegas melepaskan diri.
"Mianhe, Sungmin-ssi. Aku benar-benar tidak sadar."
"Ne. Gwaenchana," Sungmin dengan tergesa menenangkan, takut mendapat pelukan tiba-tiba lagi.
Kyuhyun menghela nafas, menutupi wajah dengan satu tangan. Tubuhnya lunglai, lalu menelungkupkan di atas kemudi.
Hening. Namja itu tenggelam dalam pikirannya sendiri dan Sungmin tidak berani megusik.
"Ini rahasia kita, Sungmin-ssi," tiba-tiba Kyuhyun mengangkat wajah. Tertegun, Sungmin menatap wajah kuyu itu.
"Jangan bilang kepada siapapun kalau kau pernah melihatku menangis," Sungmin mengangguk.
"Itu sebabnya kenapa aku selama ini bersikap dingin, kasar. Aku tak mau ada satupun yeoja di depanku."
"Ne," Sungmin mengangguk lagi, meskipun dalam hati sedikit heran.
"Tapi... kau juga bersikap sedikit dingin padaku, padahal aku namja," Sungmin bertanya denga hati-hati.
Kyuhyun mengangkat satu alisnya, kemudian tersenyum tipis.
"Karena wajahmu mirip yeoja, aku sedikit canggung jika ingin berbicara denganmu."
Sungmin mengerucutkan bibirnya kesal. Yeoja? Dia itu jago martial art. Kyuhyun pasti tidak tahu itu.
"Jadi siapa yang harus pindah?"
"Maksudmu?" Kyuhyun mengerutkan kening.
"Ne. Siapa yang harus pindah? Aku atau kau? Tapi lebih bagusnya kau saja. Meskipun bermasalah, mending kau saja yang pindah daripada aku."
Kyuhyun semakin tidak mengerti.
"Kenapa salah satu dari kita harus pindah?"
"Lho... tadi kau bilag wajahku mirip yeoja dan kau canggung jika bersamaku. Apa aku harus operasi plastik dulu biar kau tidak menganggapku yeoja?" Sungmin semakin menggerutu kesal.
Kyuhyun kontan tertawa. Sekarang gantian Sungmin yang menatap tidak mengerti. Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala di sisa tawanya. Sesaat kemudian wajahnya kembali serius.
"Ulang tahun SeoHyun, kau datang?" tanya Kyuhyun.
"Molla, Waegure?"
"Ayo datang, aku akan menjemputmu."
Sungmin tersentak kaget. Kyuhyun menatapnya seperi merasa bersalah.
"Sungmin-ssi, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar memerlukan bantuanmu. Kalau kita datang berdua, mereka akan berfikir ada something di antara kita. Dan aku harap itu akan membuat mereka mundur. Aku sudah lelah melihat mereka bertumpuk di sekitar meja. Setiap pagi, setiap istirahat, setiap jam kosong. Aku juga sudah malas melayani ajakan mereka. Makan, pulang bersama, belajar kelompok, bergabung di ekskul ini-itu. Belum lagi yeoja-yeoja yang membuat kesabaranku hampir hilang. Seperti SeoHyun, Jessica, Tiffany, Sunny, lalu... entahlah siapa lagi yang lainnya."
Sungmin tertegun. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sesuatu di dalam dadanya terasa luruh saat itu juga.
"Tapi Kyuhyun-ssi... kita..."
"Sama-sama namja," potong Kyuhyun.
Sungmin mengangguk dengan ragu.
"Apa masalahnya. Di sekolah kita juga sudah banyak pasangan seperti itu, 'kan?. Apalagi anak basket, aku bagian dari mereka, jadi tidak ada salahnya dengan hubungan seperti itu."
Sungmin meringis, dalam hatinya sedikit berdenyut. Hubungan sesama namja, dan... dia hanya menjadi sebuah tameng. Apa yang harus dia lakukan?.
.
.
TBC
Ah... jeongmal gamsahabnida untuk sambutan hangatnya #bow.
Saya suka sekali dengan novel ini, dan saya cinta sekali dengan KyuMin, makanya saya bikin remake aja, agar chingudeul semua juga bisa menyukai novel ini meskipun lewat cast yang berbeda ^^. Untuk yeoja masa lalunya Kyu, saya tidak sreg Kyu di pasangkan dengan yang lain, jadi, pakek Hyun(A)Min aja deh ya, hehe. Kyu memang kejam disini, novelnya juga kaya' gitu, kasihan ya Ming #HugMing.
Untuk chingu yang tanya ada orang ketiga apa ndak, eng... tunggu saja deh ya. Tuh bang Jungmo udah keluar di awal, kira2 siapa yang jadi orang ketiga, dan orang ketiga dari siapa? (clue tersirat itu ~.^).
Thank's to:
ms.R, 5351, Maximumelf, Adekyumin joyer, winecouple, Lele Bantet, Kyumin joyer, sissy, Queenshi137, Ria, dhiya. yifantao, ShinJiWoo920202, kyumin pu, My Bunny Rena, KyuMin Cho, TifyTiffanyLee, 137, NAP217, cho. love. 94, BluePink137, ratu kyuhae
Semua yang sudah follow/favorit dan semua yang sudah berkenan membaca walaupun tanpa sengaja ^^
#bow
Sampai jumpa di chapter selanjutya ^^.
