A Haikyuu! Fanfiction

Hate and Love by chiyoko-chan23

.

Contain: Shounen-ai / Male x Male / BL [KageHina]

Disclaimer:

Haikyuu!

(c) Furudate Haruichi

(I'm not own this character. All of characters is belong to their creator)

WARNING: (Possibly) OOC, Typo(s)/Misstypo, Gaje, BL yang sangat abal, bukan bahasa baku mulai chapter 2, kebanyakan deskripsi aneh yang tidak penting dan nggak masuk akal.

.


Selama musim dingin, Hinata hanya berlatih sendirian di dalam kamarnya sehingga ibunya berteriak-teriak cemas jika saja bola itu memantul ke tempat yang salah dan menghancurkan sesuatu. Hinata berkata pada ibunya bahwa itu tak mungkin terjadi.

Tapi pada akhirnya, salah satu benda terjatuh dan Hinata kena semprotan marah ibunya.


"Apakah mereka masih diperbolehkan latihan selama musim dingin? Kulihat mereka tidak saling bicara lho..."

"Ah, tentu saja. Apa boleh buat, mereka memang perlu ketegasan. Kalau tidak, mereka pasti tidak akan pernah akur."

"Seperti yang kubilang kemarin, semakin mereka sering bertengkar meski karena hal-hal kecil dan konyol seperti kemarin, itu tandanya mereka benar-benar dekat," kata Tanaka.

Daichi tersenyum kecil.

"Kau benar, tapi tidak sepenuhnya benar..."


Tidak saling berbicara selama musim dingin-apalagi dengan orang yang biasa ribut dengan kita-bukanlah hal yang cukup mudah. Bagaimanapun juga, Kageyama yang biasa mendengar celotehan Hinata disertai semangat yang menggebu-gebu dari anak itu, mendadak merasa tidak lengkap karena beberapa hari terakhir, ia hanya sibuk beraktivitas di rumah tanpa pergi ke Karasuno untuk latihan atau bahkan untuk sekedar jalan-jalan di kota. Suhu yang teramat dingin baginya juga dipakai sebagai salah satu alasan.

Perlu diketahui, Daichi tidak pernah mengatakan kepada mereka untuk tidak boleh latihan saat musim dingin.

Tapi entah kenapa, kedua orang yang kerjaannya nyari rusuh (?) tersebut malah memutuskan untuk tidak latihan di Karasuno. Bahkan, Hinata yang punya rambut oranye itu, yang biasanya lebih senang latihan di gedung klub yang luas itu, memutuskan latihan sendirian di dalam kamarnya, bahkan sampai dia rela menerima risiko kena jeweran sang ibu tercinta karena menghancurkan salah satu barang di dalam kamarnya akibat arah bola yang salah. Mungkin, mereka itu sehati kali ya, jadi sama-sama berpikiran untuk tidak latihan bersama anggota klub yang lainnya.

Kageyama cuma bengong di dalam kamarnya. Bukan mikirin Hinata kok. Bukan juga lagi galau. Dia hanya sedang bosan. Itu saja. Lagipula, sang author edan ini juga bingung mau nyeritain apa lagi.

Sepanjang hari sejak ia kena marah sang ibu, Hinata tetap nekat berlatih di dalam kamarnya demi meningkatkan kemampuannya. Hinata juga masih belum ingin kalah dari Kageyama. Justru, tujuan utamanya masuk Karasuno itu buat ngalahin Kageyama atas alasan pembalasan dendam. Tapi entah jodoh atau takdir, mereka bertemu di sana, sebagai teman satu tim.

Lihat kan betapa membosankannya aktivitas kedua makhluk hidup tersebut? Yah... mau bagaimana lagi, mereka mungkin saja sih salah tanggap mengenai ucapan kapten mereka, Sawamura Daichi. Ia bukannya melarang mereka latihan selama musim dingin, hanya saja, jika selama musim dingin-atau tepatnya sih, selama LATIHAN DI MUSIM DINGIN-mereka tetap bertengkar atau berdebat kritis seperti biasa, mereka akan dilarang latihan SETELAH MUSIM DINGIN. Kalau ngutip kata-kata Daichi yang kemaren sih, dia ngomongnya beda, tapi ya makna sebenarnya seperti itu.

Karena mulai merasa bosan setelah satu minggu latihan sendirian di dalam kamarnya kayak Forever Alone, Hinata pun keluar dari kamarnya dan meminta ijin sang ibu untuk pergi ke Karasuno menemui sang kapten.

Kageyama juga sedang dalam perjalanan ke Karasuno.

Tuh kan, mereka sehati.


Kageyama sampai duluan di Karasuno. Beberapa menit kemudian-kira-kira lima menit lebih beberapa detik-Hinata sampai di depan gedung klub Karasuno.

Tunggu, gimana caranya mereka masuk ke dalam gerbang sekolah yang terkunci?

Ah, benar juga ya. Anggap sajalah mereka makhluk ajaib yang memiliki kemampuan seperti invisible man yang bisa menembus hal apapun termasuk gerbang sekolah.

Bercanda.

Mungkin mereka melompati tembok-atau pagar, entahlah-mengingat temboknya nggak terlalu tinggi. Atau mereka bawa-bawa tangga kayak pengen maling jambu?

Lupakan.

Cuma Tanaka yang latihan di gedung klub voli Karasuno. Katanya Daichi lagi beli makanan di warung. Kageyama memasuki gedung klub dan ketika melihat Hinata berdiri di ambang pintu masuk, dia mengira anak itu mengikutinya ke sini. Atau memang dia rutin datang ke sini? Kageyama sibuk menerka-nerka dalam hatinya, karena dia kan nggak boleh ngomong sama Hinata. Yah, sebenarnya, dia sendiri sih yang membuat perjanjian semacam itu. Eh, jangan bilang Kageyama menyesal! Atau dia benar-benar menyesal? Dasar tsundere.

Hinata berjalan mendekati keranjang bola dan menyapa Tanaka, tapi tidak menyapa Kageyama.

"Tch..." desis Kageyama, agak kesal karena merasa diabaikan. Tapi, ya itu salahmu sendiri nak.

"Hinata, kau latihan receive?"

"Ngg... tidak, sepertinya. Aku tidak bisa berlatih receive tanpa orang la-"

"A-HAI HAI HAI HAI~!" sapaan ceria dari seorang yang sama-sama kontet kayak Hinata menggema di seluruh seantero gedung klub. Hinata berpaling. Ia menemukan sosok senpai yang dijuluki "Dewa Pelindung" di Karasuno. Seseorang yang baru dikenal Hinata baru-baru ini, tapi dia sudah mengagumi orang itu. Yah, karena sebenarnya sih, Hinata bersyukur menemukan orang-apalagi seorang senpai-nya-yang lebih pendek darinya dan juga karena dia suka traktir es krim. Terdengar konyol, tapi di samping itu, dia memiliki kemampuan dalam receive yang sangat luar biasa.

"Ah, itu dia Nishinoya-san. Kau bisa berlatih dengannya, Hinata. Ah, Kageyama! Sini sini latihan denganku!" Tanaka berseru ke arah Kageyama.

"Wooohh, Shoyo. Seneng banget bisa latihan denganmu. Em, kau masih payah dalam receive kan? Ohohoho, biar kuajarkan sini. Sebenarnya aku sangat tersanjung karena dipercaya untuk mengajarimu receive oleh Daichi-san-dia bilang padaku kemarin-dan kebetulan sekali kau datang hari ini untuk berlatih. Yosh~ kita mulai saja..." celoteh orang tersebut yang diketahui bernama Nishinoya Yuu. Hinata mengangguk kencang.

"Iya!"

Kageyama melirik sekilas ke arah Hinata yang asyik berlatih dengan senpainya yang memiliki tinggi badan setara dengan dirinya. Entah ada perasaan aneh apa, tapi yang jelas, Kageyama berniat mengabaikannya dan fokus pada Tanaka.

Tapi tawa Hinata dan Nishinoya menghancurkan konsentrasinya.

Kageyama membenci hal tersebut.

"Ah, ah, kau salah. Yah, seperti yang kubilang sebelumnya, lakukan seperti "zip" lalu "whoop", kemudian "pow"," kata Nishinoya, menirukan kembali gerakan "zip", lalu "whoop", dan "pow"-nya yang sama sekali tidak bisa dipahami dengan mudah oleh Hinata. Hinata mencoba memahaminya, tapi, yah, memang agak sulit seperti yang dikatakan tadi.

"Kalau kau tidak mengerti, coba aku yang praktekan dulu..."

"Ah, aku tidak bisa memberikan servis. Mungkin Kageya-"

MAMPOS! Hinata nyebut nama Kageyama. Kageyama yang ngerasa namanya hampir disebutkan dengan makhluk bersurai oranye itu menoleh. Tanaka ngomel-ngomel. Kageyama memandang Hinata dan Hinata memandang dirinya. Intinya, pandangan mereka saling bertemu. Kontak mata yang terhubung, sebelum keduanya sama-sama memalingkan wajah.

"Ah ya, maksudmu Kageyama kan? Baiklah. Tanaka-san, kupinjam anak kelas satu itu sebentar," kata Nishinoya, berjalan perlahan mendekati Kageyama. Kageyama menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, merasa tidak yakin dialah yang dimaksud. Nishinoya menganggukkan kepalanya, merespon gerakan tanya Kageyama.

"Ya, boleh..." sahut Tanaka.

"Nah, Shoyo. Coba kau perhatikan baik-baik. Sebagaimana tanganku bergerak dan sebisa mungkin membuat bolanya memantul. Lihat ya, ingat, jangan meleng lho!"

Hinata mengangguk mantap, meski dalam hati ia masih mengutuk-ngutuk dirinya yang hampir keceplosan nyebut nama Kageyama. Yah, sebenarnya menyebut namanya saja tidak apa-apa, tapi tadi, ucapannya tidak bermaksud 'hanya-sekedar-menyebut-nama', melainkan seperti seolah menunjuk Kageyama yang memang ahli dalam hal servis.

Aduh, kenapa masalahnya jadi agak runyam kayak begini sih?

Hinata kemudian tersadar. Ia lalu mulai fokus pada perhatiannya terhadap receive yang akan dilakukan Nishinoya. Ia mengamati dan mulai memperhatikan, tapi satu kali saja tidak bisa membuat dirinya paham dalam sekejap.

"Lagi?"

"Ya. Ma-maaf kalau agak merepotkan," kata Hinata, agak sedikit merasa tidak enak. Nishinoya terkekeh.

"Ah tidak, tidak kok. Kau tidak perlu berbuat seperti itu. Nah, lihat ya. Perhatikan lebih detil lagi."

Hinata melihat dengan jelas bahwa receive yang tadi jelas sangat sempurna.

"Yah, kurasa aku akan mencobanya sekali lagi sekarang. Ayo Nishinoya-san!"

"Ahaha, baiklah baiklah."

Pandangan Kageyama tidak bisa terlepas dari Hinata. Dia ingin berbicara dengan Hinata, seperti biasa. Tapi, dialah yang telah membuat perjanjian itu dan memaksa Hinata menyetujuinya. Masa dia juga yang harus mengingkarinya dan berkata, "aku tidak tahan kalo nggak ngomong sama kamu, Hinata." Harga dirinya sebagai seorang "raja" mau ditaro di mana?! Ah, tapi Kageyama juga tidak begitu menyukai sebutan "raja" itu sendiri sih. Namun, ya tetap saja. Mengingkari perjanjian yang telah dibuat sendiri adalah hal yang bodoh. Dia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Hinata.

"Ah, masih belum berhasil juga," keluh Hinata. Nishinoya terdiam, kemudian ia tersenyum. Bukan, tepatnya terkekeh.

"Kenapa kau tidak latihan dengan Kageyama saja? Biar aku yang mengarahkanmu soal receive, sementara Kageyama yang akan melatihmu dengan servisnya yang benar-benar ahli. Lagian, kalian nggak saling berbicara seperti biasanya. Itu aneh lho," tukas Nishinoya, yang berhasil membuat Hinata dan Kageyama menelan ludah. Entahlah, mereka terlihat canggung sekarang, lebih canggung daripada sebelumnya.

"Ah eh itu..."

"Sudah sana latihan!" Nishinoya mendorong Hinata mendekat ke arah Kageyama. Hinata kedorong sampe dia nubruk dadanya Kageyama.

Hinata udah nahan napas.

"Bodoh," gumam Kageyama. Volume suaranya sangat kecil, sehingga baik Tanaka maupun Nishinoya pasti tidak dapat mendengarnya. Hanya Hinata yang mendengarnya, meski sebenarnya, Kageyama tidak bermaksud untuk membuat Hinata mendengarnya.

"Apa kau bilang?!" desis Hinata pelan, agak geram. Tapi dia juga menyadari kesalahannya dan buru-buru meminta maaf dengan suara keras.

"Maafkan aku!"

Tuh kan, susah buat mereka supaya nggak saling bicara. Karena buktinya, Kageyama sebenernya kelepasan ngomong "bodoh" ke Hinata. Dan Hinata juga nggak tahan buat nggak membalas gumaman Kageyama.

Hati-hati lho, itu tandanya... ah sudahlah, lupakan.

To be continued...


A/N

Argh, akhirnya bisa selesai juga chapter 2 ini ya Tuhan /sembah sujud

Sebenernya sengaja telat update, nungguin Haikyuu! Episode 8 keluar, dan, yeah, saya dapet banyak inspirasi sekaligus suasana baru dari si tokoh baru, Nishinoya Yuu, yang original-nya emang senpai-nya Hinata, cuma lebih pendek dari Hinata, dengan tinggi 159 cm, hahahahahah /dirajam

Oke, udah tercantum di warning tadi bahwa chapter 2 ini saya memakai bahasa informal, alias bukan bahasa baku. Yah, sebenarnya sih, untuk mendukung unsur humornya juga, tapi kayaknya nggak berhasil deh o)-( /seketika tepar

Well... A/N kepanjangan. RnR? Kritik dan saran juga ya :'D

I LOVE YOU GUYS SO MUCH- yang udah review, makasih sarannyaa jugaa Calico Neko. Mudah-mudahan di chapter 2 ini berhasil diperbaiki yeah~!

Buat Nekoma Miaw, RaFa LLight S.N, kurohaname yang udah ngingetin klo rumah Hinata itu jauh dari Karasuno dan dia harus lewat jalan pegunungan 30 menit naik sepeda buat nyampe ke sekolah, ahahaha, tapi ya sudahlah, anggap saja di sini rumah Hinata deket sama sekolah ya~~ /nggak boleh/

Dan buat BlueBubbleBoom juga, makasih banyak pokoknya buat semua review yang masuk di chapter 1 kemarin /sungkem/

Next chapter saya bakal buat KageHina lebih banyak dan lebih keliatan! Yosh~ mudah-mudahan bisa update kilatt /jedotin kepala ke tembok/

Aw, A/N kepanjangan, ya sudah, saya sudahi. Sampai jumpa di chapter 3 bro~