A Haikyuu! Fanfiction
Hate and Love by chiyoko-chan23
.
Contain: Shounen-ai / Male x Male / BL [KageHina]
Disclaimer:
Haikyuu!
(c) Furudate Haruichi
(I'm not own this character. All of character is belong to their creator)
WARNING: (Possibly) OOC, Typo(s)/Misstypo, Gaje, BL yang sangat abal, seterusnya akan memakai bahasa informal / tidak baku, lawakan garing, rada absurd
.
Kejadian kemarin telah membuat Nishinoya serta Tanaka semakin curiga. Masalahnya, Kageyama dan Hinata yang biasanya latihan dengan sedikit tidak rukun ditambah debat heboh, kemarin mereka hanya diam membisu dan keliatan bener-bener canggung. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua, kedua senpainya itu tidak dapat menebak.
Tapi satu hal yang mereka tahu adalah bahwa latihan kemarin tidak berjalan mulus. Servis Kageyama tidak sesempurna yang sebelum-sebelumnya. Dan Hinata juga nampak tidak terlalu fokus pada bolanya.
Jadi, mungkin saja, karena mereka tidak bertingkah seperti biasanya, otomatis kualitas mereka dalam voli yang biasanya bagus menjadi menurun. Tanaka dan Nishinoya kemudian memberitahukan hal tersebut pada kapten mereka, Daichi.
"Apakah itu karena peringatanku tempo hari ya?" Daichi-san mengapit dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya yang ditekuk. "Apakah aku keterlaluan?" tambahnya.
"Kurasa kau tidak keterlaluan sih. Cuma, yah... mereka mungkin jadi saling tidak bicara demi menghindari pertengkaran, mungkin lho, mungkin. Dan, yah, sebenarnya, itu nggak baik buat mereka. Kalau begini terus, bisa-bisa mereka terbiasa canggung dan skill mereka tiba-tiba lenyap. Huwaaa, itu mengerikan Daichi-san! Mengerikaann! Hentikan itu... bagaimanapun caranya! Huwaaahhh..." Nishinoya mondar-mandir ke sana kemari dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya. Dia panik. Tapi lebay banget deh.
"Ahahah, tenangkan dirimu dulu. Aku akan cari solusinya," kata Daichi. Nishinoya kembali ke tempatnya semula dan kembali tenang. Tanaka tampak berpikir.
"AHA! Aku punya ide, khukhu. Bagaimana kalau..."
Psstt pssst pssst (?) [baca : mereka lagi bisik-bisik]
"Huwaahh, ide bagus Tanaka-san!" Nishinoya menepuk-nepuk punggung Tanaka keras-keras hingga si pemilik punggung teriak-teriak kesakitan.
Daichi tersenyum. "Kapan kita menjalankan rencana? Dan di mana?" tanyanya.
"Besok, di rumah Hinata saja! Nanti kita diam-diam pulang, beres kan? Hehehehe," kata Tanaka. Nishinoya mengacungkan ibu jarinya. Daichi mengangguk-angguk.
"Yosh~ aku hubungi mereka sekarang, khukhu."
Sebenernya sih rencana mereka itu simpel saudara-saudara, tapi tentu saja akan membuat kedua korban (?) yang menjadi target rencana ketiga senpai mereka akan membuat mereka bicara untuk menghilangkan kecanggungan. Dan tentu saja, mereka pasti akan saling berkomunikasi satu sama lain. Lihat saja.
"Oh ya Nishinoya, kau punya peran khusus nanti. Lakukan dengan benar ya," kata Tanaka, hanya sekedar usil saja untuk menggoda Kageyama nanti. Nishinoya menganggukkan kepalanya.
"Pasti, tapi cuman sekedar godaan doang ya."
"Bu, hari ini beberapa teman dari klub voliku akan belajar bersama di sini. Katanya sih siang ini. Jam satu siang," kata Hinata kepada ibunya. Sang ibu tercinta menganggukkan kepalanya, senang karena di liburan musim dingin ini, anaknya akan belajar. Lagipula, ia sudah mengerti apa yang harus ia suguhkan agar membuat mereka semua betah di sini dan belajar lebih lama lagi. Hohoho...
Duh, Kageyama pasti dateng juga, desah Hinata dalam batin, merasa sedikit tidak nyaman. Ditambah, Hinata sebenarnya merasa malas untuk belajar bersama. Gimana enggak, lagi liburan musim dingin kok malah menyusahkan diri belajar? Tapi mau bagaimana lagi, ini permintaan para senpai-nya, dan sebagai tanda hormat, Hinata tetap mengiyakannya.
Di sana, Kageyama juga mengiyakan, meski ia sangat ogah. Jika Nishinoya, Tanaka, dan Daichi tidak datang, ia pasti tidak akan mau. Bagaimana tidak, kalau begitu caranya, nanti dia cuma berduaan sama Hinata dong?
Meski Kageyama juga ingin bicara normal lagi dengan Hinata.
Beberapa lama kemudian, Hinata mendengar ketukan pintu. Ia yang sedari tadi melamun di kamarnya, keluar dari sana dan berlari untuk membukakan pintu.
Nampak Daichi, Tanaka, senpai pendek bernama Nishinoya, dan yang terakhir, Kageyama, dengan pandangan tajam ke arahnya. Hinata buru-buru memalingkan wajahnya, kemudian menyuruh mereka semua masuk. Hidangan sudah disiapkan oleh ibunya Hinata.
"Ah, kalian pasti kedinginan ya. Langsung masuk saja ke kamar Hinata. Ada beberapa suguhan hangat untuk kalian," kata ibunya Hinata.
"Ah iya, terima kasih bibi," kata Daichi, mewakili teman-temannya. Mereka lantas melepas alas kaki, jaket, syal, dan saputangan, kemudian masuk ke kamar Hinata. Kotatsu* dan kawan-kawan-yang biasa dijumpai sebagai penghangat di rumah-rumah Jepang saat musim dingin-sudah disiapkan di sana, lengkap dengan minuman cokelat hangat, kue kering keju, dan zabuton**.
"Ah hangatnya..." desah Nishinoya lega. Hinata terkekeh. Ia kemudian mengambil buku Matematikanya dari atas meja belajarnya dan duduk di atas zabuton dengan posisi kaki yang masuk ke dalam kotatsu hingga bagian paha. Yang lain juga duduk seperti Hinata. Daichi mengambil posisi duduk berhadapan dengan Hinata, Tanaka di bagian samping yang berhadapan dengan Kageyama, sementara Hinata duduk dekat Kageyama, berdampingan dengan Nishinoya.
"Mana yang tidak kau mengerti, Shoyo?" tanya Nishinoya sambil mengambil alih buku matematika dari tangan Hinata.
"Eh itu... logaritma."
"Ah, iya, sini kuajarkan..."
Kageyama cengo ngeliat muka Nishinoya cuma beda beberapa sentimeter sama mukanya Hinata. Ditambah mereka akrab banget. Mana sama-sama kontet lagi. Dan mereka juga sama-sama kelihatan punya 'gairah' hidup.
Perasaan aneh apa ini?! Kageyama menaruh tangannya di depan dada. Daichi menyadari ada yang aneh dari gerak-gerik Kageyama. Ia menyikut Tanaka. Tanaka malah melotot sendiri ngeliatin Kageyama.
Dia... beneran cemburu ngeliat Hinata sama Nishinoya deket banget kayak gitu?! Dafuq, jangan-jangan, dia ngerasa nggak enak klo Hinata asyik sama orang lain selain dirinya?
Kageyama sebenarnya hanya belum mengerti perasaannya. Yang jelas, dia merasa nggak nyaman kalau senpainya yang cebol itu dekat dengan Hinata.
Oke, Kageyama, kau sudah tidak terlihat seperti Kageyama.
Apa sih yang kupikirkan?!
Kageyama menghela napas panjang. Ia kemudian mengeluarkan buku matematika dari dalam tasnya dan meminta Daichi menerangkan beberapa bab yang tidak ia mengerti.
Diam-diam, Hinata menoleh ke arah Kageyama di tengah-tengah Nishinoya yang sedang sibuk menjelaskan.
"Tunggu, aku mau ke toilet sebentar," kata Tanaka setelah meneguk habis cokelat panasnya dan mengambil beberapa keping kue kering. Daichi, Nishinoya, Hinata, serta Kageyama menganggukkan kepalanya sementara mereka masih serius satu sama lain. Tanaka langsung ciut. Dia merasa diabaikan. Tapi sebenarnya, ini bagian dari rencana sih.
Ia langsung menghampiri ibu Hinata yang sedang membaca majalah di ruang tengah.
"Ah, bibi, aku hendak pulang. Ayahku berkata adikku tiba-tiba terserang demam tadi, jadi, aku ditelepon untuk segera pulang. Terima kasih atas hidangannya. Cokelat hangatnya enak sekali dan kue keringnya juga. Maaf merepotkan," kata Tanaka, tidak mengerti harus bertingkah seperti apa. Dia ngasal aja membuat alasan. Ibu Hinata nampaknya percaya.
"Sayang sekali. Semoga adikmu lekas sembuh ya. Mau membawa pulang beberapa buah kue kering lagi?" tawar ibu Hinata. Tanaka terkekeh dengan perasaan tidak enak, lalu menyahut, "ah tidak usah bibi. Hinata katanya suka kue keringnya. Jadi untuk Hinata saja, hehehe," kata Tanaka, membuat-buat alasan palsu lagi agar ia cepat pulang. Ibu Hinata akhirnya melepas kepergian (?) Tanaka tanpa berbasa-basi lagi.
"Yosh~ kutunggu kalian berdua," gumam Tanaka setelah dirinya perlahan menjauh meninggalkan rumah Hinata.
Kembali ke dalam kamar Hinata, Kageyama nampaknya cukup menyerap penjelasan yang diberikan Daichi padanya. Hinata juga.
"Terima kasih Nishinoya-senpai. Ternyata senpai bisa diandalkan juga, ahaha," kata Hinata, menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sih nggak gatel. Nishinoya-sama halnya seperti Tanaka-langsung berbunga-bunga ketika kata 'senpai' disebutkan oleh Hinata untuknya. Efek bunga-bunga dan sparkle (?) bertaburan di sekitar Nishinoya yang sedang menari-nari seperti balerina. Tetapi beberapa saat kemudian, ia kembali normal.
Kageyama melirik ke arah Hinata dan Nishinoya yang sibuk bercanda. Daichi memperhatikan Kageyama yang sedari tadi curi-curi pandang ke arah kedua makhluk cebol di depannya.
Hhh... dia sebenarnya ingin bercanda dan mengobrol dengan Hinata juga seperti biasanya. Ah, ia merasa posisinya direbut oleh Nishinoya. Aku mengerti sekarang.
Daichi meneguk cokelat hangat bagiannya, lalu beranjak.
"Tanaka terlalu lama di toilet. Aku akan menyusulnya," kata Daichi. Ini juga bagian dari rencana. Hohohoho...
"Ah, baik," sahut Kageyama singkat, mengangguk ke arah Daichi.
Oh ya, tugas para senpai di sini sebenarnya hanyalah mengajari kouhai mereka pelajaran kelas satu yang tidak mereka pahami. Berhubung para senpai sudah pernah mendapatkan pelajaran itu lebih mendalam, setidaknya, mereka harus bisa menjelaskan-paling tidak-sedikit hal penting dari pelajaran tersebut.
Dan tugas para kouhai adalah mendengarkan penjelasan para senpai dan merekamnya dalam otak, meski itu takkan mungkin terserap dengan baik. Pikiran mereka sebenarnya melayang-layang. Antara berbagai pertanyaan mengapa para senpai mendadak mengadakan hal seperti belajar-bersama-di-liburan-musim-dingin dan juga antara kemalasan dalam berhadapan dengan pelajaran-terlebih matematika-di saat liburan yang seharusnya mereka nikmati dengan bersantai.
Yah, memang lebih baik mereka sedikit belajar sih, mengingat ulang pelajaran yang telah diberikan, tapi apa sih yang kebanyakan para pelajar macam mereka lakukan saat liburan?
Tentu saja bukan berkutat dengan buku pelajaran kan?
Nishinoya berhenti bercanda dengan Hinata. Ia menatap Kageyama yang sedang membuka-buka buku ilmu pengetahuan alam. Tersenyum, ia lalu berkata, "aku akan pulang. Kalian belajarlah bersama ya. Jangan terlalu banyak bersantai. Aku memberikan nasihat ini sebagai senpai kalian! Ohoho. Dan sebaiknya, kalian belajar lebih lama lagi. Sudah ya~!"
Dan tersisalah Kageyama dan Hinata. Mereka akhirnya menaruh curiga karena ini seperti satu per satu para senpainya meninggalkan mereka. Tanaka beralasan ia sedang ke toilet, tapi ia tidak kembali, padahal sudah lebih dari lima belas menit. Daichi juga tidak segera kembali. Kageyama mulai merasa dipermainkan. Ia beranjak. Tapi Hinata membuat sebuah tindakan yang mengejutkan.
Ia menarik tangan Kageyama.
"Jangan pergi dulu." Hinata mengatakannya dengan kepala tertunduk, suram. Kageyama menatap ke arah Hinata dengan sedikit kesal.
"Kau bicara denganku..."
"Bukankah dari kemarin juga kau berbicara denganku?!" bentak Hinata. "Kita sebenarnya tidak perlu berbuat hal semacam ini! Aku tahu ini hanyalah upaya para senpai untuk kembali membuat kita seperti dulu lagi-tidak peduli apakah kita akan kembali bertengkar atau apa-tapi mereka menyadari kecanggungan yang terjadi! Dan perasaanku juga tidak enak!" seru Hinata. Mata Kageyama membulat.
"Sesungguhnya, perasaanmu juga tidak enak kan?!"
"Ayo kita selesaikan ini baik-baik, Kageyama-kun," kata Hinata, menunduk.
Kageyama kembali duduk, hampir goyah, hampir roboh.
"Kageya-"
Ia memeluk Hinata. Mata Hinata membesar. Tak sampai dua detik kemudian, pipinya memerah. Author kehabisan darah bayangin Hinata tersipu. Uwoohh...
"Hinata..." Pipi Kageyama memanas.
"Eng? Kau tidak seperti Kageyama yang bia-"
Kageyama mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bertemu. Pipinya memanas, memerah. Hinata lebih parah lagi. Ia langsung mendorong Kageyama hingga sang "raja" terjungkal.
Kageyama pingsan (?).
"Dia demam..." kata Daichi.
Yup, sore itu, Kageyama pingsan dan Hinata ngacir menghampiri ibunya di ruang tengah, bertingkah panik sambil nunjuk-nunjuk ke arah kamarnya. Ibunya pun langsung melihat pemandangan yang sedang terjadi. Hinata menelepon Daichi. Dan akhirnya, Daichi beserta Tanaka kembali ke rumah Hinata.
Kageyama berbaring di ranjang Hinata. Pipinya memanas. Dia ternyata demam. Tapi, Hinata malah semakin malu dengan kejadian paling canggung tadi. Tanaka yang menyadari wajah Hinata berubah aneh pun akhirnya menanyakannya.
"Apa yang kau lakukan bersama Kageyama?"
AMBIGU!
"Eh? Eh? Tidak, bukan apa-apa!" Hinata menggeleng cepat-cepat. Tanaka cengengesan. Matanya berubah menjadi pandangan menyelidik sekaligus curiga.
"Ah~ masa~?"
"Iya, bener kok!"
Duh, berarti masalahnya belum selese sampe di sini dong. Tadi pake demam segala sih...
"Mikirin apa hayo~?" goda Tanaka. Hinata terlonjak. "HEE- bu-bukan apa-apa!"
"Kau mencurigakan," selidik Tanaka, bermaksud menggoda. Tapi Daichi menoleh ke arahnya dan menggeleng. Tanaka pun akhirnya bersikap normal. Kageyama masih belum sadar.
Yah, lagian nggak mungkin juga sih dia ngelakuin hal kayak gitu di mode Kageyama asli kan?
Jangan bilang kalau kau kecewa Hinata.
To be continued...
kotatsu* = sejenis meja penghangat yang dilapisi futon khas Jepang.
zabuton** = semacam bantal duduk / alas duduk berupa bantalan / cushion
A/N
Chapter paling absurd, hahahaha~~ /dibakar rame-rame
HAHAHAAHAHAHH, KAGEYAMA OOC BANGET PAS DEMAM o)-( ini anak sengaja /dibantai
Intinya, udah terlalu hancur. Mungkin chapter 4 is the last chapter untuk fik ini. Hahay, buat KageHina itu lebih susah daripada buat pair BL yang laen, makanya, entah kenapa, rada susah ngetik fik ini, jadilah hasilnya hancur seperti ini, tapi saya sih udah berusaha sebisa mungkin
o)-( /dibakar/ ditambah susah munculin sifat asli Kageyama biar nggak OOC. Jadi, yeah, di fik ini, Kageyama itu OOC banget-
Oh ya, saya nggak ngerti soal pelajaran-pelajaran matematika SMA. Cuma browsing "pelajaran matematika SMA" dan ketemu logaritma dkk. Karena saya cuma pernah denger (denger doang :'v) yang logaritma, yaudah jadi asal aja make itu pembelajaran tanpa liat contoh soalnya, hahahah, maklum kalopun liat juga nggak bakal ngerti wong saya masih SD :v
Thanks buat yang udah ripiu (?) jadi update-nya cepet deh /terbang/
Mind to review? Kritik sama saran juga ya~!
Note : Chapter 4 adalah chapter terpendek, mungkin nggak nyampe 1000 kata, cuma klo udah lebih dari itu, that's the miracle :'v
