Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
II: ce garçon
.
.
.
.
.
.
.
Everything is a miracle. It is a miracle that one does not dissolve in one's bath like a lump of sugar.
-Pablo Picasso-
.
.
.
.
.
.
.
Semua ini cuma gara-gara satu orang bocah.
Alibaba sudah punya dua teman baru lagi. Titus Alexius dari kelas Sopran dan Sphintus Carmen dari kelas Bass. Lalu Morgiana, dari kelas Mezzo Sopran. Titus mengalami telat puber sehingga suaranya belum pecah. Hal seperti itu, sering terjadi, namun tidak banyak. Mereka adalah teman-teman yang baik. Alibaba biasa menghabiskan waktu istirahat bersama mereka berempat di taman belakang sekolah.
"You know you look so good!" Alibaba menggenjreng gitarnya penuh emosi karena kesal dengan pelajaran partitur nada. Bagi orang yang nggak begitu mengerti musik sepertinya hal seperti itu sama saja seperti living hell.
"Ngyahahahaha. Alibaba stress!" Titus tertawa sampai berguling-gulingan dirumput.
"C'mon c'mon c'mon, c'mon baby, now!" Alibaba tidak peduli, ia menyanyikan lagu dari The Beatles itu secara serampangan sebagai luapan emosi jiwa.
"Biarin. Dia mah memang sarap, kan?" Hakuryuu juga tak mampu membendung tawanya.
"Gila! Gilaaaaa." Titus masih bergulingan, terkikik geli.
Alibaba masih saja bernyanyi, namun teman-temannya tengah berhenti tertawa begitu saja. Seseorang mendekati mereka, dan membawa aura mendung seketika. Alibaba sendiri berhenti berdemo (karena apa yang dia lakukan tidak sama sekali bukan nyanyi) setelah seseorang membekap mulutnya dari belakang. Dua tangan mungil.
"A-li-baba-kuuuuuuuuuuuun~~" Aladdin spontan mengalungkan kedua lengannya ke leher Alibaba dari belakang.
"Eh? Eeeeeeeeeeeeeeeeehhh!?" teriaknya panik. Wajahnya mendadak merah seperti buah tomat.
"Aku pinjam dia sebentar, ya!" Aladdi menggeret Alibaba menjauhi teman-temannya.
Hakuryuu en the geng nggak bilang apa-apa selain cuma megap-megap kayak ikan lele. Aladdin membawa Alibaba ke kelasnya. Disana ada Judal, yang tengah main laptop di ujung ruangan, dan seorang cowok dengan rambut putih pendek yang tengah membaca novel tebal dengan telinga tersumpal headphone.
"Eh?! Aladdin, ada apa?" tanya Alibaba.
"Aku belum bilang makasih untuk yang kemarin." Aladdin memamerkan perban di betisnya. "Alibaba tinggal bilang saja mau apa."
"Eh?!" Alibaba agak terkejut. "Nggak perlu. Aku ikhlas kok."
"Nggak boleh begitu. Alibaba-kun sudah makan siang?"
"Eh? Be...belum, sih."
"Ya sudah. Aku punya banyak makanan disini, makan bareng yuk!"
Aladdin memberikan Alibaba kotak makannya. Isinya adalah sandwich keju, telur rebus dan tomat. Mereka berdua makan di bangku tengah, sementara cowok yang daritadi baca buku itu akhirnya bangkit dan mengepit bukunya di dagu, mengalungi headphone-nya, lalu menjinjing buku tebal itu disamping tubuhnya.
"Jafar-san mau kemana?" tanya Aladdin.
Jafar, cowok itu, menoleh dan hanya tersenyum kecil. "Test Voice. Cuma liat-liat doang sih palingan."
Saat cowok itu pergi, Alibaba menoleh pada Aladdin. "Cowok itu gurumu?"
"Jafar-san? Bukan. Dia siswa kelas ini kok." Jawab Aladdin. "Karena teknik vokalnya bagus banget, Kepala Sekolah memintanya melatih kelas cewek sesekali. Suaranya Jafar-san keren banget, lho! Bisa ngebass," Aladdin memberat-beratkan suaranya. "Ala-ala blues," Aladdin memperdalam suaranya.
"Dan bisa treble jugaaaaaa." Lalu melengkingkan suaranya.
"Keren banget. Kenapa dia nggak lulus lebih cepat aja sih?" Alibaba melahap sandwichnya.
"Jafar-san di-drill untuk menjadi pelatih para boy soprano dan Countertenor." Jelas Aladdin. "Sayangnya Jafar-san orangnya moody. Kadang dia lebih beratin mainan BB sama baca novel daripada ngajarin aku sama Judal-kun."
"Apa-apaan itu? Nggak professional banget, sih." Gerutu Alibaba.
"Bukan gitu," Aladdin tersenyum sedih. "Jafar-san punya penyakit. Katanya, demi bisa menjadi coach para Countertenor, dia rela nggak lagi menjalani terapi."
Alibaba terdiam.
"Jafar-san baik kok..." Aladdin menghabiskan bekalnya. "Eh, Alibaba kalo mau belajar lebih banyak tentang vokal masuk sini aja. Nanti aku bilang deh sama Jafar-san."
"Mana bisa begitu? Aku sedang intensif belajar teknik toque."
"Betul. Tahu diri juga tuh."
Judal mengerenyit ketus melihat keberadaan Alibaba. Ia mematikan laptopnya, lalu mendekati mereka berdua. Memandangi Aladdin dengan pandangan mengejek.
"Judal-kun mau apa?!" Aladdin memeluk Alibaba dengan sikap protektif.
"Hati-hati saja, siapa tahu monyet itu mendekatimu hanya untuk masuk Choir atau Opera." Cibir Judal. "Heh, Baritone. Secara sih nggak mungkin, ya."
"Nggak ada urusan dengan itu, Judal-kun. Urus saja urusanmu sendiri." Ketus Aladdin dengan sikap dewasa, yang membuat Alibaba sedikit takjub. "Ayo pergi, Alibaba-kun."
Aladdin dengan kesal membawa Alibaba keluar kelas, berjalan-jalan saja tidak jelas. Padahal kelas sudah masuk. Ia sempat melewati kelas Ensemble yang tengah latihan dengan cello bass. Aladdin membawanya ke sebuah tempat yang nyaris tidak pernah dia datangi: perpustakaan.
"Aku ingin dengan suara Alibaba-kun." Aladdin menghempaskan tubuhnya di sofa besar dari kulit hitam.
"Eh? Kau sudah dengar, kan tadi pagi?" Alibaba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Suaraku jelek."
"Tidak." Aladdin mengambil sebuah gitar yang disediakan disana. "Suaramu yang sebenarnya. Tadi itu Alibaba-kun cuma teriak-teriak."
Alibaba tertawa renyah. Ia menerima gitar yang diambilkan Aladdin, lalu duduk disebelahnya. Cowok pirang itu menyetem gitar itu sesuai dengan kenyamanannya, lalu ia menopangkan dagunya ke badan gitar.
"Hey, kau membawaku bolos, ya, anak nakal?" Katanya sambil menyentil kening Aladdin.
"Ehehe." Aladdin hanya nyengir. "Sekali ini saja."
"Mau lagu apa?"
Aladdin menggeleng. "Apapun yang Alibaba-kun suka."
"Nggak mau. Kamu juga harus nyanyi. Jangan curang."
"Nggak mau. Aku malu." Jawab Aladdin simpel.
"Heh, heh, ini kan sekolah musik. Kenapa kau bisa bilang malu? Suaraku mungkin terlalu rendah buatmu, jadi kalo nggak bisa ngikutin maaf, ya."
Aladdin mengangguk.
Alibaba mulai menggenjreng gitarnya. Wajah Aladdin yang childish menunjukkan ketakjubkan yang menggemaskan. Alibaba hanya cengengesan dan mulai bernyanyi,
I'm feeling sexy and free
Like glitters raining on me
You like a shot of pure gold
I think i'm 'bout to explode
I can taste the tension like a cloud of smoke in the air
Now I'm breathing like I'm running cause you're taking me there
Don't you know, you spin me out of control
Aladdin terkesima. Suara baritone Alibaba sangat lembut, menggelitik hatinya. Namun setelah mendengarkan lagu yang dibawakannya, Aladdin tersadar bahwa cowok pirang ini lebih dari sekedar indah. Ekspresinya yang mudah berubah, kejujuran dan kebahagiaan selalu terpancar dari matanya yang bulat dan berkilau bak madu bertabur emas. Ia bisa memasukkan setiap emosi dengan tepat di tiap lirik yang dia nyanyikan. Senyumnya yang tulus dan penuh dengan kasih sayang itu...
Saat itu Aladdin sadar, bahwa Alibaba Saluja telah mencuri hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
"Kyaaaaa! Jafar-senpai! Ajari aku lagi teknik yang begitu!"
Cewek-cewek berisik, rutuk Jafar. Ia tidak mengerti kenapa mereka sangat menyukai head voice-nya. Padahal itu adalah sejatanya untuk menjatuhkan Yamuraiha dari tokoh utama Dramatic Sopran di Opera. Jafar mendengus bosan, dan memilih untuk berjalan keluar. Ia kembali mendengarkan musik, dan pergi ke Audiotorium Golden Phoenix, tempat dimana seharusnya dia berada sekarang. Sudah ada dua puluh lima anak-anak yang mengenakkan jubah putih panjang seperti Paus yang berbaris dengan rapi, memandangi papan penyangga partitur nada dengan penuh harap. Jafar melirik ke sudut ruangan, Kepala Sekolah Sinbad mengambil alih piano favoritnya.
"Anak-anakku," kata sang kepala sekolah. "Sepertinya kita bisa mulai latihan."
Jafar mendengus. "Oke. Pemanasan dulu. Enam pembukaaan. Stakato!"
Anak-anak itu mengikuti pose Jafar, membusungkan dada dengan tangan di pinggang, menahan nafas.
"Satu."
"Hak!"
"Dua!"
"Hak! Hak!"
"Tiga!"
"Hak! Hak! Hak!"
"Empat!"
"Hak! Hak! Hak! Hak!"
"Lima!"
"Hak! Hak! Hak! Hak! Hak!"
"Enam!"
"Hak! Hak! Hak! Hak! Hak! Hak!"
Jafar membaca partitur nada, Vois sur ton chemin. Berarti anggota Choir ini hendak menghadapi event akbar, mengingat lagu itu memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Ia menghitung anggota Choir yang tersedia. Ada tiga anak yang berbaris bershaf di barisan nomor tiga. Lalu ada yang satu berbanjar sendiri, berjumlah delapan orang. Sepertinya banyak dari Sopran, Alto dan Bass.
"Cek nada dulu, ya." Jafar lagi-lagi mendengus bosan. "Satu, dua, tiga, empat, satu!"
"e le 'e, i le 'e, e le 'i, i le e, e le e, i le e, i le e i_ e_ e le 'e, i le 'e, e le 'i, i le e, e le e, i le e, i le e i_ e_ le_"
"Oke." Jafar mengangguk mantap. "Satu, dua tiga, empat, satu."
Vois sur ton chemin Gamins oublies égarés
Donner leur la main pour les mener
Vers d'autres lendemains
Donne leur la main
Pour les mener Vers d'autres lendemains
Sens au coeur de la nuit ( Sens au coeur de la nuit)
L'onde d'espoir
Ardeur de la vie
L'onde d'espoir
Sentier de la gloire
Ardeur de la vie, de la vie
Sentier de gloire, sentier de gloire
Bonheurs enfantins,
Trop vite oubliés effacés,
Une lumière dorée brille sans fin tout au bout du chemin
Vite oubliés effacés,
Une lumière dorée brille sans fin
Sens au coeur de la nuit ( Sens au coeur de la nuit)
L'onde d'espoir
Ardeur de la vie
L'onde d'espoir
Sentier de la gloire
Ardeur de la vie, de la vie
Sentier de gloire, sentier de gloire
e le e, i le e, e le i, i le e, e le e, i le e, i le e i_ e_ e le e, i le e, e le i, i le e, e le e, i le e, i le e i_ e_ le_
Vois sur ton chemin Gamins oublies égarés
Donner leur la main pour les mener
Vers d'autres lendemains
Donne leur la main
Pour les mener
Vers d'autres lendemain
Sens au coeur de la nuit ( Sens au coeur de la nuit)
L'onde d'espoir
Ardeur de la vie
L'onde d'espoi
Sentier de la gloire
Sens au coeur de la nuit ( Sens au coeur de la nuit)
L'onde d'espoir
Ardeur de la vie
L'onde d'espoir_
Sentier de la gloire_
Jafar mendecak puas. Choir Lawrence School of Music memang tidak sembarangan. Setelah melatih lagu itu selama beberapa kali, cowok tinggi itu memutuskan cukup dan membubarkan para Choir. Yang masih tinggal disitu adalah dirinya, yang tengah menunggu sang kepala sekolah berjalan menghampirinya.
"Tres bien." Kata Kepala Sekolah Sinbad sambil bertepuk tangan. "Tres bien, Jafar."
"Kapan kau akan mengangkatku sebagai coach, Sin." Jafar tiba-tiba menjambak jas Sinbad.
"Aduduh...susah memang menghadapi ABG." Sinbad tertawa. "Tunggulah. Pengalamanmu belum banyak."
"Apanya?! Teknik vokalku lebih bagus dari Yamuraiha." Ungkapnya, sedikit tercium rasa iri.
"Pengalaman mengajar." Jawab Sinbad. "Berhentilah ngambek dan take over kelas Countertenor."
"Muridnya cuma dua." Sanggah Jafar. "Salah satunya masih treble."
"Muridnya cuma dua saja kau masih malas-malasan mengajar mereka." Sinbad merangkul Jafar, mengajaknya ke kantornya yang tidak jauh dari Audiotorium Golden Phoenix.
Disana, Jafar didudukkan disebuah sofa besar. Lalu disuguhkan minum. Melihat minumannya hanya segelas air putih, Jafar langsung beranjak dan keluar ruangan sang Kepala Sekolah. Namun Sinbad sigap membekapnya dari belakang. Di salah satu tangannya terdapat sebuah suntikan.
"Hentikan, Sin! Aku tidak mau sembuh!" teriaknya kesal. Suara Jafar membuat telinga Sinbad sedikit berdenging.
"Ayolah, aku melakukan ini demi kebaikanmu juga." Sinbad menghempaskan Jafar di sofa dan menindihnya supaya tidak bisa bergerak. "Kau tahu, kan? Kalau Sindrom Kallman mengganggu indera penciuman dan kesuburanmu?!"
Sinbad nyaris saja menancapkan jarum suntik ke tubuh Jafar kalau saja cowok berambut putih itu tidak menyentakkan tangan sang Kepala Sekolah. Ia terlihat begitu ketakutan. Keringat dingin membasahi dahinya, dan Jafar terlihat gemetaran.
"Tidak...aku tidak mau suaraku pecah, Sin." Suara Jafar nyaris pecah menjadi isakan tangis. Airmatanya mengalir, membasahi kedua pipinya yang mulus. "Aku tidak mau suaraku pecah..."
"Baiklah." Sinbad memeluk Jafar, mencium bibirnya sedikit liar hanya untuk menenangkannya. "Tetapi, cepat atau lambat kau harus merelakannya, Jafar."
"Tidak..." Isak Jafar. "Aku tidak mau sembuh..."
"Iya, Jafar." Sinbad terlihat putus asa.
"Cuma ini yang aku punya."
Sebelum tangisan Jafar pecah, Sinbad memeluknya erat-erat. Tangisan Jafar teredam dalam dada sang Kepala Sekolah. Suara Countertenornya yang senilai nyaris 6 oktaf membawa kenangan manis, sekaligus pahit dan pedih dalam hidupnya. Bagi Jafar, suara langkanya itu sama saja dengan nyawanya. Maka, sang Kepala Sekolahpun sudah tak tega memaksanya terapi hormon lagi, meski jika tidak dilakukan, itu akan menyebabkan usia Jafar memendek.
"Aku menyayangimu, Jafar." Sinbad memberikan kecupan ringan di dahi cowok berambut putih itu. "Aku menyayangimu."
.
.
.
.
.
.
.
"Opera?!"
Dipertemuan para coach, Kepala Sekolah Sinbad mengumumkan bahwa sebelum akhir tahun ajaran baru akan diadakan Opera. Artinya, mereka hanya punya waktu 7 bulan untuk latihan. Ini adalah permintaan coach Yunan, Kepala Komite Lawrence School of Music. Ia melihat bakat-bakat luar biasa saat melihat pembagian kelas. Dan sepertinya ini adalah salah satu momen bagus untuk mengasah bakat mereka, tidak melulu para coach mereka yang tampil. Pria pirang bertubuh tinggi itu bahkan hendak mendepak Sharrkan yang sudah bertahun-tahun menjadi Solo Guitarist di Opera Lawrence. Solo Guitarist adalah posisi paling vital. Selain satu-satunya gitaris, tugasnya yakni membuat aransemen lagu dan menciptakan kisah Opera itu sendiri. Singkat kata, seperti seorang sutradara.
"Tu...tunggu, coach!" sanggah Sharrkan. "Tapi, disini aku satu-satunya Guitarist Instructor. Tidak ada lagi yang bisa bermain gitar sebaik aku di Lawrence!"
"Memang." Coach Yunan menyetujui. "Bagaimana jika Anda mencari penerus, karena jika kita cuma punya satu Solo Guitarist kan repot juga. Betul kan, Kepala Sekolah?"
"Y...yeah." Sinbad tidak punya pilihan lain. Kalau membantah, taruhannya potong gaji atau dipecat, kan? "Lalu, untuk pemilihan pemeran, Choir dan Ensemble-nya?"
"Choir Lawrence sudah sangat bagus. Kurasa tidak ada yang perlu diganti. Namun siapkan juga cadangan, kalau-kalau beberapa orang mengalami hambatan." Coach Yunan melirik kearah Jafar. "Ya?"
"Ba...baik, Coach." Jawab Jafar malu-malu.
"Oiya," coach Yunan menyilangkan telunjuknya. "Aku mau semua anak dari kelas Countertenor dapat peran."
"Se...semua?!" pekik para coach.
"Iya." Coach Yunan kelihatan sedikit jengkel. "Tous ces les garçon."
"Be...berarti saya juga?" pekik Jafar.
"Tous ces les garçon." Ulang coach Yunan. "Un, deux," ucapnya, sambil melipat jari-jarinya untuk melambangkan Aladdin dan Judal. "Trois." Lalu beliau menunjuk Jafar.
"Oui." Jafar melenguh pasrah.
"Lalu untuk peran-peran yang lain..." coach Yunan menopang dagunya. "Ada ide, Mademoiselle Scheherazade."
Scheherazade, sang wakil komite hanya diam, melirik tujuh orang coach dan satu orang siswa Countertenor yang duduk disebrangnya dan Yunan. Ia mengetuk-ngetuk pena dengan resah, lalu menoleh kearah Yunan.
"Aku mau 11 pemain biola, 3 orang Cello Bassist, dua orang pianis, satu pemain harpa, 7 orang pemain musik tiup. Terserah jenisnya apa. Lalu..." ia melirik kearah Sharrkan. "Solo Guitarist yang sangat gila."
"Apa maksud anda, Mademoiselle?" tanya Yunan sedikit bingung.
"Aku mau Solo Guitarist yang bisa benar-benar mengeksplorasi suara para pemeran. Dalam arti, tidak melulu percintaan kacangan yang bahkan nggak akan laku jika dijual jadi telenovela. Sesekali, aku mau si Solo Guitarist menggambarkan peperangan, atau pembunuhan lewat nyanyian. Opera Lawrence harus diberi sedikit warna dari ide-ide segar para remaja."
"Kalau begitu, untuk mengimbangi suara pada Countertenor, kita harus memilih pemeran bersuara Sopran, kan?" Kata Sinbad.
"Tidak." Scheherazade menggeleng. "Tolong carikan dari Contralto, Bass, Baritone dan Mezzo Sopran."
"Apa yang Anda pikirkan, Mademoiselle?" tanya coach Yunan. "Countertenor levelnya terlalu tinggi bagi mereka. Kasihan juga kan, jika mereka harus mengalah demi pemain-pemain itu?"
"Yunan, apa kau ingat Opera yang kita tonton di Moskow?" Scheherazade mencoret-coret kertas lagi. "Yang komposernya pria botak yang pendek dan jelek itu."
"Ya." Coach Yunan mengangguk. "Opera yang mengharukan."
"Aku mau membuat yang seperti itu. Opera yang kejam, yang mengharukan. Lalu menginspirasi dan penuh kehidupan." Scheherazade menghentikan kegiatan menulisnya. "Angélous kai Daímones."
Coach Yunan mengerenyit. "Anda membunuh Solo Guitarist-nya kalau begitu, Mademoiselle."
"Biar saja. Kan sudah kubilang pada Sharrkan untuk mencari Solo Guitarist gila, kan?"
Scheherazade melemparkan tujuh lembar kertas ke hadapan Sharrkan dan pergi bersaman Yunan begitu saja. Isi kertas itu adalah plot yang dibayangkan oleh Scheherazade. Sharrkan mendengus, entah lega atau khawatir dirinya tidak lagi dilibatkan dalam Opera kali ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N:
Tous ces les garçon: anak-anak itu (konteksnya anak cowok).
Un, deux, trois: satu, dua tiga.
Countertenor: suara tertinggi cowok, yang nyaris setara dengan sopran atau mezzo sopran. Range vokalnya antara G3 sampai E5 atau F5. Jadi kira-kira 3 oktaf. Pengecualian untuk Jafar yang digambarkan bisa sampai 6 oktaf (berarti bisa nyanyi tanpa perlu mic lho!)
Tenor: suara tinggi cowok. Range vokalnya antara C3-C5. Atau ada yang dari B 2-F5. Jadi kira-kira 2 oktaf.
Baritone: suara sedang cowok, arti harfiahnya adalah 'suara dalam'. Range vokalnya antara F2-F4. Kira-kira dua oktaf, dan suara baritone paling banyak sub-subkategorinya.
Bass: suara terendah cowok. Range vokalnya antara E2-E4. Ada juga yang dari C2-G4.
Treble: suara sopran untuk cewek/cowok. Cowok dengan suara treble disebut boy soprano. Range vokalnya dari A3-F5, bahkan kalau latihan rutin bisa sampai C6. Angelic voice (penyanyi treble yang biasa ada di gereja), nada tertingginya bisa sampai G5 bahkan A5! (Author punya temen suaranya treble. Kalo lagi ngomong suaranya cempreng, melengking berisik gitu. Annoying banget deh. Bayangin aja kalo di telpon suaranya kayak begono -w-" #nggaknanya#). Biasanya suara treble cuma ada sampai umur sebelum puber. Jika sampai puber (terutama cowok) suara treblenya masih ada, maka dia dimasukkan dalam golongan Countertenor.
Sopran: Suara tertinggi cewek. Range vokalnya antara C4-C6, tapi ada juga yang dari B3 atau A. Sopran juga punya banyak pengembangan. Cololatura Soprano bisa mencapai nada F6-A6.
Mezzo Sopran: suara menengah cewek. Range vokalnya antara A3-A5, ada juga yang dari G3-C6.
Alto: suara rendah cewek. Range vokalnya antara G3-F5.
Contralto: suara terendah cewek. Jarang ada karena biasanya penyanyi contralto digolongkan kedalam mezzo sopran. Range vokalnya antara F3-F5, atau dari E3- B 5. Amy Winehouse dan Adele termasuk contoh penyanyi Contralto.
Head voice: mencapai nada tinggi hingga satu oktaf diatas suara normal kita namun tidak dengan falsetto. Tekniknya adalah mengumpulkan suara/udara dikepala, lalu dikeluarkan langsung dalam nada tinggi. Katanya temenku yang bisa nyanyi, pas pake teknik head voice itu rasa ada yang bunyi yang 'nampol' sampe ubun-ubun, tapi kalo terlatih hasilnya bakalan bagus.
Falsetto: falsetto adalah suara yang dibunyikan tetapi dengan kualitas yang lebih tipis, mendesah, dan bocor. Berbeda dengan head voice, falsetto menggunakan teknik chest voice, atau suara dada.
Apah? Nggak usah ngeliatin saya kayak gitu. Saya juga nggak ngerti nada, nggak bisa nyanyi, main musik apalagi. Cuma anak dodol yang nekad bikin fic tentang musik. Ehehe. Saya harap kamu kamu kamu semua yang baca terhibur dan terinspirasi ya. Karena kemalasan dan keterbatasan kapasitas otak author yang cetek, mohon bantuannya kalau-kalau istilah musiknya salah atau kurang tepat, readers sekalian boleh memperbaikinya, kok. Soal lagu yang tadi, itu lagu bahasa perancis, soundtracknya film Les Chorites. Bisa dicek di yutub. Dan yang Jafar ngajarin nada 'e le e, i le e...' itu terinspirasi dari paduan suara sekolahku. Aku emang bukan anak padus, sih. Tapi kadang suka diculik suruh nontonin latihan sama temenku (kadang ada aja barang-barangku yang disita biar aku nggak kabur)
Yosh, sekian bacotan saja. Berasep mau ngelanjutin chapter 3 –tiba-tiba ilang-
