Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
III: first love
.
.
.
.
.
.
.
"If you don't know where you are going, any road will get you there."
― George Harrison-
.
.
.
.
.
.
.
"Aladdin, Kepala Komite bilang kita akan main Opera."
Aladdin hanya menatap Jafar dengan ekspresi tidak mengerti. Judal menyeringai senang dengan berita yang dibawakan cowok kurus itu setelah rapatnya dengan Kepala Komite beberapa minggu yang lalu. Namun Aladdin setelah itu tidak menunjukkan antusiasme sama sekali. Ia membuka jendela, dan mengarahkan bidikan lensanya ke lapangan basket.
"Hey, Aladdin. Kau dengar, tidak. Artinya: Kita. Semua. Main!" geram Jafar.
"Terus aku harus bilang apa?" kata Aladdin, yang sibuk memotret sesuatu—atau seseorang. "Koprol di tengah sawah sambil bilang WOW, gitu?"
"Maksudku, aku mau kau dan aku latihan." Decak Jafar.
"Hey, bagaimana denganku?!" sembur Judal.
"Belakangan." Tukas Jafar pendek. "Ya? Kau tak mau angel voice-mu didengar orang-orang?"
Aladdin menurunkan kameranya, melihat kearah Jafar. "Eh, sudah lihat naskahnya, belum? Begini-begini, aku sudah capek-capek latihan ternyata cuma jadi pengiringnya Choir."
"Nggak boleh begitu. Kepala Komite langsung lho yang minta. Mantan treble juga. Beliau bilang, dia akan mengajari kita bedua."
"Sungguh?!" mata Aladdin berbinar. "Bener? Beneeeeer?!"
"Memang kapan aku bohong?" Jafar menyeringai senang karena usahanya berhasil.
"Tapi, aku liat naskahnya dulu. Titik." Jawab Aladdin. Ia kembali sibuk dengan kamera SLR-nya.
"Ini anaaaaaaaak!" rutuk Jafar dalam hati. "Oke deh." Katanya pasrah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Fuaaaaaaah~"
Hari ini merupakan jadwal olahraga bagi kelas Baritone 2, kelas yang dihuni Alibaba Saluja. Hanya kelas Baritone yang memiliki 7 kelas karena kemelimpahan anak muridnya. Setelah hari ini bermain basket gila-gilaan (ditengah hari bolong, dengan suhu udara 34 derajat celcius dan dehidrasi extreme), ia cuma telentang dipinggir lapangan, mengguyur kepalanya dengan air mineral dingin.
"Bonjour, Monsieur Saluja."
Alibaba melihat Sharrkan dan seorang cowok dengan tubuh tinggi kurus, setelan jas kebesaran dan rambut pirang panjang yang dijalin kesamping. Alibaba berdiri, lalu duduk memandangi kedua pria itu dengan tatapan kesal.
"Jangan bilang tiduran ditengah lapangan itu adalah pelanggaran asusila." Ketusnya.
Pria pirang itu, coach Yunan, hanya tertawa renyah. "Mais non. Kami ada perlu denganmu. Bisa ikut kami sebentar?"
"Eh, iya."
Alibaba mengikuti mereka berdua, melintasi seluruh sekolahan. Sharrkan dan Yunan berbincang dengan bahasa...sepertinya bahasa Perancis daerah Selatan. Alibaba tidak begitu mengerti. Sesekali pria pirang tinggi itu menoleh kebelakang, memastikan Alibaba tidak ketinggalan. Cowok itu membeku ketika dia sadar kemana dia dibawa: Kantor Komite. Apakah si pirang tinggi itu akan bilang: Monsieur Saluja you hafta get your fu*king ass here right now atau semacamnya sebagai nada pengusiran. Namun saat ia melihat tidak hanya dirinya yang ada disana, kepalanya penuh dengan pertanyaan. Ada Judal, yang tengah selonjoran di sofa, meliriknya dengan pandangan hina. Ada Jafar juga, yang kelihatannya agak kesal, dan...
"A-li-baba-kuuuuuuuuuuuun~~" pekik Aladdin, seraya melempar tubuhnya kearah Alibaba.
"Eeeeh?! Ja...jangan peluk-peluk, aku bau!" Alibaba berusaha menjauhkan Aladdin yang memeluk pinggangnya erat-erat.
"Masa? Nggak tuh." Aladdin menggesek-gesekkan wajahnya ke perut Alibaba.
"Eh ja...hyahahaha...geli, geli, Aladdin..."
"EHEM!" Jafar berdehem, sedikit dipaksakan. "Ini didepan Kepala Komite. Jaga sikap!"
"Ke..." Alibaba melihat kearah Yunan, lalu buru-buru membungkuk hormat. "Ma...maafkan saya. Aladdin, lepas ah!"
"Nggak mau!" Aladdin malah semakin erat memeluknya.
"Sudahlah, tidak perlu terlalu formal. Kita santai saja, ya." Yunan tertawa geli. "Oke, oke. Monsieur Judal, bisa kasih sedikit tempat?"
Judal bergeser, duduk sejauh mungkin dari Alibaba yang masih pakai baju olahraga yang setengah basah. Saat semua sudah duduk dengan nyaman, Yunan membuka pembicaraan.
"Begini, aku hendak membuka sebuah Opera."
"Apaan tuh?" jawab Alibaba asal. "Kue coklat yang sembilan lapis itu, bukan?"
Semua orang, kecuali Aladdin, menatapnya dengan pandangan membunuh. Namun Yunan hanya tertawa. Terbahak-bahak.
"Bukan. Justru nama opera cake itu berasal dari toko kue yang menciptakannya. Didepan gedung opera." Yunan malah menyeduh teh hijau, lalu menghidangkannya pada semua orang. "Opera adalah salah satu pertunjukkan musik. Memiliki unsur drama juga. Biasanya sekolah ini juga mengadakan Opera, dengan jalan yang lebih sederhana. Di Lawrence, Opera dilaksanakan dengan 4 unsur: Choir, Ensemble, Pemain dan Solo Guitarist."
Alibaba setengah mengerti. Ia meniup-niup gelasnya dan meminum teh panas itu.
"Tema tahun ini adalah Angélous kai Daímones. Diambil dari bahasa Yunani, artinya malaikat dan iblis. Konteksnya dalam Opera adalah konflik pelik antara si jahat dan si baik."
"Terus?" Alibaba makin tidak mengerti.
"Untuk tahun ini, aku tidak ingin ada satupun coach yang turun di panggung Opera. Semua murni dari anak murid mereka. Lalu, apa kau sudah mengerti tentang unsur-unsur Opera di Lawrence?"
"Secara keseluruhan?" Alibaba menggeleng. "Maksudnya Solo Guitarist itu apa? Aku nggak pernah dengar ada gitar di pertunjukkan musik klasik."
"Sharrkan," Yunan menoleh kearah pria berkulit gelap itu. "Dikelas Baritone, apa saja yang kau ajarkan?"
"Eh? Banyak. Fokus pada teknik olah vokal. Tapi beberapa Baritone yang bisa main alat musik, aku pisahkan kelasnya. Dan di kelasnya, Alibaba Saluja dapat teknik bermain gitar dan aransemen lagu."
"Main gitarnya bagus?" Yunan cuma memandangi Alibaba dengan senyuman penuh teka-teki.
"Eum, yah. Di kelas Baritone 5, nilai teknik gitarnya paling tinggi. Dia menguasai toque dalam waktu dua hari. Untuk semester ini, baru Alibaba saja yang saya latih hard fingering."
"Cepat juga belajarnya." Yunan sedikit terkejut.
"Yah, begitulah. Teknik dasarnya seperti picking, hammer-on, pull-of, legato sampai bending dan slide sudah ia kuasai secara otodidak. Cuma kayaknya dia tidak tahu namanya dari awal."
"Otodidak?" Yunan terlihat sedikit kecewa. "Jangan bilang dia nggak bisa baca partitur nada balok."
"Memang nggak bisa. Nilainya 'agak' rendah di pelajaran itu."
Yunan mengurut keningnya. "Like teacher like student." Katanya sambil melirik Sharrkan.
"Enak saja." Sharrkan mendengus. "Aku jauh lebih pinter dalam urusan itu. Dan lebih ganteng."
"Oi, oi!" Alibaba mengerutkan dahi. "Kalian membicarakan apa, sih?"
"Sharrkan," Yunan melirik pria itu lagi. "Kau belum bilang?!"
"Euhm..." Sharrkan terlihat salah tingkah. "Be...begini. Coach Yunan memintamu untuk menggantikan posisiku sebagai Solo Guitarist di Opera."
Alibaba terlihat berbinar. "Yosh! Serahkan saja padaku. Cuma main gitar doang, kan? Keciiiiil."
Yunan memberikan Alibaba sebuah buku sketsa dan pensil mekanik. "Silakan, sudah kubelikan buku untukmu mengaransemen lagu dan cerita."
"Eh?" Alibaba cengo. "Mengaransemen apaan? Bukankah itu kerjaannya konduktor?"
"Sharrkaaaaaaaaaaaaaaaan," Yunan menggeram kesal. "Belum dikasih tahu juga?!"
"I...iya, coach." Sharrkan langsung berkeringat dingin. "Tu...tugas Solo Guitarist di Opera ini adalah bertindak sebagai...uum...komposer, gitaris tunggal tentunya, sutradara dan tim kreatif untuk setting panggung dan perlengkapan lain. Singkat kata, sutradara Opera."
Alibaba merasa lemas. Ia menjatuhkan gelas tehnya dan ambruk begitu saja di sofa.
.
.
.
.
.
.
.
Alibaba Saluja menaiki bus, dan turun di sebuah halte didepan sebuah mini market 24 jam serba ada. Jarak dari halte hingga rumahnya masih sekitar 500 meter lagi. Mau tak mau, ia berjalan di siang yang gelap karena mendung ini. Memasuki gang rumahnya, hujan deras turun begitu saja. Ia merutuk, berlari-lari kecil menuju sebuah gang lagi yang lebih sempit, tempat rumah-rumah kontrakan (super) kecil di lingkungan kumuh kampung, dan dihuni oleh orang-orang dari kelas menengah kebawah. Namun cowok pirang itu tidak tinggal di rumah-rumah kontrakan tersebut. Di ujung gang ini ada sebuah flat bersusun dengan biaya sewa tidak sampai setengah dari rumah-rumah kontrakan didepan sana. Melewati hujan deras dan jalanan berlumpur, Alibaba pulang ke flat bersusunnya, di lantai 3.
Tidak mewah, namun cukup terpelihara. Alibaba dan ibunya tinggal berdua disini, dulu sebelum ibunya meninggal. Anise Saluja, ibu Alibaba, adalah seorang buruh cuci-setrika. Menjelang remaja, ia tahu bahwa ibunya juga bekerja sebagai 'penghibur' para pria nakal ditengah malam. Namun ia tidak begitu ambil pusing. Mereka memang tidak bisa hidup foya-foya, namun Alibaba bisa makan dan sekolah. Ia sendiri akhirnya memutuskan kerja sambilan di toko reparasi barang elektronik, sesekali membantu di pasar. Sebagai kuli angkut. Dulu sempat mencopet juga, sampai akhirnya semakin dewasa, Alibaba malah lebih sering kepergok mencopet lalu dihajar warga ketimbang dapat uang.
Cowok itu buru-buru mencuci seragamnya yang basah, lalu menjemurnya di luar rumah yang terlindung dari hujan. Ia lalu mandi, dan langsung pergi ke toko tempatnya bekerja. Pekerjaan Alibaba banyak, namun dia lihai sehingga setidaknya pekerjaan itu setengahnya sudah selesai pada tengah malam. Bapak pemilik toko itu usianya sudah 63 tahun, sangat pemarah karena ia memiliki 4 orang anak dan 2 orang cucu serta istrinya yang harus dinafkahi. Masalah uang, Alibaba menghargai pak tua itu karena menggajinya tinggi. Ia kadang boleh membawa pulang beberapa alat elektronik bekas yang dibeli pak tua itu. Malam ini Alibaba mengerjakan 2 PK AC dan 3 stereo set untuk mobil. Ia bekerja di keremangan lampu 15 watt. Pak tua itu memberikannya segelas kopi kental panas. Dan karena tahu sekarang Alibaba sekolah di Lawrence, ia memperbolehkan anak itu mengerjakan 1 stereo yang belum rampung esok hari.
Saat Alibaba pulang, ia melihat sesuatu didepan pintu rumahnya. Hujan sudah berhenti, meninggalkan hawa dingin yang luar biasa menusuk. Saat didekati, ternyata itu adalah seseorang yang tengah meringkuk kedinginan didepan pintu rumahnya. Sosok itu mengenakkan ripped jeans biru muda, dan jumper hijau toska berkancing besar yang oversize. Tubuhnya basah total dari ujung rambutnya yang panjang hingga ke mata kaki, serta seluruh tubuhnya. Alibaba butuh beberapa detik untuk menyadari kalau itu adalah,
"Judal?"
"Hmh?!" rahangnya gemelutruk. Tubuhnya gemetaran. "Darimana saja?"
"Eh? Aku kerja. Kau tahu darimana rumahku?"
"Tidak penting." Judal merogoh dalam jumpernya. Ia memberikan Alibaba sebuah buku.
"Kau nggak bisa baca partitur nada, kan? Itu catatan partitur nada, Baritone. Aku nggak mau kau bikin malu lagi didepan orang sepenting coach Yunan."
Alibaba memandangi buku bersampul plastik itu. Di dalamnya disampul lagi dengan kertas kado bermotif komik. Dengan sebuah label nama dengan tulisan rapat dan besar yang rapi di pojok kiri bawah.
Judal Al-Sarmen.
"Ehm...makasih, Judal." Ucap Alibaba, sedikit tidak enak hati.
"Hm." Judal menggigil, tidak menunjukkan emosi apapun. Ia berjalan melewati Alibaba. "Aku balik, ya. Malam."
"Tunggu." Alibaba menahan lengan Judal. "Ini nyaris jam satu. Kau juga basah kuyup begitu."
"Bukan urusanmu!" Judal menyentak tangan Alibaba.
"Masuklah." Kata Alibaba ramah. "Aku akan menghidangkan teh panas."
Alibaba membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Judal masuk. Cowok itu masuk tanpa banyak bicara, lalu bersandar di dinding. Alibaba memberikannya sehelai handuk dan ia merebus air dengan panci. Jumlahnya sedikit tidak wajar untuk sekedar dua gelas teh.
"Buat apa rebus air sebanyak itu?" tanya Judal penasaran. "Buang-buang gas."
"Mandi." Jawab Alibaba pendek. "Kau mandi, ya? Kau berjam-jam menungguku. Kedinginan kan pasti?"
"Ge-er." Ketusnya. "Aku kebetulan lewat."
Niat amat lewat sini. Jelas-jelas daerah sini nggak ada angkot. Batin Alibaba.
"Rumahmu dekat sini, Judal?" Alibaba mengambil dua gelas dari lemari.
"Tidak. Rumahku jauh. Di Pasific State."
Pasific State adalah sebuah daerah perumahan elit, yang jaraknya 20 km dengan arah yang berlawanan dari daerah sini. Tidak ingin banyak tanya lagi, Alibaba menuang air panas tersebut di gelas untuk menyeduh teh, dan sisanya dituang kedalam sebuah ember besar bekas cat yang sudah dibersihkan. Ember itu biasa digunakan Alibaba untuk menampung cucian.
"Ini. Mandilah. Setelah itu minum teh, ya?" Alibaba tersenyum ramah.
"Kenapa?"
"Eh?"
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Judal, memilin-milin ujung jalinan rambutnya. "Aku nggak pernah baik padamu. Kenapa kau begitu baik. Ada maunya?"
"Tidak." Alibaba tertawa. "Anggap saja balas budi atas catatan itu. Kalau kau tidak keberatan, kau bisa pakai bajuku malam ini."
Judal mengangkut air panas itu kedalam kamar mandi, lalu mandi. Alibaba tidak hanya menghidangkan teh untuk Judal. Ia mengeluarkan sekaleng tuna dengan rasa kuah tomat. Ia masih memiliki nasi di rice cooker, masih hangat, layak makan. Alibaba membongkar kulkasnya, menambahkan potongan bawang bombay, wortel dan seledri kedalam ikan tuna kalengan yang tengah dihangatkannya di dalam panci. Lalu cowok itu cuci tangan, dan mengambilkan Judal sehelai kaos putih polos dan celana pendek.
"Maaf kalo jelek." Katanya ketus.
"Hmh." Judal kembali ke kamar mandi, lalu mengenakkan pakaian tersebut. Saat ia keluar lagi, Alibaba melihat rambut Judal yang tergerai. Hitam. Dan sangat panjang.
"Rambutmu panjang sekali." Gumamnya.
"Aku tidak pernah memotongnya." Judal mengeringkan rambutnya. "Keren, kan?"
"Apa tidak sulit merawatnya?" Alibaba memberikan Judal segelas teh hangat. "Aku sudah masak. Yah, cuma tuna kaleng dikasih sayur, sih."
"Hmh." Judal meminum tehnya. "Maaf."
"Kok maaf? Harusnya makasih, kan? Yuk, makan denganku. Kalau kau tidak keberatan, sih."
Alibaba mengambilkan Judal sepiring nasi, dan lauknya dengan jumlah agak banyak. Judal tidak banyak bicara. Dia menyendokkan makanannya ragu-ragu, lalu mengunyah dan menelannya susah payah.
"Rasanya aneh." Katanya.
"Eh? Nggak enak, ya? Apa sudah kadaluarsa?" Alibaba kelihatan limbung.
"Tidak." Judal makan lagi. "Aku juga biasa makan tuna kaleng. Ini lebih enak, dari tuna kaleng yang kumakan dirumah."
"Oh...syukurlah." Alibaba mendesah lega. "Yah, gitu deh. Makan yang banyak, ya!"
Setelah makan sampai kenyang, mereka berdua duduk, nonton acara talkshow nggak jelas di TV yang didapat Alibaba di toko loak. Judal menyisir rambutnya dengan jari, sedikit merutuk karena ponselnya mati. Alibaba mengambil sebuah sisir kayu dari kaca rias dekat kamarnya, lalu mengacungkannya didepan Judal.
"Ini."
Judal hanya menatapnya. "Sisir rambutku."
"Lakukanlah." Alibaba menaruh sisir tersebut di pangkuan Judal.
"Maksudku," ia kelihatan agak jengkel. "Sisi rambutku."
"Oh, maaf. Oke, oke."
Alibaba menyisir rambut Judal yang sangat tebal dan panjang, namun halus bak kain sutra kualitas tinggi. Entah kenapa, Judal bersikap sangat baik hari ini. Padahal di sekolah, ia senang sekali mengatai Alibaba dengan sebutan 'monyet', 'Baritone' atau apalah. Apakah ia ingin menghasut Alibaba masalah Opera? Tidak juga, mungkin. Alibaba saja tidak mengerti apa itu Opera. Atau dia mau mendoktrinnya? Untuk apa? Judal memang kelihatan tidak suka dengannya. Apalagi semenjak Alibaba dekat dengan Aladdin.
"Hey, um..." Judal menoleh. "Nama. Aku lupa namamu."
Alibaba mengerenyit. "Alibaba Saluja. Tolong, setelah ini jangan panggil aku dengan sebutan-sebutan yang biasa kau pakai. Itu menyebalkan."
"Alibaba,"
"Apa?"
"Apa...apa aku boleh kesini lagi?"
"Silakan. Kalau kau memang merasa nyaman disini."
Saat Judal selesai menjalin rambutnya, ia bermaksud ingin pulang. Namun ketika membuka pintu, hujan yang lebih deras menerpa. Cowok berambut hitam itu mendengus, membanting pintu reyot rumah Alibaba keras-keras karena jengkel. Judal kembali menghempaskan tubuhnya di sofa tua didepan TV. Namun sang tuan rumah hanya mengambil selimut tambahan.
"Sepertinya kau harus menginap, Judal." Alibaba tersenyum. "Kau tidur diranjangku saja. Aku akan tidur di sofa nanti."
Judal tidak menjawab. Alibaba mengantarkannya ke kamar saat Judal bilang sudah ngantuk. Ia diberi selimut usang yang sangat hangat dan tebal. Namun saat cowok pirang itu hendak pergi keluar, Judal menahan tangannya.
"Tidur." Katanya.
"Iya, Judal. Selamat tidur." Kata Alibaba kagok.
"Bukan." Judal tidak melepaskan tangannya dari tangan Alibaba. "Tidur disini saja, Alibaba. Bersamaku."
.
.
.
.
.
.
.
"Permisi!"
Aladdin ditemani supir-babystitter-bodyguard-dan-butlernya, Ugo-kun mengunjungi apartemen Jafar. Anak kecil berambut biru itu mulai akrab dengan Jafar sekitar musim panas lalu, sebagai sesama kaum jetset dan pecinta liburan gila-gilaan. Ugo-kun menunggu di dalam mobil. Aladdin membawa setengah kilogram buah delima, favorit Jafar. Setelah lima belas menit menunggu dan mengetuk sebanyak 20 kali lebih, akhirnya pintu apartemen Jafar terbuka. Namun yang keluar adalah Sinbad.
"Aladdin?" tampaknya Sinbad sedikit terperangah. Ia melicinkan lengan jasnya yang agak kusut.
"Aku cari Jafar-san. Ada?" tanyanya polos.
"Di dalam." Katanya. Sinbad mengusap rambut Aladdin dan pergi.
Aladdin memasuki apartemen Jafar yang sangat besar, namun dengan perabotan yang sedikit dan efisien. Desainnya futuristik, namun untuk corak banyak menggunakan budaya timur tengah. Jafar sendiri Aladdin temukan sedang tengkurap di ranjangnya, hanya terbalut selimut. Pakaiannya bertebaran di lantai. Melihat keadaan Jafar, kasurnya yang berantakan dan keberadaan Sinbad tadi, Aladdin paham apa yang sebelumnya mereka berdua lakukan. Aladdin memang masih 12 tahun, namun ia cukup cerdas untuk mengerti masalah orang dewasa.
"Hey, engeltje." Sapa Jafar, menyuruh Aladdin mendekat. "Bawa apa hari ini?"
"Delima." Aladdin menujukkan buah merah itu. "Apa bahasa Belandanya delima, Jafar-san?"
Jafar berpikir sebentar. "Granaatapel."
"Jafar-san mau buat apa dari granaatapel ini?"
Jafar menggeleng. Ia memejamkan matanya, membenamkan wajahnya diatas bantal besar.
"Jafar-san?" panggil Aladdin.
"Het voeltte goedtotdat ikkan niet bewegen..." Erangnya. "Tunggu di dapur atau ruang tengah dulu. Aku mau mandi."
Aladdin patuh. Ia menaruh delima yang dibelinya di counter dapur, dan dia sibuk mengunyah biskuit di toples terdekat. Jafar lebih fasih berbahasa Belanda ketimbang Perancis, bahasa kedua di Lawrence School of Music dan bahasa pergaulan para coach disana. Jafar besar di Rotterdam, hingga saat kedua orangtuanya tewas dan seluruh harta mereka jatuh ketangannya. Dari ceritanya, coach Yunan dan Jafar masih memiliki hubungan kerabat. Dan dengan kepala sekolah, bisa dibilang backstreet.
"Aladdin mau kue apa hari ini?" Jafar keluar kamarnya, mengenakkan sweater merah dan jeans panjang. Ia mengeringkan rambut putihnya dengan pengering rambut.
"Nggak kue lagi. Aku bosen."
"Mm? Bukankah kau paling suka kue buatanku?"
"Nggak mau." Aladdin kelihatan sedikit ketakutan. "Aku diantara Ugo-kun kemarin ke dokter gigi."
"Lalu? Dokter itu memagar gigimu?" Jafar tertawa mengejek.
Aladdin menggeleng. "Dua gigiku ditambal, dua lagi dicabuuuut."
"Iya, iya." Jafar mengelur rambut Aladdin.
Bagi Jafar sendiri, kehadiran Aladdin sangat menyenangkan. Ia seperti adik kecil yang manis, cerdas dan sedikit nakal, namun sekaligus bisa menjadi sahabat yang bisa diajak berdiskusi. Berbeda dengan Judal yang kekanakan dan temperamental, Aladdin lebih dewasa dalam hal apapun, sehingga Jafar juga lebih nyaman meski konteks pembicaraan mereka cenderung dewasa. Jafar mengambil satu buah fennel, daging sapi, apel, kubis ungu, selada, bawang bombay, bawang putih dan banyak botol yang salah satunya adalah madu. Aladdin ikut membantu, memotong sayur, menuang madu, membuat dapur Jafar seperti kejatuhan bom nuklir. Hanya dengan waktu 45 menit, sepiring steak dengan salad dan saus merah terhidang.
"Yeeeey!" pekik Aladdin senang. "Apa namanya?"
"Mm...mmm...Vampire Steak?"
"Uuuuu..." Aladdin tertawa. Lalu ia mulai makan.
Jafar tidak selahap Aladdin saat makan. Ia mencuil-cuil dagingnya dengan tidak selera. Banyak sekali yang dia pikirkan sejak dua malam yang lalu. Dan dua malam yang lalu, Sinbad hadir di apartemennya dan membantunya melepas penat. Meski statusnya adalah siswa di Lawrence School of Music, usianya yang telah matang menyebabkannya harus bertanggung jawab atas seluruh apa yang ditinggalkan almarhum orangtuanya, termasuk hutang perusahaan mendiang ayahnya yang senilai 800.000 pound.
"Jafar-san?"
"Hm?"
"Mm..." Aladdin meremas kain celananya. "Cinta itu apa?"
"Hah?" Jafar nyaris saja tersedak sepotong daging yang dikunyahnya.
"Cinta," ulang Aladdin. "Cinta itu apa?"
Jafar dengan penuh kesabaran menjelaskan kepada Aladdin bahwa cinta adalah perasaan menyayangi satu sama lain antar sesama makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Namun kelihatannya bocah berkepang itu masih belum mengerti. Ia mengeluarkan kamera SLR-nya dari dalam tas, menaruhnya begitu saja diantara dirinya dan Jafar. Cowok berambut putih itu tidak melakukan apa-apa. Sepertinya Aladdin ingin menyampaikan sesuatu yang lebih dari apa yang dia katakan tadi.
"Ada satu orang, yang membuatku tertarik. Akhir-akhir ini aku mengikutinya terus. Tetapi dia sepertinya tidak menyukaiku. Jadi, aku memotretnya saja dari kejauhan.
"Benarkah?" Jafar terperanjat. "Aladdin sudah menyukai seseorang?"
Aladdin menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Aku tidak sekedar menyukainya. Kalau apa yang dikatakan Jafar-san itu cinta, berarti aku tidak tahu apa yang kurasakan."
"Apa maksudmu?" jemari lentik Jafar mengusap kening Aladdin, berusaha menghapus keresahannya.
"Entahlah. Dia benar-benar berharga bagiku, sampai rasanya aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia juga sangat mempesona, sehingga aku bisa gila jika dia tidak jadi milikku. Apakah itu juga bisa disebut cinta?"
"Kau berlebihan, Aladdin." Jafar tertawa hambar.
Namun wajah Aladdin tidak terlihat bercanda. Ragu-ragu, Jafar menyalakan kamera SLR tersebut, melihat koleksi foto didalamnya. Sekitar 1540 foto yang ada disana hanya menunjukkan satu wajah, dengan banyak ekspresi yang terabadikan dengan baik. Jafar tertegun, ia terus melihat foto-foto itu hingga akhir, lalu menatap Aladdin dengan pandangan tidak percaya. Anak itu menyerahkan smartphone yang dipakainya, dan terpampanglah wallpapernya. Wajah itu lagi. Nafas Jafar tertahan, matanya berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Aladdin dengan penuh sayang.
"Kau tidak mencintainya," bisik Jafar. "Kau memujanya, Aladdin."
"Memuja?" Aladdin bertanya polos. "Benarkah?"
Jafar membelai rambutnya. "Dia tahu?"
Aladdin menggeleng. "Aku malu mau bilang. Lagipula...aku dan dia kan..."
Jafar membekap mulut Aladdin lembut. "Itu tidak penting, Aladdin. Kau harus segera katakan apa yang kau rasakan padanya."
"Sudah kubilang, aku malu!" wajah Aladdin bersemu.
Jafar tersenyum pahit. "Kalau begitu, kau harus berusaha melupakan Alibaba Saluja, Aladdin."
Aladdin menepis tangan Jafar. "Tidak bisa."
"Aladdin,"
Jafar mengusap wajah Aladdin, meyakinkan padanya bahwa pemujaan jika dibawa ke titik ekstrem akan membawa dampak buruk baginya dan bagi Alibaba. Namun Aladdin bersikeras, ia menginginkan Alibaba.
Aku ingin dia jadi milikku!
Aku ingin dia jadi milikku!
Aku ingin dia jadi milikku!
Aku ingin dia jadi milikku!
Aku ingin dia jadi milikku!
Aladdin terus mengucapkan kalimat itu, hingga akhirnya kalimat itu tidak berarti lagi dan berubah jadi derai airmata yang menganak sungai di pipi bulat Aladdin. Jafar begitu miris melihatnya. Ia memeluk anak itu lagi, berusaha menenangkan batinnya. Anak sekecil Aladdin sudah memuja seseorang hingga sebegitunya? Dia sendiri yang paling tahu seberapa berbahayanya cinta yang berakhir dengan pemujaan berlebihan seperti yang dilakukannya.
"Aladdin," kata Jafar lagi. "Pilihanmu hanya dua,"
Aladdin masih menatapnya.
"Ungkapkan," kata Jafar. "Atau lupakan."
Keduanya terdiam. Rasanya hal-hal seperti itu tidak pernah ada di dalam kepala Aladdin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N:
Engeltje: arti harfiahnya mirip 'little angle'.
Granaataple: delima
het voeltte goedtotdat ikkan niet bewegen: rasanya benar-benar nikmat sampai aku tak bisa bergerak
Sindrom Kallman: Penyakit genetik yang menyebabkan kegagalan pada seseorang saat pubertas. Gejalanya adalah jika seseorang (cewek/cowok, kebanyakan cowok) tidak mengalami pubertas saat umurnya mencapai 15 tahun. Orang yang mengalami Sindrom Kallman tidak dapat memproduksi hormon reproduksi, yang dapat berpengaruh besar pada perubahan seksual secara primer maupun sekunder, gangguan kesuburan, indera penciuman, sinkinesis (Gerakan spontan otot atau anggota badan yang menyertai suatu gerakan sadar), dan mengalami osteoporosis (pengeroposan tulang) lebih cepat dan lebih destruktif dibanding orang normal. Penyakit ini dapat diturunkan sebagai gen resesif. Sindrom Kallman dapat disembuhkan dengan terapi hormon dan terapi kesuburan. Terapi hormon, jika rutin dijalankan akan membawa dampak kesembuhan, penderita akan mengalami pubertas.
Fuaaaaaaaaaaaah sesuai janji aku apdet kilat.
Kayaknya di chapter ini Jafar sama Judal lebih ditonjolkan, ya?
Hayoooooo Judal sama Alibaba bakal jadian lhoooo #spoiler #gossipDoang #KomporLu
Sekian dari saya. Lanjut nulis bab 4 #kabur
