Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
V: Imprudent
"Anyone who has lost something they thought was theirs forever finally comes to realise that nothing really belongs to them."
-Paulo Coelho-
.
.
.
.
.
.
Malam ini, Alibaba pulang jauh lebih larut dari biasanya, bahkan ini nyaris subuh. Setelah bekerja di tempat reparasi hingga jam 4 sore, ia langsung menuju apartemen Jafar yang memang tidak terlalu jauh dari daerah sana untuk menggarap naskah Opera. Kreativitasnya tertuang dengan sangat deras bak hujan tadi petang dan berhasil tertata apik menjadi sebuah naskah yang detail. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mengistirahatkan otaknya. Tadinya Jafar menawarinya menginap, namun Alibaba lebih nyaman istirahat dirumahnya sendiri. Alhasil, pria yang memiliki freckles disekitar hidungnya itu mengantarnya pulang dengan mobil, sehingga Alibaba bisa tidur sebentar. Senin nanti, rencananya ia akan menggelar audisi. Masalah itu, Jafar akan men-take over tiga perempatnya.
Saat sampai dirumah, Alibaba mendapati sebuah motor sport buatan Italia yang dikunci stang, dan menutupi nyaris seluruh badan jalanan gang. Lalu ketika ia memasuki rumahnya, Alibaba sadar ada yang menjebol (atau mencongkel) pintu rumahnya lalu masuk kedalam, karena dari luar terdengar suara TV. Dan waktu membuka pintu, ia melihat sosok Judal Al-Sarmen yang tengah berbaring di sofa, menonton TV dengan pandangan suntuk. Ia mengenakkan jeans dan kaos kesebelasan Chelsea. Di lengan sofa terlipat sehelai jaket kulit berwarna cokelat tembaga.
"Selamat datang." Ujar Judal santai.
"Eh? Aku pulang." Balas Alibaba agak kikuk. "Maaf, aku sedang sibuk."
"Tidak peduli. Kau sendiri yang bilang aku boleh anggap ini adalah rumahku sendiri."
"Iya, sih. Tapi..." Alibaba mendengus lelah. "Ya sudah. Terserah kau saja. Kau sudah makan, Judal?"
"Aku bawa oleh-oleh, untukmu. Kumasukkan kulkas."
"Terima kasih, Judal." Alibaba tersenyum manis.
"Kembali kasih." Balas cowok berambut hitam itu datar.
Setelah bersih diri, Alibaba membongkar oleh-oleh yang dibawakan Judal. Isinya banyak sekali. Ada susu, apple turnover, echilada sapi dengan saus keju, sandwich, nasi belut, Kitkat dan masih banyak lagi. Alibaba tidak berselera makan. Ia duduk di kursi yang terpisah dengan Judal, lalu hanya makan Kitkat. Alibaba kembali membuka naskah yang sudah dalam bentuk printed-out, dan memikirkan ide-ide lain untuk menyemarakkan Opera tahun ini.
"Ini kan malam libur. Kau tidak jalan-jalan?" ucap Alibaba.
"Ini bisa dihitung jalan-jalan." Jawabnya enteng.
"Maksudku, kau tidak punya urusan lain?"
Mata Judal berkilat. "Kau mengusirku?! Oke, aku pergi!" geramnya, lalu berdiri dan menyambar jaket kulitnya.
"Bukan begitu," Alibaba refleks menyambar lengan Judal. "Kalau kau memang tidak ada pekerjaan lain, ya sudah. Tinggallah. Aku hanya tanya."
"Hmh!"
Judal kembali merebahkan dirinya di sofa. Kini ia menyumpal telinganya dengan earphone, lalu main game dari Ipod touch-nya. Alibaba sendiri masih bingung, bagaimana menghilangkan image Opera (yang digelar di Lawrence) yang sudah lama tertanam di kepala anak-anak Lawrence. Jafar bercerita bahwa dari dulu, Opera hanyalah ajang para coach menjadi korban keegoisan idealisme seni Scheherazade yang aneh. Terlebih lagi, para orangtua murid juga turut menyaksikan. Putus asa, Alibaba menoleh kearah Judal.
"Judal?"
Tidak ada jawaban. Pandangannya yang kosong terpaku pada layar Ipod touch miliknya.
"Judal!"
"Sekali saja cukup!" Judal menimpuk Alibaba dengan bantal sofa. "Aku dengar, kok."
"Kalau begitu, jawablah panggilanku. Kupikir kau tidak dengar."
"Apa?" balasnya apatis.
"Aku berpikir, aku akan butuh bantuanmu dalam dekorasi panggung untuk Opera. Aku nggak begitu mengerti tentang begitu-begituan. Kalau kau tidak keberatan, sih. Soalnya, menurutku sense of art-mu bagus."
"Desain?!" Judal mendadak bangun, kelihatan overexcited. "Baiklah! Masalah itu sepele banget buatku! Mana naskahnya?! Aku butuh kopiannya secepat mungkin!"
"Whoa, whoaaaa..." Alibaba mengurut dada. "Tenanglah. Naskahnya akan kuberikan hari senin nanti. Jadi, saat audisi besok, kau harus datang, ya! Karena, Kepala Komite ingin semua anak dari kelas Countertenor berpartisipasi."
"Huh." Semangat Judal melorot. "Senin, aku pergi. Aku ikut sebuah kompetisi desain grafis."
"Tapi, kan..." Alibaba membantah. "Oh, tolonglah. Kapan kau akan pergi?"
"Senin pagi. Sampai jam berapa aku tak tahu."
Alibaba mendengus frustasi. Sementara Judal tidak terlihat bersalah. Cowok pirang itu mengusap-ngusap wajahnya untuk menghilangkan tegang syaraf alias stress gila-gilaan yang tengah dilandanya. Namun, pandangannya menangkap sebuah gitar miliknya di sudut kamar, sedikit tersebunyi oleh pintu yang setengah tertutup.
"Kalau kau kuaudisi sekarang bagaimana? Jadi, kau tidak perlu ikut audisi lagi. Setuju?" Usul Alibaba.
"Aku nggak mood nyanyi." Balas Judal apatis. Ia menggoyang-goyangkan Ipod touch-nya.
"Tolonglaaaaah!" Alibaba menangkupkan kedua tangannya didepan wajah, dan menunduk—memohon-mohon pada cowok berambut hitam yang hobi main game itu. "Sekali ini saja."
"Nggak mau." Balasnya pendek.
"Please..."
"Sekali nggak ya nggak!" Judal yang mulai emosi cemberut, menggembungkan pipinya.
"Ya sudah," Alibaba berbalik. "Besok-besok kau tidak kuizinkan lagi kesini!"
"AAAAARGGGH!" Judal berteriak frustasi. "Oke, oke!"
Alibaba menyeringai menang. Ia mengambil gitarnya, dan menyetemnya. Judal bersila diatas sofa, dan setelah setemannya terasa pas, Alibaba duduk disebelah Judal. Cowok itu masih cemberut bahkan saat Alibaba menggenjreng gitarnya, memainkan intro salah satu lagu Secondhand Serenade.
"Nyanyi!" ketusnya pada Judal.
"Aku nggak suka lagu itu." Balas Judal tidak kalah jutek.
"Kau punya mulut, kan? Katakan saja kau mau lagu apa."
"Kau juga punya mulut. Kenapa tidak tanya?!"
Alibaba melenguh kesal, ia mengalah. "Oke, Judal. Kau mau lagu apa?"
"Ini."
Judal meminjamkan IPod-nya, menyetel lagu yang ingin dia nyanyikan. Alibaba mendengarkan lagunya dengan seksama, sesekali menggenjreng gitarnya ketika menemukan chord yang dia kenal. Pada reff kedua, permainannya lancar. Lalu Alibaba mendengarkan lagu itu satu kali lagi.
"Siap?" tanya Alibaba. Ia berancang-ancang memainkan intro.
"Bring it on." Kata Judal tidak semangat.
Alibaba mulai memaikan intro. Judal tidak fokus pada suara gitarnya. Ia fokus pada sang gitaris. Entah kenapa, matanya tak mau memalingkan pandangan kearah lain.
Just about the time the shadows call
I undress my mind and dare you to follow
Paint a portrait of my mystery
Only close my eyes and you are here with me
A nameless face to think I see
To sit and watch the waves with me till they're gone
A heart I'd swear I'd recognize is made out of
My own devices...
Could I be wrong?
Alibaba mendengarkan suara Judal dengan seksama. Suaranya sangat feminim dan halus, dan ia yakin bisa jauh lebih powerfull dari sekarang. Namun ia ingin menikmati waktu, mempelajari baik-baik sejauh mana potensi suara Judal. Tanpa sadar iapun ikut bernyanyi.
The time that I've taken
I pray is not wasted
Have I already tasted my piece of one sweet love?
Sleepless nights you creep inside of me
Paint your shadows on the breath that we share
You take more than just my sanity
You take my reason not to care.
"No ordinary wings I'll need.
The sky itself will carry me back to you.
The things I dream that I can do I'll open up the moon for you.
Just come down soon..."
Judal lost consentration saat mendengar suara Baritone Alibaba.
Suaranya memang pasaran, namun ekspresinya saat bernyanyi, mengucapkan kata-kata pada tiap lirik membuat lagu itu seakan-akan hidup diantara mereka berdua. Seakan-akan Sara Bareilles menciptakan lagu itu khusus untuk Alibaba dan Judal. Kenapa ia bisa kelihatan se-charming ini saat tengah bermain gitar? Judal sadar kini ia tidak sekedar melihat sosok Alibaba secara detail. Tetapi kini otaknya tengah mencetak sosok itu di hatinya tanpa ia kehendaki.
Matanya yang bulat dan menyiratkan kejujuran.
Kontur wajahnya yang ceria dan kekanakan.
Garis-garis senyumnya yang menghangatkan jiwa...
"But I'd settle for an honest mistake in the name of one sweet love."
Mata Judal melebar. Ia merasa wajahnya sangat panas. Mungkin Alibaba Saluja yang ditatapnya sekarang memang tengah marah-marah sendiri karena kesal, dan menyambar susu yang dibelikannya di kulkas. Dada Judal bergemuruh. Kepalanya kosong, dan tubuhnya kaku, lidahnya kelu.
Saat Alibaba kembali menatapnya dengan pandangan bingung, nafasnya tercekat.
"Judal? Kau baik-baik saja?"
Jatuh cinta ternyata bisa terasa seperti selangkah lebih dekat dengan kematian.
.
.
.
.
.
.
"Budapest?!"
Kepala Sekolah Sinbad berteriak satu oktaf lebih tinggi. Di Lawrence, ternyata ada dua orang gila yang menempati kursi Komite Sekolah. Yang satu seorang tirani Opera dengan selera seni egois yang rumit dan tidak bisa dibantah (baca: Coach Scheherazade), yang satu adalah pria dengan jas kebesaran dan rambut pirang panjang dijalin yang-hobi-sekali-membicarakan-hal-gila-sambil-minum-teh-dengan-santainya (baca: Coach Yunan).
"Iya. Kita dapat undangan untuk mengadakan studi banding ke Franz Liszt Academy of Music di Budapest dan Five Towns College. Menurutku, sepertinya lebih menyenangkan ke Budapest dan New York."
"Itu sekolahnya Sharrkan dulu, kan?" tanya Sinbad, sedikit mengingat-ingat. "Five Towns College?"
"Iya. Justru karena ternyata aku menaungi alumninya, mereka menyetujui adanya program studi banding."
"Kalau Franz Liszt?" tanya Sinbad. "Setahuku kita tidak punya channel sejauh itu."
"Itu, Scheherazade..." Jawab Yunan, meneguk tehnya yang tawar dan harum. "Untuk anak-anak instrumental, pergi ke sana. Gwendolyn Masin adalah viollinist yang dihubunginya saat menonton pertunjukannya di Italia."
"Kurasa," kata Kepala Sekolah. "Lebih baik kita mengunjungi FTC (Five Towns College) saja. Pengurusan ke Budapest terkenal sulit, lho."
"Tetapi..." coach Yunan menggumam. "Aku menolak yang dari FTC. Sebagai gantinya, Scheherazade akan mengajak 50 siswa terbaik dari kelas Instrumental. Berdasarkan peringkat dan potensi mereka."
"Syukurlaaaah..." Sinbad melenguh lega. Setidaknya dia tidak harus mengorbankan uang operasional sekolah untuk mengurus keberangkatan 1700 siswa dan 40 orang guru ke Budapest. "Lalu, apa lagi ide gilamu?"
"Hanya mengadakan jamuan besar setelah Opera." Kata coach Yunan. "Kreativitas Monsieur Saluja jauh lebih berharga daripada tawaran studi banding dua bulan disana."
"Kau kelihatan antusias sekali dengan anak itu." Sinbad tertawa.
"Yah, dia mengingatkan aku pada Sharrkan waktu muda dulu. Cuma, dulu dia berkulit gelap dan ingusan."
"Tukang tidur, tukang lawak nggak jelas. Benar juga."
Coach Yunan menatap Sinbad. Kepala sekolah berusia akhir dua puluhan itu tidak kelihatan seperti biasa. Pria pirang dengan jas kebesaran itu hanya menghirup tehnya, lalu berkata dengan sangat gamblang.
"Ada masalah dengan Jafar, ya?"
Sinbad tercenggang. "Ah? Itu..."
"Aku sudah tahu. Kalau Jafar sedang badmood, biasanya dia bisa membuat semua orang terkena tekanan batin." Coach Yunan mengisi kembali gelasnya yang sudah kosong.
"Aku tidak tahu salah apa. Kemarintiba-tiba ia menghapus kontak BBM-ku, dan tidak menjawab saat aku menghubunginya dengan cara apapun. Aku ke apartemennya, dan dia tidak kelihatan ada didalam. "
"Apa sekarang dia masuk?" tanya Yunan.
"Tidak. Dia membolos."
Sang Kepala Komite menatap kalender meja di sudut kiri mejanya. Ia menggumam dan mengangguk, meraih ponselnya dan mengirimkan Blackberry Mesengger kepada seseorang dengan senyum teka-teki yang menjadi ciri khasnya, namun sinar matanya meredup, seakan memancarkan duka cita.
"Sekarang tanggal 21 Januari. Wajar saja dia tidak menginginkan kehadiranmu."
"Apa maksud Anda, coach?" tanya Sinbad bingung.
"Hari ini," Yunan beranjak. "Adalah hari peringatan 10 tahun kematian orangtuanya, sekaligus hari pertamanya dia bersekolah di Fakultas Kedokteran di Universitas Erasmus."
.
.
.
.
.
.
[FLASHBACK]
Jafar mencabut seatbelt dengan tidak sabar. Mungkin tidak ada yang diantar kedua orangtuanya saat mendaftar di universitas. Namun Jafar sangat bangga, kedua orangtuanya sangat antusias mengantarnya mendaftar ulang di Erasmus University, universitas nomor satu di Belanda, yang menjadi kebanggan kota Rotterdam.
"Dit is geweldig!" seru ayah Jafar. "Mijn zoon is leerling van de beste universiteit in Nederland!"
"Itu berlebihan, yah." Tukas Jafar agak malu.
"Tetapi kami sangat bangga padamu." Sambung sang Ibu. "Anakku akan jadi dokter di usia muda. Itu sesuatu yang patut dibanggakan sebagai orangtua, Jafar."
Jafar menyeringai senang. "Mobil baru."
"Oke. Jika hanya Ford Focus tidak masalah." Ayah Jafar tersenyum mengejek.
"Mana janjinya? Ik wil de auto die ik je vertelde een paar weken geleden!" Jafar memanyunkan bibirnya sambil melipat lengan didepan dada.
"Goed, wat is de naam?" Ayahnya tertawa puas.
"Audi R8 tahun 2007." Balas Jafar setengah dongkol.
"We zullenhet rondhalf maart, dear." Kata ibunya. "Mobil itu keren, lho. Tapi tidak untuk pamer kepada gadis-gadis, ya!"
"Tidak akan, ik beloof." Jafar menyilangkan kedua jarinya.
Ibu Jafar mengambil sebuah kamera saku dari tasnya, lalu menyuruh seorang mahasiswa memotret mereka bertiga dengan latar belakang Erasmus College. Setelah proses verifikasi selesai, Jafar dan kedua orangtuanya berjalan pulang. Karena ini adalah hari istimewa baginya, Jafar diperbolehkan menyetir. Rencananya, mereka akan makan di sebuah restoran Perancis tradisional yang sudah jadi langganan mereka semenjak Jafar masih sangat kecil.
Sambil menyetir, Jafar bernyanyi-nyanyi kecil. Ia menyukai lagu-lagu, melebihi rasa sukanya dengan daging domba dan buah pear. Waktu dia SMP, ia mengikuti paduan suara untuk wisuda kakak kelasnya. Lagu itulah yang membuatnya terkenal, memiliki suara sopran yang aneh, namun tak bisa ditandingi siapapun dalam hal keindahan dan kualitas.
Should auld acquaintance be forgot,
and never brought to mind ?
Should auld acquaintance be forgot,
and auld lang syne?
For auld lang syne, my dear,
for auld lang syne,
we'll take a cup of kindness yet,
for auld lang syne.
"Lagu itu lagi." Gerutu ibunya. "Apakah suaramu yang bagus itu tidak bisa menyanyikan lagu lain?"
"Tidak mau." Jafar membalas ketus. "Selera musik ibu norak."
"Apa salahnya? Ibu mau kau menyanyikan lagu Hey Jude-nya The Beatles. Kau bilang itu lagu yang bagus, kan?"
"Atau Santa Lucia?" Timpal ayahnya. "Kau menguasai lagu itu. Ayah suka sekali mendengarmu menyanyikan Santa Lucia."
Jafar acuh. Ia bahkan terkesan masa bodoh. Ia lanjutkan menyanyi Auld Lang Syne, sambil menyetir. Ia menjadi sedikit terlena dengan suaranya sendiri.
We two have run about the slopes,
and picked the daisies fine
But we've wandered many a weary foot,
since auld lang syne
For auld lang syne, my dear,
for auld lang syne,
we'll take a cup of kindness yet,
for auld lang syne
For auld lang syne, my dear,
for auld lang syne,
we'll take a cup of kindness yet,
for auld lang syne
.
.
Kejadian selanjutnya sangat cepat.
.
.
.
Atau itu bisa dibilang keajaiban.
.
.
.
Jafar membuka matanya. Kepalanya sangat sakit seakan-akan otaknya dicabut begitu saja. Pandangannya agak kabur, dan ia merasa sebelah tubuhnya mati rasa. Mata kanannya masih kabur. Ia terbaring di pinggir jalan, setengah tubuhnya tersuruk ke selokan. Ia melihat banyak sekali keributan. Orang-orang membentangkan kain putih menutupi tubuh ayah dan ibunya, lalu memanggulnya menuju sebuah mobil boks. Seorang petugas medis menghampirinya, lalu memanggil orang-orang lain untuk menggotongnya. Jafar diberikan transfusi darah, dan masker oksigen. Ia ditandu menuju sebuah mobil. Lalu ia masuk kedalam sebuah lorong, dan lama-lama semuanya menjadi gelap.
.
.
.
"Jafar?"
Seorang pria dengan jas kebesaran membawakan sekeranjang buah pear favoritnya. Pria itu memiliki rambut pirang panjang yang dikepang kesamping. Jafar ingat nama pria itu. Yunan. Ia tidak tahu nama belakangnya. Pria itu berdarah Perancis, namun lahir dan besar di Shanghai. Pria itu membuka sekolah musik. Pria itu kakak tiri ibunya.
"Aku..." Katanya. "Maafkan aku."
Jafar sudah tahu segalanya.
Ia mengalami kecelakaan mobil yang mengerikan. Kedua orangtuanya tewas ditempat. Jenazah mereka sudah ditebus oleh keluarga terdekat, dan dimakamkan di pemakaman umum di Rotterdam. Seorang notaris akan menemui Jafar perihal harta warisan saat anak berusia 15 tahun itu sudah sembuh total.
"Setelah ini, aku ingin kau melupakan masa lalumu. Setelah kuliahmu di Erasmus selesai, kau mau mengasah bakat menyanyimu?"
Menyanyi?
Lidah Jafar kelu. Ia menunduk, meremas selimut dengan air mata dan sedu sedan lirih yang nyaris tidak pernah ditunjukannya pada siapapun.
Karena ia tidak pernah sesedih ini.
.
.
.
.
.
.
Dingin,
Jafar duduk di lantai apartemennya, di depan sebuah jendela besar yang terhubung dengan balkon. Apartemennya terletak di lantai lima, dan angin kencang dikabarkan berhembus hingga siang, dan akan turun hujan menjelang malam. Jafar hanya mengenakkan kaus abu-abu dan celana piyama, telanjang kaki. Ini sudah hampir jam lima sore. Perutnya belum ia isi apapun. Rasanya nafsu makannya sudah lama sekali hilang. Ia memangku sebuah jas coklat dengan motif garis-garis yang bagian pangkal lengannya ditambal dan ujung kerahnya agak koyak, sebuah kalung perak dengan bandul berbentuk kincir angin dengan sepuhan mutiara dan bertahtakan berlian-berlian kecil di baling-balingnya. Dan sebuah pigura yang seharusnya tidak ia peluk sekarang.
Foto dirinya, dan kedua orangtuanya di depan Universitas Erasmus sepuluh tahun yang lalu.
21 Januari adalah hari yang benar-benar ingin Jafar lenyapkan kalau dia sanggup.
"Permisi..."
Jafar mendengar suara langkah kaki. Dan ia tidak peduli. Ia tidak bergeming dari tempatnya duduk sambil menatap pemandangan dari luar apartemennya yang kini dihiasi hujan. Sebuah buket bunga yang dirangkai dari macam-macam bunga diletakkan di pangkuannya. Sinbad memeluknya dengan lembut, penuh dengan kasih sayang. Jafar terlihat sangat kurus, meskipun Sinbad bisa merasakan otot bisep dan otot perutnya mulai memadat karena terapi hormon itu. Ada jejak-jejak airmata yang sangat lengket di pipinya. Pandangannya kosong, bahkan Sinbad tak bisa melihat bayangannya di mata Jafar. Cowok dengan bintik-bintik di sekitar hidungnya itu kelihatan seperti zombie. Ponselnya, Blackberry Curve Touch 9380 dengan garskin bermotif chibi ubur-ubur berwarna ungu dengan background lautan tergeletak dibawah sofa.
"Sudah makan?" tanya Sinbad. Namun Jafar hanya menjawab dengan gelengan pelan.
"Kau ingin sesuatu dariku? Kalau sanggup kubelikan sekarang juga."
Lagi-lagi gelengan lemah.
Sinbad mendengus, ia memperpanjang batas kesabarannya. Ia menggapai buket bunga yang dibelinya, lalu memperlihatkannya pada Jafar. Ada sepuluh batang Marygold, sepuluh batang Asphodel, sepuluh batang Primrose, sepuluh batang Elegantine Rose, sepuluh batang Snowdrop dan sebuah mahkota bunga dari rangkaian bunga jasmine yang mekar.
"Aku memilih bunga-bunga ini atas rekomendasi tukangnya," Sinbad tertawa hambar. "Sebagai ungkapan belasungkawa."
Jafar masih diam, namun ia akhirnya menoleh.
"Marygold, artinya rasa sakit dan duka cita. Asphodel, penghubung orang-orang yang telah mati dengan yang masih hidup. Snowdrop, artinya pelipur lara. Elegantine Rose, cinta yang abadi. Primrose, luka yang harus terobati. Dan..."
Sinbad dengan hati-hati memakaikan Jafar rangkaian bunga melati tersebut. Mata Jafar membulat, dan ia menatap Sinbad dengan pandangan tidak percaya.
"Jasmine. Di Filipina, artinya cinta tanpa syarat."
Jafar tiba-tiba menubruk Sinbad, memeluknya erat-erat hingga mahkota bunga yang dibelikan untuknya terlepas. Bahunya naik turun, dan Sinbad merasa kemejanya mulai agak lembab. Namun dengan sikap selembut yang ia bisa, ia membereskan semua barang-barang di sekitar situ, lalu menggendong Jafar, dan menidurkannya di sofa.
"Makan, ya? Akan kubuatkan sesuatu." Katanya.
Jafar masih memeluk buket bunga itu. Ia menatap Sinbad yang kini tengah mengorek-ngorek kulkasnya dengan pandangan kosongnya, namun dalam kepala dan hati hanya Tuhan yang Mahatahu. Cowok Belanda itu cukup detail masalah hidunya. Sinbad membuatkannya Pichelsteiner dari daging domba dan bahan lain yang ada di kulkas Jafar. Setelah matang, dihidangkannya di hadapan Jafar dengan segelas air putih. Cowok itu diam saja, tidak bergerak seinchi pun untuk mengambil sendok. Sinbad dengan sabar menyendokkan makanan panas itu, lalu meniupnya, menyodorkannya di depan Jafar.
"Buka mulutmu," titahnya lembut.
Jafar menurut. Ia makan, disuapi Sinbad. Masakan Jerman itu membawa kehangatan kedalam tubuhnya, memberikan kenyamanan. Butuh waktu tiga kali lebih lama dari biasanya untuk Jafar menghabiskan makanannya. Sinbad tersenyum senang, dan menyodorkan segelas air putih.
"Kalau kau tidak ingin diganggu, jangan menghapus kontak BBM-ku secepat itu. Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku. Karena aku bisa menghampirimu secepat yang aku bisa."
Jafar tersenyum kecil.
"Kau belum mandi, ya?" Sinbad menatapnya jahil. "Makan saja disuapi. Perlu mandipun aku mandikan, Jafar?"
Jafar mendadak berdiri, lalu jalan ke kamar mandi sambil mengalungi handuk. Ia kelihatan jauh, jauh lebih ceria dari yang tadi, meskipun duka di mata dan ekspresinya masih belum surut dan ia belum mau bicara.
Jika ini sudah cukup membuat Jafar sedikit merasa senang, Sinbad rela melakukannya setiap hari.
.
.
.
.
.
.
"A-li-ba-ba-kuuuuuun~~~"
Alibaba menoleh. Ia melihat Aladdin berlari menghampirinya sambil membawa sesuatu yang sangat besar. Namun anak itu tersandung dan jatuh. Alibaba bergegas memberdirikan anak itu. Hari ini Alibaba membawa gitar kesayangannya, dan hendak berjalan kearah Audiotorium Golden Phoenix untuk mengadakan audisi Opera. Pendaftarnya hanya 400 orang.
"Aladdin? Ayo, ikut audisi."
"Opera?" tanya Aladdin. Ia mengangguk, berjalan di sebelah Alibaba.
"Sakit, tidak? Jatuhmu keras, lho, tadi!"
"Nggak apa-apa." Balas Aladdin dengan senyum malu-malu. "Oh, iya. Aku bawa ini untuk Alibaba-kun."
Aladdin memberikan apa yang dibawanya tadi kepada Alibaba. Cowok pirang itu menatap Aladdin dengan pandangan bingung.
"Ini apa?" tanya Alibaba penasaran.
"Kado." Balas Aladdin singkat. Ada semburat pink di wajahnya.
"Kado? Ulangtahunku kan masih lama." Alibaba tertawa.
Aladdin menggeleng. "Anggap saja kado biasa. Aku suka kasih kado untuk teman-temanku."
"Oh, begitu." Alibaba membelai rambut Aladdin dengan lembut. "Aladdin baik banget, ya. Aku jadi terharu."
Alibaba terus saja berjalan, sementara Aladdin terhenti untuk menyadari bahwa cowok yang selama ini dia puja membelai rambutnya. Aladdin hanya menatap punggung Alibaba yang lebar dan berselempangkan gitar yang terbungkus case-nya. Ia ingin mengatakan sesuatu, mengatakan hal yang selama ini sudah menggemuruh didalam dadanya, memberontak ingin keluar. Aladdin meremas kain celananya, lalu menunduk. Ia gugup. Sangat gugup saat berada didekat Alibaba.
"A...Alibaba-kun!" panggilnya dengan suara nyaring.
Alibaba berhenti. Ia menoleh dan tersenyum manis. "Ada apa?"
DEG!
"Ungh...itu...anu..." Aladdin tergugu.
"Kakimu sakit?" tanya Alibaba, mendekati Aladdin dan berjongkok agar tinggi mereka setara.
"Ungg!" Aladdin menggeleng keras-keras.
"Lalu?"
Aladdin meremas-remas tangannya, dan berkata dengan sangat gamblang,
"Tidak jadi. Nanti saja."
Alibaba mengerutkan keningnya. Ia mengangkat bahu dan berjalan terus ke Audiotorium Golden Phoenix.
Aladdin mengurut dadanya.
"Sedikit lagi...," batinnya. "Sedikit lagi..."
.
.
.
.
.
.
A/N:
-Lagu yang dinyanyiin sama Alibaba-Judal judulnya One Sweet Love, lagunya Sara Bareilles. Sweet dan soft banget itu lagu. Nggak galau. Dan emang lagi dapet banget sama feelnya mereka berdua.
*Dit is geweldig!: Ini hebat!
*Mijn zoon is leerling van de beste universiteit in Nederland!: Anak saya adalah seorang mahasiswa dari universitas terbaik di Belanda!
*Ik wil de auto die ik je vertelde een paar weken geleden: Saya ingin mobil yang saya katakan beberapa minggu yang lalu
*We zullenhet rondhalf maart, lieve: kami bisa kasih kira-kira pertengahan Maret, sayang.
*ik beloof: aku janji.
-Franz Liszt Academy of Music: salah satu sekolah musik terkenal dan termasuk yang tertua di didunia, ada di Budapest, Hungaria. Gwendolyn Masin adalah violonist terkenal alumni sekolah ini.
-Five Towns College: kampus yang berada di New York khusus jurusan Music, Business, Education, Media, and the Performing Arts. Kampusnya Adam Lewin, nih. Vokalisnya Maroon 5, lhooo! #plak
-Auld Lang Syne: adalah lagu terkenal di negara-negara berbahasa Inggris - meskipun melodinya lebih mudah diingat daripada kata-katanya, yang sering keliru dinyanyikan dan jarang sekali dinyanyikan semua baitnya. Judul lagu ini adalah dalam bahasa Skotlandia, dan dapat diterjemahkan secara harafiah sebagai 'sejak sudah lama sekali', 'dulu sekali', atau 'hari-hari yang telah berlalu'.
"Auld Lang Syne" biasanya dinyanyikan setiap tahun pada Malam Tahun Baru (Hogmanay di Skotlandia) di Britania Raya, Republik Irlandia, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan di Kanada yang berbahasa Inggris pada tengah malam dan menandai dimulainya tahun yang baru. Di Britania Raya lagu ini dimainkan pada penutupan Kongres (konferensi) tahunan dari Kongres Serikat Buruh (Trade Union Congress). Lagu ini juga dinyanyikan di banyak Burns Clubs, sebagai tandai berakhirnya makan malam Burns.
Lagu ini dinyanyikan juga sebagai lagu wisuda dan penguburan di Taiwan, yang menandai akhir atau ucapan selamat tinggal. Di Jepang, lagu ini pun digunakan untuk wisuda. Banyak toko memainkannya untuk megnantarkan pelanggan keluar pada penutupan hari perdagangan. Sebelum disusunnya Aegukga, lirik lagu kebangsaan Korea dinyanyikan dengan irama lagu ini. Di Angkatan Bersenjata India band memainkan lagu ini pada akhir parade para rekrut. (copas wikipedia)
- Blackberry Curve Touch 9380: biasa dikenal dengan nama BB orlando. BB tipe touchscreen. Belom liat aslinya. Silakan tanya mbah google #ditendang.
- Pichelsteiner:masakan Jerman. Semacem sop daging gitu.
Fuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah akhirnya apdet walaupun emang butuh waktu lama akhirnya saya bisa memuaskan keinginan readers sekalian yang ingin cerita lebih panjaaang. Spoiler lagi, Aladdin sama Judal bakalan rebutan Alibaba lhoooo #gananya. Maka dari itu untuk membuktikan spoiler ini benar tidaknya silakan review karena review anda menghentikan author yang banyak bacot dan tidak bisa bicara tanpa titik koma dan tanda baca karena kelewat semangat (?)
Yosh, sampe ketemu di bab 6 :3
