Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
VI: Second Love
"Because what's worse than knowing you want something, besides knowing you can never have it?"
-James Patterson, The Angel Experiment-
.
.
.
.
.
.
.
"Laaaaa laaaa lalalaaaaaa...laaaa laaaa lalalaaaaa..."
Bukan Alibaba namanya kalau tidak bertingkah gila sehari saja. Kali ini bahan lawakannya adalah Titus, yang sekarang cemberut saja karena kesal. Alibaba mengarangkannya lagu dengan maksud ngeledek. Hakuryuu dan Sphintus tak bisa berhenti tertawa. Semua aib Titus dibuat jadi lagu yang dikarang secara spontan dan super kreatif diiringi dengan genjrengan gitar.
"Story of Tituuuuuus, Story of Tituuusss. Story of Tituuuuuuusss~~"
"Gyahahaha! Alibaba idiooot!" Hakuryuu berguling-gulingan, tak bisa meredakan tawanya yang membahana.
"Aku punya teman namanya Tituuuus. Anak kelas Sopran jadi kapten baseball. Orangnya jutek dan pelit banget. Kadang-kadang suka sok imuuuuut..."
"Nyebelin banget, sih!" gerutu Titus.
"Kata dia dirinya yang paling ganteeeeeng~~"
Titus menyeringai bangga.
"Lebih ganteng Alibaba Salujaaaa~~"
"Amit-amit!" teriak Titus, Hakuryuu dan Sphintus bersamaan. Hakuryuu dan Sphintus benar-benar tertawa bak orang kesurupan.
"Maksa, tahu, nggak?!" cemooh Morgiana.
"Tapi aku tidak peduliiiiii. Laaaaa laaaa lalalaaaaaa...laaaa laaaa lalalaaaaa... Story of Tituuusss. Story of Tituuuuuuusss~~"
Lalu Alibaba berhenti. Ia malah capek sendiri. Titus menatapnya dengan penuh dendam.
"Hey," geramnya.
"Hey, I just met you, And this is crazy, But here's my number, So call me, maybe?" Sambung Alibaba. Ia, Hakuryuu dan Sphintus kembali bergulingan sambil terbahak-bahak.
Titus mendecak sebal. "Ah, elah! Jangan..."
"Jangan-jangan kau hiraukan pacarmu. Puuuuutuskanlah saja pacarmu, lalu bilang I love you, padakuuuuu." potongnya lagi.
"Udah, ah! Capek..." Hakuryuu tersengal-sengal.
Alibaba hanya nyengir setan. Titus menghantam paha bagian dalam Alibaba dengan lututnya. Cowok pirang super ceria itu bergulingan di rumput sambil memegangi bekas hantaman Titus yang full of revenge.
"AAAAAAH!" Jeritnya hiperbola. "Aku digigit kuda sama Tituuuuuss!"
"Mampus." Sembur Titus kesal. "Balik, yuk! Rese' nih Alibaba."
Dan Titus mengambek dengan sukses. Kalau sudah begitu Alibaba biasanya cukup minta maaf dengan tulus, dan masalah selesai.
"Alibaba!"
Jafar menghampiri cowok pirang yang masih bergulingan itu dengan wajah kesal. Alibaba langsung berdiri, menepuk-nepuk bagian yang habis digigit kuda sama Titus.
"Aku sudah izin Kepala Sekolah untuk pakai Audiotorium untuk audisi sepulang sekolah. Mana, sini naskahnya?"
"Di kelas." Jawab Alibaba innocent.
"Ambil, idiot!" geram Jafar.
.
.
.
.
.
.
.
Jafar dan Alibaba duduk bersebelahan. Cowok berambut keperakan itu memegang sebuah pengeras suara dan menggepit segepok naskah diantara lekukan sikunya. Ia memerintahkan semua peserta audisi untuk berbaris sesuai dengan jenis suara mereka. Aladdin dan Judal berbaris berbanjar di pojokan panggung audiotorium.
Alibaba hanya memegang pena. Menganalisan suara anak-anak yang tengah diaudisi Jafar dengan luar biasa profesional. Ia mencocokkan peran-peran yang berpotensi. Namun, setelah mengaudisi sekitar 250 orang, Alibaba mendesah kecewa. Ia merasa ini benar-benar memusingkan.
"Silakan, bagi yang telah selesai menjalani audisi, diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Terima kasih atas partisipasinya, ya!"
Setengah, bahkan lebih dari itu keluar dari audiotorium. Jafar keluar sebentar, sementara Alibaba yang sudah sangat hopeless membaringkan kepalanya di meja, merasakan dinginnya AC audiotorium dengan perasaan hampa.
"Kin Omhoog! (bersemangatlah...)"
Saat Jafar kembali, ia membelikan Alibaba segelas besar Vanilla Frappuchino. Cowok Belanda itu masih kelihatan tegar, segar dan santai. Tidak seperti Alibaba yang sudah berantakan—fisik dan mental.
"Sudah dapat apa yang kau mau?" Jafar menyeruput espressonya-nya yang dibubuhkan bubuk kayu manis dengan sedikit buru-buru.
"Belum. Tokoh utamaaaaaaa~~" Alibaba menggaruk-garuk meja saking frustasinya.
"Ya sudah, kita mulai lagi, ya?"
Alibaba sibuk membalik-balik naskahnya, ketika ia mendengar suara yang benar-benar menghajar lamunannya. Ya, ini suara yang ia inginkan. Suara seorang tenorist yang heroik dengan range vokal yang cukup luas. Saat ia mengangkat kepalanya, Alibaba terperanjat.
"Kelihatannya oke, ya?" kata Jafar dengan seringaian puas.
Ia tidak menyangka, bahwa yang tadi menyanyikan lagu Grenade dari Bruno Mars itu adalah sahabatnya sendiri. Dan sepertinya suara Hakuryuu bisa di eksplorasi lebih jauh, secocok dengan imajinasi Alibaba.
"Sun Eng..." gumam cowok pirang itu. Maksudnya, Sun Eng adalah nama tokoh utama di naskah Operanya.
"Neem het! (ambil!)" Sentak Jafar.
Satu demi satu audisi sudah mereka lalui. Judal tidak kelihatan bosan karena asyik main game. Sementara Aladdin sempat tertidur di kursi audience. Sampai pada jam tujuh malam, hanya tersisa tiga siswa Countertenor di audiotorium.
"Siapa mau duluan?" kata Alibaba letih.
"Aku!" Aladdin dengan penuh semangat berlari kearah panggung. Penampilannya menandakan kesuntukan. Matanya masih kelihatan merah dan sayu. Namun Alibaba sangat menghargai kesabarannya.
"Mau nyanyi apa, Aladdin?" tanya Alibaba ramah.
"First Love-nya Nikka Costa." Kata Aladdin. "Jafar-san...uum...mau mainkan piano untukku?"
Setengah mengantuk, Jafar berjalan kearah piano besar yang ada di pojok panggung. Cowok Belanda itu melakukan pemanasan sebentar, lalu memainkan lagu yang diminta Aladdin.
"Everyone can see, there's a change in me..."
Alibaba merasa dunia—waktu disekitarnya berhenti.
Suara Aladdin sangat lembut, treble-nya tidak mengganggu telinga. Ia tidak kelihatan sulit dalam mencapai nada tinggi. Anak itu, dengan tinggi yang tidak sampai menyamai microphone stand yang dipasang disana, ia terdengar seperti...apa ya? Alibaba kehabisan kata-kata.
Suara Aladdin seperti tidak manusiawi.
Terlalu lembut.
Terlalu tinggi.
Terlalu indah.
Terlalu khidmat.
Mirip anak-anak yang telah terbiasa menyanyi untuk Westminster Abbey.
Alibaba menghentikan nyanyian Aladdin selagi nyawanya masih pada tempatnya.
"Lagu lain?" tanya Alibaba.
"A Thousand Years?" Aladdin mengangkat bahu.
"Ya sudah." Alibaba mengangguk. Jafar memainkan lagu tersebut dengan tempo lambat.
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
Aladdin menatap Alibaba yang tengah asyik menulis meski dengan wajah lelah. Dari kedua matanya yang biru terpancar sorot yang begitu teguh, menyiratkan pengabdian. Cowok pirang itu tidak menghiraukan pandangan Aladdin yang terus menuju kepadanya. Hati Aladdin perlahan diselubungi kekecewaan. Kapankah Alibaba akan berpaling , menatap balik wajanya?
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Aladdin tidak meneruskan liriknya, ia menikmati saja alunan musik sampai reffrain kedua. Jafar dengan sigap menambahkan satu kali reffrain lagi. Ia masih menatap Alibaba lekat-lekat, beriring pengharapan sepasang permata keemasan itu mau memandangnya barang sekelebat saja.
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Pada nada ini, Aladdin melakukan beberapa improvisasi. Ia menggenggam mikrofon kuat-kuat dengan tangan gemetar. Ia terus memandang Alibaba dengan sorot mata hampa, yang mulai dibayang-bayangi keputus-asaan.
"I love you..." bisiknya dengan suara sehalus mungkin. "And yes, I love you..."
.
.
.
.
.
.
.
"Doei! (sampai jumpa)"
Alibaba menatap kepergian Ford Fiesta merah itu sambil berjalan ditengah lapangan depan sekolah yang luas dan gelap, berhiaskan beberapa lampu dan malam berbintang dengan bulan separuh yang tidak begitu terang. Ia tidak pernah menyangka kalau sekolah ini akan terlihat sangat horror saat matahari telah turun. Alibaba berjalan menjauhi gerbang, namun kembali lagi ketika melihat sesuatu yang berpendar dan terlihat dari arah belakang sekolah. Terdorong dengan rasa keingintahuan yang tinggi, Alibaba berlari kearah belakang sekolah.
Cahaya itu berpendar disekitar lapangan basket, 100 meter dari tempatnya berdiri. Cahaya-cahaya itu lebih dari satu warna, kelihatan indah sekali diantara daerah-daerah kelam disekitar. Alibaba berjalan mendekat, dan matanya yang keemasan terbelalak takjub. Di lapangan basket seluas 26x14 meter itu tergambar lukisan timbul seekor burung phoenix dan burung merak yang tengah bertarung. Gradasi warna merah-oranye-kuning-emas pada burung phoenix serta hijau-biru-perak pada burung merak membuatnya sangat artistik. Terlebih, lukisan itu kelihatan seperti glow in the dark.
Lukisan yang telah membuat Alibaba kagum itu dibuat oleh sesosok manusia yang begitu familier meski dengan penampilan yang tidak biasa. Serbuk fosfor membuat rambutnya yang sekelam malam dan tergerai halus itu menjadi sedikit bercahaya keperakan. Ada sepercik besar cat merah di celananya seperti bekas ketumpahan. Sosok itu melemparkan spraygun ke sebuah ember dan tengkurap kelelahan. Alibaba tersenyum, menghampirinya dan kemudian merunduk disebelah sosok itu.
"Keren, kan?" kata Judal bangga.
"Luar biasa." Jawab Alibaba. "Kau mengerjakan ini dalam sehari?"
"Bodoh," ketus Judal, ia berguling pelan, memposisikan dirinya tengkurap menatap Alibaba. "Butuh tiga bulan membuat semua ini sendirian. Ditambah anak-anak bodoh yang merusak lukisanku dengan sepatu dan bola merah besar itu."
"Kau melukis diatas lapangan basket. Itu wajar, kan?"
Judal mengerutkan dahinya. "Kau juga berpikir begitu? Kenapa tidak ada kesempatan bagi seorang seniman untuk berekspresi?!"
"Tapi kau berekspresi tidak pada tempatnya." Sanggah Alibaba. "Dan, ayolah. Ini sekolah musik. Kau bisa berekspresi dengan suara. Bunyi. Harmoni. Melodi. Bukan dengan gambar dan lukisan."
Judal menerawang, jauh kedalam mata Alibaba. Cowok pirang itu mengerutkan dahinya karena kebingungan, lalu memecah keheningan.
"Apa?" tanyanya.
"Menurutku..." balas Judal. "Seni itu tidak seharusnya dinikmati oleh beberapa indera sekaligus. Seperti...gambar atau lukisan." Judal kembali menatap lukisannya. "Mereka tidak perlu bicara untuk mengatakan bahwa diri mereka indah."
"Lalu kenapa kau masuk dalam sekolah musik?" tanya Alibaba dengan nada meninggi,
"Untuk mencari jawaban." Kata Judal. "Mengapa musik begitu bisa diterima oleh masyarakat, ketimbang seni rupa atau sastra?"
"Kenapa ya?"
Alibaba menerawang ke langit luas, lalu menatap kembali kearah Judal. Sosok hitam yang sangat misterius. Judal Al-Sarmen yang memiliki prespektif yang berbeda dengan orang kebanyakan. Yang memandang seni adalah way of life. Yang menganggap bahwa suatu permasalahan sosial dapat ditumpahkan dan diselesaikan secara indah dan mudah. Sosok yang selalu cuek dan semaunya sendiri. Bukan sekedar sosok menyebalkan yang angkuh. Judal adalah sosok yang berusaha membaur bersama masyarakat dengan membawa falsafah seni yang dianutnya. Yang membuat mata khalayak terbuka untuk memandang sesuatu jauh hingga ke semesta kosmik.
Dan sosok yang membuat Alibaba bangkit dari pandangan awam.
"Karena..." Alibaba menoleh kearah Judal yang masih mencari jawaban. "Musik tidak perlu menunjukkan dirinya kalau dia indah. Musik adalah sesuatu yang simpel dan jujur. Apa adanya."
"Apa iya?" Judal memutir-mutir rambutnya.
"Iya, menurutku." Alibaba tersenyum. "Dalam lukisan, theater, atau sastra, mungkin kau bisa menganalogikan dirimu sebagai orang lain. Kau bisa memakai topeng kepalsuan untuk melindungi dirimu dari rasa sakit. Tetapi tidak dengan musik. Apa yang kau dengar, apa yang kau nyanyikan, adalah isi hati."
Keduanya terdiam.
Alibaba mengambil langkah untuk sedikit lebih dekat dengan Judal,
Yang baginya memang seperti musik.
Sederhana, jujur, dan apa adanya.
.
.
.
.
.
.
.
"Yak, hari ini kita latihan aransemen dulu, yuk."
Kata-kata yang tidak membuat selera. Yang ada disini sekarang adalah Alibaba, Jafar, Judal, Aladdin, Hakuryuu dan Morgiana. Yang ingin ia lakukan adalah eksplorasi vokal dan aransemen lagu. Jafar bersandar dengan malas ditembok, dan menyuruh Alibaba untuk mengajak yang lain melakukan pemanasan. Sikap acuhnya inilah yang membuat Alibaba menyesali kenapa harus pria Belanda itu yang jadi mentornya.
"Eh?" katanya, dengan memicing tak yakin. "Maksudmu, stakato?"
"Iyalah." Balas Jafar pendek. "Tiga kali saja, tidak usah buang-buang waktu."
"O...oke. Nah, guys. Mohon kerjasamanya, ya."
Mula-mula Alibaba menginstruksikan untuk menaruh tangan di pinggang, lalu merenggangkan kepala ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah. Lalu kemudian menjulurkan lidah, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan hitungan dua kali sepuluh.
"Yuk, mulai." Kata Alibaba. Ia menegakkan punggungnya, menahan nafas, dan memberikan aba-aba.
"Stakato single, go."
"Hak!"
"Go."
"Hak!"
"Go."
"Hak!"
"Go."
"Hak!"
"Stakato double, go."
"Hak! Hak!"
"Go."
"Hak! Hak!"
"Go."
"Hak! Hak!"
"Go."
"Hak! Hak!"
"Stakato triple, go."
"Hak! Hak! Hak!"
"Go."
"Hak! Hak! Hak!"
"Go."
"Hak! Hak! Hak!"
"Salah."
Semua orang menoleh. Jafar menatap Alibaba dengan pandangan kesal.
"Stakato triple itu harusnya begini," kemudian Jafar mencontohkan stakato triple yang benar. "Apaan itu tadi? Kayak orang keselek."
Seluruh ruangan tertawa.
"Siapa suruh ketawa? Kalian pikir itu lucu?!" gertak Jafar. "Solo Guitarist, Frere Jaques, 5 seri."
"Apaan, tuh?" balas Alibaba innocent.
"Ck!" Jafar mendecak kesal. "Aladdin, contohkan!"
Aladdin membungkuk, dengan ujung jari tangan menyentuh ujung sepatu dan kepala membungkuk (atau dengan singkat biasa disebut sikap tobat) dan mulai bernyanyi.
Frère Jacques, frère Jacques,
Dormez-vous? Dormez-vous?
Sonnez les matines! Sonnez les matines!
Ding, daing, dong. Ding, daing, dong.
Alibaba melakukan sama persis dengan yang dicontohkan Aladdin.
"Frère Jacques"
Ia tidak menyangka akan ada rasa pusing luar biasa saat melakukan hal itu. Darah mengalir ke kepalanya, membuat wajahnya memerah. Konsentrasinya pecah. Suaranya jadi fals.
"Ulang. Suaranya fals."
Alibaba mengulanginya susah payah. Berulang kali Jafar menyuruhnya mengulang lagi karena suaranya fals atau kesalahan pengucapan lirik. Setelah dua kali lagu berbahasa Perancis itu selesai dinyanyikan secara sempurna,
Lalu semuanya gelap.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau keterlaluan! Aku saja tidak sembarangan memberikan hukuman tobat begitu."
"Astaga, Pak! Hanya 5 seri saja. Frère Jacques kan nggak berat-berat amat. Waktu Opera sama Mademoiselle Scheherazade, malahan harus Die Gedanken sind frei sepuluh seri karena pecah suara. Manja banget, sih."
"Levelnya beda. Jangan samakan dia dengan dirimu, Jafar."
"Mau sampai kapan diistimewakan begini? Coach Sharrkan sama saja!"
Saat Alibaba membuka matanya, ia melihat langit-langit ruang UKS. Disana ada Aladdin, Hakuryuu...semua yang tadi ikut latihan, ditambah Pak Kepala Sekolah dan G.I Sharrkan. Jafar dalam posisi terpojok, dan kemudian keluar bersama G.I Sharrkan selaku supervisor Alibaba. Sementara murid-murid lain masih bicara satu sama lain. Alibaba masih belum sadar sepenuhnya. Lalu Hakuryuu keluar bersama Morgiana. Judal ikut pergi beberapa menit setelah Sharrkan selesai mengomeli Jafar, yang direspon dengan rentetan pembelaan diri.
Hanya Aladdin yang masih tetap disana. Duduk di kursi sebelah ranjang UKS yang ditiduri Alibaba.
"Aku kenapa?" tanyanya limbung. Kepalanya sakit sekali, terasa seperti ada yang menyengat-nyengat didalam otaknya.
"Kau pingsan setelah tobat, Alibaba-kun." Kata Aladdin datar.
"Tobat?"
"Sikap yang tadi. Bernyanyi dengan sikap begitu merupakan hukuman khas pemain Opera."
"Oh..."
Hening. Entah halusinasi atau apa, Alibaba melihat wajah Aladdin memerah.
"Ada apa?" tanya Alibaba kembali.
"Tidak apa-apa." Aladdin tergugu. "Tidurlah lagi, jika kau masih pusing."
Alibaba menurut. Ia kembali memejamkan matanya. Tak lama, Aladdin bisa mendengar dengkur halus cowok pirang itu. Aladdin mengamati lebih dekat wajah orang yang digilainya itu. Pipinya kini agak cekung. Dua lingkaran hitam membekas di bawah matanya. Rona wajahnya tidak terlihat segar. Aladdin tahu, dibalik wajah yang kelihatan lelah itu semangat dan keceriaannya sangat luar biasa. Aladdin juga tahu bahwa meski Alibaba sudah diberitahu bahwa ada seorang wali yang menjamin kelangsungan pendidikannya disini, ia masih bekerja paruh waktu untuk mencukupi kehidupannya sendiri, bahkan hingga nyaris subuh lagi. Dan kini, karena skill gitarnya yang hebat, ia terpilih menjadi seorang Solo Guitarist di Opera tahun ini.
Sosok yang independen dan inspiratif.
Aladdin benar-benar tergila-gila padanya. Lebih dari seorang fans fanatik sekalipun. Wajahnya yang manis, dan sosoknya yang terlihat sangat lively saat tengah bermusik dan berolahraga membekas erat dalam memorinya.
Apa sosok indah ini sudah ada yang punya?
Tidak! Aladdin tidak ingin berpikir demikian. Meskipun banyak yang mengaguminya dan berteman dengannya, hubungan seisitimewa 'kekasih' sepertinya tidak ada.
Belum.
Kala itu Aladdin kehilangan akal sehatnya.
Entah karena nafsu yang menggebu-gebu, atau keserakahan yang menjadi-jadi, ia merunduk. Melekatkan bibirnya ke bibir tipis Alibaba dengan sangat ringan, seperti sentuhan kupu-kupu. Sekali. Dua kali. Aladdin menelusuri wajah Alibaba dengan belahan bibirnya. Lembut dan sangat ringan.
Hingga ia membuat Alibaba menggeliat pelan, namun tidak sampai bangun dari lelapnya. Aladdin meninggalkan tiga titik kehitaman yang berjajar rapi, di sekitar tulang selangka Alibaba.
Bite mark.
"Alibaba-kun milikku." Bisiknya lembut. Aladdin tersenyum manis dan pergi dengan tenang keluar UKS.
.
.
.
.
.
.
.
Frère Jacques: lagu bahasa Perancis—atau bisa dibilang lagu 'Are You Sleeping' versi bahasa Perancis.
Die Gedanken sind frei: lagu bahasa Jerman. Semacam folksong. Liriknya lumayan panjang dan bersemangat.
FINALLY UPDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAATTTEEEEEEE!
Author bersyukur sepenuh hati karena lagi sibuk di sekolah mau ada LDKS. Dan mengejar ketinggalan pelajaran karena lomba spelling bee sama debat bahasa inggris *sombong dikit
Dan saya rasa disini terasa agak lebih panjang dari bab-bab yang lain ya? Saya masih dirundung galau apakah Alibaba harus the end sebagai pacarnya Judal atau Aladdin? *plak
Eniew, review anda adalah motivasi saya untuk update lebih cepat.
Terima kasih *tebar bunga
