Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
VII: Story
"Do all you can to make your dreams come true."
Joel Osteen
.
.
.
.
.
.
.
"Naskahnya diganti?!"
Suara Alibaba naik dua oktaf ketika mendengar statement Jafar yang sangat subjektif itu. Si cowok Belanda tersebut hanya menutup kedua telinganya dengan wajah cuek. Setelah omelan Alibaba selesai, Jafar mendesah lelah dan kemudian melemparkan naskah yang sudah dimodifikasinya diatas meja Alibaba dikelas Baritone 2.
"Kau melupakan opening song dari murid dan dari guru-guru. Itu tradisi dari Lawrence." Kata Jafar singkat. "Aku memodifikasi beberapa aransemen lagu yang kau tambahkan disana. Lalu menambahkan ini-itu. Segalanya akan lebih mudah kok."
Alibaba memandang Jafar dengan penuh haru. Namun sebelum cowok pirang itu mengucapkan sesuatu, Jafar menarik diri dan keluar dari kelasnya. Alibaba yang kepo mulai membolak-balik naskah. Selain format ketikannya yang jauh lebih baik, nama-nama Cina yang dipakainya sebagai tokoh utamapun diganti.
.
.
.
.
.
.
.
Okeanos, The Last Soldier
Setting: Kerajaan Gaia
Alkisah tersebutlah sebuah kerajaan yang sangat termahsyur, yaitu kerajaan Gaia. Rajanya bernama Niccodamus, dan permaisurinya, Mikhaela. Pernikahan mereka sangat bahagia, mereka memiliki seorang putra bernama Okeanos. Okeanos tumbuh menjadi pemuda yang sangat tangguh dan cerdas, serta sangat menyayangi kedua orangtuanya.
(1st song: Concerto pour deux voix, Clemence-JB Maunier)
Hingga pada suatu hari, Raja Niccodamus melihat seorang gadis cantik bernama Neva. Merekapun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa pikir panjang, Raja Niccodamus mengambil Neva sebagai selirnya.
(2nd song: Beautiful Monster, NeYo)
Hal ini tentu membuat hati permaisuri sangat sakit. Namun Raja Niccodamus tidak tahu, bahwa dibalik kecantikannya Neva adalah wanita yang tamak dan kejam. Mikhaela berusaha memberitahu sang Raja, namun ia tak percaya. Diusirnya sang permaisuri sejauh mungkin. Hingga ia takkan pernah bisa melihatnya kembali. Dan tanpa diketahui siapapun, Neva membunuh Mikhaela.
(3rd song: Impossible, Shontelle)
Namun Raja Niccodamus tidak tahu, bahwa ternyata Neva lebih menginginkan tahta dan kekuasaan sang raja. Dalam waktu singkat, ia dapat menghancurkan kekuasaan Raja Niccodamus dengan diam-diam. Iapun akhirnya mengirim Raja Niccodamus kedalam penjara.
(4th song: Grenade, Bruno Mars)
Neva memanfaatkan kekuasaannya untuk membuat onar dimana-mana. Ia membuat kekacauan, menyulut perang dengan negara lain, dan menelantarkan rakyatnya sementara ia hidup bergelimang harta dan kesenangan didalam istana.
(5th song: No Consequences, Versaemerge)
Okeanos yang tak bisa berbuat banyak memutuskan untuk mencari kekuatan luar biasa yang ada di puncak Gunung Keabadian. Akhirnya, Okeanos bersiap berangkat meninggalkan kerajaan Gaia, dan kekasihnya, Nael. Awalnya, Nael melarang karena takut kehilangan Okeanos. Namun pemuda itu bersikeras. Mereka bertengkar hebat, dan Okeanos pergi meninggalkan Nael.
(6th song: Hold my heart, Sara Bareilles)
Diperjalanannya, Okeanos banyak bertemu dengan rekan seperjalannya. Ada Joe si Mata Satu, yang menemaninya sampai ke kaki Gunung Keabadian. Pria itu mengajarkan kepada Okeanos bagaimana hidup dengan penuh makna, dan penuh semangat.
(7th song: Dirty bass, live my life-Far east movement (medley))
Tiba di gunung Keabadian, Okeanos mengalami sebuah petualangan seru yang membuatnya sulit mendapatkan kekuatan tersebut. Namun, dengan semangat yang tinggi, Okeanos berhasil.
(8th song: Born for this, Paramore)
Namun ketika sampai pada tujuannya, yang ia lihat hanyalah kaca. Kaca dan kaca. Dibalik seluruh bayangannya, sayup-sayup ia mendengar suara ibunya. Lalu dimulailah serentetan bayangan yang berkelebat dikepala Okeanos. Tentang ibunya, ayahnya, Nael, dan rakyat Gaia. Orang-orang yang ia sayangi.
(9th song: Zombie, the cranberries (acoustic))
Okeanos menyadari, bahwa ia bisa mengalahkan Neva. Maka ia segera kembali ke kerajaan Gaia, dan menantang Neva untuk bertarung satu lawan satu. Lalu dimulailah duel seru antara mereka berdua.
(10th song: Ignorance (instrumental, acoustic))
Namun, tiba-tiba Neva menggunakan kekuatan ghaibnya. Ia menyerang jantung Okeanos, hingga ia tidak terbangun lagi.
Dengan semangat yang tinggi, akhirnya Okeanos berhasil bangkit dari kematian berkat kekuatan yang didapatnya dari Gunung Keabadian. Kemudian dalam satu serangan, ia dapat mengalahkan Neva. Ia membunuh wanita kejam itu, dan membawa ketentraman kembali ke kerajaan Gaia.
(11th song: Titanium, acoustic version)
Kekalahan Neva memang membawa kebahagiaan bagi Kerajaan Gaia. Mereka kembali membangun hidup mereka. Namun tidak bagi Okeanos. Yang tidak mengetahui ternyata Raja Niccodamus telah meninggal . Okeanos dinobatkan sebagai raja Kerajaan Gaia yang baru, dengan suasana hati yang sepi. Kedua orangtuanya telah meninggal. Kini batinnya bertanya-tanya, siapakah gerangan yang dapat mengusir sepi?
(12th song: wake me up when september end, green day)
Dengan penuh harap, Raja Okeanos melangkahkan kaki menuju rumah Nael. Ia mengetuk, dan mengabarkan kepulangannya kepada sang kekasih.
(13th song: home is in your eyes, greyson chance)
.
.
.
.
.
.
.
"Judal!"
Sosok serba hitam itu sedang menggoreskan pensil berwarna brune sienna ke kertas gambarnya. Hanya dengan permainan warna sederhana, ia menggambar seekor rubah yang tengah duduk di bawah pohon Yew didekan sebuah danau. Ia duduk paling jauh diantara orang-orang, di bangku penonton Audiotorium Golden Phoenex. Sejauh matanya memandang, ada dua orang yang paling sibuk disini. Jafar, yang tengah asyik menatar para choir pengiring dan Alibaba, yang sibuk kemana-mana memeluk kain kanvas dan kaleng-kaleng cat. Sebenarnya berulang kali Alibaba memanggilnya, namun Judal pura-pura tuli. Ia ingin Alibaba benar-benar mendekatinya, menurutnya itu adalah salah satu bentuk usaha jika Alibaba ingin jasanya menggambar atau melukis.
Dan benar saja, Alibaba benar-benar menghampirinya yang duduk di kursi urutan J, paling ujung, terhalang bayang-bayang. Audiotorium Golden Phoenex tata panggungnya seperti bioskop, dengan tatanan tempat duduk yang melandai. Dibalik panggung ada cekungan yang bisa dibuka dan ditutup, dimana biasanya para pemain musik mendekam. Layar belakangnya bisa di switch sampai dua belas kali, sementara panggungnya bisa diputar sebatas tiga kali, mirip panggung kabuki. Setelah perjalanan yang melelahkan dan penuh perjuangan, Alibaba terengah-engah dan duduk disamping Judal. Sementara cowok berambut hitam itu buru-buru membalik buku gambarnya ke lukisan (atau gambar, bagi Judal sama saja) Kerajaan Gaia sesuai imajinasinya.
"Aku memanggilmu dari tadi. Kenapa duduk sejauh ini?" protes Alibaba kesal. Nafasnya masih belum teratur.
"Aku mau duduk dimana saja bukan urusanmu." Ketus Judal.
"Huuh. Kau punya minum?"
"Ada." Judal memamerkan sebotol teh rasa apel yang dingin.
"Bagi aku." Pinta Alibaba.
Judal menimbang-nimbang, lalu memberikannya. "Ini."
Lalu Alibaba pergi begitu saja. Tidak mengatakan apa-apa lagi. Hati Judal merasa sedikit kecut. Namun, melihat tampang kusut cowok pirang itu, hatinya luluh. Beban pikirannya pasti berat sekali. Maka, Judal memutuskan untuk sedikit meringankan bebannya barang sedikit saja. Diambilnya sebuah pensil mekanik dan kertas gambar besar, lalu ia menggambar sebuah siluet kerajaan diatas kertas ukuran A1 diantara kelompok Desain Panggung. Kelima belas siswa yang bekerja disana memperhatikan dengan seksama. Judal terkekeh dalam hati, menyenangi kemahirannya menggambar. Ia melihat Alibaba yang bentuknya sudah seperti habis diamuk massa sedang mengiba-ngiba kepada anggota Choir pengiring agar mau berlatih beberapa kali lagi hari ini.
Jafar berdiri dibelakang Judal, mengamati siluet gambar yang dibuat Judal dengan mata memicing dan terbingkai kacamata persegi yang sangat cocok untuk wajahnya yang bulat. Ia kelihatan jauh lebih letih dari Alibaba, namun masih tetap kece.
"Bagus." Katanya datar. Judal hanya menoleh.
"Mau apa, kau?" tanyanya ketus.
"Kau mau check sound dulu? Aku rasa aku akan menempelkan kertas peran besok."
Judal menimbang-nimbang sebentar, lalu berkata. "Kenapa harus kau yang melakukannya?"
"Memang kenapa? Aku ini kan mentornya Alibaba." Jawab Jafar, ada nada tersinggung di ucapannya.
"Tidak. Nanti saja." Elak Judal.
Jafar merutuk sendirian, lalu pergi. Ia menghampiri Alibaba yang tengah membolak-balik naskah.
"Bagaimana? Sudah bisa mengatur mereka?" tanya Jafar.
"Hngh?" gumam Alibaba setengah ngantuk. "Ya...ya. Sudah."
Jafar hanya menatapnya.
"Kita lanjutkan besok, ya?" katanya.
"Ah? Tapi kan semuanya belum beres. Opera tinggal 3 bulan lagi."
"Yang belum beres adalah dirimu sendiri." Kata Jafar. "Sudahlah. Kita juga tetap butuh istirahat."
Alibaba terperangah. Ia membubarkan para penyanyi latar, namun tidak membubarkan para penata panggung dan orkestra. Ia mulai membicarakan teknis instrumental kepada salah satu pemain piano dan grup pemain biola. Akhirnya, cowok pirang itu menarik sebuah bangku. Memeriksa kembali kunci-kunci gitar setiap lagu yang akan ditampilkan lewat MP3 player. Hingga ia tak sadar, bahwa perlahan-lahan dirinya mulai terlelap.
.
.
.
.
.
.
.
"...kun, ...Alibaba-kun!"
Alibaba tersentak. Audiotorium sudah sepi. Ketika pandangannya mulai jelas, ia menyadari tak ada siapapun sekarang. Ia ketiduran di bangku samping panggung. Aladdin membangunkannya karena kasihan. Saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Great. Setelah pontang-panting bekerja, semua orang meninggalkannya. Mungkin inilah arti dari perbahasa Air susu dibalas air comberan.
"Alibaba-kun nggak apa-apa?" tanya Aladdin. Ia menaruh punggung tangannya di kening cowok pirang itu. "Panas."
"Ngh? Agak capek." Balasnya asal. Ia merasa tubuhnya kaku dan berat sekali.
"Sudah makan?"
Alibaba menggeleng. Ia lupa kapan terakhir kali makan. Ia terus menyumpal lambungnya dengan minuman manis. Ia menggeleng perlahan.
"Sudah tidak ada angkutan umum sekarang. Alibaba-kun aku antar pulang, ya?"
"Hah?!" Alibaba mendadak berdiri, ia kelihatan limbung. Ia menggaruk belakang kepalanya, lalu kembali melirik jam. "Hm? Boleh deh."
"Yuk," Aladdin menuntun Alibaba dengan lembut. "Sekalian makan?"
Alibaba tidak bisa banyak bicara. Ia didorong kedalam sebuah mobil mewah, lalu Aladdin duduk disampingnya. Ia hanya menatap gemerlap kota pada malam hari, dan sadar ia tak dibawa ke rumahnya. Melainkan ke sebuah restoran berbentuk sebuah kapal di perempatan jalan. Setelah mobil parkir, Alibaba mencolek pundak Aladdin.
"Aku pulang saja, ya? Aku nggak punya uang." Balasnya malu-malu.
"Masih kaku aja. Aku yang bayar!" kata Aladdin berseri-seri.
Maka, sekarang Aladdin dan Alibaba duduk di restoran yang ternyata hawa ruangannya cukup hangat dan nyaman. Saat membaca buku menu, Alibaba terkejut dengan rentetan harga yang nyaris sama dengan uang bayarannya di Lawrence. Namun, Aladdin dengan mudahnya memesan menu utama dan penutup tanpa melihat harga sama sekali.
"Nah, Alibaba-kun mau apa? Pesan aja sebanyak apapun yang kau suka." Katanya lembut.
"Aku? Nggg..." Alibaba membaca buku menu. "Na...nasi goreng seafood saja. Sama minumnya es teh manis."
"Itu aja?" tanya Aladdin agak jengkel. "Mana kenyang? Alibaba kan harus kerja berat."
"Tidak apa. Aku kenyang kok."
"Pak, tambah Sole meunière, lamb chop sama garlic prawn."
Alibaba tak sanggup melawan. Ketika makanan mahal tersebut terhidang didepan matanya, rasa laparnya menggelegak. Namun gengsi menahan dirinya untuk melalap semuanya dengan gaya kampungan. Alibaba mengambil porsi kecil dari nasi goreng seafood dan lamb chop. Ini pertama kalinya makan daging domba. Biarpun ia orang susah, cowok pirang itu pernah mengecap ikan, seafood¸ayam, dan unggas lain meskipun belum pernah daging sapi. Aladdin menatap Alibaba dengan lembut. Ia berpikir sebentar kemudian mengambil kamera DSLR dari tasnya.
"Alibaba-kun, apa kamu keberatan kalau kita foto berdua?" tanyanya.
"Hm? Nggak sih. Memang buat apa? Kan kita tiap hari ketemu." Balas Alibaba.
"Nggak apa. View-nya bagus."
Alibaba menoleh. Dari jendela superbesar berlapis kaca tanpa tirai itu terhampar pemandangan metropolitan yang glamour sekaligus anggun. Gemerlap lampu berpendar dibawah langit malam yang kelam. Bintang di langit hanya terlihat seperti ribuan bintik putih yang sangat kecil dan jauh. Bulan separuh kelihatan muram, cahayanya redup. Sedang mendung atau cahayanya mungkin sudah terkalahkan oleh daya penerangan kota besar jaman sekarang.
"Baiklah." Alibaba menyanggupi.
Aladdin menggeser bangkunya, duduk disebelah Alibaba. Ia memanggil seorang pelayan untuk memotret mereka. Aladdin hanya melihat hasilnya sekilas, lalu tersenyum senang. Mereka melanjutkan kembali acara makan malam dadakan mereka dengan tenang.
.
.
.
.
.
.
.
"Aduh!"
Pada hari minggu yang cerah, niat baiknya membereskan rumah membuat sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang jatuh menimpa kepalanya. Alibaba meringis kesakitan, berguling-guling sambil mengelus bekas benda itu mendarat. Kini ada bercak kemerahan di sekitar garis rambutnya di dekat dahi. Benda itu berada diatas lemari. Di bungkus sebuah kertas kado berbahan sangat halus. Berdebu lumayan tebal. Dan saat benda itu jatuh, kertas kadonya tersobek sedikit. Alibaba menyadari bahwa benda di balik kertas kado halus bermotif pohon anggur dan berwarna merah marun dan corak putih gading-keemasan itu adalah buku sketsa berukuran A3.
Alibaba membuka halaman pertama.
Teruntuk Saluja.
Bola mata Alibaba yang bulat melebar ketika ia buka halaman kedua, ketiga, keempat...potret dirinya dalam ukuran 1 R dan dalam berbagai keadaan. Saat main basket, saat belajar di kelas, atau saat ia sedang makan di kantin, berlumur saus pedas dimsum. Saat ia berlatih gitar, atau berlari mengejar keterlambatannya datang ke Audiotorium sebelum Jafar murka besar. Terhias pula tulisan warna-warni khas pena warna, dan gambar dari pena yang lucu namun berkesan rapi.
Alibaba adalah salah satu teman yang berharga bagiku di Lawrence.
Baik, perhatian, cepat belajar. Pintar olahraga, warna suaranya khas. Percaya diri, rendah hati, lucu, menyenangkan. Senyumnya memang bodoh, tapi sangat menenangkan hati. Merupakan teman yang menjadi pendengar, penasehat, mentor dan penghibur yang luar biasa. Aku sangat bangga bisa berteman dengan Alibaba Saluja. Namun, akhir-akhir ini aku merasa kharismanya bagaikan magnet yang menarik perhatian semua orang. Aku ingin tetap jadi yang paling dekat dengannya, meski kini semua orang di Lawrence adalah sahabat baiknya.
Karena...
"Alibaba!"
Cowok pirang itu menoleh. Ia melihat Judal, yang membawakan gitarnya yang fresh from the music service store dan kelihatan sangat gahar, merdu, mantap.
"Aku siap berlatih, Pak Komposer. Bagaimana denganmu?" ucap Judal dengan senyum menyebalkannya yang khas.
Alibaba terdiam, lalu menyeringai "Hell yeah, baby."
Alibaba lalu melempar buku A3 berserta bungkus kadonya itu kedalam kardus besar berisi buku-buku lamanya tanpa melihat satu halaman terakhir yang sudah terlanjur terbuka. Isinya adalah fotonya dan Alibaba, versi candied. Alibaba tengah menerangkan sesuatu kepada Aladdin, berhadap-hadapan. Aladdin tersenyum lembut menatapnya. Foto itu diambil oleh Jafar atas dasar keisengan. Sebuah kalimat dengan tulisan besar-besar dan aksen tulisan yang sangat bagus bertuliskan:
I am unconditionally love you.
Aladdin.
.
.
.
.
.
.
.
NGUOOOOOO BANGKIT DARI HIATUUUUS! Sebenernya ini naskah udah dibikin lama banget. Maklum ya sekarang author kelas 11 (udah IPA, ada kegiatan OSIS pula. Omaigat, maafkan saya para readers ;A;). Saya lagi menampilkan sisi unrequited love-nya Aladdin, sebelum sesi puncak xixixix #slap# oke tanpa banyak bacot, saya mohon diri. Mohon review ya. Karena review anda menolong saya tetap melanjutkan karya saya. Arigatou #deepbow#
