Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
VIII: Encoding
"I have feelings too. I am still human. All I want is to be loved, for myself and for my talent."
Maryln Monroe
.
.
.
.
.
.
.
You're calling me insatiable and I can't deny
On the hunt for the irreplaceable
Impossible to find
Should I settle for less?
You're good but I want the best
I want you along with the rest
I want the world with no consequences
Jafar duduk di pinggir panggung dengan sebuah naskah di pangkuannya. Ia tak menyangka Judal yang luar biasa acuh itu memiliki bakat luar biasa dalam akting. Meskipun perannya disini adalah perempuan (dan mau tak mau Jafar harus mendengarkan sumpah-serapahnya selama lebih kurang 30 menit), ia melakukannya dengan sangat baik. Yang masih menjadi PR baginya adalah bagaimana menarik keluar kepercayaan diri Hakuryuu bagaikan Kepala Sekolah Lawrence yang selalu overconfidence itu. Untuk harmonisasi, sudah jauh lebih baik dari dua jam sebelumnya. Namun karakter dan emosi dalam suara Hakuruyuu terbanting jauh dengan emosi dan karakter antagonis Neva yang diperankan Judal. Ini menyebabkan tokoh utama tak memiliki karakter yang cukup kuat dalam Opera.
"OhGod. Wat moetik doen?" bisiknya, dalam bahasa tanah airnya kepada dirinya sendiri.
"Bien, mon cher nevue?"
Yunan duduk di sebelah Jafar, melihat anak-anak choir berusaha menjadi backing vocal yang baik bagi para tokoh utama. Ia sempat mendengarkan bagaimana Judal menyanyikan lagu No Consequences-nya Versaemerge dan bagaimana canggungnya Hakuryuu dalam lagu terakhirnya dengan Morgiana. Lalu coret-coretannya Jafar; yang terlalu rapi dan masih terbaca.
"Apa tidak ada latihan instrumental hari ini?" tanya Sang Komite Sekolah.
"Kau mau buat kepalaku meledak?" tukas Jafar sinis.
"Mais non." Yunan tertawa. "Tapi aku benar-benar penasaran apakah penampilanmu kali ini seperti apa."
"Tidak seperti apa-apa." Jafar membalik-balik naskahnya. "Coach, apakah opening song Opera harus lagu-lagu semodel Bohemian Rhapsody? Atau klasik-gospel-seriosa seperti Santa Lucia atau teman sejenisnya?"
"Tidak selalu. Kau ingat, waktu kau masuk, tahun kedua? Sharrkan membuat lagu sederhana seperti Twist and Shout-nya The Beatles. Opening song itu seperti appetizer. Tidak harus super-keren, hanya berikan sedikit click agar mereka lebih bersemangat dengan Opera tersebut."
Entah mengapa, lagu yang disebutkan oleh Yunan tadi mengingatkan Jafar akan sang Solo Guitarist yang sedang menjalankan remedial Kelas Instrumentalnya. Tentu saja, itu seperti lagu kebangsaan bagi Alibaba.
"Menurutmu bagaimana permainan gitarnya Alibaba?" tanya Yunan lagi.
"Gila. Aku mencoba memberikan partitur nada yang akan dia mainkan. Well, memang bakat tak bisa dibohongi. Permainannya masih berantakan karena dia belum menguasai. Namun, dari lagu-lagu yang akan kita pakai, dia sudah bisa 4-5 lagu. Aku belum tahu hasilnya jika digabung dengan instrumen lain."
"Kau kelihatan sibuk sekali. Jangan sampai lupa makan ya." Yunan menepuk pundak keponakannya, dan meninggalkan sebuah kantong kertas berisi paket double cheeseburger dengan kentang goreng dan lemon tea untuk Jafar. Entah sang paman sebenarnya sayang atau memang ingin membuatnya mati lebih cepat.
.
.
.
.
.
.
.
Judal duduk sendirian diantara koridor kelas Baritone. Ia memeluk tas laptopnya, memandangi lantai dengan muka hampa. Ia mengendarai sepeda motor ke sekolah, seharusnya ia bisa pulang lebih cepat. Namun, kakinya malah melangkah kemari. Ia tak tahu sudah berapa kali berjingkat, mengintip pemilik rambut pirang yang duduk di pertengahan, menggaruk-garuk rambutnya karena bingung. Matanya memicing beberapa kali, kelihatannya konsentrasinya tercecer kemana-mana. Alibaba kelihatan sangat kurus. Selain sekolah, kerja malamnya di dalam tumpukan rongsokan elektronik menciptakan cekungan dalam kehitaman dibawa kedua matanya yang cheerful.
Ketika akhirnya sosok itu beranjak dari bangkunya, lalu keluar dengan setumpuk kejengkelan dalam hatinya, Judal berdiri. Entah kenapa, ia sangat sigap untuk masalah Alibaba.
"Oy," katanya. "Habis di sparta ya?"
"Iya gitu deh." Kata Alibaba, sambil mendengus penuh dendam pada jam tambahan yang tadi dilakukannya. "Nebeng pulang ya."
"Hm..." Jawab Judal. Mereka berdua berjalan bersebelahan dalam koridor. Hanya langkah kaki dan sesekali suara halus nafas Alibaba. Judal curiga ada sesuatu yang tak beres dengan sistem pernafasan Alibaba.
Sepanjang mereka berjalan, tak ada satupun yang memulai percakapan. Padahal di kepalanya banyak sekali hal-hal yang ingin ia bicarakan. Seperti ada jerawat besar di dekat alisnya, penampilannya yang lebih bersih setelah cukur rambut dan ganti produk sabun mandi, wangi tubuhnya yang maskulin meski cuma pakai parfum KW, tubuhnya yang sepertinya lebih tinggi 2-3cm, atau bunyi nafasnya yang makin lama makin terdengar serak. Namun semua mendadak hilang ketika Alibaba ada dibelakangnya, cukup rapat. Sesekali, ia merasakan dada Alibaba menghantam lembut punggungnya saat Judal mengerem. Ia bisa merasakan sesuatu yang berdentum dengan teratur di dalamnya. Sesuatu yang hidup.
"Judal..." teriak Alibaba sambil menaikkan kaca helmnya. "Keberatan nggak kalau kita mampir terus makan dulu? Aku laper banget nih."
"Haaaa?!" Judal balas teriak sambil menoleh. Lalu lintas padat dan sangat hingar hingga ia nyaris tak dapat mendengar apa-apa. "Mau makan apaan? Biasanya kau super kreatif."
"Maksudmu?"
"Mengubah yang tak bisa dimakan jadi bisa dimakan." Judal tertawa garing.
"Aku lupa. Belum nyetok bahan makanan lagi. Atau mau beli apa, terus makan di rumah?"
Judal yang tak suka teriak-teriakan begini terus, akhirnya meminggirkan motornya dan menoleh kearah Alibaba.
"Boleh aja. Tapi kan kau bilang nggak punya bahan. Mau beli kemana?"
"Pasar." Jawab Alibaba. Singkat. Padat. Tepat.
"Supermarket?" tanya Judal bingung.
"Bukaaaaaaan..." Alibaba mengibaskan tangannya dengan wajah meremehkan. "Pasar laaah."
Judal kelihatan tidak mengerti.
"Pasar Induuuuk." Jelas Alibaba. "Jam segini emang udah sepi sih. Tapi yang jualan pasti masih ada. Bisa pilih sendiri bahan-bahannya."
"Nggaaaaak!" elak Judal mentah-mentah. "Maksudmu pasar tradisional? Becek, debu, kotor, nggak ada tempat parkir...bahan-bahannya nggak jelaaas." Judal bergidik jijik sendiri.
"Ayolaaaaaah." Rengek Alibaba. "Aku nggak bisa hidup mewah sepertimu. Bisa dong, mengalah sedikit? Hidup sederhana itu seru kooook."
Judal mengalah. Ia benar-benar mengendarai sepeda motor ke arah pasar tradisional mana yang dikehendaki Alibaba.
.
.
.
.
.
.
.
Hari telah menjelang malam. Jafar bisa melihat siluet cakrawala yang indah. Perpaduan oranye, merah, abu-abu, kuning, jingga, biru hingga hitam terpampang jelas dari jendela geser apartemennya di lantai lima. Cowok Belanda ini tengah asyik dengan naskah novelnya. Yah, mencoba peruntungan tidak salah kan? Ia ingat bahwa jam sepuluh nanti acara kesukaannya di TV akan ditayangkan. Maka, ia buru-buru membersihkan rumah, mencuci piring, mengirim cucian kotornya ke binatu di lantai dasar dan memasak cemilan untuk teman nonton agar bisa santai dengan sungguh-sungguh.
"Permisi."
Sesosok tinggi bersuara dalam masuk begitu saja dengan santainya ke dalam apartemen Jafar. Cowok Belanda itu melongok, dan langsung menubruk sang kekasih begitu saja. Mencurahkan kasih sayangnya lewat kecupan ringan di ujung bibir kekasihnya. Sinbad merona. Ia tersenyum hangat pada Jafar seraya mematikan microwave yang sudah mengoceh dari tadi.
"Tumben sekali mau mampir." Jafar duduk berselonjor diatas sofanya. Ia sudah mengenakan celana piyama dan kaus oblong oversized. Penampilannya memang seperti mau tidur. Namun Sinbad hanya terkikik dalam hati. Jafar tidur selalu mengenakkan jaket katun atau sweater, meskipun musim panas terpanas sekalipun.
"Memang kenapa? Kau saja yang tak pernah mau main kerumahku." Jafar membuat popcorn dengan lelehan coklat, karamel dan marsmallow yang saling bertumpuk. Bau harum, manis legit dan sedikit pahit yang lezat. Namun sebelum Sinbad mencicipinya, Jafar sudah memonopoli mangkuk popcorn-nya.
"Milikku." Ikrarnya. Dan Jafar makan sendirian.
Acara yang dia tunggu adalah sebuah kontes menyanyi. Ada seorang pria kulit hitam yang menjadi jagoannya. Jafar menonton acara itu sampai selesai. Mulutnya tak pernah berhenti mengunyah. Sinbad, dengan penuh perhatian memangku kepala sang kekasih. Membelai helai-helai rambutnya yang sewarna gading berkilau itu dengan penuh cinta.
"Sin, menurutmu Opera akan lancar, tidak?" tanyanya gamang.
"Aku mempercayaimu. Dan Alibaba Saluja tentunya." Jawab Sinbad santai. Senyumannya seakan bisa menyapu badai terdahsyat sekalipun.
"Apa aku boleh meminta bantuanmu?"
"Selama aku masih bisa melakukannya, dan hal itu rasional."
Jafar menggelosor turun dari pangkuan Sinbad, lalu menyandarkan punggungnya ke lengan sofa. Dengan tangan kiri, ia memindah saluran televisi.
"Apa subsidi silang bisa diberlakukan tanpa syarat?" tanya Jafar.
"Kau membicarakan Lawrence, sayang?" Sinbad membelai rambutnya. "Meskipun kita memiliki Komite Sekolah, Program Subsidi Silang adalah hak penuh seorang kepala sekolah. Syarat penerimanya adalah jika siswa tersebut memiliki pendapatan dibawah seperlima dari pendapatan rata-rata keluarga siswa lain, berprestasi, dan..."
"Bukan itu maksudku." Tukas Jafar. "Aku membicarakan Alibaba."
"Dia? Kami memang tidak memberlakukan subsidi silang padanya, karena dia mampu membayar uang sekolahnya. Mendiang walinya telah memberikan beberapa investasi kepada Kepala Komite untuk menjamin kelanjutan pendidikan anak itu."
Jafar terdiam. "Alibaba suka mendengkur."
"Saat tidur? Itu adalah sesuatu yang wajar, sayang."
"Tidak. Saat dia terbangunpun. Aku pernah tak sengaja mendengarnya. Saat dia sedang mendengarkan harmonisasiku dan Judal. Ia seperti menggeram, namun bunyinya seperti jauh dalam dadanya. Kau tahu, seperti bunyi kucing mendengkur."
Sinbad kelihatan bingung. "Jadi?"
"Aku rasa, dia mengalami gangguan kesehatan serius.."
.
.
.
.
.
.
.
"Aku tak tahu bahwa ayam bisa dinikmati dengan cara begini."
Alibaba tertawa. Ia kembali mengambilkan Judal potongan dada ayam dan butiran kacang kedelai yang dimasak dengan bumbu kari dalam ceret perebus air. Kari pedas itu dimakan dengan nasi hangat berdua, ditengah hujan deras dengan petir yang cetar membahana dan badai yang menggelegar. Dari pasar, yang dibeli mereka berdua adalah banyak sekali bumbu dan rempah, sepotong dada ayam dan kacang kedelai.
"Aku juga lupa kalau ternyata punya ceret. Uhuk."
"Kau tersedak? Kuambilkan minum."
Alibaba terbatuk. Ia merasa tenggorokannya seperti disumbat segumpal daging yang tersangkut begitu saja. Cowok pirang itu berlari ke kamar mandi, menunduk di dekat kloset sambil terus terbatuk hingga paru-parunya terasa seperti mau pecah. Alibaba menekuk lidahnya kedalam, dan meludahkan segumpal mukus berwarna bening, kuning, kemerahan dan sangat padat. Hingga batuknya tak bersuara lagi, lendir itu terus keluar. Tenggorokan dan paru-parunya merasa lebih sakit. Pupilnya mengecil ketika lendir itu menjadi lebih encer, kental, hangat dan berwarna merah gelap.
Darah.
Alibaba meludahkan sisa-sisa di dalam mulutnya, lalu berkumur hingga mulutnya tak terasa asin lagi. Dadanya terasa sangat nyeri, hingga membuatnya lemas dan nyaris tak bisa berdiri. Setelah mengumpulkan kekuatan, ia berjalan keluar dengan santai seakan tak terjadi apa-apa. Judal menatapnya dengan pandangan aneh dan memberikannya segelas teh panas.
"Sepertinya kau menelan ayam bulat-bulat." Kata Judal.
"Yah, aku sepertinya harus belajar mengunyah lebih pelan." Balas Alibaba. Ia menyambar teh panas yang dibuatkan Judal dan menyesapnya pelan-pelan.
"Oiya," Judal kembali mencomot satu sendok penuh kedelai. "Kau sudah memikirkan lagu untuk Opening, Alibaba?"
Mata Alibaba melebar. Lalu seulas senyuman tanpa dosa terurai di bibirnya yang tipis.
"Pikirkan sesuatu yang anti-mainstream. Opera kita nanti nggak hanya ditonton siswa dan guru, tetapi para anggota Komite dan orangtua murid."
"Kalo closing-nya kita kasih sesuatu yang bombastis kayak flash mob gimana?" mata Alibaba terlihat semangat dan berbinar-binar.
"Terserah kau saja sih. Aku hanya tinggal mematuhi." Kata Judal praktis.
"Tentu, aku memikirkan sesuatu yang anti-mainstream." Tukas Alibaba. Jarinya terarah ke Judal. "Kau."
"Nggak." Bantah Judal datar. "Aku tak suka jadi pusat perhatian."
"Tapi kau mau jadi peran antagonis Opera." Ujar Alibaba.
"Bukan begitu. Memang sih, jadi lebih unggul itu keren. Tetapi...apakah lebih unggul itu harus jadi terkenal? Jujur saja, aku tak mau siapapun mengenalku sedetail mungkin."
Alibaba tersenyum. Bangga akan talenta dan prinsip Judal yang teguh, sekaligus benar-benar jengkel dengan sikapnya yang keras kepala. Yang ada di kepalanya saat ini adalah Judal yang membawakan sebuah lagu, secara solo, diatas panggung dengan seragam Lawrence dan kelihatan seperti superstar.
"Bagaimana kalau kau menentukan lagunya sendiri?"
.
.
.
.
.
.
.
Pada hari kamis, Alibaba berdiri di depan seluruh peserta Opera dengan seragam hari Jumat yang dijuluki Summer Tan (jas panjang katun dengan hoodie, kantung dibagian dada dan pinggang serta berwarna coklat tan, kemeja, dasi, celana panjang dengan dua kantong belakang ala celana jeans), yang entah kenapa membuatnya terlihat seperi seorang eksekutif muda yang masih fresh graduated. Di ujung, Jafar tidak mengenakkan jasnya, lengannya digulung. Judal tidak mengenakkan dasi, begitu juga dengan beberapa anak-anak lain. Aladdin selalu rapi dan bersih.
"Choir lengkap?" tanyanya.
"Lengkaaaap~" teriak salah seorang di belakang.
"Instrumental?"
"Complete!" Sphintus berteriak lantang.
"Cast?"
Jafar hanya memberikan isyarat positif.
"Oke, ada sedikit perubahan jadwal. Tadi pagi Kepala Sekolah mengingatkan aku untuk membawakan beberapa lagu wajib di Lawrence pada saat Opera sebagai salam pembuka. Yang aku tahu hanya Vois Sur ton Chemin. Memang ada berapa lagu?"
"Ada beberapa versi," Jawab Jafar. Otoritasnya membungkam beberapa orang yang mengobrol di belakang. "Vois Sur ton Chemin itu wajib. Tapi kita bisa pilih lagu lain, asal berbahasa Perancis seperi L'amour de Moi, Frere Jacques, Caresse Sur L'Ocean. Gaudeamus Igitus juga boleh. Dan Santa Lucia, meskipun kedua lagu itu tidak berbahasa Perancis."
"Berapa lagu yang harus kita bawakan?" tanya Alibaba lagi.
"Tiga." Jawabnya. "Penyambutan orangtua murid, petinggi sekolah, lalu guru-guru. Setiap tahap harus dikoordinasikan terlebih dahulu, supaya ketika hari H, lagu tidak habis setelah Tamu Kehormatan duduk atau sebaliknya, lagunya habis duluan."
"Itu saja?"
"Oh, iya. Dan satu lagi yang menjadi ciri khas Lawrence."
Jafar berjalan sangaaaaaaaat jauh, hingga hampir masuk ke ruang teknis Audiotorium. Ia melakukan stakato triple sebanyak enam kali dan menarik nafas panjang. Ia membuka beberapa teks lagu dari smartphone miliknya dan mulai membuka suara.
Sul mare luccia l'astro d'argento,
Placida è l'onda, prospero è il vento
Sul mare luccia l'astro d'argento,
Placida è l'onda, prospero è il vento
Alibaba ternganga. Dari jarak sejauh itu, dan tanpa mic, Jafar bisa menyanyikan nada terendah di dalam lagu Santa Lucia dengan begitu jelas. Heldensopran-nya yang diasah dengan sangat baik memang sudah jauh menurun akibat terapi hormon, namun suara melengking-namun-merdu khas sopran-nya masih belum hilang.
"Nah," ia berjalan lagi ke panggung, "Kalian juga bisa melakukannya. Pastikan saja suara kalian bisa sampai ke paling ujung bangku saat menyanyikan lagu untuk para Tamu Kehormatan."
"Bagaimana caranya?" celetuk Aladdin gamblang. "Tessitura Jafar-san sangat luar biasa. Choir terlatih pasti susah mengimbanginya.
"Kasih yang normal-normal saja, Muses." Cibir Jafar.
"Tentu saja kalian bisa." Jafar masih berusaha menenangkan. "Didalam hukum fisika, dikenal istilah resonansi. Dan hal ini berlaku di dunia musik juga. Semakin banyak jumlah kalian, semakin banyak resonansi yang diteruskan. Singkatnya, kalian dapat memperbesar suara satu sama lain."
Keren, batin Alibaba.
"Jadi, bisa kita mulai latihan ini?" Jafar melirik Alibaba yang masih menganga.
"Hell yeah!" teriaknya.
Sebagai langkah awal, Jafar mengajarkan Alibaba bagaimana bernyanyi dalam paduan suara. Beberapa teknik vokal dasar sudah ia kuasai. Jafar menyuruhnya mencoba menyanyikan lagu Caresse Sur L'Ocean.
"Caresse Sur...L'Ocean..."
"Tidak, Alibaba. Lebih dalam lagi."
"Caresse Sur...L'Ocean..."
"Bukan, bukan begitu. Kenapa malah jadi makin tipis?" omel Jafar jengkel.
Alibaba menarik nafas. Ketika ia menyanyikan lirik itu berkali-kali hingga akhirnya didapatkan level yang diinginkan Jafar, dadanya terasa begitu sesak. Ia berulang kali menarik dan menghembuskan nafas untuk merelaksasikan diafragmanya. Ia mengangguk mantap, namun tubuhnya terasa aneh. Entah karena tidak terbiasa atau tidak enak badan. Ia merasa tubuhnya ringan. Lalu, Alibaba memutuskan untuk duduk. Tenggorokannya terasa gatal. Ia terbatuk-batuk keras dengan bunyi serak seperti orang yang tengah terserang batuk berdahak. Suara batuk Alibaba mengundang perhatian orang. Beberapa orang menjerit ketika darah terciprat ke lantai. Alibaba menunduk, sedikit panik karena darah dari tenggorokannya tak kunjung berhenti. Judal dan Aladdin, serta beberapa orang lain langsung menghampirinya. Judal sigap menepuk-nepuk punggung dan dada Alibaba dengan lembut untuk mengurangi rasa sakitnya. Aladdin sigap menelpon ambulans.
"Apa yang kau rasakan, Alibaba..." kata Judal dengan nada yang sangat protektif.
"Sesak..." lirihnya, sebelum akhirnya cowok pirang itu ambruk di pelukan Judal.
.
.
.
.
.
.
.
WUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA akhirnya bisa updaaaate. Karena author sudah kelas 12, sepertinya saya akan jarang posting. Makasih bagi para readers yang masih setia membaca walaupun review kalian tak pernah saya balas. Author ini manusia biasa (cenderung tuman), jadi maklum ya kalau ada yang dibalas via PM atau nggak ada.
Yosh, sekian bacotan saya. Saya tunggu review anda sekalian #plak
