Melukis Langit

Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.

Rate: T

Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.

.

.

.

.

.

.

.

IX: Explode

"A heart filled with anger has no room for love."

- Joan Lunden, Wake-Up Calls: Making the Most Out of Every Day-

Untuk ke duapuluh kalinya Judal membolos latihan Opera. Alibaba masih belum kembali setelah nyaris sepuluh hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Dokter bilang ia terkena Pulmonary Embolism, atau embolisasi paru-paru, adalah penggumpalan darah yang terbentuk di vena dalam paru-paru. Menurut diagnosis dokter, ada semacam trauma (luka dalam) besar akibat pukulan benda tumpul di salah satu rongga dadanya, dan menyebabkan aliran darah menuju paru-parunya sedikit terhambat, dan lambat laun terbentuk penggumpalan serius karena aktivitas lain.

Aladdin yang menanggung semua biaya perawatan Alibaba. Ia jugalah yang menempatkan cowok pirang itu ke presidental suite room dan menjaganya setiap kali Judal hendak datang menjenguk. Entah kenapa, kehadiran Aladdin membuatnya canggung ingin bertemu Alibaba akhir-akhir ini. Setelah menimbang-nimbang, Judal mendorong pintu ruang rawat dan memberanikan masuk. Aladdin menoleh.

"Hai," sapanya kikuk. "Aku bawa bunga."

Aladdin hanya memberikan tatapan sengit. "Kau harusnya latihan Opera."

"Kau juga bolos." Sembur Judal.

"Cukup aku dan Alibaba-kun saja. Kau tidak ada perlu, Judal. Nanti Jafar bisa marah."

"Peduli setan pada Jafar. Dia bisa melakukannya sendiri."

Hening.

Judal mengganti bunga kering di sudut meja rawat Alibaba dengan bunga segar yang dibawanya. Pemuda pirang yang akhir-akhir ini mengisi hidupnya kini terbaring dengan tenang, masih mengenakkan masker oksigen meski kondisinya sudah stabil. Kata dokter, kondisinya sempat drop saat operasi sehingga ia harus mendapat transfusi tiga kantung darah golongan B negatif. Tetapi, untuk seorang pengidap Pulmonary Embolism, dia benar-benar tangguh bisa bertahan dalam kondisi seperti itu.

"Apa dia sudah bangun?"

Aladdin mengangguk. Tidak ada jawaban.

"Lalu tidur lagi?"

Lagi-lagi Aladdin mengangguk.

Keheningan ini sebenarnya menyebalkan. Judal berusaha tidak peduli dengan Aladdin. Ia duduk di ranjang Alibaba, persis di sebelahnya, di sisi lainnya ada Aladdin. Judal menunduk, mengusap rambut Alibaba secara singkat, sebelum tangan Aladdin menangkap pergelangan tangannya. Namun, genggamannya terlalu kuat untuk dibilang menangkap.

"Hey," kilahnya. "Sakit, bocah!"

"Kau munafik, Judal." Lirih Aladdin. Kuku-kukunya yang pendek dan tumpul menghujam kuat di lengan Judal hingga menimbulkan bekas garis-garis yang pendek dan dangkal.

"Apaan, sih? Lepaskan aku!" erang Judal sambil menepis-nepis tangan Aladdin.

"Kau munafik! Pikirmu aku tidak tahu, kalau kau juga menyukai Alibaba?!"

Hening. Mendadak pikiran Judal kosong.

Aladdin menarik Judal hingga terseret menjauhi ranjang Alibaba. Aladdin mendorong, memukul dan menendangi Judal dengan amarah yang meletup-letup. Ia sendiri tidak begitu merasakan sakit. Judal hanya tidak mengerti kenapa Aladdin melakukan semua ini.

"Teganya kau! Teganya kau menusukku dari belakang! Apa kau malu mengakui perasaanmu sendiri?! Atau kau hanya mau melukai Alibaba? Kau bajingan munafik!"

Refleks, Judal melayangkan suatu tamparan. Aladdin terpelanting meski tak begitu jauh. Sementara pemuda berambut hitam itu hanya memandangi tangannya sendiri dengan sangat terkejut, seakan tidak menyadari apa yang telah ia lakukan.

"Tentang apa yang kulakukan dengan Alibaba, itu bukan urusanmu." Nada bicara Judal mendadak meninggi. "Kau juga menyukainya, kan? Apa pernah kau bersamanya di dalam zonanya? Merasakan penderitaannya? Atau berbagi cerita dengannya?"

Aladdin membuang muka dengan sikap arogan.

"Aku hanya ingin membuatnya senang. Aku punya segalanya. Dan akan melakukan segalanya."

"Segalanya?" tanya Judal dengan nada retoris. "Kau hanya membawanya ke dalam zonamu sendiri. Kau hanya tidak ingin susah, kan? Kau hanya mencintai dirimu sendiri! Lebih baik cuci wajahmu dengan air keras, dan bercerminlah, siapa yang bajingan munafik sekarang!?"

.

.

.

.

.

.

.

Jarang sekali Jafar datang ke rumah pamannya, Yunan.

Pria itu, sejujurnya memiliki selera aneh dalam mendesain rumah. Tanahnya tidak luas, dibuat tingkat tiga tanpa tangga, hanya jalanan spiral yang menanjak dan tidak begitu curam. Tema rumah itu, menurut penaksiran Jafar adalah hutan hujan tropis di dalam rumah kaca yang ditabrak-larikan dengan Alice in Wonderland. Ada sebuah kolam ikan besar bergaya Jepang berisi ratusan ikan koi di tengah rumah. Sofa-sofanya kebanyakan dibuat single couch atau ayunan, dengan dasar kayu dan diberi bantalan empuk. Meskipun penuh sesak dengan tanaman tropis yang dijejalkan dan ditata menyerupai sebuah taman botani, Jafar akui sebenarnya tempat ini nyaman—setidaknya kalau kau hanya menyinggahinya dua kali dalam sepuluh tahun.

Dan itulah yang Jafar lakukan.

"Jarang sekali kau mau memenuhi undangan minum tehku, mon cher neveu." Seru Yunan berseri-seri. Ia mengenakkan setelan hakama ala Cina yang berwarna hijau tua dan biru metalik. Motifnya seperti...antara naga dan bulatan rumit aksen Cina. Meski baju itu sangat cocok untuk tubuh kurus dan rambut serta matanya, baju itu membuat Yunan kelihatan salah kostum saat dia menyajikan teh dan makanan pendampingnya.

"Dua kali," tegas Jafar. "Aku mengunjungimu dua kali semenjak hutanmu selesai dibangun."

"Mon Dieu, kau jahat sekali." Yunan tersenyum getir. "Silakan,"

Teh Irish Breakfast didampingi dengan Almond Shortbread dan semacam bagel mini dengan topping ham dan mentega. Jafar tidak suka teh, minuman itu terlalu mellow dan emosional. Namun demi menghargai selera pamannya yang menggilai estetika, ia meminumnya dengan setengah enggan.

"Kelihatannya kau bekerja sangat keras dalam Opera kali ini." Ujar Yunan dengan senyum manisnya yang dipenuhi teka-teki.

"Sangat sangat keras." Jawab Jafar. "Saat Alibaba sakit, dua orang Countertenor menghilang seperti ditelan gurun pasir. Menurutmu, apakah seorang siswa Countertenor semikounduktor dapat menangani sekitar 500 personal Opera?"

"Mais non." Kata Yunan, menghirup dalam-dalam aroma tehnya. "Kau harus memaklumi mereka, Jafar. Kurasa, kedua anak itu memendam perasaan kepada Alibaba Saluja."

"Dua?" alis Jafar yang tipis terangkat naik.

"Itu cuma spekulasi. Karena, dalam beberapa kondisi aku melihat seniman itu bersama si gitaris berduaan. Dan frekuensinya lebih sering ketika mereka berada di luar sekolah. Seperti...kurasa Judal mengantar Alibaba pulang."

Jafar meletakkan cangkir tehnya. "Jadi begitu..."

"Kau sendiri sepertinya sudah jauh berkembang, ya. Dengan Kepala Sekolah."

Raut muka Jafar berubah jijik, seakan dia menyadari bahwa tehnya terasa masam dan dia tak bisa menghilangkan rasa itu dari langit-langit mulutnya.

"Kena telak, ya?"

"Dia cuma orang bodoh," tukas Jafar. "Tidak perlu terlalu serius."

"Masalah serius...kurasa sudah saatnya kau mencoba sesuatu yang serius." Yunan mengambil sebuah bagel dan memakannya dengan cepat. "Kau tidak bisa terus hidup hanya dari warisan orang tuamu, keponakanku yang manis."

"Aku tidak bisa melakukannya." Kata Jafar. "Kau tahu, memilih menjadi musisi atau dokter."

"Kau bisa kembali ke Rotterdam kapanpun kau mau."

"Sudah kubilang aku tidak mau jadi dokter." Tegas Jafar.

"Lagipula, aku juga tidak memaksamu. Kau bisa jadi musisi, kan disana?"

Jafar tidak berkata apa-apa.

"Berpikir panjang itu penting." Kata Yunan bijaksana. "Dan aku akan mendukung apapun keputusanmu."

Jafar masih bungkam. Terkadang kata-kata itu murah, sehingga baginya berkata banyak itu tidak penting. Ia memendam banyak sekali rencana di sudut otaknya, untuk ia lontarkan pada saat yang tepat—saat Alibaba Saluja sudah keluar dari rumah sakit.

"Kalau aku boleh saran..." Yunan menuang kembali teh ke dalam cangkirnya. "Kau cukup bagus sebagai seorang conductor. Aku bisa memasukkanmu ke Old Stage di Copenhagen. Dengan bekal lulusan Lawrence dan seorang Countertenor, bagimu tidak sulit."

"Aku mau jadi guru musik." Kata Jafar gamblang. "Aku tidak mau pergi dari Lawrence."

"Aku tidak memintamu pergi, sayang." Kata Yunan lembut. "Belajarlah lagi. Belajarlah di tempat dimana Sinbad menjadi seorang conductor hebat seperti sekarang."

.

.

.

.

.

.

Hari ini hari senin yang indah. Latihan Opera ditiadakan sementara sampai Alibaba Saluja kembali dari rumah sakit. Hari-hari Jafar untuk bekerja keras berlanjut. Namun karena kemarin bagian choir sudah menunjukkan perkembangan yang memuaskan, ia meliburkan latihan untuk sementara. Setelah mengisi jam kosong di kelas Instrumental dengan mengajarkan fase-fase kenaikan tempo, ia memilih kembali ke tempat yang biasanya membuatnya tenang, Audiotorium Gold Phoenix. Sebagian orang bilang tempat itu dingin dan menyeramkan. Beberapa menggunakannya sebagai ajang memadu kasih alias tempat pacaran yang aman dan tentram.

Jafar bukan keduanya, namun di suatu dan beberapa kondisi ia menjadi orang yang kedua. Aula itu tidak pernah dikunci, dan saat Jafar masuk ia melihat seseorang disana. Dengan rambut legam dan postur ramping. Sosok itu duduk di bangku pianis dan sedang membaca partitur nada. Jafar menghampirinya, hendak mendamprat Kepala Sekolah bodoh yang bisa-bisanya kabur dari pekerjaannya yang menggunung dan melandai. Ketika Jafar melayangkan pukulan dari novelnya ke kepala si sosok itu, betapa terkejutnya Jafar ketika mendengar respon si sosok tersebut.

"Aduh!"

"Judal?!" pekik Jafar. "Sungguh, maafkan aku."

"Apa kau biasa memukul kepala orang dari belakang saat kau kira kau mengenalnya?" gerutu Judal kesal.

"Kan aku sudah minta maaf."

Hening.

"Itu... apa yang kau lakukan disini?" tanya Jafar.

"Bukan urusanmu." Ketus Judal.

Jafar mengintip apa yang tengah dibaca Judal. Dari bentuk dan susunan nadanya, lagu yang tengah dia pelajari adalah Concerto pour deux voix yang dinyanyikan oleh Clemencé dan Jean-Baptiste Maunier. Itu bukanlah sebuah lagu dengan lirik, dinyanyikan oleh seorang wanita sopran dan laki-laki Countertenor yang masih treble. Lagu itu dipelajari Jafar beberapa tahun yang lalu saat masih ada di kelas Sopran, sebelum Judal dan Aladdin masuk dan membuat mereka bertiga dipisahkan menjadi kelas Countertenor.

"Dari mana kau mendapatkan lagu ini?" tanya Jafar.

"Aku menjebol loker lamamu." Jawab Judal enteng.

"Kau ini..." Geram Jafar, lalu sejurus kemudian ia menghela nafas. "Judal, kau mau kuajarkan lagu ini?"

"Kenapa aku harus punya alasan untuk mau?"

"Aku tidak tahu," Jafar mengangkat bahu. "Tapi, setelah aku belajar lagu ini, dari sanalah aku berani mengeluarkan seluruh kekuatan suaraku. Lagu ini melatihmu bagaimana mengatur nafas, menaik-turunkan nada dalam kondisi suara Countertenor, bukan sebagai Sopran."

"Memang kenapa?"

Jafar menggaruk tengkuknya. "Kalau mau jujur, aku sendiri kurang suka dengan karakteristik suara Sopran. Menyakitkan telinga untuk didengar, dan tidak mudah untuk melakukannya."

"Tapi kau seorang Heldensopran. Sombong sekali."

"Yang waktu itu? Heldensopran tidak seperti itu. Itu hanya Lyrical Sopran, standar Sarah Brightman. Semenjak aku terapi hormon, aku sudah tidak bisa mencapai Heldensopran lagi."

"Tapi kenapa suaramu masih bisa sampai lima oktaf?" Judal masih kelihatan bingung. "Kau ini terapi hormon. Tidak seperti Aladdin yang belum pecah suara, atau aku yang mengalami perubahan suara setelah operasi faring. Cepat atau lambat, suaramu pasti pecah dan akan jadi...bisa jadi bass, atau tenor. Atau baritone. Mungkin setelah, well—sembuh, kau bisa pindah kelas. Tidak akan ada lagi trio Countertenor. Boom."

Jafar mengusap badan piano dengan tatapan terluka. Judal tidak menyangka pembicaraan itu membuat Jafar tidak sadar meneteskan airmatanya. Lama kelamaan, tangisnya semakin keras. Judal tak tahu harus berbuat apa, maka dia tidak berbuat apa-apa. Sejujurnya, Judal belum pernah melihat Jafar menangis. Ia laki-laki yang sangat tegar. Berpendirian sangat kuat, dan tentu saja, beringas dalam beberapa konteks. Setelah beberapa lama, akhirnya Jafar bisa menguasai diri.

"...Maaf." hanya itu yang terucap dari bibir Judal.

"Mahal sekali harga yang harus kubayar untuk bisa sehat." Jafar mengelap airmatanya. "Kehilangan 4 oktaf. Bisa kaubayangkan itu?"

Judal menggeleng. "Suaraku cuma dua oktaf."

"Sudahlah," Jafar tersenyum getir, lalu mengangkat bahunya. "Setidaknya aku masih punya teknik vokal seorang sopran."

"Itu bisa membuatmu memiliki timbre yang unik." Judal melontarkan dukungan. "Kurasa. Jadi, kita latihan?"

"Kau siap? Kita mulai dari stakato single, double dan triple. Dua kali delapan."

Setelah pemanasan dengan tiga tingkatan stakato, Jafar mulai mengajarkan Judal bagaimana menaikkan intensitas suara sehingga meski dengan suara melengking, pitch tetap terkendali dan tak menyakitkan telinga. Judal mengambil suara dua, suara sopran Clemencé, sementara Jafar mengambil suara satu Countertenor Jean-Baptiste Maunier. Judal memiliki suara sopran yang sangat halus, namun dengan power yang cukup kuat—yang sangat disayangkan tidak bisa dipakai di Fach. Namun, Jafar akui caranya melakukan pancingan untuk menaikkan pitch sudah sangat bagus.

Jafar dan Judal melalui latihan yang lumayan panjang, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memberhentikan latihan mendadak itu.

"Kau sudah jauh berbeda sekarang, Judal." Ujar Jafar tiba-tiba.

Judal membuang muka dengan wajah kesal.

"Tetapi, yah...mungkin kau akan sedikit tersinggung mendengar hal ini, jadi aku minta maaf dulu. Maaf..." Lalu Jafar menghela nafas. "Tapi...setidaknya kau sudah punya niat untuk belajar musik akhir-akhir ini."

Judal mulai menoleh. Tampaknya kalimat tadi memancing perhatiannya.

"Tapi, kurasa niat saja tidak cukup. Ini tahun kelimaku disini, jadi tahun ini aku lulus. Lalu setelah itu kau. Maksudku, oke...kau adalah seorang seniman. Seniman grafis. Yang membuatku sedikit penasaran adalah...kenapa setelah empat tahun kau belajar disini, baru kali ini kau menunjukkan gairahmu sebagai seorang musisi?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Elak Judal.

"Kau tahu maksudku, Judal." Tegas Jafar. "Tentu saja, yang ingin kutanyakan adalah kelanjutannya. Apa kau menjadi siswa di Lawrence hanya untuk pengusir bosan? Atau pencarian jati diri?"

Judal mencengkram sebelah lengannya. Ia mulai memikirkan kata-kata itu. Yang dikatakan Jafar ada benarnya juga. Ia tidak pernah punya maksud khusus saat mendaftar di Lawrence. Sekolahnya santai, dan tidak banyak tekanan. Hanya itu.

"Kenapa kau menanyakan ini?" balas Judal.

"Karena..." Jafar menggaruk tengkuknya dengan canggung.

"Karena?" Judal menaikkan sebelah alisnya dengan sanksi.

"...seluruh lagu yang kau nyanyikan tidak memiliki jiwa. Dan itu sangat fatal jika terjadi di Opera. Alibaba pernah bilang padaku, ada yang salah dengan suaramu. Dan kurasa, hal itu harus diatasi secepatnya atau Scheherazade akan memusnahkan seluruh kerja keras kita di hari H."

.

.

.

.

.

.

"Oh, jadi ini yang namanya poached pear?"

Alibaba memakan sebutir buah pir yang sudah direbus di dalam larutan gula dan rempah-rempah, lalu dimakan dalam keadaan dingin bersama segumpal keju krim. Makanan seenak itu dipesankan khusus oleh Aladdin kepada pihak dapur rumah sakit. Sementara Aladdin sudah selesai makan dari tadi. Wajahnya berbinar dengan sangat manis. Rambut panjangnya tidak dijalin seperti biasa. Alibaba meraih sejumput helai panjang yang selembut handuk bayi itu dengan jemari tangannya.

"Kenapa tidak kau jalin? Kurasa, ini seperti bukan kau." Tanya Alibaba.

"Tadi basah. Aku habis keramas." Jawab Aladdin lembut. "Rambutku agak tipis, jadi harus diperhatikan lebih sering."

"Hoooh..."

Hening.

Alibaba kehabisan kata-kata. Ia tidak pernah punya topik untuk dibicarakan kepada Aladdin. Anak itu terlalu afirmatif, ia pasti akan selalu mengiyakan ucapan Alibaba, dan itu membuat topik dan suasana pembicaraan menguap seratus kali lebih cepat. Ketika melihat laptop Aladdin yang sedang di charge di ujung ruangan, salah satu sudut otak Alibaba memikirkan topik pembicaraan.

"Aladdin, di laptopmu ada game?"

Aladdin menggeleng. "Aku tidak suka main game."

"Kalau begitu...apa aku boleh pinjam?"

"Iya, tentu saja. Tentu kau bisa lakukan sesuatu selain main game, kan?"

"Buka sosial media, mungkin. Di rumah sakit ini ada wifi, kan?"

Aladdin mengangguk. Ia memberikan laptopnya, dan kemudian menggendong tasnya. Meskipun terhitung bolos, kadang Aladdin suka keluar bersama supirnya, Ugo, untuk pulang sebentar sekedar mandi dan ganti pakaian. Alibaba tidak pernah ambil pusing. Toh dari awal dia tidak pernah minta ditemani, dan tidak pernah juga minta ditinggal. Segalanya terasa sama—setidaknya 50% atas hadir-tidaknya Aladdin. Anak itu lebih sering tersenyum dan mendengarkan celotehan ngawur Alibaba.

"Kau punya sesuatu yang mau kau titipkan, Alibaba-kun?" tanya Aladdin ketika mengemasi tasnya.

"Tidak, kurasa. Ah, ada." Bantah Alibaba. "Kalau kau punya buku bacaan, seperti novel atau apalah. Bawakan saja. Sisa lima hari di rumah sakit hanya dengan TV bisa membuatku mati mendadak."

Aladdin tertawa. Ketika berbalik, rambutnya terkibas dan jatuh secara anggun dan lembut. Panjang ujung rambutnya mencapai beberapa senti dibawah pinggul. Ia sedikit tergopoh-gopoh. Alibaba menyadari bahwa anak itu belum menutup resleting tas jinjingnya dan membuatnya menjatuhkan sebuah binder besar. Saat Alibaba hendak memanggilnya, terdengar suara pintu lift terbuka tak jauh dari pintu kamar rawatnya. Maka sudah tahulah ia bahwa Aladdin sudah pergi.

Alibaba menatap binder besar itu. Cuma binder besar biasa dengan gambar chibi jerapah. Benda besar itu tergeletak begitu saja, dalam keadaan terbuka.

Satu menit.

Tiga menit.

Lima menit.

Rasa penasaran Alibaba tergelitik. Ia berusaha beranjak dari ranjang rawatnya yang empuk dan nyaman. Bunyi berderit tiang penggantung infus dan darah terdengar ketika Alibaba berjalan sepuluh langkah dari ranjangnya untuk memungut binder itu. Binder itu terasa tebal dan agak keriting kertasnya. Alibaba kembali ke ranjangnya, dan mulai membuka-buka isi binder itu.

Ada sebuah kertas partitur nada yang dilubangi 26 buah di sebelah kirinya. Kertas-kertas lain berisi kertas loose leaf yang bertuliskan jadwal kegiatan harian biasa dan materi pelajaran. Ada daftar kontak orang-orang juga, seperti alamat, nomer telpon, akun jejaring sosial, dan lain sebagainya. Ada potongan kata-kata yang digunting dari majalah dan disusun menjadi kata-kata penyemangat berdesain scrapbook. Ada sebagian album foto juga. Kebanyakan foto Aladdin dengan Jafar, dengan berbagai pose narsis dan kata-kata tambahan yang manis khas diari anak perempuan. Ada fotonya bersama Ugo juga, teman-teman lain seperti Morgiana, Hakuryuu, Titus dan...Alibaba, ya. Meski Aladdin jarang bergabung, anak itu masih dalam peer group yang sama dengan Alibaba. Lalu ada foto makanan dan resepnya, yang sepertinya entah guntingan dari majalah atau Aladdin makan di restoran lalu mencatat detail-detail dalam menunya.

Segalanya manis dan biasa.

Yang tidak biasa adalah ketika Alibaba menemukan suatu folder dimana hanya fotonya yang ada disana. Ada yang sengaja, candied, snapshoot, di unduh dari akun jejaring sosialnya, bahkan foto-fotonya semasa kecil juga ada. Dan disetiap fotonya, terdapat tulisan sambung berwarna emas yang bertuliskan,

My Prince of Wonderland.

Kalimat itu tidak hanya satu, dua, lima, melainkan ada pada setiap halaman dan setiap foto di folder ini saja. Kata-katanya juga beragam. Seperti,

He's mine and always be mine.

Perfectly Gorgeous.

Outrageous, silly but absolutely Stunning

Jantung Alibaba berdebar hebat. Foto-foto dan kata-kata di folder itu semakin banyak terlihat. Pada satu kalimat akhir dimana mungkin foto-fotonya belum dimasukkan lagi oleh Alibaba, tertulis disana dengan tinta hitam dan terjiplak jelas, hingga kalau alat tulisnya ditekan sedikit lagi, maka kertas itu akan sobek.

Aku benar-benar menggilai Alibaba Saluja. Sangat. Aku tidak bisa sehari saja tidak mendengarkan suaranya, melihat wajahnya, menertawakan candanya yang variatif, menghirup aroma tubuhnya, merasakan hangat tubuhnya, mencumbui bayangnya dalam racapanku, hingga mengkhayalkan cintanya akan sampai padaku.

Aku bukan bermimpi muluk, ataupun munafik. Aku sangat mencintainya. Aku tidak peduli, dan aku tidak akan biarkan siapapun memiliki Alibaba. Kalaupun dia tidak cinta padaku, akan kubuat dia mencintaiku. Aku tidak ingin menjadi orang suci yang harus merelakan orang yang kucintai mencintai orang lain. Pengorbananku harus kurang dari, atau sama dengan hasil yang kudapat.

Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja Alibaba Saluja

Aku menginginkanmu.

Tanpa sadar, Alibaba melempar binder itu menjauhi dirinya. Tubuhnya gemetar, lalu ia mencengkram bantalnya kuat-kuat. Keringat dingin mengucur menuruni dahi dan dadanya. Tidak, tidak ada satupun dari konten binder itu yang membuatnya ketakutan. Melainkan aura, penggambaran dan perasaan yang tiba-tiba mengaliri seluruh inderanya, membuat detak jantungnya melonjak empat kali lebih cepat dari seharusnya. Ia bisa merasakan apa yang diinginkan Aladdin. Itu bukan cinta, melainkan obsesi gila. Alibaba berulang kali menggelengkan kepalanya, berusaha memungkiri apa yang tadi dia lihat.

Binder itu masih disana.

Apa yang dia baca adalah kenyataan.

Alibaba menyesal melanggar pepatah lama yang mengatakan jangan menyentuh apa yang bukan milikmu. Karena, apa yang bukan milikmu memang benar-benar tidak dibuat atau di desain untuk dicerna inderamu. Alibaba menutup matanya, berusaha melupakan seluruh informasi yang secara haram ia dapatkan.

"Hey, kau bangun, kan?"

Alibaba terlonjak. Sosok berambut panjang, menatapnya dengan pandangan bingung dan sedikit terkejut. Tapi itu bukan Aladdin, sungguh. Rambutnya hitam legam hingga mata kaki, tebal dan dijalin rapi. Ia mengenakkan seragam Lawrence tanpa jas, digantikan oleh sehelai jaket kulit cokelat tembaga. Mata rubinya memancarkan sesuatu yang hangat. Alibaba mengelus dadanya, dan mempersilakan sosok bernama Judal Al-Sarmen itu untuk masuk. Tatapan hangat Judal hanya berarti satu kesimpulan, ide brilian.

"Sudah lama sekali aku tidak lihat wajahmu, teman seperjalanan." Alibaba menawarkan tinjunya pada Judal, dan ragu-ragu, Judal meninju kepalan tangan Alibaba sebagai salam akrab.

"Ada banyak hal yang terjadi." Kata Judal seraya mengambil sepetak tempat di ranjang Alibaba untuk duduk. "Jafar memintaku menyanyi solo untuk pembukaan. Kau tidak boleh tahu apa lagunya. Lalu, mungkin untuk sementara sampai kau sembuh, aku akan mengambil alih pekerjaanmu."

"Apa?" pekik Alibaba tidak tanggap.

"Bodoh." Ketus Judal. "Tidak ada siaran ulang."

"Oke..." Alibaba memutar bola matanya ragu-ragu. "Judal, kau mau dengar? Aku tak tahu harus cerita pada siapa. Karena kau selalu tidak peduli, maukah kau mendengarkan? Cuma jadi sekedar penghilang beban saja."

Judal mengangkat bahu.

"Oke..." Alibaba mengatur nafas. "Kurasa..."

Hening. Alibaba menunduk dalam-dalam.

"Aladdin menyukaiku. Maksudku...terobsesi. Aku tidak bisa menggambarkannya, tapi kurasa dia rela melakukan apa saja untuk mendapatkanku."

Judal kelihatan terkejut, tapi ekspresi itu cuma sekejap mata. Setting wajah Judal yang ketus permanen kembali terlihat. Ia tidak berkata apa-apa. Judal hanya menaikkan bahu dan kelihatan tidak peduli seperti biasa. Alibaba merasa setengah beban mentalnya terangkat.

"Aku menyabotase rumahmu. Cuma numpang makan atau tidur siang. Tapi kubereskan lagi bekasnya. Aku harap kau tak keberatan. Kalau tagihan listrikmu naik, tulis saja nominalnya. Aku akan bayar kira-kira yang aku pakai saja."

Alibaba tersenyum geli. Mulut Judal selalu melontarkan serentet informasi yang padat dan kompleks dengan kecepatan cahaya. Alibaba menganggap Judal sebagai orang yang perlu dimengerti secara khusus, bukan orang menyebalkan seperti stigma orang kebanyakan tentang Judal. Dan cara bicaranya, adalah salah satu sisi humor yang bisa sedikit menghibur Alibaba.

"Iya." Jawab Alibaba, dan hanya itu jawaban yang aman baginya. "Apa lagi yang kau perbuat selama aku pergi, Tukang Bajak?"

Judal tersenyum, ia melemparkan sebuah CD-R dan senyumannya makin lama makin lebar. Alibaba merasa sudah pergi terlalu lama dan Judal sudah terlalu jauh mengacak-acak kerjaanya.

"Ini proyek besar. Tontonlah. Kutunggu hasilnya seminggu lagi."

Lalu Judal hilang begitu saja.

Tidak seperti hantu, tentunya. Ia pulang begitu saja tanpa pamit.

.

.

.

.

.

.

GILAAAAAAAAAAAAAAAAA DEMI APAPUN CAPEK BANGET NGETIK INI CHAPTER! Saya apdet karena saya sangat mencintai readers sekalian. Saya harap nggak ada yang bosen baca fic ini karena alibaba jadi dongo dan nggak peka padahal udah dikodein dua uke #heh

Untuk chapter ini, meski pake istilah yang asing, saya ga tambahin banyak a/n kayak chapter sebelumnya karena sengaja sudah saya jelaskan di fic itu sendiri. Tapi, kalo ada yang mau tau lebih lanjut atau ada yang kurang 'ngena' pada istilah asing yang di deskripsikan di fic, silakan anda protes (?), maka akan saya buatkan a/n tersebut di chapter selanjutnya.

Seperti biasa, author mau sebar gosip dulu.

Chapter depan ada iya-iyanya Aliju dan kepergok ALADDIN! *W*)8

Dan siapakah yang akan dipilih oleh Alibaba sebagai uke?

YUNAN! #ngawur

Yosh, sekian dulu. Tetep RnR fic ini ya. Ai lop yu all my readers :********