Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
X: Rehearsal
"Art and love are the same thing: It's the process of seeing yourself in things that are not you."
― Chuck Klosterman, Killing Yourself to Live: 85% of a True Story
Judal menggenggam mic dengan mantap. Latihan gerilya yang ia lakukan dengan Jafar sudah berjalan dua minggu kurang. Dua minggu kurang adalah waktu pelaksanaan Opera. Alibaba sudah kembali mengambil peran sebagai Solo Guitarist. Aladdin juga sudah tidak membolos lagi. Latihan gerilya ini adalah suruhan Kepala Sekolah, yang memang diperuntukkan untuk Jafar dan Judal yang akan lulus Desember nanti. Karena kelas Countertenor tidak memiliki banyak siswa, butuh kerja super keras untuk membuat upacara kelulusan mereka benar-benar memukau penonton. Tangan Jafar agak gemetar ketika ia mulai merombak ulang not-not yang pas untuk suara halus Judal yang kini mulai beraksen kasar.
"Kau sudah siapkan baju, belum? Aku sebenarnya sudah pesankan ke bagian Wardrobe. Kau pakai ukuranku cukup, kan?" tanya Jafar datar.
"Entah. Antara kepanjangan dan kesempitan." Balas Judal.
Jafar tersenyum. Ia berdiri berhadapan dengan Judal, mengukur tinggi cowok berambut hitam itu dengan puncak kepala masing-masing. Kemudian, Jafar menggenggam lengan atas dan bahu serta pinggang Judal, lalu mendesah kecewa.
"Mungkin kebesaran." Ujarnya. "Kau kecilkan sendiri, ya?"
"Eh?" Judal menepis tangan Jafar dari pinggangnya. "Sejak kapan kau tumbuh segemuk itu?"
"Tidak gemuk!" seru Jafar kesal. "Bisa dibilang, terapi hormon itu membuatku mengalami penambahan massa otot yang signifikan."
"Tapi temperamenmu masih seperti anak SMP yang kena PMS." Cibir Judal.
"Apa?!"
"Tidak..."
Mereka terdiam. Dua pasang mata itu menatap sesuatu yang dibingkai. Sertifikat kelulusan mereka. tidak terasa sudah lima tahun mereka berdua berada di kelas khusus ini. Menjalani semua latihan dan pertunjukan musik, meski lebih banyak tidak melakukan apa-apa. Keduanya tidak menyangkal bahwa Kepala Sekolah benar-benar mengerahkan seluruh usahanya untuk mendidik anak-anak istimewa. Mereka, para Countertenor.
"Setelah ini bagaimana?" tanya Judal gamang. "Aku tidak ada tujuan."
"Belum ada." Ralat Jafar. "Nanti juga ada. Tidak harus jadi artis, toh?"
"Kau ada?" Judal menghempaskan badannya ke kursi, lalu menaikkan kedua kakinya ke atas badan piano. "Mau lanjut jadi dokter di Erasmus?"
"Tidak, kurasa. Yunan menyuruhku untuk ke Demark. Berlatih di Old Stage, mungkin paling lama dua tahun, lalu berakhir menjadi komposer. Atau aku bisa mengajar di sini."
Judal mengangguk paham.
"Kurasa, kau punya suatu bakat yang luar biasa. Maksudku, right brain prodigy." Ucap Jafar.
"Right...apa? Jangan gunakan istilah medis. Aku tidak pernah sakit." Ketus Judal.
"Jenius otak kanan. Memiliki kecerdasan seni diatas rata-rata untuk semua bidang. Seperti musik, seni rupa... yah, banyak."
Judal masih diam.
"Sambil mengecilkan bajumu, mungkin...aku bisa mengajakmu ke suatu pertunjukan. Dan mungkin kau suka." kata Jafar.
"Kau bicara seakan seperti kita tidak sibuk saja." Judal mengeluh. "Iya, nanti."
.
.
.
.
.
.
.
"Alibaba, intro-nya salah."
Alibaba melongo. Ia memejamkan mata, dan nyengir lebar ketika Jafar mengoreksi permainan gitar listriknya pada lagu Born for this. Ia mengulang intro kedua di verse kedua, setelah refrain dan chorus. Ia memainkan lagi intronya dan Jafar kemudian menggeplak kepalanya.
"B5-nya mana? Kan sebelum masuk verse 1, ada B5 yang terakhir." Omel Jafar.
"Aduh!" Alibaba meringis. Ia mencoba memainkan intro lagi dan kemudian baru menemukan kesalahannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa telinga Jafar setajam itu terhadap nada.
"Oiya..." Alibaba mengakui kesalahannya. "Tapi pas di bridge yang terakhir, kan langsung masuk G5."
"Memang. Tapi jangan seenaknya B5 dalam intro sebelum bridge itu dihilangkan, malah langsung loncat G5. Kasihan penyanyinya, tahu." Tegas pria kurus berdarah Belanda itu.
"Oke." Jawab Alibaba pasrah.
Sejujurnya, ia tidak pernah sebodoh ini dalam bermain gitar. Ia sendiri malu, dikoreksi oleh penyanyi, bukan sesama pemain gitar. Gitar listrik baru sekali ini ia pegang. Dan penggunaan efek serta tetek bengek lainnya membuatnya kurang nyaman. Tapi G.I Sharrkhan bilang, untuk ukuran orang yang tidak pernah main gitar listrik sama sekali, Alibaba sudah jauh berkembang. Para Choir sedang berlatih dengan pemain utama masing-masing. Satu-satunya pemain yang tidak berlatih dengan Choir pengiringnya hanyalah Jafar. Alibaba mengerti kenapa ia tidak latihan. Tentu saja, ia merasa bahkan Choir itu sudah tahu bagaimana cara Jafar berstakato atau membunyikan huruf konsonan sekalipun.
Judal tengah memegang naskah, berusaha membuat harmoni yang tidak berat sebelah berselang koreografi pertarungan antara Okeanos dan Neva bersama Hakuryuu. Kekurangan fatal mereka hanyalah mereka saling menunggu untuk masuk, sehingga gap kekosongannya terlalu jauh dan beberapa nada suara mereka ada yang miss.
"Sudah menentukan lagu pembuka?" tanya Jafar lagi.
"Sudah." Jawabnya. "Kau yang mengisinya."
"Aku?!" Nada suara Jafar meninggi, telunjuk kurusnya menunjuk dadanya sendiri. "Kenapa tidak Judal saja?"
Alibaba menggeleng. "Kau ingat rencana closing kita, bukan? Aku tidak ingin membuat suara Judal habis sebelum itu."
"Kau juga ambil bagian, tapi." Tegas Jafar.
"Ya. Kita semua. Aku, kau, Aladdin, Judal, Hakuryuu, Titus, dan bahkan Mor."
Jafar mengangguk puas. Ia membanting naskah dan meminum latte miliknya yang sudah tidak panas lagi. Alibaba menyandarkan gitar listriknya dan mengambil naskah yang tadi dibanting Jafar ke meja, lalu membalik-baliknya.
"Aku tidak pernah mendengar Kepala Sekolah bernyanyi. Atau guru yang lain. Maukah kau...mm...membujuk mereka? Mereka pro, kan? Pasti bisa latihan dadakan." Gumam Alibaba.
Latte yang diminum Jafar muncrat dari hidung. Ia tersedak, terbatuk-batuk cukup lama sampai akhirnya ia bisa mengendalikan diri. Alibaba bingung sendiri. Reaksi Jafar mengenai Kepala Sekolah agak terlalu berlebihan. Agaknya hubungan mereka spesial. Dan Jafar tidak mau mengakuinya.
"Bisa...kuusahakan." katanya parau. "Iya."
"Terima kasih." Alibaba membungkuk hormat. "Pulanglah. Kau sudah disini dari kemarin. Calon wisudawan tidak boleh capek, kan?"
Jafar terdiam. "Tahu dari mana?"
"Aku lihat kau dan Judal ke bagian Wardrobe. Dan ada dua buah Graduation Suit. Karena Aladdin juga tahun pertama, aku simpulkan kaulah yang akan lulus bersama Judal."
Hening. Jafar mengangguk diiringi seulas senyum tipis. Ia mengambil kunci mobilnya dan menuduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Alibaba seraya berbisik,
"Judal atau Aladdin? Jangan plin-plan, Romeo."
Wajah Alibaba memanas. Jafar terkekeh senang, lalu berjalan keluar dari Audiotorium Golden Phoenex. Beberapa anak yang sudah tidak ada kepentingan lagi juga ikut pulang. Banyak anak instrumental yang masih latihan, sementara para Choir sedang fitting kostum. Alibaba berjalan keluar, namun tidak pulang. Ia mencari makan malam dadakan untuk teman seperjalanannya. Ia sudah latihan cukup keras. Pasti ia lapar.
.
.
.
.
.
.
.
"Taraaaa!"
Alibaba terengah-engah, berusaha menyajikan senyum secerah mentari pagi dan sepaket burger keju, kentang goreng dan soda rasa lemon untuk Judal yang bahkan sudah mengenakkan jaket kulit tembaganya—bersiap untuk pulang. Judal tersenyum miring samar-samar, lalu menarik tangan Alibaba menuju sebuah tempat yang agak sunyi dan jauh. Lapangan basket. Lukisan luminous pertarungan antara burung merak dan burung phoenex yang dibuat Judal masih terpatri indah disana. Judal memakan burger kejunya dengan lahap, sementara Alibaba menggigiti kentang gorengnya dengan ragu. Ia hendak mengutarakan sesuatu yang mengganjal diantara mereka berdua.
"Judal, um...selamat, ya. Sebentar lagi lulus." Kata Alibaba.
"Iya." Jawab Judal. "Lima tahun itu lama juga, ya?"
"Bisa-bisanya bilang begitu, padahal sendirinya sama sekali tidak belajar." Cibir Alibaba. Judal langsung cemberut, dan sukses membawa tawa kepada Alibaba.
Judal menandaskan burgernya dengan cepat, lalu minum soda dengan tidak selera karena sodanya sendiri sudah hilang. Hanya rasa hambar, sedikit manis asam dan bau lemon. Ia mengerenyit muak, lalu membuang gelasnya ke tempat sampah.
"Kau banyak berubah." Ujar Alibaba lagi.
"Hah?" Judal menatapnya bingung. "Sok tahu."
"Tidak. Maksudku...kau tetap menyebalkan, seperti biasa. Hanya saja, aku merasa kau lebih bebas. Lebih semangat ke sekolah, dan lebih punya gairah ke musik."
"Begitukah?"
"Iya." Ada semu samar di kedua pipi Alibaba. "Aku tidak menyangka kalau kau sekeren itu, Judal."
"U...ukh..."
Judal membuang muka. Ia bersemu padam. Judal memutir-mutir rambutnya, berusaha mencari sesuatu untuk dibicarakan, namun gagal. Keheningan membungkam mereka berdua. Alibaba tersenyum lembut, dan begitu teduh. Ia menggamit rambut Judal dengan lembut, lalu melepaskan ikatan rambutnya, jalinannya, sehingga surai legam itu terburai perlahan, menjuntai bagaikan langit malam yang dihamparkan ke bumi dengan kilau temaram yang mempesona. Alibaba mengambil sejumput rambut Judal, dan menempelkannya perlahan di bibirnya. Jantung Judal bergemuruh, berdetak tak karuan. Tidak pernah ada orang yang mengagumi fisiknya. Dan Alibaba melakukannya.
"Apa pernah aku bilang rambutmu sangat indah, Judal?" tanya Alibaba lembut.
Judal menggeleng. Wajahnya bahkan lebih ranum dari buah tomat.
"Aku..." ucap mereka bersamaan.
"Kau dulu..." kata Alibaba lembut.
"Aku...um..." Judal menggigit bibirnya. Ia mengelus dadanya perlahan, berusaha menenangkan jantungnya yang berdentum cepat sekali. "...menyukaimu."
Alibaba tertegun. Ia merasa jantungnya berhenti selama dua detik, lalu berdentum lagi dengan percepatan maksimal. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Judal kelihatan begitu manis saat bersemu, membuang muka dengan kesal sehingga helai-helai rambutnya berayun lembut.
"Maksudku...cinta. Aku tahu ini terdengar menjijikkan. Tapi...kau...adalah orang pertama yang membuatku senang. Membuatku ingin melukis lagi. Membuatku lebih rajin ke sekolah. Kau juga membuatku merasa nyaman di rumahmu. Aku tahu aku menyebalkan dan membuatmu susah, tapi...tapi..."
Alibaba menarik seulas senyum lembut. Mendengar Judal mengatakan hal seperti itu membuat dadanya menghangat. Ia selama ini mempertanyakan, perasaan apa yang ia rasakan selama bersama Judal. Perasaan itu lebih dari sekedar nyaman, kompak, atau setia kawan.
Itu cinta.
Dan Judal menawarkan sebentuk cinta untuknya, untuk dilengkapi berdua. Mengaburkan segala batas perbedaan dan mendobrak segala limit yang menghalangi perasaannya.
"Sudahlah." Kata Alibaba. "Tidak perlu kau lanjutkan."
Ekspresi wajah Judal meredup.
Alibaba merasa ada suatu impuls di belakang kepalanya. Ia mengulurkan kedua lengannya, menghilangkan jarak diantara mereka berdua dan memeluk Judal. Seluruh helai legam itu menghambur, sebagian tergerai turun menyelimuti pundaknya. Judal ternyata sangat harum. Harum kayu-kayuan, begitu lembut dan natural. Judal mengangkat wajahnya, pandangannya bertumbuk dengan pandangan Alibaba.
"Aku juga merasakan hal yang sama." bisiknya. "Apa kau mau melanjutkannya?"
"Ta...tapi..." Judal tergugu.
"Lakukan saja apa yang kita bisa. Mau berjalan, berlari, terseok-seok bahkan terbang sekalipun. Aku berjanji akan berusaha."
Judal tidak mengatakan apa-apa. Ia memejamkan kedua matanya, lalu melekatkan keningnya ke kening Alibaba. Cowok pirang itu bisa merasakan bahwa waktu seakan berhenti sejenak untuk mereka. Judal dan Alibaba tidak pernah sedekat ini. Baik secara fisik maupun emosional. Kedekatan ini seakan membuat Alibaba bisa melakukan apa saja, asal Judal mempercayainya.
Lalu kemudian Alibaba melihat paras Judal. Kedua matanya, jendela hatinya yang terlalu dalam untuk dijelajahi. Sepasang mata rubi itu melihat dunia dengan prespektif yang berbeda dengan orang kebanyakan. Hidungnya yang mancung namun tidak benar-benar bangir, lalu selekuk merah muda cantik yang selalu melengkung kebawah—bibir Judal. Alibaba memejamkan matanya dan dengan nekad mencium Judal. Terkecap rasa yang begitu luar biasa dari lekukan merah muda itu. Hangat, lembut...terasa manis dan begitu adiktif. Judal refleks mendorong Alibaba dan melayangkan tamparan keras di pipinya.
"Bodoh!"
Alibaba terperangah. Ia menyadari perbuatannya. Rasa malu seketika menyengat seluruh nadinya. Alibaba menunduk, tidak berani menatap Judal sama sekali. Ia membuka mulutnya, dan terucap sebuah kata yang begitu berat...
"Maaf...maafkan aku." Lirihnya.
Judal kelihatan kesal. Namun seketika rasa kesal itu teredam seketika, lalu ia tersenyum maklum, dan mengangguk.
"Mungkin otakmu sudah sedikit geser karena Opera. Ayo pulang, Solo Guitarist." Ucapnya.
"Ah, aku lupa! Naskahku ketinggalan!"
Alibaba berlari ke dalam audiotorium lagi. Ketika hendak ke parkiran motor, Judal melihat sosok mungil berambut panjang di sana. Sosok itu tidak kelihatan indah ataupun buruk. Namun ada sesuatu yang janggal. Ia tersenyum kepada Judal. Dan senyum itu yang membuatnya janggal.
Aladdin seharusnya tidak seperti yang ia lihat sekarang.
"Kau pulang, sana." Usir Judal.
"Aku menunggu Ugo-kun." Jawab Aladdin santai.
"Ya sudah." Balas Judal cuek.
"Aku kembaliiiii!" Alibaba berlari menghampiri Judal. Ia berusaha mengatur nafasnya secara berkala. Judal mengepang kembali rambutnya secara kilat sebelum benar-benar mengenakkan helm yang bertengger di atas spion kanannya.
Sebuah mobil mewah berhenti lumayan jauh dari tempat parkiran motor. Mobil mengklakson, menandakan pemanggilan. Ugo-kun, yang menyetir mobil tersebut mengangguk hormat kepada Alibaba dan Judal. Aladdin membungkuk, pamit mohon diri dan berlari menghampiri mobil mewahnya. Judal secara tidak sengaja melihat sesuatu menyembul dari kantong samping celana Aladdin.
Tang penggunting kabel.
Tapi buat apa Aladdin membawa benda itu?
"Hey, ayo pulang!" tegur Alibaba.
"Ah? I...iya." Judal menstater motor kesayangannya, dan melaju bersama Alibaba menuju rumah sang gitaris.
Awalnya semua terasa normal. Judal masih bisa menggas motornya sampai kecepatan yang ia anggap gila. Alibaba tertawa senang di belakang, memeluk pinggangnya erat. Rem juga normal. Judal mungkin harus meminta maaf pada Aladdin karena berprasangka buruk terhadapnya. Judal tersenyum senang, lalu kemudian menyalip beberapa kendaraan bermotor di depan mereka. Mereka melaju pada kecepatan 120km/jam, dan ketika sampai pada sebuah perempatan lampu merah, Judal mendadak hilang kendali.
"Hey, Judal! Berhenti!"
Gawat...
Judal menekan rem tangan dan menginjak rem kaki sekaligus. Namun tidak ada perlambatan sama sekali. Kecepatan mereka masih pada 120km/jam. Mungkin kampas remnya sudah bermasalah. Satu-satunya hal yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah melepaskan gas, membuat kecepatannya menurun drastis dan membanting stang motor ketika nyaris menabrak sebuah bus besar.
BRUAK!
Judal melihat bemper depan truk hanya berjarak beberapa senti dari hidungnya. Seketika senyap, dan kemudian terjadi keriuhan yang tidak biasanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari bahwa ia tidak lagi berada di atas motornya. Ia berada di aspal. Bahu kanannya ngilu bukan main, dan ada sengatan rasa sakit yang benar-benar parah di kaki kanannya. Judal berhasil menarik kesimpulan bahwa karena remnya blong, ia memang berhasil menghindari bus. Namun tidak berhasil menghindari truk yang datang dari arah yang berlawanan.
Brengsek, rutuknya.
Alibaba?!
Judal menarik tubuhnya bangun, melepas helmnya. Pandangannnya seketika kabur. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya, menyeimbangkan penglihatannya. Alibaba baik-baik saja. Ia terpelanting cukup jauh, dan tengah berlari ke arahnya. Dari pelipis Alibaba mengalir darah. Cowok pirang itu berusaha menyingkirkan sepeda motor Judal yang menimpa tungkai kanannya. Alibaba memeluk Judal dan memberdirikannya dengan hati-hati.
"Kau oke, Alibaba?" tanyanya lirih.
"Harusnya aku yang tanya begitu!" bentak Alibaba panik. "Katakan, mana yang sakit."
"Ukh...semuanya. Kepalaku, bahuku, kakiku..." Absen Judal.
Ia berusaha menggoyangkan kaki kanannya. Ia tidak bisa merasakan kakinya dari betis hingga ujung kaki. Kaki kanannya dari lutut kebawah menggelantung begitu saja. Lalu sengatan rasa sakit membuat Judal menjerit dan menjambak bahu Alibaba keras-keras. Alibaba meminggirkan Judal di trotoar. Polisi datang tidak lama kemudian. Sang supir truk memaki-maki polisi tersebut. Alibaba mencari-cari sesuatu dari tasnya, lalu menyodorkan pada Judal sebotol air.
"Terima kasih." Judal mengangguk dan meneguknya banyak-banyak.
"Remnya blong, ya?" tanya Alibaba khawatir. "Atau bagaimana?"
"Entahlah. Aku baru dari bengkel minggu lalu. Setahuku, yang bermasalah bukan kampas remnya. Tapi shockbeaker. Mungkin tadi ada yang..."
Seorang polisi menghampiri mereka berdua. Beliau menanyakan siapa pemilik motor hitam produksi Italia yang sekarang hancur lebur itu. Judal menganga, ia merasa ingin menangis. Namun hancurnya motor itu tidak seberapa. Setidaknya, nyawanya dan Alibaba masih bisa dikatakan selamat. Judal mengklaim bahwa motor itu miliknya, dan tuduhan supir truk menyatakan bahwa Judal menabrak dari arah yang berlawanan.
"Ada masalah dengan remku, pak. Anda bisa periksa. Aku harap, aku dan temanku ini bisa mendapatkan pertolongan medis. Kurasa...ngh...aku mengalami cedera sedikit."
Alibaba diangkut duluan ke dalam ambulans, sementara Judal menyusul setelahnya karena harus mengatur jadwal lapor diri ke kepolisian. Mereka dirujuk ke rumah sakit terdekat. Alibaba mengalami memar di pinggang dan bahu kirinya, serta pelipisnya mendapat 7 jahitan. Sementara Judal tidak protes ketika brankarnya didorong ke ICU. Dua orang dokter bedah menanganinya, memberikannya bius lokal dan membuka sayatan tepat di tempurung lututnya. Ini pertama kalinya Judal melihat dirinya operasi. Rasanya sakit, seperti tersengat-sengat. Ia juga merasa ketika seorang dokter bedah tulang memberikan sesuatu ke dalam luka sayatannya.
"Tulangmu patah. Ada sedikit sayatan di ligamen lututmu. Beruntung tidak sampai sobek. Mungkin kau akan di gips selama delapan belas hari." Jelas si dokter tulang.
Judal tidak menjawab. Ia hanya bersadar di ranjang operasi, dan berusaha membuat dirinya rileks. Judal bahkan masih sadar ketika para suster mendorong brankarnya ke ruang rawat. Di dalamnya ada Jafar dan Alibaba. Alibaba bahkan tidak terlihat habis kecelakaan. Jafar menghampiri ranjang Judal, dan mengecek bagian mana yang kelihatannya buruk.
"Apa kata dokter?" tanya Jafar.
"Pakai kruk selama 18 hari." Jawab Judal santai.
"Tidak ada lagi, kan? Mana yang sakit?" Alibaba mengusap rambut Judal dengan sangat overprotektif.
"Aku baik-baik saja." Jawabnya lirih. "Tidur semalaman mungkin akan membuatku lebih baik."
"Aku akan menungguimu." Kata Alibaba mantap.
"Tidak usah. Aku tidak mau ditunggui." Tolak Judal. "Jafar...kurasa aku harus berhutang budi padamu. Sekalian untuk dia juga."
Judal mengeluarkan sebuah kartu debit, dan menyodorkan ponselnya untuk memberitahu Jafar PIN debitnya. Jafar mengangguk paham, lalu berjalan ke bagian administrasi bersama Alibaba. Setelah selesai, Jafar membelikan Alibaba sekaleng .
"Mungkin kita harus belikan sesuatu untuk Judal." Saran Alibaba.
"Hm?" Kedua alis Jafar bertaut ke atas. Ia menekan sebuah tombol dan sekaleng matcha latte meluncur, lalu ia berikan kepada Alibaba. "Nih!"
"Matcha latte?" Alibaba mengerutkan dahinya.
"Bagus untuk penghilang stress." Katanya.
"Begitu..."
Jafar bersandar di tembok, menegadah menatap pendingin ruangan sentral yang berderum pelan. Seorang suster tidak bisa melepaskan pandangan kagumnya pada Jafar ketika ia lewat, dan Jafar hanya memberikan suster itu senyuman ramah.
"Delapan belas minggu, ya..." Jafar menerawang. "Opera kita tinggal 22 hari lagi. Apa sanggup, ya?"
"Eh?" Alibaba menoleh. "Memang kenapa?"
"Wisuda." Jawab Jafar pendek. "Kalau batal, uangku dan uang Judal hangus. Kami harus menunggu waktu wisuda tahun depan."
"Lalu kau mau bagaimana?"
"Entahlah." Jafar menaikkan pundaknya. "Kau mau pulang? Aku bawa mobil, kok."
.
.
.
.
.
.
.
Usai memutar balik selepas mengantar Alibaba pulang, Jafar melajukan mobilnya pulang ke apartemennya. Pemandangan yang sudah dianggap Jafar biasa juga sudah terpampang di sana. Pria dengan surai panjang, tubuh menjulang setinggi 183cm. Mengenakkan kemeja putih panjang dan jeans, bersandar di pintu apartemen kekasihnya yang tidak lebih tinggi dari puncak kepalanya.
"Selamat datang." Ucapnya ramah.
"Aku pulang, Sin." Jafar tertawa kecil menjawabnya. "Sudah lama?"
"Lumayan. 90 menit."
Sinbad menghampiri Jafar dan mengecup puncak kepalanya. Jafar memberikan Sinbad kunci apartemennya dan mereka berdua masuk.
"Kau dari mana?" tanya Sinbad lagi. "Tidak biasanya pergi keluar selarut ini. Lapar?"
"Judal kecelakaan."
Mata Sinbad melebar. Jafar mengangguk, mengelarifikasi paa yang tadi ia ucapkan. Jafar menyeduhkan kekasihnya segelas kopi kental dan menyelipkan lima bungkus gula di piring tatakannya. Sinbad menaruh sebuah stoples plastik panjang, membuka tutupnya dan menawarkan isinya kepada Jafar: puff cheese straws.
"Ini enak, lho." Ucapnya provokatif.
"Keju apa?" tanya Jafar lagi. Cowok dengan fleckless di hidungnya itu cukup selektif masalah keju. Jafar bahkan mengetahui jenis keju bahkan dari rasa dan baunya saja. Dan Sinbad harus benar-benar mengerti selera kekasihnya. Jafar membenci Camembert dan Blue Cheese¸ juga tipe keju keras seperti Grana Padano dan Edam.
"Emmental."
Jafar mengambil dua sekaligus dan menggerogotinya dengan lahap seperti anak kecil. Sinbad tertawa kecil, dan menyesap kopi yang dibuat Jafar. Rasanya sangat khas, kopi robusta super kental bagaikan aspal, yang tidak akan terasa manis meskipun ditambahkan satu kilogram gula sekalipun.
"Lain kali teh saja." Sindir Sinbad halus. "Sekarang sedang tren minum earl grey tea, kan?"
Jafar mengangguk. "Makanya aku lebih suka beli."
Sinbad mendekat, mencium Jafar dengan begitu rakus sebelum akhirnya memberikan sebuah dokumen yang sudah di stempel. Jafar melepaskan segel dokumen itu dan menyunggingnya senyum bahagia yang begitu cerah. Benar-benar ekspresi langka bagi pria yang bertemperamen buruk dan selalu dirundung awan badai itu.
"Aku...diterima di Old Stage?" ucapnya tak percaya.
"Butuh perjuangan keras untuk mendaftarkanmu disana. Tapi, ya sudahlah. Jadi anak baik disana, ya?" ujar Sinbad penuh cinta.
"Kau akan selalu mengunjungiku, kan?" Jafar menatap tajam ke arah sang Kepala Sekolah.
"Setahun sekali. Di bulan Agustus. 31 hari penuh." Katanya mantap. "Tidak cukupkah?"
Jafar tersenyum nakal dan menggeleng. "365 hari. 24 jam."
"Itu namanya kau mau aku tinggal bersamamu." Keluh Sinbad.
Jafar mengangguk-angguk semangat.
"Jangan manja. Aku sudah mendaftarkanmu, merekomendasikanmu. Dan hal terakhir yang bisa kulakukan lagi hanyalah meminjamkanmu rumah yang kutinggali di Copenhagen."
Jafar mendecih kecewa. Namun ia tetap senang karena Sinbad sudah benar-benar bekerja keras untuk membuatnya bisa belajar banyak tentang seni pertunjukan di Royal Danish Theater—atau yang lebih familiar disebut Old Stage. Banyak hal yang ia khawatirkan di Copenhagen. Bahasa, jarak, iklim, persaingan dan selera musik mereka yang masih kental dengan nuansa klasik...
"Pamanmu juga sudah marah-marah. Bilang kapan aku akan bersikap serius kepada keponakannya." Omel Sinbad.
"Yunan bilang begitu?" wajah Jafar mendadak dihiasi semburat merah.
"Ya." Sinbad merapikan beberapa helai rambut Jafar yang mencuat-cuat. "Dan aku bilang, aku selalu serius."
Jafar masih diam.
"Pertanyaanku... apa kau mau serius denganku, Jafar?"
Jafar terdiam. Ia menggamit tangan Sinbad yang besar dan hangat. Jarinya lentik, khas seorang pianis. Ujung-ujung jemari Sinbad ia tempelkan di bibirnya, dan dengan tatapan hangat Jafar mengiyakan pertanyaan Sinbad. Jafar yang sekarang bukan lagi seperti anak remaja yang menginginkan perhatian dari kekasihnya. Sinbad bisa melihat, perlahan tapi pasti, Jafar tumbuh menjadi laki-laki yang mature. Jafar yang sekarang telah menemukan alasan mengapa ia mencintai Sinbad.
Sinbad berharap ini bisa berlangsung selamanya.
"Sin...aku, aku punya satu permintaan." Katanya. Kedua matanya yang kelabu bak awan badai berkilat nakal.
"Yaa?" Sinbad menaruh tangannya di garis rahang Jafar dan mengusapnya. "Apa?"
Jafar mendekat, membisikkan rentetan ide briliant nan gila yang sudah ia bicarakan dengan Alibaba dan Judal. Sinbad seketika memucat, namun Jafar mengelelitiki pangkal pahanya dan mendesah nakal. Sinbad mengerang frustasi dan menyetujui ide tersebut.
"Dank..." bisiknya sambil mencium pipi Sinbad.
"Aku seperti disandera..." lenguh Sinbad kesal. Kalau ini Anime, ia pasti sudah mengalami desperasi tinggi ditemani bayangan hitam dan garis-garis kemurungan, lalu mojok di tembok. "Jafar jahaaaat..."
"Kau memang selalu bisa diandalkan, Sin."
.
.
.
.
.
.
.
a/n: dank (terima kasih, atau lebih kearah thanks).
APDET YAOLOH. AKHIRNYA MELUKIS LANGIT BISA AKU APDEEET.
Akhirnya saya bisa mengapdet fic yang telah berdebu ini #tiup tiup sarang laba-laba.
Mungkin banyak yang mengira bahwa akhirnya Alibabakun saya sandingkan dengan Judal. Namun segala kemungkinan bisa terjadi, lho. Bisa jadi Alibabakun yang unyu-unyu labil dibikin trisoman ama SinJa #divalalark sei
Sebelumnya saya minta maaf kepada para readers yang sudah mengamuk dan mencakar-cakar layar manapun anda membaca fic ini, meminta next chapter. Maaf juga saya tidak membalas review anda semua. Bukan saya sombong, namun rasanya review anda semua lebih berarti jika dibalas dengan next chapter yang lebih berbobot. And FYI, saya suka kesengsem sambil guling-guling jika melihat ada penambahan review #abaikan
Seperti biasa, author mau tebar gosip aaah.
Akan ada affair antara sinbad, jafar dan judaaaal *w*)9
Sekian dari saya. RnR pweeeaaase...
