Melukis Langit

Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.

Rate: T

Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.

.

.

.

.

.

.

.

XII: Injured

"Your past is always your past. Even if you forget it, it remembers you."
― Sarah Dessen, What Happened to Goodbye

.

.

.

.

.

.

.

Seberkas sinar keemasan menyelinap masuk perlahan, lalu membuat bayang temaram salah satu sudut kamar besar itu menjadi sedikit lebih cerah. Tidak ada suara ayam berkokok, yang ada hanya udara pagi layak hirup. Ini jam setengah tujuh pagi. Judal baru selesai mandi setelah mencoba treadmil pertamanya pasca pelepasan gips di kaki kanannya. Dokter menyatakan kaki kanan Judal sembuh total lebih cepat sepuluh hari dari waktu yang seharusnya—setelah ia benar-benar bersabar dengan sepasang kruk, tablet kalsium dan pijat tradisional super menyakitkan ala Negeri Tirai Bambu. Setelah mengenakkan seragamnya, Judal memikirkan dua hal: pagi ini sarapan enaknya makan apa. Dan kesekolah naik apa. Semalam ia baru dari kantor polisi, dan akhirnya dibebaskan dari tuduhan tersangka karena mereka menyatakan bahwa kejadian tersebut adalah kecelakaan.

"Judal, aku menemukan ini di kotak pos. Kau mau aku datang atau tidak?"

Judal menoleh. Seorang pria tinggi, berusia pertengahan 40-an berdiri di pinggir pintu kamarnya sambil memegang dua buah undangan: satu berbentuk seperti papyrus dengan pin perekat batu safir palsu dan bulu merak imitasi (undangan Opera) serta sebuah undangan lain yang lebih formal, undangan Wisuda Lawrence School of Music Angkatan ke 34.

"Terserah kau saja." Jawab Judal datar. Ia memasukkan buku gambar, laptop, naskah Opera dan sebatang coklat kedalam tasnya.

"Kau keberatan kalau aku datang?"

Judal menatap pria itu agak lama. Pria itu bernama Ithnan Al-Sarmen, chief financial officer Juniper Woods, perusahaan furnitur mewah yang terkenal dengan setiap desainnya tidak pernah ada yang sama. Pemilik rumah besar suram tanpa cinta yang begitu mewah dan nyaman di Pasific State. Dalam data yang diberikan badan kependudukan, pria itu seharusnya adalah ayahnya Judal. Namun laki-laki itu tidak benar-benar bersikap seperti ayah. Ithnan hanya mencukupi (bahkan melebihi) semua kebutuhan Judal. Sisanya mereka hidup sendiri-sendiri. Bahkan Judal sering tidak tahu kalau Ithnan ada di rumah atau tidak.

Judal menggeleng, menjawab pertanyaan barusan.

"Kalau begitu aku datang." Ithnan menaikkan kedua alisnya.

Judal sendiri tidak mengatakan apa-apa. Judal beranjak ke kulkas, membuat sarapan. Cukup dengan sebuah bagel sandwich. Isinya adalah irisan sundried tomato, selembar keju Emmental dan onion jam. Ditemani dengan 300ml air putih hangat.

"Kau buat apa?" tanya Ithnan penasaran.

"Sarapan." Jawab Judal praktis sambil menggigit suapan pertama.

Ithnan menaikkan pundaknya. Sang ayah hanya mengambil mac and cheese kemasan dan menghangatkannya di microwave. Tidak lupa ditemani dengan satu gelas Jack Daniels dengan es batu.

"Kau bisa mati kalau terus begitu." Celetuk Judal sambil mengambil sekotak jus apel dari kulkas, dan memasukannya ke dalam saku jasnya.

"Waktu aku muda, perutku slender muscular seperti perutmu. Dan makan sayur. Dan olahraga juga." tukas Ithnan sambil tertawa. "Kau belum 46 tahun dan mengalami jam kerja 120 jam seminggu."

Judal tersenyum tipis.

"Kau agak berbeda akhir-akhir ini." Ithnan berkomentar lambat-lambat sambil mengunyah.

Judal mengerenyit bingung. "Aku tidak mengerti."

"Jaket." Ithnan menunjuk jas Lawrence yang dikenakan Judal. "Kau tidak menggunakan jaket kulit tembagamu lagi semenjak kecelakaan itu."

"Oh." Judal terperangah paham. Namun tidak mengeluarkan penjelasan apa-apa. Jaket itu masih ada di lemarinya. Ia tidak sedang dalam mood yang baik untuk mengenakkan jaket kulit kesayangannya itu.

"Ithnan," panggil Judal datar. Ya, Judal tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan 'ayah' atau sebagainya. Dan juga, Ithnan tidak begitu mempermasalahkannya.

"Hm?"

Judal mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "...Tidak jadi." Ia menyambar tasnya dan bersiap berangkat ke sekolah.

"Judal! Lawrence itu jauh, kan? Pakai ini dulu, untuk sementara."

Ithnan meraih sebuah dompet kunci dengan remote yang tergantung di gantungan di atas kulkas. Judal menangkapnya dengan canggung dan cukup terkejut setelah mengetahui kunci apa itu. Ithnan hanya tersenyum tipis dan menandaskan Jack Daniels di gelasnya.

"Mungkin aku nggak bisa mengusahakan Ducati Monster baru seperti yang hancur kemarin." Ithnan menggaruk kepalanya dengan canggung. "Pilihan terdekatnya hanya Suzuki Hayabusa atau Kawasaki Ninja."

"Kau menyuruhku memilih atau menerima keadaan?" Judal menjawab ketus. Ithnan yang punya kuasa dalam membelikan dan mengurus surat, dan sepertinya keadaan yang terlalu mendadak membuat Judal bisa kehilangan selera dengan moge sport.

"Memilih, tentu saja." Ithnan tersenyum lembut. "Anggap saja hadiah kelulusan."

Senyum Judal mengembang cerah. "Hayabusa, pearl mirage white."

"Tidak hitam?" Ithnan terperangah kaget. "Seperti bukan kau saja."

Namun Judal tidak menjawab. Ia sudah turun dengan lift ke basement rumahnya dan mencari mobil mewah mana yang cocok dengan kunci yang dia pegang sekarang.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku nggak yakin sama peranku. Apalagi kakak-kakakku bakal nonton Opera juga."

Hakuryuu mendesah sebal sambil menyeruput hot chocolate yang dibelinya di kantin. Setelah sekian lama, akhirnya Alibaba bisa hang out bareng lagi bersama teman-teman terdekatnya. Hakuryuu, Morgiana, Titus, Aladdin dan...Sphintus tidak ada. Dia didaulat sebagai Ketua Angkatan 34, dan harus pontang panting untuk mengurus Wisuda agar semuanya berjalan dengan lancar.

"Harus pede, dong! Kan sudah latihan!" jawab Alibaba penuh semangat. "Padahal kemarin sudah oke, kan?"

"Te...tetap saja..." Hakuryuu menunduk kecewa. Morgiana menepuk bahunya dan memberikan tatapan suportif.

"Yang abis jadian emang beda, ya?" cibir Alibaba sambil berbisik kepada Titus dan Aladdin.

"Diam kau, dasar jones tingkat akut!" gertak Hakuryuu dengan wajah memerah.

"Jo...jones? Apaan tuh?" Alibaba mengerenyit bingung sambil mengunyah beberapa potong kentang goreng.

"Jomblo ngenes." Jelas Titus datar.

"Bisa-bisanya bilang jones, padahal sendirinya baru sekali ini pacaran." Sembur Alibaba iri.

Hakuryuu tidak menjawab. Ia hanya meminum kembali hot chocolate miliknya. Wajahnya bersemu merah, dan semua orang menertawainya.

"Jatuh cinta, berjuta rasanya. Dunia serasa milik berduaaa. Jatuh cinta, berjuta indahnya. Auraku merah muda, berbunga-bunga..." Aladdin mengompori keadaan dengan bernyanyi mendayu-dayu.

Lalu kemudian segalanya diiringi tawa. Setiap percakapan, setiap perbuatan diantara mereka menjadi sebuah kebahagiaan sendiri. Alibaba menghela nafas. Rasanya melepas kepenatan setelah bekerja super keras selama beberapa bulan ini menyenangkan juga. Ia sudah mengusahakan segala yang ia bisa. Sisanya tinggal berdoa, dan biar tangan Tuhan yang bekerja.

"Nee, Alibaba-kun." Panggil Aladdin. "Kok diam saja?"

"Ah? Nggak. Tadi aku ngelamun." Alibaba menggeleng lembut.

"Ngelamun? Mungkin kesambet setan, dia! Kayak yang ada di acara Lain Dunia." Celetuk Titus.

"Acara aneh." Morgiana berkomentar. "Setiap episode, pesertanya pasti kesurupan setan macan."

"Mungkin biar kontrak bayarannya murah." Balas Aladdin. "Kalau kuntilanak atau pocong jam terbangnya sudah padat, jadi agak susah untuk taken kontrak."

"Kalian ngomong apa, sih?" Alibaba tertawa pelan.

"kami kira kamu kesurupan." Jawab Hakuryuu pendek.

"Hah?"

"Iya, kesurupan." Timpal Titus.

"Nggak mungkiiiin. Kan aku anak baik." Alibaba menepuk dadanya bangga. "Mana ada setan yang mampu merasukiku? Hah!"

"Di kelas anak baik," cibir Hakuryuu. "Di kantin jadi anak setan."

Tawa memenuhi udara sekitar. Alibaba hanya merengut kesal karena merasa dikeroyok secara batin. Hakuryuu bahkan sampai memukul-mukul meja karena tidak kuat menahan tawa. Titus memegangi perutnya, terbahak bahkan sampai menangis. Morgiana menggembungkan kedua pipinya, tidak tertawa—namun bahunya naik turun. Alibaba melirik Aladdin dan memperhatikannya yang tengah tertawa.

Manis banget...

"Oh, iya." Hakuryuu akhirnya berhenti tertawa. Ia mengeluarkan buku partitur nada dan meminta Titus untuk mengajarinya. Semua orang berkerumun, kecuali Aladdin. Dibanding mereka semua, Titus cukup pandai dalam pelajaran Seni Musik Dasar alias menggambar partitur nada dan mengubah not balok menjadi—yang disebut Alibaba sebagai 'nada-nada gitaris' seperti B6, G5 dan sebagainya. Aladdin menyibukkan diri dengan membuka sebuah buku sketsa tebal, sejumlah 200 halaman. Cover-nya tebal dengan warna cokelat dan gambar motif jangkar, ban merah beach lifeguard, kapal dan ikan lumba-lumba. Buku itu milik Jafar—atau bisa dibilang dihadiahkan untuk Jafar. Di setiap halamannya tertempel secarik kertas berwarna hijau zaitun yang berisi tanggal dan pendeskripsian kejadian yang digambarkan dalam buku itu. Aladdin tidak mengerti kenapa Jafar masih menyimpan buku itu. Padahal ia mengaku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap sang pelukis—Judal Al-Sarmen.

Di buku sketsa ini, Jafar digambarkan sebagai cowok tinggi kurus yang miskin ekspresi dengan rambut lurus dan freckles di sekitar hidungnya. Seluruh gambar di buku itu lebih condong ke versi manga daripada realisme. Sementara Judal sendiri menggambarkan dirinya sendiri dengan rambut hitam kepang sepinggang, dengan tinggi sebatas dagu Jafar. Garis mata Judal digambarkan lebih halus—tidak setegas, sedingin dan sedalam aslinya.

Interaksi antara Jafar dan Judal digambarkan dengan sangat natural. Seperti saat mereka berdua latihan vokal, makan berdua, duduk berdua dan Judal memeluk lengan Jafar. Bahkan siluet samping Jafar sedang menyetir pun juga ada. Pada suatu halaman, Aladdin membaca tulisan tersebut,

Minggu, 29/8/2010.

Aku dan Jafar menuju Molserrie Brewery, ikut acara nonton Bareng Barclays Premiere League antar Arsenal vs Chelsea.

Lalu halaman berikutnya melukiskan peristiwa selanjutnya. Ada gambar Jafar yang mengenakkan jersey Arsenal dengan wajah kemerahan, posisinya agak menyamping, menonton pertandingan tersebut dengan seru sambil menggigit selembar bacon goreng di bibirnya. halaman berikutnya Judal menodongkan tangannya dengan wajah llicik, sementara Jafar dengan kesal menyerahkan dua lembar uang. Di TV pada latar, menunjukkan keunggulan Chelsea dengan skor 2-0. Gambar lain menceritakan Jafar dan Judal berpelukan, berbaring di sofa berdua. Atau ketika Judal menaruh kedua tangannya di wajah Jafar dan memandangnya penuh cinta. Gambar lain mengisahkan kedekatan dan kemesraan cinta diantara mereka. Berangkulan, berpelukan, berciuman, bercumbu. Segalanya terasa begitu hidup dan melepaskan emosi yang sesungguhnya dirasakan terjadi di dunia nyata.

Dari seluruh gambar dan cerita singkat di kertas hijau itu, Aladdin bisa memahami sedalam apa hubungan mereka kala itu. Ia bisa melihat bahwa Judal mabuk kepayang, terbuai akan cinta yang diberikan Jafar sebegitu jauhnya. Kisah cinta mereka mudah dan sederhana, namun sarat akan perasaan yang begitu dalam. Semua begitu terasa ketika melihat halaman demi halaman. Aladdin juga berspekulasi, mungkin saja Judal hanya mengarang semua ini. Tetapi ketika Aladdin berpikir ulang, ia menyadari bahwa semua gambar yang ada di buku ini adalah sungguhan. Kalau tidak, mana mungkin Jafar masih menyimpan buku ini sampai sekarang? Tentu saja, karena ini adalah bukti bahwa Judal memang pernah menjadi salah satu bagian dari hidup Jafar.

Gambar-gambar itu kemudian mengisahkan tentang kegiatan di kelas dengan Kepala Sekolah. Lambat laun, gambar diri Judal mulai sedikit dan lama kelamaan menghilang. Sosok cowok berambut hitam sepinggang dengan tinggi sekitar 150an tergantikan dengan sosok tinggi berjas yang penuh wibawa dan kharismatik, berambut panjang dan kelihatan begitu mencintai Jafar. Sosok itu adalah Sinbad, Kepala Sekolah Lawrence. Meskipun pendeskripsiannya masih statis dan kelihatan netral, gambar tersebut menunjukkan bahwa Jafar mulai jatuh cinta pada Sinbad, sementara Judal seperti tidak melakukan apa-apa untuk mempertahankan hubungan mereka. Gambar Jafar dan Sinbad duduk berhadapan di bangku taman, dan Sinbad memberikan Judal semacam karangan bunga tidak diberikan pendeskripsian. Hanya tanggal. Dan latarnya adalah taman belakang Lawrence. Jafar terlihat begitu lively disana. Semburat wajahnya bahkan digambar dengan pensil berwarna merah muda.

Gambar terakhir dari buku berjumlah 200 halaman tersebut adalah gerbang Lawrence yang terbuka, latarnya sore hari menjelang malam. Gerbang itu mengarah ke sebuah jalan raya. Sebuah tangan yang tergambar close up terlihat berusaha menggapai punggung Jafar yang digambarkan menghadap ke jalan, berusaha mengejar. Jafar digambarkan berjalan sendirian keluar gerbang Lawrence. Tidak ada tanggal di kertas hijau zaitun itu. Hanya ada sebuah quotation dan lirik lagu My Chemical Romance:

When you go, would you have the guts to say: 'I don't love you, like I loved you yesterday'?

Aladdin tanpa sadar menitikkan airmata. Sekaligus menyeringai lebar. Ia mencari sehelai tisu dan menghapus anak sungai yang mengalir melalui mata birunya yang bulat besar. Ia menggamit 15 halaman terakhir interaksi antara Jafar-Sinbad hingga gambar Jafar pergi melewati gerbang Lawrence. Dirobeknya kertas buku sketsa itu dengan hati-hati hingga halaman terakhirnya ini adalah penggambaran Judal dan Jafar tengah saling memadu cinta. Aladdin menutup buku itu, dan menyimpan halaman-halaman yang ia sobek di dalam tasnya.

Begitu, ya?

Aladdin tertawa dalam hati.

Ternyata Judal mudah sekali disakiti.

.

.

.

.

.

.

.

"Pertunjukkan melukis pasir?"

Alibaba banyak sekali bertanya ketika memasuki Maserati Quatroporte hitam metalik yang kini dibawa Judal. Bemper belakangnya sudah beset. Judal belum menjawab pertanyaan dan ocehan Alibaba sampai ketika ia mulai memindahkan perseneling.

JDUK!

"Keparat!" rutuk Judal kesal.

"Sudahlah, tidak usah marah-marah." Alibaba berusaha menenangkan. Judal memutar mobilnya dan mereka akhirnya bisa keluar gerbang dengan selamat.

"Ini mobilnya Ithnan. Dia menyuruhku pakai ini untuk sementara." Balas Judal pendek. Kejadian pindah-perseneling-lalu-mundur-atau-loncat tidak terjadi sekali. Tampaknya Judal tidak begitu lancar dalam mengemudikan mobil. Dan ketidak-mahirannya mengemudikan mobil sudah dapat dikatakan ekstrim. Alibaba menyimpulkan bahwa Judal membawa mobil ini ke sekolah hanya dengan modal nekad. Melihat seberapa banyak baret dan lecet di badan mobilnya, kelihatannya Judal tidak menaruh sayang sama sekali pada mobil seharga sekitar 140.000 USD tersebut.

"Ithnan itu siapa?" tanya Alibaba lagi.

"Ayahku." Judal mengeluarkan tiket pertunjukkan Muu Alexius dan memberikannya kepada Alibaba. "Ini, baca sendiri. Aku baru tahu kalau datang sendiri, aku bisa kena denda. Itu tiket untuk dua orang—lebih tepatnya, orangtua dengan anaknya."

"Kau memanggil ayahmu dengan namanya? Kenapa kau tidak mengajak ayahmu? Dia sibuk, ya?"

Judal menggeram kesal. Namun ia sanggup menahan kekesalannya dan menjawab singkat tiga pertanyaan beruntun Alibaba.

"Iya."

"Oh, begitu." Alibaba tersenyum. Ia membaca tiket itu dan menaruhnya di dasbor mobil.

Setelah pulang sekolah, Judal menarik Alibaba menuju Universitas Partevia untuk menonton pertunjukan Muu Alexius yang diselenggarakan malam ini. Mereka berdua bahkan masih mengenakkan seragam Lawrence, dan sempat ditanya-tanya oleh orang sekitar Lotus Ballroom dari sekolah mana mereka dan Lawrence School of Music itu sekolah macam apa. Alibaba yang cerewet menjawab segalanya, sementara Judal memilih bungkam, dan menarik Alibaba menuju kursi mereka ketika pertunjukkan sudah mau dimulai.

Dalam layar besar itu, dikisahkan cerita 'The Godfather Death' karya Brother Grimm. Cerita itu mengisahkan tentang seorang ayah yang telah memiliki 12 anak, dan bekerja siang malam untuk menghidupi anak-anaknya. Ketika lahir anak yang ke 13, sang ayah memutuskan untuk mencari ayah baptis untuk si anak ke 13. Sang ayah memutuskan, bahwa siapapun yang ditemuinya di jalan akan dijadikannya ayah baptis bagi sang anak. Orang pertama yang ditemui sang ayah adalah Tuhan.

"Ini cerita macam apa, sih?" komentar Alibaba bingung. "Tidak mungkin, kan? Bertemu Tuhan di jalan?"

"Personifikasi." Jawab Judal, membungkam mulut cerewet Alibaba dengan kecupan lembut dalam ruang gelap temaram bak teater bioskop—tidak ada yang mampu melihat mereka. "Tuhan digambarkan sebagai orang yang mampu memberikan kekayaan dan kemiskinan."

Namun, dalam cerita sang ayah menolak Tuhan menjadi ayah baptis anak ke 13 karena Tuhan dinilai tidak adil. Pada perjalanannya, sang ayah bertemu Setan, namun tidak menjadikannya ayah baptis juga karena Setan selalu menipu manusia. Pada perjalanan berikutnya, sang ayah bertemu Maut. Kemudian, sang ayah menjadikan sang Maut menjadi ayah baptis anak ke 13 karena Maut bersikap adil. Ia mengambil nyawa baik yang kaya, miskin, cantik maupun jelek dengan cara yang sama dan adil. Kemudian, sang Maut merawat si anak dengan baik, menganugerahkannya suatu obat yang dapat mengobati segala penyakit dan menjadikan anak itu tabib yang hebat.

Tetapi, sembuh tidaknya si pasien tergantung satu syarat: jika sang Maut berdiri di dekat kaki Pasien, maka pasien akan sembuh. Namun jika sang Maut berdiri di dekat kepala Pasien, maka pasien akan mati. Hanya si anak yang mengetahui hal itu, dan keakuratannya dalam menyembuhkan orang terdengar hingga telinga seorang Raja. Raja berjanji akan memberikannya kekayaan tak terbatas jika mengobati penyakitnya. Namun, sang Maut justru berdiri di dekat kepala sang Raja. Si anak berusaha mencurangi kematian Raja dengan memutar ranjang Raja sehingga sang Maut berdiri di dekat kaki Raja. Sang Maut benar-benar marah atas kelakuan sang anak, namun berusaha untuk tidak membunuh anak baptisnya sendiri.

Kejadian berikutnya, adalah ketika sang Putri Raja sakit. Putri Raja sangatlah cantik, dan Raja berjanji akan menikahkannya dengan sang anak kalau ia dapat menyembuhkan Putri Raja. Sang Maut lagi-lagi berdiri di dekat kepala sang Putri Raja. Dengan marah, ia menggeram kepada anak baptisnya,

"kali ini engkau tidak dapat mencurangi kematian lagi, wahai anak baptisku!"

Si anak tahu, bahwa kali ini ia tidak akan bisa mencurangi kematian Putri Raja. Maka ia memohon kepada sang Maut untuk memperpanjang umur Putri Raja. Sang Maut akhirnya membawah si anak ke sebuah ruangan yang hanya terdiri dari banyak anak tangga dan banyak lilin. Lilin tersebut ada yang pendek dan ada yang panjang. Sang Maut menerangkan bahwa umur manusia adalah panjang-pendeknya lilin tersebut, dan nyala api menandakan bahwa ia masih hidup. Sang Maut kemudian menunjukkan lilin nyawa sang anak, yang ternyata sangat pendek dan nyaris habis.

Si anak sangat ketakutan, dan mengiba kepada sang Maut untuk memperpanjang batas hidupnya. Sang Maut menyetujui, dan mengangkat lilin nyawa si anak yang nyaris habis itu dan menaruhnya di atas lilin nyawa orang lain yang lebih panjang. Namun bukan umur panjang yang di dapat, lilin nyawa si anak terbakar habis lebih cepat dan membuat sang anak jatuh dan meninggal. Sang Maut mengambil nyawa anak baptisnya sendiri.

"Wow..." gumam Alibaba kagum. "Aku tidak begitu mengerti, tapi penggambaran bahwa 'semua manusia pasti mati dengan cara yang adil' itu terasa sekali."

"Iya." Judal mengangguk.

Tentu saja, untuk orang seperti Alibaba, cerita itu termasuk sangat rumit. Namun cara Muu Alexius melukiskan kisah tersebut ke dalam lukisan pasirnya, diiringi denting piano yang bertempo (sangat) lambat, memungkinkan penonton merenungkan setiap kejadian dan dapat memetik hikmah dari kisah yang dibawakan. Judal bisa menangkap unsur teatrikal dari lighting, sound, setting dan plot cerita. Penonton tidak dibuat bosan meski hanya dari ilustrasi pasir yang ditayangkan dengan kamera pada projector dan layar besar. Mereka justru menikmati, dan menunggu gambar macam apa yang akan dibentuk dari segunduk pasir laut yang putih dan halus.

Tidak, dibalik semua itu, Muu Alexius-lah yang paling hebat. Pemain piano mungkin membantu, begitupun penata panggung, penata cahaya dan segala macam. Namun kemahiran Muu Alexius melukis pasir dan monolog yang digunakannya dalam bercerita itu luar biasa. Pantas saja tiket pertunjukannya mahal.

Lalu seketika Judal seperti tersengat listrik. Ia seakan bisa melihat dimensi baru yang selama ini belum pernah ia lihat. Ia melihat dirinya sendiri di tempat Muu Alexius berdiri. Bukan alat untuk melukis pasir, tapi merupakan sebuah laptop dan adobe illustrator serta kamera DSLR. Judal akan mengenalkan dirinya bukan sebagai pelukis pasir atau storyteller. Seketika, ia menemukan cita-cita dirinya untuk ke depan.

Jafar benar,

Satu-satunya hal yang dibutuhkan seorang seniman adalah inspirasi.

.

.

.

.

.

.

.

"Ithnan kurasa sudah tahu resikonya. Biar saja."

Judal menjawab ketus ketika Alibaba membahas perihal baret pada mobil mewahnya. Ia mengantar Alibaba pulang. Memarkirkan mobilnya 200 meter dari gang rumah Ailbaba. Mereka berjalan beriringian. Judal menggenggam tangan Alibaba dan menghargai detik-detik pertemuannya dengan cowok pirang itu—yang jarang sekali ia dapatkan. Rumah Alibaba masih seperti ketika terakhir kali ia kesana. Rumah petak sederhana—cukup besar untuk dibilang bobrok. Rapi dan kusam. Keramah-tamahan rumah jauh lebih terasa dibanding rumah milik Judal di Pasific State.

"Terima kasih, sudah mau mengajakku ke pertunjukan itu." kata Alibaba basa-basi. Ia menyuruh Judal duduk dan menghidangkannya segelas teh panas.

"Terima kasih." Balas Judal pendek, kemudian meminumnya. "Kelihatannya kau masih agak capek."

"Iya. Aku mengejar ketertinggalanku di kelas semenjak dirawat." Alibaba tersenyum tipis.

"Istirahatlah. Aku bisa pulang."

"Jangan!" Alibaba berseru. Kemudian ia berdehem, berkata dengan salah tingkah kepada kekasihnya. "Tinggalah. Bermalamlah disini."

Judal terbelalak. Ia kemudian mengangguk. Kecanggungan diantara mereka ditepis jauh-jauh ketika Alibaba kembali meniadakan jarak mereka dengan sebuah ciuman. Bahkan kali ini Judal tidak mendorong dan menamparnya lagi. Ia justru merangkul leher Alibaba, balas menciumnya hingga masing-masing diantara mereka terengah-engah, kekurangan oksigen. Wajah keduanya bersemu, dan Alibaba menyelipkan kepalanya di bahu Judal.

"Aku kangen..." bisiknya.

"Aku juga." jawab Judal. "Kemana saja kau selama aku dirawat? Kau tidak pernah menjengukku, dasar bodoh!"

"Aku ini Solo Guitarist!" balas Alibaba kesal. "Aku punya tanggung jawab sendiri!"

"Iya, iya." Judal menepuk-nepuk kepala Alibaba. "Aku paham, Solo Guitarist."

Mereka mengobrol banyak. Bisa dibilang itu hanya komunikasi satu arah dimana Alibaba banyak mengoceh tentang kehidupan bersekolahnya. Atau ketika ia menjalani tugasnya sebagai Solo Guitarist, dan lawakan serta joke yang sering ia lontarkan kepada Hakuryuu dan teman-teman lainnya.

"Begitu, deh. Kau mau tidur sekarang, Judal?" Alibaba mendekatkan wajahnya, mencium garis-garis rahang Judal dengan mesra.

"Iya, kalau kau tidak keberatan." Judal mengangguk, merasa matanya mulai memberat.

Alibaba mengambil sehelai selimut. Ia berbaring di sebelah Judal dan membentangkan selimut menutupi setengah badan mereka berdua. Wangi pelembut kain dari selimut usang itu. Judal tidak ingat kapan ia jatuh tertidur. Alibaba kemudian meninggalkan Judal yang terlelap di ranjangnya untuk beberes. Setelah cucian piring beres dan jemuran sudah selesai diangkat, Alibaba menyampirkan jasnya dan jas Judal juga di sebuah hanger dan menggantungnya di dekat lemari. Ia menarik tas ranselnya, dan tidak sengaja seluruh isinya berhamburan. Alibaba mendesah kesal. Ia memungut semua benda yang jatuh dari tasnya seperti buku cetak, buku tulis, tempat pensil, sekotak teh dan roti coklat dari Morgiana (traktiran pajak jadian), dan sebuah buku sketsa bersampul cokelat dan bergambar jangkar, ban merah, kapal dan lumba-lumba.

Alibaba memungutnya. Buku ini bukan miliknya. Apa dia pinjam dari seseorang? Alibaba membuka-buka buku itu. Betapa terkejut Alibaba melihat isinya. Halaman demi halaman ia telusuri, namun justru membuatnya semakin yakin. Dadanya bergemuruh, nafasnya naik turun, berusaha menghilangkan cemburu buta ketika melihat sketsa Jafar yang mencium pundak kepala Judal. Alibaba yakin, lebih dari sekedar 100% bahwa dirinya dan Judal saling mencintai.

Lalu, apa maksud gambar ini?!

Dengan geram, Alibaba memasuki kamarnya dan melempar buku sketsa tebal itu tepat mengenai wajah Judal. Sang sosok berambut kelam itu terlonjak bangun, terpekik tidak percaya dengan benda apa yang membangunkan tidurnya—yang masih setengah tidur.

"Darimana kau..." Judal tergugu.

"Apa maksudnya?!" Alibaba menyentak marah. Kedua mata emasnya gelap, dan tangannya terkepal kuat. "Kenapa kau menggambar Jafar?!"

"I...itu..." Judal menelan perkataan yang hendak ia lontarkan.

"Jelaskan!" Alibaba menyentak lagi. "Apa...apa aku tidak berarti bagimu? Jadi selama dua puluh hari ini...kita apa?"

Alibaba gemetaran. Ia kemudian menangis. Judal tidak bisa merangkai kata-kata untuk menjawab semua sentakan itu. Beragam kalimat berputar-putar di otaknya, namun tak satupun keluar dari mulutnya. Judal berkata dengan cepat,

"Itu...itu...masa lalu."

"Apa masa lalumu harus mengikuti hubungan kita saat ini?!" isak Alibaba. Judal seakan tersedak pertanyaan tersebut. Alibaba tidak berusaha munafik. Ia menangis sejadi-jadinya. Entah itu luapan kesedihan, kemarahan, cemburu atau apa. Judal tidak mengerti.

"A...aku..." Judal mengigit bibirnya. Ia merasa matanya panas. "Itu sudah lama sekali. Jauh sebelum aku mengenalmu. Jafar cuma mantanku, oke?"

"Apa masa lalumu harus mengikuti hubungan kita saat ini?!" tanya Alibaba retoris. "Apa aku pernah bertanya siapa mantanmu? Sudah berapa lama kalian pacaran? Kenapa kalian putus? Tidak pernah, karena aku tidak peduli!"

"Lalu kenapa sekarang kau peduli?" bentak Judal kesal. Suaranya bergetar.

"Gambar ini!" Alibaba memungut buku sketsa bersampul cokelat itu dan melemparnya ke arah Judal meskipun tidak kena. "Kenapa ada gambar ini?! Kenapa tidak ada satupun gambarku di dalamnya?"

"Oh, karena masalah gambar? Kau mau digambar juga?!" nada suara Judal meninggi. "Iya, iya. Akan kugambarkan. Bersama anak manis kesayanganmu, Aladdin."

"Kenapa jadi bawa-bawa Aladdin? Dia cuma teman, that's it. Ini antara kita, dan mantanmu itu."

"Dia cuma mantan, that's it." Judal membeo ucapan Alibaba, kemudian menyambar kunci mobilnya. "Kalau kau mau gambar, baiklah! Akan kugambar untukmu. Selamat malam, bocah keparat!"

BRAK!

Dengan sekali banting, Judal Al-Sarmen meninggalkan rumah petak Alibaba Saluja begitu saja. Melupakan jasnya yang tergantung di dekat lemari. Alibaba terhenyak di sofa. Ia terlalu kalut untuk berhenti menangis. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa semarah itu. Padahal Judal sudah bilang bahwa Jafar itu hanya mantan. Bukan kebiasaan Alibaba meluncurkan kemarahan tanpa alasan begitu. Ia bisa mendengar deru mobil Judal menjauh, diiringi suara menabrak beberapa kali. Judal sudah jauh. Percuma saja mengejarnya. Di lantai dekat pintu ada secarik kertas. Alibaba memungutnya dan menemukan alasan mengapa ia begitu marah tadi.

Gambar Jafar tengah merangkul pinggang Judal. Mereka kelihatan tengah berjalan-jalan di Pekan Raya yang memang selalu digelar setiap hari Minggu di Pelabuhan Utara. Wajah Judal begitu bahagia di sana. Latar buram hitam-putih suasana hingar Pekan Raya membuat kesan romantisnya begitu kuat. Alibaba meremas kertas itu kesal.

Alasan mengapa Alibaba begitu marah adalah karena senyum Judal yang begitu manis dan natural di gambar tersebut. Ekspresi wajahnya begitu bahagia.

Dan Alibaba tidak pernah melihat ekpresi itu di wajah Judal selama hubungan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana?"

Sinbad mengerenyit, berusaha menelan gumpalan kering yang rasanya terlalu manis dan harum rempah. Jafar berusaha membuat molten cake. Sebenarnya cukup berhasil, bagian luarnya renyah sementara dalamnya masih mencair—seperti seharusnya molten cake. Hanya rasanya seperti menelan dua kilogram gula. Sinbad tidak tega memasang wajah tak enak setelah melihat kerja keras Jafar membuat kue itu.

"E...enak." ucap Sinbad.

"Syukurlah." Jafar melenguh lega. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku selama di Denmark. Dan lagi, sepertinya aku harus melanjutkan saham ayahku di sana."

"Begitu?" Sinbad tersenyum, mencuil-cuil kue di piringnya.

DOK! DOK!

"Siapa, sih?" dengus Jafar. "Paling tetangga sebelah. Ia suka pinjam oven atau segala macam."

"Biar aku yang buka."

Sinbad berlari ke pintu depan, dan membukanya. Di balik pintu itu ada sosok setinggi 170an, berambut hitam panjang melebihi pinggul yang dikepang. Sepasang manik rubi yang dibingkai garis mata yang tegas itu memancarkan aura kebencian.

"Minggir. Aku ada perlu dengan tuan puterimu!" Judal merangsek masuk, mengerahkan segala tenaganya untuk mendorong Sinbad yang besar dan memblokade jalan masuk. Sinbad terjungkal jatuh, menabrak sofa depan dan terguling. Judal dengan geram menarik kain sweater Jafar dan melayangkan satu pukulan hingga Jafar terhuyung—nyaris tak sadarkan diri.

"Hey, apa yang kau..." Sinbad langsung bangun, menarik Judal dan melemparnya menjauh sementara ia menolong Jafar untuk bangkit.

"Kenapa...kenapa Buku Laut bisa ada pada Alibaba?!" Judal meraung murka.

Sinbad mendudukkan Jafar di sofa. Kemudian mengambilkan segelas air dan sehelai handuk basah. Sinbad meminumkan air dengan perlahan, kemudian mengompres sebelah pipi Jafar yang langsung membengkak. Kedua mata Jafar sempat berputar-putar sebelum kembali ke posisi semula.

"Buku...Laut?" lirih Jafar.

"Buku yang kuberikan padamu. Pada awal tahun kelima!" gertak Judal. "Kenapa bisa ada pada Alibaba?"

Jafar berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya. Dipapah Sinbad, ia mencari-cari di rak buku dan meja kerjanya, lalu kemudian menepuk dahinya pelan. Sinbad menggendong Jafar dan menidurkannya di sofa yang bersebrangan dengan Judal.

"Aku tidak memberikannya...kepada Alibaba." Jafar mengelap segaris liur yang menetes, saking keras pukulan Judal dan saking sakitnya bekas pukulan itu. "Tapi pada Aladdin."

Judal masih menatapnya dengan pandangan interogatif.

"Dia bilang...cuma mau pinjam. Dua hari yang lalu dia menginap di rumahku. Mungkin dia membawanya pulang." Jelas Jafar.

"Itu cuma buku." Potong Sinbad. "Tidak ada alasan bagimu untuk..."

"Diam!" bentak Judal. "Ini tidak ada hubungannya denganmu."

"Jelas ada." Sinbad berdiri, mendekati Judal seakan bisa meremuk seluruh tubuhnya dalam sekali pukulan. "Kau memukul Jafar tanpa alasan dan bilang ini tidak ada hubungannya denganku?"

Judal kembali mendorong Sinbad hingga menjauh darinya. Ia menjambak kedua bahu Jafar dan mendesis tepat di wajahnya,

"Kalau sampai hubunganku dengan Alibaba berakhir karena Buku Laut, aku akan membunuhmu."

"Kau...mengancam orang yang salah." Kata Jafar bijak. "Dan saling bunuh karena masa lalu itu sangat tidak cerdas untuk tipikal orang sepertimu."

Kata-kata tadi membuat Judal mendadak statis. Seakan amukannya teredam seketika. Ia melepas kedua bahu Jafar dan menatapnya kalut.

"Kau tahu, kan? Aladdin menginginkan Alibaba Saluja sebegitu kuatnya." Jafar meludahkan segumpal darah di mulutnya. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Kalau kau mencintainya, perjuangkanlah. Time goes foward. And the future is never looking back."

"Aku..." Judal menunduk.

"Kau mengerti, kan?" Jafar tersenyum ramah. "Aku minta maaf, atas masa lalu pahit kita. Dan aku akan berkali-kali minta maaf, jika masa lalu kita masih menyakitimu. Kau itu sangat cerdas, Judal. Dan meskipun...meskipun orang bilang seberapa menyebalkannya dirimu, kau berhak untuk bahagia."

"Kau bilang begitu hanya untuk basa-basi." Tuduh Judal. "Kau mendukung Aladdin, kan?"

"Mendukung apanya? Aku bersahabat baik dengannya." Jafar merebahkan kepalanya di lengan sofa. "Dan apa yang ada di antara kalian bertiga, itu tetap diantara kalian bertiga. Aku tidak ingin jadi orang keempat, Judal."

Judal terdiam. Kemudian ia pulang dengan damai—pintu tertutup rapat dengan debam pelan yang normal. Sinbad kelihatan sangat bingung, lalu mengompres kembali bagian wajah Jafar yang membengkak.

"Anak itu aneh betul." Ucapnya.

Jafar mengenggam pergelangan tangan Sinbad dan mengarahkan kemana seharusnya ia mengompres. "Memang. Tapi, untuk sekarang keadaannya sedikit tidak adil. Aku ingin Aladdin bahagia dengan Alibaba, tapi di satu sisi aku tidak ingin Judal mengulangi kesalahan yang sama..."

Sinbad terdiam. Ia menyunggingkan senyum manis dan memeluk Jafar dengan lembut.

"Apa aku munafik, Sin?" Jafar balas memeluknya dan bertanya dengan nada merenung.

"Tidak, Jafar." Sinbad mengecup ujung hidung Jafar. "Semua manusia begitu. Kau...hanya terlalu memikirkan orang lain."

Jafar membenamkan wajahnya ke pundak Sinbad. Membenamkan masa lalunya bersama Judal dahulu. Membenamkan rasa sakitnya tadi. Dan membenamkan masa depannya terhadap sang Kepala Sekolah.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 12 complete! #berapi

Apa cuma saya disini, atau memang chapter ini panjang sekali? Habis saya agak gemes sama magi hitam imut-imut ini. Saya harap chapter yang ini nggak terlalu out of the track ya. Untuk chapter selanjutnya adalah hari H opera (plis, fellas. Ini bukan gossip). Dari sekian komen, mereka mengecap Aladdin jadi yandere. Di chap selanjutnya Alibaba akan jadi sama...sama siapa ya? Hayo siapaaa?

Dinantikan chapter 13, ASAP kok. Sekian dari saya yang selalu nggak jelas ini. Tetap RnR Melukis langit. Thanks for all my readers. I'm nothing without all of you.