Melukis Langit

Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.

Rate: T

Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.

ATTENTION:

Jika memungkinkan, saya berharap para readers mendengarkan dahulu beberapa lagu dibawah ini:

All of me (John Legend)

Can't Pretend (Tom Odell)

Semua lagu yang sudah disebutkan di Chapter 7

Smells like Ke$sha's G6 (Ke$ha vs Nirvana vs Britney Spears vs Far East Movement. Mashup by Titus Jones)

Kenapa? Karena di chapter ini saya akan membuat banyak lirik lagu untuk menggambarkan suana Opera. Pokoknya saya sudah kasih peringatan. Bingung diluar tanggung jawab Author :)

.

.

.

.

.

.

.

XIII: Decision

"I was in love when I felt your soul speaks to my body."

-Seema Gupta-

.

.

.

.

.

.

.

Coach Masrur mengenakkan setelan jas krem dengan vest tanpa dasi, masih mengerjakan beberapa rekap absensi dan nilai akhir beberapa kelas Instrumental di Tower (yang puncaknya pernah dijadikan tempat bertemu Alibaba dan Judal) ketika melihat seorang pria tinggi dengan rambut sepinggang dan coat Burberry edisi musim gugur tahun lalu mondar-mandir melewati ruangan tempatnya bekerja. Karena merasa terganggu, Coach Masrur keluar dan menghampiri pria itu.

"Anda mencari siapa?" tanyanya dengan nada formal dan datar.

"Ah, begini..." laki-laki itu mengeluarkan sebuah kertas gulungan dengan pin perekat safir palsu dan bulu merak imitasi. "Audiotorium Golden Phoenix di sebelah mana, ya?"

Coach Masrur menggumam paham. Rupanya pria itu adalah orang tua murid. Ia melirik arlojinya, dan seharusnya Opera mulai 45 menit lagi.

"Saya juga hendak kesana. Mari..."

Coach Masrur berjalan bersama pria itu menuju Audiotorium Golden Phoenix yang sudah mulai dipadati anak-anak murid dan orangtua mereka. Para anggota Choir pengiring dipakaikan semacam ban lengan bergaya bohemian sebagai pembeda karena anak-anak Lawrence yang menonton pun menggunakan seragam mereka seperti biasa pula.

"Anu, apa Anda staff pengajar juga?" tanya pria itu.

Coach Masrur mengangguk. "Iya."

"Bagaimana perilaku anak saya di sekolah? Jadi anak baikkah dia?"

"Siapa nama anak Anda? Bisa jadi saya tidak mengajarnya."

"Judal Al-Sarmen. Dia tahun kelima, sepertinya. Di wisuda minggu depan."

Untuk beberapa detik ekspresi Coach Masrur menunjukkan keterkejutan, kemudian kembali lagi ke mimik muka datar permanen. Mereka berdua memasuki Audiotorium dan berhenti di persimpangan antara tangga naik dan baris pertama tempat duduk.

"Nomor bangku Anda ada di undangan tersebut." jelas Coach Masrur. "Saya mohon pamit."

"Anda belum menjawab pertanyaan saya." Kilah pria itu—Ithnan Al-Sarmen.

Coach Masrur terdiam, seakan mencari alasan untuk kabur dari keadaan ini.

"Saya tidak mengajar anak Anda. Tapi yang saya dengar dia bertalenta, namun benar-benar menyusahkan. Kami semua berbahagia bisa mempertahankannya sampai lulus dari Lawrence."

"Saya mohon maaf, selaku orangtuanya." Ithnan mengangguk hormat.

"Tidak apa-apa. Kami sudah terbiasa dibuat susah. Bocah itu tidak seberapa." gumam Coach Masrur.

"Apa?"

"Tidak." sanggah Coach Masrur cepat sambil berjalan menjauh ke bangku dimana para pengajar duduk.

Para orangtua murid duduk di tiga deretan sebelah kiri, sementara anak-anak di dua deretan sebelah kiri dan kanan. Para Coach dan petinggi sekolah mendapat tempah khusus berupa sebuah balai di tingkat atas yang agak melandai, sehingga semua bisa melihat panggung secara jelas. Coach Masrur duduk di sebelah G.I Sharrkan di dekat tangga, paling pojok dari barisannya. Coach Yunan duduk di bangku paling ujung, merapat ke tembok bersama Scheherazade. Di belakang mereka ada beberapa musisi terkenal, produser rekaman dan pengajar dari institut musik lain. Yang kosong hanyalah bangku Kepala Sekolah.

"Kemana si juragan?" bisik G.I Sharrkan kepada Coach Masrur.

"Tidak ada di bangkunya." Jawab Coach Masrur sarkastis.

"Itu nenekku juga tahu!" semburnya kesal.

"Aku tidak tahu. Nenekku juga." balas Coach Masrur dingin.

Riuh penonton mulai teredam ketika lampu sorot mulai menyala. Opera dibuka dengan menyanyikan lagu Die Gedanken Sind Frei dan Alla Luce del Sole sebagai penyambutan dari Choir resmi Lawrence. Kemudian, tirai menutup dan tak lama membuka kembali. Dibaliknya, anak-anak Choir resmi Lawrence sudah digantikan oleh sebuah piano putih gading besar dengan dua orang laki-laki: yang satu mengenakkan setelan jas abu-abu muda dan berambut panjang sementara yang satu lagi mengenakkan seragam Lawrence dengan rambut putih-gading-keperakan. Mereka memainkan part-part lagu dengan tempo diperlambat dan saling melengkapi. Pria berjas abu-abu muda itu adalah Kepala Sekolah, yang mulai melantunkan bait-bait lagu dengan suara Tenor-nya dan timbre yang cukup kuat. Penampilan Sinbad nyaris membuat seisi Lawrence yang menjadi penonton menjerit terkejut.

My head's under water

But I'm breathing fine

You're crazy and I'm out of my mind

"O...oy, itu bukannya Pak Kepsek?!" seru Coach Yamuraiha sambil menuding-nuding. "Mau ngapain om-om sok ganteng itu ikutan nampil sementara tidak satupun dari kita ada yang maju?!"

"Palingan si tuan puteri yang minta."sindir Coach Pisti sambil menggedikkan dagunya ke arah laki-laki berseragam Lawrence yang bermain bersama Kepala Sekolah, yang tak lain adalah Jafar.

'Cause all of me loves all of you

Love your curves and all your edges

All your perfect imperfections

Give your all to me

I give my all to you

You're my end and my beginning

Even when I lose I'm winning

'Cause I give you all of me

And you give me all of you

Mereka membawakan lagu All of Me dari John Legend, dan Jafar hanya memainkan beberapa part pianonya. Suara sopran Jafar dan Tenor sang Kepala Sekolah membawa chemistry dan harmonisasi yang romantis dan menyentuh. Segalanya terasa natural. Komposisi emosi yang tepat dan mengena bahkan membungkam semua penonton hingga part terakhir permainan piano mereka selesai. Riuh tepuk tangan menandakan penampilan pertama antara Sinbad-Jafar merupakan 'pemancing' perhatian yang bagus.

Sinbad memberikan pidato penyambutan singkat sebagai Kepala Sekolah, kemudian mengenalkan Alibaba Saluja (berikut orangnya) sebagai Solo Guitarist yang akan membawakan Opera berjudul Okeanos, The Last Soldier. Kebanyakan tamu penting yang sudah beberapa kali menghadiri Opera Lawrence langsung menoleh ke arah G.I Sharrkan dan memberikannya tatapan kasihan. Seusai pidato singkat tersebut, tirai tertutup kembali.

Ketika tirai terangkat, dibaliknya terdapat Judal yang berdiri sambil memegangi stand mic. Alibaba dengan gitar akustiknya, duduk tak jauh dari Judal. Jafar masih stand by dengan piano putih tadi dan ditambah seorang drummer bernama Olba—kelas Instrumental Percussion tahun ketiga.

Love, I have wounds

Only you can mend, you can mend

"Mon Dieu..." lirih Coach Yunan dengan mata melebar. Ia mencengkram sebelah lengannya, menahan merinding yang tiba-tiba menjalarinya ketika mendengar bait-bait pertama yang dinyanyikan Judal. "Amy Winehouse bangkit dari kubur."

"Tidak sepenuhnya." Sanggah Scheherazade. "Deep contralto-nya mungkin mirip. Tapi Judal tidak memiliki 'cengkok' khas jazz seperti Amy Winehouse. Dan lagi, suara halus mezzo sopran-nya masih ada. Dan aksen kasar ala cowok seusianya lebih kuat."

Feel, my skin is rough

But it can be cleansed, it can be cleansed

And my arms are tough

But they can be bend, can be bend

"Solois sejati, ya?" Yunan tersenyum bangga. "Bagaimana menurut Anda, Scheherazade?"

"Pasaran pasti suka dia. Tipe suara yang cuma dia yang punya. Dan lagi, anak itu lumayan komersial juga." Scheherazade iseng mendengarkan ada tiga orang produser rekaman yang mulai berdiskusi berapa harga kontrak rekaman Judal. "Besar kemungkinan jadi artis."

"Aku juga berpikir begitu." Yunan mengangguk setuju.

.

.

.

.

.

.

.

Okeanos, The Last Soldier bagaikan untaian petasan. Beragam kejutan meletup-letup dan tidak ada habisnya. Bahkan ini benar-benar breakthrough paling bombastis sepanjang sejarah Lawrence yang sudah berdiri hampir empat dekade lamanya.

Peran Jafar dan Aladdin sebagai raja dan permaisuri pada lagu pertama benar-benar luar biasa. Meski menyanyikan lagu Concerto Pour Deux Voix yang notabene diisi oleh seorang sopran dan treble laki-laki, kesan romantis tetap dapat diraih. Jafar sukses menciptakan wibawa seorang laki-laki matang meski dengan suara treble pada part bagiannya. Bahkan ada adegan Jafar menggendong Aladdin ala bridal style, atau adegan Jafar berlutut dan mencium punggung tangan Aladdin. Lalu kemudian muncul Hakuryuu sebagai sang anak, Okeanos. Perannya lebih seperti pelengkap hingga kedatangan Judal yang memerankan selir raja yang jahat. Kesan anggun dan sensual yang dibawakan Judal pada lagu kedua dan akting Jafar yang seakan-akan tergila-gila padanya benar-benar membawa emosi penonton seperti jet coaster. Lalu keanggunan Judal diruntuhkan oleh karakter antagonisnya yang mendominasi beberapa part dan alur cerita. Aura kejahatan mulai membara ketika Judal mulai melantunkan No Consequences dari VersaEmerge. Hakuryuu baru mendapatkan aura heroik setelah sampai pertengahan cerita. Pada part lagu Zombie, Alibaba menggunakan gitar akustiknya dan menjadi backing vocal tunggal menggantikan choir pengiring Hakuryuu. Kemudian, pada adegan pertarungan Okeanos (diperankan Hakuryuu) melawan Neva (diperankan Judal) benar-benar seperti film action. Pada suatu adegan pertarungan, Judal mendorong Hakuryuu terlalu keras hingga cowok bersuara Tenor itu terjungkal sungguhan dari panggung dan tersuruk di tangga samping panggung.

Penonton menjerit tertahan, lalu hening.

Stone-hard, machine gun

Firing at the ones who run...

Dengan gaya dramatik khas seseorang yang bangkit dari kematian, Hakuryuu melancarkan jurus pamungkas sekaligus mengakhiri part lagu pada segmen ini. Judal benar-benar mengejang dan jatuh dengan cara yang begitu natural.

Pada lagu Wake Me Up When September End, Alibaba kembali menggunakan gitar akustik. Hakuryuu tidak mulai menyanyi sampai intro selesai, dan Alibaba dengan sigap mengambil alih lagu tersebut. Inisiatif berlebih Hakuryuu berjalan, dan ia melanjutkan sandiwaranya serta membiarkan Alibaba mengcover bulat-bulat lagu tersebut. Kemudian, pada part lagu terakhir yaitu Home is in Your Eyes, romantismenya terasa canggung. Namun saat lagu itu selesai, Hakuryuu sungguh-sungguh memeluk Morgiana, dan mereka berdua memberikan hormat kepada penonton sebelum tirai menutup.

.

.

.

.

.

.

.

Ini adalah saat-saat yang paling dinantikan. Bahkan Coach Yunan dan Scheherazade sampai mencondongkan badan saking semangatnya menunggu lagu penutup. Namun ketika tirai terbuka hanya ada Judal sendirian di sana. Lebih tepatnya, tidak benar-benar sendirian. Ia berdiri di depan seperangkat mesin berupa meja besar dengan sebuah laptop, yang tentu saja laptop kesayangannya. Lalu dari belakang panggung terdengar beberapa orang sekaligus berseru,

All my people in the crowd
Grab a partner take it down!

Lalu musik hiphop electro menyeruak, begitu pun dengan pemain-pemain Opera yang kini sudah berganti dengan seragam sekolah mereka. Morgiana berpasangan dengan Jafar, sementara Aladdin dan Alibaba menyebar ke sisi ujung panggung. Hakuryuu berlari menuju paling depan, dan menjadi satu-satunya orang yang mengenakkan stand mic. Judal sibuk mengutak-atik rangkaian tombol pada mesin di meja itu, sesekali di laptopnya.

[Aladdin]: There's a place downtown,
Where the freaks all come around.
It's a hole in the wall.
It's a dirty free for all.

Aladdin menyanyikan part-nya namun tidak dengan suara asli. Scheherazade menjerit ketika ia melihat dan mendengar bahwa Judal memainkan beberapa efek pada suara Aladdin. Namun belum selesai kekagetannya, Alibaba berlari menghampiri Judal dan ikut mengutak-atik beberapa tombol di seperangkat meja itu.

[Alibaba]: Popping bottles in the i-i-i-i ice, like a blizzard
When we drink we do it right gettin slizzard
Sippin sizzurp in my ride, like Three 6
Now I'm feeling so fly like a G6
Like a G6, Like a G6
Now I'm feeling so fly like a G6

Lalu kemudian Hakuryuu menyambung—dan tidak menggunakan efek sama sekali.

[Hakuryuu]: Load up on guns, bring your friends
It's fun to lose and to pretend
She's over bored and self assured
Oh no, I know a dirty word

"Me...mereka me-remix lagu untuk closing?" ucap Coach Yunan tidak percaya.

[Alibaba]: Gimme that Mo-Moet
Gimme that Cry-Crystal
Ladies love my style, at my table gettin wild
Get, get, get, get them bottles Popping, we get that drip and that drop
Now give me 2 more bottles cause you know it don't stop

[Jafar & Morgiana]:

All my people on the floor
[Let me see you dance]
All my people wantin' more
[Let me see you dance]
All my people round and round
[Let me see you dance]
All my people in the crowd
[Let me see you dance]
So how would you like a friendly competition
Let's take on the song [let's take on the song, let's take on the song]
It's you and me baby, we're the music
Time to party all night long

[Hakuryuu]:I'm worse at what I do best
And for this gift I feel blessed
Our little group has always been
And always will until the end

[Alibaba]: Sippin on, sippin on sizz, Ima ma-make it fizz
Girl I keep it gangsta, Popping bottles at the crib, crib
This is how we live, every single night
Take that bottle to the head, and let me see you fly

[Hakuryuu]: When we drink we do it right like a G6

[Jafar & Morgiana]:

All my people on the floor
[Let me see you dance]
All my people wantin' more
[Let me see you dance]
All my people round and round
[Let me see you dance]
All my people in the crowd
[Let me see you dance]
So how would you like a friendly competition
Let's take on the song [let's take on the song, let's take on the song]
It's you and me baby, we're the music
Time to party all night long

[Aladdin]: ooooh, ooh, oooooh..

[All] :EVERYBODY TAKE IT OFF!

[Aladdin]: ooooh, ooh, oooooh...

[All] :EVERYBODY TAKE IT OFF!

[Aladdin]: Right now, right now, right now, oooh. Right now, right now, right now, now, now, now...

[All]: There's a place downtown,
Where the freaks all come around.
It's a hole in the wall.
It's a dirty free for all.

[Hakuryuu]: And I forget just why I taste
Oh yeah, I guess it makes me smile
I found it hard, it's hard to find
Oh well, whatever, never mind

[Alibaba]: Hell yeah, make you put yo hands up
Make you put yo hands up, put yo, put yo hands up
(You can't touch this)

Hell yeah, make you put yo hands up
Make you put yo hands up, put yo, put yo hands up
(You can't touch this)

[Jafar & Morgiana]:

All my people on the floor
[Let me see you dance]
All my people wantin' more
[Let me see you dance]
All my people round and round
[Let me see you dance]
All my people in the crowd
[Let me see you dance]

[Jafar, Morgiana & Aladdin]:

All my people in the crowd, let me see you dance
C'mon Britney take it down, make the music dance
All my people round and round, party all night long
C'mon Britney lose control, watch you take it down

Lalu tiba-tiba Alibaba berlari merebut stand mic yang digunakan Hakuryuu.

[Alibaba]: Popping bottles in the i-i-i-i ice, like a blizzard
When we drink we do it right gettin slizzard
Sippin sizzurp in my ride, like Three 6
Now I'm feeling so fly like a G6

Penampilan super bombastis itu ditutup oleh Alibaba. Semua orang yang menonton, baik siswa, orangtua murid, staff pengajar, kelompok Choir dan Instrumental yang tidak dilibatkan serta semua tamu undangan menganga. Suasana sunyi. Judal turun dari tempatnya 'beraksi' dan berbisik tepat di belakang Alibaba.

"Sepertinya kita dalam masalah, dude."

PLOK! PLOK!

Coach Yunan tertawa lepas sambil bertepuk tangan dari balai atas. Semua siswa berdiri, bersorak memberikan applause begitu pula dengan orangtua murid. Sambutannya ternyata benar-benar meriah. Alibaba mengembangkan senyum yang bahkan lebih cerah dari lampu sorot panggung. Coach Yunan, Kepala Sekolah, disusul G.I Sharrkan dan beberapa staff pengajar lain berlari turun dari balai penonton mereka dan menaiki panggung, memberi pelukan kepada Alibaba sambil tertawa lepas bagaikan seorang ayah yang begitu bahagia karena dihibur anak-anaknya.

"Itu tadi benar-benar anti mainstream. Kau membuatku bangga, anak mudaaa!" G.I Sharrkan memiting kepala Alibaba dan mengucek-ucek rambutnya penuh sayang.

"Aduh, aku nggak ngapa-ngapain, kok!" Alibaba melepas pitingan supervisor-nya dengan susah payah. "Ini semua berkat kerja kerasnya Judal."

Kepala Sekolah dan Coach Yunan menoleh kepada Judal, yang kini malah membuang muka. Namun ekspresinya menunjukkan sesuatu yang lebih mulia dari sekedar rendah hati.

"Saya hanya memfasilitasi saja. Alibaba nggak bisa pakai mesin DJ. Dan lagi, kami tidak membuatnya dari awal. Ini hasil mashup orang lain." Ucapnya kaku.

"Tapi kau membuat live mashup?" Kepala Sekolah Sinbad menepuk-nepuk pundak Judal bangga. "Itu butuh lebih sekedar skill dan nyali, Judal Al-Sarmen."

Judal tersenyum.

"Kau bisa ke ruanganku setelah ini?" Sinbad mengulurkan sehelai kartu nama kepada Judal. "Ada seseorang yang ingin membahas sesuatu. Kalau bisa, sekalian saja bawa orangtuamu."

.

.

.

.

.

.

.

"Alibaba!"

Banyak orang yang memberikan encore saat Alibaba digotong oleh seluruh siswa yang terlibat dalam Opera ke dalam Hallroom dan ia diturunkan tepat di depan sebuah meja panjang dengan enam bangku yang sudah dilengkapi dengan berbagai jenis hidangan. Ternyata, Coach Yunan memberikan kejutan berupa kegiatan ramah tamah bagi para siswa yang terlibat dalam Opera. Setelah semua duduk di bangkunya, kali ini Coach Yunan yang maju ke stand mic yang ada di panggung untuk memberikan sambutan.

"Ini dari kami, Komite Sekolah Lawrence School of Music. Sebagai ucapan terima kasih dan selamat atas kesuksesan Opera berjudul Okeanos, the Last Soldier. Singkat kata, enjoy the meal. Eh? Nggak seru, ya? Kalau nggak denger sepatah-dua patah kata dari Solo Guitarist?" Coach Yunan tersenyum nakal. "Encore dulu dong!"

"Alibaba! Alibaba! Alibaba!"

Akhirnya, dengan penuh percaya diri dan wajah berseri-seri yang menunjukkan kebahagiaan level maksimum Alibaba maju ke panggung dan berdiri di sebelah Coach Yunan. Ia berdehem-dehem pelan.

"Mau ngomong apa, ya? Jadi bingung, tiba-tiba disuruh pidato. Ehm, anyway, aku mengucapkan terima kasih pada semua orang yang berpartisipasi dalam Opera kali ini. Mulai dari Choir yang sabar banget dengerin omelannya Jafar, grup Instrumental yang tidak lelah latihan meski tanpa kehadiranku beberapa kali, orang-orang backstages, bagian design, wardrobe, lighting, para Coach yang sudah kasih kepercayaan,para cast, dan mostly important, my damn good mentor, Jafar!"

Jafar menangkupkan tangannya sambil menunduk hormat menyambut tepuk tangan seluruh audience. Alibaba menutup pidato singkatnya dengan ucapan beribu terima kasih pada semua orang dan turun. Alibaba benar-benar lapar sampai tidak ingat apa saja yang sudah dimakannya. Ia dan Hakuryuu banyak membahas kejadian tidak terduga yang justru kini mengundang gelak tawa sendiri.

"Tapi kerja kerasmu benar-benar terbayar ya, Alibaba-kun?" kata Aladdin tiba-tiba.

"Eh? Um." Alibaba mengangguk. "Terima kasih, atas semua yang kau lakukan padaku. Aku benar-benar hutang budi."

Aladdin menggeleng. "Tidak apa-apa. Alibaba-kun kan..." Aladdin terdiam sebentar. "...temanku yang paling berharga."

Alibaba menatap Aladdin dengan pandangan terharu, kemudian memeluknya erat-erat. Aladdin tertawa, lalu menjejalkan beberapa potong daging ke mulut Alibaba. Suasana meja makan sang Solo Guitarist dan para pemainnya benar-benar penuh sukacita. Seorang anak dari bagian wardrobe menghampiri Alibaba sambil membawa-bawa sesuatu. Alibaba ingat namanya, namanya Marja.

"Ada apa?" tanya Alibaba ramah. "Mau tanda tangan?"

Marja menggeleng, kemudian menyerahkan sesuatu. Sebuah kotak persegi panjang pipih yang entah bagaimana cara membukanya.

"Ini kutemukan di ruang tata rias."

Kotak itu sebenarnya terdiri dari dasar dan tutup. Dilapisi kertas daur ulang halus berwarna pastel yang bermotifkan pohon anggur. Namun tutupnya dilem dengan sangat kuat sampai-sampai Alibaba tidak dapat membukanya dengan tangan kosong. Ia menyerah, lalu kemudian memendam rasa penasarannya dengan meletakkan kotak itu di meja. Setelah melihat tutupnya, terdapat sebuat tulisan tangan besar yang sangat familiar bagi Alibaba. Bertuliskan,

ALIBABA SALUJA!

Alibaba tahu, pasti Judal-lah yang memberikan kotak itu. Alibaba tersenyum lembut, kemudian memasukkan kotak berbalut kertas daur ulang yang sulit dibuka itu ke dalam tasnya.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku tidak menyangka kalau kau akan menerimanya."

Judal tidak berkata apa-apa. Ia menenteng jasnya, dan menyampirkannya di bahu. Make-up yang tadi dikenakannya sudah ia hapus sebelum memasuki Ruang Kepala Sekolah. Tadi setelah Opera ia mencari Ithnan dan menemui Kepala Sekolah. Judal baru saja bertemu dengan Dunya Musta'shim, pemilik label rekaman Cobler yang sudah menerbitkan beberapa musisi terkenal saat ini. Band beraliran alternative rock bernama Secret Crowd yang sering didengarkan Judal juga berasal dari label rekaman ini.

"Dia bilang aku bagus. Kenapa nggak?" celetuk Judal kemudian. "Kau keberatan, Ithnan?"

"Tidak juga." Ithnan menggeleng. "Aku mendukung. Bakatmulah yang membuat Cobler memanggilmu, kan?"

"Bisa jadi." Jawab Judal apatis.

Ithnan dan Judal menuruni tangga, melewati kelas-kelas Baritone. Pada koridornya dimana terdapat banyak sekali loker dan jalan menuju toilet, Judal melihat seseorang yang cukup familier. Rambutnya pirang cerah, tampangnya selalu ekspresif dan kini ia baru saja keluar dari toilet sambil menaikkan resleting celananya. Mendengar langkah kaki selain miliknya, Alibaba menoleh.

"Judal!" serunya senang, lalu berlari menghampiri Judal. "Kenapa nggak ikut makan-makan?"

Ithnan menatap Judal bingung. Judal berdehem, menyindir Alibaba.

"Ah, ma...maaf." Alibaba mengulurkan tangan kanannya. "Selamat malam. Saya..."

"Alibaba Saluja?" Ithnan menyambut tangan Alibaba dengan ramah.

"Kau sudah cerita, Judal?" tanya Alibaba bingung sekaligus terkejut.

Judal tidak menjawab. Namun Ithnan menyahut "Nonton Opera. Aku mudah menghafal nama dan wajah orang lain."

"Iya, dia Ithnan Al-Sarmen. Ayahku." Tambah Judal.

Lalu kemudian Ithnan pamit pulang dan meninggalkan mereka berdua. Alibaba hanya menganga, dan menunggu hingga Ithnan sudah benar-benar jauh.

"Ayahmu cuek banget, ya. Jadi kayak teman saja." Celetuk Alibaba.

"Kau cuma mau bilang itu padaku?" tanya Judal skeptis.

"Bukaaan." Alibaba menggeleng-geleng. "Masa nggak ada kangen-kangennya sama pacar sendiri?!"

Ekspresi Judal berubah. Ia menatap Alibaba lama. bibirnya terbuka, kemudian mengatup kembali. Ia kelihatan ingin mengatakan sesuatu. Alibaba mengajaknya duduk di bangku panjang terdekat, kemudian merebahkan kepalanya di pundak Judal.

"Aku kangen." Bisik Alibaba lagi. "Maaf, waktu itu aku marah. Aku tidak tahu keadaannya."

Judal menepuk-nepuk kepala Alibaba, kemudian mengecup keningnya. Ia mengangkat wajah Alibaba dengan lembut, kemudian mengecup bibirnya. Alibaba membalasnya, memeluk pundak Judal dengan erat. Mereka saling memagut, menjilat, mengulum, saling menginginkan satu sama lain. Judal melepaskan ciumannya lebih dulu, dan ia menatap Alibaba ragu-ragu. Judal memeluk Alibaba sebentar, lalu melepaskannya lagi.

"Kita cuma bisa bersama sampai tanggal 4 Juni." Katanya.

"Kenapa? Ah! Kau wisuda, kan?" Alibaba tersenyum. "Apa setelah ini kau akan ke luar negeri?"

Judal menggeleng. "Aku mau mengambil jalan sendiri. Aku mau kita putus."

Alibaba tertegun. Ia menatap Judal dalam-dalam, dan tidak ada nada bercanda maupun tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa Judal tidak sungguh-sungguh mengatakan hal itu. Alibaba mendadak limbung. Ia meremas kemeja Judal dengan bingung.

"Itu tidak lucu, Judal. Katakan kalau kau cuma bercanda. Atau itu cuma hoax seperti yang biasa kau katakan padaku. Judal, aku mohon katakan sesuatu yang benar. Judal!" racau Alibaba sambil mengguncang-guncang pundak Judal.

Judal menggeleng. "Aku tidak bercanda, Alibaba."

"Kenapa?" Alibaba berseru. "Salahku apa? Kau masih marah karena masalah yang kemarin? Atau karena aku kurang perhatian, tidak menjengukmu saat sakit? Atau karena kita tidak pernah berkomunikasi? Kenapaaa?"

Semakin sering Alibaba bertanya kenapa, mata Judal pun terasa semakin panas. Tidak butuh kata-kata lain hingga membuat sepasang rubi itu menggenang, meneteskan airmata yang menganak sungai di pipinya. Pundaknya bergetar. Suaranya tercekat. Judal butuh waktu untuk menguasai dirinya.

"Jangan buat aku goyah, Alibaba." Paraunya. "Keputusanku sudah bulat."

Alibaba terdiam. Ia menatap Judal cukup lama sampai akhirnya ia memeluk Judal, membiarkan Judal menangis. Judal sendiri tidak balas memeluknya. Alibaba baru pertama kali melihat Judal menangis—sepanjang ia mengenal seorang Judal Al-Sarmen. Ia tidak meraung-raung ataupun tersedu-sedu. Tangisannya hanya berupa derai airmata yang dibingkai sunyi yang mendalam. Tangisannya tanpa suara, namun dalam pelukannya Alibaba dapat merasakan betapa sedihnya Judal kali ini.

"Apa kau akan menceritakan alasanmu?" tanya Alibaba lembut. Ia merasakan di pundaknya bahwa Judal mengangguk, menumpukan keningnya di bahu Alibaba—yang membuatnya sedikit membungkuk dikarenakan postur Judal yang lebih tinggi dari sang kekasih.

"Kau mau mampir ke rumahku dulu?" tanya Alibaba lagi. Judal menjawab dengan cara yang sama.

Alibaba mengangguk paham. Ia menggandeng Judal menuju parkiran mobil, mencari mobil Maserati Quattroporte yang sudah banyak cacat ringannya. Judal mengemudikan mobilnya dengan lebih terkendali sekarang. Semenjak insiden mantan, Judal memperlakukan Alibaba seakan-akan cowok itu tidak pernah hadir di dunia ini. Sekarang pun Judal masih diam. Alibaba benar-benar khawatir, dan berusaha mencari bahan untuk dibicarakan.

"Hadiahmu...makasih. Aku belum buka, sih. Tapi aku senang." Ujarnya.

Judal tersenyum tipis. Wajahnya perlahan kembali menjadi cerah. Judal memarkirkan mobilnya di tempat dimana Alibaba pernah menginstruksikannya. Kemudian mereka menuju rumah petak Alibaba dengan jalan kaki. Rumah petak Alibaba masih senyaman dan sesederhana biasanya. Judal memasukinya, menjelajah dengan ragu-ragu dan kemudian mengambil sisir kayu dari kaca rias. Judal berlari kecil ke arah Alibaba dan memberikan sisir itu padanya.

"Kau mau aku menyisirkan rambutmu lagi?" tanya Alibaba ramah. Judal tersenyum dan mengangguk.

Alibaba duduk di sofa, dan menepuk pahanya. Judal tertawa pelan, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Alibaba. Cowok pirang itu membuka ikatan dan jalinan rambut Judal, kemudian menyadari satu hal yang fudamental. Surai legam indah itu kini tidak lagi sepanjang mata kaki, namun hanya sebatas pinggul Judal. Tebal rambutnya kini pas di genggaman Alibaba, tidak setebal saat pertama kali Alibaba memburainya.

"Kau memotongnya?" Alibaba mengambil sejumput rambut Judal dan menyisir helai-helai selegam langit malam itu penuh cinta.

Judal mengangguk. "Ithnan bilang, salah satu cara buang sial adalah potong rambut."

"Itu cuma takhayul." Balas Alibaba.

"Mungkin..." Judal membenamkan wajahnya ke pangkuan Alibaba. "Dengan memotong rambutku, aku bisa membuang kenangan-kenangan menyakitkan."

Alibaba tersenyum pahit, namun tidak mengatakan apa-apa. Ia masih menyisir helai-helai sutra hitam itu hingga kilaunya bahkan lebih terang.

"Sudah." Ujar Alibaba.

Judal mengangkat kepalanya, mencondongkan wajahnya ke wajah Alibaba dan menatap ke dalam matanya. Kemudian ia menunduk, menaruh salah satu tangannya di lutut Alibaba. Dan dengan sekali tumpuan ia menubruk cowok pirang itu, melumat bibirnya dengan ciuman penuh gairah. Alibaba benar-benar terkejut, namun tidak melawan sama sekali. Ia dan Judal sama-sama menginginkannya. Dengan satu tangan ditariknya kemeja Judal hingga terlepas, begitupun dengan ciuman mereka. Wajah terkejut Judal manis sekali. Sutra hitam legam itu tergerai anggun, beberapa menyelimuti bahu Judal. Lekuk tubuhnya membuat Alibaba mereguk liur—jiper sendiri.

"Sampai 4 Juni..." Judal tertawa lebar. "Ayo kita lakukan apa saja yang kita mau?"

"4 Juni?" Alibaba menaikkan alisnya. "Setelah itu?"

Judal menaikkan bahu. Alibaba menariknya mendekat dan memeluknya penuh cinta, membiarkan kekasihnya melecuti kemejanya juga.

"Biar Tuhan yang menentukan. Bagaimana?" bisik Judal bijaksana.

.

.

.

.

.

.

.

UWOOOOOOH APDET! SUMPAH READERS, INI TERMASUK CHAPTER PALING SUSAH DI ANTARA CHAPTER LAIN DI MELUKIS LANGIT. KENAPA? KARENA LIRIK LAGUNYA ITU LHOOOO! #CAPSLOCK JEBOL

Ehm. Oke lanjut.

Kenapa saya sarankan anda mendengarkan lagu yang sudah tertera di atas? Tentu saja, biar Anda semua tidak bingung dengan begitu banyak part dan untaian lirik lagu yang dipotong-potong dalam fic ini. Saya melakukan hal yang sama, ngetik fic ini sambil mendengarkan lagu-lagu tersebut. Dan untuk lagu Smells like Ke$ha's G6 (Mashup by Titus Jones) saya buat lirik lagunya DARI AWAL. DARI AWAAAAL #ganyantai. Kenapa? Karena namanya juga lagu mashup, jarang sekali ada orang yang mau capek-capek mencarikan liriknya. Namun karena saya suka lagu ini dan kayaknya bisa jadi penutup yang benar-benar bombastis, akhirnya saya ber-sparta-ria mendengarkan lagu ini berkali-kali dan membuatkan part bagi para chara dan mencantumkan teks itu sendiri agar para readers yang baca fic ini sambil mendengar musiknya juga bisa ikut membayangkan #cailah. Bagi yang nggak suka dengan lirik-lirik itu, silakan hentikan baca fic ini. Saya sudah bilang dari awal bahwa ini fic gaje bertema musik :)

Dan untuk adegan terakhir, jangan minta saya panjangin durasi dan segala macem. Tolong setop! Kalau lebih lagi mau nggak mau saya harus merubah rating. Banyak banget yang nanya 'disini Alibaba jadian sama Judal tapi kok pairnya AliAla?' disitulah konfliknya, my readers yang budiman. Saya serahkan sama Anda enaknya Alibaba jadi milik siapa :3

Spoiler? Eum...

Alesan Judal mutusi Alibaba adalah salah satunya karena mau ikut 3some-an sama SinJa #ngaco #abaikan

Sekian. Makasih sudah mengikuti Melukis Langit sampai chapter 13 #sujudsamareaders