Melukis Langit

Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.

Rate: T

Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.

.

.

.

.

.

.

.

XV: Moving On

"Words make you think. Music makes you feel. A song makes you feel a thought."
― Yip Harburg

.

.

.

.

.

.

.

"Alibaba, nggak ada yang salah dengan jadi anak hardcore. Yang salah adalah ketika kau akhirnya lupa belajar dan aku harus menangani dua nilaimu yang hancur—manner dan Bahasa Perancis! Bikin malu saja!"

G.I Sharrkan berkata dengan nada marah meskipun perkataannya lembut. Alibaba sudah paham, ia tidak bermaksud demikian. Pria berkulit gelap itu memang menjadi 'orang lain' ketika sedang menyanyi dan main gitar. Dan menjadi karakter aslinya ketika tidak melakukan dua kegiatan tadi: suka teriak-teriak. Gossip bahwa G.I Sharrkan menyukai Coach Yamuraiha dan berkali-kali gagal melamarnya mungkin memiliki alasan logis. Alibaba juga nggak mau terima pria labil macam supervisor-nya ini kalau jadi cewek secantik dan seseksi Coach Yamuraiha.

"Maaf." Balas Alibaba. "Aku akan ikut remedial Bahasa Perancis. Untuk pelajaran manner, aku dua kali bolos praktek saja. Terima kasih sudah repot-repot mengurusi aku."

"Maaf dan terima kasih saja belum cukup!" G.I Sharrkan menggeplak kepala murid kesayangannya itu dengan sebuah buku yang dia gulung-gulung. "Tulis SAYA BERJANJI AKAN BELAJAR DENGAN GIAT DAN SUNGGUH-SUNGGUH SERTA MEMBUAT GENERAL INSTRUCTOR SHARRKAN BANGGA ATAS KERJA KERASKU SEBAGAI SISWA LAWRENCE SCHOOL OF MUSIC sebanyak 2500 kali!"

"Yang bener aja?!" nada suara Alibaba meninggi. "Mana selesai dalam satu hari?! Dan lagi apa-apaan kalimat super narsis itu?!"

"Nggak mau tahu. Hari Jumat sudah ada di mejaku, atau kuantar kau ke ruang Kepala Sekolah untuk 'dihajar'."

Alibaba mendesah kesal, menerima tugas menulis SAYA BERJANJI AKAN BELAJAR DENGAN GIAT DAN SUNGGUH-SUNGGUH SERTA MEMBUAT GENERAL INSTRUCTOR SHARRKAN BANGGA ATAS KERJA KERASKU SEBAGAI SISWA LAWRENCE SCHOOL OF MUSIC. Sebanyak 2500 kali dan hanya dikasih waktu seminggu. Ia mendekati bangku panjang terdekat di sepanjang koridor dan menendangnya dengan penuh kekesalan. Memangnya ini jaman perang dunia kedua apa, hari ini masih saja dapat hukuman begituan? Mungkin ia akan mengerahkan seluruh teman-temannya untuk membantu mengerjakan tugas menyebalkan itu.

"Alibaba!"

Cowok pirang itu menoleh, mendapati Olba melompat dan mengucek-ucek rambutnya. Toto dan Kassim berjalan di belakangnya. Toto membawa gitar bass dari Audiotorium Central (ruang praktek anak-anak kelas Instrumental). Alasan kenapa Alibaba sekarang dibilang anak hardcore adalah karena bergabung dengan mereka bertiga dan menyetujui posisi sebagai vokalis dan lead guitarist dan membentuk band bernama Flame Gladiators. Kassim sekelas dengannya di Baritone 5, sementara Olba baru dia kenal pada saat latihan Opera. Toto adalah pacarnya Olba. Hardcore adalah istilah anak-anak yang membentuk band dan menganut aliran rock and roll, metal, dan sejenisnya. Jika mereka beraliran jazz disebut Groove, jika beraliran klasik (biasanya seluruhnya dari kelas Instrumental) disebut Borjuis, jika beraliran blues disebut Gloom dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka melakukan hal seperti ini hanya untuk iseng-iseng saja. Tapi beberapa ada yang cukup serius. Alexius adalah groove dengan Titus Alexius sebagai frontman mereka. Alexius mendapat banyak dukungan moral dan 'dukungan lain' dari Wakil Kepala Komite Scheherazade. Tidak tahu alasannya apa.

"Kau ini kenapa? Nggak biasanya bermuka jelek begitu. Kan mantan Solo Guitarist. Pasang tampang gantengan dikit, dong!" Olba menggodanya.

"Aku kena sial. Disuruh menulis 2500 kali. Batas waktunya sampai hari Jumat." Tutur Alibaba sambil duduk.

"Itu kan kecil. Aku sudah sering dapat hukuman itu. Dasar payah!" Kassim menendang pinggang Alibaba pelan dan mengucek-ucek kepalanya.

"Urgh," Alibaba mengelak. "Masalahnya, yang harus kutulis adalah SAYA BERJANJI AKAN BELAJAR DENGAN GIAT DAN SUNGGUH-SUNGGUH SERTA MEMBUAT GENERAL INSTRUCTOR SHARRKAN BANGGA ATAS KERJA KERASKU SEBAGAI SISWA LAWRENCE SCHOOL OF MUSIC. Memang dipikir aku ini apa?!"

"Om-om hitam keling banyak gaya itu benar-benar kebangetan." Celetuk Toto. "Yosh! Toto akan membantu Alibaba!"

"Jangan," kilah Kassim. "G.I Sharrkan itu orangnya jahil. Kalau tahu tugas itu bukan tulisan Alibaba, dia bisa disuruh mengulang. Sayang aja dia salah satu instruktur gitar terbaik di Lawrence. Kalau bukan sudah kubuat tahu rasa dia."

"Sudahlah, memang aku harus mengerjakannya sendiri." Jawab Alibaba sambil menepuk-nepuk pundak Toto. "Makasih atas kebaikanmu, Toto."

"Kau ikut, kan?" Olba menarik-narik tangannya menuju lantai dua. "Kami sudah selesaikan booking studio di lantai 3. Dapat dua jam."

Alibaba menepis tangan Olba. Mereka bertiga cukup terkejut dengan perlakuan cowok pirang tersebut.

"Aku pass. Kerja rodi menunggu~" Alibaba tertawa lebar, menyembunyikan kejengkelannya atas tugas nggak waras tersebut.

"Oh, ya sudah. Sukses, ya!" Kassim menepuk bahunya dan menyusul Olba dan Toto yang sudah jalan duluan ke studio.

Ini sudah memasuki minggu ke enam dalam tahun ajaran baru. Alibaba kini sudah memasuki tahun kedua, angkatan ke 39. Aladdin kini tidak sendirian semenjak kedua teman sekelasnya lulus. Ada tiga orang cowok seusia Alibaba yang masuk kelas Countertenor di tahun ajaran baru kali ini. Sphintus sudah lulus. Hakuryuu mendapat scholarship untuk belajar di Five Town College selama tiga bulan. Morgiana tergabung dalam Choir resmi Lawrence. Titus sibuk dengan groove, begitu pun dengan Alibaba yang kini sibuk dengan hardcore.

Alibaba sudah jarang—bisa dikatakan tidak pernah bicara lagi dengan Aladdin. Sesekali mereka berpapasan, saling lempar senyum dan sapa, kemudian kembali pada rutinitas masing-masing. Malahan, Judal yang lebih sering ke rumah Alibaba. Bahkan ia tidak tahu kalau sebagai artis Judal juga bisa punya hari libur.

"Tentu saja bisa." Balas Judal pendek pada suatu ketika Alibaba menanyakannya. "Aku menyuap manager-ku. Bagaimanapun caranya aku mau punya hari libur sekali dalam seminggu. Dan hari rabu adalah pilihannya."

"Oke." Balas Alibaba, masih pusing dengan hukumannya menulis 2500 kali. Setelah 9 jam ia lakukan, Alibaba baru sampai 327 kali. Bahkan tangan kanannya sudah gemetaran ketika menulis kalimat yang sama untuk ke 328 kalinya.

"Jadi sekarang kau di sekolah jadi anak nakal?" Judal menempelkan dagunya di meja dan menatap lurus ke Alibaba. "Terus dapat kerjaan nggak penting begini?"

Alibaba balas menatap, kemudian memalingkan wajah dengan salah tingkah. "Nilai Bahasa Perancis dan manner lesson-ku jelek, G.I Sharrkan sampai ditegur katanya."

"Tidak biasanya. Kau ini kan rajin." Judal mengambil sebuah bungkus bekas coklat yang dibuntal jadi bola dan menimpuknya ke dahi Alibaba.

"Aduh!" lenguhnya kesal. "Aku akhir-akhir ini main sama anak hardcore. Hakuryuu dapat beasiswa ke Amerika selama tiga bulan. Morgiana masuk Choir resmi. Titus sibuk dengan groove barunya."

"Aladdin?"

Alibaba berhenti menulis. Ia tidak punya jawaban untuk anak itu. Memorinya kembali lagi ke saat liburan Aladdin menelponnya, menyuruhnya untuk datang ke sekolah, dan Alibaba menolaknya—meskipun ada nada paksaan pada suaranya kala itu, Alibaba tetap keras kepala dan akhirnya tidak datang. Apakah saat itu Aladdin datang, menunggunya selama beberapa lama, kemudian kecewa dan pulang? Kemungkinan itu memang ada. Namun entah kenapa pikiran itu baru hinggap di kepala Alibaba.

Cowok pirang itu menatap Judal yang tengah mengorek-ngorek isi kulkasnya. Apa karena waktu itu ia masih belum bisa move on? Alibaba memang belum bilang ingin balikan, namun ia tahu bahwa Judal terlalu keras kepala dan pasti akan memberikan jawaban tidak. Tapi buat apa cowok bersurai legam itu tetap rutin main ke rumahnya, selain bahwa itu adalah 'kode' untuk Alibaba agar mengajak Judal balikan?

"Judal..." panggil Alibaba.

"Haa?" balasnya cuek sambil mengambil sebuah gelas dari lemari dan menyuguhkan segelas es teh manis untuk dirinya sendiri.

"Aku mau balikan." Tegasnya.

Judal terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak. Alibaba tidak mengerti dibagian mana perkatannya terdengar lucu. Lalu Judal kembali memasang wajah ketus permanennya dan meneguk es teh yang baru saja dibuatnya.

"Nggak bisa." Ucapnya singkat.

"Kenapa?" protes Alibaba. Judal hanya mendeliknya, memberikan ultimatum bisu bahwa seharusnya Alibaba tidak mengatakan hal seperti itu. Maka cowok pirang itu pun terdiam.

"Aku tanyakan hal yang sama padamu, Alibaba." Balas Judal.

"Aku masih kepikiran tentangmu, Judal. Aku coba melupakannya, seperti mengingat-ngingat orang lain atau mengerjakan hal lain. Tapi itu sulit sekali. Aku masih sayang padamu, Judal. Dan aku sungguh-sungguh!"

Judal terdiam. Ia mengeluarkan Ipod touch miliknya dan mulai main game. Alibaba yang merasa diacuhkan meredam kekesalan dengan menyelesaikan tugas hukumannya. Sesekali matanya berbuat nakal, mencuri pandang kepada pemilik surai legam itu. Judal kelihatan sedikit lebih gemuk. Selain rambutnya yang dipotong dan celana skinny jeans yang digulung setengah betis, semuanya masih terlihat sama. bahkan ia kelihatan lebih menawan dibanding saat-saat sebelumnya, apalagi kini dia sekarang sudah jadi artis. Kiasan para jomblo yang mengatakan bahwa 'pacar terkadang kelihatan lebih menggoda setelah berganti status menjadi mantan' ternyata benar. Dan kiasan ini terdengar sangat menyebalkan ketika menyadari bahwa Alibaba masih belum menjadi siapa-siapa sementara Judal kini punya ribuan, bahkan puluhan ribu fans sekarang.

"Kalau gitu kau harus punya pacar baru." Jawab Judal gamang.

"Kau semudah itu melupakan aku?!" pekik Alibaba kaget.

"Tentu saja tidak. Kalau aku melupakanmu aku pasti tidak ingat jalan kesini." Ucapnya agak apatis. "Yang sudah tidak ada hanyalah rasa cintaku untukmu, Alibaba. Aku menyalurkannya untuk hal lain."

"Mudah sekali sepertinya." Keluh Alibaba.

"Tentu saja tidak." Judal akhirnya menoleh. "Aku juga masih susah move on. Mungkin karena frekuensi kenangan kita lebih banyak ketimbang saat aku dengan Jafar. Tapi, kurasa benda di lehermu itulah yang harusnya mengingatkanmu."

Alibaba mengelus dadanya, merasakan benda kecil yang menggantung di lehernya. Sebuah watch necklace yang diberikan Judal saat Opera. Kotak yang sulit dibuka itu berisikan watch necklace dan dua lembar kertas. Lembar kertas pertama adalah Alibaba yang tengah bermain gitar, menghadap samping ke arah Judal yang duduk didepannya. Gambar itu tetap versi manga, dimana ingatan Alibaba berputar ketika ia memainkan lagu One Sweet Love untuk Judal. Kertas kedua bertuliskan sesuatu yang agak menyakitkan.

Terkadang hal tersulit bukanlah untuk merelakan sesuatu pergi, melainkan untuk memulai kembali dari awal. Nicole Sobon bilang begitu. Kuharap benda ini bisa membuatmu merelakan, dan memulai kembali dari awal. Percayalah, waktu tidak akan pernah menunggumu. Jadi jangan harap waktu akan menunggumu untuk merelakan sesuatu pergi –Judal

Alibaba tersenyum getir.

"Kita sama-sama memutuskan untuk terluka. Dan kita harus berusaha masing-masing untuk menyembuhkannya." Kata Judal lagi.

.

.

.

.

.

.

.

Alibaba mengetuk, kemudian membuka pintu kelas Countertenor pada jam istirahat. Empat cowok di kelas itu langsung menoleh, dan memasang ekspresi bertanya. Alibaba berdehem dan kemudian berkata,

"Aku mencari Aladdin."

Aladdin yang tengah duduk di meja melompat turun dan menghampiri Alibaba di luar kelas. Cowok pirang itu selain sekarang lebih tinggi dan agak kurusan (karena sebelumnya Alibaba agak overweight), ia membawa gitarnya dalam case dan diselempangkan di punggungnya. Alibaba membawa empat buah kertas dan mengajak Aladdin duduk di sebuah tangga yang jarang didatangi orang. Tangga menuju atap Tower.

"Ada apa?" tanya Aladdin.

"Aku...aku..." Alibaba memberikan Aladdin tiga buah kertas yang dipegangnya. Hanya ada judul, penyanyi dan chord gitar yang tidak dimengerti Aladdin. Tidak ada liriknya.

"Ini apa?"

"Begini..." Alibaba duduk di depan Aladdin dan tersenyum. "Aku minta maaf, selama ini tidak peka dengan perasaanmu. Aku sudah membaca buku yang kau berikan, aku juga membacanya berulang-ulang. Terima kasih sudah mau mencintaiku, Aladdin."

"Sekarang itu sudah tidak ada artinya lagi." Jawab Aladdin muram. "Kau sudah pacaran dengan Judal kan, Alibaba-kun?"

"Kami...um..." Alibaba menggenggam tali guitar case-nya dengan canggung. "Putus."

Kedua mata biru Aladdin melebar. Ternyata hal yang paling diharapkannya terkabul juga.

"Tidak usah paksakan dirimu." Aladdin mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Alibaba. "Kau bisa mencintai siapa saja. Itu hak Alibaba-kun."

"Tidak mau!" Alibaba menggeleng. "Aku mau belajar mencintaimu. Aku akan berusaha!"

Aladdin tidak tersenyum. Namun kedua matanya berkaca-kaca dan wajahnya bersemu samar.

"Lagu-lagu itu...aku dengar sendiri dan kucari sendiri kunci gitarnya." jelas Alibaba. "Aku akan mainkan lagu itu untukmu. Aku akan mainkan berapa kali pun. Yang perlu kau lakukan hanya mengisikan lirik pada bagian yang kosongnya."

Aladdin mendekapkan kertas-kertas itu di dadanya. "Aku nggak tahu cara menulisnya. Tapi...kalau Alibaba-kun bersedia memainkan lagu-lagu itu, aku akan berusaha."

Alibaba mengangguk. Kemudian mengeluarkan gitar kesayangannya dari dalam case. Mereka duduk bersebelahan, tetap dalam posisi Aladdin dua anak tangga lebih tinggi darinya.

Alibaba memainkan intro lagu dari Coldplay yang berjudul The Scientist. Aladdin merasa kembali ke bulan-bulan awal kedekatan mereka, saat Alibaba memainkan lagu Domino untuknya di perpustakaan. Namun Alibaba Saluja yang kali ini memainkan lagu untuknya kelihatan berbeda. Aladdin kini melihat sisi dewasa dan ketegaran Alibaba. Tidak ada binar keceriaan lagi di matanya. Ia seperti kehilangan setengah nyawanya dalam perang besar-besaran.

Come up to meet you, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I'll set you apart

Tell me your secrets and ask me your questions
Oh let's go back to the start
Running in circles, coming in tails
Heads on a science apart

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this
hard
Oh, take me back to the start.

Aladdin menangkap suara cowok pirang itu mulai bergetar. Mungkin kunci-kunci gitar itu tidak cukup membuatnya bertahan. Lirik yang ia nyanyikan membawa kepedihan tersendiri. Apakah lagu ini ditunjukkan Alibaba untuk menghibur dirinya sendiri? Cowok pirang itu berhenti sebentar, tidak melanjutkan liriknya. Kedua tangannya masih melantunkan melodi indah dari petikan senar gitar. Ia menatap Aladdin, menarik senyuman semanis dan selembut permen kapas meskipun tatapannya telah berkaca-kaca.

Tell me you love me

come back and haunt me..

Lalu bulir-bulir kristal jatuh menuruni pipinya, bersama dengan melodi yang terus menjembatani bagaimana sulitnya bagi Alibaba sendiri untuk melewati masa-masa ini. Beberapa lirik lagu kembali tak terucap. Namun meski tidak sepenuhnya mendengar seluruh lagu yang dinyanyikan Alibaba, perasaan terluka itu tersampaikan ke hati kecil Aladdin. Alibaba mungkin belum mencintainya. Di dalam relung hatinya masih tersimpan perasaan cinta kepada Judal. Tetapi Aladdin mengerti, Alibaba ingin melupakan Judal. Dan tidak ada proses yang tidak menyakitkan ketika Alibaba memutuskan untuk melupakan orang yang ia cintai. Aladdin terhenyak. Rasa sakit yang sama ia rasakan meski dalam kondisi yang terbalik.

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part

"Sudah..."

Aladdin merangkul leher Alibaba dan mendekap kepalanya. Tubuhnya sedikit berguncang, dan kedua tangan mungil itu mengusap-usap surai pirang Alibaba dengan penuh cinta.

"Terima kasih, Alibaba-kun." lirihnya. "Aku mengerti."

Alibaba tersenyum tipis. Aladdin menggunakan punggung tangannya untuk menghapus airmata Alibaba. Lautan dalam bertemu dengan sepasang manik ambar. Di sepasang manik ambar itu mulai terpercik secercah potensi kebahagiaan.

"Kau tidak perlu memaksakan dirimu sendiri." Aladdin mengusap wajah Alibaba dengan kedua tangannya. "Aku ada bersamamu. Kita hanya butuh waktu."

"Terima kasih." bisik Alibaba lagi. "Terima kasih, Aladdin."

Anak berambut panjang sepinggang itu berdiri, mengusap surai pirang Alibaba lagi sebelum beranjak pergi.

"Sebentar lagi masuk." katanya. "Aku belum menulis apapun. Apakah Alibaba-kun mau memainkan lagu itu lagi besok?"

Alibaba mengangguk semangat. "Besok, saat istirahat aku tunggu disini."

Aladdin kembali menghampirinya, menatap dalam-dalam sepasang manik ambar terindah di hatinya tersebut. Awalnya Alibaba terkejut, kemudian ia menarik senyuman lembut.

"Matamu indah sekali, cintaku." ucapnya sambil tertawa, lalu berlari kecil kembali ke kelasnya.

.

.

.

.

.

.

.

Hari-hari Alibaba Saluja selanjutnya terasa agak berbeda. Kassim, Toto dan Olba bersedia tidak ngeband selama seminggu sampai Alibaba menyelesaikan tugas hukumannya. Akhir-akhir ini G.I Sharrkan jadi agak keras terhadapnya, mungkin karena beliau memiliki ekspektasi sendiri kepada Alibaba semenjak Opera. Jam istirahat dihabiskan Alibaba bersama Aladdin, di atap Tower. Bekas goresan kapur gambar Judal masih tersisa, meskipun nyaris seluruh gambar (atau lukisan; bagi Judal sama saja)nya tersapu air hujan selama berminggu-minggu. Aladdin sering membawakannya bekal, lebih sering semacam roti panggang dengan isi selai kacang buatan sendiri yang tidak terlalu manis. Mereka saling tukar cerita, dan Aladdin begitu menggemaskan saat tertawa.

"Nee, Alibaba-kun." Aladdin mengeluarkan kertas berisi chord gitar lagu The Scientist. "Aku bawa pulpen. Ayo..."

"Siaaap!" Alibaba mengeluarkan gitarnya, lalu dengan santai merebahkan kepalanya di pangkuan Aladdin.

"Eh...eh..." semburat merah menghiasi kedua pipi Aladdin. "Ka...kalo begini gimana nulisnya?"

"Bisaa..." Alibaba membetulkan posisi rebahannya, dan menekuk sebelah tungkai Aladdin sehingga ia bisa memangku kepala Alibaba di satu tungkainya dan menggunakan tungkai satunya sebagai tatakan untuk menulis. "Gimana?"

"Agak susah, sih." Aladdin tertawa garing. "Tapi aku coba..."

Alibaba mulai memetik gitarnya. Ia sudah dua puluh delapan kali memainkan lagu ini dalam tiga hari semenjak Aladdin menerima cara konyolnya dalam mencintai. Tapi, kunci-kunci gitar itu membawa aura magis. Ia tahu meskipun perlahan, hati mereka berdua mulai kembali mendekat. D minor, B mol, F dan A minor. Kemudian dari D minor, B mol, F dan A minor lagi.

Come up to meet you, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I'll set you apart

Alibaba berhenti sejenak, membiarkan Aladdin selesai menulis. Kemudian setelah kedua tangan mungil itu berhenti menulis, Alibaba mulai memetik senarnya kembali.

Tell me your secrets and ask me your questions
Oh let's go back to the start
Running in circles, coming in tails
Heads on a science apart

"Kenapa sebentar-sebentar berhenti, Alibaba-kun?" tanya Aladdin lembut sambil menaruh tangannya di kepala Alibaba, mengusap surai pirang tebal tersebut.

"Tidak..." Alibaba tersenyum. "Aku cuma tidak mau kau ketinggalan, Aladdin."

Lalu Alibaba memperlambat permainannya. Ia mencoba memahami keindahan wajah Aladdin. Dia cuma anak polos, wajahnya manis dan masih berkesan 'imut'. Rambutnya berwarna kusam, namun kelihatan sangat lembut dan terawat. Aladdin harum, wanginya seperti bayi. Kedua tangan mungilnya selalu hangat dan penuh cinta.

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start.

"Nee, Alibaba-kun. Kenapa kau memutuskan untuk mencintaiku?" tanya Aladdin tiba-tiba.

Alibaba berhenti bernyanyi. Namun tangannya masih memainkan nada Dm7, B mol, F dan C dengan tempo diperlambat. Angin yang berhembus di antara mereka terasa panas, namun membawa sedikit kesejukan di tengah hari yang terik ini. Angin itu meniup-niup rambut mereka berdua. Alibaba bangun, kemudian menarik Aladdin ke dalam pelukannya.

"Kau sudah berkorban banyak, Aladdin." Ucapnya. "Kurasa kau adalah orang yang tepat."

"Bukan cuma sekedar balas budi?" tanya Aladdin gamang.

"Mungkin..." Alibaba mengusap kepala Aladdin penuh sayang. "Cuma butuh waktu, Aladdin. Cuma butuh waktu..."

Lalu Aladdin merasa seluruh beban di pundaknya terangkat. Kebahagiaan tumpah ruah, meluap hingga hatinya tak sanggup membendung lagi. Tubuhnya lemas, dan ia menghempaskannya begitu saja ke pelukan Alibaba. Alibaba sendiri yang cukup terkejut terjengkang ke belakang, membuat Aladdin dan gitarnya menimpa dada dan perutnya. Bahunya berguncang, dan tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Aladdin menangis.

"Alibaba-kun..." lirihnya. "Aku senang sekali..."

Alibaba tidak berkata apa-apa. Ia menyingkirkan gitarnya pelan-pelan dan memeluk Aladdin yang roboh di atasnya. Kertas berisi kunci gitar The Scientist itu kini sudah selesai. Alibaba dengan lembut mendekatkan bibirnya ke kening Aladdin. Anak itu menatap wajah cowok pirang yang berbulan-bulan ia gilai dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tenanglah..." bisik Alibaba. "Aku milikmu sekarang."

.

.

.

.

.

.

.

Terima kasih untuk para readers yang masih setia membaca fic ini sampai chapter lima belas. Pasti dari kalian banyak yang mulai bertanya-tanya "kok fic ini mulai pendek ya?" jawabannya bukan karena saya malas mengetik, tetapi karena momen yang saya gambarkan disini cukup singkat. Jadi...ya...#ngeles #plak

Terimakasih juga untuk kalian yang sudah membantuku menghilangkan kegalauan dengan menentukan ending Alibaba harus bersanding dengan siapa. Saya sudah memutuskan, dan akan diungkapkan pada chapter-chapter berikutnya. Bagi yang mulai mengira-ngira fic ini akan tamat, Anda semua benar sekali, readers yang budiman. Saya sedang merancang prototype untuk fic setelahnya. Melukis langit adalah fic roman terpanjang yang saya buat, dan biasanya saya justru nggak suka roman #nggakadayangnanya. Tapi, berkat lagu-lagu yang variatif dan review dari kalian para readers yang budiman yang haus sekali akan update, saya akhirnya berhasil membuat fic roman yang 'katanya' epic. Doumo arigato gozaimasu #deepbow.

Saya nggak mau kasih spoiler, wong bentar lagi selesai. Cuma memberikan saran untuk mendengarkan lagu yang tercantum sambil membaca fic saya. Iya, saya tahu ini agak maksa dan kesannya norak, tapi just try it for yourself. Karena hal itulah yang saya lakukan saat mengetik fic ini. Dan kata-kata bahwa Alibaba sudah dua puluh delapan kali mainin lagu The Scientist itu mewakili dua puluh delapan kali saya mendengarkan lagu itu agar dapet feelnya (sampe bener-bener gloom dan nangis lho vroooh) #diemkamu

sekian bacotan saya. Terus RnR melukis langit ya! Sukur-sukur ceritanya di fave, sukur-sukur authornya di follow #banyak mau

bye bye~~ #tebarbungalalungilang