Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
XVI: Love remains
"Sometimes, if you want to change a man's mind, you have to change the mind of the man next to him first."
― Megan Whalen Turner, The King of Attolia
.
.
.
.
.
.
.
Alibaba meletakkan gitarnya. Toto mengambil beberapa botol air mineral dingin yang tadi dibelinya, dan dibagikan ke teman-teman Flame Gladiators. Alibaba sendiri sibuk melipat kertas berwarna menjadi sebuah burung bangau dan menyelipkan sebatang lidi sebagai pegangannya.
"Ngapain?" tanya Kassim sambil mengambil selembar kertas warna dan melipat-lipatnya.
"Ah, ini. Bikin hadiah ulang tahun." jawab Alibaba. Ia sudah menceritakan proses pedekatenya dengan Aladdin kepada Kassim, Toto dan Olba. Mereka semua bersikap positif. Ya, karena di Lawrence, segalanya serba liberal. Menyukai sesama jenis, contohnya. Mereka bersikap biasa saja terhadap hal tersebut.
"Ulangtahunnya yang keberapa?" tanya Olba.
"13." jawab Alibaba sambil merapikan burung bangau buatannya.
"Tapi ini banyak. Sudah seratus lebih, kan?" Toto menginterupsi.
"673." ralat Alibaba. "Aku mau buat seribu buah. Aku sempat browsing, katanya ada kepercayaan kalau kita buat seribu buah burung bangau kertas ini, harapan kita akan terkabul."
Kassim memiting leher Alibaba dan mengucek-ucek kepalanya.
"Dasar raja gombaaaal! Segitu mabuk cintanya dirimu sampai lupa minggu depan Baritone 5 ujian semester?"
Alibaba menepuk jidatnya. Mungkin ini derita semua anak-anak yang mengikuti kelas Baritone 5. Hanya namanya saja yang kelas Baritone, sebenarnya anak-anak yang mengikuti kelas itu diharuskan bisa bernyanyi dan bermain gitar. G.I Sharrkan mendidik anak-anak Baritone 5 menjadi bibit baru Solo Guitarist. Dan ujian untuk kelas 'khusus' ini tidak akan pernah mudah.
"Aku belum bikin bahan apa-apa!" jerit Alibaba panik. "Gimana, dong?!"
"Kok gimana?! Ya buat, lah!" balas Toto praktis.
"Nggak segampang itu, tahu! Aku harus hubungin anak yang mau jadi main part, choir, instrumental, aransemen lagu, atur flow konser..." tutur Alibaba.
"Singkatnya bikin konser sendiri. Cuma satu lagu sih. Terserah kita mau ikutan nyanyi atau nggak. Yang penting kita jadi 'sutradara'-nya." tambah Kassim.
"Kayak Opera versi 1 lagu, ya?" tanya Olba. "Waduh, repot kalo gitu. Yosh! Sebagai sahabat sejati, aku akan membantu Alibaba!"
"Toto juga!" timpal Toto.
"Aku nggak. Aku juga sibuk sama materiku sendiri." tolak Kassim. Ia membereskan gitarnya dan keluar duluan. "Daah..."
Tak lama Alibaba juga pamit pada mereka berdua. Ia buru-buru berlari ke lantai bawah, ingin cepat pulang. Namun di koridor lantai 2 ia melihat sosok yang tidak asing. Sosok itu membawa sebuah kotak kardus ukuran kecil. Ia berambut keperakan, tinggi kurus dengan aura dingin yang muram. Yang berbeda darinya sekarang hanyalah kini ia mengenakkan sweater merah dan jeans serta sebuah kacamata berbingkai persegi bertengger di hidungnya.
Alibaba menghambur ke arahnya seakan seperti melihat mukjizat. Ia bertemu kembali dengan Jafar Sham-Lash pada saat yang dibutuhkan.
"Mentooooor!" teriak Alibaba sambil memberikan pelukan sopan. Jafar menoleh dan tersenyum. "Ngapain disini? Kupikir kau sudah ke Irlandia."
"Denmark." ralat Jafar. "Aku berbenah. Banyak barang yang kutinggalkan di sini. Dan juga, aku menghabiskan liburanku."
"Hooh, kupikir mau ketemu Kepala Sekolah."
Mata Jafar memicing.
"Ma...maksudku Kepala Komite." ulang Alibaba. "Beliau pamanmu, kan?"
"Yunan sudah berkunjung ke apartemenku kemarin." sahut Jafar. "Kau mau mampir?"
"Boleh?" mata Alibaba berbinar.
"Tentu saja. Kebetulan aku sedang ingin masak di rumah."
Lalu dari kejauhan terdengar langkah berat mendekat. Kepala Sekolah Sinbad menghampiri mereka berdua. Tangan besarnya mengusap-usap rambut Alibaba.
"Bukankah minggu besok kau ujian, Alibaba? Lebih baik kau pulang." ucapnya, dengan sedikit nada pengusiran.
"Kau mau ujian?" tanya Jafar.
"Iya. Baritone 5. Tahu sendiri, kan?" keluh Alibaba.
"Pergerakan materimu sudah sampai mana?" tanya Jafar.
"Nol."
"Kalau dibiarkan juga kasihan, sih." Jafar menghela nafas. "Ya sudah, aku bantu."
"Heh?! Kan kita mau makan malam berdua?!" pekik Sinbad.
"Ujiannya Alibaba lebih penting. Karena kehadiranmu agak ganggu, lebih baik Sin nggak usah ikut." sahut Jafar pedas.
"Heeh?! Apa-apaan itu? Kenapa sekarang hatimu dingin sekali, Jafar..." lirih Sinbad melodramatik.
"Berisik, ah. Kau ini kan guru di sini. Akan jadi tidak fair kalau kau ikut campur. Ayo, Alibaba. Kita sekalian belanja dulu."
"Ba...baik!" Alibaba mengejar Jafar dan berjalan di sebelahnya.
Alibaba duduk dengan nyaman di jok depan. Barang yang ada di loker Jafar ternyata beberapa macam novel. Sudah enam bulan berlalu, dan Jafar bercerita bahwa pendidikannya di Old Stage terasa seperti wajib militer. Pelatihnya galak-galak dan detail. Kalau bukan karena ingin menjadi musisi hebat, mungkin Jafar sudah mengemasi kopernya dan kabur ke tanah airnya. Berbeda dengan Sefton Park tempat Lawrence berdiri dan tempat tinggalnya selama beberapa tahun terakhir, Denmark sangat sepi. Bahkan Jafar tertawa saat menceritakan kalau ia bisa menghitung kendaraan dan pejalan kaki yang lewat dengan jari, satu tangan pula.
"Bagaimana Judal? Dia kudengar ikut Cobler. Aku dengar salah satu lagunya di Soundcloud. Kau sebagai pacarnya pasti bangga sekali ya?"
Alibaba terdiam sebentar. "Kami putus."
Jafar jadi canggung sendiri. "Maaf. Aku...tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
"Bagaimana kalian bisa putus? Judal jauh berubah saat kau bersamanya."
Alibaba mengangkat bahu. "Dia agak aneh. Tapi hubungan kami masih baik. Ia sering ke rumahku."
"Kau pernah mengajaknya balikan?"
"Selalu ditolak mentah-mentah. Dia bilang katanya aku harus move on."
Jafar tidak mengatakan apa-apa sampai mereka tiba di sebuah supermarket besar. Alibaba memandangi Jafar lama sekali, seperti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan padanya—soal Judal.
"Kau masih cinta padanya?" tanya Jafar.
Alibaba mengangguk. "Kau sendiri?"
"Sejujurnya..." Jafar melepas kacamatanya, kemudian membersihkan sudut mata kirinya dari kotoran dan sehelai bulu mata. "Iya. Aku masih memiliki rasa cinta sedikit untuk Judal. Dia sosok yang terlalu menarik. Sulit menolak rasa penasaran untuk mengenalnya lebih dalam."
"Aku setuju." balas Alibaba. "Tapi, kalau kau masih mencintainya, kenapa kau sekarang memilih bersama...Kepala Sekolah?"
"Dalam menjalin sebuah hubungan dibutuhkan lebih dari sekedar rasa cinta, Alibaba." Jafar mengenakkan kembali kacamatanya. "Judal agak aneh. Dia ingin tahu segala tentang kita, tapi tidak ingin orang lain tahu apa yang ada di dalam dirinya. Untuk seminggu pertama aku bisa menghargai hal itu. Tapi kalau terlalu lama, kurasa hal ini tidak baik. Setelah tiga tahun kami pacaran, aku sampai pada kesimpulan bahwa Judal itu untouchable, dan sikapnya itu membuatku merasa dia tidak percaya padaku."
Pembicaraan mereka berhenti. Jafar mengambil troli dan mulai memilah-milah beberapa bahan makanan. Bahkan ia sempat bertanya apakah Alibaba punya alergi atau ketidaksukaan pada suatu makanan. Alibaba menggeleng, dan Jafar memutuskan membuat sesuatu dari fillet paha ayam, kacang polong, beberapa sayuran daun yang Alibaba tidak tahu apa namanya dan keju parmesan. Ada tulisan begitu di kemasannya.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Alibaba.
"Silakan."
"Judal bilang, kalau selama ini ia pura-pura menyukaiku. Atau, lebih bisa dibilang memaksakan diri. Ia bilang saat kau meninggalkannya, rasanya seperti Sinbad-lah yang merebutmu darinya. Makanya dia...dia..."
"...merebutmu dari Aladdin?" Jafar melanjutkan.
"Ba...bagaimana..."
"Aku tahunya Aladdin menyukaimu. Susah menjaga rahasia kalau kau di kelas Countertenor, Alibaba. Mungkin saja itu benar. Tapi...dari lagu-lagu yang dia tulis kurasa alasan itu cuma bohongan."
"Kau mengira Judal berbohong?" pekik Alibaba tak percaya.
"Nggak 100% bohong sih. Maksudku, mungkin saja dia mau balas dendam dengan caranya sendiri. Seperti dapat kepuasan batin saat merebut gebetan orang lain. Saat dia pacaran denganmu, mungkin Judal terbentur suatu kenyataan bahwa hubungan yang ia rasakan sekarang tidak berlandaskan apa yang dianggapnya balas dendam."
"Apa-apaan itu? Aneh banget." cibir Alibaba.
"Bagaimana menjelaskannya, ya..." Jafar mengambil dua buah kotak eskrim dan menimbang hendak membeli antara rasa Vanilla atau Dark Chocolate. "Menurutku alasan Judal berpacaran denganmu cuma mau memuaskan altar ego dirinya saja. Lalu kau tiba-tiba mencintainya sungguhan. Kurasa dengan kepribadian Judal, seorang Alibaba Saluja membuat beberapa perubahan fudamental. Seperti...ketika Judal jadi pacarmu dia malah jadi melakukan hal-hal yang membuatnya merasa aneh dengan dirinya sendiri. Misalkan, dari awal ia biasa minum kopi dengan gula dan krim, sekarang jadi dengan kayu manis bubuk dan krim. Mungkin dia menyukainya, tapi itu bukan hal yang biasa ia lakukan, makanya ia merasa aneh. "
Alibaba bersemu. Entah kenapa ucapan Jafar tadi membuatnya malu. Memang, sih. Judal selalu mengantarkan Alibaba pulang atau membelikannya makanan. Hanya itu. Bahkan Judal bilang ia bisa lebih menyukai sekolah karena Alibaba. Hal ini benar-benar kontradiktif.
"Jafar-san..." Alibaba memainkan ujung lengan kemejanya. "Apa Judal pernah berhenti melukis saat putus denganmu?"
"Pernah." balas Jafar. "Dia memberikan aku sebuah buku. Lalu dia berhenti total. Mulai lagi saat dia dekat denganmu pada saat Opera."
Alibaba mengangguk. Judal mengakui juga bahwa Alibaba membuatnya bisa melukis lagi.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku cuma ngomong sesuai ceritamu. Kalau Judal atau Aladdin yang cerita, mungkin omonganku bakal lain." balas Jafar, seakan membaca isi kepala Alibaba.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Alibaba frustasi.
"Yang mana?" Jafar menunjukkan kepada Alibaba dua kotak eskrim rasa Vanilla chocochip dan Almond Butterscotch.
"Lho, kok jadi..."
"Cepat!" sentak Jafar.
"Yang itu." Alibaba menunjuk Almond Butterscocth.
"Yang harus kau lakukan adalah menemui Judal. Kalau kau masih suka padanya, ya tinggal ungkapkan. Kalau dia sama denganmu, kemungkinan balikannya tinggi."
"Aladdin bagaimana?"
"Kenapa jadi bawa-bawa Aladdin?" Jafar mengerutkan keningnya bingung.
"Aku...mencoba mendekatinya. Agak sulit, sih. Soalnya dari awal aku tidak mencintainya. Makanya...aduh!"
Alibaba berhenti curhat. Jafar menyelepet kepalanya.
"Kalau mau move on jangan setengah-setengah, dasar bodoh!" tegasnya.
"Sakit..." keluh Alibaba.
"Kalau sikapmu kayak gini, yang ada kau hanya menyakiti mereka berdua, tahu!"
"Tapi aku dilema. Jafar-san nggak pengertian, nih!"
"Aku pengertian, kok. Buktinya aku mau mendengarkan curhatanmu." tukas Jafar. Ia membawa belanjannya ke kasir dan membayar dengan uang tunai, tapi menukarkan suatu promo dengan kartu kreditnya.
Alibaba membantu membawa barang belanjaan. Ketika mereka melanjutkan perjalanan, Jafar kembali bicara.
"Dengar, ya. Judal itu frontal banget. Kalau kau mau tahu dia masih mencintaimu atau tidak, buktikan saja sendiri. Apakah kalian masih saling cinta atau cuma kau saja yang ke-geer-an."
"Gimana caranya?! Aku sudah coba bilang, kok!"
Jafar membisikkan suatu hal yang membuat degup jantung Alibaba melonjak. Ia jadi teringat ekspresi manis Judal pada saat malam setelah Opera, saat mereka saling menyentuh, memeluk, mencium, menubuhi satu sama lain.
"O..oy, itu...?" jerit Alibaba panik.
"Hooo, sudah pernah, toh?" Jafar tertawa terbahak-bahak. "Tidak perlu sejauh saat kalian melakukannya. Sedikit pancingan saja. Kalau dia diam saja, kalian bisa balikan. Kalau dia memukulmu, negatif."
"Dia menamparku saat aku menciumnya. Pada saat kami jadian."
"Marahnya beda. Percayalah, kau baru delapan belas minggu memacari Judal. Aku sudah tiga tahun."
.
.
.
.
.
.
.
Jafar membuatkan Alibaba chicken schnitzel dengan taburan keju parmesan diatasnya, makaroni dengan kacang polong yang dibumbui dengan minyak zaitun, lada, garam dan rempah lain. Pada makanan penutupnya, Jafar menjatuhkan satu scoop eskrim rasa Almond Butterscoctch di satu gelas rhum.
"Ayolah, Jafar! Aku baru 19 tahun." ucap Alibaba ragu.
"Memang kenapa?" balas Jafar. "Lagipula, aku tidak menawarimu. Kau bisa makan eskrimnya saja."
Maka Alibaba makan eskrim tersebut dengan beberapa keping biskuit coklat dan jahe yang dibawa Jafar dari Denmark. Jafar sendiri mengaku jarang minum alkohol. Setelah selesai makan malam, Alibaba minta bantuan Jafar untuk menggarapkan proyek ujiannya. Ternyata enam bulan di Old Stage membuat Jafar menjadi 100 kali lebih mengerikan dari sebelumnya. Ia meminta Alibaba untuk memperhatikan detail sepele seperti mau lagu apa, tempo, mau di aransemen bagaimana, butuh elemen apa, tata panggungnya mau seperti apa sampai feel yang hendak disampaikan seperti apa. Alibaba jadi sedikit tahu diri, bahwa kesuskesannya jadi Solo Guitarist 90% adalah kerja keras Jafar.
"Dan lagi, G.I Sharrkan sendiri yang memilihmu sebagai Solo Guitarist waktu itu. Pasti ia ingin sesuatu yang lebih hebat darimu." terang Jafar lagi.
"Dia jadi agak keras padaku semenjak tahun kedua."
"Mungkin ia merasa seperti ketemu kembarannya." Jafar tertawa. "Meskipun begitu, kurasa niatnya baik."
Setelah memilih lagu, Alibaba benar-benar dituntun Jafar bagaimana menaik-turunkan tempo pada beberapa part, instrumen apa yang kira-kira dapat berjalan sesuai konsep, penempatan dan jumlah Choir, dan tata letak pemain Instrumental yang lain.
"Penyanyinya gimana?" tanya Jafar. "Setahuku di ujianmu, kau tidak wajib nyanyi, kan?"
"Aku akan nyanyi sendiri. Dan main gitar."
"Akustik atau listrik?"
"Lebih bagus yang mana?"
"Nanti dicoba saja." Jafar menggedikkan kepala ke arah laptopnya. "Aku ada juga synchronizer composing application seperti yang ada di laptopnya Judal. Tapi tidak ada efek aneh-aneh dan beat-beat ala electro hiphop dan sejenisnya."
Entah kenapa, meskipun jadi lebih galak Jafar jadi lebih perhatian dan penyayang dalam mengajari Alibaba. Ia bolak-balik bertanya apakah Alibaba sanggup dan nyaman memainkan part yang sudah ia aransemenkan, cocok atau tidak dan sebagainya. Membahas musik tidak pernah seasyik ini. Ketika melihat jam, Alibaba menjerit ketika ternyata sekarang sudah setengah satu pagi.
"Duh, angkutan umum sudah habis, kan?"
"Menginap saja. Besok juga kau libur, kan?" tawar Jafar.
"Iya, sih. Apa tidak merepotkanmu?"
"Tidak. Kau bisa tidur di sofa. Buka saja lipatannya."
Alibaba menatap Jafar tidak mengerti. Jafar melenguh kesal dan membuka lipatan sofa yang dia maksud. Sofa kulit cokelat itu ternyata adalah sebuah sofabed. Alibaba dipinjamkan kaos dan celana training yang agak kepanjangan untuknya. Lalu Jafar pergi ke kamarnya, dan tidak terdengar suara lagi.
Cowok berambut pirang itu merebahkan badannya ke sofabed. Ia terus memikirkan kata-kata Jafar tadi. Meskipun sudah memutuskan untuk mau mencoba mencintai Aladdin, setengah, bahkan tiga perempat hatinya masih memilih Judal. Hal ini tentu saja membuatnya frustasi. Alibaba juga bolak-balik merubah posisi tidurnya. Ia masih meragukan alasan Judal memutuskan hubungan mereka. Ia terlihat baik-baik saja, bahagia.
Tidak ada yang aneh.
Lalu Alibaba merasa seperti ditampar kenyataan.
"Jafaaaar!"
Alibaba menggedor-gedor pintu kamar Jafar. Sang pemilik rumah keluar dengan wajah kesal, seakan-akan Alibaba sudah menghancurkan seluruh hidupnya.
"Apa lagi?!" omelnya.
"Kau tahu tidak alamat ke Pasific State? Rumahnya Judal?!"
"Pasific State?" Jafar menggaruk pundaknya, lalu menunjuk jendela. "Sekitar 1 km lebih dari sini. Tapi di sebrang jalan. Kalau mau kesana sekarang kayaknya nggak bisa."
"Kenapa?"
"Security disana ketat banget. Mereka akan cek di rumah yang dituju ada orang atau tidak, lalu menelpon tuan rumahnya mau terima tamu atau tidak."
"Peduli setan!"
Alibaba merangsek keluar apartemen Jafar, turun sampai lantai dasar dan berlari ke sebrang jalan. Jafar berusaha mengejar, namun ia terengah-engah sendiri ketika sampai 50 meter di depan apartemennya. Cowok pirang itu larinya cepat sekali. Dengan kaos dan celana training kebesaran dan telanjang kaki, Alibaba Saluja berlari kencang menuju gerbang utama perumahan Pasific State.
"Benar-benar ngotot." gumam Jafar.
.
.
.
.
.
.
.
"Cari siapa?"
Alibaba kehabisan nafas. Paru-parunya terasa mau pecah. Dua orang petugas penjaga keamanan di gerbang utama perumahan Pasific State memandangnya dengan tatapan curiga.
"Aku..." Alibaba berusaha mengatur nafasnya. "Mencari Judal Al-Sarmen."
"Sebentar." petugas itu menekan sebuah tombol dan berbicara dengan pemilik rumah melalui interkom.
"Haaa? Tamu macam apa yang datang setengah empat pagi?!" omel Judal kesal.
"Anda mau menerimanya atau tidak?" petugas itu bertanya.
Alibaba mengerang frustasi. Ia menggebrak-gebrak kaca pembatas pos petugas itu dan menjerit-jerit kesal.
"Judal, ini aku, Alibaba! Aku ingin bicara padamu, sekarang!"
Hening.
Petugas yang satu lagi keluar dari posnya dan meringkus Alibaba. Kedua tangannya diborgol dan kepalanya dirapatkan ke tembok secara paksa. Suara balasan terdengar lagi di sebrang interkom.
"Bawa dia masuk. Biar penampilannya mencurigakan, dia teman sekolahku."
Petugas yang meringkus Alibaba kelihatan skeptis. Namun ia tetap mengantarkan Alibaba ke rumah nomor 43, yang kelihatan paling modern, paling mewah dan paling gersang diantara rumah-rumah yang lain. Tidak ada tanaman di halaman depannya, bahkan rumput sekalipun. Rumah itu besar sekali, mungkin dua komplek rumah petak Alibaba tidak mampu menyaingi besarnya. Dinding lantai duanya dilapisi kaca, sehingga Alibaba bahkan bisa melihat Judal yang menunduk melihatnya. Sosok itu kemudian menjauh dan muncul dari balik pintu depan.
"Tinggalkan saja, pak. Biar kuurus dia." ucap Judal.
Petugas itu mengangguk dan meninggalkan Alibaba, kembali ke pos penjagaan gerbang depan. Judal kelihatan seperti baru bangun tidur. Rambut legam panjangnya mencuat-cuat. Ia mengenakkan kaos kelabu pas badan dan sehelai celana pendek. Alibaba tanpa pikir panjang menubruk Judal, memeluk dan menciumnya. Judal yang kaget mendapat serangan seperti itu refleks mendorong Alibaba sampai jarak mereka sekitar tiga langkah.
"Mau apa kau kesini, Alibaba?" tanya Judal ketus.
"Kau sudah tahu alasannya apa." balas Alibaba.
"Kau ini benar-benar keras kepala." Judal mendengus kesal. "Masuklah. Kita bicarakan di dalam."
Rumah Judal luas sekali. Perabotannya sedikit namun efisien. Hampir tidak ada sekat untuk ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Judal mengajaknya ke dalam kamar. Cuma ada sebuah ranjang king size, treadmil, rak besar yang menempel di dinding, lemari besar dan meja belajar. Satu pintu lagi di dalam kamar itu mungkin kamar mandi. Ada sebuah keranjang rotan kecil berisi tumpukan kertas.
"Judal...aku..."
Judal menoleh. "Sudah kubilang berkali-kali! Jangan buat aku goyah, Alibaba."
"Aku masih belum bisa terima alasan...kita putus." Alibaba terdiam sebentar. "Alasanmu tidak logis."
Judal tidak mengatakan apa-apa. Ia cuma mengambil keranjang rotan di sudut ruangan dan memberikannya kepada Alibaba. Isinya lembaran kertas gambar yang disobek. Tiap helai kertas tersebut diisi gambar di kedua sisinya. Dan semua gambar itu adalah potret diri Alibaba, dengan versi Judal.
"Judal...ini..."
"Aku menggambarmu. Sebanyak apapun aku menggambarmu, aku nggak bisa menghilangankamu dari kepalaku. Ironis, aku menyuruhmu move on, tapi nyatanya diriku sendiri masih diam ditempat." ucap Judal.
"Aku juga sama." balas Alibaba.
"Tidak, ini beda, Alibaba." suara Judal bergetar. "Aku..aku..."
Alibaba meletakkan keranjang itu. Tangannya terjulur, mengusap rambut panjang Judal dengan lembut dan penuh cinta. Meskipun berusaha ditahan seperti apapun, airmata tetap mengalir menuruni pipi Judal.
"Aku masih mencintaimu, Alibaba." isaknya. "Tapi, aku merasa ada yang janggal. Aku bahagia, sangat bahagia waktu kau minta aku jadi pacarmu. Tapi selalu mempertanyakan...apakah yang kulakukan benar? Aku merasa...aku..."
"Apa karena Aladdin?" potong Alibaba. "Aladdin terobsesi padaku? Iya. Aku tahu. Lalu kenapa? Aku memutuskan untuk memilihmu, Judal."
Judal menunduk. Alibaba mengusap airmata mantan kekasihnya itu dengan punggung tangannya.
"Apa aku berhasil membuatmu goyah?" tanya Alibaba lembut.
Judal menggeleng.
"Jadi..."
"...um..." Judal menggeleng pelan. "Jawabanku masih sama. Aku nggak ingin balikan."
Alibaba mendesah pasrah. Ia kecewa, tentu saja. Apa yang dikatakan Jafar benar. Alibaba cuma ke-geer-an. Dan untuk kali ini ia harus menyerah. Life must go on.
"Aku..." Judal mengusap-usap wajah Alibaba, lalu mengecup bibirnya ringan, bagaikan sentuhan kupu-kupu. "Aku selalu senang menghabiskan waktu bersamamu, atau...well, melakukan hal-hal yang lain. Tapi..."
"...apa kau merasa menyakiti Aladdin? Judal, aku kan sudah.."
"Orang sepertimu tidak akan mengerti, Alibaba." potong Judal. "Saat aku melihat matanya, melihat caranya melawan, aku merasakan sakit yang sama ketika Jafar pergi. Sekeras apapun aku berusaha, Jafar akan tetap pergi. Pada saat menikmati kesenangan bahwa aku bisa memperjuangkanmu untuk diriku sendiri...aku merasa di saat yang sama begitu bodoh. Kenapa tidak kulakukan hal yang sama demi Jafar waktu itu?!"
Alibaba terdiam. Tubuh Judal bergetar. Entah insting macam apa yang mendorong pemuda berambut pirang itu untuk mendekati Judal, melingkarkan lengannya di seluruh tubuh Judal dan memeluknya. Tanpa disangka, Judal balas memeluknya. Ada semacam perasaan rindu yang tertumpah ketika Judal balas memeluknya. Ia seakan-akan sudah merindukan pelukan Alibaba selama bertahun-tahun.
"Maaf...maafkan aku..." bisiknya. "Aku tidak bermaksud mempermainkanmu..."
"Aku mengerti..." balas Alibaba. "Maafkan aku yang tidak bisa memahamimu, Judal.."
Mungkin Alibaba tidak akan pernah mengerti dengan keadaan ini. Alasan Judal melangkah masuk dalam hidupnya, dan bagaikan mudahnya menghirup udara, intensitas kebersamaan menumbuhkan cinta di hati mereka berdua. Lalu semuanya berjalan dengan indah dan sederhana. Apa yang dikatakan Judal bahwa ia memaksakan diri untuk mencintai Alibaba hanya untuk sekedar balas dendam memang terdengar irasional. Logika sederhana Alibaba hanya menyimpulkan bahwa Judal berusaha move on, mencari alasan lain yang lebih tidak menyakitkan untuk mencintai seseorang dengan cara yang sederhana.
"Bermalamlah." Judal mengusap wajah Alibaba. "Pos pengawas tidak akan membiarkanmu keluar, sepertinya."
Alibaba mengangguk. Judal berbaring di ranjangnya, memeluk sehelai selimut dan mempergunakannya untuk mengusap wajah. Sementara Alibaba memperhatikan ada sebuah gitar akustik mahal yang tergantung di dinding. Ada tanda tangan dari spidol perak di badan gitar tersebut.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa main gitar." celetuk Alibaba.
"Bisa. Cuma kunci F." Judal tertawa pelan. "Itu hadiah dari fansku."
"Boleh aku pinjam?"
Judal mengangguk. "Silakan."
Alibaba mengambil gitar itu. Kemudian ia duduk di ranjang, tak jauh dari Judal. Langit sudah memberitahu kalau sebentar lagi subuh. Namun Alibaba tidak peduli. Ia menyamankan seteman gitar tersebut sesuai gaya bermainnya. Sebuah lagu terlintas ketika Alibaba melihat bulan separuh menggantung di langit dengan pendar samar. Saksi bahwa malam ini Alibaba harus melenyapkan hasratnya kepada Judal hingga ke titik nol.
"Boleh kumainkan lagu untukmu, untuk terakhir kalinya?"
Judal tersenyum dan mengangguk pelan.
Cowok pirang itu menunjukkan kebolehannya. Seluruh jemarinya melantunkan dentingan lembut. Setiap melodi yang terangkai membuat senyum Alibaba perlahan merekah. Alunan lagu selalu membawa aura magis tersendiri untuknya. Lagu adalah mantra Alibaba untuk menjalin persahabatan, menumbuhkan cinta, mematahkan hati hingga mengobatinya kembali.
If all our life is but a dream
Fantastic posing greed
Then we should feed our jewelry to the sea
For diamonds do appear to be
Just like broken glass to me
Alibaba berhenti. Bukan karena ia menghentikannya sendiri. Judal menahan seluruh bar chord gitar tersebut dengan tangan kirinya.
"Kenapa banyak kunci F-nya? Kau meledekku?" tanya Judal sebal.
"Memang kenapa?" Alibaba balik bertanya dengan polos. "Kau mau main?"
Judal merubah sedikit posisi duduknya. "Aku cuma tahu kunci F. Kau mau...um...ajarkan aku kunci yang lain?"
Alibaba tersenyum lebar. "Dengan senang hati."
Maka Alibaba menarik Judal mendekat. Meski denngan keadaan terbalik, Alibaba menuntun tangan kiri Judal menekan chords pada gitar tersebut. ia mengarahkan jemari sang pelukis ke bar, membetulkan posisinya dan memetiknya dalam satu melodi.
"Ini B mol." Lalu Alibaba merubah posisi jemari Judal dengan lembut, lalu memetiknya kembali. "Ini D minor."
Judal mengangguk paham. Ia kemudian memposisikan jarinya secara asal dan memetiknya. "Kalau itu?"
"Itu C." Alibaba tertawa. Lalu Alibaba menggeser telunjuk Judal dan memetik melodinya. "Dan itu A minor."
Judal mengangguk. Meraba-raba bar gitar, menekan kunci-kunci yang baru dipelajarinya secara repetitif hingga hafal. "B mol. D minor. C. A Minor."
Alibaba mengangguk. "Berikan aku F dan B mol. Bisa?"
Judal menangguk. Ia menekan chord nada dan membiarkan Alibaba memainkan melodinya.
And then she said she can't believe
Genius only comes along
In storms of fabled foreign tongues
Tripping eyes, and flooded lungs
Northern downpour sends its love
Hey moon, please forget to fall down
Hey moon, don't you go down
Sugarcane in the easy mornin'
Weathervanes my one and lonely
Alibaba perlahan mengambil alih seluruh gitar tersebut, dan tangan lentik sang pelukis perlahan-lahan menjauh dari bar gitar tersebut. Namun nampaknya pelantun Popping Candy itu tidak terlalu keberatan mengembalikan posisi sang gitaris seperti senormalnya.
Hey moon, please forget to fall down
Hey moon, don't you go down
Judal bersandar di bantal, memaku pandangannya kepada sepasang manik emas yang begitu tegar sebelum akhirnya matanya menutup perlahan-lahan. Ia menikmati sendu baritone dua oktaf yang memiliki aksen khas tersebut. Seperti kembali pada minggu-minggu sebelumnya, dada Judal dipenuhi rasa hangat yang begitu nyaman. Tidak terlalu signifikan seperti pertama kali ia rasakan bagaimana akhirnya ia menyadari bahwa seorang Judal jatuh cinta kepada Alibaba.
Hanya perasaan nyaman yang begitu menenangkan.
You are at the top of my lungs
Drawn to the ones who never yawn
Alibaba melihat jendela. Lagunya tidak terkabul. Langit sudah mulai terang dan cahaya keemasan menyapa, membisikkan hari baru bagi mereka berdua. Kehangatan matahari menyelinap, menembus jendela kamar Judal perlahan dan menyoroti wajah si pemilik kamar yang kini terlelap, dengan ekspresi tenang dan segores senyum samar di bibir tipisnya yang berwarna merah muda cerah.
Saat melihat wajah Judal itu, Alibaba merasakan, sekaligus meyakini bahwa masing-masing dari diri mereka mereka telah tersembuhkan.
.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih."
Alibaba dan Kassim akhirnya menyerahkan semacam proposal ujian mereka kepada para coach yang bertanggung jawab dalam ujian semester para siswa Baritone 5, yang kali ini jatuh kepada coach Scheherazade. Alibaba juga sudah menceritakan proses bagaimana ia menerobos Pasific State pada dini hari dan Judal tetap saja menolak keinginannya balikan. Dan Kassim, entah sebagai teman yang baik atau hanya ingin menyusahkan Alibaba, mengingkatkan dirinya akan Aladdin.
"Aku sudah memikirkannya." Alibaba menggenggam buket burung bangau kertas yang sudah berhari-hari ia buat. "Justru, hal ini membuatku makin yakin. Kurasa ini adalah hal yang benar."
"Kuharap juga begitu. Toto dan Olba, juga anak-anak yang kau mintai tolong semangat banget bikin surprise ini."
"Ya." Alibaba mengirimkan pesan kepada Olba. "Ayo, kita juga harus siap-siap."
.
.
.
.
.
.
.
"Happy birthday, happy birthday. Happy birthday to you..."
Aladdin menatap Morgiana dengan pandangan haru seraya menerima semacam buket besar burung bangau kertas aneka warna.
"Waaaai, Mor-san baik bangeeet." Pekiknya senang.
Morgiana hanya tersenyum, kemudian memberikan secarik kertas bertuliskan temui Titus. Lalu sosok gadis manis berambut merah itu pergi begitu saja. Aladdin tergelitik, mungkin saja ada hadiah lain untuknya. Maka, bocah berkepang itu menuruni tangga dan mencari Titus di kelas Sopran. Tetapi dia tidak ada. Biasanya, kalau tidak dikelas Titus akan 'kumpul' bersama teman-teman Groove-nya di kantin. Mereka juga menyanyikan lagu happy birthday dengan gaya khas Jazz dan memberikan Aladdin banyak sekali buket burung bangau kertas. Anak-anak groove Alexius juga memberikan Aladdin sebuah kue dengan lilin berangka 13. Setelah tiup lilin dan potong kue, mereka bernyanyi-nyanyi kecil sebentar.
"Oh, iya. Ini, ada titipan untukmu." Ujar Titus. Ia memberikan sehelai kertas dan pergi bersama teman-temannya yang lain. "Ah, kuenya mau kau bawa, Aladdin?"
Aladdin menggeleng. "Untuk kalian saja. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri."
Maka, tanpa aba-aba seluruh personel Alexius menghabiskan kue yang seharusnya mereka hadiahkan itu. Aladdin membuka kertas yang diberikan Titus. Dan tulisan super halus yang tidak bisa dibilang bagus itu menuliskan secarik kalimat yang sama dengan yang diberikan Morgiana.
Temui Alibaba.
Dan Aladdin tidak perlu bertanya kepada siapapun dimana pujaan hatinya berada. Ia pasti ada di salah satu studio yang selalu di sewa Flame Gladiators. Dan ketika ia membuka pintu, disanalah ia berada. Cowok pirang itu memeluk gitar kesayangannya, bersama teman-teman hardcore-nya. Ada aura yang berbeda. Alibaba kelihatan menunggunya. Cowok pirang itu menghampiri Aladdin, berlutut di hadapannya dan kemudian memberikan sebuket burung bangau kertas.
"Ini semua kubuat sendiri." Katanya. "Jumlahnya 1000, kalau kau tidak percaya padaku kau bisa hitung sendiri."
Aladdin menggeleng. "Aku percaya..." kemudian ia tersenyum. "Makasih."
"Dengar..." Alibaba mendesah. Ia mengusap wajah Aladdin dan kemudian mengecup keningngnya. "Aku menyayangimu. Sungguh. Aku juga menikmati saat-saat kita bersama. Kau luar biasa, Aladdin. Aku...ingin lebih mengenalmu. Agar aku bisa mengerti bagaimana caranya mencintaimu."
Aladdin terdiam. Seluruh buket burung bangau yang dipegangnya terjatuh. Airmatanya menetes tanpa sadar.
"A...Alibaba-kun..." Aladdin berkaca-kaca. Bulir-bulir kristal terjatuh dari sepasang safir indah tersebut. "Alibaba-kun sungguh-sungguh?"
"Sayangku..."Alibaba memeluk Aladdin, menghapuskan airmatanya. "Sudahlah. Apa aku membuatmu sedih?"
Aladdin seakan mendadak menjadi bocah bisu. Ia tidak bisa berhenti menangis. Ia merasakan beban-beban berat di pundaknya perlahan terangkat. Ribuan kupu-kupu seakan menyeruak keluar dari dalam perutnya. Perasaan posesifnya kepada Alibaba dan mendendamnya pada Judal menguap entah kemana. Dan ditengah tangisan kebahagiaan yang begitu membludak, Aladdin merasakan seberapa lembut dan hangatnya kecupan Alibaba.
Ya.
Alibaba menciumnya. Menciumnya dengan penuh cinta. Aladdin merangkul pundak Alibaba, membalas ciumannya dengan lembut, intens, dan lambat laun makin liar.
Rasanya bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
Lalu kecupan itu perlahan-lahan terlepas. Alibaba menatap Aladdin yang masih termangu dengan lembut, kemudian meninggalkan kecupan lain di lekukan bahu dan tulang selangkanya.
"Mau kejutan ulangtahun?" tanya Alibaba hangat.
Aladdin mengangguk. Airmatanya kembali menetes. Kali ini dengan alasan yang berbeda. Cowok pirang itu dengan lembut menepuk-nepuk kepala Aladdin agar ia sedikit lebih tenang.
"Aku... tidak tahu harus berkata apa." Aladdin masih terisak. "Aku tidak menyangka bahwa Alibaba-kun akan memilihku..."
"Sudahlah." Alibaba mendudukkannya di kursi. Kemudian kembali mengecup bibirnya lembut. "Aku sudah merasakan sakitnya ditinggalkan. Jadi, sudikah kau membuatku paham bagaimana caranya membalas perasaanmu?"
Aladdin merona. Kassim menyelepet kepala Alibaba saking gemas akan sikap gombalnya.
"Kami mau memainkanmu sebuah lagu. Lagu yang ada dari tiga chord yang kuberikan padamu." Terang Alibaba.
Aladdin mengangguk. Ia sebenarnya sudah melengkapinya berhari-hari yang lalu, dan menghafalkannya sehingga ia tidak membuat Alibaba harus sebentar-sebentar berhenti. Mendengar dari intro yang dimainkan oleh Alibaba, Kassim dan Toto serta Olba yang memainkan cajon, Aladdin langsung menyadari lagu apa yang cowok pirang itu persembahnkan.
All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now I didn't before.
And all I've seen since eighteen hours ago
Alibaba berhenti sebentar, kemudian melanjutkan kembali.
Is blue eyes, and blushing in your smile.
Aladdin tertawa. Itu bukan lirik yang benar. Alibaba mengganti lirik agar senada dengan Aladdin.
In the back of my mind making me feel like
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you
All I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has changed
Aladdin yang terbawa suasana tak lama akhirnya ikut berdendang, mengisi part bagian Taylor Swift. Alibaba membiarkan Aladdin menyanyikan part yang dia inginkan. Namun lambat laun, kedua part mereka bertemu dan suara treble Aladdin dan Alibaba menyatu menjadi harmonisasi suara yang seharusnya.
And all my walls stood tall painted blue
And I'll take them down, take them down and open up the door for you
And all I feel in my stomach is butterflies
The beautiful kind, making up for lost time, taking flight and make me feel right
Ada perasaan yang begitu hangat, meledak-ledak di dalam dada Aladdin bagaikan kembang api. Ia tidak menyangka perasaannya begitu bahagia setelah pada sebelumnya Alibaba mengatakan bahwa ia lebih memilih Judal, memilih untuk membalas perasaannya setelah Judal meninggalkannya. Segala dengki dan obsesi yang telah lama dipendamnya seakan luruh ketika melihat sosok Alibaba dengan senyumnya yang manis, memainkan melodi cinta sebagai persembahan hadiah ulangtahun baginya.
Lagu tersebut bagaikan suatu kata yang mewakilkan perasaan Alibaba kepadanya saat ini.
Segalanya sudah berubah.
"Come back and tell me why..." Lirih Aladdin.
I'm feeling like I've missed you all this time, oh, oh, oh.
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind.
Ini bukan mimpi. Aladdin mengusap dadanya dengan perasaan berbunga-bunga.
Ini lebih dari cukup untuk membuatnya lebih dari sekedar bahagia.
All I know since yesterday is everything has changed
.
.
.
.
.
.
.
A/N: Panic! At the Disco, Northern Downpour.
Taylor Swift ft Ed Sheeran, Everything Has Changed
Umm...buat yang udah baca melukis langit 16 yang beberapa waktu lalu aku post...mungkin kalian merasa ada ending yang signifikan di bab yang sudah saya revisi ini. Kenapa? Karena setelah saya ngepost chapter 16, saya membacanya di web dan dalam hati berkata 'goddamn, yang bener? Apa alurnya nggak belok 180 derajat kalo gini? Bukannya jadi nggak sinkron sama chapter sebelumnya? Jalur ceritanya jadi aneh banget!'
Dan inilah yang terjadi. Chapter 16 saya revisi. Karena saya sendiri merasa tidak tenang mengakhiri fic ini nanti dengan AliJu dan mulai berpikir bahwa alesan mereka balikan lebih nggak masuk akal dibanding alasan mereka putus #authorgeblek
Ini adalah kali pertama saya merevisi chapter yang saya tulis dalam seumur hidup saya menjadi author fanfic (karena alur cerita. Sebelumnya pernah ngerevisi karena super critical typo). Dan saya harap jangan ada yang membenci saya karena membelokkan ending. Jangan minta aliju balikan lagi, please. Saya mau move on, SAYA MAO MOVE OOOOON!
Yunan: Author-san, tenanglah #dijampe-jampe
Huuuft...huufft...
Oke. Bagi yang awalnya tidak puas dengan chapter 16 yang lama, silakan baca yang ini. Bagi yang belum baca sama sekali, jangan tanya isi awalnya seperti apa. Saya harap setelah 12 jam kedepan saya membaca chapter ini tidak akan ada revisi lagi karena saya sudah mantap. Saya harap revisi ini menyenangkan readers yang budiman. Dan untuk chapter 16 revisi ini, saya mau memberikan spoiler alias gossip hot
Chapter depan kayaknya akan saya tamatkan #JENGJEEEEENG #soundefekceritanya
Yosh. Sekian bacotan saya. Maaf saya belum bisa mempersembahkan yang terbaik untuk readers sekalian. Tetap RnR fic saya. Saya akan terus berusaha mengembangkan kemampuan saya agar lebih bisa menyenangkan anda semua.
See you in the last one. Bye byeee~~~
