Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
XVII: The End
"The one you love and the one who loves you are never, ever the same person."
― Chuck Palahniuk, Invisible Monsters
.
.
.
.
.
.
.
Dua hari sebelum ujian, entah kenapa Alibaba kehilangan seluruh semangatnya, seakan rumahnya terbakar habis dan dia tidak punya apa-apa lagi. Tentu saja, kalimat tersebut hanyalah sebuah kiasan. Ia merasa rendah diri ketika mendengar dan menyaksikan gladiresik teman-teman sekelasnya menjelang ujian. Bahkan Kassim, yang tidak pernah menunjukkan kemampuan dan ketertarikannya di kelas Baritone 5 tampak berhasil membawa aura teatrikal yang luar biasa menyentuh. Ia tidak ingin mengecewakan siapa-siapa, dan membuat janji itu berat, meski pada diri sendiri. Kegundahan ini tidak bisa ditanggung sendiri, maka ia menceritakannya kepada Aladdin via telepon.
"Harusnya Alibaba-kun tidak perlu merasa serendah itu." ucap Aladdin bijaksana. "Karyamu bagus, kok. Aku sempat membaca sedikit proposal ujianmu, kan? Yang Edge of Glory?"
"Itu..." Alibaba menggigit bibirnya. bukan bermaksud menyia-nyiakan kerja keras Jafar. Hanya saja...
"Kenapa, Alibaba-kun?"
Alibaba mereguk ludah, memberanikan diri berkata dengan luar biasa jujur. "Itu bukan proposalku. Aku merengek pada Jafar untuk dibuatkan sebagus mungkin."
Hening.
"Aladdin? Sayang?" tanya Alibaba bingung karena tidak ada suara yang terdengar. "Halo?"
"Alibaba-kun mikir apa, sih?!" teriaknya kesal. "Kalau begitu besok harus ke panitia secepatnya! Coach Scheherazade itu telinganya peka banget dengan karakter musik seseorang, tahu. Jafar-san sudah lima tahun lebih dulu sekolah di Lawrence. Pasti akan langsung ketahuan kalau itu buatan Jafar, bukan buatan Alibaba-kun!"
"Oh..." Alibaba merasa seperti ditampar dengan ucapan Aladdin tadi. "Kok bisa..."
"Jafar-san pernah jadi Solo Guitarist juga, tahu." Tambah Aladdin. "Meskipun secara teknis dia tidak bisa main gitar, tapi tetap saja Jafar-san pernah menggarap sebuah Opera di sekolah kita. Makanya itu, para guru mempertimbangkan Jafar-san agar diangkat menjadi pengajar di Lawrence juga."
"Solo Guitarist yang tidak bisa main gitar? Mana ada..." Alibaba tertawa hambar. "Mana mungkin, sayangku..."
"Kalau tidak percaya, besok kita ke perpustakaan. Disana banyak arsip naskah Opera, dan akn aku buktikan kalau aku tidak bohong." Balas Aladdin agak ngotot.
"I...iya, iya."
Maka seperti yang diucapkan Aladdin, mereka benar-benar pergi ke perpustakaan. Aladdin memanjat kursi untuk mengambil sebuah naskah yang di punggung hard cover -nya berjudul Sicilian Warrior. Naskah bertemakan pertarungan dua klan mafia itu digarap oleh seorang siswa tahun keempat, siswa yang mengikuti dua kelas: Countertenor dan Instrumental Piano. Tentu saja, nama siswa tersebut adalah Jafar Sham-Lash.
"Duh... gimana, dong?" Alibaba melenguh panik ketika membaca chord dan part yang ditulis Jafar dalam naskah tersebut. Hitungannya dalam menaik-turunkan tempo, mengatur flow pertunjukan hingga feel yang hendak disampaikan kepada penonton memang mencerminkan 'karakter' Jafar yang selalu perfeksionis. Dan gawatnya, karakter perfeksionis itu membangun 100% dari proposal ujian Alibaba.
"Mau minta ganti?" Aladdin menyarankan. "Alibaba-kun bisa kan, menulis chord dan part lagu yang tidak terlalu susah?"
"Aku nggak tahu caranya." Alibaba menghempaskan dirinya ke kursi. Pikirannya seketika kosong. "Nggak tahu caranya bikin yang bagus tanpa Jafar-san."
"Pasti Jafar-san mengajarimu caranya, kan?" Aladdin mengguncang-guncang pundak Alibaba. "Ayolaaah."
Alibaba berpikir sebentar, dan sejurus kemudian ia mengangguk. Apa yang dikatakan Aladdin benar juga. Ia menyuruh kekasihnya menunggu di perpustakaan dan ia berlari ke ruangan Wakil Komite Sekolah untuk minta penggantian proposal. Perempuan berambut pirang itu tidak ambil pusing, bahkan langsung memberikan proposal tersebut kepada Alibaba, dengan syarat Alibaba harus memberikan gantinya paling lambat jam tujuh malam ini. Tak lama, Alibaba kembali lagi menemui Aladdin.
"Heh, tumben dikasih." Aladdin terpekik kecil dan tersenyum. "Kalau ketua panitia ujiannya Kepala Sekolah biasanya nggak akan dikasih."
"Aku juga tidak mengerti kenapa Scheherazade memberikannya kepadaku." Alibaba menggedikkan bahu. "Aku nggak bawa buku tapi."
"Aku bawa. Mau pinjam?"
Aladdin memberikan binder besarnya. Alibaba pernah melihat binder itu dan tidak asing dengan bentuknya. Namun hal berbeda yang ia lihat sekarang adalah jumlah kertasnya lebih sedikit, dan menjadikan binder itu lebih tipis. Ada serpihan kertas kecil bekas sobekan di besi holder-nya. Tidak ada lagi foto Alibaba dan kalimat posesif yang sangat asumtif, menjurus pada pemujaan berlebihan dan obsesi yang menyimpang. Ada sekitar satu lusin foto mereka berdua, dengan hiasan berupa hari, tanggal dan jam dengan tulisan berhias yang sederhana.
"Enaknya nulis apa..." Alibaba merengut bingung. Sekarang masih jam 9 pagi. Sisa 10 jam. Karena sebentar lagi ujian semester Baritone 5, jadwal pelajaran banyak yang kosong karena beberapa siswa dipinjam kemampuannya untuk keperluan ujian mereka.
Aladdin menyetel lagu di pemutar musik pada ponselnya, mendengarkannya lewat earphone. Dengan lembut ia menawarkan earphone sebelah kiri kepada kekasihnya, dan mereka mendengarkan beberapa lagu bersama. Ada beberapa feel yang cukup mengena di hati Alibaba. Salah satunya adalah lagu yang memiliki harmoni yang kaya, Alibaba menyadari bahwa lagu itu dilantunkan oleh Katy Perry. Salah satu lagu yang diberikan Alibaba kepada Aladdin untuk dilengkapi liriknya, layaknya The Scientist dan Everything Has Changed.
Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
Sebuah tangan yang besar, dengan telapak kasar dan buku jari yang kapalan menggenggam tangan mungil Aladdin. Tangan Alibaba Saluja memberikan kehangatan tersendiri, yang membuat senyum kekasihnya merekah lembut karena bersemu malu. Aladdin menjulurkan tangannya yang digenggam Alibaba, mengusap wajah pemuda bersurai pirang itu dengan lembut sambil menikmati alunan lagu yang berdendang diantara harmoni cinta yang menyelimuti kebersamaan mereka berdua.
Come just as you are to me
Don't need apologies
Know that you are worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through the storm I would
I do it all because I love you,
"I love you..." dendang Alibaba lembut sambil mengusap surai panjang Aladdin yang halus.
Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally
Lalu lagu tersebut habis. Alibaba masih memikirkan apa yang enak untuk dibawakan pada ujiannya semester ini. Lagu berjudul Unconditionally ini tidak akan ia bawakan, tentu saja. Penyebab utamanya adalah karena ada seorang siswa Baritone 5 yang mengklaim lagu ini duluan sebagai proyek proposal ujian. Sembari mendengar lagu-lagu lain, Aladdin dan Alibaba berbincang sedikit.
"Alibaba-kun mau lagu yang seperti apa?" tanya Aladdin.
"Yang punya karakter kuat." Kata Alibaba singkat. "Mauku, semua choir -nya adalah laki-laki. Lalu, musiknya dalam, tidak harus ngerock. Bagaimana cara menggambarkannya, ya?"
"Agak gospel, mungkin?" Aladdin menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Mau full akustik atau mau ada Instrumen elektronik?"
"Kalau full akustik mungkin lebih bagus. Aku tidak perlu menambahkan aksen musik yang susah-susah. Diberi aksen dalam dan gelap. Yah, aksen gospel sepertinya bagus. Tapi apa yang bisa mendukung aksen gelap ala musik gospel?"
"Piano."
"Bingo." Alibaba menulis di binder Aladdin aspek-aspek yang terpikirkan di kepalanya:
Full power dari vokal laki-laki.
Akustik. Sedikit aksen gospel.
Piano. Gitar string.
But with the beast inside
There's nowhere we can hide
"Aladdin!" Alibaba menyentak pelan lengan kekasihnya. "Lagu apa itu?"
"Hah?" Aladdin menekan tombol pause. "Kenapa, Alibaba-kun?"
"Lagu yang mengalun ini. Judulnya apa?"
"Ohh..." Aladdin mengangguk paham. "Demons."
Alibaba tiba-tiba mendapat ide brilian. Saking senangnya, ia menciumi wajah Aladdin berkali-kali dan memutuskan mengambil gitar yang disediakan di perpustakaan. Bahkan tanpa menyetemnya lebih dulu seperti kebiasaannya, Alibaba mem-'bajak' pemutar musik Aladdin dengan menekan tombol repeat current song. Setelah tujuh kali mendengarkan, Alibaba mendapatkan seluruh chords dari lagu itu. sederhana sekali, hanya D, B minor, G, dan A. Imajinasi liarnya berbisik bahwa jika hanya gitar string dan piano saja mungkin terlalu hambar. Maka ia menambahkan cello, cello bass dan biola. Untuk aksen yang lebih dalam dan kuat, contrabass dan drum tradisional besar yang punya suara dalam juga ditambahkannya. Bagaikan orang kesetanan, Alibaba mulai menggambar partitur nada dan membagi-bagi part-nya. Aladdin hanya memperhatikan, melihat Alibaba yang begitu bersemangat soal musik sampai sebegitunya. Dan tepat jam satu siang, Alibaba selesai menulis proposal barunya.
"Bagaimana?" Ia menggeser binder Aladdin kepada pemiliknya untuk dimintai pendapat.
"Bagus, bagus!" Aladdin memeluk Alibaba dengan perasaan bangga. "Tapi, masalahnya sekarang Alibaba-kun harus mengetik proposalnya. Perekrutan orang-orang untuk bahan proyek ujianmu nggak sebentar, lho. Belum lagi latihanmu dengan mereka, kan?"
"Duh..." Alibaba mengacak-acak rambutnya dengan kesal. "Bantu, dong!"
"Iya, iya." Aladdin menyalakan sebuah komputer di ujung perpustakaan yang masih terhubung dengan printer. Kemudian dengan kecepatan seorang juru ketik, Aladdin mengetikkan proposal Alibaba.
.
.
.
.
.
.
.
"Eh? Proyek TV?"
Alibaba nyaris kena serangan jantung ketika pada malam hari Judal menelponnya. Jadi, pemuda berambut legam itu mendapat tawaran untuk menjadi pembawa acara musik sebuah stasiun televisi. Acara itu dinamakan Guitar Sonata in C Minor. Seperti judulnya, dibutuhkan seorang pemain gitar untuk sesi cover lagu.
"Kau bisa, kan? Meskipun cuma kunci F, C, B mol, D minor dan A minor." Alibaba meledeknya. Terdengar erangan sebal Judal di seberang telepon.
"Kau yakin mengajakku?" tanya Alibaba lagi. Ia hanya tidak ingin hati dan keputusannya goyah lagi karena Judal.
"Cuma satu episode, sebagai percobaan. Kalau bagus ya lanjut. Karena salah satu tim kreatifnya adalah Kougyoku-chan, aku nggak enak mau menolak. Lagipula, saat memikirkan kata gitaris, dipikiranku keluar wajahmu. Karena selain bukan artis, acara itu bisa membayarmu dengan harga murah." Ucap Judal lagi.
"Kougyoku-chan?" tanya Alibaba dengan nada jahil.
"Iya. Bukan cuma kau yang harus move on, kan?"
Aneh. Alibaba tersenyum tipis. Senang mendengar bahwa Judal sudah menemukan tambatan hati baru. Hening sejenak, Alibaba memanjatkan doa kepada Tuhan untuk mantan kekasihnya tersebut, agar tidak terjebak lingkaran setan cinta segitiga untuk yang ketiga kalinya. Judal harusnya bahagia sebagai orang pertama, bukan sebagai spesialis penghancur hubungan cinta seseorang.
"Oy." Teriak Judal di sebrang telepon. "Mau atau nggak?"
"Bayarannya berapa, kalau boleh tahu?" tanya Alibaba.
Judal tidak menjawab, ada suara ayahnya di sana yang berteriak minta dibuatkan mac and cheese. "Sekitar 300 Euro per episode, kurasa."
"Dipikir-pikir dulu, deh." kata Alibaba sok jual mahal. "Aku merasa agak sibuk akhir-akhir ini."
"Ya sudah kalau nggak mau." Jawab Judal cuek sambil menutup telepon.
Telepon putus. Butuh sekitar dua menit bagi Alibaba untuk menyadari ternyata kalau 300 Euro itu banyak. Bisa dipakai untuk bayar listrik, stok makanan, bahkan Alibaba bisa berhenti dari pekerjaan sambilannya mereparasi alat elektronik kalau bisa dapat 300 Euro setiap kali ia tampil. Maka tanpa pikir panjang, Alibaba menelpon balik Judal.
"Apa lagi?!" bentak Judal kesal.
"Aku mau. AKU MAUUUU!" teriak Alibaba terlampau antusias.
Judal terdiam. Alibaba tidak tahu kalau di sebrang sana Judal menjauhkan ponselnya dari telinganya saat pemuda pirang itu berteriak.
"Biasa saja!" omel Judal. "Oke, deh. Kalau begitu, kau bisa datang ke kantornya RTV. Bilang saja mau ketemu Ren Kougyoku. Kalau ditanya sudah ada janji atau belum, bilang sudah. Aku sudah mereferensikanmu kepadanya. Jadi jangan bikin malu."
"Yosh! Makasih, Judal. Aku..."
Alibaba terdiam. Ia hampir kelepasan mengucapkan kata 'Aku mencintaimu'.
"Aku apa?" tanya Judal.
"..." Alibaba menarik nafas. "Teman yang paling keren!"
.
.
.
.
.
.
.
Hari H ujian.
Tidak seperti Opera yang ditunggu-tunggu, tidak banyak anak-anak yang mau menyaksikan ujian semester siswa Baritone 5, karena para panitia membatasi kuota penonton (hanya diperbolehkan 100 penonton yang tidak berpartisipasi dalam ujian). Alibaba mendapat nomor urut 27. Dari 60 siswa Baritone 5, dibagi dua kloter dan dipisahkan di ruang ujian yang berbeda. Kloter pertama berjumlah 30 orang, dengan pengawas ujian Kepala Sekolah, Coach Masrur dan Coach Yamuraiha. Sementara kloter kedua berisi Kepala Komite, G.I Sharrkan dan Coach Scheherazade. Alibaba memasuki kloter kedua, dan ruang ujiannya adalah Hallroom.
Aladdin menyiapkan kamera SLR miliknya, dengan memori 16 GB yang dipersiapkan khusus untuk memotret Alibaba. Beberapa siswa yang tampil pertama dan pertengahan mendapat respon yang bagus dari pengawas ujian. Namun, menjelang nomor 25-an para pengawas mulai melonggarkan atensi. Peserta nomor 26 hingga 30 akan tampil setelah jam istirahat. Aladdin bahkan juga membawakan Alibaba bekal makan siang—Alaska roll sushi yang dibelinya di convenience store. Namun Alibaba hanya menerimanya, tidak memakannya.
"Sebentar lagi kan aku tampil. Nanti suaraku nggak maksimal." Alibaba mengusap rambut Aladdin dan mengecup puncak kepalanya. "Makasih."
"Sama-sama." Aladdin tersenyum.
"Oh, aku sudah cerita padamu, belum? Judal bilang dia mereferensikan aku ikut acara TV yang dibawakannya. Bayarannya 300 Euro per episode. Kau tidak keberatan, kan?"
Aladdin terdiam. Nama Judal masih membuatnya terasa agak sulit. Tetapi Aladdin harus mengucapkan banyak terima kasih kepada mantan teman sekelasnya tersebut. Judal sudah berkorban banyak—bahkan terlalu banyak dalam hidupnya untuk membahagiakan orang lain. Sosok yang dulu dianggap musuh terbesarnya kini meninggalkan Alibaba dan dirinya secara damai dan terlarut dalam kesibukannya sebagai solois pendatang baru.
"Bagus, kan?" Aladdin merekahkan senyumnya. "Tandanya Judal percaya dengan kemampuanmu."
Alibaba tersenyum. Saat namanya dipanggil, Aladdin kembali ke bangkunya dan mengamati apakah hasil kreativitas kekasihnya dua hari silam. Panggung yang ditatanya berisikan delapan belas orang choir. 6 dari Bass, 6 dari Baritone da 6 dari Tenor. Seorang pianis, pemain biola, pemain cello dan cello bass, pemain contrabass dan Alibaba memegang gitar akustiknya. Salah seorang anggota Flame Gladiators, Olba, siaga memainkan sebuah genderang tradisional.
When the days are cold
And the cards all fold
And the saints we see
Are all made of gold
When your dreams all fail
And the ones we hail
Are the worst of all
And the blood's run stale
Lagu Demons yang dibawakan Imagine Dragons diperhalus dengan permainan akustik gitar Alibaba dan sentuhan elegan dari biola. Diberikan power dari contrabass dan kesan gospel classic dari dentingan piano dan cello. Intensitas tempo dipertegas dengan tabuhan genderang tradisional yang lebih menghasilkan vibra.
I wanna hide the truth
I wanna shelter you
But with the beast inside
There's nowhere we can hide
No matter what we breed
We still are made of greed
This is my kingdom come
This is my kingdom come
When you feel my heat
Look into my eyes
It's where my demons hide
It's where my demons hide
Don't get too close
It's dark inside
It's where my demons hide
It's where my demons hide
Aladdin nyaris menjerit mendengar nyanyian Alibaba kali ini. Suara bass memberikan efek dalam dan khidmad. Suara tenor memberikan aksen backing vocal dan suara baritone memperhalus efek dalam dari suara bass. Alibaba menaikkan range lagu itu satu tingkat sehingga pada bagian chorus dimana dia harus menyanyikan lirik 'feel my heat' tidak diperlukan teknik falseto. Kekuatan suaranya keluar dengan sangat luar biasa. Bahkan Aladdin merasa itu bukan lagi range vocal Alibaba yang dulu: baritone, dengan dialek khas pengucapan suku kata he dan ar, cadel T dan aksennya saat mengucapkan huruf J. Kini semua itu hilang entah kemana. Alibaba menyanyikan Demons dengan aura yang lebih mature dan powerful.
Ketika penampilan pemuda berambut pirang itu selesai, para pengawas ujian membuat banyak tulisan sebelum menyuruh Alibaba turun dari panggung. Aladdin menghampirinya, memeluknya penuh sayang dan mengajaknya makan siang.
"Tadi itu keren. Tuh." Aladdin menunjukkan foto-foto yang diambilnya saat Alibaba mengeksekusi proposal ujiannya.
"Jangan menghiburku. Aku merasa agak sedikit miss di beberapa beat tadi. Latihannya dadakan. Tapi untungnya G.I Sharrkan sudah menyiapkan yang terbaik untuk kami semua." Alibaba melahap sepotong Alaska roll bulat-bulat. "Kau tidak akan mengerti tersiksanya masuk kelas Baritone 5."
"Tapi..." Aladdin membuka sebotol air mineral untuk dirinya sendiri. "Kurasa Baritone 5 hanya dikhususkan untuk anak yang bisa bermain gitar, ya?"
"Memang." Alibaba berkata lambat-lambat sambil mengunyah. "Kalau mau jadi Solo Guitarist tanpa bermain gitar rasanya seperti kue tanpa gula."
Aladdin mengangguk paham. Ia kadangkala kehabisan topik pembicaraan jika bersama Alibaba. Keheningan dan detak jantung pemuda berambut pirang itu dirasa cukup mengisi hari Aladdin dengan rasa cinta dan luapan kebahagiaan. Tetapi tampaknya hal itu hanya dirasakannya secara sepihak. Alibaba lebih tua darinya. Dan sebagai kekasih yang baik, Aladdin harus membantu Alibaba bertumbuh menjadi lebih mature. Begitupun sebaliknya.
"Nee...Alibaba-kun..." panggil Aladdin. Ia menyodorkan air mineral yang diminumnya tadi. "Nih!"
"Mahahih." Jawab Alibaba dengan mulut penuh. Ia berusaha menelan alaska roll yang dikunyahnya dengan bantuan seteguk air. Sejurus kemudian , Alibaba melenguh lega.
"Chu..."
Aladdin mencondongkan badannya ke arah Alibaba dan mengecup pipinya penuh rasa hormat dan cinta kasih. Pemuda berambut pirang itu agak terkejut, namun tersenyum lembut dan membalas kecupan pipi kekasihnya.
"I will love you, unconditionally." Bisiknya, mengutip lirik lagu Katy Perry.
Alibaba terdiam. Kedua belah pipinya dihiasi rona tersipu.
"Apa jawabanmu?" tanya Aladdin lembut.
Alibaba menyeringai. "Hell yeah!"
Pemuda berambut pirang itu merangkul Aladdin mendekat dengan satu lengannya, kemudian mengecup bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
"Ay! Ketemu lagi dengan saya, Judal! And my soulmate,"
"Alibaba Saluja, Flame Gladiators."
"Akan menemani siang hari Anda selama satu jam kedepan dengan berita musik terkini yang pastinya tidak patut Anda lewatkan! So, tema musik hari ini enaknya apa, Alibaba?"
"British Invasion?"
"Kenapa harus British, gitu? Oh, man! Sebagai salah satu siswa sekolah musik, biasanya lebih condong ke klasik, kan? Mozart, Beethoven..."
Aladdin menyaksikan acara TV yang dibawakan Judal dan Alibaba, episode pertama. Judul acara itu adalah Guitar Sonata in C Minor. Alibaba awalnya sudah menjelaskan bahwa alasan Judal merekomendasikan Alibaba sebagai partnernya di acara TV ini adalah karena Judal menceritakan kemampuan bermain gitar Alibaba dan juga mengklaim bahwa Alibaba sahabat terbaiknya, bukan mantan kekasihnya. Obrolan dan pembawaan mereka sangat ringan. Pada episode bertemakan British Invasion ini, diputar video klip Amy Winehouse yang berjudul Stronger, The Beatles yang berjudul Words of Love, Jessie J yang berjudul Wild dan beberapa penyanyi Inggris jaman dulu yang Aladdin tidak kenal. Tak lupa pula membahas pendatang baru juga seperti Jake Bugg dan Tom Odell.
"Eh, Alibaba! Apa lagu yang menurutmu 'British Invasion' banget?"
"Ada. Twist and Shout-nya The Beatles."
Lalu Alibaba memainkan lagu Twist and Shout-nya The Beatles tersebut seperti gayanya menyanyi di pekarangan luar Lawrence saat istirahat: tidak mempedulikan nada, yang penting nyanyi, dan terkesan seperti orang demo. Judal tertawa keras dan menjelaskan kepada penonton kebiasaan-kebiasaan Alibaba yang 'agak konyol' jika di sekolah. Setelah beberapa video clip dan riwayat singkat seorang penyanyi asal Inggris yang mereka bicarakan, Alibaba dan Judal meng-cover salah satu lagu milik mendiang Amy Winehouse.
Well sometimes I go out by myself
And I look across the water
And I think of all the things, what you're doing
And in my head I paint a picture
Pada saat menonton acara itu, bohong kalau Aladdin tidak cemburu. Alibaba dan Judal dekat lagi. Dan bahkan Judal tahu lebih banyak tentang Alibaba ketimbang dirinya. Tetapi, bahasa tubuh dan cara bicara Alibaba meleyapkan kecemburuan Aladdin. Entah karena masuk TV atau memang sungguhan, Alibaba memperlakukan Judal layaknya ia memperlakukan Hakuryuu atau Titus. Kadang saling mengatai, memukul dan hal-hal lain yang sifatnya bercanda.
Aladdin menghela nafas menonton Alibaba dari layar kaca.
"Dia milikku sekarang..." bisiknya penuh cinta.
.
.
.
.
.
.
.
"Judal, ada temanmu."
Judal hanya menatap Ithnan yang melongok ke dalam kamarnya. Ini salah satu hari liburnya, dihabiskan dengan jadwal kosong tanpa rutinitas. Ia diam dirumah bersama ayahnya, dan Judal memilih menggambar. Kali ini ia menggambar bird of paradise ukuran A2 di kertas gambar daur ulang dan mewarnainya dengan pasir warna.
"Alibaba, kan? Suruh masuk saja." Judal menjawab cuek sambil menjatuhkan bulir-bulir pasir warna dari genggamannya ke bidang yang sudah diberikan lem.
"Bukan. Anak itu pendek, rambutnya panjang. Dan dia bilang katanya dulu teman sekelasmu."
Judal menatap Ithnan cukup lama, sampai akhirnya ia membereskan pasir warnanya, mencuci tangan dan berjalan ke pintu depan untuk menemui sosok yang (rasanya) agak mustahil mengunjunginya. Ya, teman yang dimaksud Ithnan adalah Aladdin. Bocah itu berdiri di pintu depan rumah Judal dengan membawa kantung belanjaan yang kelihatannya agak berat.
"Mau apa kau kesini?" ketusnya pedas.
"Minta maaf." Ucap Aladdin. "Atas semua perlakuan burukku padamu."
"Kau minta maaf karena aku memutuskan Alibaba, dan kau sekarang jadian dengannya?" Judal menyandar di pintu dengan tatapan bosan. "Harusnya yang kau ucapkan itu terima kasih. Ya, terima kasih sudah mengembalikan pacar pujaan yang sudah kau rebut, Judal. Kau mau bilang itu, kan?"
Aladdin tersentak. Ia menunduk, seperti hendak menangis. Dan nyatanya memang beberapa bulir airmata jatuh ke pipinya. Judal mendengus pelan.
"Aku mau minta maaf." Ucapnya sambil terisak. "Alibaba-kun bilang, biar agak menyebalkan tapi...tapi sebenarnya hatinya baik. Karena Alibaba-kun bilang Judal adalah teman baiknya, aku juga harus bersikap baik padanya."
Judal menatapnya dengan pandangan dingin.
"Maaf sudah memusuhimu. Maaf sudah mengatakan hal buruk kepadamu. Maaf sudah...sudah memotong kabel rem motormu. Maaf sudah membuatku kecelakaan. Maaf sudah memukulmu. Maaf sudah...sudah...sudah..."
Aladdin berhenti. Judal meletakkan tangannya di kepala Aladdin dan mengusap-usap kepalanya lembut. Pemuda bersurai legam itu membawa Aladdin masuk dan menyuguhkannya segelas jus delima. Aladdin meminumnya dengan kalap agar nafasnya kembali normal.
"Aku juga minta maaf sudah membuatmu susah." Judal berucap hangat. "Dan terima kasih, sudah bersedia menjaga Alibaba."
Aladdin mengangguk. Senyum perlahan merekah di bibirnya. Meskipun tidak membalas senyuman Aladdin, ekspresi Judal melunak.
"Pria tadi ayahmu?" tanya Aladdin.
"Ya. Namanya Ithnan. Aku memanggilnya dengan nama. Kurasa kau sudah menyapanya tadi." Ucap Judal.
"Ah, aku bawa sesuatu."
Aladdin memberikannya kotak persegi panjang yang dibungkus kertas kado. Kotak itu lumayan berat, dan tanpa basa basi Judal membukanya. Kedua manik ruby itu agak terbelalak ketika mengetahui apa isinya.
Drawing tablet.
"Aku sudah punya, sih." Judal mengangkat bahunya. "Tapi, terima kasih. Ini mahal, kan?"
"Selamat ulang tahun!" ucap Aladdin.
Judal langsung berlari menuju kalender yang tergantung di dapur. Sebuah tanggal di minggu-minggu akhir bulan Juni dilingkari dengan tulisan merah oleh Ithnan. Pada tanggal 23 Juni, Ithnan menulis:
My boy 20th birthday.
Pemuda berambut selegam malam itu mengangguk paham. Pantas saja jadi pagi Ithnan memeluknya, mencium keningnya dan bertanya Judal mau makan malam dimana. Ternyata hari ini ia ulang tahun. Karena tidak terbiasa merayakan ulang tahun, Judal bahkan sampai lupa ulang tahunnya sendiri. Ia kembali menghampiri Aladdin yang dengan ramah dan penuh senyuman merentangkan kedua tangannya.
"Apa?" tanya Judal ketus.
"Aku mau memelukmu." Ucapnya polos. "Nggak mau dipeluk?"
Pemilik manik ruby itu merangkul Aladdin dengan satu lengan dan mengucek-ucek rambutnya dengan gemas. Aladdin tertawa, namun memeluk tubuh ramping Judal dengan lembut dan melepaskannya pelan-pelan.
"Aku cuma mampir sebentar." Ucapnya. "Dan sekarang harus pulang."
"Makasih, untuk ini." Judal mengangkat drawing tablet yang dihadiahkan untuknya.
Aladdin tersenyum, kemudian menggeleng pelan.
"Kenapa?" tanya Judal dengan pandangan skeptis.
"Itu bukan apa-apa." Aladdin menggamit tangan Judal. "Meskipun kau seorang musisi sekarang, aku tahu dalam hatimu kau begitu mencintai kegiatan melukismu—atau menggambarmu."
"Sama saja." Judal mendecih. "Dan karyaku nggak seserius itu. Cuma iseng doang.
"Kau terlalu memandang rendah dirimu, Judal." Aladdin berjalan menuju pintu depan. "Padahal kau mampu melukis itu."
Jari mungil Aladdin menunjuk dinding kaca rumah Judal. Sang pemilik surai legam tersebut hanya mengerenyitkan keningnya dengan ekspresi bingung.
"Sampaikan salamku pada ayahmu." Ucap Aladdin dan akhirnya ia pergi.
Judal mengamati dinding kaca rumahnya tersebut. Dari sana pemandangan halaman depan, rumah tetangga dan dunia luas terpatri dalam potret singkat sejauh rangkap pandangannya saja. Ia memikirkan kata-kata Aladdin dan menginterpretasikan kemana arah ia menunjuk.
"Lho? Temanmu sudah pulang, Judal? Cepat sekali mampirnya." Ucap Ithnan ketika keluar dari kamar mandi.
"Ithnan." Panggil Judal. Sang Ayah menoleh.
"Ya?"
"Melukis langit...itu apa?" tanya Judal.
Ithnan tersenyum samar dan menepuk-nepuk pundak Judal penuh sayang. "Itu kiasan sastra lawas, pada zamanku kuliah dulu. Menggambarkan bahwa kau memiliki kebijaksanaan dan potensi terpendam yang luar biasa, sehingga diibaratkan langit pun bisa kau lukis. Gampangnya, seperti sindiran bagi orang yang sebenarnya hebat tetapi terlalu membatasi dan merendahkan dirinya sendiri. "
Judal menempelkan telapak tangannya di dinding kaca itu. Terngiang dalam ingatan lamanya ucapan sang mantan berdarah Belanda, Jafar Sham-Lash ketika Judal menghadiahkannya Buku Laut sebagai kenang-kenangan bahwa masing-masing dari mereka pernah saling mencintai.
.
.
.
.
"Kau tahu, Judal? Kau terlalu terkungkung dengan batas yang kau buat sendiri." Ucap Jafar dalam.
Judal membuang muka. Ia diam dan lebih memilih menatap lantai.
"Aku mencintaimu..." bisik Jafar. "Namun aku tidak bisa terus bersamamu."
Judal mengangguk paham.
"Kalau saja kau mau melihat seberapa hebat dirimu..." Jafar meraih sejumput rambut Judal dan menciumnya. "Kau akan sangat luar biasa."
Judal bersemu. "Begitukah?"
Jafar menengadah, menatap langit biru muda dengan awan tipis yang bergumpal-gumpal, tertiup angin dengan lembut. Sinar matahari cerah, bersinar namun tidak terlalu membakar.
"Aku percaya, Judal yang sebenarnya bahkan bisa melukis langit."
Judal tersenyum kecut mengingat perkataan tersebut.
"Tapi Alibaba adalah malaikat yang membuatku percaya kalau aku bisa melukis langit." Gumam Judal pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
A/N:
Katy Perry: Unconditionally
Imagine Dragons: Demons
Amy Winehouse: Valerie.
Alaska roll sushi: jenis sushi gulung yang isinya alpukat, tobiko, timun dan kani kama (crabstick, kadang kepiting betulan kalo yang mahal), digulung gaya uramaki (yang nasinya diluar rumput lautnya di dalam) dan diatasnya didilapisi irisan salmon, baik mentah maupun matang.
Ya, jumpa lagi dengan saya di chapter terakhir. Saya harap ini bisa dibilang happy ending. Mungkin saya sudah menciptakan banyak konflik pelik antara AliJu dan AliAla. Tapi saya rasa, karena masing-masing dari mereka sebenarnya niatnya baik, ya bahagiakanlah mereka berdua (bukan threesome tapinya, saya temukan cara lebih halal #plak) Eniwei, terimakasih sudah mengikuti Melukis Langit sampai akhir. Saya terharu banget bisa dapet review diatas 100, dan awalnya saya pikir itu cuma mimpi. Ternyata BENERAN. Review itu semua membuat saya lebih bersemangat untuk belajar menulis fic yang mampu memuaskan para readers yang budiman. Terima kasih atas dukungannya selama ini. I love you my beloved readers.
Soal ulangtahun Judal, itu cuma karangan saya. Karena ulangtahun saya 23 Juni, ya sudah saya buat Judal ulangtahun bareng saya #narsis #plak
Ini fic terpanjang yang pernah saya ketik. Dan meskipun sulit, saya menikmati sekali mengetik fic ini dan mendengarkan setiap lagu yang tercantum di dalamnya. Ada yang bilang bahwa lagu-lagu inilah jiwa dari fic ini. Dan itu benar, readers sekalian. Kalau waktu anda luang, Anda semua bisa mendengarkannya sambil baca fic ini biar feel-nya lebih greget. Kalau ada yang judul dan penyanyinya tidak dicantumkan dan readers sekalian mau mencari, jangan ragu untuk PM saya.
Terima kasih sekali lagi, telah membaca Melukis Langit. Saya akan membuat dan melanjutkan fic baru yang lebih baik lagi. Sekali lagi terima kasih.
Regards
Fajrikyoya.
