"Shiro, terimalah keluarga barumu ya! Jangan sungkan~"
Shiro tersenyum, tapi senyum itu dipaksakan. Tidak ada ikhlas-ikhlasnya sama sekali. Usianya sekarang masih sepuluh tahun dan ia harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya berpisah dan ia harus ikut ibunya yang menikah lagi, dan ia berpisah dengan kakaknya. Kakak perempuan kesayangannya.
"Jangan khawatir~ Aku akan memperlakukanmu dengan baik kok."
Sesosok lelaki dengan rambut hitam gelam berdiri di hadapan Shiro. Lelaki itu tersenyum dengan cerah, senyum itu sangat manis karena ada tahi lalat di bawah mata lelaki itu. "Oh iya, Shiro, dia ini kakakmu. Namanya Haruka. Kokonose Haruka."
"Salam kenal ya Shiro, ehm mungkin kalau aku memanggilmu Shiro. Aku akan memanggilmu Ai saja."
Langkah Shiro terhenti sejenak. Sebuah memori yang menyesakkan tiba-tiba terputar di kepalanya. "Tidak, ia tidak mungkin Haruka-nii chan. Ia pasti orang lain!"
Air mata mengalir dari matanya. Entah kenapa rasanya mendengarkan ucapan dari pemuda albino tadi membuatnya tertusuk.
"Kamu siapa? Namaku Konoha."
"Konoha? Apa yang dia maksud Konoha?"
Beberapa detik kemudian, Shiro menghentikan langkahnya. Ia menemukan sesuatu yang janggal. Kokonose Haruka kakaknya adalah seseorang dengan rambut hitam, tapi mengapa orang yang tadi ia temui berambut putih. Mungkinkah ia salah orang? Hahh.. Shiro tidak mau mempermasalahkan hal itu lagi.
Kini Shiro sudah berada di dekat makam. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok lelaki berambut hitam yang sedang berdiri sambil membawa ponsel. "Kau membuat Shintaro melupakan Ayano 'kan, Takane?"
"Kau kenal dengannya?"
Ene ragu untuk berbicara. Tapi, bukankah foto itu benar-benar foto Ayano. Ayano adik kelasnya yang selalu menggunakan syall merah itu. Ene menelan ludah, "I-iya aku mengenalnya."
"Darimana kau mengenalnya?" tanya Kido.
"Etto..."
Takane Enomoto sedang berjalan dengan mood yang jelek pagi ini. Ia terus mengabaikan setiap orang yang menyapanya di perjalanan. Hari ini, ia merasa penyakitnya sedikit kambuh, tapi ia sepertinya ia tidak bisa beralasan apapun pada neneknya untuk tidak masuk sekolah.
Kaki Takane pun berhenti di depan sebuah kelas yang bertuliskan, 'Kelas Istimewa'. Perlahan ia mendorong pintu ruangan itu. Betapa terkejutnya Takane ketika mellihat sesosok lelaki dengan rambut hitam yang setengah telanjang. "APA YANG KAMU LAKUKAN HARUKA?"
"Ehm, tadi aku melihat ada kucing yang lucu di dekat air mancur, saat aku berniat mengambilnya dan memeliharanya, aku kehilangan keseimbanganku dan tercebur ke kolam air mancur. Jadi sekarang bajuku basah." ucap Haruka sambil menunjukkan bajunya yang basah.
Takane langsung menyambar baju milik Haruka dan berniat untuk langsung memakaikannya ke tubuh Haruka. Takane sedikit kesulitan memakaikan baju Haruka karena Haruka terus-terusan melawan. Yah, siapa juga yang mau berkeliaran di sekolah dengan baju basah. "Haruka, cepat pakai!"
"Tapi ini basah Takane!"
Krek
Pintu kelas itu mendadak terbuka. Nampak sesosok sesosok gadis yang seusia dengan Takane dan Haruka yang memucat melihat adegan mereka berdua. "Maaf aku tidak berniat mengganggu..."
"Hikari, ini tidak seperti yang kau pikirkan!"
Gadis itu langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Beberapa saat setelah gadis yang dipanggil Takane Hikari itu pergi muncullah sesosok pria paruh baya. "Hei apa yang kalian lakukan?"
"Sensei, jadi..."
"Syukurlah bajuku tidak terlalu kebesaran untukmu ya Haruka!"
Takane mengelap keringat yang menetes dari dahinya. Sementara Haruka tersenyum kikuk. "Maaf ya, Takane, Haruka aku telah salah paham."
"Tidak apa-apa Hikari!"
Takane mengamati Hikari. Sementara Hikari masih tersenyum lebar. Hikari adalah teman sekelas Haruka dan Takane. Hikari adalah gadis yang sangat perhatian, saking perhatiannya ia selalu membawakan obat yag sesuai dengan penyakit Haruka dan Takane. Untuk penampilan fisik, Hikari adalah sesosok gadis dengan postur tubuh yang cukup tinggi dan memiliki warna mata hazel. Rambutnya sendiri berwarna hitam. Kulitnya sih putih sedikit merah, hal ini membuat Hikari terlihat begitu cantik.
"Ap-apaan ini?" tanya Takane ketika ia mendapat sebuah kertas dari Tateyama Sensei.
Haruka dan Hikari juga mendapatkannya tapi mereka tetap bersikap biasa saja. Apalagi Hikari, ia terlihat tetap tidak bereaksi sama sekali. "Guru kami yang sebelumnya bilang kalau kami tidak usah ikut festival.."
"Lagipula uang kita tidak cukup."
"Ehm.. Iya, aku ingat! Sensei bilang karena kita tidak mungkin ikut festiva jadi-"ucap Hikari
"-Ia membeli ikan tidak jelas yang ada di dekat jendela itu!" Seru Takane.
"Uang kita tidak akan cukup."
"Takane, jangan berpikir negatif dulu..." ucap Hikari.\
"yA, Benar kata Hikari," ucap Tateyama sensei.
Beberapa detik kemudian, kelas mereka menjadi hening. Semua bergulat dengan pikirannya masing-masing untuk mencari jalan keluar yang bagus untuk permasalahan ini. "Ehm. Bagaimana dengan Target Shooting Game?" Tanya Haruka.
"Aku rasa itu ide yang bagus!" Seru Hikari.
"Benar! Lagipula senseimu ini sangat ahli dalam bidang pemograman."
"Kalau begitu, program ulang isi kepalamu sensei! Biaya kita tidak cukup! Kita butuh senapan angin!"
Tateyama sensei menghela napas. Sementara Hikari dan Haruka kembali bergulat dengna pikiran mereka. "Ehm, Takane! Aku punya ide, bagaimana jika Haruka yang menggambar target, Tateyama sensei yang memprogram dan aku akan siapkan efek suara juga joystick untuk bermain. Kebetulah di rumahku masih ada banyak joystick yang belum dipakai!"
"Ide yang bagus Hikari, dengan begini kita bisa membuat gamenya!"
"Ti-tidak mungkin aku kalah dalam target shooting game! Aku kan pernah juara!" Seru sesosok lelaki yang barusaja dikalahkan oleh Takane.
Takane tersenyum senang. Sementara teman dari si lelaki tadi juga menatap tajam skor dengan tatapan yang tidak percaya. "Kamu 'kan pernah mencapai tingkat semifinal di lomba game-"
"Tunggu!"
Semua anggota Mekakushi Dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Seto yang tiba-tiba berteriak secara tidak jelas. Ene menghela napas. "Kau mengganggu ceritaku saja, Seto!"
"Maaf, tapi aku seperti mendengar suara kecelakaan... Apakah boleh aku melihatnya?"
"Ya sana. Silahkan..."
"Baiklah.."
Seto berlari meninggalkan makam. Sementara seluruh member Mekakushi Dan menatap Seto dengan aneh. "Oh iya, Ene-chan, bagaimana kelanjutan ceritamu itu?"
"Ehm,baiklah berikutnya, si Lelaki yang tadi menantangku itu kalah lalu memposting dan memberitahukan kepada seluruh jagad raya bahwa aku adalah lighting dancer Ene, si juara 2 turnamen nasional..."
"Kau hebat sekali!Ene-chan..."
"Baiklah, aku akan melanjutkan ceritaku tentang gadis hantu."
Begitu mendengar kata gadis hantu, entah mengapa perasaan Kido jadi tidak enak.
"Silahkan masuk!" Seru Hikari dan Haruka bersamaan.
Beberapa detik kemudian. Sesosok lelaki dengan rambut blondee masuk sendirian sambil tersenyum. "Halo~"
"Selamat datang di kelas kami. Disini, kami bermain game target shooting.." ucap Takane ramah.
"Apakah hadiahnya?"
"Hadiahnya adalah uang sebesar..."
"Kau sudah paham dengan itu? Tsubomi?"
Sesosok gadis berambut hijau gelap duduk diatas kursi depan monitor. Tapi, kemunculan gadis itu sangat mendadak, bahkan tadi, Takane tidak melihatnya. Mata Takane terbelalak lebar ketika melihat kemunculan gadis yang misterius sekali itu.
"Hwaaa! Darimana munculnya kau?"
"Jangan bercanda, nee-chan dari tadi ia sudah disini kok.."
"Baiklah kalau begitu mari kita mulai gamenya."
"Tapi, aku sedikit bingung dengan gadis itu. Kenapa aku bisa menang darinya dengan skor yang jaraknya sangat dekat. Aneh sekali. Ditambah, target yang mau kutembak menghilang terus. Aneh sekali 'kan?"
"Tu-tunggu dulu.. Jadi, Kau adalah gadis yang mengadakan lomba game itu?"
Ene mengngguk pelan. "Memangnya kau pernah kesana ya?"
"Ya, mungkin Ene-chan tidak ingat kalau kami pernah kesana karena sekarang kami telah tumbuh."
"Tapi, Kano... Kamu tetap pendek." ucap Momo dengan wajah innocent.
Ene berusaha mengingat apakah ia bertemu dengan Kido dan Kano. Ia mencoba memutar otaknya untuk mencari memorinya tentang Kido dan Kano. Beberapa detik kemudian, Ene membelalakkan matanya, ia sudah ingat kapan ia bertemu dengan Kido dan Kano... "HWAAA JADI KAU ADALAH GADIS HANTU DAN TEMANNYA?"
"Hantu?"
Beberapa detik kemudian keheningan menyelimuti mereka. Mereka semua nampaknya sedang serius dalam bergulat dengan pikiran masing-masing. "Oh iya, kalau begitu... Darimana Ene-chan mengenal Ayano-nee chan?"
"Ehm kalau soal itu sih..."
Kriing
Ponsel Momo tempat dimana Ene berada berdering dengan kencang. Membuat Ene tidak bisa melanjutkan perkataannya. Nama yang tertulis di layar itu adalah Seto. "Halo... Ternyata korban kecelakaan tadi adalah Shintarou-Kun dan seorang temannya. Sekarang mereka dibawa ke rumah sakit.. Shintarou tidak terluka, tapi ia terlihat syok."
"Oniii-chan punya teman?"
"Eh, Shintarou-kun punya teman?"Tanya Mary polos.
"Maaf Danchou, aku rasa aku harus segera pergi ke rumah sakit."
"Tidak papa, lebih baik aku juga ikut, akan berbahaya jika tiba-tiba kekuatanmu muncul."
"Itu bisa menarik perhatian." ucap Mary dengan polosnya lagi.
Kano menyeringai. Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Kido."Jangan khawatir, kalian pergi dulu sana. Jangan khawatirkan aku."
"Baiklah, Maaf Kano.."
"Okey~"
Kido, Mary dan Momo berlari meninggalkan Kano. Setelah memastikan mereka semua benar-benar pergi, Kano berjongkok di depan makam Ayano. Ia tersenyum, berusaha menahan airmata yang nyaris keluar darimatanya. Kano menghela napas pelan. "Akhirnya, hanya aku dan kau ya nee-chan?"
To Be Continued
Note: Maaf kalo kepanjangan dan Gaje super! Ini dibuat ngebut supaya timingnya pas, besok kan kalo nggak salah episode terakhirnya MCA dirilis. Huee
Oke, BTW Selamat Menjalankan Ibadah Puasa ya!
Disclaimer: Kagerou Project danMekaku City Actors adalah milik Jin(Shizen No Teki-P). Hana hanya pemilik OC dan sedikit amat jalan cerita. Makasih :)
