Kano mengucapkan segala hal yang ia ingin curahkan pada Ayano, kakaknya. Mulai dari tentang member baru Mekakushi Dan, Kido yang menggantikannya menjadi ketua dan kemarahan Kido yang menurut Kano mirip dengan Ayano. Kano sebenarnya ingin menangis, tapi karena ia sadar sedang didengarkan oleh seseorang, Kano memilih untuk menahannya. Kano pun berdiri lalu mengambil ponselnya, "Menguping pembicaraan orang itu tidak baik Ene-chan."

"Ma-maaf aku tidak bermaksud." Ucap Ene sembari muncul di layar ponsel Kano.

Kano tersenyum seperti biasanya. "Apa yang ingin kau katakan Ene-chan?"

"Aku, anu... Tadi kau berkata seolah-olah kamu tahu dimana letak tubuhku?"

"Aku akan memberitahukannya kepadamu, tapi kau juga harus menceritakan mengenai Ayano-neechan kepadaku."

"Baiklah, kalau begitu kita impas kan?"

"Ya."

"Awal aku bertemu dengan Ayano-chan, adalah.."


Sesosok gadis bersyall merah dan sesosok teman lelakinya memasuki ruangan kelas Takane. Haruka dan Hikari yang menjaga pintu pun tersenyum senang. Si teman lelaki pun langsung duduk di sebelah Takane. Takane pun menjelaskan beberapa peraturan. "Jangan kau pikir, hanya karena kau pemenang hingga tingkat dua nasional kau sombong ya? Kau itu lemah! Pasti kau akan kalah melawanku."

"Eh? Percaya diri sekali kau! Aku akan memanggilmu Goshujin-sama jika aku kalah darimu!"

"Baiklah kita lihat saja nanti."

Takane dan lelaki itu pun memulai permainan mereka. Selama bermain, Takane selalu saja kalah cepat dengna lelaki itu saat menembak target. Hingga di saat terakhir, saat si bos yang berwujud dirinya sendiri muncul pun Takane tak mampu menembak. Hasil akhirnya, si lelaki menang dengan predikat 'perfect'. Takane pun membelalakkan matanya.

"Baiklah, aku tidak suka dengan apapun yang disebut dalam perjanjianmu tadi itu. Jadi lupakanlah..."

Beberapa saat kemudian si lelaki itu pergi. Sementara si gadis bersyall merah itu mengajak Takane mengobrol.

"Nama lelaki tadi itu adalah Shintarou, Maaf ya, dia memang sedikit kasar."

"Ah tidak apa-apa kok..."

"Apakah kamu Takane-chan?"

"Iya benar."

"Wah ternyata kamu sangat mirip dengan yang diceritakan oleh ayahku."

Takane terdiam sejenak. Hingga ia menyadari sesuatu, "Eh ayahmu? Hmm... Apakah kau anak dari Tateyama Sensei?"

"Iya, namaku Tateyama Ayano."

"Wah senang sekali dapat bertemu denganmu."


"Ene-chan, mengapa kamu tidak memberitahukan identitas aslimu kepada Shintarou-kun?"

Ene menundukkan kepalanya. Lalu, ia tersenyum dan menjawab pertanyaan Kano. "Menurutku akan lebih susah untuk membuat Shintarou-kun menghilangkan luka masa lalunya jika tahu aku adalah Takane. Hari itu, disaat Ayano-chan bunuh diri, Shintarou sempat mencoba untuk menyelamatkannya, tapi ia tak berhasil. Shintarou selalu dipenuhi dengan rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan Ayano-chan. Ayano-chan pernah bilang bahwa Shintarou memerlukan gadis yang lebih egois darinya, jadi aku pikir akan membantunya dengan menjadi gadis yang berbeda."

"Tapi hari itu Ayano-neechan bunuh diri bukan hanya karena kehilangan satu orang sosok berharga, tapi ia kehilangan dua sosok yang berharga."

"Maksudmu?"

Ene mengangkat kepalanya. Matanya terbelalak ketika ia melihat sosok yang sekarang berada di hadapannya. Sosok tinggi dengan rambut hitam dan tahi lalat di bawah matanya. Sosok yang telah lama ia ingin temui, yang juga telah lama ingin ia lupakan. "Kau mencoba membuat Shintaro melupakan Ayano 'kan, Takane?"

Ene terkejut bukan main. Secara tiba-tiba ia mengingat seberapa menyesalnya ia sehingga kehilangan sosok itu. "Kamu juga sudah mulai melupakanku ya, Takane?"

Air mata membanjiri wajah Ene. Jika ia mampu, ia ingin memeluk lelaki itu erat-erat. Tapi, saat ini ia hanyalah seorang cyber being yang bahkan tidak memiliki kaki yang sempurna.

"Hentikan permainan konyolmu ini Kano!"

Dari jauh sesosok gadis berambut putih datang mendekat. Ene pun langsung mengenali gadis itu. "Berani sekali kau menipu Ene-chan dengan menjadi kakakku!"

Kano yang awalnya menyamar menjadi Haruka dengan Deceiving Eyesnya pun kembali menjadi Kano. Ene terkejut ketika mendengar kata 'kakakku'. "Apa maksudmu Shiro?"

"Haruka, Kokonose Haruka, adalah kakak tiriku! Berani sekali kau berpura-pura jadi dia!"

"Shiro! Kamu adalah adik Haruka?"

"Iya Ene-chan, maksudku Takane-chan. Bukankah kita pernah bertemu dulu?"

"Iya."


Tepat sebelum pengumuman, Takane, Haruka dan Hikari sedang sibuk membereskan perlengkapan target shooting game kelas mereka. Secara mendadak, muncullah sesosok gadis berambut putih di ujung pintu. "Eh, Ai! Kamu datang?"

"Iya, Haruka-nii-."

Gadis bernama Ai itu terkejut ketika ia melihat Hikari. Begitupula Hikari. "Shiro!?"

"Hikari-neechan?"

Secara mendadak, Hikari dan Ai berpelukan dengan erat. Hal ini membuat Takane dan Haruka bingung. "Ai, apakah Hikari ini adalah kakak kandungmu?"

"Iya."


"Terimakasih Ene-chan, berkat kau aku jadi ingat nama kakakku."

Ene tersenyum mendengar ucapan Shiro. Shiro pun ikut tersenyum. "Tapi, omong-omong mengapa tadi aku bertemu dengan Haruka-nii, tapi mengapa ia malah berkata bahwa namanya Konoha?"

Ene terdiam. Ia tak mampu mengeluarkan suara sama sekali, Kano pun berinisiatif untuk mencairkan keadaan ini.

"Shiro-chan, apakah kau bisa memberitahuku, bagaimana kau mendapatkan kekuatan matamu?" Tanya Kano.

"Bagaimana jika kau duluan yang memberitahukannya."

"Baiklah, Kido mendapatkan kekuatan matanya ketika ia dan kakaknya terjebak di sebuah kebakaran yang hebat. Seto mendapatkannya ketika ia tenggelam di laut bersama anjing peliharaannya. Sementara aku mendapatkannya ketika ada sekumpulan perampok yang menyerang rumahku. Sementara Momo aku tidak tahu."

"Etto, Shiro aku dan kakakmu mendapatkan kekuatan mata saat kami dijadikan bahan percobannn oleh guru kami."

Shiro mengangguk-angguk. Lalu ia terdiam sejenak. Ia pun mengambil napas.

"Aku mendapatkannya ketika Hikari-nee mau bunuh diri dan aku mencoba menyelamatkannya, tapi aku dan Hikari-nee malah jatuh dari atas gedung bersama-"

Shiro tak kuasa menahan air matanya. Memori itu, terlalu menyesakkan bagi Shiro. Shiro merasa lebih baik ia mati saja waktu itu daripada ia harus mengingat memori yang begitu menyesakkan itu. Ene sangat ingin memeluk Shiro waktu itu, tapi Ene jelas tak bisa melakukannya. "Kano?"

Secara tiba-tiba Kano memeluk Shiro. Hal ini membuat Ene dan Shiro kaget secara bersamaan. "Aku tahu bagaimana perasaanmu."

"Kano lepaskan aku, nanti Kido bisa cemburu."

Kano sontak melepaskan pelukannya terhadap Shiro lalu mukanya memerah. Ene tertawa dengan keras begitu mendengar apa yang diucapkan oleh Shiro. "Kau ternyata lebih mengerti tentang selera humor dibanding dengan kakakmu itu ya?"

"Omong-omong Ene-chan, aku masih tidak mengerti tentang persoalan Konoha itu."

"Baiklah aku akan menceritakannya, hari itu aku dan Haruka sedang masuk untuk kelas tambahan di musim panas dan secara tiba-tiba Haruka pingsan, hal itu membuatku khawatir. Lalu, aku memutuskan untuk kembali ke kelas dan saat aku ingin kembali ke rumah sakit, penyakit ku kambuh dan aku bangun dalam kondisi seperti ini. Ini adalah karakter gameku, sementara Haruka memiliki karakter game bernama Konoha, jadi mungkin ketika ia bangun, ia menjadi Konoha."

Shiro mengangguk mendengarnya. Sebersit rasa bahagia dan lega karena mengetahui kakaknya masih hidup cukup untuk membuatnya sedikit tersenyum.

"Oh iya, Shiro-chan, aku dan Ene-chan akan pergi ketempat dimana tubuh Ene-chan berada. Apakah kau mau ikut?"

"Ehm, tidak. Mungkin aku akan kembali ke tempat Shintaro berada, siapa tahu disana masih ada Konoha."

Kano dan Ene bertukar pandang sejenak, "Setahuku, tadi Shintarou-kun kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Coba saja kau ke rumah sakit dekat sini-"

"Apa!?"

Tanpa ba-bi-bu, Shiro langsung berlari meninggalkan Ene dan Kano. Ada dua perasaan yang membuncah di dalam hatinya, yang pertama ia gugup karena mungkin akan bertemu dengan Konoha yang kedua, ia khawatir dengan kondisi Shintaro. "Tunggulah aku!"


To Be Continued

NOTE: MCA UDAH END! OMG! ADA KUROHA MESKIPUN CUMA BEBERAPA DETIK. AYANO HIDUP LAGI OMG! HIYORI JUGA!

Disclaimer:Kagerou Days adalah milik Jin (Shizen no Teki-P)

Sampai berjumpa di chapter berikutny~