The New Journey

Chapter 2: The Hero's Back

A/N: Yoo Guys bertemu lagi dengan saya diiiiiiiiiiiiiii fanfic ini! #dilemparin sendal! Ehem... ehem... baik, sebelumnya maap sudah membuat para Readers menunggu, ya berhubung D' ada kegiatan sekolah selama 3 hari kemarin jadi baru bisa nyelesainnya hari ini. Oh yaa terima kasih untuk 3 orang yang sudah meriview cerita ini:D D' jadi terharu:'D dan terima kasih bagi Sepicis-san (Sp-Cs) sebagai orang yang pertama kali mem-favorite fic ini yaay:D okay waktunya membalas riview.

Sp-Cs: iyaa semoga kita bisa berteman dengan baik:D waah makasih #jingkrak2 soal gak ada typo sih, itu gara2 waktu sebagai riviewer D' suka ngasih tau kesalahan typo hehe:D oya soal tgl kejadian pada chappie 1 itu salah, yang bener mei bukan maret maap sekali #bow. maklum suka ketuker maret sama mei._. okay ini sudah di update, enjoy!

Ray21: Waaah terima kasih banyaak #bow. soal plot, klimaks, dan ending tidak perlu khawatir. D' udah tau kok mau ngarahin cerita ini kemana. soal pairing sepertinya akan terungkap dalam chap ini. yap silahkan enjoy Chappie 2!

152 cm: Haha.. iya nih, alasan D' buat fic NaoMina soalnya cuman dikit yang bahasa indonya._. makasih-makasih #bow. ini sudah dilanjutkan enjoy:D

Yup Riview sudah di balas sekarang enjoy!

Disclaimer

Pesona series itu punya Atlus, kalo punya D' Persona 5 udah keluar sekarangXD

Genres

Friendship, Family, Slight Romance.


"Shirogane!?" seluruh anggota Investigation Team (kecuali Naoto dan Yu) membalikkan kepala mereka dan menatap Naoto dengan penuh pertanyaan.

"*Sigh*" Naoto tidak mengatakan apa pun, ia terdiam. Wajahnya tertunduk, tersembunyi di balik topinya.

Pemuda yang bernama Minato itu melihat ke arah gadis yang memiliki warna rambut senada dengannya. Mengamati gadis itu, berusaha mengenalinya... hingga akhirnya ia menyadari siapa gadis itu.

"Lama tidak bertemu, Naoto." Ucap Minato sambil tersenyum kecil.

"Naoto-kun siapa dia?" tanya Yukiko kepada Naoto, Naoto masih terdiam.

"Naoto tidak pernah memberi tahu kalian? Aku ini―" sebelum Minato dapat menyelesaikan kata-katanya, Naoto langsung membuka mulutnya untuk berbicara.

"Dia kakakku... Tapi seharusnya... bagaimana mungkin kau―" ucapan Naoto yang setengah berteriak itu dipotong oleh ucapan Minato.

"Aku sendiri tidak tahu bagaimana."

"Kakak!? Bukankah kau anak tunggal?" tanya Chie.

"Umm... guys, ku pikir ini bukan tempat yang bagus untuk berbicara." Ucap Yosuke mengingatkan mereka.

"Ahh ya, ini dimana?" tanya Minato tanpa basa-basi, sambil melihat ke sekitar ruangan tempat ia berdiri sekarang.

"Kita ada di dalam tv, kuma." Ucap Teddie kepada Minato.

"Huh? Seekor simpanse... apa itu kostum?" ucap Minato sesaat ia melihat Teddie.

"Aku seekor beruang, kumaaa!" kata Teddie yang tidak diterima disebut sebagai simpanse.

"*Sigh* sudahlah Ted. Ini bukan tempat yang tepat untuk bicara, sebaiknya kita keluar dari sini terlebih dahulu." Ucap Yu kepada yang lain.

"Hm!" semua mengangguk dan berjalan menuju pintu masuk. Teddie menghentakkan kakinya 3 kali ke tanah untuk mengeluarkan 3 tv antik yang tersusun secara vertikal sebagai jalan keluar mereka dari dunia itu. Mereka pun keluar dari dunia tv dan kembali ke Junes.

"Hm... benar-benar keluar dari tv." Gumam Minato kepada dirinya sendiri sambil menatap ke arah tv dimana ia baru saja keluar tadi.

"Baiklah, waktunya ke markas rahasia." ucap Chie.

"Markas?" tanya Minato.

"Sebenarnya itu bukan benar-benar markas. Hanya tempat dimana kami sering berkumpul." Jelas Yosuke sambi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Mereka pun berjalan menuju Junes Food Court. Setelah sampai, mereka pun duduk di salah satu meja di sana, dan menatap Minato dan Naoto dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan. Keheningan menyelimuti mereka semua hingga akhirnya Minato mememecah keheningan.

"Seperti yang Naoto katakan, aku adalah kakak Naoto. Sebelum aku melanjutkan, aku ingin bertanya sesuatu. Tanggal berapa sekarang?"

"Sekarang? 5 Mei 2012." Jawab Rise.

'2012... Itu artinya, sudah 2 tahun aku pergi...' Minato menghentikan kata-katanya sebentar, sebelum melanjutkan berbicara.

"Aku terpisah dari Naoto dan keluarga Shirogane karena kejadian yang menimpa orang tuaku dan diriku sekitar 12 tahun yang lalu di Moonlight Bridge. Mobil yang aku dan orang tuaku tumpangi mengalami kecelakaan, hanya aku yang selamat saat itu." Minato menarik nafas dan menghembuskannya sebelum melanjutkan kembali.

"Saat itu tidak ada bantuan yang datang bahkan setelah 30 menit kejadian itu terjadi, aku berjalan ke arah Iwatodai untuk mencari bantuan. Tapi aku jatuh pingsan di tengah perjalanan. Saat aku bangun, aku sudah berada di salah satu panti asuhan di Kyoto dengan keadaan hilang ingatan. Saat itu aku hanya dapat mengingat orang tuaku tewas dalam kecelakaan dan nama depanku dari jam tangan yang ku pakai, sebelum itu... aku tidak dapat mengingat apapun."

"Tunggu, bagaimana bisa kau berakhir di Kyoto? Bukankah kau di Iwatodai saat itu?" tanya Yosuke.

"Ahh... orang yang menemukanku tak sadarkan diri sedang dalam perjalanan menuju Kyoto saat itu. Karena orang yang menemukanku harus pergi lagi ke suatu tempat setelah kami sampai di Kyoto, dia memutuskan untuk menitipkanku ke panti asuhan di sana." Minato berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Para pengasuh panti sudah berusaha untuk membantuku mencari siapa aku sebenarnya, tapi tidak ada hasil. Setelah satu tahun pencarian yang tidak ada hasil, aku meminta mereka untuk tidak membantuku lagi. Aku tidak mau merepotkan mereka."

"Kalau begitu bagaimana kau bisa menemukan kalau kau kakak dari Naoto?" tanya Kanji.

"Ahh soal itu, bulan Februari 2010... asisten kakekku mendatangiku saat aku pulang sekolah. Keluarga Shirogane lah yang menemukanku, dan dari sanalah aku tahu siapa keluargaku."

"Ah begitu ya. Tapi kalau dipikir-pikir kalian berdua memang mirip." Ucap Chie.

"Begitukah? Ngomong-ngomong tempat apa itu? Dan bagaimana bisa kalian masuk ke tempat itu?" tanya Minato.

"Ahh itu adalah dunia di dalam tv, hanya Persona-user yang memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam." Jelas Yosuke.

"Persona-user? Kalian semua Persona-user?" tanya Minato.

"Ya... kau juga Persona-user, benar?" tanya Yu sambil menatap tepat ke mata Minato.

"Ya benar." Jawab Minato singkat.

"Sebelumnya aku minta maaf Minato-san, tapi ada suatu hal yang ingin ku tanyakan dari tadi... bagaimana kau bisa ada di tempat itu? Dan bukankah kau sudah lama meninggal...?" tanya Yu kepada Minato. Naoto tersentak kaget mendengar pertanyaan terakhir yang diberikan oleh Yu, begitu juga dengan yang lain.

"A-apa maksudmu Yu? Tunggu, apa karena ini kau diam sejak tadi Naoto?" tanya Yosuke.

"A-aku..." Naoto terdiam, tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Yosuke.

"Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa berakhir di tempat itu, saat aku bangun aku sudah ada di tempat itu. Hmm... dan untuk pertanyaanmu yang terakhir... ya itu memang benar tentang aku sudah meninggal, tapi sayangnya aku tidak tahu mengapa aku bisa hidup kembali."

"Kalau kau Persona-user dan bersekolah di Gekkoukan saat itu, itu artinya... apa kau mengenal Aigis-san?" tanya Yu kepada Minato.

"Kau mengenal Aigis? Ya, dia temanku."

"T-tunggu! Itu artinya kau mengenal Kirijo-san dan Sanada-san?" tanya Chie.

"Maksudmu Mitsuru Kirijo dan Akihiko Sanada? Ya, aku mengenal mereka."

"Jadi, kau juga terlibat dalam kegiatan pembasmian Shadow di Port Island pada 3 tahun yang lalu?" tanya Yukiko.

"Ya..." Jawab Minato singkat.

"Ummm... kawan-kawan, cara kalian melemparkan pertanyaan itu sama seperti kalian sedang mengintrogasinya. Setidaknya berilah dia sedikit ruang..."

"Uhh, ya kami minta maaf Minato-san." Ucap Yu kepada Minato.

"Jangan khawatir... tapi sekarang giliranku untuk bertanya. Bagaimana kalian mengenal Aigis, Mitsuru Kirijo, dan Akihiko Sanada? dan bagaimana kalian tahu tentang apa yang kami lakukan 3 tahun yang lalu?"

"Ahh, ini akan membutuhkan penjelasan yang panjang..." ucap Yosuke.

Yosuke pun mulai menjelaskan tentang P1-Grand Prix yang muncul di Midnight Channel. Juga semua yang terjadi saat Yu, Chie, Yosuke, dan Yukiko menginvestigasi tentang kemunculan Midnight Channel. Ia menceritakan semua yang terjadi dua hari yang lalu.

"Midnight Channel?" ucap Minato penuh dengan kebingungan.

"Kau tahu, itu acara tv yang muncul apabila kau menatap tv dalam keadaan mati tepat tengah malam saat hujan." Jelas Yukiko.

"Benarkah?" tanya Minato.

"Ya benar, dulu siapa pun yang muncul di Midnight Channel... akan menjadi target pembunuhan selanjutnya." Jelas Chie.

"Pembunuhan...? Ceritakan padaku." Ucap Minato yang sepertinya tertarik.

Anggota Investigation Team-pun (kecuali Naoto) menyeritakan tentang kasus pembunuhan yang terjadi di Inaba secara bergantian. Tentang bagaimana si pelaku membunuh, keterkaitan Midnight Channel dengan kasus pembunuhan itu, hingga siapa orang yang menjadi tersangka pembunuhan.

"Ahh begitu..." ucap Minato tanda bahwa ia mengerti.

"Ya, membutuhkan waktu yang lama bagi kami untuk memecahkan kasus itu." Ucap Yu.

"Jadi kau yang memimpin tim ini hmm... Yu? Namamu Yu bukan?" tanya Minato.

"Ahh benar, kami belum memperkenalkan diri... Aku Yu Narukami."

"Aku Chie Satonaka dan ini Yukiko Amagi, dia pemilik penginapan Amagi."

"Ahh, senang bertemu denganmu." Sapa Yukiko.

"Aku Kanji Tatsumi."

"Yosuke Hanamura."

"Namaku Rise Kujikawa."

"Namaku Teddie! Aku laki-laki yang paling tampan di antara kami semua kuma!" ucap Teddie sambil membuka bagian kepala maskotnya.

'Hmm... jadi itu hanya kostum...' pikir Minato sebelum ia berbicara.

"Geez... Ted." Kata Yosuke.

"Senang bertemu kalian." Ucap Minato sambil tersenyum kecil.

"Jadi kalian memutuskan untuk ikut menginvestigasi tentang kejadian yang kalian alami 2 hari yang lalu?" tanya Minato.

"Ya benar, kami tidak bisa berpura-pura hal ini tidak pernah terjadi." Jawab Kanji.

"Dan kalian berencana untuk pergi ke Port Island?"

"Ya begitulah, tapi kami sedang merencanakan waktu yang tepat." Ucap Yosuke.

"Ya, sebenarnya kami ingin segera pergi secepatnya... tapi Yu-kun harus kembali ke Tokyo besok." Ucap Chie.

"Kau tinggal di Tokyo?" tanya Minato.

"Ahh ya, aku ke sini untuk mengunjungi teman-temanku."

"Kalau begitu aku akan membantu kalian mencari orang itu." Ucap Minato.

"Kau yakin?"

"Hm. Aku bukan tipe orang yang suka bercanda... jadi tentu saja." Ucap Minato

"Kalau begitu selamat bergabung!" ucap Kanji.

"Ya, selamat datang di Investigation Team!" ucap Rise.

"Thanks. Kalau begitu aku akan menyusun jadwal kita menuju Port Island. Aku akan kabarkan kalian lagi nanti." Ucap Minato

"Ya, terima kasih atas bantuanmu Minato-san." Ucap Yu.

"Bukan masalah." Balas Minato.

"Ngomong-ngomong kuma, hari sudah mulai gelap kuma..."

"Ahh iya! Aku harus segera pulang sekarang. Sampai nanti!" ucap Yukiko yang lalu meninggalkan mereka semua.

"Ya, aku juga harus pulang... sampai jumpa Senpai!" ucap Kanji sambil berjalan pergi.

"Baik, kalau begitu... sampai jumpa lagi semuanya." Ucap Yu. Semua pun mengangguk dan berjalan pergi. Sementara itu Yu, Naoto, dan Minato berjalan bersama untuk meninggalkan Junes.

"Sepertinya aku tidak perlu mengantarmu pulang hari ini Naoto." Yu menghentikan kata-katanya, keheningan pun menyelimuti mereka bertiga seraya mereka berjalan dan ketika mereka sampai di luar Junes, ia melanjutkan kata-katanya.

"Naoto, Minato-san berhati-hatilah di jalan. Aku permisi duluan." Ucap Yu.

"Ya, kau juga berhati-hatilah." Ucap Minato.

"Hati-hati di jalan Senpai." Ucap Naoto.

"Ya." Ucap Yu. Ia pun membungkukkan badannya kepada Minato dan meninggalkan mereka berdua. Setelah Yu pergi, Minato pun berbicara.

"Kalau begitu kita juga harus kembali, Naoto."

"A-ah ya." Ucap Naoto. Mereka pun berjalan menuju rumah mereka, tempat dimana mereka dan orang tua mereka tinggal 12 tahun yang lalu, tapi setelah kejadian yang menimpa Minato dan kedua orang tuanya, rumah itu kosong... Naoto dibawa oleh kakeknya untuk tinggal di kediaman Shirogane, saat kakeknya mengetahui bahwa kedua orang tua Naoto meninggal dan kakaknya hilang tidak dapat ditemukan. Selama 11 tahun rumah itu tidak berpenghuni sampai akhirnya Naoto memutuskan untuk tinggal di Inaba.

Mereka pun berjalan dalam keheningan, tak ada yang berbicara... tak ada yang mau memulai pembicaraan. Hening... dua orang bersaudara itu pun akhirnya sampai di depan rumah mereka. Naoto berjalan ke depan pintu rumahnya, dan membuka kuncinya. Setelah itu Naoto membuka pintu itu dan masuk ke dalam dengan Minato mengikutinya. Ini bukanlah pertama kalinya Minato menginjakkan kakinya di sini setelah kejadian 12 tahun yang lalu. Ya 2 tahun lalu ia pernah kemari, saat itu adalah saat dimana Minato mengetahui siapa keluarganya selama ini. Mereka pun sampai di ruang tamu. Minato membuka mulutnya setelah lama diam.

"Ku perhatikan kau selalu diam semenjak kau melihatku di dunia itu... ada apa?" Naoto tidak berbicara, ia memilih untuk diam sambil menundukan kepalanya... Minato pun melanjutkan perkataannya.

"Apa kau tidak senang aku ada di sini...?" Naoto tersentak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Minato.

"T-tidak!" jawab Naoto cepat dan setengah berteriak, ia terdiam sebentar lalu melanjutkan kata-katanya.

"Bukan itu... a-aku hanya... 2 tahun yang lalu kakek mendapat kabar dari temannya di Iwatodai bahwa kau telah meninggal, aku dan kakek pun datang ke Iwatodai... aku dan kakek melihat pemakamanmu dari jauh dengan mata kepala kami sendiri. Aku hanya masih tidak percaya kalau kau yang di depanku benar-benar Minato kakakku..."

"Kalau begitu percayalah, ini aku Minato."

"Huh?" Naoto pun menatap Minato.

"Kau ingat 2 tahun lalu, saat aku bilang aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi?"

"Ya... aku ingat."

"Aku berdiri di sini untuk menepati janji itu, Naoto."

"Onii-san..."

Minato pun memeluk adiknya. Naoto membenamkan wajahnya ke dalam pelukkan kakaknya itu, menyembunyikan wajahnya yang menangis, mengeluakan air mata tanda rasa senang. Setelah itu mereka pun melepaskan pelukan mereka berdua, Naoto pun menghapus bekas air matanya dengan sapu tangan yang ia ambil dari sakunya. Lalu dua bersaudara itu pun duduk di sofa ruang tamu di rumah itu.

"Jadi mereka teman-temanmu?" tanya Minato.

"Ahh ya, mereka teman dekatku."

"Ah baguslah, aku senang kau punya teman dekat sekarang. Ngomong-ngomong kelihatannya kau dekat sekali dengan laki-laki bernama Yu itu, apa dia pacarmu?" tepat setelah Minato melontarkan pertanyaannya itu, wajah Naoto langsung memerah. Minato yang menyadari bahwa wajah adiknya itu memerah langsung melanjutkan perkataannya.

"Ahh, begitu rupanya. Ya... sepertinya ia orang yang baik, jadi aku tidak masalah dengan hal itu."

"A-ah... y-ya. Ngomong-ngomong, kau pergi sebelum kau menjalani tahun seniormu... jadi apa kau akan melanjutkan sekolah di Gekkoukan?" tanya Naoto berusaha mengganti topik pembicaraan.

"Ah soal itu... aku pikir aku tidak akan mungkin melanjutkan ke Gekkoukan, guru-guru di sana akan kaget bila melihatku."

"Hmm... ya itu benar, kalau begitu bagaimana jika kau bersekolah di Yasogami? Aku bersekolah di sana."

"Yasogami? Ide yang bagus."

"Kalau begitu aku akan meminta Yakushiji-san untuk mengatur hal itu, ah ya aku harus memberitahu kakek tentang kau." Naoto mengeluarkan handphone-nya, dan mulai menelepon kakeknya. Senyum dan wajah senang tergambar pada gadis itu. Ia sangat senang, karena kakak satu-satunya yang telah ia percaya sudah meninggal, dengan ajaib kembali dan berdiri di sampingnya sekarang. Tak lama kemudian, panggilannya pun diangkat.

"Ahh, selamat malam kakek. Aku meneleponmu untuk memberitahu suatu hal yang penting." Sapa Naoto kepada kakeknya yang langsung memberitahu tujuannya menelepon tanpa basa-basi.

"Naoto, tunggu! Dari pada kau memberitahu kakek lewat telepon, lebih baik aku datang langsung ke kediaman Shirogane bersamamu." Usul Minato sambil berbisik kepada Naoto. Naoto terdiam sebentar, melihat ke arah kakaknya itu.

"A-ah ya, maaf. Setelah ku pikir-pikir lagi, aku akan memberitahumu minggu ini, aku pikir akan lebih baik apabila aku menjelaskannya langsung. Apa kakek akan ada di rumah hari minggu ini?"

"Baiklah kalau begitu, aku akan datang hari minggu ini. Hmm... ya... ah ya tentu... kalau begitu sampai jumpa nanti kakek." Naoto pun mengakhiri teleponnya dan berkata kepada kakaknya.

"Kita akan datang hari minggu ini, ngomong-ngomong kau terlihat lelah... aku akan menyiapkan kamarmu kalau begitu."

"Tidak usah, aku bisa menyiapkan kamarku sendiri." Ucap Minato seraya berdiri dari sofa.

"Aku tahu. Biarkan aku yang menyiapkan kamarmu, lagi pula kau terlihat lelah. Sebaiknya kau menunggu di sini." Ucap Naoto sambil mendorong bahu Minato ke bawah, memaksanya untuk duduk.

"Ahh... b-baiklah kalau kau berkata begitu." Kata Minato pasrah, sambil mendudukan dirinya kembali. Naoto pun pergi meninggalkannya, naik ke lantai dua rumah itu.

Minato pun melihat ke sekitar rumah, lalu matanya tertuju pada sebuah telepon berwarna hitam. Ia pun berjalan menghampiri telepon yang dilihatnya.

'Hmm... aku harus meneleponnya. Aku ingin membuatnya terkejut.' Minato pun menekan tombol-tombol yang ada di telepon itu.

"Selamat malam, kau masih ingat suaraku?" ucap Minato ia terdiam beberapa detik lalu melanjutkan lagi.

"Hmm... kau tidak mungkin lupa kan?"

'Suara ini? Tidak mungkin... kau... Minato?'

"Ahh... kau ingat rupanya."

'Minato... ini benar-benar kau?'

"Ya tentu saja ini aku. Sudah lama sekali kita tidak bicara. Haha... aku ingin sekali bertemu denganmu, aku merindukanmu."

'Aku... juga merindukanmu... Minato. Dimana kau sekarang?"

"Aku di Inaba sekarang. Aku... ada di rumah orang tuaku dulu. Aku sudah ingat tentang masa laluku dan siapa keluargaku. Ahh soal bagaimana aku bisa ada di sini, ceritanya sangat panjang."

'Kau di Inaba? Kalau begitu aku akan kesana besok pagi.'

"Besok pagi? Kau yakin? Kau pasti sibuk..."

'Ya, aku akan kesana besok. Dimana alamat rumahmu?'

"Ahh baiklah kalau kau berkata begitu, aku akan mengirimkan alamatnya lewat email"

'Baiklah kalau begitu, semua barang-barangmu dulu... aku yang menyiimpannya. Aku akan membawa semuanya besok. *Sigh* aku harap ini bukan mimpi...'

"Tidak, ini bukan mimpi. Jadi semua barang-barangku ada padamu... kalau begitu sampai bertemu besok... love you."

'A-ahh ya... sampai jumpa besok... Minato. I... love you too.' Minato pun menutup teleponnya, membalikkan badannya dan melihat Naoto yang sudah berdiri di bawah tangga memperhatikan dirinya.

"Sejak kapan kau di sana?" tanya Minato kepada Naoto.

"A-ahh, maaf. aku tidak bermaksud untuk menguping pembicaraanmu. Umm... kamarmu sudah siap."

"Jangan khawatir dan terima kasih Naoto. Kalau begitu aku akan segera ke kamarku, kau juga sebaiknya istirahat... besok kau harus pergi ke sekolah, benar?"

"Ya... sekolah dimulai besok. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Malam Minato-nii."

"Malam Naoto." Setelah itu, Naoto naik ke atas duluan dan masuk ke ruangannya. Minato pun masuk ke ruangannya. Saat sampai di ruangannya Minato terduduk di kasurnya, dan melihat ke sekitar ruangannya.

"Kamar ini tidak berubah sama sekali..." gumam Minato, lalu ia pun mengambil laptop yang tersimpan di atas meja belajar di kamarnya. ia membuka laptop itu, dan mulai membuka emailnya dan menuliskan pesan yang berisikan alamat rumahnya kepada seseorang wanita, wanita yang baru saja ia telepon tadi. Setelah selesai... ia mematikan dan menutup laptopnya dan menaruhnya kembali ke atas meja, lalu membaringkan tubuhnya. Tak lama setelah ia membaringkan tubuhnya, ia tertidur lelap.

|6 Mei 2012|

Tap, tap, tap, tap... terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.

"Ah Naoto, aku membuatkan sarapan untuk kita."

"Pancake?"

"Ya, favoritmu."

"*Chuckle* kau ingat rupanya..." ucap Naoto sambil tertawa kecil. Naoto pun duduk untuk menyantap sarapannya. Mereka berdua pun mulai makan, dan berbicara di sela-sela kegiatan mereka.

"Ngomong-ngomong Minato-nii, siapa yang kau telepon kemarin malam?"

"Ahh, itu. Aku menelepon pacarku."

"Pacar? Siapa?"

"Kau akan tahu nanti, haha."

"Ahh, okaay..." mereka pun melanjutkan kegiatan sarapan mereka hingga selesai. Setelah selesai sarapan Minato memberekan meja makannya. Naoto pun terduduk di depan pintu keluar, sedang memakai sepatunya. Setelah selesai memakai sepatunya, ia mengambil topi birunya yang ia taruh di sebelahnya... lalu memakaikannya di atas kepalanya.

"Minato-nii, aku pergi dulu." Ucap Naoto sambil menatap ke arah kakaknya itu.

"Okay, hati-hati."

"Pasti!" setelah mengucapkan kata itu, Naoto memutar gagang pintu yang ada di depannya... membuka pintu dan pergi keluar menuju ke sekolahnya.

.

.

Naoto sudah berjalan agak jauh dari rumah, saat itu ia melihat sebuah kendaraan melintas.

"Tunggu, itu kan..." gumam Naoto sambil menatap mobil hitam yang melewati dirinya itu. Setelah lama berdiri menatap ke arah kendaraan itu pergi, Naoto melihat ke jam tangannya untuk mengecek pukul berapa sekarang.

"Oh shoot! Aku bisa terlambat." Naoto, dengan terburu-buru, berlari pergi menuju ke sekolahnya.

.

.

Ting... tong. Suara bel tertangkap oleh telinga pemuda berambut biru itu. Ia pun tersenyum, ia sudah mengira siapa yang datang dan membunyikan bel itu.

"Sebentar."

Minato pun berjalan menuju pintu masuk rumahnya, ckrek! Ia memutar gagang pintu itu dan membukanya. Sesaat ia melihat orang yang berdiri di depannya, ia tersenyum senang, dan langsung memeluk wanita yang berdiri di hadapannya saat ini dan wanita itu pun membalas pelukkannya.

"Minato... ini benar-benar kau..." ucap wanita itu dengan sura lembut.

"Tch. Aku sudah bilang bukan. Haha, hmm... lama tak bertemu my empress..."


A/N: Yay! Chappie 2 selesai! Maap kalo endingnya tidak bagus._. maklum buatnya malem-malem dan maapkan kalo pairingnya Minato adalah seseorang yang tak kalian harapkan. sengaja si pairnya minato itu si 'itu' soalnya fic tentang mereka berdua yang bahasa indonya gak ada sama sekali._. plus menurut aku merah sama biru itu cocok:D please Read & Review ya readers:D