The New Journey

Chapter 3: The Meeting

A/N: Hmm.. maap udah lama gak apdet #bow, kayanya udah 3 bulan... tugas sekolah tidak membiarkan D apdet. setiap pulang sekolah selalu ngerjain tugas sampe malem (bahkan hari minggu-_-). tolong di maklumkan hehe:D D baru bisa apdet sekarang berhubung UTS udah selesai jadi ada hari bebas deh:D oke balas review dulu dah...

152 cm: soal pair Minato akan ketauan di chap. ini kok... ini baru di apdet maap lama #bow

Rai21: Haha... sabar-sabar bro._. ya emang, tak terduga ya._.? ingin aja membuat sesuatu yang beda hehe:D hmm petualangan Minato? kasih tau gak yaa... liat aja nanti:)

Sp-Cs: Hmm... sorry kalau chap. 2 tak memuaskan, efek nulis malem-malem hehe._.v silahkan nikmati yang ketiga semoga lebih baik:)

Luca Seien: Akihiko? jomblo kali ya haha:D mungkin chap. ini akan menjawab pertanyaan luca-san... silahkan baca maap apdetnya lama hehe...

Oya, sekitar beberapa minggu yang lalu, D baca ulang chap. 2-nya dan alhasil ceritanya agak berbelit2-_- kalo D jadi riviewer pasti bakal komen cerita di chap. 2._. maapkan atas keanehan cerita di chap. 2 semoga di chap. 3 bisa lebih baik.. Yosh, silahkan membaca!

Disclaimer

Pesona series owned by Atlus

Genres

Friendship, Family, Slight Romance.


Teng... tong... teng... tong...

Tap... tap... tap... tap... ia berjalan keluar dari kelasnya sesaat setelah bel pulang berbunyi. Dengan tas berwarna hitam yang dibawanya, ia sampai di depan gerbang sekolah. Ia terus melangkah hingga sesuatu menghentikan langkahnya.

"Hei! Naoto-kun!." Panggil seseorang sambil berlari berusaha menghampiri Naoto.

"Ahh... Rise-san." Sapa Naoto kepada gadis itu. Gadis itu pun berhenti berlari setelah kakinya mengantarkannya sampai di depan Naoto.

"Apa kau ada acara setelah ini?" tanya Rise dengan mimik wajah yang menunjukkan kalau ia sangat ingin Naoto bisa ikut dengannya. Detektif muda itu tentu menyadarinya dan lalu menjawab pertanyaan Rise.

"Maaf, aku tidak bisa hari ini. Minato-nii bilang ada seseorang yang ia ingin aku temui. Jadi aku harus segera pulang, mungkin lain kali."

"Begitu rupanya... sayang sekali. Tapi tidak apa-apa, aku akan mengajak kanji sebagai gantinya. Sampai jumpa Naoto-kun." Gadis itu pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Naoto. Naoto melanjutkan jalannya dan pergi keluar gerbang sekolah.

.

.

Naoto sampai di depan rumahnya, ia terheran-heran melihat ada sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahnya. Mobil hitam itu sama seperti dengan mobil hitam yang dilihatnya tadi pagi. Naoto pun masuk ke dalam rumahnya.

"Tadaima..."

"Ahh... itu pasti Naoto." Ucap Minato.

Sesaat naoto memasuki ruang tamu, ia melihat kakaknya terduduk di salah satu sofa dan seorang wanita di depannya. Naoto sudah menduga siapa orang yang kakaknya ingin pertemukan dengan detektif muda itu.

"Mitsuru-san... sudah kuduga, mobil di depan itu milikmu."

"Ah, kau sudah menduganya... Minato sudah menceritakan semua tentang keluarganya yang sebenarnya. Aku tidak menyangka kalian bersaudara."

"Hal yang sama denganku, aku tidak menyangka kau adalah pacar kakakku."

"*Chuckle* kau sudah tahu rupanya."

Mereka pun saling berbincang, jam demi jam mereka lalui sambil berbicara. Sang raja siang pun mulai tenggelam di telan oleh kegelapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.

"Ah ya Mitsuru, aku sudah berjanji pada mereka kalau aku akan membantu mereka menginvestigasi tentang kejadian di dalam dunia tv itu, jadi aku harap kau tidak masalah dengan hal itu."

"*Sigh* sebenarnya aku tidak setuju kalau kau membantu mereka. Kasus kali ini sangat berbahaya, aku tidak mau melibatkan mereka dalam hal ini."

"Maaf Mitsuru-san, kau tidak bisa menghentikan kami sekarang. Kami akan tetap melakukan investigasi apapun yang terjadi."

"Aku tahu itu... *sigh* baiklah, aku akan membiarkan kalian melakukan investigasi, tapi bagaimana pun juga aku ingin kalian mengutamakan keselamatan kalian saat sedang melakukan investigasi."

"Akan kami lakukan. Kau tidak perlu khawatir Mitsuru-san."

"Baiklah kalau begitu. Aku harus segera kembali ke Iwatodai... ada beberapa hal yang harus aku kerjakan."

"Ah begitu, kau sibuk tapi masih menyempatkan untuk datang kemari..."

"Aku tidak akan pernah percaya kalau tidak melihat sendiri, lagi pula sudah lama sekali aku ingin melihatmu..."

"Aku mengerti, aku tak sabar untuk menemui kalian semua nanti di Iwatodai."

"Ya, aku juga tidak sabar menanti hal itu." Mitsuru pun berdiri dan berjalan menuju pintu keluar rumah itu dengan diantarkan oleh Minato dan Naoto. Mereka berjalan langkah demi langkah hingga akhirnya sampai di depan rumah.

"Oya, aku tidak ingin kau memberi tahu yang lain kalau aku ada di sini. Rahasiakan ini sampai aku datang dan menemui kalian semua."

"Baik... baik...aku mengerti. Kalau begitu sampai jumpa nanti."

"Hati-hati dalam perjalananmu Mitsuru-san."

"Ahh sampai jumpa Mitsuru."

"Ya." Setelah itu Mitsuru masuk ke dalam mobilnya. Mobil sedan hitam itu langsung menancapkan gas dan pergi meninggalkan mereka berdua. Mereka pun melangkahkan kaki mereka kembali ke dalam rumah menuju ruang tamu. Mereka pun duduk sofa-sofa yang ada di sana.

"Aku tidak pernah menyangka dia itu pacarmu..."

"Haha... Mitsuru menceritakan tentang investigasi yang kau lakukan secara diam-diam kepadanya dan organisasinya, Shadow Operatives. Wajar saja kau tidak menyangka ini."

"Ngomong-ngomong, besok adalah hari Minggu. Yakushiji-san akan menjemput kita besok pagi."

"Baiklah, sekarang sudah hampir waktunya makan malam. Aku akan menyiapkan makan malam."

"Ahh okay... aku akan membantumu setelah aku selesai mandi."

Naoto's POV

Aku melangkahkan kakiku menaiki tangga. Anak tangga demi anak tangga ku lewati, hingga akhirnya aku sampai di lantai dua. Aku melangkah menuju kamarku dan mengambil handuk yang tergantung. Sambil melangkahkan kakiku ke kamar mandi, pikiranku melayang... membayangkan seperti apa kehidupan Minato-nii dulu saat membasmi shadow tiga tahun yang lalu bersama teman-temannya. Juga apa yang menyebabkan kematian Minato-nii dan bagaimana bisa Minato-nii kembali ke sini, ke dunia ini? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian itu? Semakin aku memikirkan hal ini, aku semakin ingin menginvestigasi kejadian itu. Aku langsung menyimpan pikiran itu sesaat aku sampai di depan pintu kamar mandi. Aku pun langsung masuk dan membersihkan diriku. Setelah selesai aku kembali ke kamarku. Aku menuruni tangga setelah aku selesai dan langsung membantu kakakku itu menyiapkan makan malam.

"Onii-san..."

"Hm?"

"Aku penasaran bagaimana kehidupanmu tiga tahun lalu di Iwatodai."

"Tiga tahun lalu...? Baiklah akan kuceritakan, kau tahu tiga tahun lalu aku mendapat surat dari Kirijo Group yang menawarkan beasiswa di Gekkoukan High School. Aku menerimanya dan langsung pindah ke salah satu asrama di Iwatodai. Saat itu ada kejadian aneh yang terjadi. Aku mengabaikannya dan tetap berjalan menuju asrama, hingga akhirnya aku sampai dan masuk ke asrama." Kejadian aneh... aku memutuskan untuk tidak bertanya soal ini dan mendengarkan lebih lanjut.

"Lalu?" tanyaku sambil menutup panci yang berisi sup sudah hampir matang.

"Saat aku masuk, asrama begitu gelap. Tiba-tiba seorang gadis datang dari tangga, ia terlihat terkejut saat melihatku. Saat itu ia juga memegang sebuah benda yang terlihat seperti pistol. Kau tahu aku pikir hidupku akan berakhir dihari kepindahanku, saat itu Mitsuru datang dan menenangkan gadis itu."

"Pistol?" ucapku penasaran.

"Itu bukan pistol asli..."

"Ahh begitu, jadi itu hari dimana kau bertemu Mitsuru-san..."

"Ya, begitulah. Hmm? Bau ini... Naoto! Supnya!"

"Ah ya! Aku lupa!" sial! Aku sampai lupa kalau aku sedang membuat sup. Dengan segera aku membuka tutup panci yang berisi sup itu. Aku menghela nafasku... sudah terlambat...

.

.

"Pada akhirnya kita harus memesan makanan..." ucap Minato-nii sesaat setelah ia selesai makan.

"M-maaf..." aku merasa semakin bersalah setelah Onii-san berkata seperti itu, aku hanya bisa meminta maaf atas kecerobohanku itu. Argh, aku memang bodoh... hal sekecil itu saja bisa sampai kulupakan.

"Sudahlah, itu bukan salahmu." Aku tahu Onii-san hanya berusaha mehilangkan rasa bersalahku... *sigh* semakin aku memikirkan kejadian sup itu, aku semakin merasa bersalah...

"Ah ya Onii-san, biarkan aku yang membereskan meja makan. Kau bisa langsung beristiahat, lagi pula karena kecerobohanku kita jadi harus memesan makanan." Hanya itu yang bisa kupikirkan untuk membayar apa yang telah aku lakukan tadi, Minato-nii melihatku dengan heran dan ia pun menghela nafasnya.

"Sudah kubilang itu bukan salahmu, tapi kalau itu maumu... baiklah." Aku pun tersenyum kepadanya. Aku berdiri dan mulai membereskan meja makan dan mencuci semua peralatan makan yang ada. Minato-nii terus melihatku seraya aku mencuci peralatan makan.

"Onii-san... sampai kapan kau akan duduk di situ dan melihatku?"

"E-eh... uhh, aku akan kembali ke kamarku kalau begitu." Hmmm... sepertinya Minato-nii sedang melamun tadi. Aku pun mengelap piring yang ku pegang sambil melihat Minato-nii pergi dan menaiki tangga. Hmm... apa yang ia pikirkan tadi...? Aku pun menaruh piring terakhir yang sudah ku lap ke dalam rak dan melangkahkan kakiku untuk menaiki tangga. Aku pergi menuju kamarku. Dengan segera aku membaringkan diriku ke atas kasur. Aku masih kepikiran dengan hal apa yang dilamunkan oleh Minato-nii tadi. Aku terus berpikir sambil memejamkan mataku.

|7 Mei 2012|

Ting... tong.

Seseorang membunyikan bel, itu pasti Yakushiji-san. Aku pun segera membukakan pintu dan dugaanku benar.

"Kau sudah siap Naoto-sama?"

"Ahh ya, tunggu sebentar."

"Baik." Aku pun segera kembali dan menaiki tangga. Aku sampai di depan pintu dengan sebuah papan kayu yang digantungkan dan berukirkan sebuah nama, Minato. Aku mengetuk pintu kamar kakakku itu. sesaat kemudian pintu itu terbuka. Terlihat Minato-nii yang sudah siap dengan memakai sebuah kemeja hitam berlengan pendek sambil medengarkan lagu melalui headset. Aku pun melangkah menuruni tangga bersama dengan Minato-nii. Sesaat kami keluar dari rumah, Yakushiji-san terlihat sangat terkejut saat melihat Minato-nii.

"M-minato-sama... ini benar-benar kau?"

"Ya tentu saja." Minato-nii menjawab pertanyaan Yakushiji-san sambil menunjukkan senyumnya.

"Tapi b-bagaimana?"

"Ceritanya panjang. Sebaiknya kita berangkat sekarang Yakushiji-san."

"Y-ya, kalau begitu silahkan masuk Minato-sama, Naoto-sama." Ucap Yakushiji-san sambil membukakan pintu mobil untuk kami berdua. Kami pun masuk lalu Yakushiji-san masuk langsung menancapkan gas pergi menuju kediaman Shirogane.

End of POV

Mobil yang dikendarai oleh Yakushiji melesat lurus melewati sebuah pertigaan. Di belokkan di pertigaan itu terparkir sebuah mobil bercat putih dan terlihat dua orang berjas coklat dan berkacamata hitam di dalam mobil itu.

"Target telah dikonfirmasi. Minato Arisato... tidak salah lagi. Sepertinya dugaanmu benar soal mereka akan pergi ke kediaman Shirogane."

'Begitu... kerja bagus. Setelah saatnya tiba, aku akan menangkapnya hidup-hidup. Sekarang tugasmu telah selesai. Kau bisa pergi sekarang."

"Baik, aku mengerti."

Naoto's POV

"Kita sudah sampai. Misanori-sama sudah menunggu di dalam."

Kami pun turun dari mobil dan segera masuk, sudah lama aku tidak kembali ke sini. Para pelayan menyambut kedatangan kami dengan sopan. Mereka terlihat terkejut dan senang saat melihat Minato-nii. Bukan mereka saja yang senang melihat Minato-nii kembali. Aku sendiri pun juga sangat senang ia kembali.

"Selamat datang kembali Minato-sama, Naoto-sama. Mari, Misanori-sama sudah menunggu kalian berdua." Aku, Minato-nii, dan Yakushiji-san pun berjalan mengikuti seorang pelayan yang mengantarkan kami ke sebuah ruangan dimana kakek telah menunggu kami. Kami pun masuk ke ruangan itu dan pelayan yang tadi mengantarkan kami langsung menutup pintu dari luar setelah kami semua masuk. Kakek sedang terduduk di salah satu sofa yang membelakangi kami.

"Lama tidak bertemu Kakek." Ucap Minato-nii. Kakek sepertinya menyadari suara Minato-nii. Kakek langsung bangkit berdiri dan berbalik menghadap kami.

"Minato... itu kau?"

"Ya, ini aku. Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku bisa di sini. Ceritanya sangat panjang."

Minato-nii terdiam sejenak, kakek dan Yakushiji-san terdiam... sepertinya mereka menanti penjelasan dari Minato-nii. Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Jadi sebelum kami menuju kemari, aku dan Minato-nii sudah membuat cerita karangan yang kemungkinan besar akan dipercayai oleh kakek dan Yakushiji-san.

"Dua hari yang la—" Brag! Sebelum Minato-nii sempat menjelaskan, seorang pelayan masuk dengan membanting pintu dengan wajah yang terlihat panik.

"Misanori-sama! Sebelumnya maafkan ketidak sopananku, tapi sekelompok orang bersenjata menyerang kediaman Shirogane! Mereka bilang mereka akan pergi dengan satu syarat..."

"Dan apa itu?" tanya kakek dengan wajah yang sangat serius. Penyerangan terhadap rumah detektif terkenal. Mereka benar-benar nekat. Tiba-tiba dua orang berjas hitam dan berkacamata hitam muncul di belakang pelayan tadi dan yang seorang mengarahkan pistolnya ke kepala pelayan itu, sedangkan seorang yang lain mengarahkan pistolnya kepadaku.

"Kami sudah menangkap semua penghuni rumah ini dan mengumpulkannya di salah satu ruangan, kami tidak akan melukai salah seorang pun dan akan pergi bila kau menyerahkan Minato Arisato kepada kami. Tapi kalau kalian menolak atau berusaha membuat gerakan sedikit saja, maka kami tidak akan segan-segan membunuh pelayan ini dan bocah bertopi itu."

Gerakan mereka sangat cepat... penyerangan ini sudah direncanakan sebelumnya. Sial... kami sudah terpojok sekarang, sulit untuk menyerang mereka dalam posisi seperti ini... apa yang harus ku lakukan...

"Jangan bercanda!" tiba-tiba saja Yakushiji-san mengeluarkan sebuah revolver dan mengarahkannya kepada salah satu dari mereka. Bang! Secara bersamaan mereka dan Yakushiji-san saling menembak. Yakushiji-san jatuh tertembak di bagian bahu kanannya, begitu juga dengan salah satu dari pria berjas itu. Suara tembakkan itu terdengar sangat keras, aku dapat mendengar suara langkah kaki sedang menuju kemari, itu pasti teman-teman mereka. Kakek menyadari situasi sudah mulai menjadi gawat, kakek pun mengeluarkan revolvernya dan mengarahkannya ke arah pria berjas yang tersisa. Pria itu menyadarinya dan sebelum kakek sempat menarik pelatuk, pria itu sudah menarik pelatuk pistolnya duluan dan mengarahkannya kepada kakek.

Bang!

"Kakek!"


A/N: Yo that's all. lebih sedikit sih._. soalnya kalo banyak-banyak entar takut jadi aneh kaya chap.2 jadi segini aja. chappie selanjutnya akan di apdet kalo ada waktu._.v mungkin hari libur selanjutnya? ya tapi pasti apdet kok. oke Arigato sudah membaca mohon riviewnya.