Disclaimer : God & Themself

Genre : Romance

Rate : T

Pair : YunJae

Warning : OOC, Gaje, Abal, alur kecepatan, Twoshoot, Yaoi, typo, de el el...

Dont like dont read!

No Siders!

No Plagiat!

.

.

.

You and I

Jaejoong mendesah kesal karena lagi-lagi Yunho bersikap datar dan cuek terhadapnya. Ia semakin yakin jika Yunho tak mencintainya dan ia merasa sesak jika Yunho hanya bersikap seperti itu.

"Ya! Ahjussi pesankan aku ice cream lagi." Rajuk Jaejoong kesal karena Yunho tak membiarkannya memesan ice cream lagi.

"Tidak, sudah cukup. Kau ingin sakit eoh? Kajja kita pulang." Ajak Yunho sambil berdiri.

Sejak pulang sekolah Jaejoong merenggek ingin ice cream pada Yunho membuat Yunho pusing dan akhirnya menggabulkan keinginan namja cantik itu namun sampai mangkuk ketiga namja cantik itu masih saja bersikeras ingin ice cream kembali, tentunya Yunho tak mengijinkan, bisa-bisa ia di damprat oleh Hankyung sang appa namja cantik itu karena membuat princess kesayangnya itu sakit perut.

"Aku tidak mau pulang." Tolak Jaejoong sambil menatap Yunho yang berdiri di hadapannya dengan sengit namun imut(?)

"Aish."

Sret

"Ya! Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" teriak Jaejoong keras saat Yunho mengendongnya seperti karung beras membuat orang-orang yang ada di cafe itu menatap keduanya geli.

"Diamlah, bocah atau kau akan terjatuh." Desis Yunho membuat Jaejoong terdiam.

Bruk

"Aww appo." Rintih Jaejoong saat Yunho menghempaskannya ke dalam mobil.

"YA! Tak bisakah kau pelan?" tanya Jaejoong kesal pada Yunho yang kini mulai menjalankan mobilnya.

Yunho hanya terdiam tak menghiraukan Jaejoong yang menggerutu kesal terhadapnya.

Jaejoong yang melihat Yunho hanya terdiam mendengus kesal.

.

.

.

Yunho menoleh kearah Jaejoong, baru saja ia ingin menyuruh Jaejoong turun karena mereka sudah sampai di rumah Jaejoong namun ia terdiam karena melihat Jaejoong tertidur.

"Hah kenapa kau selalu saja merepotkanku, bocah?" tanya Yunho pada Jaejoong.

Ia diam memperhatikan Jaejoong, ia sadar ia harus mulai memperketat pengawasannya pada namja cantik itu karena ia tahu ada yang sedang mengikuti namja cantik itu meski Jaejoong sendiri tak menyadarinya namun seorang polisi sepertinya tentu tahu jika ada orang yang diam-diam mengawasi Jaejoong.

Dengan perlahan Yunho menggendong Jaejoong di punggungnya agar namja cantik itu tak terbangun.

Yunho mulai berjalan menuju pintu rumah yang ada di hadapannya itu, ia membukanya dan menutup kembali. Hankyung memang sudah tak pulang selama 3 hari ini, itu dikarenakan ia harus menggurus kasus pembunuhan yang ada di gwangju, biasanya Hankyung akan menyelesaikan kasus seperti itu satu hari tentunya dengan sekuat tenaganya agar ia tak meninggalkan Jaejoong terlalu lama namun kini sudah ada Yunho sebagai pengawal Jaejoong tentunya Hankyung dapat tenang karena ia yakin Yunho dapat menjaga Jaejoong.

"Eungh ahjussi?" gumam Jaejoong sambil mengucek matanya dan menguap.

"Kenapa kau menggendongku?" tanya Jaejoong.

"Menurutmu apa? Tentu saja karena kau tertidur." Jawab Yunho datar sambil tetap berjalan menuju kamar Jaejoong yang berada di depannya.

"Buka pintunya." Perintah Yunho.

Jaejoong menggalungkan lengan kanannya di leher Yunho serta tangan kirinya membuka kenop pintu.

Blam

"Kau berat sekali bocah."

Crauk

"Aww YA! Kenapa kau mengigitku?!" teriak Yunho keras sambil menurunkan Jaejoong dari gendongannya serta menggelus telinga kirinya yang baru saja digigit Jaejoong. Meski tak terlalu merah namun tetap saja sakit.

"Rasakan! Siapa suruh kau mengatai aku berat?!" Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal sambil menyilangkan tangannya di dada serta menatap Yunho dengan angkuh.

"Dasar bocah." Desis Yunho kesal.

"Ahjussi menyebalkan." Balas Jaejoong.

"Tidurlah dan jangan berulah lagi bocah." Perintah Yunho sambil menatap Jaejoong tajam.

Jaejoong menatap punggung Yunho dengan kesal.

"Berhenti memanggilku bocah!" teriak Jaejoong kesal.

Ia melempar sepatunya namun Yunho lebih cepat keluar dari kamarnya sehingga sepatunya itu menghantam pintu dengan keras.

.

.

.

Jaejoong hanya terdiam keesokan paginya, ia tak berbicara apapun pada Yunho, kelihatannya namja cantik itu masih kesal terhadap Yunho karena tadi malam.

Dan Yunho pun tak ambil pusing dengan perubahan namja cantik itu menurutnya Jaejoong pasti akan kembali seperti semula nanti.

"Kajja kita berangkat." Ajak Yunho dan Jaejoong tak menyahut namun ia tetap berjalan masuk ke mobilnya.

Dalam mobil pun Jaejoong masih tak berbicara membuat Yunho mulai bingung.

"Kau sakit?" tanya Yunho bingung.

"Ani." Jawab Jaejoong singkat.

Dan selanjutnya hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil itu.

Sejujurnya Yunho sedikit risih jika Jaejoong hanya berdiam diri seperti itu namun ia tak tahu harus berbuat apa agar Jaejoong kembali seperti semula jadinya ia pun hanya diam.

'Aku terdiampun ia tak peduli kan?' batin Jaejoong miris.

Jaejoong memilih tetap terdiam sampai di gerbang sekolah. Bahkan ia tak berbicara apapun dan langsung masuk kedalam sekolahnya.

Yunho menghela nafas melihat punggung Jaejoong yang perlahan mulai menghilang kedalam sekolahnya.

"Apa yang terjadi padanya?" bisik Yunho.

Saat Yunho ingin menyalakan mobil, ia melihat sedan hitam didepannya dengan curiga. Setelah melihat seorang namja keluar dari sedan itu, Yunho mencengkram stir mobil dengan erat.

.

.

.

Jaejoong melihat Yunho yang kini berdiri di depan gerbang dengan beberapa siswi sekolahnya yang mengelilingi namja tampan itu sedangkan namja tampan itu tampak tak terganggu.

"Menyebalkan, sepertinya ia menikmati itu." Dengus Jaejoong kesal. Tentu ia panas melihat Yunho di kelilingi para yeoja.

Dengan kesal ia berjalan keluar gerbang tanpa mempedulikan Yunho, ia bahkan melewati Yunho dan kerumunannya seperti mereka kasat mata.

Grep

Jaejoong berhenti dan berbalik saat merasa tangannya di tarik oleh seseorang.

"Kau tak melihatku?" tanya Yunho masih dengan menggengam tangan Jaejoong.

Srak

Jaejoong melepaskan genggaman tangan Yunho dengan wajah datar.

"Ani, aku tak melihatmu." Ucap Jaejoong angkuh sambil berjalan menuju mobilnya.

"Hah, mau sampai kapan bocah itu marah?" tanya Yunho pelan sambil menghela nafas, ketika ia ingin menyusul Jaejoong tiba-tiba seorang guru yeoja tersandung di depannya.

Yunho yang melihatnya pun membantu yeoja itu berdiri.

"Kau tak apa?" tanya Yunho sambil membantu yeoja itu berdiri.

"Ani, gwenchana." Ucap yeoja itu sambil tersenyum manis. Yunho akui yeoja di hadapannya memang cantik namun entah kenapa ia rasa Jaejoong jauh lebih cantik dari yeoja ini.

"Lain kali hati-hatilah." Ucap Yunho sambil tersenyum sopan.

"Go-gomawo eum-"

"Jung Yunho."

"Ah, Aku Tiffany." Jawab yeoja itu sambil merona dengan mengulurkan tangannya.

Yunho menyambut uluran tangan yeoja itu sambil tersenyum.

"Hm, baiklah. Aku pergi dulu Tiffany-ssi." Pamit Yunho sambil membungkuk sopan.

"Ah, ne." Balas Tiffany.

Other Side

15 menit sebelumnya...

Jaejoong baru ingin membuka pintu mobilnya namun ia merasa Yunho tak ada di belakangnya. Iapun berbalik-

Deg

Ia melihat Yunho sedang merangkul gurunya yang bernama Tiffany. Keduanya tampak saling melempar senyum. Jaejoong menyentuh dada kirinya.

"Wae? Kau bahkan tak pernah tersenyum padaku." Gumam Jaejoong masih melihat Yunho tersenyum pada yeoja itu.

"Hiks nappeun." Isak Jaejoong sambil meremas dadanya.

Ia sadar sejak ia menyatakan cintanya secara tak sadar, Yunho bahkan tak mengungkit hal itu sama sekali, namja tampan itu seakan tak peduli dan tak mendengar.

Apa namja itu tak mendengar?

Apa namja itu normal?

Apa namja itu tak... mencintainya?

Jaejoong terpaku melihat air matanya menetes. Ia tak pernah menangis sebelumnya kecuali karena ia melihat appanya harus masuk rumah sakit karena tertembak.

Ia menggepalkan tangannya menatap Yunho yang kini menjabat tangan Tiffany dengan tajam.

"Aku membencimu." Bisik Jaejoong sambil pergi dari sana. ia bukan memasuki mobilnya namun berlari kearah lain.

Ckiitttt

Tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti di hadapan Jaejoong. Namja cantik itu menghapus airmatanya dengan kasar.

Deg

Ia terbelalak melihat siapa yang keluar dari sedan itu.

"Ka-Kau...?"

"Merindukanku anak manis?" tanya seorang namja yang semuran dengan Hankyung.

Jaejoong meremas kedua tangannya sambil menatap tajam namja di hadapannya.

"Apa maumu, Choi Siwon?" desis Jaejoong tajam.

"Sudah lama tak melihatmu, dan kau makin manis saja, Joongie. Mirip dengan Heechulku." Ucap Siwon sambil menyeringai.

"Ummaku milikku dan appaku bukan milikmu, pak tua!" pekik Jaejoong kesal.

Seringai Siwon luntur mendengar pekikan Jaejoong. Ia mencengkram tangan Jaejoong dengan erat membuat namja cantik itu meringis sakit lalu dengan cepat ia hempaskan tubuh Jaejoong kedalam jok mobil dan Siwon pun duduk di samping namja cantik itu.

"Lepaskan aku!" seru Jaejoong sambil memberontak.

"DIAM!" bentak Siwon membuat Jaejoong terdiam menciut.

Siwon menyeringai.

"Tak akan ada yang menolongmu sekarang, bahkan namja yang kau sukai itu sedang asik dengan seorang yeoja." Bisik Siwon di depan wajah Jaejoong.

Jaejoong memalingkan wajahnya menatap jendela mobil dengan airmata yang kembali menetes membasahi pipinya.

"Lebih baik kau menjadi anak baik dan penurut, Joongie sayang." Ucap Siwon sambil menggelus rambut Jaejoong sedangkan Jaejoong hanya terdiam tanpa membalas.

'Yunho-ya... tolong aku.' Batin Jaejoong.

.

.

.

Yunho memasuki mobilnya dengan santai. Ia menoleh dan tak mendapati Jaejoong berada di dalam mobil.

Tentu saja ia panik. Ia pikir Jaejoong sudah menunggunya di mobil namun kini namja cantik itu tak ada.

Dengan terburu-buru ia menggeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Jaejoong.

Tut

Tuuut

Tuuuut

Klik

"Jae-"

'Apa kabar Jung Yunho?'

Deg

Yunho terbelalak mendengar suara disebrang telpon. Tentu ia tahu siapa itu. Ia adalah Choi Siwon, namja yang sangat terobsesi dengan Heechul, ia juga namja yang menculik Jaejoong saat namja cantik itu kecil.

Dan jangan lupakan Choi Siwon adalah musuh terbesar Kim Hankyung.

"Dimana Jaejoong?" tanya Yunho geram.

'Joongie? Ia baik-baik saja denganku. Kau ingin berbicara dengannya? Sayangnya ia tak mau berbicara denganmu Jung.'

Yunho menggeram, ia menyalakan monitor di dalam mobil itu untuk melihat keberadaan Jaejoong, ia tahu suatu saat nanti GPS yang ia pasang di ponsel serta chip yang ia tempel di baju seragam Jaejoong akan berguna.

"Apa maumu Siwon?" tanya Yunho sambil menatap monitor di depannya, ia terkejut saat tahu bahwa GPS Jaejoong mengarah ke arah perairan di Gwangju (sumpah ini ngasal -_-)

'Haha aku hanya ingin sedikit bermain dengan Joongie.'

Klik

Yunho melempar ponselnya dengan geram.

"Kumohon, bertahanlah Kim Jaejoong." Bisik Yunho sambil melajukan mobilnya dengan cepat.

.

.

.

"Apa maumu sebenarnya?"tanya Jaejoong menatap Siwon yang berada di hadapannya dengan kesal.

"Aku hanya ingin membuat Kim Hankyung merasakan apa yang kurasakan." Jawab Siwon dingin. Ia mulai melangkah mendekati Jaejoong yang kini mundur dengan gelisah. Di belakangnya terdapat jurang dengan perairan yang deras, tentunya ia tak ingin semakin mundur namun Siwon terus menuju kearahnya.

"Aku ingin Kim Hankyung tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi." Jaejoong melihat jurang dibelakangnya yang semakin dekat dengan takut.

'Yun, tolong aku.'

"Ini semua karena kau! Kau membuatku kehilangan Chullieku! Karena ia harus melahirkan anak sial sepertimu, ia harus rela kehilangan nyawanya!" teriak Siwon dengan wajah memerah karena marah.

Jaejoong terpaku.

Ya, ia menyadari jika ummanya rela menukar nyawanya demi dirinya.

Appanya harus kehilangan ummanya karena dirinya.

Siwon menyeringai melihat Jaejoong yang sudah pucat pasi.

"Harusnya kau tak pernah terlahir kedunia!"

Deg

Jaejoong menunduk. Airmatanya turun.

'Ini semua salahku.'

"Hentikan, Choi Siwon." Sebuah suara yang sangat familiar membuat Jaejoong mendongkak, ia terbelalak menatap appanya yang kini sudah ada di depannya.

"Akhirnya kau datang juga, untuk apa? Melindungi bocah yang sudah membunuh Chullie ini?" tanya Siwon sinis.

Hankyung menggepalkan tangannya sambil menatap Siwon tajam. Ia yang berada dekat dengan kawasan Siwon yang menculik Jaejoong langsung ke tempat itu setelah Yunho memberitahunya jika Jaejoong diculik Siwon, awalnya ia murka terhadap Yunho yang tak bisa menjaga Jaejoong dengan baik, meski begitu Yunho hanya bisa meminta maaf karena kelalaiannya, Jaejoong di culik oleh Siwon. Itulah sebabnya Hankyung sudah sampai dengan cepat sebelum Yunho.

"Sejak awal Heechul tak pernah mencintaimu, Siwon. Heechul sangat menyayangi Jaejoong karena itulah ia mempertahankan Jaejoong."

Jaejoong menatap appanya dengan airmata yang terus mengalir.

"Jaejoong adalah putra yang kami sayangi, aku tak pernah merasa jika Heechul meninggal karena Jaejoong , aku tahu jika Heechul melakukan itu karena ia mencintai anak kami. Kau tidak akan pernah tahu itu Siwon karena kau tidak mencintai Heechul dengan cara yang benar, kau hanya berambisi untuk mendapatkannya sejak dulu." Jelas Hankyung tenang.

Siwon menggeram kesal.

"Kau tidak tahu apa-apa Kim Hankyung, aku mencintai Heechul, jauh sebelum dirimu! Dan karena anak ini, ia pergi dariku! Karena ia mengandung anak ini ia harus menikah denganmu dan meninggalkanku!" bentak Siwon kasar.

"Kau harus merasakan apa yang kurasakan Kim Hankyung." Desis Siwon pelan, ia bergerak cepat mendorong Jaejoong.

"JOONGIE!" teriak Hankyung kalap.

Jaejoong terbelalak merasakan tubuhnya melayang dan akan jatuh ke dalam jurang itu.

Grep

"Y-Yun." Lirih Jaejoong sambil meneteskan airmatanya. Ia melihat Yunho tersenyum lembut kepadanya sambil merengkuhnya erat.

"Kau akan baik-baik saja, Joongie." Ucap Yunho pelan. Ia memeluk Jaejoong dengan erat sambil mengubah tubuhnya. Kini ia yang berada di bawah sedang Jaejoong berada di atas Yunho. Tubuh keduanya terjun kedalam perairan air yang sangat deras itu.

'Aku tak ingin kehilanganmu.' Batin keduanya sebelum menutup mata mereka.

.

.

.

"Eunghh." Lenguh seorang namja cantik sambil mencoba bangun dari tidurnya.

"Kau tidak boleh bangun dulu, Joongie." Ucap sebuah suara berat. Hankyung.

"A-appa." Lirih Jaejoong sambil menatap appanya dengan airmatanya.

"Ne, ini appa, sayang." Balas Hankyung sambil memeluk Jaejoong.

"A-appa hiks a-aku-"

"Sstt tidak apa-apa, sayang. Kau aman bersama appa sekarang. Uljima ne." Tenang Hankyung pada Jaejoong sambil memeluk anaknya erat.

Jaejoong melepaskan pelukannya dan menatap wajah letih appanya, ia yakin jika appanya pasti menjaganya terus-menerus.

Deg

Jaejoong teringat sesuatu. Ia tahu jika ia tercebur kedalam jurang bersama Yunho.

"A-appa bagaimana dengan Yunnie? Apa ia baik-baik saja? Joongie ingin bertemu Yunnie." Oceh Jaejoong sambil mencoba untuk turun dari tempat tidurnya namun ditahan oleh Hankyung.

"Tidak sekarang, princess. Kau baru saja sadar." Tolak Hankyung halus.

"Ta-tapi Joongie ingin bertemu Yunnie appa!" pekik Jaejoong sambil terisak.

Hankyung menghela nafas.

"Yunho baik-baik saja, ia bahkan langsung sadar setelah 3 hari di rawat, sedangkan princess appa ini baru sadar setelah 2 minggu." Jelas Hankyung sambil mengelus pipi Jaejoong.

"Be-benarkah appa?" tanya Jaejoong menatap appanya dengan wajah penuh airmata.

Hankyung mengusap airmata Jaejoong.

"Tentu, kau tidak boleh meremehkan kekuatan seorang polisi seperti Yunho, sayang." Jelas Hankyung.

"Ta-tapi aku tetap ingin bertemu dengannya." Ucap Jaejoong pelan.

"Ia akan datang kesini saat pulang kerja nanti."

Dan Jaejoong pun terdiam dengan ucapan appanya. Meski mendengar bahwa Yunho baik-baik saja, namun ia tetap khawatir terhadap namja yang ia cintai itu.

.

.

.

Cklek

Tap

Tap

Tap

Sebuah sepatu kets melangkah mendekati sebuah ranjang dengan sesosok tubuh ramping yang berbaring miring memunggungi namja tampan ini.

Grep

Jaejoong yang tertidur langsung terbangun saat merasakan sebuah tangan memeluk tubuhnya dari belakang serta bebaring bersamanya.

"Syukurlah kau baik-baik saja."

Deg

Jaejoong hapal suara bass ini, ia hapal aroma tubuh seseorang yang memeluknya dengan erat dari belakang ini.

"Yu-Yun?" lirih Jaejoong sambil membalikkan badannya, untungnya infusnya sudah dicabut beberapa saat yang lalu oleh suster, ia memang tak membutuhkan cairan itu lagi karena ia sudah mulai memakan makanan dari rumah sakit.

Jaejoong mendongkak menatap Yunho yang menatap mata doe-nya dengan mata musangnya yang tajam.

Lengan Yunho melingkari pinggang Jaejoong, membawa namja cantik itu semakin dekat dengannya.

Cup

"Jangan pernah menghilang lagi, Boo." Lirih Yunho setelah mengecup kening Jaejoong.

"Jangan pernah membuatku khawatir lagi." Cup. Yunho mengecup kedua pipi Jaejoong.

"Aku mencintaimu." Lirih Yunho lalu mengecup bibir merah Jaejoong dengan lama.

Jaejoong terkejut saat mendengar ucapan Yunho, ia menatap Yunho dalam mencoba mencari kebohongan namun yang ia lihat hanya ketulusan Yunho untuknya.

"Yu-Yun."

"Mulai sekarang aku tak akan membiarkanmu terluka lagi, aku berjanji."

Jaejoong meneteskan air matanya mendengar janji Yunho.

"Uljima, baby boo." Gumam Yunho sambil menyatukan kening keduanya.

"Aku mencintaimu, sangat. Jangan pernah berpikir untuk menghilang dariku, jangan pernah menghilang dari pandanganku."

Yunho menarik Jaejoong kedalam pelukan hangatnya. Ia mengecup pucuk kepala Jaejoong berkali-kali.

"Saranhae, Yunnie." Lirih Jaejoong teredam karena pelukan Yunho.

"Nado, baby boo." Balas Yunho sambil melepaskan pelukannya, ia menangkupkan pipi Jaejoong.

"Wajahmu jelek, sayang." Ledek Yunho sambil tersenyum jahil melihat wajah Jaejoong penuh dengan lelehan air mata.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal. Ia memukul lengan Yunho.

"Ini semua karenamu!" seru Jaejoong kesal.

"Mwo karenaku? Memang apa yang kulakukan padamu, bocah?" tanya Yunho enteng.

"Jangan memanggilku bocah, ahjussi jelek!" seru Jaejoong sambil menggembungkan pipinya.

"Lalu kenapa kau mencintai Ahjussi jelek ini eoh?" goda Yunho membuat Jaejoong memalingkan wajahnya yang memerah. Sejujurnya kata 'jelek' yang ia sematkan untuk Yunho sungguh jauh dari kenyataan jika namja di depannya ini sangatlah tampan.

Yunho terkekeh melihat tingkah jaim Jaejoong yang menyembunyikan rasa malunya dan itu sungguh imut di hadapan Yunho. Dengan gemas namja tampan itu memeluk pinggang Jaejoong dan menciumi pipi Jaejoong dengan gemas.

"Ya! Berhenti menciumiku!" seru Jaejoong menggeliat mencoba menjauh dari Yunho namun kekuatan Yunho jauh lebih besar.

"Kau sangat menggemaskan, my baby boo." Kekeh Yunho melihat Jaejoong yang menampakkan wajah kesal –imut-nya.

Hening.

Tak ada dari keduanya yang membuka suara. Yunho menatap Jaejoong intens sedangkan namja cantik itu hanya menundukkan kepalanya.

"Aku ingin kau selalu bersamaku-" Jaejoong mendongkak menatap Yunho yang kini menatapnya serius, namja cantik itu dapat merasakan detak jantung Yunho yang seirama dengan punyanya karena tanggannya kini tepat berada di dada kiri Yunho.

"-Just You and I."lanjut Yunho masih menatap Jaejoong intens.

"Dari drama apa kau mengambil kata-kata itu?" tanya Jaejoong polos.

Doeng

"Kau-" geram Yunho kesal. Padahal ia sudah mencoba bersikap serius dan romantis namun gajah cantik di depannya ini merusaknya dengan pertanyaan menyebalkan itu.

"Dasar bocah nakal!" pekik Yunho sambil menggelitiki Jaejoong dan menciumi pipi namja cantik itu. Ia sungguh gemas dengan tingkah namja cantik di hadapannya ini. ia sungguh ingin memakan namja cantik ini, 'memakan' dengan arti yang lain –smirk-

"YA! Ahjussi berhenti hahaha geli~" Jaejoong mengeliat seperti ulat karena Yunho masih saja menggelitikinya.

.

.

.

Tanpa disadari dua sejoli itu, seorang namja paruh baya melihat keduanya dengan senyum hangatnya.

"Kau harus bahagia, Joongie." Hankyung melihat Jaejoong tertawa bersama Yunho. Ia rasa yang Jaejoong butuhkan adalah Yunho saat ini. ia harap namja tampan itu bisa menjaga Jaejoong lebih baik.

"Kuharap kau bisa menjaga Joongie untukku, Yunho." Gumam Hankyung sambil berlalu meninggalkan ruang rawat putranya itu.

.

.

.

END.

A/N : Horeeeeee! Akhirnya selesai juga. Gimana nih? Puaskah dengan chapter ini?

Dan jangan minta sequel! Hehe soalnya ga ada ide buat sequel.

Jadi cukup sampai disini oke?

Btw, chap ini 'hampir' aja terhapus karena laptop saya tiba-tiba mati dan untungnya pas saya nyalain laptop saya dengan harap-harap cemas, ternyata chap ini kesimpen sampai terakhir saya ketik ceritanya masih utuh!

Huft, sebenernya tadi kalau sampai kehapus beneran saya bakalan lanjutin cerita ini besok aja tapi karena ga kehapus saya selesain deh.

Oke cukup curhatnya hehe.

Sampai jumpa di FF selanjutnya.

Akhir kata,

Review please? /puppy eyes/