The New Journey
Chapter 7: The Culprit
A/N: Helo-helo! Saya kembali setelah melalui ujian yang cukup mengerikan. D bingung mau ngomong apa ._. ya mending langsung aja okay! Tapi sebelumnya terima kasih banyak pada Sp-Cs, SuperdudeX, dan Eqa Skylight yang sudah meriview chappie sebelumnya. Mau spoiler aja disini bakal muncul satu orang lagi anggota SEES (dulu, sekarang seh anggota Shadow Operatives) oke selamat membaca!
Disclaimer
Pesona series owned by Atlus.
Genres
Friendship, Family, Slight Romance.
Normal POV
"...Elizabeth!? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Minato pada Wanita bermata emas dan memakai pakaian formal berwarna biru dan tidak lupa dengan topi birunya juga.
"Tentu saja untuk menolongmu," ucap Elizabeth sambil memanggil Pixie dan menyuruhnya membebaskan teman-teman Minato yang tergantung si salib. Mereka semua terjatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Ups... aku lupa mereka sedang tidak sadarkan diri."
"*sweetdrop* Elizabeth..."
"Elizabeth-san! Terima kasih sudah datang." Ucap Aigis pada Elizabeth.
"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah tugasku untuk membantu tamu-tamu terhormat Velvet Room." Adalah yang dikatakan wanita itu. Minato memandang ke arahnya dengan sepasang mata abu-abunya. Minato tersenyum, sudah lama ia tidak bertemu sahabatnya yang satu ini. Sahabatnya yang selalu melakukan hal-hal aneh apabila Minato mengajaknya keluar dari Velvet Room. Minato tidak menyangka kalau ia akan datang dan membantu Minato. Elizabeth menolehkan kepalanya kepada tamu terhormatnya, tamu yang paling dekat dirinya. Elizabeth sangat senang ia bisa kembali, setelah dua tahun lamanya memikirkan cara untuk membebaskan orang yang paling berharga bagi dirinya ini. Minato pun memalingkan wajahnya dari Elizabeth dan berkata pada Aigis.
"Aigis, kau bantu mereka. Aku akan mengobati Yu dan Naoto."
"Baik!" jawab Aigis. Aigis langsung berlari ke arah teman-temannya sesaat mendengar perintah dari teman berambut birunya itu. Sebenarnya itu lebih pantas dikatakan sebagai permintaan dibandingkan perintah, sama sekali tidak ada nada menekan dalam perintah atau permintaan Minato itu. Jenderal Teddy terlihat sangat kesal, sudah pasti karena rencananya telah digagalkan oleh seorang wanita yang entah dari mana datangnya.
"Hmph! Kau...! Beraninya kau mengganggu rencanaku. Tunggu saja... saat aku sudah mendapatkan tubuh untuk kutempati. Kalian semua akan tamat." Ucap Jenderal Teddy dengan suara yang berbeda, seperti suara monster. Suara itu sudah cukup membuktikan kalau 'sesuatu' yang meniru penampilan Teddy bukanlah manusia. Suara itu membuat Minato dan Elizabeth menoleh ke arah Jenderal Teddy. Elizabeth membuka Persona Compendiumnya, bersiap untuk menyerang si Teddy palsu itu, tapi sebelum ia dapat melakukan sesuatu, Jenderal Teddy menghilang begitu saja dari hadapan mereka. Elizabeth pun menutup Persona Compendiumnya, lalu berjalan beberapa langkah mendekati Minato.
"Minato..." ucap Elizabeth pelan, tapi masih dapat didengar oleh kedua telinga Minato.
"Hm?" Minato mengangkat sebelah alisnya. Elizabeth tidak berkata apa-apa, melainkan ia secara tiba-tiba memeluk dengan erat Minato dengan kedua tangannya. Memeluk dengan erat, erat menurut Elizabeth tidak sama dengan erat menurut Minato, mungkin menurut Minato itu tidak seperti pelukan tapi seperti sebuah remasan tangan yang memiliki kemungkinan untuk membunuhnya.
"Aku merindukanmu..." ucap Elizabeth masih memeluk Minato.
"Y-ya aku juga, tapi Elizabeth a-aku kesulitan untuk b-bernafas..." ucap Minato, ia sangat berharap Elizabeth akan melepaskannya.
"Ooh... maaf." Elizabeth pun melepaskan pelukannya pada Minato. Setelah lepas dari pelukan mematikan Elizabeth, Minato segera mengambil nafasnya dan mengatur kembali nafasnya. Minato pun menoleh ke arah adiknya, ia hampir saja lupa kalau adiknya dan kekasih adiknya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Sekarang aku harus mengobati mereka... " ucap Minato, tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam lengan Minato. Minato menoleh ke belakang, memberikan Elizabeth pandangan bingung dengan tingkah Elizabeth yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya.
"Biarkan aku yang melakukannya." Pinta Elizabeth kepada Minato. Minato memberi anggukkan sebagai responnya. Elizabeth melangkahkan kakinya, bergerak menuju Yu dan Naoto. Elizabeth membuka Compendiumnya, sabuah buku bersampul biru yang merupakan senjata yang sangat berbahaya bila berada di tangan Elizabeth.
"Pixie, Mediarahan!" perintah wanita muda bermata golden itu kepada salah satu Persona favoritnya. Pixie pun mengobati Yu dan Naoto. Luka-luka yang ada menutup dan hilang dari permukaan kulit mereka berdua. Tak lama mereka berdua terbangun, begitu juga dengan beberapa orang yang sedang berada dengan Aigis sekarang ini.
"Apa... apa yang terjadi?" tanya Naoto sesaat ia sudah mendapatkan kembali kesadarannya.
"Kalian berdua tidak sadarkan diri setelah bertarung denganku dan Aigis." Jelas Minato, ia pun menolehkan kepalanya ke tempat Aigis berada. Beberapa orang sudah sadarkan diri, tapi beberapa masih belum. Naoto pun bangun berdiri dari posisinya. Pandangannya terkunci pada Elizabeth yang sekarang ini sedang berdiri di hadapan Yu dan dirinya.
"Kau!? Bukankah kau orang yang waktu itu bertarung dengan Yu-senpai?" ucap Naoto, Naoto bersiaga. Ya kesalah pahaman masih menyelimuti pikiran Naoto. Saat itu, Yu kalah bertarung dengan Elizabeth. Naoto dan teman-temannya dari Investigation Team yang datang setelah pertarungan Yu dan Elizabeth berakhir, mengira kalau Elizabeth adalah musuh mereka karena sudah melukai teman dan pemimpin mereka, dan sampai saat ini mereka masih mengira Elizabeth adalah musuh mereka.
"Tenanglah Naoto, wanita ini lah yang menyelamatkan kita semua. Kalau ia tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Ucap Minato berusaha menenagkan Naoto.
"Menolong kita? Apa yang terjadi?" tanya Naoto sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ahh... ceritanya panjang, akan ku ceritakan setelah kita keluar dari tempat ini.
"Lalu... dimana dia?" tanya Yu sambil melihat ke sekelilingnya, mencari sesuatu.
"Maksudmu si peniru itu? Ia pergi melarikan diri entah kemana." Ucap Minato. Minato memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan ke tempat Aigis berada sambil diikuti Elizabeth, tapi ia berhenti setelah mengetahui Yu dan Naoto tidak mengikutinya.
"Apa yang kalian tunggu? Ayo, kita harus membantu Aigis." Ucap Minato. Ia pun kembali berjalan ke arah Aigis kali ini dengan diikuti Elizabeth, Yu, dan Naoto. Setelah mereka berempat berada dekat dengan salib itu, Minato melayangkan pandangannya ke setiap orang yang ada. Yang telah sadarkan diri hanya Chie, Kanji, Yosuke, Fuuka, Yukari, Akihiko, Labrys, dan orang yang berpakaian biru, yang dilihat oleh Minato, yang tidak lain adalah...
"Junpei?"
"Ugh.. huh...? HUH!? M-m-mi-minato!?" Junpei terkejut, wajahnya seketika terlihat sangat pucat saat melihat Minato. Pria yang memakai seragam baseball berwarna biru sekaligus dengan topinya itu benar-benar sangat terkejut saat ini.
"Sheesh... berhenti melihatku seperti kau melihat hantu Junpei..."
"D-dude apa yang kau lakukan di dunia ini?" ucap Junpei.
"Yah, apa yang kau lakukan di sini Minato?" tanya Akihiko yang sama terkejutnya dengan Junpei. Minato hanya bisa menghela nafasnya,tidak tahu dari mana ia harus mulai menjelaskan.
"Dia benar-benar Minato, Junpei. Karena suatu hal Minato-kun kembali hidup." Jelas Yukari.
"Huh?" respon Junpei tanda kurang mengerti.
"Sebaiknya kita kembali terlebih dahulu, kita bisa membicarakan ini setelah kita keluar dari tempat ini." Ucap Aigis, yang lain pun mengangguk tanda setuju.
"Tunggu sebentar, sebelum itu... Fuuka, apa kau bisa mencari keberadaan si peniru itu?" pinta Minato.
"Ahh tentu." Fuuka pun memanggil Personanya, Juno. Juno pun memindai ke seluruh tempat yang bisa dijangkaunya, setelah beberapa saat...
"Aku tidak mendeteksi keberadaannya, tapi... ada dua orang berdiri di arah jam 12, mereka berdiri di belakang pintu masuk arena ini."
"Baiklah, Aigis, Yu. Kita datangi mereka."
"Roger."
"Hm!"
"Hati-hati, salah satu dari mereka adalah Persona-user."
"Kami akan berhati-hati, ayo."
Mereka bertiga pun berjalan ke arah dua orang yang dideteksi oleh Juno milik Fuuka. Saat mereka sudah hampir dekat, sepertinya kedua orang itu menyadari kedatangan mereka. Mereka berdua tidak bergerak saat Minato, Aigis, dan Yu berada beberapa langkah di depan mereka. Terlihat di hadapan Minato sekarang, dua orang laki-laki yang mengenakan seragam Yasogami High School. Salah satunya memiliki rambut berwarna merah dengan bekas luka bertanda X di wajahnya sedang memegang dua katana di kedua tangannya. Yang satu lagi memiliki rambut blonde dan wajah yang sangat tidak asing bagi Minato.
"Masayoshi? Apa yang kau lakukan di sini? Dan bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Minato dengan heran.
'Apa mungkin kedua orang ini adalah musuh kami' tanya Minato di dalam batinnya.
"Ahh Shirogane-san, aku... terakhir kali, aku sedang tidur di kamarku dan saat aku bangun entah mengapa aku ada di tempat aneh ini. Lalu aku bertemu seseorang yang mirip diriku, ia berusaha membunuhku. Lalu orang ini datang dan mengalahkan orang yang mirip denganku itu." Jelas Haru kepada Minato sambil menunjuk orang yang ada di sebelahnya.
"Kau bertemu Shadowmu rupanya. Itu artinya..." ucap Yu.
"Kau memiliki Persona." Ucap Aigis.
"Persona...? kalau yang kau maksud adalah makhluk yang muncul saat orang yang mirip denganku dikalahkan, maka jawabannya iya." Ucap Haru.
"Kau... siapa kau?" tanya Minato kepada laki-laki berambut merah yang berdiri di samping Haru.
"Hmph! Kau tidak perlu tau siapa aku."
"Sebaiknya kau bekerja sama." Ucap Minato dengan nada yang sedikit memaksa.
"Kalau aku tidak mau?" tantang pemuda berambut merah itu.
"Kami akan menganggapmu sebagai musuh kami."
"Heh! Aku tidak tertarik untuk memperkenalkan diriku padamu."
"Baiklah, kalau itu keputusanmu."
'Hmm, kalau Masayoshi adalah Persona-user, maka orang ini bukanlah Persona-user. Mungkin memanggil Thanatos akan membuatnya sedikit takut.' Ucap Minato membatin.
Minato pun memanggil Thanatos. Thanatos menggeram sampai-sampai geramannya dapat didengar oleh anggota Shadow Operatives dan Investigation Team yang berada jauh dari mereka.
"Suara itu... Thanatos..." gumam Naoto.
"Jadi kedua orang itu adalah musuh kita?" tanya Akihiko.
"Entahlah, hanya satu dari mereka yang memanggil Personanya untuk melawan Minato-kun..."
"Apa sebaiknya kita membantu mereka?" tanya Labrys.
"Aku pikir itu tidak diperlukan, maksudku Minato-san, Aigis-san, dan Yu sangat kuat. Aku tidak yakin mereka bertiga dapat dikalahkan." Ucap Yosuke.
"Ya, mereka akan baik-baik saja. Jangan khawatir, kau tidak tahu seberapa kuat Minato. Ngomong-ngomong, siapa kau? Dan siapa kalian?" tanya Junpei kepada Labrys dan anggota Investigation Team.
"Ini Labrys, dia adalah saudara Aigis. Kakak perempuannya bisa dibilang, dan mereka ini Persona-user sama seperti kita." Jelas Akihiko kepada Junpei.
"Persona-user, jadi Persona-user selain kita huh..." ucap Junpei.
"Hei, bagaimana kau bisa ada disini Stupei?" tanya Yukari.
"Kereta yang kutumpangi mengalami masalah, jadi keretanya harus berhenti di stasiun Inaba. Aku pergi sebentar untuk membeli minuman, tapi tiba-tiba saja mesin minumannya mati beserta dengan alat-alat elektronik di sekitarku. Saat itu pukul dua pagi, tiba-tiba saja kabut merah muncul dan menutupi semuanya, lalu televisi yang ada stasiun tiba-tiba menyala, dan tiba-tiba saja aku teringat dengan kata-kata Aigis kalau kau bisa memasuki dunia paralel lewat televisi yang ada di daerah Inaba. Karena penasaran aku masuk ke dalam televisi itu dan berakhir di sini." Jelas Junpei cukup panjang.
"Sheesh, apa yang kau pikirkan masuk ke sini sendirian. Kalau kami tidak datang ke sini kau akan tamat." Ucap Yukari.
"Hey! Lihat siapa yang berbicara, kau juga sama sepertiku berakhir tergantung di sebuah salib raksasa. Ngomong-ngomong apakah kalian kemari untuk menginvestigasi tempat ini?" tanya Junpei.
"Ummm, sebenarnya kami di sini untuk menyelamatkan Akihiko-senpai dan Mitsuru-senpai." Jawab Yukari.
"Eh...? apa yang terjadi padamu dan Mitsuru-senpai, Akihiko-san?"
"Uhh... aku tidak ingat, kurasa seseorang membawa kami kemari. Ugh sial aku tidak bisa mengingat orang itu." Ucap Akihiko.
"Ya... kau tidak perlu memaksakan dirimu, Senpai." Ucap Yukari.
"Maaf mengganggu kalian tapi, bukankah lebih baik kita membawa mereka yang belum sadarkan diri keluar dari sini?" ucap Chie.
"Ya, Chie-san benar. Tempat ini tidak aman." Ucap Naoto.
"Ya itu ide bagus. Fuuka kau tetap di sini dan bantu Minato." Ucap Akihiko.
"Baiklah, Senpai."
Mereka yang telah sadar pun membawa mereka yang belum sadar keluar dari dunia televisi, sementara Fuuka ia tetap berada di posisinya dan membantu Minato dengan kemampuannya. Minato beradu pedang dengan laki-laki itu, sementara Thanatos hanya bergerak pasif. Tentu saja, orang yang dilawan Minato sekarang tidak memiliki Persona. Minato pun mengisyaratkan Thanatos untuk kembali. Thanatos mengikuti seperti apa yang diperintahkan, menghilang dan kembali ke tempatnya.
"Heh, ada apa? Kenapa kau tidak langsung menyerangku dengan monster yang kau sebut Persona itu?"
"Kau tidak memiliki Persona, rasanya tidak adil bila aku menggunakan Personaku."
"Hmph! Jangan meremehkanku, payah! Hanya karena aku tidak memiliki Persona, bukan berarti aku lemah! Aku akan mengalahkanmu pecundang!"
Laki-laki berambut merah itu berlari ke arah Minato dan mengayunkan pedangnya dengan sangat lihai kepada Minato. Minato menangkis semua serangannya dengan sangat cakap. Ia harus bersyukur atas keikutsertaannya dalam Kendo sewaktu dia bersekolah di Gekkoukan dan juga dengan semua pengalamannya saat bertarung dengan Shadow dua tahun yang lalu. Laki-laki itu mundur beberapa langkah setelah semua serangannya gagal mengenai Minato.
'Minato-kun, kau baik-baik saja. Kau terlihat lelah.' Ucap Fuuka lewat kemampuan telepatinya.
"Yeah, aku baik-baik saja. Aku akui aku memang sedikit lelah. Tapi ini bukan masalah."
"Minato-san, biarkan kami membantumu." Ucap Yu kepada Minato.
"Nah, ini pertarunganku. Jangan ikut campur." Ucap Minato.
Minato berlari maju dan menyerang laki-laki itu dengan pedangnya.
"Heheh, kau tidak akan bisa mengalahkanku, pecundang!"
TRANK! Pedang mereka saling beradu satu sama lain. Minato menarik kembali pedangnya dan dengan sekuat tenaga menebas ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu segera mundur untuk menghindari serangan Minato dan ia berhasil menghindarinya.
"Kau cukup hebat. Mari kita selesaikan ini, Minato Arisato."
Minato cukup terkejut saat orang itu memanggil nama yang ia pakai dua tahun lalu. Entah bagaimana ia bisa mengetahuinya, tapi Minato berkesimpulan kalau laki-laki itu memang benar-benar musuhnya. Laki-laki itu mengangkat pedangnya dan sebuah kartu muncul di hadapannya, tanpa menunggu lama ia langsung menebas kartu itu dengan pedang di tangnnya dan seketika...
"Tsukuyomi."
"Persona?" ucap Aigis tidak percaya, sebelumnya ia sangat yakin kalau Fuuka mengatakan hanya salah satu di antara mereka yang memiliki Persona dan orang itu adalah laki-laki dengan rambut blonde yang sedari tadi hanya melihat pertarungan Minato tanpa berkata apa-apa.
'M-mustahil. Aku yakin sebelumnya dia tidak memiliki Persona.' Ucap Fuuka. Ia sangat yakin kalau orang ini tidak memiliki Persona sebelumnya. Minato pun sama terkejutnya walaupun ia tidak menunjukkannya. Tidak mungkin Fuuka keliru. Minato pun bersiap-siap dan memanggil Thanatos.
"Tsukuyomi, serang!"
"Thanatos."
Tsukuyomi terbang ke arah Thanatos dan menyerangnya dengan senjatanya yang terlihat seperti Naginata. Thanatos menghindarinya dan gantian menyerang Tsukuyomi. Serangan Thanatos tidak mengenai Tsukuyomi, Tsukuyomi pun terbang dengan cepet melewati Thanatos berusaha menyerang Minato. Saat Tsukuyomi sudah dekat ia menebaskan Naginatanya ke arah Minato.
TRANK! Minato menahan serangan Tsukuyomi dengan pedangnya sendiri. Tsukuyomi terus memberikan tekanan, membuat Minato harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menahan serangannya. Sementara Tsukuyomi sibuk dengan Minato, Thanatos mendatangi laki-laki itu dari belakang punggungnya.
SLASH! Laki-laki itu hampir saja terkena serangan dari Thanatos. Tebasan pedang Thanatos hanya bisa memberikan goresan pada lengan laki-laki itu. Tsukuyomi pun menarik kembali Naginatanya dari Minato dan terbang ke arah Thanatos. Kali ini Thanatos tidak menyerang balik, melainkan ia menghindari serangan Tsukuyomi dan mundur ke dekat Minato.
"Sangat bagus. Kemampuanmu memang tidak diragukan lagi." Ucap laki-laki itu. Entah ini hanya perasaan Minato atau laki-laki itu memang tiba-tiba saja berubah sifat?
"Siapa kau?" tanya Aigis pada laki-laki itu.
"Aku adalah orang yang ada dibalik kejadian hari ini, aku lah yang bertanggung jawab atas kabut merah yang menyelimuti Inaba dan peculikkan dua anggota Shadow Operatives. Sho Minazuki itu namaku." Ucap laki-laki yang bernama Sho Minazuki itu.
"Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Minato.
"Tujuanku? Tujuanku adalah untuk membuat Persona kalian kembali menjadi Shadow dan lalu mengekstraknya untuk mendapatkan Shadow dengan kekuatan yang luar biasa." Ucap laki-laki itu. Sho pun melanjutkan perkataannya.
"Sayang sekali, aku tidak bisa bermain lebih lama lagi. Aku harus pergi sekarang ini. Sampai jumpa lagi, Minato Arisato." Setelah mengatakan itu laki-laki itu pun berlari pergi melalui pintu yang ada dibelakangnya.
"Tidak akan kubiarkan." Ucap Yu, ia pun berlari keluar mengejar Sho. Beberapa menit kemudian Yu kembali sendirian.
"Aku kehilangan dirinya. Maaf." Ucap Yu.
"Hmm... aku juga tidak menemukan keberadaannya di sini. Ia pasti sudah keluar dari dunia ini." Ucap Fuuka.
"*Sigh* ya setidaknya kita sudah tau siapa orang yang kita cari. Ngomong-ngomong, Masayoshi." Ucap Minato.
"Ya?"
"Apa dia temanmu?" tanya Minato kepada Haru.
"Y-ya kau tahu aku baru bertemu dengannya hari ini, aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Ahh begitu, kalau begitu ayo kita pergi dari sini. yang lain pasti sudah menunggu kita di luar."
Mereka pun berjalan pergi kembali ke tempat dimana televisi tua, yang merupakan pintu keluar, berada. Mengetahui siapa musuh mereka adalah suatu keuntungan yang sangat besar menurut Minato, seandainya ia bisa melacak keberadaannya di dunia nyata, maka akan mudah baginya untuk menangkapnya dan mengakiri semua kejadian ini. Ya seandainya...
A/N: Foalaah! Done! Ya untuk info chappie selanjutnya mungkin (mungkin ya bro) akan diapdet hari sabtu atau minggu atau paling lambat senen. Doain aja cepet apdet dan mohon riviewnya karena itu sangat memotivasi D dalam menulis fic ini. Wokay see ya soon!
